Imam Husain bin Ali As

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Imam Husain al Syahid As)
Lompat ke: navigasi, cari
Husain bin Ali bin Abi Thalib
Haram Imam Husein As
Deskripsi Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib As
Posisi Imam Ketiga Syiah
Nama Husain
Julukan Abu Abdillah, Abu Ali, Abu al-Syuhada, Abu al-Ahrar, Abu al-Mujahidin,
Gelar Zaki, Thayib, Wafi, Sayyid, Mubarak, Nafi', al-Dalil 'Ala Dzatillah, Rasyid, al-Tabi' li Mardhatillah
Tanggal Lahir 3 Syaban 4 H
Tempat Lahir Madinah
Tanggal Wafat 10 Muharam 61 H
Nama Ayah Ali bin Abi Thalib
Nama Ibu Fatimah Azzahra
Tempat Hidup Madinah, Kufah
Lama Hidup 57 Tahun
Tempat Dikuburkan Karbala, Irak
Istri Rubab, Laila, Ummu Ishaq, Syahr Banu
Anak Imam Sajjad, Ali Akbar, Ja'far, Ali Ashghar, Sukainah, Fatimah

Husain bin Ali bin Abi Thalib As (Bahasa Arab: الحسین بن علي بن أبي طالب) yang memiliki julukan Abu Abdillah. [1] (lahir di Madinah tahun 4 H, wafat di Karbala tahun 61 H) terkenal dengan nama Imam Husain As. Imam Husain As adalah Imam Ketiga Syiah dan putra kedua dari Imam Ali As dan serta cucu dari Nabi Muhammad Saw.[2]

Imam Husain As pernah mengikuti Perang Shiffin, Jamal dan Nahrawan dalam pasukan ayahnya. Imam Husain As pada masa keimamahan saudaranya, senantiasa mengikutinya dan selama Muawiyah hidup, Imam Husain As mentaati Perjanjian Damai Imam Hasan As. Namun setelah kematian Muawiyah, beliau menilai baiat terhadap Yazid bin Muawiyah adalah hal yang tidak sesuai dengan syariat.

Atas dasar undangan orang-orang Kufah, beliau berangkat dari Mekah ke Kufah untuk memenuhi permintaan masyarakat Kufah tersebut. Namun sesampainya di Karbala, beliau menghadapi pengkhianatan orang-orang Kufah yang mengingkari perjanjian. Dan pada hari Asyura dalam sebuah pertempuran antara dua pasukan yang tidak seimbang, Imam Husain As dan para sahabatnya yang sedikit (sekitar 72 orang) syahid. Sementara para sahabatnya yang selamat beserta Ahlulbait beliau menjadi tawanan dan dibawa ke Kufah serta Syam.

Kesyahidan Imam Husain As memainkan peran yang menentukan dalam sejarah Islam dan Syiah, terutama pada abad-abad awal Islam. Kehidupan dan kesyahidan Imam Husain As yang berada dalam periode yang sensitif dan menegangkan di abad pertama, yang terzalimi dalam melawan kesewenang-wenangan dan kezaliman Bani Umaiyah, pada satu sisi nama beliau dikaitkan dengan paham perjuangan dan kesyahidan, sementara di sisi lain menjadi perintis meluasnya perlawanan dan perjuangan orang-orang tertindas melawan para penindas zamannya. Peristiwa Asyura senantiasa mencerminkan lapisan dan berbagai tingkat serta relung-relung pemikiran masyarakat Syiah dalam ragam bentuk seperti seni satra, gambar, monumen dan aneka peninggalan lainnya selama berabad-abad.[3]

Nasab, Julukan dan Gelar

Husain bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim, adalah keluarga Bani Hasyim dan berbangsa Quraisy. Ayahnya adalah Imam Ali As dan ibunya Fatimah Sa putri Rasulullah Saw.

Pemberian Nama

Berdasarkan riwayat Syiah, sebelum dipilihnya sebuah nama, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad Saw untuk menetapkan nama Husain.[4] Oleh karena itu, Rasulullah Saw mengumumkan kepada semua orang, "Aku mendapat perintah supaya menamai kedua anak ini Hasan dan Husain."[5] "Harun menamai kedua anaknya Syubbar dan Syubair dan aku menamai anakku Hasan dan Husain sebagaimana Harun menamai anak-anaknya—Syubbar dan Syubair."[6] Diriwayatkan bahwa nama Husain di dalam Taurat disebut Syubair dan dalam Injil dipanggil Thab.[7]

Dalam sebagian riwayat ditekankan bahwa nama Hasan dan Husain adalah nama-nama surga dan sebelum Islam belum pernah ada nama-nama seperti ini.[8]

Dalam catatan Ibnu Sa'd,[9] Ummu Fadhl (istri Abbas bin Abdul Muthalib) mengasuh Imam Husain As atas perintah Nabi Saw, sehingga dengan demikian Imam Husain As menjadi saudara sesusu Qutsam bin Abbas yang pada saat itu juga sedang menyusu.[10]

Julukan

Kunyah atau julukan Imam Husain As adalah Abu Abdillah yang diberikan Rasulullah Saw ketika Imam Husain As lahir. Hal ini terdapat pada berbagai sumber. [11] Namun julukkannya menurut Khosibi[12] dikalangan orang khusus (khashah) adalah Abu Ali. Julukannya yang lain yaitu Abu Syuhada (bapak para Syuhada), Abu al-Ahrar (bapak orang-orang merdeka), Abu Mujahidin (bapak para Mujahidin). [13]

Gelar

Imam Husain As memiliki gelar yang banyak, dimana sebagian besar gelarnya sama dengan gelar saudaranya, Imam Hasan As. Diantara gelar Imam Husain As yaitu Zaki, Thayib, Wafi, Sayid, Mubarak,[14] Nafi', Al-Dalil 'Ala Dzatillah,[15] Rasyid, Al-Thabi' Li Mardhatillah[16].[17]

Menurut Ibnu Thalhah Syafi'i[18] gelar Zaki merupakan gelar yang paling terkenal, sementara Sayyidu Syabab Ahl al-Jannah adalah gelar yang paling penting. Pada sebagian hadis para imam Syiah, Imam Husain As juga disebut dengan Syahid atau Sayyidu al-Syuhada.[19]

Kelahiran dan Kesyahidan

Hari Lahir

Imam Husain As dilahirkan di Madinah. Sebagian menyebutkan beliau lahir pada tahun Ketiga Hijriah[20] dan sebagian lagi tahun Keempat Hijriah.[21]

Pelataran Haram Imam Husain As

Tetapi yang masyhur di antara para sejarawan dan ahli hadis adalah tahun Keempat Hijriah. Sementara mengenai hari lahirnya terdapat perbedaan pendapat, dan menurut pendapat masyhur Imam Husain As lahir pada tanggal tiga Sya'ban.[22]

Syahid

Imam Husain As syahid pada tanggal sepuluh Muharam (hari Asyura) tahun 61 H di Karbala, Irak.[23]

Hari syahidnya Imam Husain ada yang menyebutkan hari Jumat,[24] Sabtu,[25] Minggu[26] dan Senin[27].[28] Dan pendapat shahih serta masyhur adalah hari Jumat.[29] Abu al-Faraj Isfahani menyebutkan kesyahidan Imam Husain As pada hari senin sebagai pendapat yang umum, tapi berdasarkan hitungan kalender pendapat ini tertolak.[30]

Beberapa pendapat menyebutkan Imam Husain As syahid pada usia 56 tahun lima bulan,[31] 57 tahun lima bulan,[32] 57 tahun, dan 58 tahun[33].[34]

Istri dan Anak

Istri-Istri

dan sebagian lagi menyebutkan terdapat seorang perempuan dari kabilah Khuza'ah[35] yang menurut Sibt bin Jauzi[36] bernama Sulafah, dan menurut Baihaqi[37] bernama Malumah yang detil kehidupannya tidak diketahui.

Syeikh Abbas Qummi menyebutkan istri lain Imam Husain As yang namanya tidak diketahui. Dia hamil dan menjadi salah satu anggota keluarga Imam Husain As yang ditawan pada Peristiwa Karbala. Seorang yang bernama Halb telah menyebabkan kandunganya keguguran. [38]

Anak-Anak

Syaikh Mufid menyebutkan anak Imam Husain As berjumlah enam orang, empat laki-laki dan dua perempuan. [39] Sementara Sayid Muhsin Amin[40] dan Ibnu Khasyab[41] menyebutkan sembilan orang, enam laki-laki dan tiga perempuan. Ibnu Syahr Asyub dalam Manaqib[42] dan Urbili dalam Kasyf al-Ghummah menyebutkan sepuluh orang dengan enam laki-laki dan empat perempuan. [43] Sementara sebagian yang lain bahkan ada yang menyebutkan lebih dari sepuluh orang.

Sumber-sumber lama[44] mencatat anak Imam Husain As terdiri dari empat laki-laki dan dua perempuan. Sementara sumber-sumber baru[45] menyebutkan enam laki-laki dan tiga perempuan. Oleh karena itu, nama kedua laki-laki dan seorang perempuan lainnya dari anak Imam Husain as pun dapat dilihat, yaitu Ali Ashgar, Muhammad dan Zainab. [46] Ibnu Thalhah Syafi'i[47] juga mencatat anak Imam Husain As sebanyak sepuluh orang, tetapi hanya sembilan orang yang disebut namanya. Dalam beberapa kitab Tadzkirah dan Miratsi yang baru, disebutkan mengenai anak perempuan Imam Husain As berusia empat tahun yang bernama Ruqayah. [48]

Dengan memperhatikan perbedaan sumber data tersebut, nama-nama anak Imam Husain As beserta ibunya dapat disebutkan sebagai berikut:

  1. Ali al-Akbar As,anak paling besar Imam Husain As, terkenal dengan nama Ali Akbar yang syahid di Karbala. Ibunya bernama Laili binti Abu Murrah.
  2. Imam Ali bin Husain As (Ali al-Ausath), Imam Keempat Syiah, yang terkenal dengan gelar Zainul Abidin (hiasan para ahli ibadah) dan Sajjad dan Ibunya bernama Syahr Banu.
  3. Jafar, ibunya dari suku Qudha'ah. Dia meninggal pada masa Imam Husain As masih hidup dan tidak ada keturunannya yang tersisa. [49]
  4. Abdullah bin al-Husain As, yaitu Abdulah al-Radhi' (yang masih menyusu) dan terkenal dengan sebutan Ali al-Ashghar. Ibunya bernama Rubab. [50]
  5. Sukainah, anak perempuan Imam yang paling kecil, ibunya bernama Rubab.
  6. Fatimah, anak perempuan Imam yang paling besar, [51] ibunya bernama Ummu Ishhaq binti Thalhah bin Taimiy. [52]
  7. Muhammad, yang syahid di Karbala, ibunya bernama Rubab. [53]
  8. Zainab, nama ibunya tidak diketahui. [54]
  9. Ruqayyah binti Husain Sa, ibunya menurut Hairi bernama Syahr Banu putri Yazdgerd Ketiga, [55] dan berdasarkan pendapat lain ibunya adalah Ummu Ishhaq. [56]
  10. Muhsin bin al-Husain, ibunya adalah seorang istri lain dari imam yang tidak diketahui namanya yang hamil dan menjadi salah satu rombongan Ahlulbait yang di tawan dalam peristiwa Karbala dan janinnya keguguran di daerah dekat Halab. [57] Sekarang tempat ini menjadi tempat ziarah di Suriah.

Sebelum Imamah

Periode Rasulullah Saw

Ketika Nabi Muhammad Saw wafat Imam Husain As masih berusia kanak-kanak. Namun dalam usia kekanak-kanakannya, Imam Husain As bersama Ahlulbait Nabi Muhammad Saw yang mulia selalu berada dalam beberapa kejadian dan peristiwa penting pada masa Rasulullah Saw, diantaranya Peristiwa Mubahalah, peristiwa Ashab al-Kisa', baiat kepada Nabi Muhammad Saw, dan mejadi saksi dalam surat perjanjian.

Ibnu Sa'd[58] menyebutkan Imam Husain As berada pada urutan utama sahabat Nabi Saw (urutan kelima) yang masih kanak-kanak pada saat nabi wafat dan tidak perah ikut serta dalam peperangan manapun.

Imam Husain As hidup bersama nabi kurang lebih enam tahun delapan bulan. Beliau senantiasa berada dalam lindungan dan kasih sayang Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, "Sesungguhnya Hasan dan Husain adalah pemimpin para pemuda ahli surga." [59]

Ya'la 'Amiri meriwayatkan dari Nabi Saw, "Husain dariku dan aku dari Husain, Allah mencintai orang yang mencintai Husain. Al-Hasan dan al-Husain adalah dua putra dari putra para nabi." [60]

Ornamen Hadits "Husain dariku dan Aku dari Husain" pada Dinding Haram Imam Husain As

Diriwayatkan juga dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah Saw]] mendudukkan al-Husain di atas pangkuannya. Beliau menciumnya dan bersabda, "Engkau adalah orang mulia, anak dari orang mulia dan ayah dari orang-orang mulia. Engkau adalah imam, putra dari imam dan ayah dari para imam. Engkau adalah hujjatullah, anak dari hujjatullah dan ayah dari para hujjatullah yang berjumlah sembila orang, dimana penutup darinya adalah Qaim mereka. [61]

Salman juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, "Wahai Salman, barangsiapa mencintai mereka maka dia telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku maka dia telah mencintai Allah." Kemudian tangan Rasulullah Saw memegang bahu Husain as dan bersabda, "Dia imam putra dari imam. Sembilan orang dari keturunannya adalah para imam yang baik, terpercaya dan ma'shum, dan imam kesembiilan dari mereka adalah Qaim (penegak revolusi) mereka." [62]

Rasulullah Saw berkali-kali menyebutkan, "Hasan dan Husain adalah anak-anakku, barangsiapa mencintai mereka maka dia telah mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku maka dia telah mencintai Allah dan barangsiapa mencintai Allah maka dia akan masuk surga. Barangsiapa berbuat jahat kepada mereka maka dia telah berbuat jahat kepadaku, dan barangsiapa berbuat jahat kepadaku maka dia telah berbuat jahat kepada Allah, barangsiapa berbuat jahat kepada Allah maka dia akan masuk neraka." [63]

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa mencintai kedua anakku—Hasan As dan Husain As—maka dia telah mencintaiku, dan barangsiapa memusuhi mereka maka dia telah memusuhiku." [64]

Kecintaan Nabi Saw terhadap Hasanain (Imam Hasan As dan Imam Husain) sedemikian rupa sehingga ketika keduanya masuk masjid maka saat itu juga Nabi Muhammad Saw menghentikan khutbahnya dan turun dari mimbar menjemput mereka dan memeluknya. [65]

Anas bin Malik meriwayatkan, "Ketika Nabi Muhammad Saw ditanya, 'Mana dari Ahlulbait Anda yang paling Anda cintai?' Beliau menjawab, "Hasan dan Husain." [66]

Periode Tiga Khalifah

Imam Husain As hidup pada masa tiga kekhalifahan atau pemerintahan (Abu Bakar, Umar, [[|Utsman bin Affan|Utsman]]) selama kurang lebih 25 tahun. Pada permulaan khilafah atau pemerintahan Khalifah Pertama usia Imam Hasan As tujuh tahun. Awal pemerintahan Khalifah Kedua berusia Sembilan tahun dan ketika awal pemerintahan Khalifah Ketiga berusia 19 tahun.

Pemerintahan Abu Bakar

Masa-masa pemerintahan Abu Bakar adalah permulaan masa-masa yang berbeda bagi Ahlulbait. Pada masa ini Ahlulbait di satu sisi sedang menanggung beban kehilangan wafatnya Nabi Muhammad Saw, dan di sisi lain menghadapi perbedaan dan pertentangan dalam masalah khilafah yang sah. Keadaan sangat menyulitkan keluarga Rasulullah Saw. Orang-orang berkata, "Imam Husain As pada awal-awal kekhalifahan Abu Bakar setiap malam bersama saudaranya, Imam Hasan As, dan ibunya, Fatimah Azzahra Sa, menyertai Imam Ali As dalam upaya mendapatkan haknya dan bersama mereka mendatangi satu persatu rumah Ahli Badar." [67]

Pemerintahan Umar

Semasa Umar, tidak ada riwayat mengenai bagaimana keadaan Imam Husain As. Mungkin alasannya dapat ditemukan pada sikap menyendirinya Imam Ali As anak-anaknya dari masalah kekuasaan.

Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa pada awal-awal pemerintahan Umar, Imam Husain As memasuki masjid dan beliau melihat Umar sedang khutbah di mimbar Nabi. Kemudian Imam Husain naik mimbar dan berkata, "Turunlah Anda dari mimbar ayahku dan duduklah di mimbar ayahmu!" Umar berkata, "Ayahku tidak mempunyai mimbar." Kemudian dia mendudukkan Imam Husain As di sampingnya. [68] Dan ketika turun dari mimbar, dia membawa Imam ke rumahnya dan berkata, "Anakku, siapa yang mengajari hal ini kepadamu?" Imam berkata, "Tidak ada seorang pun yang mengajariku." [69]

Pemerintahan Utsman

Ketika Utsman menjadi khalifah, Imam Husain As berusia 19 tahun. Dalam beberapa sumber Ahlu Sunnah, disebutkan tentang ikutnya Imam Husain As dalam sebagian peperangan bersama saudaranya (Imam Hasan As), Abdullah bin Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Zubair semasa pemerintahan Utsman, seperti perang Tabarestan yang dipimpin Sa'id bin Ash. [70]

Dalam peristiwa pengasingan Abu Dzar, dimana Utsman mengasingkannya ke daaerah Rabadzah. Utsman melarang semua orang untuk menyertai Abu Dzar. Namun Imam Husain As beserta ayahnya (Imam Ali As), Imam Hasan As, pamannya (Aqil bin Abi Thalib), sepupunya (Abdullah bin Ja'far) dan Ammar bin Yasir menentang keinginnan khalifah, mereka menyertai Abu Dzar. [71]

Pemikiran sosial politik yang berpengaruh dan memisahkan objek-objek dari selainnya merupakan hal penting dalam perilaku sosial Ahlulbait. Dan atas dasar ini, meskipun tidak puas dengan kinerja khalifah Utsman bin Affan, tetapi Imam Husain As bersama saudaranya atas perintah Imam Ali As tetap menjaga dan melindungi kehormatan Utsman ketika masyarakat melakukan demonstrasi dan memberontak kekuasaan yang menindas. [72] Masyarakat menyerbu rumah Utsman untuk menyerang dan membunuhnya. Meski dalam menghadapi para demonstran tersebut Imam Husain As dan saudaranya mengalami banyak kesulitan yang pada akhirnya Utsman pun terbunuh, namun tetap berusaha untuk menyelamatkan jiwa orang yang menjadi oposisi ayahnya. Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku Imam Husain As hanya dengan perintah sang ayah dan untuk melindungi nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang penting. [73]

Pemerintahan Imam Ali

Imam Husain As ikut dalam berbagai peperangan di masa pemerintahan Imam Ali As, seperti perang Jamal, Shifin, dan Nahrawan. [74] Dalam perang Shifin beliau memberikan khutbah dalam rangka membangkitkan semangat jihad. [75] Imam Ali As menetapkan Imam Husain As sebagai pengumpul zakat setelah Imam Hasan As. [76] Menurut sebuah riwayat, ketika ayahnya wafat, Imam Husain As sedang berada di Madain dalam rangka menjalankan perintah Imam Ali as yang diberikan kepadanya. Beliau mengetahui hal tersebut dari surat yang dikirim Imam Hasan As. [77] Imam Husain As sempat hadir pada acara pengurusan jenazah dan pemakamam Imam Ali as. [78]


Periode Imam Hasan As

Pada masa imamah Imam Hasan As sekitar 10 tahun, dan masa pemerintahan Imam Hasan As yang berlangsung 6 bulan, [79] Imam Husain As senantiasa bersama menyertai Imam Hasan As. Setelah wafatnya Amirul Mukminin Ali As, Imam Hasan As mengemban amanat muslimin. Oleh karena itu, Imam Husain As berbaiat kepada Imam hasan As dan mempertahankan serta memimpin pasukan ke Nakhilah dan Maskan, serta pergi menyertai Imam Hasan As ke Madain dan Sabath untuk mengumpulkan pasukan. [80]

Menurut riwayat yang mu'tabar, ketika dilakukan perjanjian damai Imam Hasan As dengan Muawiyah, sekelompok orang dari pecinta Ahlulbait meminta Imam Husain As untuk menentang perjanjian politik tersebut dan melawan Muawiyah. Namun beliau dengan ketetapan hati mendukung perjajian damai saudaranya dengan Muawiyah dan beliau sendiri baiat kepada Muawiyah. Ketika Qais bin Sa'd memahami pandangan Imam Husain As ini dia mengumukannya dengan terang-terangan. [81] Setelah perjanjian damai tersebut Imam Husain As bersama saudaranya kembali dari Kufah ke Madinah dan kemudian menetap di Madinah. [82]

Dalil-Dalil Imamah

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furu' Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib  • Mukzijat • Tiada penyimpangan Al-Quran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman Ajf (Ghaibah Sughra, Ghaibah Kubra), Penantian Imam Mahdi, Kemunculan Imam Mahdi • Raj'ah
Para Imam Imam Ali As • Imam Hasan As • Imam Husain As • Imam Sajjad As • Imam Baqir As • Imam Shadiq As • Imam Kazhim As • Imam Ridha As • Imam Jawad As • Imam Hadi As  • Imam Hasan Askari As  • Imam Mahdi Ajf
Ma'ad
Barzakh • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Buku-buku Beterbangan • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Hadis Rasulullah Saw yang berbunyi "Kedua anakku ini adalah imam, baik ketika mereka bangkit (melalukan revolusi) maupun duduk (melakukan perdamaian)" [83] merupakan dalil atas imamah Imam Hasan Ass dan Imam Husain As.

Selain itu, terdapat juga hadis-hadis Rasulullah Saw yang menyatakan jumlah para imam dan tentang Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain beserta sembilan orang imam dari keturunan al-Husain As. [84]

Dalil lain adalah wasiat Imam Hasan As tentang Imam Husain As yang menjadi pengganti setelahnya. Juga pesan kepada Muhammad bin Hanafiyah untuk mengikuti dan taat kepada Imam Husain As. [85] Mufid[86] berpendapat, dengan memperhatikan dalil-dalil tersebut, imamah Imam Husain As menjadi terbukti dan pasti, meskipun karena alas an Taqiyah dan menjalankan isi perjanjian damai serta gencatan senjata (hadnah), beliau tidak mengajak orang untuk mengakui keimamahannya. Namun, setelah kematian Muawiyah dan selesainya masa gencatan senjata, beliau pun mengumumkan keimamahannya. [87]

Pengetahuan atas semua aspek pendidikan agama secara sempurna dan meyeluruh merupakan kemestian imamah. Oleh karena itu, Imam Ali as juga seperti Imam Hasan As meminta kepada Imam Husain As untuk bicara kepada masyarakat sehingga kelak orang-orang Quraisy tidak menisbatkan kebodohan kepada Imam Husain As. [88] Dalil atas hal ini adalah perkataan para sahabat tentang kedudukan ilmu Imam Husain As dan adanya permintaan fatwa dari beliau. [89] Beberapa pernyatataan Imam Husain As sendiri mengenai imamahnya[90] dan tentang mukjizat serta karamahnya merupakan dalil untuk menetapkan keimamahannya. [91]

Pemerintahan Muawiyah

Politik Imam Husain Menghadapi Muawiyah

Meskipun setelah wafatnya Imam Hasan As beliau merupakan orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan, namun berdasarkan perjanjian damai yang disepakati saudaranya dengan Muawiyah, Imam Husain As memegang teguh perjanjian ini. [92] Meskipun orang-orang Kufah mengirimkan surat untuk bangkit melawan Muawiyah, Imam Husain As menghindari perlawanan tersebut, sekalipun Imam Husain As sendiri tidak mengakui keabsahan (masyru'iyah pemerintahan Muawiyah atas kaum muslimin. Dan beliau menekankan jihad melawan kaum zhalim. Beliau menunda perlawanan setelah wafatnya Muawiyah. [93] Muawiyah sendiri merasa takut atas bangkitnya Imam Husain As. Setelah wafatnya Imam Hasan As dia meminta Imam Husain As untuk tidak melakukan perlawanan dan pemberontakan. Imam sendiri mengingatkan Muawiyah bahwa beliau tetap akan memegang teguh isi perjanjian damai. [94] Kepada orang-orang yang meminta Imam untuk bangkit, beliau mengumumkan, "Aku sekarang tidak memiliki pemikiran seperti itu, dan semoga Tuhan kalian merahmati. Diamlah dan tinggallah di rumah! Selama Muawiyah hidup hindarilah untuk menjadi bahan prasangka buruk. Jika Allah mendatangkan sesuatu kepada Muawiyah sementara aku masih hidup, aku akan menuliskan pemikiranku kepada kalian." [95]

Pada masa ini, Imam menjelaskan hukum-hukum imamah, khilafah dan ciri-ciri khalifah yang hak secara terang-terangan maupun sembunyi. Diantara dakwah beliau untuk mengajak dan menarik simpati masyarakat serta untuk menjelaskan hukum allah adalah khutbah beliau dalam upacara besar haji di Mina[96] serta pertemuan-pertemuan tersembunyi beliau di Mekah. [97]

Selama 10 tahun masa Imamah Imam Husain As, beliau banyak melakuka kirim balas surat dengan Muawiyah yang menunjukkan perlawanan Imam Husain As atas Muawiyah. Beliau dengan keras mengutuk dan megkritik setiap perilaku dan perbuatan keji serta keputusan Muawiyah yang tidak Islami. Keputusan Muawiyah yang membunuh orang-orang seperti Hujr bin 'Adi, Amr bin Umq Khazai dan Hadhrami beserta para pengikutnya adalah diantara yang mendapat kritikan dan perlawanan Imam Husain As yang paling sulit dan keras. [98] Muawiyah mencari cata untuk menetapkan putra mahkota penggantinya, Yazid. Muawiyah melakukan perjalanan ke Madinah untuk meminta baiat dari masyarakat Madinah, khususnya orang-orang besar Madinah yang pemimpinnya adalah Imam Husain As. Setelah memasuki kota Madinah, Muawiyah menemui Imam Husain As dan membicarakan pengangkatan putra mahkota pengganti dirinya. Dia begitu berusaha menarik perhatian Imam untuk menyetujuinya. Namun Imam dengan keras menghardiknya. Beliau menjelaskan ketidaklayakan dan permainan hawa nafsu Yazid. Beliau menolak pengangkatan Yazid sebagai putra mahkota. [99] Imam Husain merupakan salah seorang yang menolak baiat ke Yazid dan dalam sebuah khutbah beliau mengutuk rencana Muawiyah tersebut. [100]

Politik Muawiyah Menghadapi Imam Husain As

Muawiyah seperti khalifah yang tiga, secara lahiriah sangat menghormati Imam Husain As, karena dia tahu Imam Husain memiliki tempat di hati masyarakat Mekah dan Madinah. Dia tidak bisa memperlakukan Imam seperti masyarakat yang lain. Dengan kondisi seperti ini, Imam Husain merupakan duri besar dalam pemerintahannya dan Muawiyah merasa khawatir atas kebangkitan perlawanan Imam Husain As. Oleh karena itu, Muawiyah menggunakan siasat ganda. Di satu sisi dia tidak memandang meremehkan kedudukan Imam Husain As dan secara lahiriah menghormati serta memuliakannya. [101] Dia memerintahkan para bawahannya untuk tidak berbuat masalah dengan putra Nabi dan menghindari sikap tidak sopan terhadap Imam. [102] Dan di sisi lain, Muawiyah senatiasa mengawasi Imam siang malam. Dia mengawasi setiap gerak-gerik dan diamnya Imam. Kehidupan khusus dan umum, di perjalanan dan ketika tinggal di rumah pun diawasinya. Dengan sengaja dia ingin Imam merasakan hal ini dan mengetahui pengawasannya. Muawiyah mengumumkan bahwa kehidupan Imam secara rinci dan detil harus dilaporkan setiap saat, sehingga diharapkan kegiatan ini akan menghalangi Imam untuk bangkit dan melawan. Bahkan Muawiyah berpesan dan mengingatkan anaknya, Yazid, mengenai kedudukan Imam Husain As, supaya Yazid mengawasi Imam dan tidak bersikukuh meminta baiatnya. [103]


Pemerintahan Yazid

Sebelum memegang kekuasaan, Yazid terkenal sebagai pembuat lagu, penyanyi dan peminum arak (khamer). [104] Dalam hal ini dia sangat berlebihan, dimana ayahnya sendiri, Muawiyah, menghardiknya dan melarangnya berlebihan dalam minum khamer. [105] Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin merasa heran dan terkejut ketika Muawiyah hendak menjadikan Yazid sebagai putra mahkota (wilayat 'ahdi) penggantinya dan mereka pun tidak menerimanya. Untuk menyembunyikan sisi buruk Yazid ini dan untuk menampilkan Yazid sebagai pengganti memegang khilafah, pada tahun 51 H[106] Muawiyah mengutus Yazid ke Mekah sebagai pelayan para jamaah haji yang berasal dari Syam. [107] Namun dalam perjalanan haji ini pun Yazid tidak mampu menahan diri dari khamer, dan setelah memasuki kota Madinah dia mengadakan perayaan minum khamer. [108]

Pada tahun 52 H, atas perintas Muawiyah, Yazid beserta pasukan Syam berangkat ke Romawi. [109] Pasukan Syam sampai di perbatasan Romawi, namun Yazid dan istrinya, Ummu Kultsum, tertinggal di daerah Dir Murran. [110] Akhirnya pasukan muslimin mengalami musibah wabah penyakit di daerah Ghadzqadzunah[111] dan mengalami bencana berat. Namun dengan hati yang keras yang tersirat dalam syiir-syiir, Yazid tidak memiliki rasa iba dan sedih melihat kaum muslimin terserang wabah panas dan demam serta meninggal. Diceritakan bahwa Muawiyah pun marah dan kesal. Dia memerintahkan Yazid untuk segera menyusul kaum muslimin di pasanggrahan mereka. Yazid pun terpaksa berangkat bersama pasukannya ke Konstantinopel. [112] Namun mereka tdk berhasil menaklukkan Konstantinopel dan mereka pun akhirnya kembali. Dalam perang ini terdapat Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair dan Abu Musa Anshari. [113]

Penentangan yang besar dari kaum muslimin pun terjadi terutama dari para pembesar Mekah dan Madinah. Muawiyah akhirnya meminta paksa baiat kaum muslimin terhadap Yazid. Pada tahun 56 H dia berhasil mengambil baiat masyarakat untuk Yazid . [114]


Kondisi Politik Masa Yazid

Masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah yang pendek dari segi politik merupakan masa yang begitu penuh dengan ketegangan dan gejolak. Pemerintahan Yazid selama 3 tahun penuh dengan perlawanan dan pemberontakan dari dalam. Ketenangan daerah-daerah Islam menjadi terganggu. Pada masa pemerintahannya Yazid berusaha memadamkan setiap bentuk perlawanan terhadapnya dengan kekuatan penuh. Tekanan dan kegentingan dalam pemerintahannya sedemikian rupa dimana Mas'udi menggambarkan masa ini dengan tulisannya:

"Perjalanan hidup Yazid adalah perjalanan hidup Firaun. Bahkan Firaun lebih adil daripada Yazid dalam masyarakatnya dan lebih bijaksana diantara orang-orang khusus dan khalayak umum." [115] "Pada tahun pertama pemerintahannya, dia membunuh Imam Husain As dan Ahlulbait Nabi Saw; menodai dan menghancurkan kehormatan haram Rasulullah (Madinah) dan selama tiga hari penuh dia menghalalkannya untuk pasukannya; pada tahun ketiga dia hendak menghancurkan Kabah dan membakarnya." [116]

Reaksi Imam Menghadapi Yazid

Keluar dari Madinah

Muawiyah meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 60 H. Pada saat kematiannya, Yazid sedang berada di Hawariun. Ketika dia sampai ke Damaskus dan masyarakat membaiatnya, dia menulis surat kepada Walid bin 'Utbah gubernur Madinah, "Husain bin Ali, Abdulllah bin Umar dan Abdullah bin Zubair jangan dibiarkan sehingga engkau harus mengambil bait meraka atas khilafahku."

Gubernur Madinah meminta nasihat kepada Marwan bin Hakam. Marwan berkata, "Jika engkau menerima pendapatku, sampai saat ini masyarakat belum mengetahui kematian Muawiyah, maka segeralah ambil bait dari Ibnu Zubair dan Husain bin Ali. Jika keduanya memberi baiat, maka urusan selesai. Namun, jika mereka tidak memberi baiat, bunuhlah keduanya. Karena jika keduanya tidak membaiat dan masyarakat mengetahui Muawiyah sudah mati maka masyarakat akan datang mengerumuni Husain dan Ibnu Zubair. Dan fitnah besar akan terjadi. Adapun Ibnu Umar, dia bukan orang yang bebahaya, kecuali jika masyarakat segera mendekatainya dan memberikan khilafah kepadanya."

Walid pun mengirim utusan. Ibnu Zubair dan Husain As sedang berada di masjid ketika utusan gubernur datang dan memberikan surat kepada keduanya. Keduanya berkata kepada utusan, "Pergilah ke gubernur, dan katakan baha kami akan datang!" Ketika utusan gubernur pergi, Ibnu Zubair bertanya kepada Imam Husain As, "Untuk apa mereka mengundang kita?" "Aku kira Muawiyah meninggal dan sebelum orang mengetahuinya, Walid ingin mengambil baiat dari kita."

Ibnu Zubair berkata, "Aku pun berpikir demikian. Sekarang apa yang akan Anda lakukan?"

"Aku akan pergi ke hadapan gubernur. Namun untuk mengantisipasi perkara buruk menimpaku, akan kubawa beberapa orangku dan kutinggal di depan pintu rumah Walid. Jika urusannya sampai ke perdebatan, maka mereka akan datang menolongku."

Imam Husain Ass pun pergi ke menemui Walid. Dan setelah Walid memberitahukan kematian Muawiyah, dia meminta Imam Husain As untuk membaiat Yazid. Imam Husain As berkata, "Orang sepertiku tidak akan melakukan baiat tersembunyi. Mintalah baiat dari masyarakat dan juga dariku, dan kita akan melihat apa yang akan terjadi."

Walid berkata, "Kembalilah dengan selamat!"

Marwan berkata kepada Walid, "Jangan engkau lepaskan Husain! Jika dia pergi tanpa memberi baiat, maka selamanya engkau tidak akan bisa mendapatkannya. Jika dia tida membaiat, bunuhlah dia."

Husain berkata, "Engkau tidak akan bisa membunuhku, juga dia." Akhirnya Husain As dan Ibnu Zubair tidak memberikan baiat dan dari Madinah pergi ke Mekah. [117]


Surat-Surat Orang Kufah


Pada waktu Damaskus mengkhawatirkan orang-orang Hijaz yang tidak baiat, di Kufah terjadi sebuah peristiwa. Para pengikut Imam Ali As yang selama dua puluh tahun pemerintahan Muawiyah telah mengorbankan ratusan nyawa. Dari sejumlah ini atau lebih, mereka banyak berada di penjara. Dengan mengetahui kematian Muawiyah, jiwa mereka pun merasa tenang. Peristiwa pembunuhan Ali As secara licik dan membiarkan putra Ali sendirian sehingga tangan Muawiyah leluasa menggapai keinginannya. Muawiyah pun berhasil memegang kekuasaan. Dan Muawiyah merasa tidak lagi memerlukan mereka. Muawiyah tidak percaya kepada mereka. Mereka pun memanfaatkan kesempatan yag ada untuk menuntut balas, sehingga dendam yang ada di hati mereka terhadap sang ayah (Muawiyah) akan mereka tuntut dari anaknya (Yazid ).

Persiapan pun dimulai. Para pengikut Ali berkumpul di rumah Sulaiman bin Shurad Khazza'i. Pembicaraan di mulai. Tuan rumah yang berpengalaman merasakan panas dinginnya hari dan banyak melihat sikap pengecut masyarakatnya berkata, "Wahai masyarakat, jika kalian bukan pekerja dan kalian takut atas jiwa kalian, tidak ada gunanya, jangan kalian tertipu oleh orang yang tidak berguna ini." Dari sudut dan samping terdengar teriakan-teriakan keras, "Selamanya kami sudah melupakan jiwa kami. Kami sudah berjanji dengan darah kami bahwa kami akan menghancurkan Yazid dan menjadikan Husain sebagai khalifah!"

Akhirnya mereka menulis surat kepada Imam Husain, "Puji syukur pada Allah yang telah menghancurkan musuh anda yang zhalim, seorang musuh yang telah membunuh orang yang baik umat Muhammad dan mempekerjakan orang-orang yang jahat. Baitul Maal muslimin di bagikan di antara orang-orang yang mampu dan orang-orang dekatnya. Sekarang tidak ada halangan lagi dijalan kepemimpinan Anda. Penguasa kota ini, Nu'man bin Basyir berada di istana. Kami tidak akan berkumpul dengannya dan juga tidak akan shalat bersamanya." Bukan hanya surat ini yang dikirim kepada Imam Husain oleh para pengikutnya yang bersih hati dan seperjuangan. Disebutkan bahwa jumlah surat mencapai ratusan bahkan ribuan. [118]

Bagaimanapun, karena jumlah surat orang-orang Kufah pada Imam Husain melebihi batas kewajaran, beliau menganggap perlu untuk membalas surat mereka dan tidak membiarkan orang-orang Kufah menunggu. Beliau menulis sebuah surat pendek, "Aku akan mengutus putra pamanku sendiri, Muslim bin 'Aqil, yang aku percayai pada kalian sehingga dia akan melihat keadaan kota dari dekat dan memberi tahukan kepadaku. Jika yang kalian tulis adalah benar maka aku akan datang kepada kalian." [119]

Di sisi lain beberapa orang dari orang-orang rakus Bani Umayah dan kelompok yang memandang keuntungan mereka ada ketika memihak Damaskus, begitu juga orang orang yang tidak mimiliki pandangan jauh ke depan, mengirim surat-surat ke Syam dan mengatakan kepada Yazid, "Jika Anda menginginkan Kufah dan Irak, Anda harus mengirimkan seorang penguasa yang pantas buat negri ini karena Nu'man bin Basyir adalah orang yang tidak mampu atau dia akan memberitahukan ketidakmampuan Anda." Yazid bermusyawarah dengan penasehatnya dari Romawi yang bernama Sarjun. Kemudian kekuasaan Kufah pun diberikan kepada Ubaidillah bin Ziyad yang sebelumnya adalah penguasa Bashrah. [120]

Sementara itu, Muslim bin Aqil sampai ke Kufah dengan membawa surat dari Imam. Masyarakat Kufah menerimanya dengan penuh rasa senang dan gembira. Muslim merupakan seorang yang bersih keyakinannya, dan dia tidak berpikir bahwa mereka dengan kecintaan seperti itu membaiatnya mana mungkin dengan mudahnya mereka akan meninggalkan dirinya sendirian. Ketika Muslim melihat penyambutan masyarakat, dia menulis sebuah surat kepada Imam Husain As, "Masyarakat Kufah dan Irak semuanya mengikuti Anda dan menunggu kedatangan Anda, sebaiknya Anda segera datang ke Irak." [121]

Perjalanan ke Irak

Ketika surat Muslim sampai ke Imam, beliau berangkat ke Irak bersama kaum perempuan dan anak-anaknya serta sejumlah sahabatnya. Di sisi lain, setelah mendapat perintah Yazid, Ubaidillah berangkat ke menuju Kufah. Dia mengenal baik masyarakat Irak, khususnya Kufah. Ayahnya beberapa tahun pernah berkuasa di kota ini dan Ubaidillah besar dibawah asuhan ayahnya. Dia mengetahui bagaimana bersikap terhadap masyarakat Kufah. Setelah sampai ke kota ini, di hari-hari pertamanya dia mearik orang dengan ancaan dan suap. Bersama mereka dia memperlihatkan kedudukannya kepada orang-orang. Dengan menyebarkan mata-mata dia pun menemukan rumah persembunyian Muslim. Pertama kali dia memenjarakan Hani bin 'Urwah yang menjadi pelindung Muslim. Muslim pun bersama orang-orangnya bangkit melawan. Namun, orang-orang ini, yang tercatat berjumlah mencapai seribu orang, tanpa melakukan perlawanan atau memperlihatkan keberaniannya atau tidak sabar menanggung beban berat, dalam waktu satu hari mereka tercerai berai dari sisi Muslim. Begitupun ketika Muslim shalat Isya, tidak ada seotang pun yang menyertainya. Akhirnya tempat dimana Muslim bersembunyi diketahui. Muslim ditangkap. Atas perintah Ubaidillah dia dan Hani dibunuh. Badan mereka yang tanpa kepala diseret-seret dengan tali di pasar-pasar Kufah. Sementara itu, orang-orang Kufah berdiam diri di rumahnya masing-masing seolah tidak pernah terjadi peristiwa apapun. [122]

Imam Husain As diperjalanan dari Mekkah ke Irak mengetahui terbunuhnya Muslim dan Hani serta pengkhianatan masyarakat Kufah. Beliau pun memberi tahu hal tersebut kepada orang-orang yang bersamanya. Imam Husain As memberikan keringanan kepada mereka bahwa jika menghendaki mereka diperbolehkan meninggalkan Imam Husain As. Sekelompok orang akhirnya pergi. Namun, keluarga beliau dan sejumlah sahabatnya yang ikhlas, bertaqwa dan beriman tidak meninggalkan beliau. Ketika Imam sampai ke dekat Kufah, beliau dihadang oleh pasukan Ibnu Ziyad. Pemimpin pasukan yang bernama Hurr bin Yazid dari bani Riyah menutup jalan Imam Husain As dan akhirnya menghentikan beliau di sebuah tempat bernama Karbala. Gubernur Kufah ketika mendapat kabar kedatangan Imam di dekat Kufah mengirim pasukan yang di pimpin Umar bin Sa'd bin Abi Waqash. Ubaidillah menginginkan baiat Imam Husain kepada Yazid. Tapi Imam Husain menolaknya. [123]

Peristiwa Karbala

Setelah Imam Husain menolak baiat kepada Yazid, pasukan Kufah siap berperang dengan beliau. Akhirnya, pada hari kesepuluh Muharram tahun 61 H (Hari Asyura, Tragedi Assyura) terjadi perang di Karbala. Imam Husain As dengan sekuat tenaga berusaha mengingatkan akal para tentara pasukan Kufah dengan pidato-pidato tentang kebaikan, kasih sayang serta penjelasan mengenai hakikat. Imam berkata kepada mereka bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk memilih kehidupan bebas. Jika mereka mengabaikan kesempatan ini, mereka selamanya tidak akan mendapat keberuntungan. Jika mereka mengingkari kemulian ini maka kehidupan yang penuh dengan kehinaan dan kenistaan akan mengikuti mereka. Demikianlah jam-jam pertama pada hari kesepuluh Muharram dilalui dengan berbalas pesan, pidato dan dialog. Pada waktu-waktu yang penuh kegetiran dan membingungkan ini, disampaikan beberapa pidato pendek oleh Imam Husain dan para sahabatnya. Pidato-pidato ini yang direkam oleh sejarah merupakan riwayat-riwayat yang sangat bernilai. Riwayat-riwayat yang lebih dari sekedar petunjuk jiwa kebebasan, kemulian dan ketakwaan, juga merupakan bentuk puncak belas kasih terhadap orang-orang yang tersesat serta usah dan kerja keras insani untuk menolong orang-orang ini. Salah satu pidato Imam Husain As pada saat genting tersebut adalah:

"Wahai kaum, jangan tergesa-gesa. Dengarlah ucapanku, aku menginginkan kebaikan kalian. Aku hendak mengatakan kepada kalian untuk apa aku datang ke kota kalian! Jika kalian mendengarkan ucapanku dan berlaku bijak dan melihat aku berkata benar, maka peperangan yang mungkin terjadi setiap saat ini akan terhindarkan. Jika kalian tidak mendengarkan ucapanku, jika kalian tidak menempuh jalan kebajikan, maka kerugian akan menghampiri kalian. Wahai kalian apakah mengetahui siapa aku? Apakah kalian mengetahui siapa ayahku? Apakah membunuhku akan menyenangkan kalian? Apakah kalian senang menghancurkan kehormatanku? Apakah aku bukan anak dari putri nabi kalian? Apakah ayahku bukan washi Nabi, anak paman Nabi dan muslim pertama? Apakah kalian pernah mendengar hadits yang mengatakan bahwa nabi tentang aku dan saudaraku berkata, "Kedua anakku ini adalah pemimpin para pemuda ahli surga"? Jika kalian menganggap perkataanku benar, itu lebih baik. Demi Allah, selama aku mengenal diriku, aku tidak tidak pernah berkata bohong. Sampai saat ini masih hidup beberapa sahabat Nabi. Kalian bisa bertanya kepada mereka: Jabir bin Abdullah Anshari, Abu Said Khudri, Sahal Sa'idi, Zaid bin Arqam, Anas bin Malik! Mereka akan mengatakan kepada kalian bahwa apa yang aku katakan adalah benar. Wahai kalian, atas dasar syariat apa kalian ingin menumpahkan darahku?"

Ilustrasi "Petang Asyura", Karya Mahmud Farsyiyan


Tidak diragukan lagi bahwa Imam Husain As tidak mengatakan hal ini untuk lepas dari kepungan musuh atau takut terbunuh. Jka hal tersebut yang diinginkan Imam, maka beberapa hari sebelumnya mungkin akan lebih baik. Orang-orang yang memiliki hati baik, tidak berpenyakit, pencari kebaikan, dan penyayang sesama, akan mendengarkan dengan baik perkataan ini. Contoh dari perkataan-perkataan dalam sejarah hanya beberapa orang yang memiliki syarat-syarat tersebut. Perkataan manusia Ilahi. Perkataan orang yang mengetahui risalahnya dalam membangkitkan akal pikiran yang tertidur. Orang yang berusaha keras menjatuhkan dan membakar dirinya di tengah-tengah kobaran keburukan marah dan syahwat dimana orang bodoh akan terbakar di dalamnya, sehingga sebisa mungkin dia akan menyelamatkan satu atau dua orang dan akan mengeluarkannya dari tengah-tengah kobaran api tersebut. [124]

Pada akhirnya perang pun terjadi dan dalam hitungan beberapa jam peperangan, Imam Husain As, kaum lelaki dan para pemuda yang menyertai Imam Husain As pun syahid. Sementara para wanita dan putra-putri beliau yag belum balig menjadi tawanan di bawa ke Kufah dan kemudian dibawa ke Syam. Hanya Imam Ali bin Husain As yang tidak bunuh karena sedang sakit. [125]


Sifat dan Keutamaan

Setelah wafatnya Imam Hasan As, Imam Husain As merupakan orang yang paling mulia dari Bani Hasyim, sekalipun terdapat orang-orang yang usisanya lebih tua dari beliau. [126] Mereka senantiasa bermusyawarah dengan Imam Husain As dalam urusan mereka dan pendapat Imam Husain As lebih mereka utamakan daripada pendapat orang lain. [127]

Imam Husain As berwajah putih. [128] Kadang beliau mengenakan ikat kepala (amamah) dari bulu[129] dan kadang amamah hitam. [130] Rambut kepala dan hiasannya beliau semir. [131] Dalam banyak sumber hadits, sejarah kesederhanaan beliau mirip dengan Rasulullah Saw. [132] Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Imam Husain As adalah orang yang paling mirip denganRasulullah Saw[133] Dalam riwayat lain dari Imam Ali As disebutkan bahwa beliau menilai putranya Husain As sebagai orang yang paling mirip dengan beliau sendiri dari sisi akhlak, sikap dan perbuatan. [134] Tulisan pada kedua cincinnya adalah لااله الّااللّه، عُدَّةٌ للِقاءاللّه‌ , dan ان اللّه بالغٌ اَمْرَه‌. [135] Imam Husain beserta orang-orang dekatnya mengerjakan ibadah haji sebanyak 25 kali. [136]

Musuh-musuh Imam Husain As pun mengakui keutamaan beliau. Muawiyah mengatakan bahwa Husain seperti ayahnya, Ali, bukan tukang tipudaya. [137] Sementata Amru bin 'Ash menyebutnya sebagai orang yang paling dicintai dari kalangan bumi oleh penduduk langit. [138]

Panorama Haram Imam Husain di Karbala

Beliau senantiasa menghormati saudaranya, Imam Hasan As, dan tidak pernah berkata melawannya. Tidak pernah berjalan mendahuinya. Di tempat ketika keduanya hadir, beliau tidah perah mendahuluinya berbicara dan tidak mengemukakan pendapatnya. [139] Bahkan meskipun sangat pemurah dan di Madinah terkenal dengan pemurah dan pengasih, namun dalam kemurahannya tetap berusaha menghormati Imam Hasan As. [140] Disebutkan bahwa seseorang yang butuh datang kepada Imam Hasan As dan meminta pertolongan kepadanya. Imam Hasan As memberikan sejumlah uang kepada orang tersebut. Kemudian orang itu mendatangi Imam Husain As untuk mendapatkan pertolongan lebih. Dan Imam Husain As setelah mengetahui pemberian Imam Hasan As, untuk menjaga kehormatan saudaranya, beliau memberikan uang kepada orang tersebut dengan jumlah yang kurang satu Dinar dari Imam Hasan As. [141]

Imam Husain As senantiasa duduk bersama orang-orang miskin. Belaiu menerima undangan mereka dan makan bersamanya. Beliau pun mengundang mereka ke rumahnya dan apa saja yang ada di rumah, beliau tidak pelit terhdapnya. [142] Jika terdapat pertanyaan kepadanya dan Imam sedang dalam kondisi shalat, maka Imam memperpendek shalatnya, dan apa saja yang dimikinya diberikannya. [143] Beliau membebaskan para budaknya sebagai imbalan atas sikap baik para budak. Dikatakan bahwa seorang budak perempuan beserta harta dan baju-baju yang banyak dihadiahkan oleh Muawiyah kepada beliau. Sebagai imbalan atas bacaan ayat al-Quran dan syiir tentang fananya dunia dan kematian manusia, beliau membebaskan budak tersebut dan memberikan seluruh hadiah tersebut kepadanya. [144] Bahkan suatu waktu salah seorang budak laki-lakinya melakukan pebuatan tidak patut yang harus dihukum. Namun, karena budak tersbut membacakan ayat al-Quran وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاس (dan memaafkan (kesalahan) orang lain), beliau pun memafkannya. Dan karena budka itu berkata وَاللَّـهُ يحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik), Imam pun membebaskannya di jalan Allah. [145] Beliau mebayarkan hutang Usamah bin Ziyad yang terbaring sakit dan tidak mampu membayar hutangnya. [146] Berdasarkan sebuah riwayat, beliau memberikan tanah dan segala sesuatu yang menjadi warisannya. [147] Beliau membayarkan diyat seseorang sebagai hadiah karena bisa menjawab tiga pertanyaan dengan sempurna, beliau pun memberikan cincin kepadanya. [148] Kasih sayangnya sedemikian rupa sehingga karena budi baiknya ini seorang perempuan Yahudi dan anaknya masuk Islam. [149] Kepada pengajar anak-anaknya beliau memberikan sejumlah harta dan baju, sementara beliau berkata "Ini bukan bayaran Anda mengajar." [150] Mengenai sifat lemah lembutnya (hilm) dikatakan bahwa ketika seseorang dari Syam berkata tidak baik kepada beliau dan ayahnya, beliau pun menghampirinya dan bersikap lembut kepada orang tersebut. [151] Dikatakan juga bahwa bekas karung makanan yang diberikan kepada anak-anak yatim dan orang miskin yang dipikul dipundak beliau terlihat jelas pada saat wafat beliau. [152] Disebutkan bahwa ketika Marwan menghina ibu Imam Husain As, namun beliau bersikap lembut saat bertemu Marwan. [153] Begitupun dalam menghadapi orang yang melaknat Imam Ali dari Bani Umayah, beliau justru memperlihatkan sikap sebaliknya. [154]

Telaah Lebih Jauh

  • Syahidi, Sayid Ja'far, Pas Az Panjāh Sāl Pazuhesyi Tāzeh Pirāmun Qiyām Husain As, Tehran: Daftar Nasyr Farhang Islami, 1384


Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Al-Mufid, Al-Irsyād, Qom: Sa'id bin Jabir, 1428 H, hlm. 288.
  2. Dāirah Al-Ma'ārif Tasyayyu', Ahmad Shadr Haj Sayed Jawadi, Kamran Fani, Bahau Al-Din Khuramshahi, jld. 2, hlm, 349-354; Ibn Sa'd, jld. 6, hlm. 399; Abu Al-Faraj Isfahani, hlm. 51; Mufid, jld. 2, hlm. 27.
  3. Haji Manucehri, Faramarz, Husain As (Imām), dalam Dairah Al-Ma'arif Buzurg Islami, jld. 20, Pendahuluan hlm. 664-665.
  4. Kulaini, jld. 6, hlm. 33-34; Ibnu Babawaih, 'Ilal Al-Syarā'i, jld. 1, hlm. 137-138,; Thusi, 1414, hlm. 367; lihat juga Qarasyi, jld. 1, 31-32.
  5. Ibnu Syahr Asyub, Op cit, jld. 3, hlm. 398; Al-Amili, Ibn Hatim, Al-Dar al-Nadhim, Qom: Jami'ah Mudarrisin, Tanpa tahun, hlm. 776; Irbili, Ali Ibn 'Isya, Kasyf al-Ghummah, Tabriz: Maktabah Bani Hasyimi, 1381 H, jld. 1, hlm, 525.
  6. Syaikh Shaduq, Ilal Al-Syarāyi, Op cit, hlm. 138; Ibnu Syahr Asyub, Op cit, jld. 3, hlm. 397; Arbili, Op cit, hlm. 525. Dalam beberapa sumber ke dalam hadits ini ditambahkan "Musyabbar": Baladzarim, Op cit, jld.1, hlm. 401.
  7. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Āli Abi Thālib, jld.4, hlm.86, yang dinukil dari Yadullah Muqaddasi, Bāz Pazuhi Tārikh Wilādah Va Syahādah Ma'shumān As, hlm.289.
  8. Ibnu Sa'd, jld.1, hlm.357; Daulabi, hlm.100.
  9. Jld.6, hlm.400-401.
  10. Ibnu A'tsam Kufi, jld.4, hlm.323; Qis Ibnu Hanbal, jld.6, hlm.340; Daulabi, hlm.106; Bahau al-Din Irbili, jld.2, hlm.308, 320, 348-349, pembahasan ini dinisbatkan kepada Imam Husein As.
  11. Mausu'ah Kalimāt Al-Imām Husain As, hlm.38, yang dinukil dari Farhang 'Āsyura, Muhaddatsi dan Ibnu Abi Syaibah, jld.8, hlm.65; Ibnu Qutaibah, 1960, hlm.213; Thabrani, jld.3, hlm. 94; Mufid, Ibid.
  12. Hlm.201.
  13. Farhang 'Āsyura, hlm.39.
  14. Abnu Abi al-Tsalj, hlm.28; Ibnu Thalhah Syafi'i, jld.2, hlm.374.
  15. Ibnu Abi al-Tsalj, Ibid.
  16. Ibnu Thalhah Syafi'i, Ibid.
  17. Untuk alamat gelar Imam lihat Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.86.
  18. Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.86.
  19. Himyari, hlm.99-100; Ibnu Quluyah, hlm.316-219, Thusi, 1414, hlm.49-50; Majlisi, jld.37, hlm,94-95.
  20. Kulaini, Al-Kāfi, jld.1, hlm.463; Syaikh Thusi, Tahdzib al-Ahkām, Jld.6, hlm.41; Syaikh Thusi, 1401, Ibid; Ibnu Abdulbar, jld.1, hlm.392; Ibnu Sa'd, Al-Thabaqāt al-Kubrā, Khamisah 1, hlm.369; Syaikh Mufid, Al-Maqna'ah, hlm. 467; Al-Maufiq Bin Ahmad al-Khawarizmi, Maqtal al-Husain As, jld.1, hlm.143.
  21. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.399; Ya'qubi, jld.2, hlm.246; Daulabi, hlm.102, 121; Abu al-Faraj Isfahani, hlm.51; Ahmad bin Yahya al-Baladzari, Insāb al-Asyrāf, jld.1, hlm.304; Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tārikh al-Umām wa al-Muluk (Tārikkh al-Thabari), jld.2, hlm.555; Syaikh Mufid, Al-Irsyād, jld.2, hlm.27 Dan Ali bin Al-Husain Al-Mas'udi, Al-Tanbih wa al-Asyrāf, hlm.213.
  22. Majlisi, jld.44, hlm.201; Syaikh Mufid, Masār Al-Syi'ah, hlm.61; Muhammad Bin al-Masyhudi, Al-Mazār (Al-Kabir), hlm.397; Syaikh Thusi, Misbāh al-Mutahajjud, hlm.826, 828; Sayid bin Hawus, Iqbāl al-'Amāl, hlm.689-690.
  23. Ibnu Sa'd, jld..6, hlm.441; Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.512; Thabari, jld.5, hlm.394, 400; Thusi, 1401, jld.6, hlm.41-42; Qis Thabari, jld.5, hlm.394, berdasarkan beberapa riwayat dia menyebutkan syahadahnya Imam terjadi pada bulan Safar; Ibnu Abi al-Tsalj, Ibid, dia menyebutkan syahadahnya Imam pada tahun 60 H.
  24. Ibnu Sa'd, Ibid; Thabari, jld.5, hlm.422; Abu al-Faraj Isfahani, Thusi, 1401, Ibid.
  25. Thabari; Abu al-Faraj Isfahani; Thusi, 1401, Ibid.
  26. Daulabi, hlm.133.
  27. Kulaini, Tusi, 1401, Ibid.
  28. Fadhl bin Hasan Thabarsi, 1417, Ibid.
  29. Mas'udi, Tanbih, Hlm.3; Nāthiq bi al-Hāq, hlm.11.
  30. Al-Isfahani, Abu Al-Faraj, Maqāthil al-Thālibin, Riset oleh Kadhim Al-Mudhafar, Al-Najaf al-Asyraf: Mansyurat al-Maktabah al-Haidariyah, 1385/1965, hlm.51.
  31. Ibnu Sa'd, Al-Isfahani, Maqāthil al-Thālibin, hlm.51; Ibnu Qutaibah, 1960, hlm.213; Baladzari, 1996-2000; Ya'qubi, Ibid; Thabrani, Jld.3, hlm.115, disebutkan bahwa usia Imam 56 tahun.
  32. Fadhl bin Hasan Thabarsi, 1417, Ibid; lihat juga Kulaini, jld.1, hlm.463: 57 tahun dan beberapa bulan; Ibnu Abi Al-Tsalj, Mas'udi, Tanbih, Ibid.
  33. Ibnu Sa'd, Ibnu Qutaibah, 1960, Ibid; Thabrani, jld.3, hlm.98-99, 103, 105; Thusi, 1401, Ibid.
  34. Untuk mendapatkan berbagai pendapat tentang usia imam ketika syahadah silakan lihat Mazzi, 1422, jld.6, hlm.445-446.
  35. Mush'ab bin Abdillah, hlm.59; Mufid, jld.2, hlm.135; Baihaqi, jld.1, hlm.34; Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.77, 113.
  36. Hlm.249.
  37. Hlm.249.
  38. Qumi, Abas, Muntaha Al-Amāl, jld.2, hlm.1055-1059.
  39. Mufid, Al-Irsyād, jld.2, hlm.491.
  40. Sayid Muhsin Amin, Fi Rihābi Aimmati Ahli Bait As, jld.4, hlm.73.
  41. Ali bin Isya Al-Arbili, Kasyful Ghummah, jld.2, hlm.215.
  42. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld.3, Hlm.77.
  43. Ali bin Isya Al-Arbili, Kasyful Ghummah, jld.2, hlm.214.
  44. Mush'ab bin Abdullah, hlm.57-59,; Bukhari, hlm.30; Mufid, Ibid.
  45. Dalāil al-Imamah, hlm.74; Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.77; Ibnu Thalhah Syafi'i, jld.2, hlm.69.
  46. Dalāil al-Aimmah, hlm.74; Ibnu Syahr Asyub, Ibid.
  47. Jld.2, hlm.69.
  48. Kāsyifi, hlm.389-390; Amin, jld.7, hlm.34.
  49. Mush'ab bin Abdullah, Ibid; Mufid, jld.2, hlm.135; Ibnu Syahr Asyub, Ibid.
  50. Rabbani Khawarizmi, Ali, Cehreh Derakhshān Imām Husain As, hlm.22, yang dinukil dari Jannāt al-Khulud, hlm.23.
  51. Ibnu Sa'd, jld.3, hlm.214; Mush'ab bin Abdullah, Ibid; Ibnu Habib, hlm.404.
  52. Mufid, Al-Irsyād, jld.2, hlm.491; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.45, hlm.329.
  53. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld.3, hlm.77.
  54. Rabbani Khawarizmi, Cehreh Derakhshān Imām Husain As, hlm.22, yang dinukil dari Jannāt al-Khulud, hlm.23; Amin, Sayid Muhsin, Fi Rihābi Aimmati Ahli Bait As, jld.4, hlm.73; Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld.3, hlm.77.
  55. Rabbani Khawarizmi, Ali, hlm.22, yang dinukil dari Jannāt al-Khulud, hlm.197. Juga dinukil dari Ma'āli al-Sibthain, jld.2, hlm.214.
  56. Jannāt al-Khulud, Hlm.199; Abshār al-'Ain ai Anshar al-Husain, hlm.368, yang dinukil dari Rabbani Al-Khawarizmi, Cehreh Derakhshān Imām Husain As, hlm.22.
  57. Qumi, Muntaha al-Amāl, jld.2, hlm.638-701.
  58. Jld.6, hlm.399.
  59. Mausu'ah Kalimāt al-Rasul al-A'dhām, jld.6, Kitab Al-Husaini dan Kitab Ahl Al-Bait As, hlm.22, yang dinukil dari Syarh al-Akhbār 3:74 Hadis ke-995.
  60. Ahmad bin Hanbal, Op cit, jld.4, hlm.172; Hakim Naisyaburi, Op cit, Jld.3, hlm.177; Al-Qazwini, Muhammad bin Yazid; Sunan Ibnu Majah, jld.1, hlm.51.
  61. Shaikh Shaduq, Kamāl al-Din, jld.1, hlm.262; Sayid bin Thawus, Al-Tharāif, jld.1, hlm.174; Qumi, Ali bin Muhammad, Kifāyat al-Atsar, hlm.46; Maqtal al-Khawārizmi, jld.1, hlm.146; Kamāl al-Din Shaduq, hlm.152.
  62. Qumi, Kifāyat al-Atsar, hlm.45; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.36, hlm.304.
  63. Thabarsi, I'lām al-Warā bi A'lām al-Hudā, jld.1, hlm.432; Al-Muqrizi, Op cit, jld.6, hlm.11; Khargusyi Naisyaburi, Abu Sa'id, 1424, jld.5, hlm.334.
  64. Ibnu Sa'd, Op cit, jld.10, hlm.266; Ahmad bin Hanbal, Op cit, jld.2, hlm.440; Hakim Naisyaburi, Al-Mustadrak, jld.3, hlm.166; Sunan Tirmidzi, jld.5, hlm.324.
  65. Ahmad bin Hanbal, Op cit, jld.5, hlm.345; Al-Tirmidzi, Sunan, Riset oleh Abdul Rahman Muhammad Utsman, jld.5, hlm.322; Ibnu Hiban, Shahih, jld.13, Hlm.402; Hakim Naisyaburi, Op cit, jld.1, hlm.287.
  66. Sunan Tirmidzi, jld.5, hlm.323.
  67. Al-Dainuri, Al-Imāmah wa l-Siyāsah, jld.1, hlm.29-30; Thabarsi, Al-Ihtijāj, jld.1, hlm.75; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.22, hlm.328.
  68. Al-Namiri, Umar bin Syabah, Thariq al-Madinah al-Muunawarah, jld.3, hlm.799; Ibnu Sa'd, Al-Tabaqāt al-Kubrā, jld.1, hlm.394; Al-Dzahabi, Tārikh al-Islām wa Wafiyāt al-Musyahr wa al-I'lam, Riset oleh Umar Abdu Al-Salam Tadamuri, jld.5, hlm.100; Ibu Syahr Asyubi, Al-Manāqib, jld.4, hlm.40; Al-Baghdadi, Tarikh Baghdād, jld.1, hlm.52.
  69. Al-Namiri, Op cit, jld.3, hlm.799; Ibnu Sa'd, Op cit, jld.1, hlm.394-395; Al-Dzahabi, Op cit, jld.5, hlm.100; Al-Mutaqi Al-Hindi, Kanzu al-'Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl, jld.13, hlm.654; Al-Baghdadi, Op cit, jld.1, hlm.152.
  70. Ibnu Al-Fiqh, Ahmad bin Muhammad, Al-Bulān, Riset oleh Yusuf Al-Hadi, hlm.750; Ibnu Al-Jauzi, Al-Muntadhām, jld.5, hlm.7; Ibnu Atsir, Al-Kamil fi al-Tārikh, jld.3, hlm.109.
  71. Mu'tazili, jld.8, Op cit, hlm.253-254; Kulaini, Al-Kāfi, jld.8, hlm.207.
  72. Baladzari, Anshāb Al-Asyrāf, jld.3, hlm.216-217; Al-Imāmah, jld.1, hlm.40 dan seterusnya; Maliqi, Muhammad, Al-Tamhid wa al-Bayān, Riset oleh Muhammad Yusuf Zaid, Qathar, 1405 H, 119-194; Muqaddasi, Al-Bada' wa al-Tārikh, Riset oleh Kilman Hawar, Parisi, 1916 M, 5/206; 'Amili, Al-Hayāt al-Siyāsiyah li al-Imām Al-Hasan As, Qom, 1405 H, hlm 140 dan seterusnya; yang dinukil oleh Haji Manucahri, Faramurz, "Husain As, Imām", dalam Danesh Nameh Buzurg Islami, jld.20, hlm.678.
  73. Haji Manucahri, Faramurz, "Husain As, Imām", dalam Danesh Nameh Buzurg Islami, jld.20, hlm.678.
  74. Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.178, 213, 246, 323; Mas'udi, Muruj, jld.3, hlm.104-114, 136.
  75. Nasir bin Mazahim, hlm.114-115.
  76. Ibn, Syabbad Namiri, jld.1, hlm.227; Nahj al-Balāghah, Surat ke-24.
  77. Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.356; Qis, jld.2, hlm.357.
  78. Ibnu Qutaibah, 1410, jld.1, hlm.182; Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.355-356; Mufid, jld.1, hlm.25; Majlisi, Jld.42, Hlm.235, 294-295.
  79. Abnu Abi Al-Tsalji, Ibid; Dalāil al-Imāmah, hlm.159, 177.
  80. Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Op cit, jld.5, hlm.165.
  81. Kusyi, Op cit, hlm.110; Alamah Majlisi, Op cit, jld.44, hlm.61.
  82. Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, jld.5, hlm.166; Ibnu Al-Jauzi, Al-Muntazham, jld.5, hlm.184; Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, jld.8, hlm.19.
  83. Al-Mufid, Al-Irsyād, Qom: Sa'id bin Jubair, 1428 H, hlm.290.
  84. Shaduq, Kamal Al-Din Wa Tamamu Al-Ni'mah, hlm.257-258,; Khazaz Razi, hlm.13-14, 23, 28-29, Dan Khazaz Razi, hlm.217, 221-223.
  85. Ibnu A'tsam Kufi, jld.4, hlm.319; Kulaini, jld.1, hlm.301-302; Khazaz Razi, hlm. 229; Fadhail bin Hasan Thabarsi, 1417, jld.1, hlm.421-423.
  86. Jld.2, hlm.30-31.
  87. Thabarsi, Fadhl bin Hasan, 1417, jld.1, hlm.423-424.
  88. Shaduq, Al-Amāli, hlm.425; Al-Tauhid, hlm.307-308.
  89. Ibnu Babawaih, Al-Tauhid, hlm.80; Ibnu Asakir, jld.14, hlm.174, 180, 183-184.
  90. Shaduq, 'Uyun Akhbār Al-Ridhā, jld.1, hlm.68; Khazaz Razi, hlm.230-234.
  91. Fadhl bin Hasan Thabarsi, 1417, jld.1, hlm.423; Shafar Qumi, hlm.291; Ibnu Babawaih, Kamāl al-Din wa Tamām al-Nimah, hlm.537; Thusi, 1402, jld.5, hlm.470; Quthb Rawandi, jld.1, hlm245-246; Dalāil al-Imāmah, hlm.181-183, 186, 188-189; Ibnu Asakir, jld.14, hlm.82; Abnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.57, 59-40; Majlisi, jld.44, hlm.185-186; Hasyim bin Sulaiman Bahrani, jld.2, hlm.83-230.
  92. Shaikh Mufid, Al-Irsyād, jld.2, hlm.32; Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thālib, jld.4, hlm.87.
  93. Ibid (Ibnu Sa'd?), jld.6, hlm.422-423; Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.458-459; Mufid, jld.2, hlm.32.
  94. Ibnu Sa'd, Ibid; Qis Baladzuri, 1996-2000, jld.2, hlm.459-460.
  95. Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyraf, jild.3, hlm.152; Al-Dainuri, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud, Al-Akhbar al-Thawāl, hlm.222.
  96. Thabarsi,Ahmad bin Ali, Al-Ihtijāj, jld.2, hlm. 296; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār Al-Anwār, jld.44, hlm.127.
  97. Harani, Hasan bin Syu'bah, Tahf al-'Uqul, hlm.237-239; Majlisi, Bihār Al-Anwār, jld.97, hlm.79-81.
  98. Al-Dainuri, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud, Op cit, hlm.224-225; Al-Baladzari, Ahmad bin Yahya, Op cit, jld.5, hlm.120-121, Al-Dainuri, Ibnu Qutaibah, Op cit, jld.1, hlm.202-204.
  99. Al-Dainuri, Op cit, jld.1, hlm.208-209; Al-Kufi, Ibnu A'tsam, Al-Futuh, hlm.339.
  100. Ibid, jld.6, hlm.422; Ya'qubi, jld.2, hlm.228; Ibnu A'tsam Kufi, jld.4, hlm.337-339, 342-343; Thabari, jld.5, hlm.303.
  101. Al-Dzahabi, Sir A'lām Al-Nubalā, jld.3, hlm.291.
  102. Al-Dainuri, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud, Op cit, hlm.224; Kusyi, Muhammad bin Umar; Rijāl Al-Kusyi, hlm. 48.
  103. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.423; Thabari, jld.5, hlm.322; Ibnu A'tsam Kufi, Jld4, hlm.349-350; Shaduq, Imāli, hlm.215-216.
  104. Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld.8, hlm. 235.
  105. Al-Kutbi, Fawāt al-Wafiyāt, jld.2, hlm. 645.
  106. Al-Kāmil, jld.3, hlm.49.
  107. Al-Kāmil, Op cit, jld.3, hlm.49; Thabari, Muhammad bin Jarir; Tārikh al-Umām wa al-Muluk (Tārikh al-Thabari), jld.5, hlm.285, Khalifah bin Khayath; Tārikh Khalifah bin Khayath, hlm.129.
  108. Al-Kāmil, jld.4, hlm.127, Tārikh Madinah Dimsyaq, Op cit, hlm.406.
  109. Tārikh al-Thabari,Op cit, jld.5, hlm.232; Isfahani, Abu Al-Faraj; Al-Aghāni, jld.17, hlm.136; Al-Kāmil, Op cit, jld.3, hlm.38.
  110. Mu'jam al-Baldān, jld.2, hlm.533.
  111. Mu'jam al-Baldān, jld.4, hlm.188.
  112. Tārikh Madinah Dimsyaq, Op cit, hlm.405-406; Al-Aghāni, Op cit, jld.17, hlm.136; Mu'jam al-Baldān, Op cit, jld.4, hlm.188-189; Insyāb al-Isyraaf, Op cit, hlm.288-289.
  113. Tārikh al-Thabari, jld.5, hlm.232.
  114. Tārikh al-Thabari, jld.5, hlm.303; Al-Kāmil, jld.3, hlm.503.
  115. Ali bin al-Husain Mas'udi, Maruj al-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar, hlm.68.
  116. Tārikh al-Ya'qubi, Op cit, hlm.253; Ibnu al-Thaqthaqi; Al-Fakhri Fi al-Adābi al-Sulthāniyah wa al-Daul al-Islamiyah, hlm.116.
  117. Syahidi, Pas Az Panjāh Sāl, hlm.112-113.
  118. Syahidi, Pas Az Panjāh Sāl, hal .113-114.
  119. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm.184.
  120. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm.184.
  121. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm.184.
  122. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm. 184-185.
  123. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm. 185
  124. Syahidi, Pas Az Panjāh Sāl, hlm. 169-170.
  125. Syahidi, Tārikh Tahlili Islam, hlm. 185
  126. Ya'qubi, jld.2, hlm.226, Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.409.
  127. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.414-415.
  128. Nātiq bi al-Haq, hlm. 11.
  129. Thabrani, jld.3, hlm.101.
  130. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.415; Ibnu Abi Syaibah, jld.6, hlm.46; Thabrani, jld.3, hlm.100.
  131. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.413-417; Ibnu Abi Syaibah, jld.6, hlm.3,15.
  132. Baladzari, 1996-2000, jld.2, hlm.366,453; Daulabi, hlm.104; Thabrani, jld.3, hlm.95; Nātiq bi al-Haq, hlm.11; Mufid, jld.2, hlm.27.
  133. Ibnu Hanbal, jld.3, hlm.261, Bukhari, jld.4, hlm.216; Turmudzi, jld.5, hlm.325.
  134. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.413; Baladzari,1996-2000, jld.2, hlm.123.
  135. Kulaini, jld.6, hlm.473-474, Shaduq, Al-Amāli, hlm.193,543.
  136. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.410; Thabrani, jld.3, hlm.115; Ibnu Abdu al-Barr, jld.1, hlm.397.
  137. Ibnu A'tsam Kufi, jld.3, hlm.40.
  138. Ibnu Syahr Asyub, Op cit, jld.3, hlm.401; 'Alamah Majlisi, Op cit, jld.43, hlm.319.
  139. Abu Al-Fadhl Ali bin Hasan Thabarisi, Misykat al-Anwār, hlm.170, Muhadits Nuri; Mustadrak al-Wasāil, jld.8, hlm. 393.
  140. Ibnu Syahr Asyub, jld.6, hlm.73.
  141. Syekh Syaduq, Al-Khushāl, jld.1, hlm.135; Alamah Majlisi; Bihār al-Anwār, jld.43, hlm.333; Syekh Hurri 'Amili, Wasāil al-Syi'ah, jld.9, Hlm.447.
  142. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.413.
  143. Ibnu 'Asakir, jld.14, hlm.185.
  144. Ibnu 'Asakir, jld.70, hlm.196-197; Ibnu Hazm, jld.8, hlm.515; Bahau al-Din Arbili, jld.2, hlm.476.
  145. Arbili, jld.2, hlm.478-479.
  146. Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.72-73.
  147. Qadhi Nu'man, jld.2, hlm.339.
  148. Majlisi, jld.44, hlm.196; Ibnu Abi al-Dunya, hlm. 140; Kulaini, jld.4, hlm.47; Ibnu Babawaih, 1362, jld.1, hlm.135-136.
  149. Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.83.
  150. Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.73-74.
  151. Ibnu Asakir, jld.43, hlm.224-225.
  152. Ibnu Syahr Asyub, jld.4, hlm.73.
  153. Ahmad bin Ali Thabarisi, jld.2, hlm.23.
  154. Ibnu Sa'd, jld.6, hlm.409-410,415.


Daftar Pustaka

  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Āli bin Abi Thalib, jld.3&4, Qom: Alamah, 1379 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abil al-Karam, Al-Kāmil Fi al-Tārikh, Dar Shadir, Beirut, 1965.
  • Ibnu al-Masyhhudi, Muhammad bin Ja'fat, Al-Marāz (Al-Kabir), Riset oleh Jawad Al-Quyumi al-Isfahani, Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1419.
  • Ibnu al-Jauzi, Abdurahman Ibn Ali, Al-Muntazham fi Thārikh al-Umām wa al-Mulk, Riset oleh Muhammad Abdul Qadir Atha Dan Musthafa Abdul Qadir 'Atha, jld.3&5, Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiah, 1992.
  • Ibnu Katsir, Abu al-Fida' Ismail bin Umar, Al-Bidāyah wa al-Nihayah, jld.8, Beirut: Dar al-Fikr, 1969.
  • Ibn Faqih, Ahmad bin Muhammad, Al-Buldān, Riset oleh Yusuf Al-Hadi, Beirut: Ālam al-Kutub, Cetakan Pertama, 1996.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb Al-Asyrāf, jld.5, Riset oleh Muhammad Ihsan Abbas, Beirut: Jami'ah Al-Mutasyariqin Al-Amaniyah, 1979; Ansāb Al-Asyrāf, 1977.
  • Al-Isfahani, Abu Al-Faraj, Maqātil Al-Thālibin, Riset oleh Ahmad Shaqir, Beirut: Dr Al-Ma'rifah, Tanpa tahun.
  • Amin, Sayid Muhsin, Fi Rihāb Aimmah Ahl al-Bait As, jld.4, Penerjemah: Husain Wijdani, Surusy, 1376.
  • Al-Baghdaddi, Shafiy Al-Din Abd Al-Mu'min, Murāshid al-Ithlāq 'Ala Asmā' al-Amkinah wa al-Baqā', jld.1, Riset oleh Muhammad Al-Bajawi, Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1954.
  • Dāirah al-Ma'ārif Tasyayu', oleh Ahmad Shadr Haji Sayid Jawadi, Kamiran Fani dan Bahau Al-Din Khuramshahi, jld.2, Nasyr Sazman Dairatul Ma'arif Tasyayu', Tehran: 1368.
  • Dehkhuda, Ali Akbar, Lughat Nāmeh Dehkhudā, jld.6, Tehran: 1377.
  • Ibnu Sa'd, Thabaqāt Al-Kubrā, Riset oleh Muhammad bin Shamil Al-Silmi, Thaif: Maktabah al-Shidiq, 1993; Thabaqāt Al-Kubrā, jld.1, Riset oleh Muhammad Abdul Qadir 'Atha, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1990.
  • Al-Thusi, Tahdzib al-Ahkām, jld.6, Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1356.
  • Al-Thusi, Mishbāh al-Mutahajjud, Beirut: Muassasah Fiqh Al-Syi'ah, 1411.
  • Al-Thusi, Al-Amāli, Qom: Dar al-Tsqafah, 1414.
  • Kulaini, Al-Kāfi, Tehran: Dar al-Kutub Islamiyah, 1365.
  • Al-Mufid, Al-Muqna'ah, Qom: Kongres Sheikh Mufid, 1413.
  • Al-Mufid, Al-Irsyād, Penerjemah Farsi: Muhammad Sa'idi, Pentashhih: Muhammad Baqir Behbudi, Tanpa tempat: Intisyarat Islamiyah, 1380; Al-Irsyād, jld.2, Penerjemah: Muhammad Baqir Sa'idi Khurasani, Islamiyah, 1351; Al-Irsyād, jld.2, Qom: Kongres Syaikh Mufid, 1413.
  • Al-Mufid, Musar Al-Syia'ah, Qom: Kongres Syaikh Mufid, 1413.
  • Al-Khawarizmi, Al-Muwafaq bin Ahmad, Maqtal Al-Husain As, jld.1, Riset oleh Muhammad Al-Samawi, Qom: Maktabah Al-Mufid, Tanpa tahun.
  • Danesh Nameh Imam Husain As, Muhammadi Rey Syahri dan…, jld.10, Peerjemah: Muhammad Muradi, Qom: Dar Al-Hadits, 1430/1388.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh Umam wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari), jld.2, Riset oleh Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahimi, Beirut: Dar-Alturats, 1967.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Tārikh Tahlili Islam, Tehran: Markaz Nasyr Daneshgahi.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Pas Az Panjāh Sāl Pazuhesyi Tāzeh Pirāmun Qiyām Husain As, Tehran: Daftar Nasyr Farhang Islami, 1380.
  • Al-Mas'udi, Ali bin Al-Husain, Al-Tanbih wa al-Asyraf, Pentashhih: Abdullah Ismail Al-Shawi, Mesir: Dar Al-Shawi, Tanpa tahun; Qom: Dar Al-Tsaqafah, Tanpa tahun.
  • Al-Mas'udi, Ali bin Al-Husain, Muruj al-Dzahāb wa al-Ma'ādin al-Jawāhir, Riset oleh As'ad Daghir, Qom: Dar Al-Hijrah, 1409.
  • Al-Dainuri, Ibnu Qutaibah, Al-Ma'ārif, Riset oleh Tsarwat 'Akosyih, Mesir: Al-Haiah Al-Mshriyah Al-'Ammah Li Al-Kitab, 1992.
  • Al-'Asqalani, Ibnu Hajar, Al-Ashābah fi Tāmi al-Shahābah, jld.2, Riset oleh 'Adil Ahmad Abdul Maujud dan 'Ali Muhammad Mu'awidl, Beirut: Dar Al-Kitab Al-'Imiyah, 1995.
  • Ja'fariyan, Rasul, Guzideh Hayat Siyasi wa Fikri Imamān Syi'ah, 1391.
  • Sayid bin Thawus, 'Iqbal Al-A'mal, Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1367.
  • Sayid bin Thawus, Al-Malhuf 'Ala Qathl al-Thufuf, hasil kompilasi Abd al-Zahra 'Utsman Muhammad, Qom: Al-Ma'ad, 1988.
  • Sayid bin Thawus, Al-Tharāif, jld.1, Qom: Khayam, 1400.
  • Al-'Amili, Muhammad bin Makki (Syahid Awal), Al-Durus al-Syar'iyyah fi Fiqh al-Imāmiyah, jld.2, Qom: Jamiah Al-Mudarisin,1417.
  • Al-Thabrani, Al-Mu'jam al-Kabir, jld.3, Riset oleh Hamdi Abdul Majid Al-Salafi, Tanpa tempat, Dar Ihya al-Turats al-'Arabi, Tanpa tahun.
  • Al-Sam'ani, Al-Anshab, jld.8, Riset oleh Abdul Rahman bin Yahya Al-Ma'lami Al-Yamani, Haidar Abad: Majlis Dairat Al-Ma'arif Al-'Utsmaniyah, 1962.
  • Ibnu Al-Shubagh, Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma'rifah al-Aimmah, jld.2, Riset oleh Sami' Al-Ghariri, Dar al-Hadits, 1422.
  • Al-Bahrani, Yusuf bin Ahmad, Al-Hadāiq al-Nadhirah fi Ahkām al-'Itrah al-Thahirah, jld.17, Riset oleh Irwani Dan Abd Al-Razaq Muqaram, Qom: Jamiah Mudaris, 1405.
  • Al-Bahrani, Abdullah, Al-'Awālim al-Imām al-Husain As, Riset oleh Madrasah al-Imam al-Mahdi Af, Qom: Madrasah al-Imam al-Mahdi, 1407.
  • Al-Thbari, Ahmad binn Abdulllah, Dzakhāir al-'Uqbā, Mesir: Maktabah al-Qudsi, 1356 H.
  • Al-Thabari (Syi'i), Muhammad bin Jarir, Dalāil al-Aimmah, Qom: Dar al-Dzakhair• *Al-Hilli, Ibn Numa, Matsir al-Ahzan, Qom: Madrasah Imam Mahdi Af, 1406.
  • Ibnu 'Asakir, Tārikh Madinah Dimasyq, jld.14, Beirut: Dar al-Fikr, 1415.
  • Al-Muzi, Tahdib al-Kamāl, Riset oleh Bisyar 'Awad Maruf, jld.6, Beirut-Libanon: Massasah al-Risalah, 1985.
  • Ibn al-Thuqthaqa, Al-Fakhrā fi al-Adāb al-Sulthaniyah wa al-Daul al-Islmiyah, Riset oleh Abdul Qadir Muhammad Mayu, Beirut: Dar Al-Qalam al-'Arabi, 1997.
  • Al-Thabarsi, I'lām al-Warā bi A'lām al-Hudā, jld.1, Tehran: Islamiyah, 1390 H.
  • Al-Thabarsi, Abu al-Fadhl Ali bin Hasan, Misykāt al-Anwāar, Najaf: Kitabkhaneh Haidariyah, 1385 H.
  • Al-Thabarsi, Ahmad bin Ali, Al-Ihtijaj, Masyhad: Nasyr Murtadha, 1403 .
  • Ibnu Al-Khasyab Al-Baghdadi, Tarikh Mawalid al-Aimmah (al-Majmu'ah), Qom: Kitb Khaneh Ayatollah Mar'asyi Najafi.
  • Al-'Amili, Ibnu Hatim, Dar al-Nazhim, Qom: Jamiah Mudarisin, Tanpa tahun.
  • Al-Irbili, Ali bin 'Isya, Kasyf al-Ghummah, jld.1, Tabriz: Maktabah Bani Hasyimi, 1382 H.
  • Al-Irbili, Ali bin 'Isya, Kasyf al-Ghummah, jld.2, Penterjemah: Husein Ziwarai, Haqiqat, 1382 H.
  • Rabbani Khawarizmi, Ali, Cehreh Derakhshān Imām Husain As, Qom: Maktabah al-Husain, 1379.
  • Al-Shaduq, Kamāl al-Din wa Tamam al-Ni'mah, Pentashih: Ali Akbar Ghafari, Qoom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, Muharam 1405/1363.
  • Al-Shaduq, Al-Tauhid, Riset oleh Al-Sayid Hasyimi al-Husaini al-Thahrani, Qom: Muassasah al-Nasyr al-Islami, Tanpa tahun.
  • Al-Shaduq, Al-Khishāl, jld.1, Qom: Jamiah Mudarisin, 1403.
  • Al-Shaduq, Al-Amāli, Qom: Riset oleh Qishm Al-Dirasah al-Islamiyah—Muassasah al-Bi'tsah—1417.
  • Al-Shaduq, Ilal al-Syarāi, jld.1, Al-Najaf al-Asyraf: Al-Maktabah al-Haidariyah wa Mathbuatiha, 1385/1966.
  • Fithal Naisyaburi, Muhammad bin Hasan, Rukhshah al-Wā'idhin, jld.1, Qom: Radhi, Tanpa tahun.
  • Qummi, Abbas, Muntaha al-Amāl, jld.2, Riset oleh Nashir Baqir Bid Hindi, Qom: Dalil, 1379.
  • Malik Bianas, Al-Muwatha, jld.2, Riset oleh Muhammad Fuad Abdulbaqi, Beirut: Dar Ihya Tursts Al-'Arabi, 1985.
  • Muqadasi, Yadullah, Baz Pazuhi Tārikh Welādat va Shahādat Ma'shumān As, Qom: Pazuheshgah Ulum va Farhang Islami, 1392.
  • Mausu'ah Kalimāt al-Rasul al-A'zhām, jld.6, Kitab al-Husain As dan Kitab Ahl al-Bait As, Penulis: Lajnah al-Hadits fi Markazi al-Abhats Baqir al-'Ulum As, Tehran: Nasyr Amir Kabir, 1388.
  • Qummi, Ali bin Muhammad, Kifāyah al-Atsar, Qom:Bidar, 1401.
  • Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.36 & 45, Beirut: Muassasah Al-Wafa, 1404.
  • Khargusyi Naisyaburi, Abu Sa'id, Syarāf al-Mushthafa, jld.5, Mekah: Dar al-Basyair al-Islami, 1424.
  • Hakim Naisyaburi, Al-Mustadrak, jld.3, Riset oleh Yusuf Abdul Rahman Al-Mar'asyi, Tanpa tahun.
  • Al-Tirmidzi, Sunan, jld.5, Riset oleh Abdul Rahman Muhammad Utsman, Beirut: Dar al-Fikr, 1983.
  • Ibnu Hiban, Shahih, jld.13, Riset oleh Syuaib Arnauth, Tanpa tempat: Al-Risalah, 1993
  • Al-Dainuri, Ibnu Qutaibah, Al-Imāmah Wa Al-Siyāsah, jld.1, Riset oleh Ali Syiri, Beirut: Dar al-Adhwa, 1990.
  • Al-Namiri, Umar bin Syabah, Tārikh al-Madinah al-Munawara, jld.3, Qom: Dar al-Fikr, 1368.
  • Al-Dzahabi, Tārikh al-Islam wa Fityāt al-Masyahir wa al-A'lām, jld.5, Riset oleh Umar Abdussalam Tudmuri, Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1993.
  • Al-Mutaqi al-Hindi, 'Alau al-Din 'Ali, Kanz al-'Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Af'āl, jld.13, Tashhih Shafwah al-Saqa, Beirut: Al-Risalah, 1989.
  • Khatib Baghdadi, Tarikh Baghdadi, jld.1, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 1412.
  • Al-Dainuri, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud, Al-Akhbār al-Thawāl, Riset oleh Abdul Mun'im 'Amir, Qom: Masyurat Radhi, 1368.
  • Al-Dainuri, Ibnu Qutaibah, Al-Imamāh wa al-Siyāsah, jld.1, Riset oleh Ali Syiri, Beirut: Dar al-Adhwa, Cetakan Pertama, 1990.
  • Ibnu 'Asakir, Tārikh Madinah Dimasyq, jld.54, Beirut: Dar al-Fikr, 1415.
  • Al-Harani, Hasan bin Syu'bah, Tahaf al-'Uqul, Qom: Jamiah Mudarisin, 1404.
  • Al-Kufi, Ibnu A'tsm, Al-Futuh, Riset Ali Syiri, Beirut: Dar al-Adhwa, Cetakan Pertama, 1991.
  • Al-Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub, Tārikh al-Ya'qubi, jld.2, Beirut: Dar Shadr, Tanpa tahun.
  • Al-Dzahabi, Sir A'lām al-Nubalā, jld.3, ditakhrij oleh Syu'aib Arnauth da Riset oleh Hussain Asad, Beirut: Al-Risalah, Cetakan Kesembilan, 1993.
  • Kusyi, Muhammad bin Umar, Rijal al-Kusyi, Masyhad: Daneshgah Masyhad, 1348
  • Tamimi Maghribi, Nu'man bin Muhammad, Da'āim Al-Islām, jld.2, Mesir: Dar al-Ma'arif, 1385 H.
  • Al-Kutbi, Fawāt al-Wafiyāt, jld.2, Riset Ali Muhammad bin Ya'udhullah dan 'Adil Ahmad Abdul Maujud, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 2000.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umām wa al-Muluk (Tārikh al-Thabari), Jld.5, Riset oleh Abu al-Fadhl Ibrahim, Beirut: Dar al-Turats, 1967.
  • Khlmifah bin Khayath, Tārikh Khalifah bin Khayath, Riset oleh Fawaz, Beirut: Dar- Kutub al-'Ilmiyah, Cetakan Pertama, 1995.
  • Al-Isfahani, Abu al-Faraj, Al-Aghāni, jld.17, Beirut: Dar Ihya Turats 'Arabi, Cetakan Pertama, 1415.
  • Al-Khawarizmi, Al-Muwafaq bin Ahmad, Maqtal al-Husain As, jld.1, Riset oleh Muhammad Al-Samawi, Qom: Maktabah al-Mufid, Tanpa tahun.
  • Maskaih, Abu Ali, Tijārat al-Umām, Jld.2, Riset oleh Abu Al-Qasim Imami, Tehran: Surusy, 1379.
  • Al-Samawi, Muhammad, Abshār al-'Ain fi Anshār al-Husain As, Riset oleh Muhammad Ja'far Al-Thabasi, Markaz Al-Dirasat al-Islamiyah li Mumatsali al-Wali al-Fiqhiyah fi Haras al-Tsaurah al-Islamiyah.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad, Kitāb al-'Ain, jld.1, Qom: Hirjat, 1409
  • Al-Musawi al-Muqaram, Abd Al-Razaq, Maqtal Husain As, Beirut: Dar al-Kitab al-Islamiyah.
  • Muhadits Nuri, Mustadrak al-Wasāil, jld.7, Qom: Āli al-Bait As, 1407.

Pranala Luar