Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa infobox
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Abdullah bin Abdul Muththalib

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Abdullah bin Abdul Muththalib (Bahasa Arab: عبداللّه بن عبدالمطّلب), ayah Nabi Muhammad Saw. Ia berprofesi sebagai pedagang di kota Mekah. Peristiwa terpenting dalam hidupnya adalah nadzar Abdul Muththalib ayahnya yang telah berjanji untuk menjadikannya kurban. [1]

Abdullah wafat sebelum melihat kelahiran putranya, namun sebagian pendapat lain menyebutkan, ia meninggal dunia tidak berapa lama setelah Muhammad lahir. Sebagian Ahlusunnah menyebutkan Abdullah termasuk Kafir, namun bagi umat Islam Syiah menyakini, bahwa dia seorang yang mukmin yang bertauhid.

Nasab dan Kuniyah

Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Abdullah adalah putera bungsu Abdul Muththalib. Abdullah, Abu Thalib, Zubair dan lima orang anak perempuan Abdul Muththalib berasal dari ibu yang sama. Ibu mereka bernama Fatimah binti Amru bin ‘Aid al-Makhsumi, salah seoang dari lima Fatimah yang menjadi nasab Rasulullah Saw. [2] Kuniyahnya adalah Abu Qasym, Abu Muhammad dan Abu Ahmad. Sementara laqab atau gelarannya adalah Dzubaih.

Silsilah keluarga Nabi saw
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Qushay
wafat: 400 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Uzza
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdu Manaf
wafat: 430 M
 
 
 
 
 
 
 
Abd al-Dar
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Asad
 
 
 
Muththalib
 
 
Hasyim
wafat: 464 M
 
 
 
Nawfal
 
'Abd Shams
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Khuwaylid
 
 
 
 
 
 
 
 
Abdul Muththalib
wafat: 497 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Al-'Awwam
 
Khadijah Sa
 
Hamzah
 
 
Abdullah
lahir: 545 M
 
 
 
Abu Thalib
 
Abbas
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Zubair
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nabi Muhammad Saw
lahir: 571 M
 
Ali as
llahir: 599 M
 
'Aqil
 
Ja'far
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Fatimah binti Muhammad sa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Muslim
 
Abdullah
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hasan as
lahir: 625 M
 
 
 
 
 
 
Husain as
lahir: 626 M
 
 
Zainab sa
lahir: 627 M
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Kisah Penyembelihan

Disebutkan ketika Abdul Muththalib sedang berupaya menggali kembali sumur Zam-zam, saat itu ia hanya memiliki satu anak laki-laki. Saat itu sejumlah pembesar Qurays berkomplot untuk menjatuhkannya dari puncak kepemimpinan di Mekah, dan karena ia tidak memiliki pembela dari anak sendiri lebih dari satu, maka ia bernadzar kepada Allah Swt jika, ia memiliki 10 orang putera, maka salah seorang dari puteranya itu akan dijadikannya persembahan melalui proses penyembelihan di sisi Ka’bah. Sewaktu jumlah anak laki-lakinya mencapai 10 orang, maka ia pun berniat untuk menjalankan nadzarnya. Sesuai nadzarnya, makapun mengundi nama kesepuluh puternya. Hasil undiannya menunjukkan bahwa putera yang harus dikurbankannya adalah Abdullah. Niat tersebut mendapat penentangan dari warga Mekah. Oleh karena itu, sebagai pengganti Abdullah, maka Abdul Muththalib berniat menyembelih 10 ekor unta di sisi Ka’bah. Ia kembali mengundi nama, antara 10 ekor unta atau Abdullah yang akan disembelih. Undian pertama dilakukan, nama yang keluar adalah Abdullah. Karena itu diundi lagi, antara 20 ekor unta atau Abdullah yang akan disembelih, dan yang kembali nama yang keluar adalah Abdullah. Begitu seterusnya sampai diundi antara 100 ekor unta dan Abdullah. Saat itulah, bukan nama Abdullah lagi yang keluar, melainkan 100 ekor unta tersebut. Akhirnya 100 ekor untapun disembelih menggantikan posisi Abdullah, sebagaimana yang diucapkan dalam nadzar. [3]

Rasulullah Saw berkenaan dengan kisah tersebut berkata, “‌أنا ابنُ الذَبیحَین” yang artinya, “Saya adalah putera dari dua orang yang dikurbankan.” Imam Ridha As berkata mengenai sabda Rasulullah Saw tersebut, “Yang dimaksud dua orang yang dikurbankan, adalah Ismail dan Abdullah.” [4]


Ali Dawani berkeyakinan bahwa kisah mengenai nadzar Abdul Muththalib tersebut adalah kisah buatan orang-orang sewaan Bani Umayyah dengan maksud untuk menunjukkan bahwa kakek Rasulullah Saw tersebut termasuk orang-orang musyrik. [5]

Pernikahan dengan Aminah

Sebagian dari periwayatan menyebutkan, bersamaan dengan hari disembelihnya 100 ekor unta untuk menggantikan posisi Abdullah, Abdul Muththalib membawa satu ekor unta yang telah disembelihnya ke rumah Wahab bin Abdu Manaf, ketua kabilah Bani Zuhrah dan melamar putrinya Aminah binti Wahab yang saat itu dipandang sebagai semulia-mulianya perempuan Qurays dari sisi nasab dan kedudukan untuk dinikahkan dengan Abdullah. [6]Namun sebagian pendapat menyebutkan, pernikahan Abdullah dan Aminah berlangsung satu tahun setelah peristiwa penyembelihan 100 ekor unta yang menggantikan posisi Abdullah. [7]

Iman Abdullah

Mengenai keimanan Abdullah, kaum Muslimin berbeda pendapat. Sebagian kecil dari kelompok Ahlusunnah meyakini ia seorang musyrik dan meninggal dalam keadaan kufur. Namun mayoritas ulama Syiah (sebagian menyatakan semua ulama Syiah) berkeyakinan nasab Nabi Muhammad Saw dari orangtuanya sampai Nabi Adam As adalah orang-orang yang bertauhid dan seorang mukmin. [8]

Imam Ja’far Shadiq As bersabda, “Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad Saw dan berkata, Wahai Muhammad! Allah Swt menyampaikan salam untukmu dan berfirman, ‘Aku mengharamkan api neraka atas tulang sulbi yang menghasilkanmu, rahim yang mengandungmu dan pangkuan yang mengasuhmu. Tulang sulbi itu adalah tulang sulbi Abdullah bin Abdul Muththalib, rahim yang mengandungmu adalah rahim Aminah binti Wahab dan pangkuan yang mengasuhmu adalah pangkuan Abu Thalib –menurut riwayat Ibnu Fadhal- dan Fatimah binti Asad.”. [9]


Hari Wafatnya

Abdullah, ayah Rasulullah Saw meninggal dunia pada tahun 25 usianya, di kota Yastrib di perkampungan paman ayahnya dari suku Bani al-Najjar disebuh rumah yang dikenal dengan sebutan Dar al-Nabghah dan ditempat itu pula ia dimakamkan. [10]

Menurut pendapat yang paling kuat, Abdullah wafat sebelum kelahiran puteranya, Muhammad. Namun Ya’qubi berpendapat lain bahwa Muhammad lahir sebelum Abdullah, ayahnya wafat. Syaikh Ya’qubi berpegang pada riwayat dari Imam Shadiq As yang menyebutkan Nabi Muhammad Saw lahir dua bulan sebelum wafatnya Abdullah. Syaikh Kulaini juga meyakini pendapat tersebut. [11]

Sebagian kecil lainnya berpendapat bahwa wafatnya Abdullah satu tahun setelah kelahiran Rasulullah Saw. Ada yang menyebut 28 bulan dan ada pula yang meyakini 7 bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad Saw. [12] Sementara Mas’udi meriwayatkan dua pendapat, yaitu satu bulan dan dua tahun pasca kelahiran Nabi Muhammad Saw. [13]

Penyebab meninggalnya Abdullah di kota Madinah disebutkan: Abdullah untuk perjalanan dagang membawa kafilah dagang Qurays ke Syam. Dan dalam perjalanan kembali karena diserang sakit ia beristirahat di kota Yastrib dan terbaring sakit selama satu bulan di kota tersebut. Rombongan dagang tetap melanjutkan perjalanan ke kota Mekah, dan mengabarkan mengenai kondisi Abdullah yang kritis. Mendengar berita tersebut, Abdul Muththalib mengutus puteranya yang paling tua, yaitu Harits untuk melihat kondisi Abdullah. Namun setibanya Harits di Yastrib, Abdullah telah meninggal dunia.

Abdullah mewariskan seorang budak yang bernama Ummu Aiman, 5 ekor unta, kawanan kambing, pedang tua dan sejumlah uang untuk puteranya, Nabi Muhammad Saw. [14] Makam Abdullah ada di kota Madinah, dan dalam keyakinan Syiah menziarahinya mustahab hukumnya. [15]

Catatan Kaki

  1. Ali Dawani dalam kitab Tarikh Islam az Aghaz ta Hijrat halaman 54, menyebutkan bahwa kisah ini adalah buatan dan rekayasa dari Bani Umayyah.
  2. Terjemahan Kitab Tarikh Ya’qubi, jld. 1, hlm. 520 dan Ibnu Katsir, al-Kāmil, jld. 2, hlm. 33.
  3. Ibnu Hisyam, al-Sirah, hlm. 103.
  4. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 12, hlm. 122.
  5. Dawani, Tarikh Islam az Aghas ta Hijrat, hlm. 54.
  6. Ibnu Hisyam, al-Sirah, jld. 1, hlm. 156.
  7. Aiti, Tārikh Payāmbar Islam, hlm. 42.
  8. Amili, al-Shahih min Sirati al-Nabi al-‘Adzham, jld. 2.
  9. Kulaini, al-Kāfi, jld. 1, hlm. 446.
  10. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 2, hlm. 10.
  11. Kulaini, Ushul al-Kāfi, jld. 1, hlm. 439.
  12. Ibnu Atsir, Asad al-Ghābah, jld. 1, hlm. 13; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 15, hlm. 125.
  13. Mas’udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, hlm. 196.
  14. Majlisi, Bihār, jld. 15, hlm. 125, Ibnu Atsir, Asad al-Ghābah, jld. 1, hlm. 14.
  15. Kasyif al-Ghithah, Qalāid al-Darar fi Manāsik min Haj wa ‘Itamar, hlm. 101 dan 114.

Daftar Pustaka

  • Aiti, Muhammad Ibrahim, Tārikh Payāmbar Islam Saw, riset: Abu al-Qasim Gharci, Tehran, Daneshgah Tehran, 1378 S.
  • Ibnu Atsir, Asad al-Ghābah fi Ma’rifah al-Shahābah, Beirut, Dar al-Fikr.
  • Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, Dar Shadr-Dar Beirut, 1385 H/1965.
  • Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, terj. Sayid Hasyim Rasuli, Tehran, Intisyarat Kitabchi, cet. 5, 1375 S.
  • Dawani, Ali, Tārikh Islam az Aghāz ta Hijrat, Qom, Daftar Intisyarat Islami, cet. 8, 1373 S.
  • Al-‘Amili, Sayid Ja’far Murtadha, al-Shahih min Sirayi al-Nabi al-‘Adzham, cet. 5, Beirut, al-Markaz al-Islami lil Dirasat, 1428 H/2006.
  • Kasyif al-Ghithah, Ahmad, Qalāid al-Darar fi Manāsik min Haj wa I’tamar, Najaf: Muassasah Kasyif al-Ghithah.
  • Mas’udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, riset: Abdullah Ismail al-Shawi, Kairo, Dar al-Shawi, tanpa tahun.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār.
  • Ya’qubi, Ahmad bin Ishak, Tārikh Ya’qubi, Muhammad Ibrahim Aiti, Tehran, Syarikat Intisyarat ‘Ilmi Farhanggi, 1371 S.