Prioritas: aa, Kualitas: b

Hadis al-Lauh

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Hadis al-Lauh (bahasa Arab: حَدیث اللَّوح) adalah hadis yang dinukil dari Nabi Muhammad saw yang menguatkan dalil keimamahan 12 Imam Syiah.

Dengan memperhatikan kuatnya sanad dan banyaknya jalur periwayatan yang ditulis dalam beberapa sumber yang berbeda, menjadikan hadis ini memiliki kedudukan yang istimewa, khususnya dalam menguatkan dalil keimamahan dan kekhalifahan para Imam Syiah. Kekhususan dari hadis ini adalah seluruh pengganti Rasulullah saw disebutkan dalam hadis ini, mulai dari Imam Ali as sampai Imam Keduabelas yaitu Imam Mahdi as.

Perawi yang paling terkenal dari hadis ini adalah sahabat dekat Nabi Muhammad saw yaitu Jabir bin Abdullah al-Anshari. Hadis ini dikenal dengan nama hadis lauh karena ditulis di atas lempengan yang diberikan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw sebagai hadiah atas kelahiran Imam Husain as dan untuk menyenangkan putrinya, Nabi Muhammad saw menyerahkan lempengan tersebut kepada Sayidah Zahra sa. Hadis Lauh dinukil dalam periwayatan dan dengan kalimat yang berbeda-beda, baik secara rinci maupun singkat.

Matan Masyhur Hadis Lauh

Hadis Lauh yang masyhur adalah melalui jalur periwayatan Jabir bin Abdullah al-Anshari, yaitu: Imam Shadiq as meriwayatkan, "Suatu hari, ayahku meminta kepada Jabir bin Abdullah al-Anshari untuk menceritakan kronologi penyaksiannya terhadap lauh yang ada di tangan Sayidah Fatimah sa dan meminta untuk diungkapkan apa yang tertulis pada lauh tersebut. Jabir berkata, "Satu hari di masa kehidupan Rasulullah saw, aku menemui ibumu, Sayidah Fatimah az-Zahra sa dan aku ucapkan selamat kepadanya atas kelahiran putranya yaitu Imam Husain as. Saat itu aku melihat di tangannya ada sebuah lauh berwarna hijau dan awalnya aku mengira bahwa itu adalah zamrud. Pada lauh tersebut, aku melihat tulisan putih yang berkilau yang kilauannya bagaikan sinar mentari. Aku berkata kepadanya, "Demi ayah dan ibumu. Lauh ini apa?". Fatimah sa berkata, "Lauh ini dihadiahkan oleh Allah swt kepada Rasulullah al-Mustafa saw. Dalam lauh ini tertulis nama ayah, suami dan anak keturunanku serta para wakil dan para Imam yang berasal dari keturunanku. Kemudiaan Rasulullah saw menyerahkan hadiah tersebut padaku, yang ketika aku melihatnya membuat hatiku bahagia." Setelah itu, ibumu memperlihatkan lauh itu kepadaku, lalu saya membaca keseluruhan tulisan yang terdapat pada lauh tersebut dan saya menyalinnya."

Lalu Jabir memperlihatkan tulisannya yang ditulis di atas kulit yang tipis itu kepada ayahku. Ayahku berkata kepada Jabir, "Jabir, sekarang kertas yang ada padamu itu lihatlah dan aku bacakan untukmu dari hafalanku." Jabir pun melihat catatan di tangannya sampai ayahku menyebutkan kesemua isi dari catatan tersebut dari hafalannya. Demi Allah, tidak satupun huruf dari apa yang dikatakan Imam bertentangan dengan apa yang ada pada catatan di tangan Jabir. Sampai bacaan Imam selesai, Jabir berkata, "Demi Allah aku bersaksi bahwa apa yang kulihat dari catatan Fatimah sa dan dari apa yang engkau katakan dari hafalan adalah sama."

Teks dan matan hadis lauh yang dinukil adalah sebagai berikut:

Matan dan terjemahan

Terjemahan Teks
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Ini adalah kitab (tulisan) dari Allah yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana kepada Muhammad, nabi, cahaya, utusan, hijab, dalil dan ayat-Nya [di atas muka bumi], diturunkan kepada Jibril al-Amin dari Allah Rabul Alamin. هَذَا کتَابٌ مِنَ اللَّهِ الْعَزِیزِ الْحَکیمِ*- لِمُحَمَّدٍ نَبِیهِ وَ نُورِهِ وَ سَفِیرِهِ وَ حِجَابِهِ وَ دَلِیلِهِ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِینُ مِنْ عِنْدِ رَبِّ الْعَالَمِینَ
Wahai Muhammad! Agungkanlah nama-nama-Ku, syukurilah nikmat-nikmat-Ku, janganlah sekali-kali mengingkari tanda-tanda-Ku. Aku adalah Tuhan dan sesembahan semesta, tidak ada Tuhan selain Aku; pembinasa para tiran dan pemberi pemerintahan kepada yang tertindas dan penghisab pada hari pembalasan. عَظِّمْ یا مُحَمَّدُ أَسْمَائِی وَ اشْکرْ نَعْمَائِی وَ لَا تَجْحَدْ آلَائِی إِنِّی أَنَا اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا أَنَا قَاصِمُ الْجَبَّارِینَ وَ مُدِیلُ الْمَظْلُومِینَ وَ دَیانُ الدِّینِ
Aku adalah Allah dan sesembahan kalian, yang tidak ada Tuhan selain Aku. Barang siapa yang mengharapkan karunia dari seseorang selain dari-Ku atau takut akan apa pun selain keadilan-Ku, Aku akan memberikan siksaan yang pedih kepadanya, yang tidak pernah dirasakan oleh siapa pun di dunia. Maka, hanya sembahlah Aku semata dan bertawakallah kepada-Ku. إِنِّی أَنَا اللَّهُ لا إِلهَ إِلَّا أَنَا فَمَنْ رَجَا غَیرَ فَضْلِی أَوْ خَافَ غَیرَ عَدْلِی عَذَّبْتُهُ عَذاباً لا أُعَذِّبُهُ أَحَداً مِنَ الْعالَمِینَ فَإِیای فَاعْبُدْ وَ عَلَيّ فَتَوَکلْ
Aku tidak mengutus seorang rasul dan tidak menyempurnakan risalahnya, tidak merampungkan masa dakwah dan risalahnya, kecuali Aku jadikan untuknya seorang washi dan pengganti. إِنِّی لَمْ أَبْعَثْ نَبِیاً فَأُکمِلَتْ أَیامُهُ وَ انْقَضَتْ مُدَّتُهُ إِلَّا جَعَلْتُ لَهُ وَصِیاً
Wahai Muhammad! Aku mengutamakanmu atas para nabi; Aku juga mengutamakan washimu atas semua para washi. Lalu aku memuliakanmu dengan dua putra: al-Hasan dan al-Husain. وَ إِنِّی فَضَّلْتُک عَلَی الْأَنْبِیاءِ وَ فَضَّلْتُ وَصِیک عَلَی الْأَوْصِیاءِ وَ أَکرَمْتُک بِشِبْلَیک وَ سِبْطَیک حَسَنٍ وَ حُسَینٍ
Setelah usai masa [hidup dan imamah] ayahnya [Ali as], Aku menjadikan al-Hasan sebagai tambang ilmu-Ku dan al-Husain sebagai penjaga wahyu-Ku; Aku anugerahkan nikmat syahadah kepada al-Husain dan memuliakannya dengan hal ini dan Aku sempurnakan kebahagiaan untuknya. فَجَعَلْتُ حَسَناً مَعْدِنَ عِلْمِی-بَعْدَ انْقِضَاءِ مُدَّةِ أَبِیهِ وَ جَعَلْتُ حُسَیناً خَازِنَ وَحْیی وَ أَکرَمْتُهُ بِالشَّهَادَةِ وَ خَتَمْتُ لَهُ بِالسَّعَادَةِ
Al-Husain adalah paling utamanya seorang yang syahid dan memiliki derajat dan makam tertinggi di tengah-tengah para syuhada. Aku jadikan Imamah dan tauhid yang sempurna bersamanya, Aku letakkan hujjah agungku-Ku pada dirinya, Aku berikan pahala dan siksaan berdasarkan Ahlulbait dan itrahnya. فَهُوَ أَفْضَلُ مَنِ اسْتُشْهِدَ وَ أَرْفَعُ الشُّهَدَاءِ دَرَجَةً جَعَلْتُ کلِمَتِی التَّامَّةَ مَعَهُ وَ حُجَّتِی الْبَالِغَةَ عِنْدَهُ بِعِتْرَتِهِ أُثِیبُ وَ أُعَاقِبُ
Anak pertama dan itrahnya adalah, Ali [bin al-Husain] adalah pemimpin ahli ibadah dan penghias para wali-Ku. Setelah dia, putranya yang mirip dengan datuknya, namanya sama dengan nama datuknya, Muhammad, al-Baqir [pembelah] ilmu Ilahi dan tambang hikmah-Nya. أَوَّلُهُمْ عَلِی سَیدُ الْعَابِدِینَ وَ زَینُ أَوْلِیائِی الْمَاضِینَ وَ ابْنُهُ شِبْهُ جَدِّهِ الْمَحْمُودِ مُحَمَّدٌ الْبَاقِرُ عِلْمِی وَ الْمَعْدِنُ لِحِکمَتِی
Orang-orang yang meragukan (kebenaran) Ja’far bin Muhammad akan segera binasa; barang siapa yang menolaknya seolah-olah dia telah menolak-Ku. Perkataan benar dari-Ku: Aku bersumpah bahwa Aku memuliakan kedudukan Ja'far bin Muhammad [dan setiap orang yang mempercayainya], Aku tempatkan kecintaan terhadapnya di hati teman-teman, Syiah, pengikut, dan para sahabatnya. سَیهْلِک الْمُرْتَابُونَ فِی جَعْفَرٍ الرَّادُّ عَلَیهِ کالرَّادِّ عَلَی حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّی لَأُکرِمَنَّ مَثْوَی جَعْفَرٍ وَ لَأَسُرَّنَّهُ فِی أَشْیاعِهِ وَ أَنْصَارِهِ وَ أَوْلِیائِهِ
Kemudian Aku akan singkirkan fitnah dari sisi Imam Musa, karena jalan perintah dan ketaatan Ilahi tidak akan pernah terputus dan hujjah serta dalil-Ku tidak akan tersembunyi dari pandangan orang-orang dan para wali-Ku tidak akan pernah celaka. أُتِیحَتْ بَعْدَهُ مُوسَی فِتْنَةٌ عَمْیاءُ حِنْدِسٌ- لِأَنَّ خَیطَ فَرْضِی لَا ینْقَطِعُ وَ حُجَّتِی لَا تَخْفَی وَ أَنَّ أَوْلِیائِی یسْقَوْنَ بِالْکأْسِ الْأَوْفَی
Barang siapa yang mengingkari hujjah-Ku, ia telah mengingkari nikmat-Ku yang telah Aku berikan dan barang siapa yang mengubah satu ayat dari Kitab-Ku, ia telah membuat kedustaan atas-Ku. مَنْ جَحَدَ وَاحِداً مِنْهُمْ فَقَدْ جَحَدَ نِعْمَتِی وَ مَنْ غَیرَ آیةً مِنْ کتَابِی فَقَدِ افْتَرَی عَلَيّ
Celakalah bagi mereka para pendusta para pengingkar, ketika masa keimamahan hamba, teman dan pilihan-Ku, Musa [bin Ja'far as], berakhir. Ketahuilah! Barang siapa yang mendustakan hujjah kedelapan-Ku, seolah-olah ia telah mengingkari semua para wali-Ku. وَیلٌ لِلْمُفْتَرِینَ الْجَاحِدِینَ عِنْدَ انْقِضَاءِ مُدَّةِ مُوسَی عَبْدِی وَ حَبِیبِی وَ خِیرَتِی فِی
Ali [bin Musa] adalah teman dan penolong-Ku (dan pemimpin kalian) dan Aku meletakkan dalam dirinya kadar ilmu, kemaksuman dan sifat kenabian pada dirinya, Aku menguji kemampuannya dalam melindunginya, Ifrit tiran nan congkak akan membunuhnya; dan dimakamkan di sebuah kota yang dibangun oleh seorang hamba saleh (Dzul Qarnain) di sisi hamba terburuk-Ku (Harun al-Rasyid). عَلِی وَلِیی وَ نَاصِرِی وَ مَنْ أَضَعُ عَلَیهِ أَعْبَاءَ النُّبُوَّةِ وَ أَمْتَحِنُهُ بِالاضْطِلَاعِ بِهَا یقْتُلُهُ عِفْرِیتٌ مُسْتَکبِرٌ یدْفَنُ فِی الْمَدِینَةِ الَّتِی بَنَاهَا الْعَبْدُ الصَّالِحُ- إِلَی جَنْبِ شَرِّ خَلْقِی
Aku gembirakan Imam kedelapan dengan kelahiran putranya, Muhammad dan khalifah serta pengganti setelahnya. Muhammad [bin Ali bin Musa al-Ridha as] adalah pewaris ilmu dan pengetahuan, tambang hikmah dan tempat rahasia dan hujjah-Ku atas hamba-hamba-Ku. حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّی لَأَسُرَّنَّهُ بِمُحَمَّدٍ ابْنِهِ وَ خَلِیفَتِهِ مِنْ بَعْدِهِ وَ وَارِثِ عِلْمِهِ فَهُوَ مَعْدِنُ عِلْمِی وَ مَوْضِعُ سِرِّی وَ حُجَّتِی عَلَی خَلْقِی
Barang siapa yang mengimaninya maka surga adalah kedudukannya, dan Aku akan menjadikannya pemberi syafaat tujuh puluh orang dari keluarganya, yang mana Jahannam telah diwajibkan atas mereka. لَا یؤْمِنُ عَبْدٌ بِهِ إِلَّا جَعَلْتُ الْجَنَّةَ مَثْوَاهُ وَ شَفَّعْتُهُ فِی سَبْعِینَ مِنْ أَهْلِ بَیتِهِ کلُّهُمْ قَدِ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ
[Setelah dia] Aku sempurnakan kebahagiaan putranya, Ali [bin Muhammad bin Ali bin Musa al-Ridha as)] teman dan penolong-Ku; Dia akan menjadi tempat kepercayaan wahyu-Ku, وَ أَخْتِمُ بِالسَّعَادَةِ لِابْنِهِ عَلِی وَلِیی وَ نَاصِرِی وَ الشَّاهِدِ فِی خَلْقِی وَ أَمِینِی عَلَی وَحْیی
Aku keluarkan al-Hasan [bin Ali bin Muhammad] dari sulbinya (tulang punggungnya), yang menyeru orang-orang ke jalan Tuhan dan penjaga ilmu Ilahi. Kemudian [setelah dia] Aku sempurnakan hujjah-Ku dengan kedatangan putranya, Muhammad, yang merupakan rahmat bagi alam semesta. أُخْرِجُ مِنْهُ الدَّاعِی إِلَی سَبِیلِی وَ الْخَازِنَ لِعِلْمِی الْحَسَنَ وَ أُکمِلُ ذَلِک بِابْنِهِ محمد رَحْمَةً لِلْعَالَمِینَ
Kekuatan dan kesempurnaan Musa as, keagungan dan cahaya Isa as dan kesabaran Ayub as, akan kalian lihat pada dirinya, ia akan datang pada saat ketika wali-wali-Ku dihinakan عَلَیهِ کمَالُ مُوسَی وَ بَهَاءُ عِیسَی وَ صَبْرُ أَیوبَ فَیذَلُّ أَوْلِیائِی فِی زَمَانِهِ
dan karena orang-orang Mongol dan penyembah berhala Dailam terhinakan dan terbakar, mereka mengirimkan kepala mereka ke sekeliling dan sekitar kawasan sebagai hadiah sehingga mereka menjadi takut dan terguncang; وَ تُتَهَادَی رُءُوسُهُمْ کمَا تُتَهَادَی رُءُوسُ التُّرْک وَ الدَّیلَمِ فَیقْتَلُونَ وَ یحْرَقُونَ وَ یکونُونَ خَائِفِینَ مَرْعُوبِینَ وَجِلِینَ
bumi akan diwarnai dengan darah mereka dan kehancuran, teriakan serta tangisan akan muncul di antara istri-istri mereka. تُصْبَغُ الْأَرْضُ بِدِمَائِهِمْ وَ یفْشُو الْوَیلُ وَ الرَّنَّةُ فِی نِسَائِهِمْ
Sungguh, mereka akan menjadi hujjah dan wali-wali-Ku di atas muka bumi. Dengan perantara mereka, Aku akan menjauhkan setiap fitnah buta dan gempa bumi dari makhluk أُولَئِک أَوْلِیائِی حَقّاً بِهِمْ أَدْفَعُ کلَّ فِتْنَةٍ عَمْیاءَ حِنْدِسٍ
dan dengan mereka akan tersingkap gerakan-gerakan halus dan tersembunyi (para penentang agama Ilahi), dan rantai perbudakan akan dihapus dari makhluk. Shalawat dan rahmat Allah atas mereka semua! Mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk. .وَ بِهِمْ أَکشِفُ الزَّلَازِلَ وَ أَدْفَعُ الْآصَارَ وَ الْأَغْلَالَ أُولئِک عَلَیهِمْ صَلَواتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَ رَحْمَةٌ وَ أُولئِک هُمُ الْمُهْتَدُونَ‏

Beberapa Versi Hadis Lauh

Hadis Lauh dalam berbagai riwayat memiliki versi yang berbeda-beda, baik yang tersampaikan secara terperinci maupun secara ringkas. Diantara semua riwayat yang berbeda tersebut, berikut ini lima versi riwayat dari hadis lauh:

  1. Versi pertama (hadis lauh yang masyhur): Al-Kulaini menuliskannya dalam al-Kafi dan Syaikh Shaduq dalam Kamal al-Din.
  2. Versi kedua: Bagian dari isi hadis lauh melalui Imam Baqir as yang meriwayatkannya untuk Jabir al-Ju'fi bahwa Jabir bin Abdullah al-Anshari berkata, "Suatu hari aku memasuki rumah junjunganku Sayidah Fatimah sa, aku melihat di sisinya ada sebuah lauh yang membuatku sangat tercengang. Pada lauh tersebut aku melihat nama 12 orang. Tiga nama di atas lauh, tiga nama di dalam lauh dan tiga nama di bagian bawah lauh serta tiga nama lainnya di sisi lauh." Kemudian Jabir menambahkan, "Pada lauh tersebut aku juga melihat, pada tiga tempat ada nama Muhammad, Muhammad, Muhammad dan pada empat tempat lainnya tertulis, Ali, Ali, Ali, Ali."

  3. Versi ketiga: Sebuah hadis dinukil dari Ishak bin 'Ammar dari Imam Shadiq as yang Imam berkata kepadanya, "Ishak, apakah engkau suka jika aku memberikanmu kabar baik?" Ishak berkata, "Semoga jiwaku menjadi tebusanmu wahai putra Rasulullah, iya, aku suka mendengar kabar baik." Imam kemudian bekata, "Di sisiku ada sahifah (lembaran) yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan ditulis oleh Amirul Mukminin Ali as. Dalam lembaran tersebut tertulis, Bismillahirrahmanirrahim, kitab ini dari Allah yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana… sampai akhir hadis sebagaimana yang diriwayatkan pada versi pertama. Namun dalam riwayat ini tidak terdapat nama Jabir bin Abdullah dan tidak pula didapat melalui periwayatannya.
  4. Versi keempat: Riwayat Fadhl bin Syadzan yang menyampaikan hadis melalui jalur khusus darinya. Perawi dari riwayat ini, Abu Khalid al-Kabuli. Abu Khalid melihat sebuah lauh di sisi Imam Sajjad as yang lauh tersebut dihadiahkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dan di dalamnya terdapat nama Nabi Muhammad saw dan para penerusnya.[1]
  5. Versi kelima: Tertulis dalam kitab Kamal al-Din karya Syaikh Shaduq melalui Imam Shadiq as. Menurut riwayat ini, Imam Baqir as bersama dengan putranya dan saudarannya Zaid, sedang berkumpul yang kemudian ia memperlihatkan kepada mereka sebuah lembaran yang berisi tulisan Imam Ali as yang isinya didiktekan oleh Nabi Muhammad saw kemudian ditulis pada lauh Fatimah. Dalam riwayat ini juga tidak disebutkan mengenai Jabir dan peristiwa yang dialaminya.

Kevalidan Hadis Lauh

Hadis lauh adalah salah satu hadis yang terdapat dalam kitab-kitab muktabar Syiah. Adanya versi yang beragam memperkuat kesahihan riwayat ini dan meningkatkan nilainya.

Tsiqatul Islam al-Kulaini dalam al-Kafi, menjelaskan bahwa perawi dari riwayat ini dapat dipercaya.[2] Selain dari al-Kulaini, ulama-ulama lainnya juga menyebutkan hadis ini muktabar dan mereka menuliskannya dalam kitab-kitab mereka baik dengan sanad yang sama maupun dengan sanad yang lain. Seperti misalnya, al-Nu'mani dalam kitab al-Ghaibah, Syaikh Shaduq dalam kitab 'Uyun Akhbar al-Ridha, dan Syaikh Mufid dalam kitab al-Ikhtishash serta Syaikh Thusi dalam kitab al-Ghaibah.[3]

Demikian pula, dalam kitab-kitab lainnya seperti Al-Ihtijaj, Irsyad al-Qulub, Ta'wil al-Ayat, Taqrib al-Ma'arif, Fadhail dari Fadhl bin Syadzan, Manaqib dari Ibnu Syahr Asyub, Kasyf al-Ghummah, al-Fushul al-Mukhtara, al-Shirat al-Mustaqim, al-Irsyad dari Syaikh Mufid dan kitab-kitab lainnya. Dalam kitab-kitab tersebut, hadis ini ditulis baik secara lengkap maupun dinukil sebagiannya, kadang dengan menuliskan sanadnya dan kadang ditulis tanpa sanad.

Poin Penting dalam Hadis

Ketentuan Ilahi dalam penentuan penerus para Nabi: Menurut hadis ini Allah swt berfirman. إِنِّی لَمْ أَبْعَثْ نَبِیاً فَأُکمِلَتْ أَیامُهُ وَ انْقَضَتْ مُدَّتُهُ إِلَّا جَعَلْتُ لَهُ وَصِیاً(Aku tidak mengirim seorang nabi, sampai dia menyelesaikan hari-hari dan masa jabatannya berakhir kecuali kujadikan untuknya seorang washi). Sunah Ilahi ini telah berlaku sejak Nabi Adam as dan terus berlaku sampai penutup para Nabi. Mengenai hal ini telah diriwayatkan dalam sebuah hadis yang panjang dari Imam Shadiq as yang menunjukkan semua para Nabi memiliki penerus yang ditetapkan oleh Allah swt. Dalam hadis tersebut juga disebutkan nama-nama washi dari para Nabi sebelumnya.

Imam Ali as adalah sebaik-baik washi. Terbaiknya Amirul Mukminin Ali as dari semua washi yang lain adalah fakta yang dijelaskan dalam banyak riwayat.

Kontinuitas (keberlanjutan) keimamahan melalui garis keturunan Imam Husain as. Menurut penjelasan Allamah Majlisi, dapat dikatakan bahwa maksud dari kalimat الکلمة التامة dan الحجة البالغة yang dikaitkan Allah swt kepada Imam Husain as adalah urusan mengenai keimamahan. جَعَلْتُ کلِمَتِی التَّامَّةَ مَعَهُ وَ حُجَّتِی الْبَالِغَةَ عِنْدَهُ dengan memperhatikan atribut yang melekat pada kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa al-Hujjah al-Balighah adalah burhan dan dalil atas kebenaran para Imam. Dan frase ini juga menegaskan kontuinitas Aimmah berasal dari keturunan Imam Husain as. Hadis-hadis yang menjelaskan ini memiliki derajat yang mutawatir.[4]

Kontinuitas petunjuk Ilahi melalui kontinuitas Imamah. Menolak satu imam sama halnya menolak keseluruhan imam, sebagaimana kewajiban mengimani semua nabi dan mengingkari satu nabi sama dengan mengingkari semuanya.

Kesempurnaan Imamah dengan keberadaan Imam Zaman as. Allah swt dalam hadis lauh berfirman, أُکمِلُ ذَلِک بِابْنِهِ محمّد رَحْمَةً لِلْعَالَمِینَ (Aku akan menyempurnakan Imamah dengan putranya Muhammad rahmatallil 'alamin). Allah swt berfirman sebagaimana yang tertulis dalam lauh Fatimah sa bahwa keimamahan menjadi lengkap dengan keberadaan Imam Zaman as.

Doktrin mahdawiyah dalam Hadis lauh. Maksud dari mahdawiyah adalah munculnya juru selamat dan pembaharu yang dibangkitkan Allah swt di akhir zaman untuk membasmi segala bentuk penindasan dan kezaliman yang dengan demikian tegaklah keadilan. Allah swt menggambarkannya sebagai قَاصِمُ الْجَبَّارِینَ وَ مُدِیلُ الْمَظْلُومِینَ (pukulan keras bagi para penindas dan penolong bagi kaum yang tertindas) dan hal ini selaras dengan ayat Alquran yang mengacu pada doktrin-doktrin mahdawiyah.

Nubuat peristiwa-peristiwa di masa Aimmah as dalam hadis Lauh. Beberapa bagian dari hadis lauh Sayidah Fatimah sa menyebutkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa masing-masing Imam as.

Hadis Lauh dalam Literatur Ahlusunah

Fadhl bin Hasan al-Thabrisi dalam kitab I'lam al-Wara menulis bahwa Ahlusunah juga menuliskan secara implisit dalam kitab-kitab mereka mengenai hadis lauh [5] meski tidak dapat ditemukan dalam literatur Ahlusunah mengenai isi hadis lauh ditulis secara lengkap.

Catatan Kaki

  1. Thali'i, Abdul Husain, Tahfah Asemani, hlm. 38.
  2. Lih. Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, al-Kafi, jld. 1, hlm. 527.
  3. Nu'mani, Muhammad bin Ibrahim, al-Ghaibah, hlm. 62; Syaikh Shaduq, Kamal al-Din, jld. 1, hlm. 308; Syaikh Shaduq, 'Uyun Akhbar al-Ridha 'alaihissalam, jld. 1, hlm. 41; Taj al-Din Sya'iri, Jami' al-Akhbar, hlm. 18; Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, jld. 36, hlm. 195; Syaikh Mufid, al-Ikhtishash, hlm. 210; Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 143.
  4. Lih. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, jld. 26, bab Inna al-Aimmah min Dzurriyah al-Husain.
  5. Thabrasi, Fadhl bin al-Hasan, A'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, hlm. 258.

Daftar Pustaka

  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār al-Jāmi'ah li Dhurar Akhbār al-Aimmah al-Athhār. Beirut: Muassisah al-Wafa', 1403 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Al-Ikhtishāsh. Qom: Muktamar Syeikh Mufid, 1413 H.
  • Nu`mani, Muhammad bin Ibrahim. Al-Ghaibah. Tehran: Maktabah as-Shaduq, 1397 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. 'Uyūn Akhbār ar-Ridhā.Tehran: Nasyr-e Jahan, 1378 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Kamāl ad-Din wa Tamām an-Ni’mah.Qom: Jamiah Mudarrisin, 1405 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khishāl. Qom: Jamiah Mudarrisin, 1403 H.
  • Sya`iri, Tajuddin. Jāmi' al-Akhbār. Qom: Entesyarat-e Razi, 1363 HS (1984).
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. I'lām al-warā bi-A'lām al-Hudā. Cet. III. Mansyurat al-Maktabah al-Islamiyyah.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Ghaibah. Qom: Muassisah al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1411 H.