Abbas bin Ali as

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c tanpa link tanpa foto tanpa Kategori tanpa infobox tanpa navbox tanpa alih tanpa referensi
Abbas bin Ali
Example alt text
Deskripsi Abul Fadhl Abbas
Posisi Keturunan Imam (Imam Zadah)
Nama Abbas
Julukan Abul Fadhl, Abul Qasim
Gelar Qamar Bani Hasyim, Bab al-Hawaij, Saqa, Thayyar, Syahid, Abdu-Shaleh
Tanggal Lahir 4 Sya'ban 26 H
Tempat Lahir Madinah
Tanggal Wafat 10 Muharam 61 H
Nama Ayah Ali bin Abi Thalib As
Nama Ibu Ummul Banin
Masa Hidup 35 Tahun
Tempat Dikuburkan Karbala, Irak
Istri Lubabah binti Ubaidillah bin Abbas
Anak (anak) Fadhl, Ubaidillah
Panorama Haram Abul Fadhl Abbas As

Abbas bin Ali bin Abi Thalib(Bahasa Arab: العباس بن علي بن أبي طالب عليه السلام) adalah anak dari pasangan Imam Ali As dan Ummul Banin. Abbas bin Ali dalam pentas sejarah lebih dikenal dengan nama Abu Fadhl (أبي الفضل).

Abu Fadhl Abbas mempunyai kedudukan tinggi di antara para keturunan imam dan dikarenakan kedudukan yang tinggi ini diadakan azadari (majelis duka) baginya. Menurut penganut Syiah, ia mempunyai karamah sangat banyak. Kaum Syiah mengakui beliau sebagai manifestasi pribadi yang beradab, prawira, dermawan, suka memafkan dan setia kepada pemimpin. Keelokan wajahnya membuatnya diberi lakab sebagai Purnama Bani Hasyim (Qamar Bani Hasyim).

Dalam peristiwa Karbala, ia menjadi pemegang panji Karbala dan pembawa air dalam pasukan saudaranya, Imam Husain As. Karena peran ini di kalangan Syiah, ia dikenal sebagai pembawa air di padang Karbala.

Ia berhasil membawa air pada 7 Muharam bagi keluarga dan pengikut setia Imam Husain As dan pada tanggal 10 Muharam (Asyura) ia juga pergi ke arah Sungai Eufrat demi mendapatkan air. Namun dalam perjalanan pulang, kendi airnya dipanah oleh pihak musuh dan ke dua tangannya dipotong kemudian gugur sebagai syahid.

Garis Keturunan

Ayah Abbas As adalah Imam Pertama Syiah, Imam Ali As, dan ibundanya adalah Ummul Banin yang dinikahi oleh Imam Ali As beberapa tahun paska syahadah Fatimah binti Muhammad Sa. Setelah pernikahan itu, ibunda Baginda Abu Fadhl Abbas dijuluki dengan nama Ummul Banin. [1]

Haram Abul Fadhl Abbas As

Beberapa Julukan dan Gelar

Julukan-julukan yang Dimiliki

Abu Fadhl adalah julukan yang paling terkenal baginya. [2]Menurut sebagian besar ulama dan para penyair sebab pemberian julukan ini adalah karena keutamaan sangat banyak melekat padanya. [3] Abul Qasim adalah julukan lain baginya. Para ahli sejarah dengan mencermati kata-kata yang ada pada ziarah Arbain, kalimat ini diyakini sebagai julukan Baginda Abu Fadhl Abbas. Yaitu ketika Jabir bin Abdillah al-Anshari berkata kepadanya, "Assalamu 'alaika Ya Abal Qasim. Assalamu 'Alaika Ya Abbas bin Ali As" (Salam atasmu, Wahai Abul Qasim; Salam atasmu, Wahai Abbas bin Ali As). [4]

Gelar-gelar yang Disandang

  • Qamar Bani Hāsyim (Purnama Bani Hasyim)[5]
  • Bāb al-Hawāij [6]
  • Thayyār[7]
  • Al-Syahid [8]
  • Al-Saqqa' [9]
  • Abd al-Shāleh[10]
  • Shahib al-Liwa' (yang memiliki bender)[11]

Hari Lahir dan Wafat

Abbas bin Ali As lahir pada tanggal 4 Sya'ban 26 H di Madinah dan gugur sebagai syahid pada Tragedi Asyura yang terjadi tepatnya pada tanggal 10 Asyura 61 H di padang Karbala. [12]

Masa Kanak-kanak, Remaja dan Pemuda

Masa Kanak-kanak

Pada masa kanak-kanak Abbas, ayahanda dan kedua saudaranya, Hasan As dan Husain As berada di sampingnya. Abbas memperoleh ilmu dan banyak berguru dari mereka serta memanfaatkan pandangan mereka. Imam Ali As terkait dengan kesempurnaan dan kedinamisan putranya bersabda, "Sesungguhnya putraku Abbas telah belajar semenjak usia kanak-kanak. Ia belajar dariku sebagaimana bayi burung merpati mengambil makanan dan minuman dari induknya." [13] Pada awal-awal ketika Baginda Abu Fadhl dapat berbicara, Imam Ali As berkata kepadanya, "(Katakanlah) Satu." "Satu." Sahut Abbas. "Katakan dua." Imbuh Imam Ali As. "Aku malu berkata dua dengan lisan yang Aku serukan tentang keesaan Tuhan." Tegas Abbas.[14];[15] Kemudian Imam Ali As dengan pandangan keimamahannya, melihat masa depan Abbas yang gemilang. Kemudian wajah Imam Ali As nampak sedih dan lantaran istrinya bertanya apa gerangan yang membuatnya menangis. "Kisah Abbas akan berakhir pada jalan menolong Husain As." ujar Imam Ali As. Kemudian beliau mengabarkan tentang keutamaan kedudukan putranya: "Allah Swt akan menganugerahkan dua sayap kepadanya seperti pamannya, Ja'far bin Abi Thalib yang akan terbang di surga." [16]

Masa Remaja dan Pemuda

Imam Ali As dengan perhatian dan kasih sayang khusus mengenalkan adab dan akhlak kepada Abbas dan mendidiknya dengan ajaran-ajaran Islam. [17] Putra Imam Ali As ini hidup bersamanya selama 14 tahun 47 hari. Ia selalu berada di samping ayahandanya. [18] Pada hari-hari sulit masa pemerintahan ayahandanya, tidak sekejap-pun Abbas berpisah darinya. [19] Ketika pada tahun 37 H meletus Perang Shiffin, Abbas kecil yang ketika itu masih berusia 12 tahun telah menorehkan epik abadi dalam perang tersebut.[20]

Keikutsertaan dalam Perang Shiffin

Pembawa Air pada Perang Shiffin

Setelah masuknya pasukan 85 ribu orang dari tentara Muawiyah ke wilayah Shiffin untuk mengalahkan Imam Ali As, beberapa orang dikirim dan ditugaskan untuk menjaga air dan diangkatlah Abul Al-A'war Aslami untuk melaksanakan tugas ini. Pasukan Imam Ali As yang lelah dan haus, ketika sampai di wilayah Shiffin, melihat bahwa musuh telah menutup air bagi mereka. Kehausan yang melanda pasukan Imam Ali As membuat Imam Ali As harus menempuh jalan sehingga beberapa panglima Sha'sha'at bin Shauhan dan Syabats bin Rab'i ditunjuk untuk mengambil air. Mereka bersama beberapa anggota pasukan menyerang Sungai Eufrat kemudian mengambil air. Imam Husain As dan Baginda Abu Fadhl As juga ikut serta dalam penyerangan ini. [21]

Ksatria di Perang Shiffin

Pada puncak perang Shiffin, terdapat seorang remaja dari pasukan Islam yang maju ke medan laga dan mengenakan topeng. Umurnya ketika itu kira-kira 13 tahun. Ia berdiri dihadapan laskar Muawiyah dan berperang dengan musuh. Muawiyah memerintahkan Abu Sya'tsa, yang merupakan jagoan dari pasukannya supaya berduel dengan Baginda Abul Fadhl. "Warga Kufah mengakui kehebatanku sebanding dengan 1000 pasukan berkuda (namun kau menginginkan supaya Aku berduel dengan seorang remaja?)" Protes Abu Sya'tsa. Kemudian ia memerintahkan salah seorang anaknya untuk berduel dengan Baginda Abul Fadhl. Setelah beberapa lama terlibat perang sengit, Abbas berhasil membuat musuhnya jatuh tersungkur dan bersimbah darah. Abu Sya'tsa dengan takjub yang sangat luar biasa melihat bahwa anaknya tersungkur ke tanah dan bersimbah darah. Ia mempunyai tujuh anak. Kemudian ia mengutus anaknya yang lain, namun hasilnya tidak berubah sedemikian sehingga semua anaknya satu persatu dikirim ke medan perang, namun remaja prawira itu mengirim mereka satu persatu ke neraka. Pada akhirnya Abu Sya'tsa turun ke gelanggang perang melawan sang remaja itu, namun ia berhasil membinasakannya sedemikian sehingga tidak ada lagi orang yang berani melawannya. Keheranan dan ketakjuban pasukan Imam Ali As menjadi semakin tiada tara. Ketika Baginda Abu Fadhl kembali ke perkemahan, Imam Ali As membuka tutup muka putranya itu dan membersihkan debu dari mukanya. [22]

Istri dan Anak-anak

Abbas menikah dengan Lubabah binti Ubaidillah bin Abbas bin Abdul Muthalib.[23] Buah dari pernikahan ini adalah dua orang putra bernama Fadhl dan Ubaidillah.[24] Keturunan Abbas As berlanjut dari jalur Ubaidillah. Ubaidillah mempunyai 2 putra bernama Abdullah dan Hasan.[25] Hasan mempunyai 5 putra dan nama-nama itu adalah: Ubaidillah beberapa lama bertanggung jawab sebagai Gubernur Mekah dan Madinah, pada saat itu ia juga menduduki hakim pada dua kota itu. Putra Hasan yang lain adalah Abbas yang terkenal dengan kemampuan berretorika tinggi, Hamzah al-Akbar, Ibrahim Jurdaqah yang termasuk salah seorang fuqaha, zahid, sastrawan, dan orang yang mempunyai keutamaan. [26] Setiap putra-putra Baginda Abu Fadhl ini menghasilkan buah hati yang juga mempunyai keutamaan seperti Muhammad bin Ali bin Hamzah bin Hasan bin Ubaidillah, seorang ahli hadis yang terkenal pada abad ke-3 H. [27]

Tipologi, Keutamaan dan Kebaikan

Baginda Abbas di Mata Para Imam As

Di Samping Imam Hasan Mujtaba As

Selama masa keimamahan Imam Hasan As, Abbas As dengan segala kemampuan yang dimilikinya selalu berada pada jalan Imam Hasan As. Pada masa ini, dikarenakan penentangan dan permusuhan yang dilancarkan oleh Muawiyah kepada Imam Hasan Mujtaba As dan bahaya mereka yang mengancam Imam Hasan As, Abbas sangat berhati-hati dalam menjaga keselamatan saudaranya. Abbas pada masa imamah Imam Hasan As berkedudukan sebagai "Bāb al-Hawāij" (Seseorang yang memenuhi keinginan dan keperluan orang lain karena beliau selalu membantu dan menolong orang yang memerlukan) para penganut Syiah. Orang-orang mustadhafin memperoleh berkah darinya. Orang-orang yang membutuhkan pergi ke rumah Imam Hasan As dan mengatakan keperluannya kepada Abbas. Dalam semua hal, Sang Purnama Bani Hasim, menjelaskan masalah masyarakat kepada saudaranya, Imam Hasan As dan melaksanakan perintah saudaranya tentang mereka. Juga ketika Imam Hasan As syahid, musuh menarik anak panah ke arah jasad Imam Hasan As, oleh itu Abbas As dengan sigap menarik pedangnya, namun mengingat perkataan imamnya (untuk menahan diri) mengingatkan kita bahwa mengikuti secara totalitas perintah Imam adalah prinsip hidupnya, maka hal ini membuatnya untuk menahan diri. [28] Bukti paling nyata terkait dengan keberadaan Baginda Abbas di samping Imam Hasan As adalah sabda Imam Shadiq. Imam Shadiq As pada permulaan Ziarah Abbas bersabda, "Salam bagimu wahai hamba yang saleh dan taat terhadap perintah Allah dan yang menaati Amiral Mukminin, Hasan As dan Husain As." [29]

Imam Sajjad As

"Ya Allah, rahmatilah pamanku, Abbas. Dalam peperangan kedua tangannya telah dipotong oleh musuh. Sesungguhnya dia telah mengorbankan jiwanya untuk saudaranya." Allah Swt memberi ganjaran sebagaimana pamannya, Ja'far Thayar dengan menggantinya dengan sepasang sayap untuk terbang dengan para malaikat di alam surga. Di sisi Allah ia memiliki kedudukan yang sangat agung sehingga samua para syahid pada hari kiamat cemburu kepadanya dan berharap dapat mencapai kedudukan itu." Ungkap Imam Sajjad As [30]

Imam Shadiq As

Imam Shadiq As dalam mendeskripsikan sifat pamannya, Abbas bin Ali, mempunyai sifat-sifat: "Cermat, mempunyai visi yang besar, keimanan yang sangat kuat, berjihad dengan Imam Husain As, cacat perang dan penuh pengorbanan, syahid di jalan imamnya, tunduk di hadapan penerus Rasulullah Saw, meyakini Imam Zamannya, loyal, berusaha keras dan seterusnya." [31]

Imam Mahdi Ajf

Imam Mahdi Ajf terkait dengan Abul Fadhl Abbas berujar, "Salam atasmu wahai Abu Fadhl Abbas, putra Amiral Mukminin As, seorang yang mengorbankan dirinya demi saudaranya, menjadikan dunia sebagai wasilah bagi dirinya dan yang telah mengorbankan dirinya bagi saudaranya. Ia adalah pelindung yang sangat luar biasa. Ia sangat berusaha keras untuk mendapatkan air guna menghapus dahaga-dahaga anak yang tercekik kehausan, dua tangannya terpotong di jalan Tuhan. Allah Swt tidak merahmati orang-orang yang membunuhnya, Yazid bin Raqad dan Hakim bin Thufail Thai." [32]

Mengenal Imam

Terkait dengan ketaatan terhadap imam dan pengenalan imam yang ada pada diri Baginda Abbas, akan dijelaskan beberapa contoh: Pada buku pedoman cara berziarah kepada beliau, Imam Shadiq As bersabda, " Salam bagimu wahai hamba yang saleh, yang menaati Allah Swt dan Rasulnya, pengikut Amiral Mukminin, Hasan, Husain semoga rahmat Tuhan menyertai mereka semua." [33] Pada sore hari Tasu'a, Syimr membawa surat jaminan keamanan untuk Abbas dan saudara-saudaranya, namun Abbas tidak menaruh perhatian sedikit pun dan tidak memberikan jawaban kepadanya, sehingga imamnya menyuruhnya untuk memberikan jawaban atas pernyataan Syimr. Abbas berkata, "Kau berkata apa? Syimr menjawa, "Anda dan saudara-saudara Anda dalam aman." Abbas menjawab, "Semoga tanganmu terpotong dan semoga Allah Swt melaknat orang-orang yang membawa surat jaminan keamanan itu, hai musuh Tuhan!. Apakah kau perintahkan kami untuk membiarkan saudara-saudara kami, tuan kami, Husain As putri Fatimah Sa kemudian memasukkanku ke dalam golongan orang-orang yang terlaknat? Apakah kalian akan memberi surat jaminan kepada kami sementara putra Rasulullah Saw (Husain As) tidak dalam jaminan keamanan." [34]

Abu Fadhl Abbas dan Asyura

Ilustrasi Sang Pembawa Air

Pembawa Air

Pada hari ke-7 Muharam, ketika Ubaidillah memerintahkan kepada Umar bin Sa'd untuk mempersempit ruang gerak pasukan Imam Husain As dan tidak memberikan air Eufrat kepada pasukannya, Imam Husain As memanggil Hadhrat Abu Fadhl dan menyertakan 30 personel penunggang kuda dan 20 personel berjalan kaki bersamanya untuk memenuhi kantong air dan kemudian untuk membawanya ke perkemahan. Hadhrat Abbas dengan pertolongan pasukan yang menyertainya mampu menembus kepungan musuh dan membawa air ke perkemahan. [35] Pada hari Asyura, Hadhrat Abbas atas perintah Imam Husain As juga pergi ke bibir sungai Eufrat untuk mendapatkan air, namun setelah ia memenuhi kantong airnya, dalam perjalanan pulang menuju kemah, pasukan musuh memanah kantong air itu dan memanah Abul Fadhl Abbas As sehingga ia pun mencapai syahadah.

Utusan Sang Imam

Malam Asyura atau Tasu'a Umar Sa'd berdiri dihadapan pasukannya dan berteriak lantang: "Hai tentara-tentara Tuhan! Naiklah ke kuda-kuda kalian dan dapatkan kabar gembira dari surga. Demi mendengar seruan musuh, Imam Husain As meminta Abbas untuk berusaha semaksimal bernegosiasi dengan pihak musuh supaya pihak musuh menunda penyerangan sampai besok harinya. Hadhrat Abbas As pergi ke kemah musuh dan berhasil menunda waktu peperangan. [36]

Pelindung Perkemahan

Pada malam Asyura, Hadhrat Abbas As bertanggung jawab untuk menjaga perkemahan. Meskipun pihak musuh menunda waktu penyerangan, namun demi kehati-hatiannya, ia tetap sibuk menjaga disekitar perkemahan. Kemudian Zuhair mendekatinya. [37]Lalu ia menjelaskan peristiwa peminangan Imam Ali As kepada Ummu Banin dan mengingatkan kembali motivasi Imam Ali As tentang pernikahan dengannya. Kemudian Zuhair berkata, "Wahai Abbas! Ayahmu menginginkanmu untuk menghadapi hari-hari seperti ini, jangan sampai kurang bersungguh-sungguh dalam menolong saudaramu!. Hadhrat Abbas marah mendengar kata-kata ini, kemudian berkata, "Zuhair! Dengan perkataan ini, kau justru membangkitkan keberanian kepadaku. Sungguh Aku bersumpah demi Tuhan, sampai nyawa menjemputku, Aku tidak akan melepas saudaraku dalam menolongnya dan Aku tidak akan menganggap sepele dalam mendukungnya. Besok, Aku akan menunjukkan kepadamu di mana selama hidupmu tidak pernah kamu saksikan yang seperti itu."[38]

Pembawa Panji Karbala

Pada pagi hari Asyura, ketika Imam Husain As menyelesaikan salat dan munajatnya, pasukan musuh mengenakan perlengkapan perangnya dan mengumumkan perang. Imam Husain As menyiapkan anak buahnya untuk mempertahankan pasukannya. Laskar Imam Husain As terdiri dari 32 personel berkuda dan 40 personel dengan berjalan kaki. Imam Imam Husain As memerintahkan Zuhair bin Qain untuk memegang komando pasukan sebelah kanan, dan Habib bin Mazhahir, pasukan sebelah kiri. Sementara panji perang berada di tangan saudaranya, Abbas. [39]

Berhasil Menerobos Kepungan Musuh

Pada awal-awal peperangan, 4 orang dari pasukan Imam Husain As: Amr bin Khalid Sahidawi, Jabir bin Harits Salmani, Majma' bin Abdullah ‘Aidi dan Sa'd, budak Amr bin Khalid melakukan penyerangan bersama terhadap titik penting pasukan Kufah. Pihak musuh memutuskan untuk mengepung pasukan Imam Husain As. Pengepungan pun telah ditutup sedemikian sehingga tidak ada lagi hubungan antara mereka dengan pasukan Imam Husain As. Pada saat itu, Hadhrat Abul Fadhl Abbas As dengan melihat bahwa mereka berada dalam keadaan bahaya pergi ke tempat pengepungan itu seorang diri dan berhasil menjebol benteng pertahahan lawan dan 4 orang itu dapat diselamatkan. [40]

Menggali Sumur untuk Memperoleh Air

Pada tengah hari, ketika anak-anak dan para wanita, juga prajurit-prajurit Imam Husain As tercekik rasa kehausan yang amat sangat, Imam Husain As memberi instruksi kepada Abul Fadhl Abbas untuk menggali sumur, karena bumi Karbala berada di tepi sungai sehingga hal ini memungkinkan akan adanya air jika digali. Abbas As tengah sibuk melakukan penggalian sumur. Setelah beberapa lama menggali, ia berputus asa memperoleh air keluar dari perut bumi. Ia kembali menggali dari titik yang lain, namun air tidak juga keluar dari sumur yang kedua itu.[41]

Mengirim Saudara-Saudaranya untuk Terlebih Dahulu ke Medan Perang

Ketika Abu Fadhl As melihat jasad para syahid Bani Hasyim dan syuhada lainnya, ia memanggil saudaranya, Abdullah, Ja'far dan Utsman dan berucap kepada mereka, "Wahai Anak-anak ibuku! Aku harus menyaksikan bahwa kalian telah berkorban terlebih dahulu di jalan Tuhan. Mereka pun bergerak menuju medan perang dan setelah beberapa lama berperang dengan musuh, mereka syahid dihadapan Hadhrat Abbas."[42]

Pertarungan Gagah Berani

Abbas As berperang dan berhadap-hadapan dengan tiga jawara musuh. Orang yang pertama dari mereka adalah Marid bin Shudaif, ketika Marid berada di medan peperangan, ia menyerang Abbas As dengan tombak. Baginda Abbas menampik dengan tangkas tombak itu dan mengeluarkan tombaknya kemudian menikamkannya hingga ia terkapar. [43] Jawara yang kedua adalah Shafwan bin Abthah yang mempunyai keahlian dalam bidang melemparkan batu dan tombak. Ia terluka setelah beberapa saat berhadap-hadapan dengan Baginda Abbas, namun ia diampuni oleh Abbas As dan diberi kesempatan kedua kalinya untuk hidup. Sedangkan jawara yang ketiga adalah Abdullah bin Uqbah Ghanawi. Abbas As mengenal ayah Abdullah. Oleh itu, supaya tidak terbunuh, Abbas As berkata kepadanya, "Kamu tidak tahu bahwa dalam perang ini kamu akan berhadap-hadapan denganku. Karena kebaikan yang dilakukan ayahku kepada ayahmu, urungkan perlawananmu terhadapku dan kembalilah." Namun Abdullah menolak. Tidak lama kemudian ia kalah dan lari dari medan peperangan. [44]

Mereguk Cawan Syahadah

Ahli sejarah menuliskan beberapa riwayat yang berbeda terkait dengan syahidnya Abul Fadhl Abbas As. Kharazmi berkata: "Ia pergi ke medan perang sambil meneriakkan yel-yel tentang peperangan, ia berperang melawan musuh. Setelah melukai dan membunuh sejumlah musuh, akhirnya ia gugur syahid. Kemudian Imam Husain datang menghampirinya dan berucap, "Kini tulang punggungku telah patah, daya upayaku sudah menyurut." [45] Ibnu Nama dan Ibnu Thawus menjelaskan, karena Imam Husain As didera oleh rasa haus yang mencekik, Imam Husain As bersama saudaranya Abbas pergi ke tepi sungai Eufrat, namun pihak musuh memutus hubungan mereka sehingga Baginda Abbas gugur sebagai syahid. [46] Ibnu Syahr Asyub berkenaan dengan kesyahidan Abu Fadhl Abbas As berkata, "Abbas, pembawa air, Purnama Bani Hasyim, pembawa panji Karbala yang merupakan anak terbesar dari saudara-saudaranya, pergi keluar dari medan peperangan demi mendapatkan air kemudian musuh menyerangnya. Tak lama setelah itu ia terlihat sangat lemah. Pada saat itu Hakim bin Thufail al-Sabi'i yang saat itu berada di belakang pohon menyerangnya dan memukulnya hingga mengenai tangan kanannya. Tak lama setelah itu, pukulan itu pun mengenai tangan kirinya. [47] Ketika itu, Abbas bersenandung pelan: "Wahai jiwa janganlah takut kepada orang-orang kafir dan berikan kabar gembira akan rahmat Tuhan yang Maha besar dan kebersamaannya dengan Nabi Muhammad Saw. Mereka dengan zalim telah memotong tangan kiriku. Tuhanku akan melemparkan mereka ke api neraka yang menyala-nyala." Kemudian orang yang terlaknat itu mengayunkan pedang secara vertikal ke arah kepala Hadhrat Abbas As sehingga ia syahid.[48] Abbas adalah syahid terakhir dari pengikut setia Imam Husain As dan setelah ia adalah seorang bocah kecil dari keluarga Abi Thalib yang tidak mempunyai senjata. [49] Usia Abbas ketika ia syahid kira-kira 34 tahun. [50]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Muhsin Amin, A'yān al-Syiah, hlm. 429; Syaikh Abbas Qumi, Nafas al-Mahmum, hlm. 285.
  2. Ibnu Nama Hilli, Matsir al-Hilli, Matsir al-Ahzān, hlm. 245; Maqātil al-Thālibin, hlm. 280.
  3. Umdah al-Thālib, hlm. 280.
  4. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 101, hlm. 330.
  5. Abul Faraj al-Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 90; Ibn Nama Hilli, Matsir al-Ahzān, hlm. 254.
  6. Al-Abbās bin Ali As, hlm. 30.
  7. Bathal al-‘Alqami, jld. 2, hlm. 108-109.
  8. Ibid.
  9. Muhsin Amin, jld. 7, hlm. 429; Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Mulk (Tārikh Thabari), jld. 5, hlm. 412-413, Abul Faraj al-Isfahani, Op cit, hlm. 117-118; ‘Umdah al-Thalib, hlm. 280.
  10. Ibid, hlm. 124.
  11. ‘Umdah al-Thālib, hlm. 280.
  12. Ibn Nama Hilli, Matsir al-Ahzān, hlm. 254; Sayid Muhsin Amin, A'yān al-Syiah, jld. 7, hlm. 429.
  13. Tsamarāt al-A'wād, jld. 10, hlm. 105; Maulid al-Abbās bin Ali As, hlm. 62.
  14. Farsan al-Haija, jld. 1, hlm. 190; Mustadrak Wasāil al-Syiah, jld. 3, hlm. 815.
  15. Tarjumeh Jāmi' Ahādits al-Syiah, jld. 26, hlm. 867.
  16. Qamar Bāni Hāsyim, hlm. 19; Maulid al-‘Abbās bin Ali As, hlm. 60.
  17. Maulid al-‘Abbās bin Ali As, hlm. 60.
  18. Maulid al-‘Abbās bin Ali As, hlm. 63.
  19. Bathal al-‘Alqami, jld. 2, hlm. 6.
  20. Wasilah al-Dārain, hlm. 269; Maulid al-‘Abbās bin Ali As, hlm. 64.
  21. Hairi Mazandarani, Ma'āli al-Sibthain, jld. 1, hlm. 437.
  22. Al-Abbās As, hlm. 153; Birjandi, Kibrit al-Ahmar, Teheran, Kitab Furusyi Islamiyah, hlm. 385, 1377.
  23. Al-Bukhari, Op cit, hlm. 90.
  24. Ibnu Shaufi Nasabah, Op cit, hlm. 436.
  25. Ibnu Shaufi Nasabah, Ibid, hlm. 436; Ibn ‘Anbah, Op cit, hlm. 328.
  26. Ibn ‘Anbah, Op cit, hlm. 281.
  27. Abi Nashr, Sar al-Silsilah al-Alawiyah, hlm. 90; Ibn ‘Anbah, Op cit, hlm. 281 dan 282.
  28. Sepahsālār Isyq, hlm. 47.
  29. Kāmil al-Ziyārāh, hlm. 786.
  30. Syaikh Shaduq, Al-Khisāl,jld. 1, hlm. 68.
  31. Ibnu ‘Anbah, ‘Umdah al-Thālib, hlm. 280; Amin, A'yan Syiah, hlm. 430.
  32. Bathal al-‘Al-Qami, jld. 2, hlm. 311.
  33. Kāmil al-Ziyārah, hlm. 786.
  34. Ibn A'tsam, Al-Futuh, jld. 5, jld. 5, hlm. 94; Ma'āli al-Sibthain, jld. 433; Abi Mikkhnaf, Waq'iat al-Thaf, hlm. 219 dan 220.
  35. Tārikh al-Thabari, jld. 5, hlm. 412; Tadzkirah al-Khawwāsh, 152; A'yān al-Syiah, jld. 7, hlm. 430; Abul Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 78; Ibn A'tsam, Al-Futuh, jld. 5, hlm. 92.
  36. Al-Irsyād, hlm. 335; Ibn Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thālib, jld. 4, hlm. 98; Bihār al-Anwār, jld. 44, hlm. 391; Thabarsi, I'lām al-Warā, jld. 1, hlm. 454 dan 455; Tārikh al-Thabari, jld. 5, hlm. 416; A'yān al-Syiah, jld. 7, hlm. 430.
  37. Bahrul ‘Ulum, Maqtal al-Husain As, hlm. 314; Ma'āli al-Sibthain, jld. 1, hlm. 443.
  38. Bahrul ‘Ulum, Maqtal al-Husain As, hlm. 314; Kibrit al-Ahmar, hlm. 386, Bathal al-‘Alqami, jld. 1, hlm. 97.
  39. Syaikh Mufid, Al-Irsyād, hlm. 338; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 45, hlm. 4; Tadzkirah al-Khawwāsh, jld. 2, hlm. 161; Thabarsi, I'lām al-Warā, jld. 1, hlm. 457; Al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 25.
  40. Tārikh al-Thabari, jld. 5, hlm. 446; Al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 293; A'yān al-Syiah, jld. 7, hlm. 430, Ma'āli as-Sibthain, jld. 1, hlm. 443.
  41. Yanābi' al-Mawaddah, jld. 2, hlm. 340; Maqtal Abi Mikhnaf, hlm. 57; Bathal al-‘Alqami, jld. 2, hlm. 357.
  42. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 45, hlm. 38; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm. 54; Thabarsi, I'lām al-Warā, jld. 1, hlm. 66; Mufid, Al-Irsyād, hlm. 348.
  43. Kibrit al-Ahmar, hlm. 387.
  44. Kibrit al-Ahmar, hlm. 387.
  45. Al-Kharazmi, Maqtal al-Husain As, jld. 2, hlm. 34; Hadetseh Karbala dar Maqtal Muqarram, hlm. 287.
  46. Sayid bin Thawus, Luhuf, hlm. 117-118; Hilli, Matsir al-Ahzān, hlm. 257.
  47. Muqarram, Hadetseh Karbala dar Maqtal Muqarram, hlm. 262.
  48. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thalib, jld. 4, hlm. 108.
  49. Abu Mikhnaf, Maqtal Abi Mikhnaf, hlm. 180; Abul Faraj al-Isfahani, Maqatil Al-Thalibin, hlm. 89.
  50. Ibnu ‘Anbah, ‘Umdah al-Thālib fi Ansāb Ali Abi Thālib As, hlm. 280; Thabarsi, I'lām al-Warā bi al'A'lām al-Hudā, jld. 1, hlm. 395.


Daftar Pustaka

  • Burujerdi, Agha Husain, "Eddei az Fudhalā, Manābi' Fiqh Syiah (Terjemah Jāmi Ahadits al-Syi'ah), Intisyarate Farhangge Sabz, Teheran, 1386 S.
  • Hilli, Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzān, Tarjumeh Ali Karimi, Qum, Nasyar Khadziq, Cet. Pertama, 1380 S.
  • Al-Nashiri, Maulid al-‘Abbās bin Ali As.
  • Ibnu Qulawaih Qumi, Kāmil Al-Ziyārah, Tarjumeh Jawad Dzahabi Tehrani, Tehran, Payam Intisyarate Payam Haq, Cet. 2, 1377 S.
  • Al-Muqaram, ‘Abdul al-Razaq, Hadetseh Karbala dar Maqtal Muqaram, Terjemah Muhammad Jawad Maulai Niya, Qum, Intisyarate Jeluh Kamal, Cet. 3, 1387 S.
  • Abi Nashr, Sar Silsilah al-‘Alawiyah, Riset: Shadiq Bahrul ‘Ulum, Najaf, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1382 S.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tārikh al-Thabari), Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Beirut, Dar al-Turats, Cet. 2, 1967 M.
  • Al-Muzhafar, Bathal al-‘Alqami.
  • Amin, Sayid Muhsin, A'yān al-Syiah.
  • Ibnu ‘Anbah Hasani, ‘Umdah al-Thālib fi Ansāb Ali Abi Thalib As, Qum, Anshariyan, 1417 H.
  • Birjandi, Muhammad Baqir, Kibrit al-Ahmar, Teheran, Kitab Furusyi Islamiyah, 1377 S.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I'lam al-Warā bi A'lām al-Hudā, Qum, Muasasah Alu al-Bait li Ihya al-Thurats, 1417 H.
  • Syaikh Shaduq, Al-Khisāl, Riset: Ali Akbar Ghifari, Beirut, Muasasah al-A'la lil Muthbu'at, Al-Aula, 1990 M/1410 H.
  • Al-Isfahani, Abul Faraj, Maqātil Al-Thālibin, Riset: Ahmad Saqar, Muasasah al'A'la lil Mathbu'at, 1408 H/1987 M.
  • Khashāish al-‘Abāssiyah.
  • Sayid bin Thawus, Al-Luhuf, Teheran, Jahan, 1348 S.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Beirut, Muasasah al-Wafa, 1403 H/1983 M.
  • Muhadits Qumi, ‘Abbas, Nafas al-Mahmum, Terjemah Abul Hasan Sya'rani, Hijrat, Cet. 3, 1376 S.
  • Bahrul ‘Ulum, Maqtal al-Husain As.
  • Mausu'ah Kalimāt al-Husain As.
  • Al-Kharazmi, Al-Mauquf bin Ahmad, Maqtal al-Husain As, Riset oleh Muhammad al-Samawi, Qum, Anwar al-Huda, Al-Aula, 1418 H.
  • Syaikh Mufid, Al-Irsyād fi Ma'rifah Hujajillah ‘ala al-‘Ibād, Qum, Al-Nasyir Sa'id bin Jubair, Al-Aula, 1428 H.
  • Abi Mukhnaf, Luth bin Yahya, Waqi'ah al-Thaf, Riset: Hadi Yusufi Gharawi, Al-Majma' al-‘Alami li Ahlil Bait, 1427 H.
  • Qamar Bani Hāsyim.
  • Abi ‘Unbah al-Asghar, Kitāb ‘Umdah al-Thālib fi Ansāb Ali Abi Thālib As, Al-Qahirah. Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, 1421 H/2001 M.
  • Sibth Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawwāsh, Riset: Husain Taqi Zadeh, Markaz al-Thaba'ah wa al-Nasyar lil Jami; al-Alimi li Ahlil Bait, Al-Aula, 1426 H.
  • Ibnu Syahr Asub, Manāqib Ali Abi Thālib, Beirut, Dar al-Adhwa, Tanpa Tahun.
  • Ibnu A'tsam al-Kufi, Al-Futuh, Riset: Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa, Cet. 1, 1411 H.
  • Hairi Mazandarani, Muhammad Mahdi, Ma'āli al-Sibthain, Beirut, Muasasah al-Nu'man, 1412 H/1992 M.
  • Al-Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Dawud, Al-Akhbār al-Thiwāl, Syiyal,Qum, Mansyurat Radhi, 1368 S.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thālib As, Qum, Alamah, 1379 S.
  • Lukmani, Ahmad, Sepahsālār ‘Isyq.