Sukainah binti Husain sa

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Sukainah binti Imam Husain Sa (Bahasa Arab: سكينة بنت الحسين سلام الله علیها )adalah putri Imam Husain As dari ibu yang bernama Rubab binti Imru al-Qais. Sukainah dan ibundanya turut hadir di peristiwa Karbala. Pasca peristiwa Karbala, Sukainah bersama dengan para wanita lain dari keluarga Ahlulbait As digiring pihak musuh sebagai tawanan dan dibawa ke Kufah dan Suriah.

Silsilah Keluarga dan Kelahiran

Sukainah bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib As adalah putri Imam Husain As yang berasal dari Rubab binti Umru al-Qais. [1] Meskipun dalam sumber-sumber sejarah klasik, Sukainah lebih kecil dari pada putri-putri Imam Husain As lainnya, yaitu yang terkenal dengan Fatimah[2] namun tidak diketahui secara tepat tentang kapan ia lahir. Akan tetapi dari perkataan Imam Husain As dalam acara peminangan Hasan Mutsanna dan ketika membebaskan Hasan Mutsanna untuk memilih Sukainah atau Fatimah[3] dapat dipahami bahwa ketika ia bergerak ke arah Karbala adalah seorang gadis yang telah baligh dan telah sampai pada usia untuk menikah.

Nama dan Gelar

Ia memiliki nama Aminah dan menurut sebuah nukilan lain namanya adalah Umaimah. Ibundanya memberikan nama dengan Sukainah karena ia sangat tenang, damai dan bermartabat. [4]

Pernikahan

Dari sebagian riwayat dapat diketahui bahwa ia menikah dengan anak lelaki pamannya, Abdullah bin Hasan As. [5] Namun Syaikh Mufid dan sebagian sejarawan mengatakan bahwa Abdullah bin Hasan belum mencapai usia baligh ketika ia hadir dalam peristiwa Karbala. [6] Sebagian sumber rujukan menuliskan bahwa suami Sukainah binti Imam Husain As adalah Abu Bakar (Abdullah) bin Hasan bin Ali As. Nampaknya, Abu Bakar adalah gelar bagi Abdullah. [7] Qadhi Nukman Magribi menukilkan bahwa Sukainah menikah dengan Abdullah bin Hasan, namun sebelum pernikahan itu dijalankan, Abdullah terlebih dahulu gugur sebagai syahid pada peristiwa Karbala.[8]

Kecintaan Imam Husain As kepada Sukainah Sa

Imam Husain As sangat menyayangi Sukainah As. Dalam literatur-literatur yang ada, banyak nukilan tentang kecintaan Imam Husain As kepada Sukainah dan Ibundanya, Rubab:


لعمرک انّنی لاُحبّ داراً بها سکینه الرّباب أحبّهما و أبذل جلّ مالی و لیس لعاتب عندیعتاب


Aku bersumpah demi jiwamu! Aku senang dengan rumah yang didalamnya ada Sukainah dan Rubab. Aku mencintai keduanya. Semua kekayaanku akan aku berikan di jalan ini. Aku akan menyalahkan diriku jika tidak mampu melakukan hal ini. [9]

Kehadiran Sukainah di Karbala

Para sejarawan dan penulis biografi mengisahkan kehadiran Sukainah di Karbala. Berdasaran laporan yang ada, pada hari Asyura, ketika Imam Husain As mengadakan perpisahan terakhirnya yaitu ketika beliau kembali dari medan peperangan ke tenda, beliau berkata kepada para wanita yang menghuni tenda: “Bersabarlah dan pakailah baju panjang kalian, bersiaplah untuk menerima musibah dan ketahuilah Allahlah yang akan menjaga kalian dan dengan segera kalian akan terbebas dari cengkeraman kelompok itu dan pekerjaan kalian akan berakhir kepada kebahagiaan dan akhir dari musuh kalian adalah azab yang pedih. Semoga Allah Swt menganugerahkan kemuliaan atas kesulitan yang kalian derita, oleh itu bersabarlah dan janganlah berkata apa-apa karena hal itu akan mengurangi nilai amal kalian.” [10] Kemudian, Imam Husain As mengucapkan perpisahan dengan para wnaita Ahlulbait As satu persatu dan ketika sampai kepada putrinya, Sukainah yang menyendiri di sudut tenda dan sedang menangis, [11] Imam Husain As pun mengajak supaya Sukainah bersabar. Pada pertemuan akhirnya, Imam memeluk Sukainah dan sambil menyeka air matanya, Imam Husain As bersabda: سیطول بعدی یا سکینة فاعلمی منک البکاء اذا الحمام دهانی لا تحرقی قلبی بدمعک حسرة مادام منی الروح فی جثمانی فاذا قتلت فانت اولی بالذی تبکینه یا خیرة النسوان


Sukainah sayangku! Ketahuilah setelah aku meninggal, engkau akan menangis lama. Putriku, sampai ayah memiliki jiwa di badan, jangan engkau beratkan dengan tangisanmu. Wahai sebaik-baik perempuan! Ketika aku terbunuh, kaulah yang lebih tepat menangisiku. [12]

Pada riwayat yang lain, dituliskan bahwa pada hari Asyura dan ketika Imam Husain As mengucapkan perpisahan yang terakhir, Imam Husain mendatangi kemah-kemah dan dengan suara lantang berkata: Wahai Zainab atau Ummu Kultsum atau Fatimah atau Sukainah salam kepada kalian semua. [13]

Hari-hari selama menjadi Tawanan

Pasca peristiwa Asyura, Sukainah dan para wanita lainnya ditawan dan d giring ke Kufah dan Suriah bersamaan dengan para tawanan lainnya. Ia bersama dengan para tawanan lainnya menjelaskan kejahatan dan perilaku busuk Bani Umayah dan kemadzluman Ahlulbait As semenjak permulaan peristiwa Asyura. Dinukilkan bahwa pada tanggal 11 Muharam dan ketika mengadakan perpisahan dengan Ahlulbait dan para syahid, Sukainah setelah mendengar perkataan yang menyanyat hati bibinya, Zainab Sa lari menghampiri jenazah ayahandanya dan memangkunya kemudian mulai meratapi jenazah ayahandanya. Ia melanjutkan cakap-cakap dengan ayahandanya dan syuhada yang lain tetap berlanjut hingga sekelompok dari pihak Umar bin Sa’ad menghampiri Sukainah dan dengan paksa memisahkan Sukainah dari jenazah ayahandanya dan menyeretnya ke arah para tawanan yang lainnya. [14] Hari-hari ketika Ahlulbait As ditawan di Suriah, dilalui dengan sangat sulit oleh Sukainah dan para tawanan wanita keluarga Ahlulbait As. Keadaan yang paling susah dan sulit adalah hari ketika para tawanan itu memasuki Suriah. Terkait dengan bagaimana masuknya keluarga Ahlulbait As ke Suriah digambarkan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw, Sahl bin Sa’ad Sa’idi, ia berkata: Pada hari masuknya para tawanan ke Suriah aku melihat kepala seorang laki-laki yang ditancapkan pada tombak yang memiliki wajah sangat mirip dengan Nabi Muhammad Saw dan dalam barisan itu aku melihat seorang gadis yang menaiki unta tanpa pelana. Aku bergegas menghampirinya dan aku berkata: ‘Anakku, siapakah gerangan dirimu?’ Tanyaku. ‘Aku adalah Sukainah binti Husain As.’ Jawabnya. Aku berkata: ‘Apa yang bisa aku bantu? Aku adalah Sahal bin Sa’ad, sahabat Nabi yang melihat dan mendengar perkataan kakekmu.’ Ia berkata: ‘Wahai Sahal! Jika memungkinkan, mintalah kepada mereka untuk menjauhkan kepala itu dari barisan kami sehingga masyarakat akan sibuk memandangi kepala itu dan akan berkurang dalam memandangi kami.’ Sahal Sa’idi berkata: ‘Aku sendiri yang akan membawa kepala suci itu dan aku berkata: ‘Apakah mungkin bagimu memenuhi hajatku bahwa engkau mengambil untuk setiap hajat yang aku miliki dengan 40 dinar emas merah (400 dinar)?’ ‘Apakah hajatmu?’ Tanyanya. Aku menjawab: ‘Ambil uang ini dan aku akan mengambil kepala itu kemudian akan kubawa jauh dari para wanita itu.’ Laki-laki itu menerimanya lalu menjauhkan kepala itu dari orang-orang bengis itu.”[15] Mengenai bagaimana masuknya tawanan ke istana Yazid bin Muawiyah, Imam Baqir meriwayatkan bahwa para tawanan Ahlulbait As masuk ke istana Yazid dengan muka terbuka dan pada siang hari. Orang-orang Kufah saling membicarakan keadaan tawanan dan berkata: Kami belum pernah melihat tawanan secantik ini. Siapakah gerangan mereka? Ketika itu, bibiku Sukainah dengan suara lantang berkata: “Kami adalah para tawanan, keluarga Muhammad Saw. [16]


Kembali ke Madinah

Setelah selesai masa penawanan, Sukainah pun kembali ke Madinah bersama dengan rombongan tawanan. Namun dari kabar-kabar yang dapat dipercaya tidak diketahui secara jelas bagaimana kehidupan Sukainah di Madinah hingga wafatnya. Barangkali percakapan Sukainah dan putri Utsman merupakan salah satu sumber yang bisa dipercaya pada masa itu. Dinukilkan bahwa pada suatu hari Sukainah menghadiri sebuah majelis. Anak perempuan Umar demi menunjukkan kehebatan dan keangkuhannya berkata: Aku adalah putri seorang syahid. Sukainah tidak memberi jawaban itu sehingga terdengar suara adzan. Ketika Muadzin menyerukan “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” Sukainah berkata: Ini ayahku ataukah ayahmu? Seketika itu pula, anak perempuan Umar itu pun menjadi malu dan berkata: Aku tidak akan berlaku sombong lagi dihadapanmu. [17] Sekembalinya Fatimah binti Husain di Madinah dan juga ketika ia bersama dengan para wanita Ahlulbait As, ia sibuk menjelaskan dan mengungkap kejahatan-kejahatan Bani Umayah dan pengkhianatan-pengkhiatan serta kebrutalan-kebrutalan mereka pada peristiwa Karbala bagi para penduduk Madinah dan lainnya sehingga ingatan masyarakat Madinah akan kejahatan Bani Umayah akan tersimpan di pikiran mereka. Syair-syair yang dilantunkannya dalam mengenang Sayidus Syuhada masih tetap ada dan merupakan dalil atas kebenaran perkataan ini. Oleh itu, pihak penguasa tidak menyukai kehadirannya di Madinah dan atas perintah Yazid, ia bersama dengan bibinya, Zainab diusir dari Madinah dan pergi ke Mesir. Berdasarkan nukilan dari sebagian sumber sejarah, Sukainah binti Husain As dan saudarinya, Fatimah binti Husain dan sebagian para wanita Bani Hasyim pergi ke Mesir bersama dengan Sayidah Zainab Sa. Mereka bergerak semenjak bulan Rajab dan sampai di Mesir, mereka mendapatkan sambutan hangat dari Mualamah bin Mukhalid, gubernur Mesir dan juga para pembesar Mesir. [18]


Perbedaan yang menjadi persengketaan

  • Lirik dan Sajak

Abul Faraj Isfahani menyandarkan kepada Sukainah evaluasi lirik dan syair yang disusun oleh sekumpulan penyair-penyair terkemuka. [19] Abul Faraj menukilkan riwayat ini dari Zubair bin Bikar yang merupakan musuh keluarga Ali As bahkan juga merupakan musuh Bani Hasyim yang lain. Seseorang yang menciptakan kebohongan ini bagi pria dan wanita Ahlulbait As, ingin menghilangkan peran Sukainah. Oleh itu, pada zaman Mutawakil ia melarikan diri dari dan pergi ke Baghdad. [20] Di samping itu, pada silsilah sanad-sanad riwayat ini terdapat nama Umar bin Abu Bakar al-Mu’mili yang riwayat-riwayatnya sangat lemah dan tidak berdasarkan sanad yang kuat bahkan menurut sebagian pendapat ulama Ahlu Sunah, [21]. ia adalah momok dari momok-momok yang ada. [22] Abul Faraj dalam kitab yang ditulisnya sendiri mengakui bahwa kemampuan kemasyarakatan yang dimiliki oleh Sukainah binti Hasan adalah bahwa Sukainah merupakan penanggung jawab urusan Umawi dan aku tidak pernah menyebut namanya meskipun hanya kepada seseorang selama hidupku. [23] Demikian juga banyak puisi yang disandarkan kepada oleh Sukainah yang sebenarnya bukan karyanya melainkan sebagai karya Sukainah binti Khalid bin Musha’ab Zubair yang berhubungan dengan Umar bin Abi Rabiah, seorang penyair dan penulis lirik. Kemiripan nama Sukainah binti Husain dengan Sukainah binti Khalid bin Musha’ab, istri Umar bin Abi Rabi’ah dan percampuran dua nama ini menyebabkan terciptanya kisah-kisah aneh dan sangat banyak dari syair-syair ini dan kumpulan-kumpulan karya Sukainah binti Husain dibawah pengawasan Aisyah binti Thalhah bin Abdullah, istri Musha’ab bin Zubair yang dengan Umar bin Abi Rabi’ah terkenal dalam lirik dan sajaknya. [24]

  • Jumlah Pernikahan

Hal-hal lain yang sering dikaitkan dengan Sukainah binti Husain As adalah pernikahannya yang ia lakukan berkali-kali. Dan yang aneh, diantara pernikahan-pernikahan itu terdapat nama-nama yang mencolok dan memiliki latar belakang permusuhan dengannya dan Ahlulbait As, bahkan merupakan musuh derajat pertama Ahlulbait As dan Syiah. Dalam riwayat Ahlus Sunah dikatakan bahwa Sukainah binti Imam Husain As setelah peristiwa Asyura dan kembali ke Madinah menikah dengan Mush’ab bin Zubair dan memiliki anak bernama Fatimah. Setelah Mush’ab terbunuh, ia menikah dengan Abdullah bin Utsman bin Abdullah bin Hakim bin Hazam bin Khaulid dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Utsman. Setelah itu, ia menikah dengan Zaid bin Amru bin Utsman bin Affan, kemudian menikah dengan Ibrahim bin Abdurahman bin Auf. Namun karena adanya surat Hisyam bin Abdul Malik, wali Madinah ia bercerai dengannya dan setelah itu ia menikah dengan Ashbagh bin Abdul Aziz bin Marwan dan kemudian menikah lagi dengan Ibrahim bin Abdurahman bin Auf. [25] Mengingat bahwa berdasarkan riwayat Syiah, Sukainah setelah menikah dengan Abdullah bin Hasan hingga ia wafat tidak menikah dengan siapa pun, tidak diragukan lagi bahwa dugaan buruk yang dilancarkan oleh musuh untuk merusak keluarga Ali as dan Ahlul Bays As dalam upaya untuk menghilangkan tauladan Ahlulbait As diantara kaum muslimin dan penentang Ahlulbait As. [26]

Berdasarkan riwayat-riwayat yang terkait dengan pernikahan Sukainah binti Husain As yang berkali-kali tersebut, terdapat dua sanggahan yang paling penting: Pertama: Dari para penulis sejarah, tidak didapatkan nama dari suami atau anak-anak dari wanita ini. Riwayat yang ada hanyalah riwayat yang berasal dari Abul Faraj Isfahani dan orang-orang segolongannya yang merupakan orang-orang yang dekat dengan Muawiyah. Wanita yang digambarkan oleh Imam Husain As dengan: “Sukainah sangat larut dalam dzat suci Ilahi, oleh itu, tidak pantas jika dikaitkan dengan urusan suami istri”, bagaimana mungkin Sukainah seperti apa yang digambarkan oleh Abul Faraj Isfahani? Kedua, pernikahan ini, terutama pernikahan dengan Mush’ab bin Zubair karena permusuhan kerasnya keluarga Zubair dengan Ahlul Bait As dan karena ketidaksetujuan mereka antara yang satu dengan yang lainnya, maka pernikahan antara Sukainah dan Mush’ab adalah sesuatu yang tidak mungkin dan dari sisi persyaratan agama dan sosial juga melarang pernikahan ini, maka bagaimana mungkin Sukainah menikah dengan Mush’ab sementara ia adalah musuh utama keluarga Ali dan syiah Ali dan juga bahwa kaum Syiah selalu menghunuskan pedangnya bagi Mush’ab. [27]


Karakter Intelektual dan Spiritual Sukainah

Sukainah binti Imam Husain As dikenal sebagai wanita yang paling cerdas dan paling baik budi pekertinya pada zamannya. [28] Dalam kemuliaan dan kesempurnaannya sama dengan ayahandanya, Imam Husain As dan Sukainah sangat larut dalam dzat suci Ilahi. [29] Pada kitab dan sumber-sumber perawi hadis, Sukainah binti Husain dikenal sebagai perawi hadis yang handal dan bisa dipercaya. [30] Ia termasuk perawi hadis dari ayahandanya, Aba ‘Abdillah al-Husain As. [31] Orang-orang seperti Salma Amah Ya’li, [32] Faid Madani, Sukainah binti Ismail bin Abi Khalid dan Sukainah binti Qadhi Abu Dzar merupakan orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Sukainah binti Husain As. [33]

Dari tipologi kepribadian Sukainah binti Husain As bisa disebutkan bahwa ia menguasai seni dan sastra. Sukainah sangat memiliki kemampuan dalam kefasihan bahasanya. Meskipun Ahlulbait As menjauhi syair dan hal-hal semacamnya namun karena adanya kesedihan atau musibah yang menimpa Imam Husain As, maka ia melantunkan syair-syair yang bernuansa kesedihan itu. Sukainah menggubah syair yang memiliki lirik sangat sangat menyentuh untuk mengenang ayahandanya. Diantara syair-syair dan kasidah-kasidah itu adalah: لا تعذلیه فهم قاطع طرقه فغینه بدموع ذرف غدفه ان الحسین غداة الطف یرشقه ریب المنون فما ان یخطی الحدقه بکف شر عبادالله کلهم نسل البغایا و جیش المرق الفسقه یا امة السوء هاتوا ما احتجاجکم غذا و جلکم بالسیف قد صفقه Jangan menyalahkan orang yang telah kehilangan jalannya karena dari matanya banyak mengalir air mata. Pada hari Asyura sebuah anak panah meluncur ke badan suci Imam Husain As dan tepat mengenai sasaran. Anak panah itu pun dilihat oleh mata Imam Sajad dengan sangat jelas. Tindakan ini dilakukan oleh orang yang paling buruk, anak haram, keluar dari agama dan fasik. Wahai seburuk-buruk umat, katakan dalil-dalilmu pada hari kiamat kelak karena kalian semua telah memenggal kepalanya dengan pedang-pedang kalian. [34]


Wafat

Terdapat perbedaan terkait dengan bagaimana dan dimana Sukainah binti Husain meninggal. Namun berdasarkan nukilan dari berbagai literatur, ia wafat pada pada hari ke-5 Rabiul Awwal tahun 117 H[35] pada zaman Khalid bin Abdullah bin Harits. [36] Menurut nukilan dari Khalid bin Abdul Malik[37] ia meninggal di Madinah. [38] Berdasarkan nukilan dari literatur Ahlu Sunah, Khalid bin Walid menyalati jenazahnya dan dikuburkan di pemakaman Baqi. [39]

Beberapa sumber menyatakan bahwa ketika Sukainah binti Husain As menikah dengan Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan, ia bergerak dari Madinah ke Mesir dan meninggal di Suriah. [40] Oleh itu, ia dimakamkan di Pemakaman Bab al-Sughair, sebuah pemakaman yang terkenal dengan pemakaman Sukainah. Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa setelah ia menikah dengan Asbagh bin Abdul Aziz bin Marwan, ia pergi ke Mesir dan meninggal serta dikuburkan di sana. Pada masa sekarang terdapat kubah di pemakaman Bab al-Sughair yang diyakini sebagai kuburan Sukainah binti Husain As. [41]

Catatan Kaki

  1. Al-Isfahani, Abul Faraj, Maqātil al-Thālibin, jld. 4, hlm. 192; Ibnu Atsir, Ali bin Abil Karam; Al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 4, hlm. 94.
  2. Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tārikh Thabari), jld. 5, hlm. 464; Ibnu Atsir, Ibid, hlm. 86, Ibnu Atsir, Abul Fada Ismail bin Umar, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 8, hlm. 196, Ibnu Sabagh, Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifah al-Aimah, jld. 2, hlm. 836.
  3. Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, ibid, jld. 21, hlm. 79; Syaikh Mufid; Al-Irsyād, jld. 2, hlm. 25; Hasani, Ibnu ‘Unabah, Umdah al-Thālib fi Ansāb Ali Abi Thalib, hlm. 90, Ibnu Sabagh; Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, jld. 2, hlm. 751.
  4. Ibnu Khalqan, Wafiyāt al-A’yān wa Abna Al-Zamān, jld. 2, hlm. 397; Ibnu Jauzi, Abdurahman bin Ali, Al-Muntazham fi Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tārikh Thabari), jld. 7, hlm. 175, Al-Isfahani, Abul Faraj, Al-Aghani, jld. 16, hlm. 360.
  5. Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 195; Abul Faraj al-Isahani, Al-Aghani, ibid, jld. 16, hlm. 366, Al-Shafadi, Al-Wafi bi al-Wafiyat, jld. 15, hlm. 182.
  6. Syaikh Mufid, Al-Irsyād, jld. 2, hlm. 465.
  7. Ibnu Shaufi, Nasabah; Al-Majdi fi Ansāb al-Thālibin, hlm. 201 dan Ibnu Hazam, Jumhurah Ansāb al-Arāb, hlm. 105.
  8. Al-Maghribi, Al-Qadhi al-Nu’man, Syarah al-Akhbār, jld. 3, hlm. 180-181; ibid, jld. 15, hlm. 182, Ibnu Asakir, Tārikh Madinah Dimasyq, jld. 69, hlm. 205, Thabarsi, I’lām al-Wara bi A’lām al-Hudā, jld. 1, hlm. 418.
  9. Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubrā, hlm. 371; Al-Thabari, ibid, hlm. 520; Abul, Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibin, Ibid, hlm. 94, Ibnu Asakir, ibid, hlm. 120.
  10. Majlisi, Muhammad Baqir, Jalā al Uyun, hlm. 408, Musawi Muqaram, Abdul Razak, Maqtal al-Husain, hlm. 276-278.
  11. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Ali Abi Thalib, jld. 4, hlm. 109 dan al-Muqaram, ibid, hlm. 277.
  12. Ibnu Syahr Asyub, ibid, hlm. 109-110, Qunduzi, Yanābi al-Mawadah Lidzawi al-Qurba, jld. 3, hlm. 79.
  13. Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Al-Jamiah li Durar Akhbār al-Aimah Athhar, jld. 45, hlm. 47; Al-Buhrani, Abdullah, Al-‘Awālim Imām Husain, hlm. 289, Al-Qunduzi, ibid, hlm. 79.
  14. Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf, hlm. 134; Al-Buhrani, ibid, hlm. 303.
  15. Al-Khawarizmi, Al-Muwaffaq bin Ahmad, Maqtal Husain, hlm. 60-61, Bihār al-Anwār, ibid, jld. 45, hlm. 127-128.
  16. Syaikh Shaduq, al-Amāli, hlm. 166, Fital Naisyaburi, Muhammad bin Hasan, Raudha al-Wa’izhin, jld. 1, hlm. 191, Himyari Qumi, Abdullah bin Ja’far, Qurb al-Asnād, hlm. 14, Buhrani, ibid, hlm. 395.
  17. Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, ibid, jld. 16, hlm. 362, Al-Amin, Muhsin, A’yān al-Syi’ah, jld. 3, hlm. 492.
  18. Yahya bin Hasan bin Ja’far, Akhbār al-Zainabiyat, hlm. 119.
  19. Al-Isfahani, Abul Faraj, Al-Aghani, jld. 2, hlm. 570, 577-578, jld. 16, hlm. 379-380, hlm. 374-375.
  20. Al-Halwa, Muhammad Ali Sayid Yahya, Aqilah Quraisy Aminah binti Husain al-Malaqabah bin Sukainah, hlm. 53-55 menurut nukilan Wafayāt al-A’yān.
  21. Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 9, hlm. 102, Ibnu Asakir, Tārikh Madinah Dimasyq, jld. 43, hlm. 552.
  22. Ibnu Asakir, ibid, hlm. 552.
  23. Abul Faraj Isfahani, ibid, jld. 1, hlm. 281-282.
  24. Abul Faraj Isfahani, ibid, jld. 1, hlm. 281-282.
  25. Abul Faraj Isfahani, ibid, jld. 16, hlm. 366, Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 8, hlm. 437; Ibnu Khalqan, Wifayāt al-A’yān wa Abna Al-Zamān, jld. 2, hlm. 393, Shafadi, Al-Wafi bi al-Wāfiyat, jld. 15, hlm. 182.
  26. Al-Halwa, ibid, hlm. 145.
  27. Al-Halwa, ibid, hlm. 99-146.
  28. Ibnu Khalqan, Ibid, jld. 2, hlm. 394, Shafadi, ibid, hlm. 182.
  29. Al-Muqaram, ibid, hlm. 349.
  30. Ibnu Hibban, Al-Tsiqat, jld. 4, hlm. 352.
  31. Ibnu Hibban, ibid, hal 352
  32. Ibnu Makula, ibid, Ibnu Asakir , ibid, hlm. 352
  33. Ibnu Sufi Nasabah, Al-Majdi fi Ansāb al-Thālibin, hlm. 582-583, Tastari, Syahid Nurullah, Ihqāq al-Haq, jld. 27, Ibnu Khalqan, ibid, jld. 2, hlm. 396.
  34. Ibnu Asakir, ibid, jld. 69, hlm. 218; Ibnu Khalqan, ibid, jld. 2, hlm. 396.
  35. Khalifah bin Khayath, Tārikh Khalifah bin Khayāth, hlm. 225; Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya; Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 107, Ibnu Khalqan, ibid, jld. 2, hlm. 396.
  36. Ibnu Sa’ad, ibid, hlm. 347, Ibnu Asakir, ibid, hlm. 217.
  37. Al-Baladzuri, ibid, jld. 2, hlm. 197.
  38. Ibnu Sa’ad, ibid, hlm. 347; Khalifah bin Khayath, ibid, hlm. 225; Al-Baladzuri, ibid, jld. 2, hlm. 197; Ibnu Asakir, ibid, hlm. 217.
  39. Ibnu Sa’ad, ibid, hlm. 347, Ibnu Asakir, ibid, hlm. 217
  40. Ibnu Asakir, jld. 2.
  41. Ahlulbait fi Misr, hlm. 216


Daftar Pustaka

  • Isfahani, Abul Faraj, Maqātil al-Thalibin, Periset: Ahmad Saqar, Beirut, Dar al-Ma’rifah, tanpat tempat, jld. 4.
  • Al-Isfahani, Abul Faraj, Al-Aghani, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, Cet. 1, 1415.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abil Kiram, Al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, Dar Shadir, Beirut, 1965, jld. 4.
  • Ibnu Khalqan, Wafayāt al-A’yān wa Anba al-Zamān, Periset: Ihsan Abbas, Libanon, Dar al-Tsaqafah, jld. 2.
  • Ibnu al-Jauzi, Andurrahman bin Ali, Al-Muntazhim fi Tārikh al-Umam wa al-Muluk, Periset: Muhammad Abdul Qadir ‘Atha wa Musthafa Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Ilmiyah, cet. 1. 1992. Jld. 7.
  • Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tārikh Dimasyq.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh al-Thabari), Periset: Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Beirut, Dar al-Tsurats, cet. 2, 1967, jld. 5.
  • Ibnu Katsir, Abul Fada Ismail bin Umar, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1986, jld. 8.
  • Ibnu Sabagh, Al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifah al-Aimmah, Periset: Sami al-Gharizi, Dar al-Hadits, cet. 1, 1422, jld. 2.
  • Syaikh Mufid, Al-Irsyad, Qum, Kongere Syaikh Mufid, hlm. 1413, jld. 2.
  • Hasani, Ibnu ‘Anbah, Umdah al-Thālib fi Ansāb Ali Abi Thalib, Qum, Anshariyan, 1417.
  • Ibnu Saufi Nasabah, Al-Majdi fi Ansāb al-Thālibin, Qum, Mar’asyi Najafi, Cet. 2, 1422.
  • Ibnu Jazm, Jumharah Ansāb al-Arab, Periset: Beberapa Ulama, Beirut, Dar al-Kitab a-Ilmiyah, cet. 1, 1983.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyrāf, Riset: Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, Dar al-Ta’arif, cet. 1, 1977, jld. 2.
  • Al-Safadi, Al-Wāfi bi al-Wāfiyat, Riset: Ahmad Arnauth wa Turki Mustafa, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats, 2000, jld. 15.
  • Al-Maghribi, Al-Qadhi al-Nu’man, Syarah Al-Akhbar, Riset: SAyid Muhammad Husaini al-Jalali, Qum, Jamiah Mudarisin, cet. 2, 1414 jld. 3.
  • Thabarsi, I’lam al-Wuri bi A’lam al-Huda, Tehran, Islamiyah, cet. 3 1390 H, jld. 1.
  • Ibnu Sa’ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Riset: Muhammad bin Shamal al-Salmi, Thaif, Maktabah al-Shadiq, cet. 1, 1993.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Jala al-Uyun, Jawidan, tanpa tahun.
  • Al-Musawi, Al-Muqram, Maqtal al-Husain As, Beirut, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. 5, 1979.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib, Qum, Allamah, 1379 H, jld. 4.
  • Al-Qunduzi, Yanabi’ Al-Mawadah Lidzawi al-Qurba, Riset: Ali Jamal Asyraf Husaini, Dar al-Uswah, cet. 1, 1416, jld. 3.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar al-Jamiah Li Durar Akhbar Aimah Athhar, Tehran, Islamiyah, tanpa tempat, jld. 45.
  • Al-Bahrani, Abdullah, Al-‘Awalim al-Imam al-Husain As, Riset: Madrasah Imam Mahdi Afs, Madrasah Imam Mahdi, cet. 1, 1407.
  • Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf, Tehran, Jahan, 1348 S.
  • Al-Kufi, Ibnu A’tsam, Al-Futuh, Riset: Ali Syiri, Beirut, Dar al-Adhwa, cet. 1, 1991.
  • Al-Khawarizmi, Al-Muwafaq bin Ahmad, Maqtal Husain, Riset: Muhammad Samawi, Qum, Maktabah al-Mufid, tanpa tahun.
  • Syaikh Shaduq, Al-Amali, Kitab Khaneh Islamiyah, 1362 S.
  • Fital Nisyaburi, Muhammad bin Hasan, Raudha al-Wa’izhin, Qum, Intisyarat Radhi, tanpa tahun, jld. 1.
  • Hamiri Qumi, Abdullah bin Ja’far, Qurb al-Asnad, Tehran, Nainawa, Tanpa tahun.
  • Al-Amin, Muhsin, A’yan al-Syi’ah, Riset: Hasan Amin, Beirut, Dar al-Ta’aruf, tanpa tahun, jld. 3.
  • Yahya bin Hasan bin Ja’far, Akhbar al-Zainabiyat, Nasyar Muhammad Jawad al-Husaini al-Mar’asyi, tanpa tempat, tanpa tahun.
  • Al-Halwa, Muhammad Ali Sayd Yahya, Aqilah Quraisy Aminah binti Husain Malqabah bisakinah, Qum, Muasasah Sibtain Alamiyah, cet. 2, 1382 S.
  • Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib, Beirut, Libanon, Dar al-Fikr lil Thaba’ah wa al-Nasyar wa al-Tuzi’, cet. 1, 1984, jld. 9.
  • Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, Beirut, Dar al-Fikr, 1415.
  • Al-Musawi al-Muqaram, Abdul Razaq, Maqtal Husain, Beirut, Dar Kitab al-Islamiyah, cet. 5, 1979.
  • Ibnu Khalqan, Wafayat al-A’yan wa Abna Abna al-Zaman, Riset: Ihsan Abbas, Libanon, Dar al-Tsaqafah, jld. 2.
  • Al-Shafadi, Al-Wafi bi al Wafiyat, Riset: Ahmad Arnauth dan Turki Mustafa, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats, 2000, jld. 15.
  • Ibnu Habban, Al-Tsiqāt, Haidar Abad, Cetakan Majlis Dairah al-Ma’arif Utsmaniyah, Muasasah al-Kitab al-Tsaqafiyah, jld. 4.
  • Al-Thabari, Al-Mu’jam al-Kabir, Riset: Abdul Majid Salafi, tanpa tempat, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun, jld. 3.
  • Ibnu Makula, Ikmal al-Kamāl, tanpa tempat, Al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibnu Saufi, Nasabah, Al-Majdi fi Ansāb al-Thālibin, Qum, Mar’asyi Najafi, cet. 2, 1422.
  • Al-Tastari, Syahid Nurullah, Ihqāq al-Haq (Al-Asl), tanpa tahun, tanpa tempat, jld. 27.
  • Khalifah bin Hayath, Tārikh Khalifah bin Hayath, Riset: Fawaz, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cet. Awal, 1995.
  • Al-Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyrāf, Riset: Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, Dar al-Ta’arif, Cet. 1, 1977, jld. 2.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tārikh Thabari), Riset: Muhammad Abul Fadzl Ibrahim, Beirut, Dar al-Tsurats, cet. 2, 1967, jld. 7.
  • Khusrusyahi, Sayid Hadi, Ahlulbait fi Mishr, Maktabah al-Syuruq al-Daulah, 1425 H.