tanpa prioritas, kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Ilham

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Ilham (Bahasa Arab: إلهام) di dalam irfan dan filsafat Islam memiliki arti; sampainya sebuah hakikat atau hakikat-hakikat ghaib ke dalam hati mukmin dimana kebanyakan membuatnya berhasrat kepada hal-hal yang baik.

Korelasi ilham dengan wahyu dan metode-metode sampainya ilham merupakan salah satu permasalahan yang masih diperselisihkan di antara ilmuan-ilmuan muslim. Berbeda dengan para pengikut masya`i, ilham menurut irfan dan filsafat beraliran hikmah Mulla Sadra, memiliki keabsahan sebagai salah satu sumber pengetahuan dan makrifat. Perkara ghaib ini bisa saja secara langsung dari sisi Allah atau bisa juga melalui perantara malaikat.

Terminologi

Arti ilham secara bahasa: Kata ilham merupakan kata Arab dari bab “if`al” yang huruf dasarnya adalah “ Lam-Ha-Mim” yang memiliki arti “tercurahkan dalam hati’ dan “tertanam” [1].

Arti ilham secara istilah: dalam istilah urafa (irfan), ilham merupakan suatu perkara yang berasal dari sisi ghaib yang masuk ke dalam hati. Juga memiliki arti pemberian dan penyematan suatu makna dan makrifat melalui jalur faidh (rahmat) Ilahi, tanpa membutuhkan proses berfikir dan perenungan serta tanpa adanya permintaan dari sisi orang tersebut. Perkara ini tidak memiliki tanda-tanda serta indikasi apapun. Satu-satunya tanda yang dimilikinya hanyalah; akibat dari (ilham) tersebut manusia menjadi bersemangat untuk melakukan suatu perbuatan atau berkeinginan untuk meninggalkan suatu (perbuatan) [2].

Nama-nama lain ilham: Ilqa`ul kheir (abstraksi kebaikan) [3] , Wahy al-Qalb (wahyu hati), Ilqau raw`i (penyematan spiritualitas) wa Naftsu ruhi (tiupan kejiwaan) [4] , limmatul malak[5] (penyematan-penyematan yang sangat samar dan cepat).

Ilham dalam Al-Quran

Sumber istilah ini adalah ayat Al-Quran surah Al-Syams ayat 8 (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا) yang artinya “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”. Ilham dalam ayat ini secara umum ditafsirkan dengan arti “memahamkan”, mengumumkan, mendefinisikan dan menjelaskan[6]. Tentunya para sufi memiliki penjelasan bahwa ilham dalam ayat ini bukan sekedar “ pikiran dan hal-hal yang terlintas dalam pikiran” saja. Pikiran apapun, baik itu hal buruk, dari sisi Allah dimana Dialah penggugah pikiran. Sedangkan ketika (pikiran) jatuh ke dalam hati manusia, bisa dibagi menjadi dua bentuk; ilham yang muncul dari sisi Allah dan was-was yang bersumber dari syaitan[7].

Hubungan antara Ilham dan Wahyu

Ada beberapa pendapat berkenaan dengan hubungan antara ilham dan wahyu. Sebagian berkeyakinan bahwa antara ilham dan wahyu terdapat perbedaan yang banyak dan jelas[8] . Sebagian lain menganggap bahwa perbedaan antar ilham dan wahyu adalah di dalam ruang lingkup aplikasi atau pengaplikasiannya dan menganggap bahwa ruang lingkup ilham lebih luas dari wahyu, tetapi satu sama lainnya tidak sepenuhnya terpisah. Dan menurut pendapat kelompok ini wahyu merupakan suatu bentuk khusus dari ilham[9].

Kebanyakan sufi beranggapan bahwa ilham dan wahyu secara makna berdekatan satu sama lain[10] dan berkeyakinan bahwa pemisahan antara dua hal ini hanya bisa diketahui melalui jalan latihan pembentukan jiwa dan suluk yang dilakukan pribadi arif dan dalam perjalanan inilah seorang arif bisa menyadari perbedaan (ilham) dengan wahyu melalui apa yang sampai dan diilhamkan dari sisi ghaib kepadanya[11].

Pada kenyataannya menurut pendapat para sufi, ilham merupakan suatu bentuk dari kontinuitas wahyu. Dalam proses ini, dimana setelah wahyu selesai dengan selesainya fase kenabian, tiba giliran fase wilayah dan para wali satu demi satu datang dimana hubungan mereka dengan yang ghaib terjadi melalui jalan ilham dan ruang lingkup ilham hanya dikhususkan untuk mereka[12] . Dari sisi ini maka ilham menurut para arif merupakan penyokong wahyu, sebagaimana para wali Tuhan mengikuti para nabi[13].

Jalan Meraih Ilham

Pandangan para arif: Ilham bukanlah sebuah proses, dimana hal itu berada di tangan seseorang dan dengan usahanya dan manusia bisa mencapainya dengan belajar serangkaian teknik-teknik dan pekerjaan-pekerjaan. Akan tetapi seorang hamba melalui pengamatan terhadap ajaran-ajaran agama dan syariat [14] atau dengan perantara kesucian hati, [15] mereka bisa mencapai sebuah kedudukan dimana di dalam kedudukan tersebut dia dapat meraih ilham.

Pandangan para filsuf: Berbeda dengan pandangan para arif, para filsuf berkeyakinan bahwa ilham tergantung pada kaitan antara jiwa manusia dengan jiwa-jiwa semesta, dan dengan perantara keterbebasan jiwa dari ikatan-ikatan duniawi dan materi, jiwa bisa meraih sebuah kedudukan dimana dia bisa menyaksikan alam ghaib sebagaimana dia menyaksikan alam materi[16].

Pendapat sebagian sufi: Sebagian sufi memiliki perhatian pada uraian filsuf ini dan mereka beranggapan bahwa jika dalam keadaan sadar, terjadi hubungan dan interaksi antara jiwa natiq manusia dan jiwa semesta, maka dalam keadaan ini, ilham akan datang pada manusia tanpa perlu kehadiran malaikat dan utusan untuknya[17].

Keabsahan atau Validitas Ilham

Pandangan mashur para filsuf: Menurut pandangan filsuf rasionalis yang hanya mempertimbangkan dan berlandaskan pada argumen rasional, maka ilham tidak memiliki otentifikasi dan keabsahan[18].

Pandangan mashur urafa dan filsuf beraliran Sadra Mutaallihin bertentangan dengan pendapat ini (filsuf rasionalis), dalam pandangan dunia irfani dan hikmah muta`aliah, ilham dan hal yang diperoleh seseorang melaluinya, dianggap memiliki keabsahan[19] . Mereka berkeyakinan bahwa manusia dapat meraih pengetahuan melalui dua jalan; salah satunya melalui proses belajar dan burhan dan yang lain melalui ilham dari sisi Allah[20].

Menurut pandangan sekelompok ulama ini, manusia memiliki dua hati. Satu hati yang condong ke sisi malakut dan satunya yang condong ke sisi alam dunia dan alam mulk. Dengan hati malakutinyalah dia memperoleh pengetahuan intuitif dan pengetahuan yang bersumber dari ilham. Sedangkan dengan hati duniawi atau mulkinya dia memperoleh pengetahuan ilmiah dan rasional. Jika pintu-pintu hati manusia terbuka ke sisi alam malakut, maka akan terilhamkan kepadanya pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh malaikat atau pengetahuan-pengetahuan yang tersemat dalam Lauhul Mahfudz sesuai dengan kapasitas yang dimiliki hati tersebut[21].

Manfaat-manfaat Ilham

Menurut para sufi, ilham memiliki kapsitas-kapasitas dan manfaat-manfaat sebagai berikut:

  • Ilham adalah sumber perancangan berbagai konsep-konsep irfani. [22]
  • Sebagian dari hadis-hadis nabawi dijaga dan difahami melalui bantuan ilham. [23]
  • Ilham membantu dalam penulisan dan penyusunan sebagian karya-karya sufi. [24]
  • Melalui ilham kita bisa menjangkau fisiognomi (memahami pribadi serta ahlak seseorang melalui penampakan luar). [25]
  • Memperoleh informasi berkenaan dengan masa lalu dan masa yang akan datang. [26]
  • Ilham sebagai dasar utama makrifat Ilahi. [27]
  • Ilham merupakan realisasi secuil karomah-karomah dan proyek-proyek luar biasa. [28]
  • Ilham Membangun relasi Antara “murid” ( murid yang dibimbing) dan “murad” (guru yang membimbing) serta membantu evaluasi para tetua terhadap suluk dan kinerja para “murid” [29]

Macam-macam Ilham

Kategori pertama: Dalam suatu kategori, berdasarkan sumber dan asalnya, ilham dibagi menjadi dua:

  • Suatu ilham yang secera langsung bersumber dari Allah swt, disebut juga dengan khitab atau ilham Ilahi. [30]
  • Suatu ilham yang melalui perantara utusan atau malaikat atau mala`ul a`la[31].

Kategori kedua: dalam kategori lain, berdasarkan objek yang diberi ilham, ilham dibagi menjadi beberapa kelompok:

  • Ilham fitri atau instingtif: Suatu berkah yang mencakupi seluruh mahluk-mahluk, lebih umum dari manusia, hewan, benda mati dan bahkan syaitan.
  • Ilham non fitri: Ilham yang dikhususkan untuk manusia, ini dibagi menjadi dua:
  1. Ilham yang dikhususkan untuk para wali serta para wasi. [32]
  2. Ilham yang mencakup seluruh manusia.[33]

Catatan Kaki

  1. Mufradat Raghib, di bawah kata la ha ma; al-Zuzni, al -Masadir, jld 2, hal. 69; Dahaar, Dastur, jld 1, hal. 68; Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, di bawah kata la ha ma; Neisyaburi, tafsirul- gharaibil Quran, jld 30, hal. 100.
  2. Tahanawi, kasyāf istilahāt, jld 2, hal. 1308; al-Jurjani, at-Ta’rifat, hal. 28; Kastali, hasyiah ala syarhil aqaid, hal. 45-46; Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, di bawah kata la ha ma; Izzudin, Misbahul Hidayah, hal. 79; Abarquhi, Majma`ul Bahrain, hal. 132; Lihat juga : Shadruddin Al-Syawahid al-Rububiyyah, hal. 349.
  3. Ibid. Lihat juga: Thuraihi, Majmaul Bahrain, jld 4, hal. 146.
  4. Lihat: Jauhari, al-Shohah, di bawah kata la ha ma; Ibnu Fars, Mujma' al-Lughah, di bawah kata la ha ma; Abrquhi, Majma' al-Bahrain, hal. 131; Shadrud din, Al-Mabda…, hal. 484. Zubaidi, Ittihaf…, jld 7, hal. 245; Faidh, Ilm al-Yaqin, jld 1, hal. 360.
  5. Ibnu ‘Arabi, al-Futuhat, jld 4, hal. 303-304. (syarh kalimat…), hal. 365 dan seterusnya; Lihat juga: Ibnu Mandzur, lisan al- ‘Arab, di bawah kata lahama.
  6. Lihat juga: Thabari, Tafsir, jld 30, hal. 134. Neisyaburi, Tafsir Gharaib, jld 30, hal. 100. Thuraihi, Majma’ al-Bahrain, jld 31, hal. 193; Syaik al-Thusi, al-Tibyān, jld 10, hal. 258; Thabarsi, Majma al-Bayān, jld 10, hal. 755.
  7. Lihat: Ahmad Jam, Uns…, hal. 253; Bandingkan: Ibnu Arabi, al-Futuhat, jld 4, hal. 303-304. Baba Afdzal, Mushannafāt, hal. 297-298.
  8. Ibnu Hazm, Al-Fasl, jld 5, hal. 17.
  9. Nasir Khusru, Zād al-Musāfirin, hal. 345; Lihat juga: Qusairi, Syarh fushus, hal. 35, yang mengatakan bahwa ilham sampai kepada semua mahluk.
  10. Abdur Razzaq, Syarh Manazil al-Sairin, hal. 155.
  11. Ala` al-Daulah, Musannafāt…, hal. 101.
  12. Amuli, Haidar, Jāmiul Asrār, hal. 458. Lihat juga : Kulaini, Al-Kāfi, jld 1, hal. 54.
  13. Izzuddin, Misbāh al-Hidayah, hal. 79.
  14. Nasir Khusru, zād al-Musāfirin, hal. 345.
  15. Lihat: Nasfi, al-Insān…, hal. 235,239.
  16. Abrquhi, Majma' al-Bahrain, hal. 131. Qutbu din, ِDurratu al-Tāj, jld 4, hal. 103 dan seterusnya; lihat juga Ibnu Sina, al-Isyarāt…, jld 4, hal. 142-145; Ibnu Sina (Al Fi`l), hal. 225-226.
  17. Nasfi, al-Insan al-Kamil, hal. 235,239,241,324; Lihat juga Jundi, Nafhat al-Ruh, hal. 89-90.
  18. Jurjani, al-Ta`rifāt, hal. 28; Hajwiri, Kasf al-Mahbub, hal. 347-348; Kastali, Hasiyah ala syarhi Aqaid, hal. 46; Abarquhi, Majma' al-Bahrain, hal. 133.
  19. Izzuddin, Misbāh al-Hidāyah, hal. 79.
  20. Amuli, Jami al-Asrar, hal. 423; Lihat juga: Shadruddin, al-Syawahid, hal. 348-349; al- Asfar, jld 1 hal. 384, dan seterusnya; al-Mabda’ wa al-Ma’ad, hal. 483-484.
  21. Ghazali, Ihya, jld 3, hal. 18 dan seterusnya; lihat juga Shadruddin, al Mabda` wa Al Ma`ad, hal. 484-488.
  22. Lihat: Shah Ni`matullah Wali, Risalah ha, jld 3, hal. 179 dan seterusnya. Najmuddin Kubra, Fawatihul Jamāl, hal. 88. Ruzbhan, Syarh Syathiyaat, Hal. 58.
  23. Ibid.
  24. Lihat: shah ni`matullah wali, Risalah ha, jld 1, hal. 401, 413; Khorzami, Syarh Fusus al- Hikam, jld 1, hal. 49; Ghazali, Minhāj…, hal. 3. Ahmad Jam, Uns, hal. 7; Raudhah…, hal. 5.
  25. Abarquhi, Majmaul Bahrain, hal. 131.
  26. Lihat: Ala` al-Daulah, al -Urwah, hal. 168,293; Lihat juga: fudzuli, Matla` al-I’tiqad, hal. 74; Abarquhi, Majmaul Bahrain, hal. 132; Pande Piran, hal. 61-62.
  27. Lihat: Hajwiri, Kasful Mahjub, hal. 348. Tahanawi, kashaf…, jld 2, hal. 1308.
  28. Parsa, qudsiah, jld 18, hal. 20;Ala` al-Daulah, al-Urwah, hal. 303, dan seterusnya.
  29. Lihat: Jami, Nafahaat…, hal. 469; Ala` al-Daula, Mushannafat, hal. 111.
  30. Khorazmi, Syarh fusus al-hikam, jld 1, hal. 204; Lihat juga: Asfarayini, Kāshif al-Asrar, hal. 46,55-56. Ruzbahan, Syarh Syathiyaat, hal. 608-609.
  31. Hamwiyah, al-Misbah fi al-Tahajud, hal. 71; Ismail Haqi, Ruh al-Bayan, jld 10, hal. 443.
  32. Amuli, Jami al-Asrar, Hal. 453-457; Meibudi, Kasyf al-Asrar, jld 5, hal. 410-411; Lihat juga Syaikh Makki, al-Janib al-Gharbi, hal. 41,85. Huyuz, hal. 213.
  33. Lihat: Amuli, Jami al-Asrar, hal. 455; Ibnu Abi Jumhur, Majali, hal. 293; Nasfi, al-Insan, hal. 90.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran
  • Abdur Razzaq Kasyani. Syarh Manāzil al-Sāirin. Tehran. 1354 S.
  • Abarquhi, Ibrahim, Majma` al-Bahrain, riset: Najib Mail Harvi, Tehran, 1364 S.
  • Ahmad Jam, Raudhah al-Mudznibin, riset: Ali Fadhil, Tehran. 1355 S.
  • Ahmad Jam, Uns al-Tāibin, riset: Ali Fadhil, Tehran, 1368 S.
  • Ala al-Ddawlah Simnani, Ahmad, al-Urwatu li Ahlil Khalwah wa Jalwah, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1362 S.
  • Ala al-Ddawlah Simnani, Ahmad, Musannafāt Fārsi, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1369 S.
  • Amuli, Haidar. Jāmi’ al-Asrār, Riset: Henry Karban dan Usman Ismail Yahya, Tehran, 1368 S.
  • Amuli, Muhammad, Nafais al- Funun, riset:Ibrahim Mianeji, Tehran, 1379 H.
  • Asfarayini, Abdur Rahman. Kāshif al- Asrār, riset: Herman Landlat, Tehran, 1358 S.
  • Baba Afdzal Kasyani, Muhammad, Musannafāt, riset: Mujtaba Meynawi dan Yahya Mahdawi, Tehran, 1366 S.
  • Dahar, Badr Muhammad, Dastur al- Ikhwan, riset: Said Najafi, Tehran, 1349 S.
  • Faydh Kasyani, Muhammad, ilm al-Yaqin, Qum, 1358 S / 1400 H.
  • Fudhuli, Muhammad, Matla’ al- I’tiqad, riset: Muhammad bin Taawit Thanji. Ankara. 1381 H /1962 M
  • Ghazzali, Muhammad, Ihya Ulum al-Din. Beirut : Dar al-Ma`rifat.
  • Ghazzali, Muhammad, Manhaj al-Abiddin, Kairo: Dar al-Ilm lil Jami`.
  • Hajwiri, Ali. Kasyful mahbub. Dengan upaya zhukufski. Tehran. 1358 hs/ 1979 M.
  • Hamuyah, Sa`duddin, al- Misbah fi Tasawwuf, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1362 S.
  • Ibnu Abi Jumhuri, Muhammad, Majali, Tehran, 1329 H.
  • Ibnu Arabi, Muhyiddin, al-Futuhaat al-Makkiyah, riset:Usman Yahya, Kairo, 1396 H/ 1975 M.
  • Ibnu Fars, Ahmad, Majm’ al-Lughah, riset: Zuhair Abdul Husain Sultan, Beirut, Muassasah al- Risalah.
  • Ibnu Hizam, Ali, Al fasl, Beirut, Darul Ma`rifat.
  • Ibnu Mandzur, Lisān.
  • Ibnu Sina, al-Isyaraat wa Tanbihat, riset: Sulaiman Dunya, Kairo, 1968 M.
  • Ismail haqqi Barwaswi, Ruh al-Bayan, 1405 H/1985 S.
  • Izzud din kashani, Mahmud, Misbahul Hidayah, riset: Jalaluddin Hamyani, Tehran, 1367 S.
  • Jami, Abdur Rahman, Nafahat al-Uns, riset: Muhammad Abidi, Tehran, 1370 S.
  • Jauhari, Ismail, al-Shohah, riset: Ahmad Abdul Ghafur Attar, Beirut, Darul Ilm Malayiin.
  • Jundi, Mu`minud din, Nafhat al- Ruh, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1362 S.
  • Jurjani, Ali, al- Ta`rifāt, Kairo, 1357 S/ 1938 H.
  • Kasteli, Hasyiyeh ‘Ala Syarhi ‘Aqaid, Istanbul, 1973 M.
  • Kharazmi, Husain, Syarh fhusus al-Hikam , riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1364 S.
  • Kulaini, Muhammad, al-Ushul Min al-Kāfi, riset: Ali akbar Ghaffari, Beirut, 1401 H.
  • Maibudi, Ahmad, Kasyfu al-Asrār, riset: Ali Asghar hikmat, Tehran, 1361 S.
  • Majlisi, Baqir Muhammad, Bihār al-Anwār, Beirut, 1403 H / 1983 M.
  • Nafsi, Azizuddin, Insān al-Kāmil, riset: Mari Zhan Maule, Tehran, 1983 M.
  • Najm Isfahani, Mahmud, Manahij al-Tthalibin, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1364 S.
  • Nasir khusru, Zād al-Musafirin, Berlin, 1341 H.
  • Naysaburi, Hasan, Tafsir gharāib al- Qurān, disertai dengan tafsir.
  • Pand Piyran, riset: Jalal Matini, Tehran, 1357S.
  • Parsa, Muhammad Qudsiye, riset: Ahmad Tahiri Iraqi, Tehran.,1354 S.
  • Qashari, Daud, Syarhu fushus al-Hikam, Tehran.
  • Quthbuddin Syirazi, Muhammad, Durrah al-Taj, riset: Muhammad Masykaweh, Tehran, 1317-132 S.
  • Raghib Isfahani, Musain, Mu`jam mufradaat alfadz al-Quran, Beirut, 1932 M.
  • Ruzbahar Baqali, Syarh Shathiyat, riset: Henri Karban, Tehran, 1360 S/ 1981 M.
  • Seikh Makki, Muhammad, al-Janib al-Gharbi, riset: Najib mail Harawi, Tehran, 1364 S.
  • Syaikh Thusi, al-Tibyan, riset: Ahmad Habib Qusair Amali, Beirut, Dar al-Ihya Turats al-Arabi.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad, al-Mabda` wa al-Ma`ad, riset: Jalaluddin Astiyani, Tehran, 1354 S.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad, Syawahid al-Rububiyah, riset: Jalaluddin Astiyani, Tehran, 1360 S.
  • Shadruddin Syirazi, Muhammad, Tehran, 1383 H.
  • Syah Nikmatullah Wali, Resaleha, riset: Muhammad Jawad Nur Bakhs, Tehran, 1355-1356 S.
  • Syarh kalamat Baba Tahir, terjemah: Khatib Waziri, disertai dengan penjelasan keadaan dan karya-karya dua bait Baba Taher Uryan. Riset: Maqsud. Tehran 1356 S.
  • T.P., Dictionary of Islam, New Delhi, 1885.
  • Thabari, Tafsir.
  • Thabarsi, Fadhl, Majma’ al-Bayan, Beirut, 1408 H/ 1966 M.
  • Tahanawi, Muhammad Ali, Kasyaf Istilahat al-Funun, riset: Muhammad wajih dan yang lainnya, Kalkateh, 1862 M.
  • Terjemah Al-Quran, Fuladvand.
  • Thuraihi, Fajruddin. Majma’ al-Bahrain, riset: Mahmud Adel, Tehran, Nasyre Farhange Islami.
  • Zubaidi, Muhammad, Ithaf al- Sadah al-Muttaqin, Beirut, Dar al-Fikr.
  • Zuzani, Husain, al-Masādir, riset: Muhammad Taqi Bines, Masyhad, 1340 S.