Prioritas: b, Kualitas: b

Malam Asyura

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Malam Asyura (bahasa Arab:ليلة عاشوراء) adalah petang hari ke-9 bulan Muharam dan keesokan harinya adalah hari Asyura. Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa lasykar Umar bin Sa'ad pada ashar Tasu'a (hari kesembilan) hendak menyerang, tapi Imam Husain as menyuruh Abbas bin Ali as supaya meminta kepada mereka agar diberikan kesempatan satu malam lagi sehingga bisa beribadah. Imam Husain as pada malam ini menyebut para sahabatnya adalah sahabat yang paling setia dan mereka pun menjawab kesetiaan mereka dengan perkataan heroik. Terdapat amalan-amalan pada malam ini seperti ihya (menghidupkan malam dengan beribadah) dan mendirikan salat 100 rakaat.

Peristiwa-peristiwa Malam Asyura

Pemberian Baiat kembali Para Sahabat Imam Husain

Imam Husain as, pada permulaan malam mengumpulkan sahabat setianya, setelah mengucapkan hamdalah, beliau berkata: «أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ أَصْحَاباً أَوْفَى وَ لَا خَيْراً مِنْ أَصْحَابِي وَ لَا أَهْلَ بَيْتٍ أَبَرَّ وَ لَا أَوْصَلَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَجَزَاكُمُ اللَّهُ عَنِّي خَيْرا»

Amma Ba'du. Aku tidak mengenal sahabat dan penolong yang lebih setia dan lebih lebih baik daripada kalian, dan tidak pula mengenal keluara lebih baik daripada keluargaku, Tuhan akan memberi pahala kepada kalian.

Kemudian beliau melanjutkan: Saya kira, malam ini adalah malam terakhir yang diberikan mereka kepada kita. Ketahuilah aku telah memberi ijin kepada kalian untuk meninggalkan medan. Pergilah dengan tenang karena tidak ada lagi baiat di pundak kalian. Oleh karena itu, ketika kegelapan menyelimuti, paculah kendaraan kalian dan pergilah.

Atas perkataan itu, dengan diawali oleh Ahlulbait Imam kemudian para penolong Imam, secara bergantian menyatakan kesetiaannya dan menegaskan bahwa mereka siap untuk mengorbankan jiwa mereka demi mempertahankan Imam. Sumber-sumber sejarah mencatat sebagian perkataan-perkataan ini. [1]

Menjaga Kemah

Malam Asyura, Abbas as bertugas menjaga kemah. Zuhair menyertainya. [2]

Perbincangan Burair dan Umar bin Sa'ad

Berdasarkan sebagian literatur menyebutkan bahwa Burair bin Khudhair meminta ijin dari Imam Husain untuk menemui Umar bin Sa'ad untuk menasehatinya. Imam Husain pun menerimanya.

Burair pergi menemui Umar bin Sa'ad dan memasuki kemahnya. Burair memasuki kemah tanpa memberi salam kepadanya. Umar marah dan berkata: Hai saudara Hamedan, apa yang menghalangimu sehingga kau tidak memberikan salam kepadaku? Apakah aku bukan seorang muslim dan aku tidak mengenal Tuhan dan nabinya, aku tidak bersaksi atas kebenaran?

Burair berkata:

Apabila memang demikian sebagaimana yang kau katakan bahwa kau mengenal Allah dan Nabinya, maka kau tidak akan memerangi keluarga Nabi, tidak akan membiarkan sungai Furat diminum oleh hewan-hewan yang kelaparan namun membiarkan Imam Husain bin Ali, saudara-saudaranya dan wanita-wanita keluarga Ahlulbait as tercekik kehausan. Kau mencegah mereka dari meminum air furat, kemudian menganggab bahwa kau mengenal Tuhan dan nabinya?

Umar bin Sa'ad sesaat menundukkan kepala, kemudian mendonggakkan kepalanya dan berkata: “Wahai Burair, Aku bersumpah aku yakin bahwa siapa saja yang memerangi hak mereka dan mengambil haknya maka ia akan berada di api jahanam, namun, wahai Barir, apakah kau menginginkan aku untuk meletakkan kekhalifahan dan memberikannya kepada orang lain? Aku bersumpah tidak akan melakukan hal ini.

Kemudian berkata: Ubaidullah mengutusku untuk melakukan hal ini dan sekarang aku tengah melakukannya. Sungguh aku tahu, aku berada diantara dua jalan yang sangat berbahaya. Apakah aku akan membiarkan jabatan gubernur Rei padahal itu adalah harapanku atau aku akan bertanggung jawab atas terbunuhnya Imam Husain as? Jika aku membunuh Husain kobaran api neraka tidak bisa aku cegah namun menjadi gubernur Rei juga menjadi keinginanku.

Kemudian Burair kembali ke arah Imam Husain dan berkata:

Wahai putra Rasulullah saw! Umar bin Sa'ad lebih mementingkan jabatan gubernur Rei dari pada keridhaan Anda. [3]

Mengamati Medan Perang

Pada pertengahan malam Asyura, Imam Husain as meneliti keadaan bebukitan dan tempat-tempat terjal di sekitar medan peperangan, beliau sendirian keluar dari kemah. Nafi' bin Hilal mengetahui hal ini, oleh karena itu ia secara pelan-pelan membuntuti Imam Husain as.

Imam Husain as menyadari kehadiran Nafi' dan bertanya: Mengapa keluar dari kemah?

Nafi' berkata: Wahai putra Rasulullah! Keluarnya Anda dari kemah membuat aku menjadi khawatir dan takut (atas tindakan musuh kepada Anda).

Imam bersabda: Aku keluar dari kemah untuk meneliti keadaan disekitar medan peperangan sebelum melakukan penyerangan besok hari.

Setelah meneliti keadaan, Imam dalam perjalanan pulang kepada Nafi' berkata: Apakah Anda tidak mau meninggalkan medan peperangan melalui dua bukit ini sehingga Anda akan selamat?

Nafi' mengikuti langkah-langkah Imam Husain as dan berkata: Aku memiliki pedang yang bernilai ribuan dirham dan kuda yang sangat bernilai, oleh sebab itu aku bersumpah demi Tuhan, aku akan selalu berada di jalan Anda selama pedangku dapat aku ayunkan dan aku tidak akan berpisah dari Anda sedikitpun. [4]

Kekhawatiran Zainab dan Kesetiaan Para Sahabat

Setelah itu, Imam Husain as kembali ke perkemahan dan memasuki kemah saudarinya, Zainab. Nafi' bin Hilal menunggu di luar kemah sambil duduk dan mendengar Hadhrat Zainab berkata kepada Imam Husain as:

"Saudaraku, apakah kau telah menguji seluruh sababatmu? Aku khawatir jika mereka akan mengkhianati kita dan ketika mereka terdesak, mereka akan menyerahkan engkau kepada pihak musuh?" Imam Husain as dalam menjawab pertanyaan saudarinya bersabda, "Demi Allah! Aku telah menguji mereka. Aku mendapati mereka laki-laki yang tetap akan berada di medan peperangan sehingga apabila mereka menatap kematian dan syahid di jalanku seolah-olah bayi yang menyukai dan merindukan air susu ibunya."

Nafi' ketika merasa bahwa Ahlulbait as mengkhawatirkan akan kesetiaan dan kekonsistenan para sahabatnya, ia pergi menemui Habib bin Mazhahir dan bermusyawarah dengannya. Mereka bersama dengan para sahabat Imam yang lain meyakinkan bahwa mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan demi melindungi Imam Husain as. [5]

Habib bin Mazhahir, memanggil sahabat Imam Husain as untuk berkumpul. Kemudian ia berkata kepada Bani Hasyim: Kembalilah ke kemah-kemah kalian, kemudian mengarahkan pandangannya kepada para sahabat dan mengatakan apa yang ia dengar dari Nafi. Mereka serempak berkata: "Kami bersumpah, jika saja kami tidak menunggu perintah Imam Husain, maka kami akan segera memerangi mereka sehingga akan mensucikan jiwa-jiwa kami dan akan menerangkan mata kami".

Habib bin Mazhahir bersama dengan para sahabat dengan pedang yang terhunus dan satu suara pergi ke kemah Ahlulbait as dan berteriak: “Wahai Ahlulbait Rasulullah saw! Pedang-pedang pemuda dan para ksatriamu tidak akan tersarungkan kembali sehingga akan menebas leher-leher orang-orang yang berbuat jahat kepadamu. Tombak-tombak ini adalah tombak-tombak putra-putra Anda, kami bersumpah bahwa tombak-tombak itu hanya akan tertancap di dada-dada mereka yang telah mengundang Anda namun kemudian melanggarnya. [6]

Malam Munajat

Pada sore Tasu'a, Umar bin Sa'ad memerintahkan kepada pasukannya untuk menyerang. Ketika Imam Husain as mengetahui niatnya, beliau memerintahkan kepada saudaranya, Abbas as:

"Jika mampu, mintalah kerelaan mereka untuk menunda peperangan ini hingga besok, dan mintalah kesempatan sehingga kita dapat beribadah kepada Allah dan salat. Allah mengatahui bahwa aku sangat menyukai salat dan membaca Alquran. [7] Dalam referensi-referensi disebutkan bahwa pada malam itu, Imam dan para sahabat setianya sibuk salat, doa dan istighfar. [8]

Acara-acara Khusus Malam Asyura

  • Berduka pada malam Asyura
  • Membaca Khutbah Malam Asyura di Haram Imam Ridha

Pada malam Asyura, acara membaca khutbah pada malam syahadah Imam Husain as dilaksanakan di pelataran Inqilab Islam Haram Imam Ridha as dengan dihadiri oleh segenap para pelayan Haram. Para pelayan melaksanakan acara dengan menyalakan lilin. [9]

Amalan Malam Asyura

Dalam kitab Mafatih al-Jinan disebutkan amalan-amalan pada malam ini, diantaranya:

  • Menghidupkan malam ini (ihya): Di riwayat dari Rasulullah saw disebutkan bahwa barang siapa yang menghidupkan mala mini dengan ibadah, seolah-olah ia telah melakukan ibadah seperti ibadah yang dilakukan oleh para malaikat.
  • Mendirikan salat 100 rakaat, dalam setiap rakaat setelah membaca surah Al-Fatihah, membaca surah Al-Ikhlash dan setelah selesai mengerjakan salat 100 rakaat, membaca «سُبْحانَ اللّهِ وَ الْحَمْدُ لِلّهِ وَ لا إلهَ إلاَّ اللّهُ وَ اللّهُ اَکْبَرُ وَ لا حَوْلَ وَ لا قُوَّةَ إلاَّ بِاللّهِ الْعَلِىِّ الْعَظِیمِ»
  • Mengerjakan salat 4 rakaat pada akhir malam, setelah mmebaca surah al-Fatihah, pada setiap rakaat membaca ayat Kursi 10 kali, surah al-Ikhlas 10 kali , surah Al-Falaq 10 kali dan surah al-Nas 10 kali. Setelah selesai, membaca surah al-Ikhlas 100 kali. [10]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 91-94; Thabarsi, I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, hlm. 239.
  2. Bahrul Ulum, Maqtal al-Husain, hlm. 314, Hairi, Mazandarani, Ma'ali al-Sibthain, jld. 1, hlm. 443.
  3. Irbili, Kasyf al-Ghumah, jld. 1, hlm. 589-590; Ibnu Sabagh Maliki, al-Fushul al-Muhimmah, jld. 2, hlm. 821-822.
  4. Al-Dam'ah al-Sakibah, jld. 4, hlm. 273, Al-Muqaram, ibid, 219.
  5. Behbahani, Muhammad Baqir, Al-Dam'ah al-Sakibah, jld. 4, hlm. 273-274.
  6. Muqaram, Maqtal al-Husain, hlm. 219.
  7. Al-Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh Thabari), jld. 5, hlm. 417; Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 91; Ibnu Katsir, al-Kamil fi al-Tarikh, hlm. 57.
  8. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 94.
  9. Quds Online.
  10. Mafātih al-Jinān, Syaikh Abas, Qumi, Amalan-amalan malam Asyura.

Daftar Pustaka

  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, I'lam al-Wara bi A'lam al-Huda, Teheran, Islamiah, 1390 H.
  • Syaikh al-Mufid, Muhammad bin Nukman, al-Irsyad, Qom, Kongres Syaikh Mufid, 1413 H.