Prioritas: b, Kualitas: c
tanpa link
tanpa foto
tanpa Kategori
tanpa infobox
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Kebangkitan Zaid bin Ali

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Kebangkitan Zaid bin Ali (bahasa Arab: ثورة زيد بن علي) adalah kebangkitan yang dipimpin oleh Zaid bin Ali melawan pemerintahan Bani Umayah yang terjadi pada bulan Shafar 122 H di masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik yang bertepatan dengan periode keimamahan Imam Shadiq as. Kebangkitan ini menyebabkan terbunuhnya Zaid dan sejumlah besar pendukungnya. Imam Shadiq as dalam kebangkitan ini tidak bersama Zaid, dan terdapat banyak silang pendapat di kalangan ulama Syiah mengenai analisis dalil dan interpretasi pola pandang imam keenam Syiah.

Pada mulanya sejumlah besar dari penduduk Kufah dan daerah-daerah lain berbaiat kepada Zaid bin Ali dan delegasinya, namun dengan ditahannya para pemuka kaum di Masjid Kufah, hanya 280 atau 300 orang dari penduduk yang masih bergabung dengan kebangkitan Zaid. Kebangkitan Zaid sebagaimana dimuat dalam Tarikh Thabari dimulai pada hari Rabu 1 Shafar 122 H dan pada hari pertama dimenangkan oleh pasukan Zaid. Namun pada hari kedua dan setelah merapat pasukan pemanah kepada pasukan Yusuf bin Umar, gubernur Kufah, maka pasukan Zaid mengalami kekalahan dan Zaid pun terluka. Pada tanggal 3 shafar di tahun yang sama Zaid meninggal dunia.

Menurut laporan beberapa sumber, Zaid bangkit dengan motivasi hendak membalas dendam darah Imam Husain as, melakukan amar makruh dan nahi mungkar dan mengambil kekhilafahan dari tangan Bani Umayah. Perlakuan tak sopan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Umawi, kepada Zaid di hadapan para petugas istana disebutkan pula sebagai motivasi Zaid untuk melakukan kebangkitan. Kebangkitan Zaid dipandang sebagai pendahuluan dari runtuhnya pemerintahan Bani Umayah. Demikian pula tidak bergabungnya penduduk Kufah, kekuatan militer pemerintahan Umawi dan faktor-faktor berpengaruh kaum Umawi diyakini sebagai sebab-sebab gagalnya kebangkitan Zaid.

Pemimpin Kebangkitan

Zaid adalah putra imam keempat Syiah. Ibunya bernama Ummu Walad yang dibeli dengan harga 30 ribu Dirham oleh Mukhtar Tsaqafi dan dihadiahkan kepada Imam Sajjad as.[1] Tanggal lahir Zaid tidak diketahui secara benar, tapi kesyahidannya disebutkan terjadi tahun 120 H[2] atau 121 H, atau 122 H.[3]

Kaum Zaidi menganggap Zaid bin Ali sebagai imamnya yang kelima dan kelompok Zaidiyah dinisbatkan kepadanya.[4] Zaid dianggap imam karena pasca kesyahidan Imam Husain as ada sebagian kaum Alawi berkeyakinan bahwa, 'bangkit dengan senjata' adalah salah satu syarat imamah.[5] Setelah Zaid Syahid, orang-orang Syiah, yang telah meyakini pemikiran di atas dan harus bangkit melawan penguasa lalim, memandang Zaid sebagai imamnya dan mereka dikenal dengan kelompok Zaidiyah.[6]

Permulaan Kebangkitan dan Perubahan Zamannya

Menurut penukilan Tarikh Thabari, Zaid memilih malam Rabu 1 Shafar 122 H sebagai permualaan kebangkitannya bersama para pendukungnya.[7] Namun kebangkitan itu lebih cepat terjadi dari waktu yang sudah ditentukan. Dia dan para pendukungnya keluar dari kota pada malam Selasa dan mempersiapkan diri untuk perang;[8] sebab Yusuf bin Umar, gubernur Irak, mengetahui gerak-gerik Zaid dan dua orang sahabatnya[9] dan menyuruh petugas keamanan untuk menangkap mereka. Namun demikian, para petugas keamanan tidak menemukan Zaid.[10] Namun pengetahuan para penguasa mengenai tempat tinggal Zaid dan ditangkapnya dua orang dari pendukung terdekatnya serta adanya kemungkinan musuh akan menyerang, menjadi sebab bagi Zaid dan para pendukungnya untuk berperang lebih cepat.[11]

Tidak Ikut Sertanya Orang-orang yang Telah Berbaiat

Sehari sebelum keluar dan dimulainya kebangkitan Zaid bin Ali, para pemuka suku dan pembesar kaum berkumpul di Masjid Kufah atas perintah petugas Yusuf bin Umar di Kufah dan diumumkan di kota itu bahwa, siapa saja yang melanggar perintah tersebut darahnya akan menjadi mubah/halal.[12] Menurut penukilan beberapa sumber, di malam itu, Zaid bin Ali dan para pendukungnya tinggal di sahara dan menyiarkan slogan 'Ya manshur al-Ummah' (wahai yang didukung umat).[13] Dengan kondisi ini pun, setibanya Zaid bin Ali di Kufah dari perjalanan Syam meskipun mendapat sambutan dari masyarakat dan permintaan untuk bangkit[14] dan menurut Syaikh Mufid, semua orang yang bertemu dengannya memberikan baiat,[15] namun dari jumlah itu hanya 280 [16] dan menurut penukilan lain 300 orang bersama Zaid bin Ali.<rer>Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.244</ref>

Menurut penukilan Thabari, di hari berikutnya, tatkala Zaid menyaksikan pendukungnya berjumlah sedikit dan tahu para pembesar kaumnya ditahan di dalam Masjid Kufah, dengan rasa keluh dan sedih tidak memaafkan orang-orang yang telah berbaiat[17] dan menyebut mereka orang-orang yang meremehkan dan penipu.[18]Menurut penukilan Thabari, para pembesar Kufah sebelumnya telah mengingatkan Zaid tentang pengkhianatan penduduk Kufah kepada Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as, dan juga mereka melarang Zaid untuk bangkit.[19]

Sekitar 15000 orang dari penduduk Kufah yang berbaiat kepada Zaid[20] yang ditengah-tengah mereka hadir pula beberapa pembesar Kufah seperti Salamah bin Kahil, Nashr bin Khuzaimah Abasi dan Muawiyah bin Ishak bin Zaid bin Haritsah.[21]Selain itu, ada sejumlah orang di Madain, Basrah, Wasith, Mosul, Rai dan Gorgan juga berbaiat kepada para delegasi Zaid bin Ali.[22] Kalau dialog Zaid bin Ali dengan Salamah bin Kahil, dari pembesar Kufah, kita jadikan tolok ukur jumlah orang yang berbaiat, berarti ada 40 ribu orang yang telah berbaiat kepadanya.[23]Catatan lain Abu al-Faraj Isfahani melaporkan 100 ribu petempur yang siap mendukungnya.[24] Abu al-Faraj Isfahani melaporkan juga bahwa Abu Hanifah, dari ulama Ahlusunnah dan pendiri mazhab Hanafi menyalurkan sumbangan finansial kepada Zaid bin Ali.[25]

Permulaan Kebangkitan, Kemenangan Awal, Kekalahan Akhir

Pagi hari Rabu, 1 Shafar 122 H, Zaid menugaskan dua orang pendukungnya pergi ke Kufah guna mengumumkan permulaan kebangkitannya kepada masyarakat. Namun, dua orang ini terbunuh di dekat Kufah di tangan para petugas keamanan sang penguasa.[26] Oleh karena itu, Zaid mengutus orang lain bernama Said bin Khaitsam yang terkenal memiliki suara keras untuk melakukan pekerjaan tersebut.[27] Pasukan Zaid bin Ali meskipun awalnya mendapatkan kemenangan dan berupaya membebaskan orang-orang yang ditahan di dalam masjid[28] dan pada pertempuran di sekitar masjid dan pasar juga meraih kemenangan,[29] namun di hari kedua, dengan merapatnya pasukan pemanah Yusuf bin Umar, penguasa Umawi di Irak, sebagian pembela dekat Zaid terpatahkan[30] dan dia sendiri juga terluka parah[31] dan pada hari Jumat 3 Shafar meninggal dunia.[32]

Hari Pertama: Kemenangan

Pertempuran antara prajurit Zaid bin Ali dan tentara gubernur Kufah dimulai dari pagi hari Rabu 1 Shafar 122 H. Zaid mengerahkan pasukannya menuju kota dan mendorong mereka berperang. Pertempuran pertama terjadi di sekitar Kufah di kawasan Shayadin (Shaidin) dan berkahir dengan kemenangan pasukan Zaid, dan kemudian perang tergiring ke Kufah.[33] Menyaksikan pendukungnya yang sedikit, Zaid khawatir penduduk Kufah meninggalkan dirinya sendirian sebagaimana Imam Husain as dan menyampaikan kekhawatiran itu kepada para pendukungnya, sementara Nashr bin Khuzaimah menyatakan kesiapan dirinya untuk tetap berkorban dalam barisan Zaid bin Ali.[34]

Zaid bin Ali ditemani Nashr bin Khuzaimah, Muawiyah bin Ishak dan beberapa orang dari pendukungnya pergi ke masjid guna menyelamatkan warga yang terkurung di masjid dari pengepungan tentara Umawi. Meskipun mereka mampu menyampaikan dirinya ke masjid dan mengangkat bendera dan panji di masjid,[35] namun para tentara Umawi menjadi penghalang majunya mereka, dan dengan sampainya laskar baru Yusuf bin Umar terjadilah perang sengit di sekitar masjid dan pasar. Akhirnya perang dan perkelahian berpindah ke sebuah tempat bernama Darur Rizq dan perang hari pertama dimenangkan oleh Zaid dan para pendukungnya.[36]

Hari Kedua: Kekalahan

Pada permulaan hari kedua perang, Nashr bin Khuzaimah terbunuh di tangan Nail bin Farwah.[37] Terbunuhnya dia sangat mempengaruhi Zaid.[38] Pun demikian, perang sengit Zaid bersama pendukungnya di pagi ini berakhir dengan kemenangan.[39]

Yusuf bin Umar mengirim laskar lagi supaya menyerbu para pendukung Zaid, tapi Zaid dan para pendukungnya mampu memporak-porandakan pasukan Yusuf bin Umar. Namun, dengan bergabungnya pasukan pemanah kepada pasukan Yusuf bin Umar membuat sulit pasukan Zaid dan pada kondisi ini pula Muawiayh bin Ishak, komandan Zaid yang lain, terbunuh pula. Menjelang magrib, Zaid mengalami luka parah akibat terkena bidikan anak panah di dahinya[40] kemudian pada hari Jumat, 3 Shafar tahun 122 H ia meninggal dunia.[41]

Agar supaya jasad Zaid tidak diambil oleh pasukan Umawi, pasukan Zaid mengubah saluran air parit dan memendam jasadnya, kemudian mengembalikan saluran aliran itu ke tempat semula, tetapi budak yang bersama mereka membocorkan kabar itu kepada Hakam bin Shalt.[42] Akhirnya orang-orang Umawi mengeluarkan jasad itu, dan atas perintah Yusuf bin Umar mereka menggantung badan Zaid dan mengirim kepalanya kepada Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Umawi.[43]

Sikap Imam Shadiq as

Kebangkitan Zaid bin Ali terjadi pada periode keimamahan Imam Shadiq as, imam keenam Syiah, namun Imam Shadiq as tidak ikut serta dalam kebangkitannya.[44] Terdapat berbagai perbedaan riwayat dan pandangan mengenai Zaid dan kebangkitannya, namun dari Imam Shadiq as tidak dilaporkan sebuah sikap tegas mengenai kebangkitannya. Penulis buku Kifāyah al-Atsar melaporkan bahwa sekelompok orang Syiah memandang ketidakikut sertaan Imam Shadiq as sebagai penentangan beliau kepada Zaid, namun penulis buku tersebut yakin bahwa ketidakikut sertaan Imam Shadiq as dalam kebangkitan Zaid bin Ali adalah satu bentuk politik dan taktik.[45]

Sebagian ulama Syiah seperti Syahid Awal,[46]Ayatullah Khui,[47] dan Mamaqami[48] meyakini bahwa Zaid bin Ali telah mengambil izin dari Imam Shadiq as. Demikin juga beberapa peneliti selain bersandar kepada penyataan tiga ulama besar tadi, bersandar pula kepada sebuah riwayat dari Imam Ridha as dan mengatakan bahwa kebangkitan Zaid telah direstui oleh Imam Shadiq as.[49] Berdasarkan riwayat tersebut, Zaid bin Ali telah bermusyawarah dengan Imam Shadiq as dan beliau berkata kepadanya: "Jika engkau ingin menjadi sosok yang digantung di Kunasah Kufah, maka inilah jalannya".[50] Sementara beberapa peneliti yang lain dengan bersandar kepada riwayat yang sama mengatakan bahwa Zaid meskipun jujur dalam kebangkitannya dan jika menang akan menyerahkan kekhilafahan kepada yang berhak, akan tetapi Imam Shadiq as telah melarang dia bangkit.[51] Allamah Tehrani dengan bersandar kepada riwayat Aban bin Usman dari Mukmin al-Thaq yang dinukil di dalam kitab al-Kafi[52] meyakini kebangkitan Zaid tanpa restu Imam Shadiq as.[53]

Berdasarkan beberapa riwayat yang dinukil dari Imam Shadiq as[54] dan juga Imam Ridha as,[55] Zaid bin Ali punya niat -jika menang- menyerahkan khilafah kepada Imam Shadiq as. Menurut pernyataan Syaikh Mufid, Zaid bin Ali menjadikan "Kerelaan keluarga Muhammad" sebagai slogannya dan berbeda dengan keyakinan masyarakat, ia tidak menginginkan khilafah buat dirinya sendiri, melainkan setelah kemenangannya akan menyerahkan khilafah itu kepada yang berhak.[56] Allamah Majlisi menisbatkan keyakinan ini kepada sejumlah besar ulama Syiah dan menegaskan bahwa tidak ada pendapat lain dari mereka.[57] Menurut riwayat Syaikh Mufid, ketika Imam Shadiq as mendapat berita kesyahidan Zaid, ia sangat terpukul dan memerintahkan supaya dibagikan harta kepada keluarga mereka yang syahid di dalam kebangkitan Zaid.[58]

Motivasi dan Faktor-faktor Kebangkitan

Syaikh Mufid memandang motivasi utama Zaid bin Ali dan kebangkitannya melawan pemerintahan Bani Umayah adalah hendak membalas dendam darah Imam Husain as.[59] Amar makruf dan nahi mungkar dia jadikan juga sebagai motivasi Zaid dan menegaskan bahwa sikap tak sopan Hisyam bin Abdul Malik, khalifah Umawi, kepada Zaid di hadapan para petugas istana juga memberikan motivasi padanya.[60][Note 1]

Sebagian peneliti meyakini bahwa pencacian Imam Ali as di atas mimbar-mimbar pada masa Hisyam bin Abdul Malik[61], kekejaman dan kezaliman kaum Umawi kepada keluarga Nabi saw serta kekafiran Bani Umayah di mata Zaid bin Ali sebagai faktor-faktor kebangkitan Zaid.[62] Muhammad bin Jarir Thabari berbicara tentang perbedaan pandangan mengenai sebab kebangkitan Zaid[63] Ia memandang beberapa hal seperti tuduhan penggelapan uang, perselisihan dia dengan Abdullah Mahd terkait pewakafan Imam Ali as di Madinah yang menyebabkan arbitrasi Khalid bin Abdul Malik, dan juga tuduhan-tuduhan korupsi dalam pemerintahan Yusuf bin Umar serta undangan penduduk Kufah kepada Zaid sebagai faktor-faktor kebangkitan Zaid.[64] Berdasarkan beberapa sumber, baiat yang diambil Zaid dari masyarakat adalah untuk melawan para tiran, membela kaum lemah, membagi rampasan perang secara sama, mengembalikan hak-hak orang yang terzalimi dan mendukung Ahlulbait dalam melawan para penentangnya.[65] Mamaqami memandang tujuan Zaid dari kebangkitannya adalah untuk mengambil khilafah dari tangan Bani Umayah dan menyerahkannya kepada Imam Shadiq as, dan ia yakin bahwa Zaid tidak menampakkan tujuan ini supaya Imam Shadiq as tidak terancam bahaya.[66]

Hasil Kebangkitan

Hasil-hasil kebangkitan Zaid bin Ali antara lain adalah: kebangkitan Zaid dan setelahnya, yakni kebangkitan Yahya menyiapkan sarana runtuhnya dinasti Bani Umayah[67] dan menarik kebangkitan-kebangkitan Syiah ke Khurasan.[68] Sebagaimana telah dimuat dalam Tarikh Yakubi bahwa terbunuhnya Zaid bin Ali dapat menggerakkan orang-orang Syiah di Khurasan dan menjadi sebab bagi mereka untuk menyingkap dan membongkar kekejaman-kekejaman Bani Umayah kepada keluarga Nabi saw. Atas dasar ini maka tidak ada tempat yang tidak tahu akan kejahatan-kejahatan Bani Umayah.[69] Diriwayatkan dari Imam Shadiq as bahwa Hisyam bin Abdul Malik membunuh Zaid bin Ali, dan sebagai balasannya Allah menghancurkan pemerintahannya.[70] Dalam riwayat lain dari Imam keenam Syiah dimuat, tujuh hari setelah Bani Umayah membakar jasad Zaid, Allah berkehendak menghancurkan mereka.[71] Diantara hasil-hasil lain dari kebangkitan Zaid adalah bertambah sedikitnya kesensitifan pemerintahan mengenai Ahlulbait sehingga Imam Shadiq as mendapatkan kesempatan untuk menyebarkan mazhab Syiah.[72]

Disamping analisis mengenai hasil-hasil kebangkitan Zaid bin Ali, sebagian peneliti juga menjelaskan beberapa sebab kegagalan kebangkitan Zaid. Diantara sebab-sebab tersebut adalah: kekuatan militer pemerintahan Umawi,[73] adanya beberapa spionase dan faktor-faktor berpengaruh dalam menyebarkan berita waktu kebangkitan Zaid, tidak adanya dukungan terang-terangan dari Imam Shadiq as terhadap kebangkitan dan tidak bergabungnya penduduk Kufah.[74]

Catatan Kaki

  1. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.124
  2. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.174
  3. Thabari, Tarikh al-Umum wa al-Muluk, jld.7, hlm.160
  4. Shubhi, Fi Ilm al-Kalam, jld.3, hlm.48
  5. Shubhi, Fi Ilm al-Kalam, jld.3, hlm.48-52; Khazzaz Qummi, Kifāyah al-Atsar, hlm.305
  6. Khazzaz Qummi, Kifāyah al-Atsar, hlm.305
  7. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.181
  8. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.181-182; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.132
  9. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.180
  10. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.180
  11. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.180; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.132
  12. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.181
  13. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184-185
  14. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.166
  15. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm. 173
  16. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.244; Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.134
  17. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.182
  18. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.182-183; Ibnu A'tsam Kufi, al-Futuh, jld.8, hlm.290
  19. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.166-168
  20. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.171
  21. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.167
  22. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.132
  23. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.168
  24. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.132
  25. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.141; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.239
  26. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.182
  27. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.133
  28. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184-185
  29. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184
  30. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.185-186
  31. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.186
  32. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.139
  33. Ibnu Maskawaih, Tajārub al-Umam, jld.3, hlm.142-144
  34. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184
  35. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184-185
  36. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184
  37. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.184-185
  38. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.136
  39. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tarikh, jld.5, hlm.135
  40. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.185-186
  41. Abu al-Faraj Isfahani, Maqātil al-Thālibiyyin, hlm.139
  42. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.186-187
  43. Ibnu Maskawaih, Tajārub al-Umam, jld.3, hlm.147
  44. Khazzaz Qummi, Kifāyah al-Atsar, hlm.305
  45. Khazzaz Qummi, Kifāyah al-Atsar, hlm.305
  46. Syahid Awal, al-Qawāid, jld.2, hlm. 207
  47. Khui, Mukjam Rijal al-Hadis, jld.7, hlm.365
  48. Mamaqami, Tanqih al-Maqāl, jld.9, hlm.261
  49. Ridhawi Ardakani, Syakhshiyat wa Qiyam Zaid bin Ali (kepribadian dan kebangkitan Zaid bin Ali), hlm. 122-123
  50. Syaikh Shaduq, Uyun Akhbā al-Ridha as, jld.1, hlm.2
  51. Rajabi, [http:// Muwajahah Imam Shadiq as ba Nihdhat (sikap Imam Shadiq as terhadap kebangkitan), Mengapa Imam as tidak mendukung kebangkitan Zaid
  52. Kulaini, al-Kafi, jld.1, hlm.174
  53. Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jld.1, hlm. 204-205
  54. Kulaini, al-Kafi, jld.8, hlm.264
  55. Syaikh Shaduq, Uyun Akhbār al-Ridha as, jld.1, hlm.249
  56. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.173
  57. Majlisi, Mer'ātul Uqul, jld.4, hlm.118
  58. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.173
  59. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.171-172
  60. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.173
  61. Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.4, hlm.57
  62. Kariman, Sirah wa Qiyami Zaid bin Ali, hlm.260-268
  63. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm. 160
  64. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.7, hlm.160-167
  65. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.237-238; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk, jld.7, hlm.172-173
  66. Mamaqami, Tanqih al-Maqāl, jld.9, hlm. 233-234
  67. Ridhawi Ardakani, Syakhshiat wa Qiyami Zaid bin Ali, hlm.280-281; Kariman, Sirah wa Qiyami Zaid bin Ali, hlm.361-362
  68. Kazimi, Qiyami Zaid bin Ali wa Yahya bin Zaid wa Asbāb-e Syikast wa Ta'tsirati on dar Mubarezat Dhiddi Umawi (Kebangkitan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid dan sebab-sebab kekalahan serta pengaruhnya dalam pertempuran melawan Umawi), hlm.199
  69. Yakubi, Tarikh al-Ya'qubi, jld.2, hlm.326
  70. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld.45, hlm.309
  71. Kulaini, al-Kafi, jld.8, hlm.161
  72. Kariman, Sirah wa Qiyami Zaid bin Ali, hlm.361-362
  73. Nuri, Zaid bin Ali wa Masyruiyah al-Tsaurah Inda Ahlilbait, hlm.313
  74. Ridhawi Ardakani, Syakhshiyat wa Qiyami Zaid bin Ali, hlm.263-279
  1. Menurut laporannya, Zaid bin Ali di Syam datang ke masjlis Hisyam bin Abdul Malik (khalifah saat itu), sang khalifah kepada para petugas istana berkata, duduklah kalian sedemikian rupa sehingga ketika Zaid nanti masuk, di dekatnya tidak ada tempat lagi baginya. Ketika Zaid berhadapan dengan kondisi ini, ia menasehati khalifah untuk menjaga takwa. Kemudian khalifah menuduh Zaid, "kau menilai dirimu layak untuk khilafah, namum (ketahuilah bahwa) khilafah tidak akan sampai kepada anak budak"! Zaid menjawab kepada khalifah, "apakah kedudukan khilafah lebih tinggi daripada kedudukan kenabian? Padahal Nabi Ismail -meskipun ibunya seorang budak- meraih maqam kenabian", kemudian Zaid mengingatkan bahwa nasabnya dari jalur ayah sampai kepada Imam Ali as dan Rasulullah saw. Khalifah memerintahkan supaya dia dikeluarkan sembari berkata: "Tiada satu kelompok pun yang tidak takut dari tajamnya pedang kecuali akan hina". Ketika Zaid sampai di Kufah, penduduk Kufah berkumpul di sekitarnya dan tidak meninggalkannya hingga berbaiat kepadanya. (Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.173)

Dafar Pustaka

  • Abul Faraj Isfahani, Ali bin Husain. Maqatil at-Thalibiyyin. Riset: Ahmad Shaqr. Beirut: Muassasah al-A'lami li al-Mathbu'at, 1419 H.
  • Baladzuri, Ahmad Yahya. Ansāb al-Asyrwf. Riset: Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Dar at-Ta'aruf, 1977 M.
  • Husaini Tehrani, Sayid Muhammad Husain. Imam Syenasi. Masyhad: Allamah Thabathabai, 1426 H.
  • Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid Hibatullah. Syarh Nahjul Balaghah. Diedit oleh Ibrahim Muhammad Abul Fadhl. Qom: Maktabah Ayatullah Mar'asyi an-Najafi, 1404 H.
  • Ibnu A'tsam Kufi, Muhammad bin Ali. Al-Futuh. Riset Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa, 1991 M.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kamil fi at-Tarikh. Beirut: Dar Shadir wa Dar Beirut, 1965 M.
  • Ibnu Maskawaih, Ahmad bin Muhammad. Tajarub al-Umam wa Ta'aqub al-Himam. Riset Abul Qasim Imami. Teheran: Intisyarat Surusy, 1379 HS.
  • Kariman, Husain. Sirah wa Qiyame Zaid bin Ali. Syirkate Intisyarate Ilmi wa Farhanggi, 1364 HS.
  • kazhimi, Muhmmad Husain Qiyame Zaid bin Ali wa Yahya bin Zaid wa Asbabe Syekast wa Ta'tsirate an dar Mubarazāte dhiddi Umawi (Kebangkitan Zaid bin Ali dan Yahya bin Zaid dan sebab-sebab Kekalahan dan pengaruhnya dalam perlawanan melawan kaum Umawi), majalah Tarikhe Nu. Vo. 12, Musim gugur 1394
  • Khazzaz Qummi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar. Riset: Sayid Abd. Latif Hasani. Qom: Intisyarat Bidar, 1401 H.
  • Khui, Sayid Abul Qasim. Mu'jam Rijal al-Hadits. Qom: Markaz Nasyre Ātsāre Syiah, 1401 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Diedit oleh: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhud. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-anwār. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'āt al-Uqul fi Syarh Akhbar Al ar-Rasul. Diedit oleh: Said Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Dar l-Kutub al-Islamiyah, 1404 H.
  • Mamaqami, Abdullah. Tanqih al-Maqāl fi Ilm ar-Rijal. Riset: Muhyiddin dan Muhammad Ridha Mamaqami. Qom: Muassasah Al al-Bait li Ihya at-Turats, 1431 H.
  • Nuri, Hatim. Zaid bin Ali wa Masyruiyyat ats-Tsaurah Inda Ahli al-Bait. Markaz al-Ghadir li ad-Dirasat al-Islamiyah, 1416 H/1995.
  • Rajabi, Muhammad Husian. Muwajahah Imam Shadiq as ba Nihdhate Tarjumah/Mengapa Imam tidak mendukung kebangkitan Zaid,di situs berita Mehr, 22 Syahrivar 1391 HS
  • Ridawi Ardakani, Sayid Abul Fadhl. Syahshiyat wa Qiyami Zaid bin Ali. Qom: Daftare Intisyarate Islami, tanpa tahun.
  • Shubhi, Ahmad Mahmud. Fi Ilm al-Kalam Dirasah Falsafiyah li Ārā' al-Firaq al-Islamiyah fi Ushul ad-Din. Beirut: Dar al-Nihdhah al-Arabiyah, 1411 H/1991.
  • Syahid Awal, Muhammad Makki. Al-Qawāid wa al-Fawāid. Diedit oleh: Sayid Abdul Hadi Hakim. Qom: Kitabfurusyi Mufid, (ofset Najaf, 1400 H).
  • Syaikh Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyād fi Ma'rifati Hujajillah ala al-Ibad. Qom: Kongres Syaikh Mufid, 1413 H.
  • Syaikh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbār ar-Ridha as. Diedit oleh: Mahdi Lajuwardi. Teheran: Intisyarate Jahan, 1378 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar at-Turats, 1967 M.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Ishaq. Tarikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir.