Kufah

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c

Kufah (Bahasa Arab: الكوفة), salah satu dari kota-kota Irak dan kota kedua yang dibangun oleh kaum muslim. Imam Ali as memilih kota ini sebagai pusat kekhilafahannya pada tahun 36 H dan dia mati syahid di kota tersebut. Mayoritas Syiah abad pertama berasal dari kota Kufah. Termasuk tempat penting kota ini adalah masjid Kufah dan masjid Sahlah. Sejumlah ilmu, seperti fikih, hadis dan nahwu sangat marak di Kufah.

Kufah memiliki peran signifikan dalam peristiwa Karbala; dengan melihat surat-surat penduduk Kufah, Imam Husain as menuju kota tersebut, demikian juga sejumlah besar pasukan yang bertempur di Karbala dengan Imam Husain berasal dari Kufah. Imam Shadiq as di awal pemerintahan Abbasiah berkali-kali mengunjungi kota tersebut dan mengajar beberapa waktu di situ.

Kedudukan agung kota ini digambarkan dalam literatur Syiah dan merupakan pusat pemerintahan Imam Mahdi Ajf setelah kemunculannya. Urgensi kota Kufah kembali pada dua abad pertama Hijriah, karena setelah tersingkapnya pusara Amirul Mukminin Ali as dan pembangunan kota Najaf, lambat laun urgensi dan kedudukan Kufah semakin meredup dan urgensi kota Najaf semakin bertambah.

Sejarah

Pembangunan Pertama

Menurut riwayat, kawasan Kufah pada masa sebelum Islam adalah tempat yang makmur dan berpenduduk dan setelah itu mengalami kehancuran. Menurut riwayat, Nabi Nuh as membuat kapalnya di Kufah[1] dan kaum Nuh di Kufah meletakkan sejumlah berhala-berhala. [2]

Bangunan baru kota Kufah disandarkan kepada kaum muslim. Kota ini bersama dengan Basra termasuk salah satu kota yang pendiriannya disandarkan pada kaum muslim. Dikatakan, kawasan tersebut adalah tempat kamp permanen pasukan muslim dalam penaklukan-penaklukan Islam. Ketika Umar bin Khattab mengetahui bahwa pasukan Arab mengalami depresi di kawasan ini, ia memerintahkan Sa'ad bin Abi Waqqas pada tahun 15 atau 17 atau 19 H agar mengambil sebuah tempat di kawasan tersebut untuk dijadikan sebagai tempat tinggal kaum muslim, yang kompatibel dengan integritas mereka. [3] Dengan demikian, Kufah dibangun di setengah farsakh barat Furat dan satu farsakh timur laut Hirah (kota makmur di pusat pemerintahan Ali Mandzar), dimana dalam jarak dua farsakh utaranya adalah Nukhailah dan delapan farsakh barat laut adalah Karbala. [4] Salah satu kinerja Sa’ad adalah membangun masjid Kufah dan Darul Imarah, dan dua bangunan tersebut dibangun di bagian tertinggi Kufah. [5]

Pendirian kota Kufah termasuk persyaratan strategis yang membantu penaklukan era khalifah kedua. Ketika pasukan militer Arab dengan dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqas tiba di kawasan Iran, membutuhkan sebuah barisan penghubung antara Madinah (pusat pemerintahan Islam) dan medan pertempuran dan sudah semestinya pasukan muslim memiliki sebuah titik sandaran dan kamp militer permanen di dekat medan pertempuran. [6] Karenanya, Umar membangun kamp permanen di kawasan umum Kufah dan dengan demikian, lambat laun kota Kufah bertambah luas dan makmur. Mayoritas muhajirin pertama Kufah, baik Arab maupun Persia adalah sekelompok militer, yang mayoritasnya datang tanpa keluarga mereka dan hidup sebagai militer siap tempur. [7]

Susunan Penduduk

Sejak dari awal pendirian kota Kufah bukanlah kota Arab asli seperti Mekah, Madinah dan bahkan Damaskus; namun gabungan pelbagai suku yang tak terkoordinir. [8] Di awal pendirian Kufah, orang-orang yang datang dari daerah sekitar berjumlah lima belas sampai duapuluh ribu orang. Dengan perintah Umar bin Khattab, penduduk Kufah dibagi menjadi tujuh kelompok:

  1. Bani Kinanah dengan mitra mereka
  2. Bani Qudha’ah, Ghassan, Bajilah, Khats’am, Kindah, Hadhramaut, dan Azd dari kabilah Yaman
  3. Bani Mudzhij, Himyar, Hamdan dan mitra mereka
  4. Bani Tamim, Rihab, dan Hawazin
  5. Bani Asad, Ghatfan, Muharib, Namr, Dhabi’ah, dan Taghlib
  6. Bani Iyad, ‘Ak, Abdul Qais, Ahlul Hijr dan Hamra’
  7. Kabilah Yamani Tay. [9]

Susunan kabilah ini masih berlanjut sampai pada masa Imam Ali dan dia mengganti pengelompokan susunan Kufah dan perubahan terakhir suku-suku Kufah dilakukan oleh Ziyad bin Abih pada tahun 50 Hijriah.

Mayoritas kabilah Arab yang tinggal pada masa penyebaran Islam di Kufah berasal dari Yaman dan mayoritas kabilah Yamani, khususnya kabilah Hamdan adalah orang-orang Syiah Ali. Massignon mengatakan, kabilah Hamdan adalah kabilah besar, penting, kuat dan mampu dan personalnya adalah orang-orang Syiah setia Ali as[10] dan demikian juga kabilah Tay termasuk kabilah terkuat pendukung Ali as hadir dalam perang Jamal dan Shiffin di awal pembentukan Kufah. [11]

Asy’ariyyun, kelompok Syiah Imam Ali keturunan Yaman termasuk kabilah yang hijrah ke Kufah. Kabilah ini pindah ke Qom karena tekanan yang dilakukan olah Hajjaj bin Yusuf terhadap orang-orang Syiah dan memilih Qom sebagai markas untuk tempat tinggal dan publikasi Syiah di Iran. [12]

Dari sisi lain, kota Kufah terbentuk dari dua unsur, orang-orang Arab dan Persia, yang mana orang-orang Arab merupakan unsur pendiri dan orang-orang Persia sebagai pondasi tingkat kedua. [13]

Darul Imarah Kufah

Saat Sa'ad bin Abi Waqqas memerintahkan untuk membangun kota Kufah, dibangun juga sebuah istana untuknya di arah tenggara masjid dan menamainya dengan istana Thamar (tempat menjulang) dan sepeninggal Sa’ad, merupakan kediaman khusus para khalifah, raja dan para amir. [14]

Atas perintah Ubaidillah bin Ziyad, Muslim bin Aqil juga dijatuhkan dari atas istana tersebut. [15] Para tawanan Karbala dan kepala suci Imam Husain as juga dibawa ke Darul Imarah di hadapan Ubaidillah bin Ziyad dan di tempat ini Sayidah Zainab sa dan Imam Sajjad as melakukan dialog dengan Ubaidillah. [16] Darul Imarah juga tempat kediaman Mukhtar al-Tsaqafi dan di tempat ini juga kepala para pembunuh pada peristiwa Karbala dibawa ke hadapan Mukhtar. Atas perintah Abdul Malik bin Marwan, istana ini dihancurkan pada tahun 71 Hijriah.

Masa Kekhilafahan Amirul Mukminin

Kufah setelah didirikan, karena air dan cuaca yang bagus serta dekat dengan sungai Furat dan kondisi ekonomi yang bagus yang didapat dari ghanimah dan hasil sejumlah tanah yang telah ditaklukkan menerima gelombang imigrasi pelbagai etnis dan kelompok wilayah seluruh Islam pada waktu itu. Imigrasi ini khususnya pada tahun 36 Hijriah, Amirul Mukmin Ali as untuk menjadikan kota ini sebagai ibukota negara Islam semakin meningkat, sampai-sampai jumlah pasukannya yang datang dari Kufah saja dalam perang Shiffin mencapai 65 ribu pasukan,[17] apalagi dengan mengkalkulasi keluarga mereka dan juga orang-orang yang tidak ikut serta dalam peperangan, maka dengan gampang dapat diprediksikan jumlahnya mencapai 150 ribu orang. Selain itu, sebagian riwayat menunjukkan bahwa pasukannya dalam perang Shiffin berjumlah 90 ribu orang. [18]

Fenomena terpenting pada masa ini adalah perpindahan ibukota Islam dari Madinah ke Kufah. Setelah para pengingkar janji (pasukan Jamal) bergerak menuju Basra, Imam Ali as pada tahun 36 H bergerak menuju Irak dengan seribu pasukan perang penduduk Madinah. Sepuluh atau duabelas ribu orang penduduk Kufah juga ikut bergabung dengan pasukan Imam Ali untuk melawan para pengingkar janji. [19] Setelah kemenangan di hadapan perang Jamal, Imam pergi ke Kufah[20] dan menjadikannya sebagai pusat kekhilafahan Islam.

Alasan Dipilih Kufah Sebagai Ibukota

  • Dari aspek ekonomi, Madinah dan kasawan Hijaz tidak dapat berkonfrontasi dengan Irak atau Syam, namun Irak sebagai sumber pendapatan terpenting kawasan.
  • Madinah dari aspek fungsionaris tidak memiliki motivasi pertempuran skala penuh dengan Syam, namun Kufah dari aspek jumlah dan dekat dengan kawasan penuh populasi, memiliki kemampuan melawan segala bentuk pelanggaran.
  • Masyarakat Madinah khususnya sebagian para sahabat tidak suka dengan Imam dan menganggap dirinya lebih baik darinya, sementara mereka telah mendengar ucapan Imam. Namun antara Amirul Mukminin dan masyarakat Kufah terdapat kecintaan timbal balik.
  • Spirit cinta dunia yang sudah merasuki masyarakat Madinah pada masa para khalifah sebelumnya, sudah tidak menyisakan lagi spirit bertempur dan dalam sepanjang dua puluh lima tahun pasca wafatnya Rasulullah saw lambat laun masyarakat jauh dari perubahan spiritual dan Ilahi yang ditemukan dari ajaran-ajaran Rasulullah saw.
  • Jumlah para sahabat sezaman Rasulullah saw di Kufah melebihi segala penjuru dunia Islam lainnya.
  • Kufah dari aspek geografi kurang lebih terletak di jantung Islam pada waktu itu dan dekat dengan Iran, Hijaz, Syam, dan Mesir. [21]


Para Gubernur Kufah dari Awal Pendirian sampai Syahadah Imam Ali as[22]
Para Gubernur Priode Kegubernuran
Sa'ad bin Abi Waqqas Pada permulaan Kufah didirikannya, Umar bin Khattab mengangkatnya sebagai gubernur kota ini; Utsman juga menetapkan keduudkannya beberapa waktu dan kemudian mencabutnya.
Mughirah bin Syu’bah Umar bin Khattab mengangkatnya dan Utsman mencabut kedudukannya, setelah Muawiyah menduduki kursi khilafah, ia menjadikan Mughirah sebagai gubernur Kufah dan ia senantiasa di Kufah hingga menemui ajalnya pada tahun 50 Hijriah.
Ammar bin Yasir Umar menjadikannya penguasa Kufah.
Walid bin ‘Uqbah Utsman menjadikannya berkuasa pada tahun 25 Hijriah setelah Sa’ad bin Abi Waqqash.
[[Said bin al-Ash [[Utsman setelah menyingkirkan Walid bin ‘Uqbah, melantiknya menjadi gubernur Kufah dan penduduk Kufah mengusirnya pada tahun 34 Hijriah dan mereka menginginkan Abu Musa al-Asy’ari menjadi hakim penguasa Kufah, dengan demikian mereka mengirim surat kepada Utsman dan diapun mengangkat Abu Musa al-Asyari sebagai gubernur Kufah.
‘Utbah bin Amr Imam Ali as menjadikannya sebagai pengganti Imam di Kufah dan mencopotnya ketika Imam berangkat ke perang Shiffin.
Ammarah bin Syahab pada tahun 36 Hijriah para pejabat Imam Ali berada di Kufah.
Abu Musa Asy’ari pada tahun 17 Hijriah, Umar bin Khattab mengangkatnya menjadi gubernur Basra dank arena Utsman menjadi penguasa setelahnya dia menetapkan posisinya dan kemundian mencopot jabatannya. Abu Musa pergi ke Kufah. Penduduk Kufah setelah mengeluarkan Said bin Ash, meminta kepada Utsman untuk supaya mengangkat Abu Musa menjadi gubernur Kufah, Utsman pun mengangkatnya menjadi penguasa Kufah. Abu Musa tetap tinggal di Kufah hingga masa terbunuhnya Utsman, karena Imam Ali as memegang tampuk kekhalifahan, Imam menetapkannya pada jabatannya dan setelah beberapa waktu terjadi perang Jamal dan Imam Ali as mengutus seseorang untuk mendatangi penduduk Kufah supaya mereka mau membantunya dalam perang Jamal. Namun Abu Musa meminta kepada mereka supaya tidak ikut serta dalam perang tersebut. Oleh karena itu, Imam Ali as mencopot dan melepas jabatannya sebagai gubernur Kufah.

Masa Bani Umayyah

Pada masa Bani Umayyah, dengan melihat sejumlah penaklukan yang dilakukan dari arah Iran sampai Transoxiana (Mawara al-Nahr), kota Kufah dijadikan sebagai kamp politik – militer pemerintahan Bani Umayyah di Mesopotamia (Baina al-Nahrain) dan sebagai pusat untuk mengontrol dan mengawasi bagian-bagian tersebut sampai-sampai penguasa dua Irak (Basra dan Kufah) adalah penguasa asli Iran. Karenanya urgensi militer – politik dan hasil kemakmuran ekonomi Kufah pada masa ini, dengan melihat sejumlah penaklukan yang ada semakin meningkat. Dampak kemakmuran ekonomi pada masa pemerintahan Khalid bin Abdullah al-Qasri di Irak semakin kentara, sampai-sampai atas perintahnya agar dibangun banyak pasar dan untuk setiap kelompok saudagar agar dibuatkan kamar-kamar dan penyewaan tempat niaga ini untuk urusan para tentara, karena pada masa itu di Kufah ada puluhan ribu prajurit di Kufah. [23]

Peran Kufah dalam Peristiwa Karbala

Setelah kematian Muawiyah pada tahun 60 H, banyak sekali masyarakat dan pemuka Kufah menulis surat untuk Imam Husain as dan mengundangnya ke Kufah guna memegang pemerintahan kota tersebut. [24] Dengan bertambahnya jumlah surat yang ada, Imam Husain as bergerak menuju Kufah, namun Ibnu Ziyad yang menjadi gubernur Kufah, dengan ancaman dan suap, membubarkan masyarakat untuk mendukung Muslim bin Aqil, wakil Imam Husain[25] dan dari sisi lain ia mengirim pasukan Kufah dengan dipimpin oleh Umar bin Sa’ad untuk melawan Imam. Dengan demikian terjadilah peristiwa Karbala.

Susunan Penduduk Kufah pada Masa Kebangkitan Imam Husain:

  1. Orang-orang Syiah: Orang-orang Syiah biasa, dengan jumlah yang signifikan, telah membentuk populasi Kufah, meski mereka mencintai Ahlulbait, namun perilaku bengis Ziyad dan anaknya Ubaidillah terhadap orang-orang Syiah telah membuat mereka takut, sampai-sampai tidak ikut berpartisipasi selama tidak ada kemungkinan menang dalam sebuah insiden.
  2. Para simpatisan Bani Umayyah: kepemimpinan para pendukung kelompok Bani Umayyah di Kufah diemban oleh orang-orang seperti Amr bin Hajjar, Yazid bin Harts, Amr bin Harits, Abdullah bin Muslim dan Umar bin Sa’ad.
  3. Sebagian orang di bawah propaganda kelompok Khawarij, dan meski bukan bagian dari mereka, namun sedang dalam kebimbangan.
  4. Al-Hamra’: Menurut Thabari mereka adalah 20 ribu orang Kufah bersenjata, yang memiliki ras campuran dari anak-anak hamba sahaya. Kelompok ini pada masa Imam Hasan as dan Imam Husain as adalah orang-orang yang memegang senjata dan prajurit, yang melakukan segala jenis kejahatan dengan bayaran dan merupakan pedang terhunus di tangan para tirani. Mereka dengan menyambut intrik dan kerusuhan sampai-sampai menambah popularitas kemuliaan dan kekuatannya, bahkan menisbahkan kota Kufah kepada mereka dan mengatakan Kufah al-Hamra’.
  5. Orang-orang apatis: Saham terbanyak mayoritas masyarakat Kufah di Karbala adalah orang-orang apatis yang hanya mementingkan dunia semata. Meski Imam mengajak mereka, namun dikarenakan tidak ada kemungkinan menang, maka mereka lebih menerima janji dan ancaman Ibnu Ziyad dan bergabung dengan pasukan Yazid. [26]

Kebangkitan Syiah di Kufah

Dalam kondisi tersukar pada masa Bani Umayyah, seperempat atau sepertiga penduduk Kufah memeluk Syiah. Hal ini menyebabkan pemerintah Bani Umayyah lebih banyak mengontrol kota tersebut dan senantiasa siap siaga untuk melumat pemberontakan (kemungkinan) di kota tersebut. [27] Pada masa itu, terjadi sejumlah kebangkitan dalam rangka menentang Bani Umayyah:

  • Kebangkitan Tawwabin

Pasca syahadah Imam Husain as, orang-orang Syiah merasa menyesal dan memutuskan mengganti kesalahannya dengan melakukan pembalasan terhadap para pembunuh Imam. Karenanya mereka melakukan mobilisasi pasukan dengan dipimpin oleh Sulaiman bin Shurad al-Khuza’i dan satu tahun setelah kematian Yazid pada tahun 65 H, mereka berkumpul di samping pusara Imam Husain dengan slogan Ya Latsaratil Husain (demi darah al-Husain) dan selanjutnya melakukan perlawanan dengan pasukan Syam. Awalnya kelompok Tawwabin dapat memukul telak pasukan Syam, namun dengan tewasnya Sulaiman dan sejumlah pasukan, pertempuran berakhir dengan menguntungkan Ubaidillah dan sisa-sia kelompok Tawwabin kembali ke Kufah.

  • Kebangkitan Mukhtar

Mukhtar yang dipenjara oleh kelompok Zubair pada masa kebangkitan Tawwabin, secara diam-diam menulis sepucuk surat untuk orang-orang tersisa kelompok Tawwabin. Setelah membaca suratnya, ia memberikan pesan siap untuk melakukan kebangkitan kembali. [28] Setelah bebas, Mukhtar mengumumkan seruannya secara terang-terangan dan banyak sekali para pemuka Syiah di Kufah mendukungnya. Mukhtar menyerang tempat pemerintahan Kufah dengan slogan Ya Latstsaratal Husain dan atau Ya Manshur Umat dan mengusir gubernur Ibnu Zubair dan membentuk pemerintahan Syiah. [29] Termasuk aksi-aksi penting Mukhtar pada masa pemerintahan Kufah adalah membunuh para pembunuh Imam Husain as. [30]

  • Kebangkitan Zaid bin Ali

Zaid putra Imam Sajjad, melakukan kebangkitan dengan tujuan amar ma’ruf dan nahi munkar serta menuntut darah Imam Husain as dan dengan slogan Ya Manshur Ummat. [31] Sekitar 15 ribu pasukan ikut bergabung dengannya dan mendukungnya untuk melakukan kebangkitan anti Bani Umayyah, namun akhirnya mereka tidak membantunya dan ia syahid dengan tertancap anak panah di keningnya.[32]

Para Pemimpin Kufah dari Syahadah Imam Ali as sampai Kebangkitan Mukhtar[33][34]
Para Gubernur Priode Kegubernuran
Ziyad bin Abihi Muawiyah menjadikannya sebagai kepala pemerintah Basra dan Kufah, dan sampai dia menemui ajalnya pada tahun 53 Hijriah tetap memegang tampuk kepemerintahan di sana.
Dhahhak bin Qais pada tahun 53 Hijriah Muawiyah mengangkatnya menjadi gubernur Basra dan Kufah setelah kematian Ziyad bin Abihi. Dia juga pergi dan mengajak penduduk supaya memberikan bai’at mereka kepada Abdullah bin Zubair dan memerangi Marwan bin Hakam dan pada tahun 65 Hijriah terbunuh di perang Marj Rahit.
Sa’ad bin Zaid Dia dari kabilah Khuza’ah. Muawiyah mengangkatnya menjadi Gubernur.
Abdur Rahman bin Abdullah Dia adalah putra Ummu Hakam, saudara perempuan Muawaiyah bin Abi Sufyan. Pamannya Muawiyah mengangkatnya sebagai gubernur Kufah pad tahun 57 Hijriah. Dia tidak memiliki kemuliaan akhlak sehingga penduduk Kufah mengusirnya.
Nu’man bin Basyir Dia merupakan orang terakhir yang ditunjuk oleh Muawiyah sebagai pejabat gubernur Kufah. Dia terbunuh pada tahun 65 Hijriah.
Ubaidillah bin Ziyad Yazid bin Muawiyah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah pada tahun 60 Hijriah, di saat Muslim Bin Aqil datang ke Kufah demi mengajak penduduk untuk membela dan membantu Imam Husain as.
Amr bin Harist dia menjadi penguasa Kufah oleh Ziyad bin Abihi dan setiap kali Ziyad keluar dari Kufah, ia menggantikan posisinya dan dia juga pengganti Ubaidillah bin Ziyad.
Amir bin Masud Dia setelah kematian Yazid menjadi penguasa Kufah karena dipilih oleh penduduk Kufah. Hingga Abdullah bin Zubair terpilih menjadi khalifah dan dia diangkat menjadi penguasa Kufah oleh Abdullah bin Zubair.
Abdullah bin Yazid Dia menduduki kursi kekuasaan di Mekah setelah diangkat oleh Abdullah bin Zubair kemudian kepengurusan Kufah juga diserahkan kepadanya.
Abdullah bin Muthi’ Abdullah bin Zubair mengangkatnya menjadi gubernur Kufah dan Mukhtar mengeluarkannya dari Kufah dan dia kembali ke Mekah.
Mukhtar bin Abu Ubaidah Al-Tsaqafi Dengan kekalahan Abdullah bin Muthi’ dia menjadi penguasa Kufah dan setiap kali Mukhtar pergi ke Madain, Saib bin Malik Asy’ari mengambil ali kekuasaan Kufah.
Mus’ab bin Zubair Pada tahun 67 Hijriah Abdullah bin Zubair menjadikannya sebagai penguasa Basra, kemudian dengan mengalahkan Mukhtar Kufah juga diserahkan kepadanya.

Masa Bani Abbas

Telah dinukil, pada awal-awal pemerintahan Bani Abbas, Imam Shadiq as dibawa ke Irak oleh As-Saffah dan Manshur dan Imam menetap di Kufah dan dalam kesempatan tersebut, Imam mengajar dan menjelaskan pengetahuan-pengetahuan Islam dan melawan ideologi Ghulat. [35]

Kufah pada masa ini, lambat laun mendapat urgensi politik, militer dan ekonomi. Pada masa Abbasiah kedua, dengan melemahnya kekuatan politik Bani Abbas, kota Kufah mengalami kerusakan dan kehancuran akibat serangan kelompok-kelompok Badui dan para perampok Arab Saudi, khususnya Qaramitah dan kelompok Shammar dan Khafajah. Ibnu Jubair, penulis safarnama muslim yang melakukan kunjungan ke kota Kufah dari dekat pada tahun 580 H mengatakan: “Kufah sebuah kota besar dan kuno yang mengalami banyak kehancuran dan kerusakannya melebihi kemakmurannya. Salah satu alasan kehancuran Kufah adalah karena adanya kabilah Khafaja di sekitar kota, yang senantiasa menyerang kota tersebut”. [36] Sejumlah pemerintahan seperti Bani Buwaih dan Saljuk juga tidak berhasrat untuk merenovasi dan mengembangkan kota Kufah, khususnya urgensi politik, militer, ekonomi dan bahkan religi Kufah dipindah ke kota Baghdad, yang dibangun oleh Manshur Abbasiah pada tahun 145 H. [37]

Gerakan-gerakan Syiah di Kufah

  • Kebangkitan Ibnu Thabathaba

Muhammad bin Ibrahim bin Thabathaba termasuk salah seorang cucu dari Imam Hasan as yang datang dari Madinah ke Kufah dan membentuk pasukan militer dengan bantuan Abu al-Saraya al-Sirri, salah seorang pemimpin pemberontak yang tidak puas dengan Bani Abbas dan termasuk anak buah Hartsamah bin A’in. Mereka menyerang Kufah pada tahun 199 H dan menguasai kota tersebut. [38] Moto mereka dalam kebangkitan ini adalah al-Ridha min Al Muhammad. [39]

  • Kebangkitan Ali bin Zaid dan Isa bin Ja’far

Dua sayid ini termasuk keturunan Imam Hasan as yang melakukan kebangkitan di Kufah pada tahun 255 H. Mu’taz mengirim pasukan besar dengan pimpinan Said bin Shalih, yang tersohor dengan Hajib agar menumpas kebangkitan tersebut. [40]

  • Kebangkitan Ali bin Zaid bin Husain

Ia termasuk salah seorang cucu Imam Husain as yang melakukan kebangkitan di Kufah pada masa Muhtadi Abbasi. Syah bin Maikal melawannya dengan pasukan besar, namun mengalami kekalahan. Ketika Mu’tamid Abbasi memegang tampuk kekuasaan, ia mengirim Kaijur Turki. Ali bin Zaid setelah beberapa masa pengejaran dan kabur, ia meninggal pada tahun 257 H. [41]

  • Kemunculan Qaramitah

Mayoritas riwayat sejarah yang ada, mengaitkan akar kemunculan Qaramitah pada aktivitas salah satu penyeru dan pengikut Ismailiyah yang bernama Hamdan bin Asy’ats, yang tersohor dengan Qarmat, yang memulai aktivitas dakwahnya di Kufah. Pada tahun 317 H, Qaramitah dengan menyerang Mekah, ia mengambil Hajar Aswad. Pada tahun 339 H, dalam proses pengembalian Hajar Aswad ke Mekah, pertama-tama Hajar Aswad dibawa ke Kufah dan digantungkan ke tiang ketujuh masjid Kufah agar masyarakat melihatnya. [42]

Kondisi Sekarang

Sekarang ini, Kufah dari aspek administrasi terletak di propinsi Najaf dan termasuk bagian kota Najaf (timur laut kota ini). Populasi kota ini mencapai 300 ribu orang. [43] Urgensi kota Kufah mayoritas kembali pada dua abad pertama Hijriah dan setelah tersingkapnya pusara Amirul Mukminin dan penyebaran kota Najaf, lambat laut urgensi dan kedudukan Kufah semakin surut dan menambah urgensi dan kedudukan Najaf.

Syiah Kufah

Keluarga Ilmiah

Sejumlah keluarga ilmiah Syiah di Kufah pada abad pertama Hijriah adalah sebagai berikut: [44]

  • Al Abi Syu’bah
  • Al A’in
  • Al Abi Shafiyyah
  • Al Abi Arakah
  • Al Abi Ja’d
  • Al Abi al-Jahm
  • Al Abi Sarah
  • Al Naim Azdi
  • Al Hayan Taghlabi
  • Bani Hur Ja’fi
  • Bani Ilyas Bajali Kufi
  • Bani Abd Rabbah
  • Bani Abi Sabrah
  • Bani Sauqah
  • Bani Na’im Shahaf
  • Bani ‘Athiyyah
  • Bani Ribath
  • Bani Farqad
  • Bani Daraj
  • Bani Amar al-Bajali

Tendensi dan Sekte

Khawarij, Kisaniyah dan Zaidiyah termasuk kelompok yang terbentuk di kota ini. [45]

Tuduhan Ketidaksetiaan Penduduk Kufah

Salah satu tuduhan yang dilontarkan kepada penduduk Kufah adalah ketidaksetiaan mereka, sampai-sampai ada kalimat populer seperti al-Kufi la Yufi, Penduduk Kufah tidak setia, dan Aghdar min Kufi, Lebih penipu dari Kufah.

Sebagian peneliti menganggap tuduhan ini bermula dari kriteria mengikuti sentimental dalam penduduk Kufah, semisalnya tentang sikap sensitif penduduk Kufah terhadap Muslim bin Aqil dan demikian juga kebangkitan Mukhtar Tsaqafi. [46]

Sebagian yang lain juga menganggap tuduhan ini amatlah berlebihan dan dengan tujuan mendiskreditkan citra orang-orang Syiah dan Kufah sebagai kota Syiah, meskipun banyak sekali penduduk Kufah bukanlah Syiah.

Disamping itu, sebagian yang lain berpendapat, dalam penggalan sejarah, sifat-sifat buruh masyarakat Kufah dan dalam sepenggal lain muncul sifat-sifat baik mereka, meski sifat negatif masyarakat Kufah memiliki pesan tidak bagus pada abad pertama. [47]

Tempat-tempat Suci

Masjid Kufah

Termasuk tempat pertama yang dibangun oleh Sa'ad bin Abi Waqqas di Kufah adalah masjid Kufah. Masjid ini adalah tempat berkhutbah dan peradilan Imam Ali, dimana sekarang ini tempat peradilan beliau tersohor dengan nama Dakah al-Qadha. Beliau terluka di tempat ini oleh hantaman pukulan pedang Ibn Muljam dan syahid.

Masjid Kufah memiliki keutamaan atas masjid-masjid lainnya, selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dan akan menjadi pusat peradilan Imam Zaman af. Di masjid ini, sang musafir dapat melaksanakan salat secara sempurna atau qasar. [48]

Masjid Sahlah

Masjid ini dibangun pada abad pertama Hijriah oleh suku-suku arab Kufah dan dalam jarak sekitar dua kilo meter barat laut masjid Kufah. Masjid ini termasuk masjid tertua yang dinisbatkan ke Imam duabelas Syiah dan menurut sebagian riwayat, tempat tinggal beliau setelah dhuhur, adalah tempat ini.

Masjid Sha’sha’ah bin Shauhan

Masjid Mal’unah: sejumlah masjid yang dibangun untuk melawan Imam Ali dan dalam bentuk masjid Dhirar. Dalam sebuah riwayat dari Imam Baqir dikemukakan empat masjid juga, empat masjid juga pasca syahadah Imam Husain dibangun dalam rangka mensyukuri kemenangan pasukan Kufah terhadap beliau, karenanya masjid-masjid tersebut mendapatkan laknat berlipat ganda. Masjid-masjid mal’unah tersebut sekarang ini tidak tersisa sama sekali. [49]

  1. Masjid Asy’ats bin Qais Kindi
  2. Masjid Jurair bin Abdullah Bajali
  3. Masjid Sama’ bin Makhzumah
  4. Masjid Tsabts bin Rub’i
  5. Masjid Tim
  6. Masjid Tsaqif
  7. Sebuah masjid di al-Hamra

Pusara Para Sahabat Imam

  • Masjid Tammar

Makam Maitsam Tammar terletak di beberapa ratus meter masjid Kufah dan disamping jalan-jalan utama Kufah – Najaf.

Pusara Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah dan Mukhtar Tsaqafi disamping masjid Kufah.

Ilmu dan Seni di Kufah

Fiqih

Di akhir-akhir umur Imam Shadiq as, maktab fiqih Syiah dipindah dari Madinah ke Kufah, dan mendapat kehidupan fikih baru di Kufah. Dalam buku Tarikh al-Kufah dikemukakan Imam Shadiq as pergi ke Kufah pada masa pemerintahan as-Saffah dan menetap disitu di tengah-tengah Bani Abdil Qais selama dua tahun. Saat itu orang-orang Syiah dari segala penjuru menemui beliau dan menimba ilmu darinya. Dari Muhammad bin Ma’ruf al-Hilali dinukilkan bahwa untuk menemui Imam Shadiq pergi ke Hirah, namun dikarenakan banyaknya masyarakat yang mengelilingi beliau, ia pun tidak dapat menemui beliau. Hasan al-Wasya mengatakan, saya melihat masjid Kufah dari dekat, dimana sekitar 900 syaikh disitu mengatakan, haddatsani Ja’far bin Muhammad. [50]

Kriteria Madrasah Fiqih Kufah

  • Pada masa ini perintah penyusunan dan penulisan hadis mendapat prioritas khusus. Awal penulisan dan penyusunan hadis sampai pada masa Imam Baqir as dan mencapai puncaknya pada masa Imam Shadiq as. Imam Shadiq as benar-benar mendorong para sahabatnya untuk mencatat dan menulis hadis. Abu Bashir mengatakan, Imam Shadiq as berkata: Tulisalah (hadis dan ilmu-ilmu). Sesungguhnya kalian tidak dapat menjaga ilmu, kecuali lewat penulisannya.
  • Pada masa ini muncul masalah-masalah baru dan terkini, yang tidak ditemukan jawabannya dalam Alquran, dan apa yang dipegang para fakih Ahlussunnah tentang riwayat dan hadis tidak dapat menjawab dan kondisi masyarakat dan propaganda pada waktu tidak mengizinkan masyarakat untuk merujuk ke Ahlulbait as. Karenanya, para fakih Ahlussunnah melakukan qiyas, istihsan, ra’yu dan dzan.
  • Pada masa itu terjadi perselisihan penukilan para perawi. Riwayat-riwayat dari para Imam suci dinukilkan dan terkadang dalam satu topik, dinukilkan dua riwayat yang kontradiksi. Karenanya, sebagian para rawi meminta solusi dari para Imam untuk mengenal hadis-hadis benar dari yang tidak benar. Riwayat-riwayat yang dibawah tema akhbar ‘ilajiyyah (riwayat yang menjelaskan tentang kontradiksi riwayat) adalah untuk menyelesakan kontradiksi hadis-hadis semacam ini.
  • Pada masa ini dijelaskan tolok ukur ijtihad dan istinbat hukum-hukum syar’i seperti istishab, bara’at, ihtiyath, takhyir, kaedah thaharat, kaedah yad, ibahah dan hilliyyah oleh para Imam. Dalam beberapa hal sang perawi melakukan perjalanan ke kawasan-kawasan jauh, dimana untuk pertanyaan-pertanyaan yang dipaparkan, mereka tidak dapat mengkontak Imam as. Karenanya, dengan menggunakan kaidah dan pokok-pokok fikih melakukan ijtihad istinbath hukum-hukum syar’i. [51]

Hadis

Dimulainya sekolah hadis Ahlussunnah di Kufah kembali pada era penaklukan dan pendirian kota ini, pada masa khalifah kedua. Setelah pendirian kota Kufah dan imigrasi sebagian para sahabat Rasulullah saw ke kota ini, hadis nabwi menyebar di kota tersebut dan terbentuk tempat-tempat belajar dalam bidang hadis dan tafsir. Madrasah hadis Kufah maju dibanding madrasah hadis Madinah.

Kriteria Maktab Hadis Kufah:

  • Dinamika dan Rasionalisme: kehadiran orang-orang syiah disamping para penentang di kawasan ini dan konflik fikih teologi, dengan sendirinya menggerakan maktab hadis ini menuju ke sebuah dinamisme dan vitalitas.
  • Banyaknya perawi Kufah dan peran para Imam as: terkait jumlah para muhaddis Syiah yang tinggal di Kufah, terdapat riwayat yang menunjukkan jumalh signifikan para perawi Syiah dalam bidang hadis, setelah berdirinya syiah disitu. Kita dapati kelompok pertama.para murid Imam Baqir adalah sebagian orang-orang Syiah Kufah, diantaranya adalah keluarga A’yan. Para saudara A’yan merupakan para penyeru dakwah dan publikasi ajaran-ajaran Ahlulbait As di Kufah. Hilir mudik orang-orang Syiah dengan Imam Shadiq as di Madinah juga terus berlanjut dan para pemuka Syiah dari Kufah baik secara individu maupun berkelompok pergi menemui beliau dan mendapatkan hadis. Menilik list para sahabat Imam keenam dalam Rijal Syaikh Thusi juga mengafirmasikan hal tersebut, yaitu para perawai beliau dalam tingkat pertama adalah orang-orang Kufah dan terkadang menuturkan puluhan nama dikalangan para sahabat beliau, dimana sifat persamaan kesemua mereka adalah Kufi.
  • Kehadiran Imam Shadiq dan para wakil Imam as di Kufah: hijrah dua tahun Imam Shadiq as ke Kufah pada masa Abul Abbas Saffah dan tarbiah para murid di kota ini, dengan melihat baru berjalannya pemerintahan Bani Abbasiah dan atensi mereka dengan stabilitas penuh pemerintahannya, dan tidak adanya perhatian mencukupi terhadap aktivitas-aktivitas Imam Shadiq as meneybabkan pada masa dua tahun ini untuk para muhaddis Syiah dan bahkan untuk sebagian para muhaddis non Syiah, berubah menjadi periode penuh keberkahan. Terkait dua tahun tersebut, menurut sebagian riwayat, Abu Hanifah menuturkan realita ini kepada dirinya, Laula al-Sanatani La Halaka al-Nu’man.
  • Penyusunan pokok dan buku-buku hadis: termasuk kriteria penting maktab hadis Kufah, adalah para muhaddis melakukan penyusunan dan penulisan referensi-referensi hadis, yang dari aspek kualitas dan kuantitas adalah hal yang luar biasa dan bagian mendasar dari 6600 buku dimana Syaikh Hurr Amili di akhir bab keempat dari Wasail al-Syi'ah menisbatkan penyusunannya para para pendahulu Syiah dua belas, yang sezaman dengan para Imam as ditulis oleh para muhaddis Kufah. Buah dari penulisan tersusun ini adalah munculnya "Ushul Arbamiah". Namun awalnya kumpulan tersususn ini awalnya adalah kumpulan riwayat pirbadi, dimana seorang perawi mengumpulkan seluruh hadis-hadis yang didengarnya dalam satu tempat, yang selanjutnya dibabkan dan dalam bentuk yang lebih rapi. [52]

Nahwu

Ada dua maktab mendasar dalam nahwu: maktab Bashrah dan maktab Kufah. Sedari awal kinerja dua maktab ini menciptakan banyak perselisihan dikalangan para pemuka mereka. Sayyid Muhsin Amin dalam A'yan al-Syi'ah mengatakan, para perintis pertama ilmu nawhu di Bashrah dan Kufah adalah para ulama Syiah, yang telah membentangkan dan memublikasikan ilmu tersebut di dua kawasan tersebut.

Sebagian surah Fathir dengan khat Kufi tekait akhir abad kedelapan Masehi (dua Hijriah)

Pemimpin nahwu dan lughat di madrasah Kufah adalah orang terpandai pada masa itu dalam bidang ini.[53]

Dikarenakan masyarakat Kufah bekerjasama dengan Bani Abbasiah melawan Bani Umayyah, maka Bani Abbas mendukung/mengayomi masyarakat Kufah dalam melawan masyarakat Bashrah dan mengundang para ulama Kufah untuk mendidik anak-anak mereka. [54]

Khat Kufah

Kalegrafi Kufi adalah gaya tulisan Arab yang karaker dominannya berbentuk siku (kubisme). Khat ini puluhan tahun adalah khat mayoritas Arab dan Alquran dan surah-surah yang ada ditulis dengan khat tersebut dan demikian juga, koin emas, dirham dan dinar distempel dengan khat tersebut. Huruf khat Kufah awalnya ditulis tanpa titik dan dengan tanpa harakat i’rab dan dikarenakan para hafiz dan qori Alquran amatlah banyak dan mengambilnya dari Rasulullah melalui generasi ke generasi, maka kekeliruan dan kesalahan amatlah jarang, namun setelah pertengahan petama abad pertama, dimana suku-suku Arab berbaur dengan para minoritas lainnya, lambat laun kesalahan dan kekeluruan dalam bacaan Alquran semakin terlihat, karenanya Abul Aswad Duali menciptakan penulisan fathah, dhammah dan kasrah untuk mempermudah bacaan, dengan melalui sejumlah titik. [55]

Kota Kufah dalam Riwayat

Dalam referensi hadis, dikemukakan beragam riwayat tentang kedudukan dan urgensi Kufah, semisalnya:

  • Imam Shadiq as dari Amirul Mukminin menukilkan, “Mekah adalah haram Allah, Madinah adalah haram Rasulullah dan Kufah adalah haram saya, tidak ada orang lalim yang berupaya membuat kerusuhan disitu, kecuali Allah akan mencabutnya”. [56]
  • Imam Hasan Askari as berkata, “Tempat sebuah kaki di Kufah bagi saya lebih saya cintai ketimbang rumah di Madinah”. [57]

Demikian juga di bagian lain riwayat diisyaratkan tentang posisi Kufah setelah kemunculan Imam Zaman afs dan kota ini diperkenalkan sebagai ibukota beliau. [58] .

Catatan Kaki

  1. Maqdisi, Ahsan al-Taqasim jld. 1, hlm. 181, 1402 H
  2. Al-Majlisi, Hatul Qulub,jld. 1, hlm. 271, 1426 H.
  3. Dinawari, Akhbār al-Thiwāl, hlm. 123-124, 1415 H.
  4. Safari Furusyani, Kufah az Pedayesh ta ‘Asyura, hlm. 34-35.
  5. Baraqi, Tarikh al-Kufah, hlm. 115.
  6. Dinawari, Akhbar al-Thiwal, hlm. 124.
  7. Ja’fari, Tasayyu’ dar Mashir Tarikh, hlm. 142.
  8. Ja’fari, Tasayyu’ dar Mashir Tarikh, hlm. 127.
  9. Tasayyu’ dar Mashir Tarikh, hlm. 128-131.
  10. Fayyadh, Pedayesy wa Gustaresye Syiah, hlm.80
  11. Ja’fari, Tasayyu’ dar Masir Tarikh, hlm. 130.
  12. Baraqi, Tarikh Kufah, hlm. 205.
  13. Ja’fari, Tasayyu’ dar Masir Tarikh, hlm. 138.
  14. Kariman, Kufah, jld. 14, hlm. 245.
  15. Kariman, Kufah, jld. 14, hlm. 245
  16. Sayid ibnu Thawus, Luhuf, hlm. 190-193.
  17. Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 5, hlm. 80.
  18. Mas’udi, Muruj al-Dzahab, jld. 2, hlm. 371.
  19. Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 2, hlm. 235.
  20. Al-Mufid, al-Jumal, hlm. 422; Ja’fari, Tasayyu’ dar Masir Tarikh, hlm. 107.
  21. Tibyan, Maqaleh Intikhabe Kufah be Unwane Markaze Khilafate az Suye Hazrat Ali (makalah dipilihnya Kufah sebagai pusat kekhilafahan Ali as).
  22. Baraqi, Tarikh Kufah, hlm. 246-249.
  23. Ya’qubi, al-Buldān, jld. 1, hlm. 149.
  24. Syaikh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 37-39.
  25. Baladzuri, jld. 2, hlm. 80-81.
  26. Shaikhiyan, Raftarshenasi Mardum Kufah dar Nehdhate Husaini, nomor 26, hlm. 456-457.
  27. Ja’fariyan, Atlas Syiah, hlm. 361.
  28. Thabari, Tarikh Thabari, jld. 3, hlm. 433.
  29. Tarikh Thabari, jld. 3, hlm. 448-449.
  30. Dinawari, Akhbar al-Thiwal, hlm. 298 – 303.
  31. Syaikh Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 171.
  32. Ishfahani, Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 158.
  33. Baraqi, Tarikh al-Kufah, hlm. 246-249.
  34. Baraqi, Tarikh Kufah, hlm. 246-249.
  35. Al-Tsaqafi, al-Ghārat, jld. 2, hlm. 850-856; Syahristani, al-Milal wa al-Nihal, jld. 1, hlm. 147; dinukil Pakatchi, Ja’far Shadiq as, Imam, hlm. 186; Asad Haidar, al-Imam al-Shadiq wa al-Mazahib al-Arba’ah, jld. 2, hlm. 124.
  36. Ibn Jubair,Safarnama, terjemah Parvis Atabaki, hlm. 259.
  37. Izadi, Hosaini, Jughrafiyae Tarikhi Kufah, hlm. 82.
  38. Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld. 7, hlm. 302.
  39. Maqatil al-Thalibiyyin, hlm. 433.
  40. Mas’udi, Muruj al-Dzahab, jld. 4, hlm. 94.
  41. Ibn Atsir, al-Kamil, jld. 7, hlm. 239-240.
  42. Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 11, hlm. 223.
  43. Situs Buratha.
  44. Rajabi,Kufah wa Naqshe-e on dar Qurune Nukhustin, hlm. 475-486.
  45. Rajabi,Kufah wa Naqshe-e on dar Qurune Nukhustin, hlm. 497.
  46. Safari Furusyani, Islam wa Musalmanan/ Mardumshenasi Kufah, majalah Masyhkut, nor. 53, hlm. 23.
  47. Safari Furusyani, Kufah az Pedayesh ta ‘Asyura, hlm. 193.
  48. Thabathabai Yazdi, Urwah al-Wutsqa, hlm. 347.
  49. Safari Furusyani, Kufah az Pedayesh ta ‘Asyura, hlm. 137-144.
  50. Baraqi, Tarikh Kufah (1424 H), hlm. 466.
  51. Karimi Niya, Tarikh Fiqh wa huquq,hlm.46.
  52. Jabbari, Negahi be Makktab Haditsi Kufah dar Sadehhaye Awwaliyehhlm. 59.
  53. Muhajirani, Tarikh Sharaf wa Nahwu, hlm.101.
  54. Baraqi, Tarikh al-Kufah (1424 H), hlm. 229.
  55. Safari, Kufah az Pedayesh ta ‘Asyura, hlm. 327-330.
  56. Al-Kafi, jld. 9, hlm. 281.
  57. Allamah Majlisi, Biharul Anwar, jld. 97, hlm. 385.
  58. Allamah Majlisi, Biharul Anwar, jld. 53, hlm. 11; ‘Ayasyi, Tafsir ‘Ayasyi, jld. 1, hlm. 165.


Daftar pustaka

  • Allamah al-Majlisi, Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi, Bihar al-Anwar, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1403 H.
  • Asad Haidar, al-Imam al-Shadiq wa al-Mazahib al-Arba’ah, cet. 5, Beirut, Dar al-Ta’aruf, 1422 H.
  • As-Tsaqafi, Ibrahim bin Muhammad, al-Ghārāt, riset. Al-Sayyid Jalaluddin al-Husaini al-Armawi al-Muhaddis, Tehran, Silsilah Intisyarat Anjuman Atsar-e Melli, tanpa tahun.
  • Al-Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, Beirut, Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Baraqi, Sayyid Husain Baraqi, Tarikh al-Kufah, Beirut, Dar al-Adhwa’, 1978 M, dan al-Maktabah al-Haidariyyah, 1424 H.
  • Ad-Dinawari, Ahmad bin Daud ad-Dinawari, Akhbār al-Thiwāl, Qom, Mansyurat Syarif Radhi, 1415 H.
  • Fayyadh, Abdullah Fayyadh, Pedayesh wa Gustaresh-e Tasayyu’, terjemahan Jawad Khatami, Sabzwar, Nasyre Ibn Aiman, 1424 H.
  • Al-Hamawi, Syihabuddin Abu Abdullah Yaqut bin Abdullah bin al-Hamawi, Mu’jam al-Buldān, Beirut, Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1979 M.
  • Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar al-Shadir, 1427 H.
  • Ibn Jubair, Safarnama Ibn Jubair, terjemahan Parvis Atabaki, Masyhad, Astan Quds Razavi, 1412 H.
  • Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, tanpa Tahun.
  • Ibn Qulawaih, Ja’far bin Muhammad, Kamil al-Ziyarāt, Tehran, Peyame Haq, 1419 H.
  • Ja’fari, Sayyid Husain Muhammad Ja’fari, Tasayyu’ dar Masir-e Tarikh, terjemahan Muhammad Taqi Ayatullahi, Tehran, Daftar Nasyre Farhangge Islami, 1428 H.
  • Jawadi, Ahmad Shadr Haji Sayyid Jawadi, Dairat al-Ma’arif Tasayyu’, Tehran, Hikmat, 1432 H.
  • Mas’udi, Ali bn Husain, Muruj al-Zahab, Beirut, Dar al-Fikr, 1421 H.
  • Ni'matullah Safari, Kufah az Perayesh ta ‘Asyura, Tehran, Nashre Masy’ar, 1433 H.
  • Rajabi, Muhammad Husain Rajabi, Kufah wa Naqshe-e on dar Qurune Nukhustin-e Islami, Tehran, Daneshgah Imam Husain as, 1420 H.
  • Sayyid bin Thawus, Ali bin Musa bin Ja’far bin Thawus, Luhuf terjemahan Bakhshayeshi, Qom, Nuwid Islam, 1419 H.
  • Shaikhiyan, Raftarsyenasi Mardum Kufah dar Nehdhate Husaini, Hukumate Islami, Zamestan, 1423 H, no. 26.
  • Thabari, Muhammad bin Jurair Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Mulk (Tarikh Thabari), Beirut, Muassasah al-A’lami lil Mathbu’at, Bi Ta wa Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thabathabai Yazdi, Sayyid Muhammad Kadzim Thabathabai Yazdi, al-Urwah al-Wutsqa, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, tanpa tahun.
  • Ya’qubi, Tarikh Ya’qubi, terjemahan Muhammad Ibrahim Ayati, Intisyarate Ilmi wa Farhanggi, 1403 H.
  • Maqdisi, Muhammad bin Ahmad, Ahsan al-Taqāsim, terjemahan Ali Naqi Manzawi, Tehran, 1402 H.
  • Al-Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Irsyad fi Ma'rifah Hujajillah ala al-Ibad, riset Muassasah Al al-Bait li Ihya al-Turats, Qom, Konferensi Internasional Syaikh al-Mufid, 1414 H.