Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa link
tanpa alih

Ayat Ujian Nabi Ibrahim as

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Ayat ujian Nabi Ibrahim as (bahasa Arab:آية الابتلاء) adalah ayat yang disebutkan pada ayat 124 surah Al-Baqarah. Berdasarkan ayat ini, Allah Swt mengangkat Nabi Ibrahim as dengan kedudukan sebagai imam. Pengikut Syiah, beranjak dari surah ini meyakini bahwa makam imamah selain harus diangkat oleh Allah Swt juga harus memiliki makam ishmah (maksum).

Teks Ayat

"وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata, "Dan dari keturunanku (juga)?" Allah berfirman, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim." (QS Al-Baqarah [2]:124)

Kandungan Ayat

Pada ayat ini terdapat 3 pembahasan yang menjadi perhatian ahli tafsir dan kaum teolog:

  1. Apakah arti kata ibtilā dan kalimāt yang menjadi perantara Allah Swt menguji Nabi Ibrahim?
  2. Apakah maksud imāmah yang dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim as setelah ia berhasil menempuh ujian Ilahi?
  3. Apakah maksud dari al-zhālimin yang mencegahnya dari kedudukan imamah? Dengan kata lain, apakah ayat ini menunjukkan keharusan maksum (ishmah) seorang imam?

Maksud Kata Kalimāt

Terkait dengan hal ini, terdapat beberapa pendapat:

A. Dari Imam Shadiq as diriwayatkan bahwa ujian Nabi Ibrahim adalah ketika ia bermimpi menyembelih putranya, Nabi Ismail as. Seperti yang termaktub dalam riwayat, hal ini merupakan salah satu ujian terpenting Nabi Ibrahim as dan maksudnya ujian Nabi Ibrahim bukan hanya itu.

B. Ibnu Abbas meriwayatkan 3 penafsiran terkait dengan hal ini:

  1. Kriteria atau 10 tradisi yang berkaitan dengan kebersihan dan kesucian badan: berkumur, membersihkan hidung, menyikat gigi, mengkhitan, mencukur kumis dan lainnya.
  2. 30 sifat atau aturan dari syariat Islam yang dijelaskan dalam Qs. Al-Taubah (9): 112, Qs. Al-Ahzab (33): 35 dan Qs. Al-Mukminun (23): 1-9
  3. Manasik Haji

C. Hasan Bashri berkata: Kata "kalimāt" adalah adu dalil Nabi Ibrahim as dengan penyembah bintang, bulan dan matahari, dilemparkannya ia ke dalam api, hijrah dari tempat kelahirannya dan penyembelihan putranya, Ismail as.

D. Abu Ali Jabai berkata,"Maksud ujian Nabi Ibrahim as di sini adalah ketaatan secara aqli dan syar'i."

E. Mujahid berkata: "Maksud "kalimāt" adalah redaksi ayat 'Allah swt berfirman, 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikanmu imam bagi manusia'" dan ayat-ayat setelah itu. Berdasarkan hal ini, imamah merupakan salah satu bentuk ujian Nabi Ibrahim as, bukan sebuah kedudukan (maqām) yang diberikan setelah menempuh ujian." Amin al-Islam Thabarsi setelah memaparkan pendapat-pendapat di atas berkata,"Ayat ini mencakup semua pendapat-pendapat di atas."[1]

Kritik dan Evaluasi

Allamah Thabathabai menyebutkan dalil bahwa penyebutan "kalimāt" tidak dijelas dalam Al-Quran, karena itu pendapat Mujahid tidak perlu terlalu diperhatikan. [2] Thabari setelah memaparkan pendapat-pendapat itu, selain terhadap pendapat pertama berkata: "Kemungkinan maksudnya adalah semua poin-poin tersebut dan atau sebagian dari poin-poin itu karena tidak ada riwayat yang valid terkait dengan hal ini." [3] Ibnu Katsir memandang bahwa pendapat Mujahid berlawanan dengan konteks ayat dan memberikan kemungkinan benar terhadap pendapat-pendapat yang lain. [4] Qurtubi dari Abu Ishak Zujaj meriwayatkan: "Berbagai pendapat dalam "kalimat" tidak menjadi masalah, karena Nabi Ibrahim as diuji dengan berbagai ujian dan cobaan." [5]

Walaupun Al-Quran tidak menjelaskan tentang "kalimāt", namun dari konteks "kalimāt" dapat ditarik kesimpulan bahwa "kalimāt" apa pun itu, memiliki pengaruh dalam menetapkan dan menjelaskan akan kelayakan Nabi Ibrahim dalam menerima kedudukan sebagai imam (menduduki posisi imamah).[6]

Klasifikasi dan Kesimpulan

Berdasarkan riwayat-riwayat yang berasal dari Ahlulbait as, Allah Swt memberi kedudukan imamah setelah kedudukan "khullat" [7] Kedudukan "khullat" adalah keadaan ketika manusia tenggelam dalam kasih dan sayang Tuhan yaitu ketika ia tidak lagi terikat dengan selain-Nya. [8] Oleh itu, ia tidak ragu-ragu untuk mengorbankan segala sesuatu demi keridhaan-Nya. Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa ujian-ujian seperti dimasukkannya ia ke dalam api unggun yang sangat panas oleh Namrud, hijrah dari negara dan tempat tinggal anak-cucunya ke bumi kering dan panas Arab Saudi dan menyembelih putranya merupakan salah satu "kalimāt" dan ujian-ujian yang dimaksudkan ayat tersebut. Poin ini juga menjelaskan bahwa ujian-ujian yang telah disebutkan itu, terjadi pada masa nubuwah dan risalah Nabi Ibrahim as.

Kedudukan Imamah Nabi Ibrahim as

Terkait dengan kedudukan imamah Nabi Ibrahim as terdapat beberapa pendapat:

Imamah Global

Pendapat Pertama: Kepemimpinan Nabi Ibrahim as merupakan karakteristik dan tipologi baginya. Setelah ia menjalani ujian-ujian yang berat, Allah Swt menganugerahkan kedudukan imamah pada masa kehidupannya dan pada masa-masa yang lain, yaitu pada masa para nabi dan para pengikut nabi yang lain, artinya seluruh manusia yang mengikuti sunah tauhid Nabi Ibrahim as. [9]

Untuk menegaskan pendapat ini, terdapat bukti dari ayat-ayat Al-Quran. Sebagaimana dalam membantah klaim yang diajukan oleh Yahudi dan Nasrani pada masa Nabi Muhammad saw yaitu setiap dari mereka menisbatkan agamanya kepada Nabi Ibrahim as. Patut diperhatikan bahwa orang yang paling layak dinisbatkan kepada Ibrahim as adalah Nabi Muhammad saw dan pengikutnya serta orang-orang yang telah mengikutinya sebelum Islam. [10] Dalam sebuah ayat disebutkan bahwa Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim as. [11] Pada ayat yang lain, agama Islam dikenal dengan nama ajaran Nabi Ibrahim as. [12] Beberapa hipotesa ini tertolak karena beberapa alasan:

Kritik dan Evaluasi

a. Nabi Musa as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad saw masing-masing mempunyai syariat yang berbeda. Mengingat bahwa setiap syariat baru menganulir (nasakh) syariat sebelumnya, maka tidak dapat dikatakan bahwa ketiga nabi tersebut mengikuti syariat Nabi Ibrahim. Berdasarkan hal ini, yang dimaksud dengan ayat itu adalah inti dan esensi ajaran Nabi Ibrahim as adalah tauhid dan tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan Ilahi, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam…." [13]

b. Al-Quran menilai Nabi Ibrahim as sebagai Syiah Nabi Nuh as. [14] Maksudnya syariat Nabi Ibrahim bukan merupakan syariat Nabi Nuh as, namun artinya adalah bahwa Nabi Ibrahim as berada di jalan tauhid, memerangi kesyirikan, jahiliyah dan menggunakan metode-metode yang digunakan oleh Nabi Nuh as. Maksud pengikutan para nabi terhadap syariat Nabi Ibrahim juga bermakna yang sama.

c. Nabi Ibrahim as memohon kedudukan imamah untuk para anak dan keturunannya. Allah Swt memberikan kedudukan imamah kepada anak-anaknya yang suci dan maksum. Terkait dengan Nabi Ishak as dan Nabi Yakub as berfirman, "Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami…"[15] Oleh itu tidak dapat dikatakan bahwa kedudukan imamah merupakan sifat dan karakter Nabi Ibrahim as.

Nubuwah dan Kenabian

Pendapat Kedua: Sebagian menafsirkan imamah dalam ayat ini sebagai nubuwah dan kenabian. Fakhr al-Razi ketika menetapkan pendapat ini berkata: Pertama, dari redaksi "لِلنَّاسِ إِمَامً" dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim as adalah imam seluruh manusia dan hal ini adalah ciri-ciri para nabi pembawa syariat karena jika tidak demikian, ia merupakan pengikut nabi lain di mana hal ini tidak sesuai dengan keuniversalan keimamahannya.

Kedua, para nabi, entah itu yang merupakan pembawa syariat atau bukan, mempunyai kedudukan imamah. Sehingga mengikuti mereka bagi manusia merupakan suatu kewajiban. Ketiga, imamah dalam ayat ini adalah pemberian anugerah kepada Nabi Ibrahim as. Karena itu, imamah, yaitu nubuwah adalah nikmat terbesar Ilahi. [16]

Kritik dan Evaluasi

Klaim pertama dan kedua yang dilontarkan oleh Fakhr al-Razi saling bertentangan karena pada klaim pertama ia mengartikan imamah Nabi Ibrahim as sebagai nubuwwah yang merupakan pembawa syariat. Sedangkan pada klaim kedua ia memaknai imamah sebagai nubuwah dengan arti yang luas.

Demikian juga klaim ketiganya tidak dapat dibuktikan karena pemberian nikmat berupa imamah yang bermakna kenabian tidak saling meniscayakan satu sama lain. Selain itu, tidak diragukan lagi bahwa semua atau sebagian dari ujian demi ujian yang telah dijalaninya menjadikan Nabi Ibrahim as layak untuk mendapatkan posisi imamah, dimana hal ini terjadi pada masa kenabiannya, maka bagaimana mungkin imamah ditafsirkan sebagai kenabian? Hal lain yang menjadikan pandangan ini ditolak adalah ketika Nabi Ibrahim menerima kedudukan imamah, beliau juga memohon kedudukan itu bagi anak cucunya. Dari permohonan ini dapat diketahui bahwa ia memiliki anak pada masa tersebut atau minimal ia yakin akan mempunyai anak karena permohonan Nabi Ibrahim as tidak bersyarat bahwa jika ia tidak mempunyai anak. Dari sisi lain, Nabi Ibrahim as tidak mempunyai anak sampai usianya tua renta, artinya berdasarkan kaidah-kaidah umum ia sudah tidak berharap lagi mempunyai anak. Ketika malaikat memberi kabar gembira kepadanya, ia berkata, "Mereka menjawab, 'Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa." [17] Oleh itu, imamah diberikan pada akhir masa kenabiannya dan setelah mendapat kabar gembira tentang anak yang akan dikaruniakan kepadanya. [18]

Suri Tauladan Semua Golongan

Pendapat ketiga: Yang dimaksud kedudukan imamah pada ayat itu adalah suri tauladan dan panutan dalam seluruh aspek Nabi Ibrahim as. Syarat untuk mencapai kedudukan ini adalah seseorang telah mencapai derajat kesempurnaan spiritual, bahkan ia tidak mengerjakan tark aula (meninggalkan yang utama).Walaupun para nabi sebelum Nabi Ibrahim as juga memiliki kedudukan imamah, namun keimamahan mereka tidak sebagaimana yang diisyaratkan dalam Alquran di mana mereka sekali waktu meninggalkan yang lebih utama. [19] Para nabi ini tidak memiliki kedudukan mulia sebagaimana yang dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim as. Perkataan dan perlakuan mereka tidak sempurna dan tidak semua sisi kehidupannya dapat dijadikan sebagai suri tauladan dan panutan bagi seluruh lapisan manusia dan pada semua masa. [20]

Kritik dan Evaluasi

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya bahwa apabila kedudukan imamah diberikan kepada anak cucu yang suci dan maksum Nabi Ibrahim seperti Nabi Ishak as dan Nabi Yakub as maka tidak diragukan lagi bahwa kedudukan dan posisi spiritual serta keutamaan pada diri para nabi Ulul Azmi seperti Nabi Nuh as, Nabi Musa as dan Nabi Isa as lebih baik dari pada para nabi ini dan juga memiliki kedudukan imamah. Berdasarkan hal ini, maka tidak dapat dikatakan bahwa hanya Nabi Ibrahim as saja yang menjadi suri tauladan dan panutan bagi manusia pada semua kalangan.

Wilāyah dan Kepemimpinan Politik

Pendapat keempat: Sebagian mufassir mengartikan imamah yang ada di ayat itu sebagai wilayah dan kepemimpinan politik. Dasarnya adalah wilayah dan kepemimpinan politik bukan merupakan urusan nubuwah dan risalah. Hubungan antara wilayah dengan nubuwah adalah umum dan khusus dari satu sisi(umum wa khususmin wajh), artinya sebagian para nabi disamping mempunyai kedudukan nubuwah juga mempunyai kedudukan wilāyah dan kepemimpinan politik namun sangat banyak dari para nabi ini yang tidak mempunyai kedudukan tersebut, sebagaimana halnya para imam as mempunyai kedudukan wilayah dan kepemimpinan politik, namun mereka tidak memiliki kedudukan nubuwah. Syaikh Thusi dalam Tibyān menyinggung tentang maksud pendapat ini. [21] Ia dalam kitabnya berkata:

Imam mempunyai 2 makna: Pertama, seseorang yang dalam pekerjaan dan perkataannya menjadi panutan bagi orang lain. Kedua, seseorang yang mengatur urusan umat dan menjadi pemimpin politik.

Menurut arti yang pertama, nabi sama dengan imam karena semua nabi adalah seseorang yang diikuti oleh orang lain baik dalam perkataannya maupun dalam perbuatannya. Namun dalam arti yang kedua tidak demikian. Boleh jadi hikmah Ilahi menuntut bahwa seorang nabi hanya diutus untuk menyampaikan hukum-hukum Ilahi kepada manusia namun ia tidak memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin politik masyarakat.

Syaikh Thusi selanjutnya memaparkan dalil guna menjelaskan perbedaan antara nubuwah dan imamah yang bermakna pemimpin politik: a. Dari ayat yang berkaitan dengan kepemimpinan Thalut dapat dipahami bahwa para nabi pada zaman itu tidak mempunyai kedudukan sebagai imam (imamah) dan pemimpin (kepemimpinan). Karena jika mereka mempunyai kedudukan imamah dan wilāyah, manusia tidak menginginkan seorang nabi diutus bagi mereka, juga apabila ia mempunyai kedudukan sebagai pemimpin, orang-orang tidak akan berkata: Kami lebih utama untuk memimpin dari pada Thalut, namun mereka berkata kau lebih utama dari pada Thalut untuk menduduki posisi pemimpin.

b. Nabi Harun as dan Nabi Musa as merupakan mitra tapi tidak memiliki kedudukan dalam arti kepemimpinan sosial karena ketika Nabi Musa as ingin pergi ke Miqad ia menempatkan Nabi Harun as sebagai penggantinya (khalifah). Jika Nabi Musa aS memiliki kedudukan imamah, maka ia tidak akan mengangkat pengganti (istikhlāf).

c. Allah swt memberi kedudukan imamah kepada Nabi Ibrahim as setelah ia memiliki kedudukan nubuwah dan risalah, juga setelah ia mampu keluar dari ujian-ujian Ilahi dengan baik. Oleh itu, nubuwah Nabi Ibrahim as dengan imamahnya merupakan suatu keniscayaan. [22] Aminul Islam, Thabarsi juga memilih pendapat ini. [23]

Kritik dan Evaluasi

Al-Quran menilai salah satu tujuan pengutusan nabi (bi'tsah) adalah menjadi hakim dalam menghadapi perselisihan yang ada. Allah Swt berfirman, "…(Setelah timbul perselisihan akibat meluasnya kehidupan sosial), Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan kitab (samawi) bersama mereka dengan benar untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan..." [24] Benar bahwa memutuskan perkara atas perselisihan ada dalam al-Quran, namun jelaslah bahwa dalam al-Quran hanya dijelaskan aturan dan pedoman-pedoman pokok penghakiman. Di samping itu, diperlukan seorang hakim yang menentukan subyek-subyek hukum dan untuk melaksakan aturan-aturan sehingga tujuan nubuwah dan syariat akan tercapai. Penegak hukum dan pelaksana syariat adalah seseorang yang mandiri dan bukanlah seorang nabi. Oleh itu, para nabi memiliki dua makna imamah. Pada ayat yang lain, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab samawi dan neraca (pemisah yang hak dan yang batil dan hukum yang adil) supaya manusia bertindak adil…. "[25] Poin-poin yang dinyatakan oleh Syaikh Thusi (Syaikh Thaifah) untuk memisahkan antara nubuwah dan imamah tidak sempurna dan tidak dapat dibuktikan klaimnya.

Terkait dengan para nabi Bani Israel pada masa Thaluth, yaitu ketika mereka meminta dari para nabi untuk menentukan panglima perang bagi mereka guna melawan musuh-musuhnya merupakan dalil yang jelas bahwa mereka mengetahui bahwa panglima tertinggi harus merupakan seorang nabi, dari sisi lain, nabi juga tidak menolak permintaan mereka dan tidak berkata bahwa hal ini tidak keluar dari urusan kenabian. Namun terkait dengan bahwa mereka sendiri mengira lebih layak dari pada Thaluth hal ini dikarenakan mereka menilai berdasarkan kriteria kekayaan dan reputasi. Oleh itu, nabi dengan kemampuan fisik dan kepandaian Thalut, menolak penilaian manusia.

Nabi Harun as, walaupun mempunyai kedudukan imamah, tetapi dengan adanya Nabi Musa as yang merupakan nabi ulul azmi dan memegang otoritas politik masyarakat, tidak dapat menjalankan kepemimpinan politik. Semua urusan harus dilakukan dengan izin dari Nabi Musa as. Demikian juga jika yang dimaksud dengan imamah Nabi Ibrahim as adalah kepemimpinan politik maka tidak diperlukan ujian sangat berat dan sulit. Pada kepemimpinan politik, disamping harus memiliki kriteria akan kelayakan spiritual dan keterampilan kompetensi dalam mengatur dan mempimpin masyarakat di mana para nabi selayaknya adalah manusia yang paling pantas pada masanya, mempunyai kriteria-kriteria seperti kedudukan maksum (ishmah) baik dalam ilmu maupun perbuatan.

Hidayah Batin

Pendapat kelima: Menurut pendapat Allamah Thabathabai imamah pada ayat ini bermakna hidayah batin. Hidayah ini bukan merupakan petunjuk dan penunjuk jalan yang diperankan oleh seorang nabi, namun lebih dari itu mencakup menyampaikan (ishāl) manusia ke jalan yang ideal dan mengantarkan kepada yang dimaksud.

Seseorang yang dapat memberi hidayah seperti harus memiliki kesempurnaan eksistensial dan kedudukan spiritual khusus di mana hal ini diperoleh setelah berusaha sungguh-sungguh yang luar biasa untuk mendapatkannya. Allamah Thabathabai bersandar pada ayat-ayat berikut demi membuktikan pendapatnya:

a. Ayat-ayat yang setelah mengisyaratkan tentang kedudukan imamah para nabi juga mengisyaratkan peran pemberi petunjuk mereka. Allah Swt berfirman, "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." [26]

b. Ayat-ayat yang menerangkan tentang perintah-perintah Ilahi. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka terjadilah ia.Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." [27]

c. Ayat-ayat yang menerangkan tentang makrifat sempurna dan orang-orang yakin yang telah melalui batasan-batasan bentuk lahir dunia, melihat tanda-tanda keagungan dan batin. Sebagaimana yang terjadi pada Nabi Ibrahim, Allah Swt berfirman, "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, (agar ia berargumentasi dengannya) dan termasuk orang-orang yang yakin." [28]

Dari beberapa ayat di atas, dapat diambil beberapa poin kesimpulan sebagai berikut:

  1. Imamah meniscayakan hidayah. Artinya hidayah adalah sifat khusus imamah dan hidayah inilah yang memperkenalkan posisi imamah. Oleh itu, tidak ada imamah tanpa hidayah dan tidak ada hidayah tanpa imamah. Hidayah yang dimaksud tercapai dan terwujud karena perintah khusus Ilahi.
  2. Untuk mencapai posisi imamah dan hidayah dengan perintah khusus Ilahi, harus melewati dua hal: sabar di jalan Allah Swt dan yakin kepada ayat-ayat-Nya. Karena sabar datang dalam bentuk mutlak maka mencakup segala jenis kesabaran di jalan Tuhan dan sabar atas kesusahan, keteguhan dan kestabilan dalam menghadapi ujian-ujian Ilahi.
  3. Perintah-perintah Ilahi artinya tanda-tanda keagungan sesuatu dan setiap entitas dari tanda-tanda keagungan dan batin wujudnya dengan Tuhan. Oleh karena itu, imam harus merupakan orang-orang yang yakin dan melalui pancaran makrifat seperti ini mampu mempengaruhi batin kemudian menuntun manusia untuk memperoleh petunjuk dari Allah Swt.

Berdasarkan hal tersebut, gerakan manusia kepada Tuhan dan cara mereka untuk sampai kepada kesempurnaan yang ideal terwujud melalui cara esoterik dan spiritual, sebagaimana dalam kehidupan lahiriah, imam menunjukkan ke jalan kebahagiaan. Karenanya imam memiliki dua sisi hidayah: sisi lahir dan batin, eksoterik dan esoterik. [29]

Tingkatan-tingkatan Hidayah Batin

Berdasarkan ayat 72 surah Al-Anbiya di mana imamah ditetapkan bagi Nabi Ishak as dan Yakub as dan tidak dimilikinya kedudukan kepemimpinan politik bagi kedua nabi ini atas nabi-nabi yang lain, dan keyakinan atas kedududukan imamah bagi para nabi ulul azmi, maka secara umum imamah tidak dapat diingkari bagipara nabi. Tentu saja imamah dengan arti pemberi petunjuk batin dan mengantarkan sampai pada tujuan, mempunyai tingkatan-tingkatan yang beragam, sesuai dengan tingkatan-tingkatan eksitensial setiap nabi datas kedudukan ini.

Petunjuk atas Kemaksuman Imam

Argumen Fakhr al-Razi

Fakhr al-Razi berargumen dengan redaksi "Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia"atas kemaksuman (ishmah) Nabi Ibrahim as sebagai imam dengan dalil bahwa imam adalah seseorang yang diikuti, apabila ia melakukan dosa dan kesalahan, maka mengikuti akan dosa dan kesalahannya merupakan kewajiban. Namun hal ini batil karena keniscayaan dari kemaksiatan suatu pekerjaan merupakan pekerjaan yang dilarang dan dari satu sisi, karena mengikuti seorang imam adalah suatu kewajiban, maka melaksanakan perintahnya adalah suatu kewajiban sementara bersatunya antara keharaman dan kewajiban pada satu masa adalah suatu hal yang absurd dan mustahil. [30]

Argumen Syiah Imamiyah

Teolog dan mufassir Syiah Imamiyah dengan mengacu pada kalimat "لا ینالُ عَهدی الظالمین" "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim" adalah, "…Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim."[31] Allah Swt berfirman, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim." Maksud "ahd/janji" adalah imamah karena sebelumnya terdapat kalimat "Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Dan Nabi Ibrahim as meminta kedudukan imamah bagi keturunannya. Allah Swt dalam menjawab permintaan Nabi Ibrahim as, Allah berfirman, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim." Apabila maksud "ahd" bukan imamah, maka antara jawaban dan pertanyaan tidak terdapat sinkronisasi.[32][33]

Kritik dan Jawaban

Disebutkan bahwa zalim adalah seseorang yang pertama, berbuat dosa besar dan kedua tidak bertaubat atas dosa yang dilakukan. Jika seseorang berbuat dosa kemudian ia bertaubat, maka tidak tepat disebut zalim. [34][35][36][37]

Jawaban: Jawaban Pertama:Penafian pada ayat "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim" bersifat mutlak. Kandungannya adalah setiap orang yang dalam kehidupannya gelar zalim dilekatkan padanya, maka ia tidak akan menyandang posisi imamah dan untuk membatasi ayat yang bersifat mutlak ini memerlukan dalil yang lain yang tidak kita miliki. [38][39][40]

Jawaban kedua: Dikarenakan adanya petunjuk pasti bahwa siapa saja yang berbuat dosa dan kemudian bertaubat maka ia tidak akan mempunyai kedudukan imamah. Anak cucu Nabi Ibrahim as dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan:

  1. Orang-orang yang pada awal kehidupannya adalah orang yang zalim, kemudian bertaubat dan sampai akhir kehidupannya selalu berada di jalan yang benar.
  2. Orang-orang yang pada awal kehidupannya bukan merupakan orang yang zalim, namun kemudian ia berbuat zalim dan hal ini pun ia lakukan sampai akhir kehidupannya.
  3. Orang-orang yang semenjak awal kehidupannya sampai akhir hayatnya menempuh jalan kezaliman.
  4. Orang-orang yang bukan merupakan personifikasi dari orang yang berbuat zalim sedikit pun.

Tak diragukan bahwa Nabi Ibrahim as tidak meminta imamah untuk golongan ke-2 dan ke-3. Yang menjadi pertanyaan baginya adalah kelompok pertama dan kedua. Dari sisi lain, kalimat "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim" menjelaskan bahwa kelompok pertama tidak memperoleh janji imamah. Karena itu, hanya kelompok ke-4 saja yang akan menerima imamah yaitu orang-orang yang tidak berbuat dosa sedikitpun dan bukan merupakan personifikasi dari orang yang berbuat zalim. [41]

Catatan Kaki

  1. Majma' al-Bayān, jld. 1, hlm. 200.
  2. Al-Mizān, jld. 1, hlm. 270.
  3. Jāmi' al-Bayān, jld. 1, hlm. 608.
  4. Tafsir al-Quran al-Azhim, jld. 1, hlm. 292.
  5. Al-Jāmi' al-Ahkām al-Quran, jld. 2, hlm. 95.
  6. Al-Mizān, jld. 1, hlm. 270.
  7. Al-Burhān fi Tafsir al-Qur'ān al-Karim, jld. 1, hlm. 149-151.
  8. Al-Nihāyah fi Gharib al-Hadis wa al-Atsar, jld. 2, hlm. 72.
  9. Tafsir al-Thabari, jld. 1, hlm. 610.
  10. Qs. Ali Imran [3]: 68.
  11. Qs. Al-Nahl [16]: 23.
  12. Qs. Al-Haj [22]: 78.
  13. Qs. Ali Imran [3]: 19.
  14. Qs. Al-Shafat [37]: 83.
  15. Qs. Al-Anbiya [21]: 73.
  16. Mafātih al-Ghaib, jld. 2, hlm. 36.
  17. QS Al-Hijr [55]: 55.
  18. Al-Mizān, jld. 1, hlm. 2 67-268.
  19. Qs. Thaha [20]: 115; Qs. Al-Qashash [28]: 15.
  20. Mansyur Jāwid, jld. 5, hlm. 234-237.
  21. Tibyān, jld 1, hlm. 449.
  22. Al-Rasail al-Asyra, jld. 1, hlm. 449.
  23. Majma al-Bāyan, jld. 1, hlm. 201.
  24. QS Al-Baqarah [2]: 213.
  25. QS Al-Hadid [57]: 25.
  26. (QS. Sajdah [32]: 24); (QS Al-Anbiya [21]: 73).
  27. (QS Yasin [36]: 82 & 83); (QS Al-Qamar [54]: 50)
  28. (QS Al-an'am [6]: 75); (QS Al-Takatsur [102]: 6); (QS Al-Muthaffifin [83]: 18-21).
  29. Al-Mizān, jld. 1, hlm. 272-273.
  30. Mafātih al-Ghaib, jld. 4, hlm. 40.
  31. (QS Al-Baqarah [2]: 229).
  32. Al-Lawāmi' al-Ilahiyyah, hlm. 332-333.
  33. Al-Shāfi, jld. 3, hlm. 141.
  34. Syarh al-Muwāfiq, jld. 8, hlm. 351.
  35. Al-Mughni, jld. 20. Hlm. 194.
  36. Mafātih al Ghaib, jld. 4, jld. 3, h. 42.
  37. Syarh al-Aqāid al-Nāsifiyah, hlm. 113.
  38. Al-Tibyān, jld. 1, hlm. 449.
  39. Al-Shāfi, jld 3, hlm. 139.
  40. Majma' al-Bayān, jld. 1, hlm. 202.
  41. Al-Mizān, jld.1, hlm. 274.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim
  • Al-Burhān fi Tafsir al-Quran, Bahrani, Sayid Hasyim, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, 1393 H
  • Al-Tibyān fi Tafsir al-Quran, Thusi, Muhammad bin Hasan, Maktab al-I'lam al-Islami, Qum, 1409 H
  • Tafsir al-Quran al-'Azhim, Ibn Katsir, Ismail bin Amru bin Katsir Damsyiqi, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, Beirut, 1419 H
  • Al-Tafsir al-Kabir, Razi, Fakhr al-Razi, Dar Ihya at Tsurat al-'Arabi, Beirut
  • Tafsir Thabari, Thabari Muhammad bin Jarir, Riset: Muhammad Syakir, Dar Ihya al-Tsurat al-Arabi, Beirut
  • Jāmi' al-Bayān fi Tafsir al-Qur'ān, Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir, Dar al-Ma'rifah, Beirut, 1412 H
  • Al-Jāmi' al-Ahkam al-Quran, (Tafsir Qurthubi), Muhammad bin Ahmad, Riset: Abdul Razaq al-Mahdi, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1423 H
  • Al-Rasāil 'Asyra, Thusi, Muhammad bin Hasan, Muasasah al-Nasyar Islami, Qum, Tanpa Tempat
  • Al-Syāfi fi al-Imāmah, Sayid Murtadha, Ali bin Husain, Muasasah al-Shadiq, 1407
  • Syarh al-Aqāid al-Nasifiyah, Taftazani, Sa'ad al-Din, Mathbu'ah Maulawi, Muhammad Arif, 1364 S
  • Syarh al-Muwāfiq, Jarjani, Mir Sayid Syarif, Mansyurat al-Syarif al-Radhi, Qum, 1409
  • Al-Lawāmi' al-Ilahiyah, Al-Fadhil al-Miqdad, Jamaludin Miqdad Abdullahm Maktabah ak-Mar'asyi, Qum, 1405
  • Majma' al-Bayān, Thabarsi, Fadhlullah bin Hasan, Dar Ihya al-Tsurat al-'Arabi, Beirut, 1379 S
  • Al-Mughni fi Abwāb al-Tauhid wa al-'Adl, Hamedani, 'Abdul Jabar, Riset: Dr Mahmud Muhammad Qasim, Dar al-Kitab, Beirut, 1382
  • Mansyur Jāwid, Subhani, Ja'far, Intisyarat Tauhid, Qum
  • Al-Mizān, Thabathabai, Muhammad Husain, Muasasah al'A'lami, Beirut, 1393 H
  • Al-Nihāyah fi Gharib wa al-Atsar, Mubarak bin Muhammad, Muasasah Isma'iliyan, Qum. 1361 S.