Prioritas: aa, Kualitas: b

Imam Hasan al-Askari as

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Hasan bin Ali al-Askari
Imam kesebelas
Askari
مرقد امام هادی علیه السلام.jpg
Lahir 10 Rabiul Tsani 232 H
Tempat lahir Madinah
Imamah 6 tahun (254-260)
Penguasa Kontemporer Mu'taz Abbasi (252-255 H), Muhtadi (255-256 H) dan Mu'tamid (256-279 H)
Waktu syahid 8 Rabiul Awwal 260 H di
Tempat dimakamkan Samarra, Irak
Imam sebelumnya Ali bin Muhammad al-Hadi
Imam setelahnya Imam Mahdi
Ayah Ali bin Muhammad
Ibu Salil atau (Hudaits)
Pasangan Narjis
Putra Imam Mahdi
Lakab Ibnu al-Ridha, al-Shamit, al-Hadi, al-Rafiq, al-Zaki, dan al-Naqi
Imam-Imam Syiah
Ali, al-Hasan, al-Husain, al-Sajjad, al-Baqir, al-Shadiq, al-Kazhim, al-Ridha, al-Jawad, al-Hadi, al-Askari, al-Mahdi

Abu Muhammad Hasan bin Ali as (bahasa Arab: ابو محمد حسن بن علی) adalah Imam kesebelas bagi para pengikut Syiah dan dia adalah ayah Imam Zaman as, dia lahir di kota Madinah pada tahun 232 H. Kemasyhurannya dengan "Askari" diyakini karena dia dipaksa untuk tinggal di sebuah kota militer Samarra.

Pembatasan-pembatasan yang ketat dari pihak pemerintah pada kehidupan Imam Askari as menyebabkannya memilih perwakilan untuk berkomunikasi dengan para pengikut Syiah. Utsman bin Said adalah salah satu perwakilan khususnya, yang mana sepeninggal Imam Askari as dan masuk pada periode kegaiban kecil, dia juga akan berperan sebagai gerbang pertama atau dalam istilah lain, duta atau seorang pengacara dan wakil Imam Mahdi as.

Banyak hadis yang telah dikutip dari Imam al-Askari as tentang berbagai masalah, termasuk penafsiran Alquran, etika, fikih, urusan keimanan (teologi), doa, ziarah.

Nasab, Julukan dan Gelar

Keturunan Imam Hasan Askari as adalah sebagai berikut: Ibnu Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja'far. Ibunya, menurut kutipan beberapa sumber, adalah seorang budak wanita dengan sebutan "Hudaits" atau "Haditsah". Beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa nama ibunya adalah "Susan", [1] " 'Isfan" [2] dan "Salil" dan mereka telah memujinya dengan sebuah ungkapan bahasa Arab: کانت من العارفات الصالحات, dia adalah wanita yang arif, kompeten dan baik,. [3]

Gelar-gelar

Mereka menyebutkan gelar-gelarnya adalah Shomit, hadi, Rafiq, Zaki dan Naqi. Sebagian dari para sejarawan juga mengatakan bahwa beliau juga bergelar "Khalis"[4] Ibnu al-Ridha adalah sebuah gelar yang terkenal bagi Imam Jawad, Imam Hadi dan Imam Askari as. [5]

Imam Hadi as ayah Imam Hasan Askari as, ketika itu hampir 20 tahun 9 bulan kehidupannya beliau dihabiskan di Samarra; oleh sebab Itu, dua imam ini dikenal dengan “Askari”. Askar adalah julukan yang tidak masyhur untuk kota Samarra. [6]

Ahmad bin Abdullah bin Khaqan mengambarkan ciri-ciri penampilan luar Imam Askari as sebagai berikut: Bermata hitam, perawakan baik, berwajah tampan dan memiliki tubuh proporsional. [7]

Julukan

Dia dijuluki dengan panggilan Abu Muhammad. [8]

Kelahiran dan Wafat

Imam Hasan Askari as lahir di bulan Rabiul Tsani, hari kesepuluh [9] atau kedelapan [10] atau keempat [11] Pada tahun 232 H. di Madinah dan menjalani kehidupannya di sana selama 28 tahun. [12] Beberapa pendapat meyakini bahwa kelahirannya terjadi di salah satu bulan pada tahun 231. [13]

Imam Askari as di hari kedelapan bulan Rabi' al-Awwal tahun 260 H. meninggal dunia. [14] Namun, sebagian orang juga menjelaskan bahwa dia meninggal dunia pada bulan Jumadi al-Tsani di tahun yang sama. [15]

Istri dan Keturunan

Menurut kutipan pendapat yang masyhur adalah sebenarnya Imam Hasan Askari as sama sekali tidak pernah memilih seorang wanita untuk dijadikannya sebagai istri dan generasinya hanya berlangsung melalui seorang hamba sahaya yang mana itu adalah ibu bagi Imam Zaman Af. Namun sesuai dengan kutipan Syaikh Shaduq dan Syahid Tsani ibu Imam Zaman as bukanlah seorang hamba sahaya dan memang sengaja dinikahi oleh Imam Hasan Askari as. [16]

Terdapat banyak sumber yang menyebutkan bahwa nama ibu Imam Mahdi as bervariasi. Disebutkan dalam beberapa sumber bahwa Imam Hasan Askari as banyak mempunyai pembantu-pembantu dari berbagai negara seperti Romawi, Sisilia dan Turki. [17] Dan mungkin perbedaan yang terjadi dalam penamaan ibu Imam Mahdi ini, dari satu sisi adalah karena banyaknya para budak yang ada dan yang lainnya adalah karena untuk menjaga rahasia kelahiran Imam Mahdi as.

Namun hikmah dan sebab yang ada dapat disimpulkan bahwa selain nama Narjis yang sudah dikenal sebagai nama ibu untuk Imam Zaman as untuk para pengikut Syiah, [18] nama termasyhur lainnya yang tercantum dalam beberapa sumber adalah Shaqil. [19]

Susan, [20] Raihanah dan Maryam adalah nama-nama lain yang telah disebutkan. [21]

Dan menurut kebanyakan sumber-sumber yang ada dalam Syiah dan Sunni, satu-satunya keturunan Imam adalah Imam Zaman as yang dinamakan dengan Muhammad. [22]

Dan karena Imam Hasan Askari as adalah ayah Imam Zaman as, [23] maka raut tokoh ini untuk para pengikut Syiah senantiasa muncul dan timbul dari kepribadian Imam Hasan Askari as. Oleh karena itu, menurut pandangan yang masyhur di kalangan Imamiyah adalah kelahiran Imam Mahdi as jatuh pada pertengahan Sya'ban 255 H. tetapi ada juga yang meyakini bahwa tahun kelahirannya adalah 256 H. atau 254 H. [24]

Adapun mengenai anak keturunan beliau, banyak pendapat yang diutarakan. Sebagian mengatakan bahwa Imam memiliki 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan, [25] di kalangan Imamiyah juga ada yang berpendapat mirip dengan pandangan terakhir ini; Khusaibi menambahkan bahwa selain Imam Zaman as, imam juga memiliki dua orang putri bernama Fatimah dan Dalalah. [26] dan Ibnu al-Tsalj juga menambahkan bahwa selain Imam Mahdi as, Imam juga memiliki seorang putra bernama Musa dan dua orang putri bernama Fatimah dan Aisyah, [27] namun dalam sebagian buku Ansāb, nama-nama yang disebutkan di atas tadi adalah nama-nama saudara laki-laki dan saudara perempuan Imam Hasan Askari as [28] yang ada kemungkinan terbaur dengan nama anak keturunannya. Begitu juga sebaliknya, sebagian dari ulama Sunni seperti Ibnu Jarir Thabari, Yahya bin Said dan Ibnu Hazm meyakini bahwa Imam sama sekali tidak mempunyai keturunan. [29]

Dalil-dalil Imamah

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Syaikh Mufid meyakini bahwa Hasan bin Ali (Imam Hasan Askari) sepeninggal ayahnya Imam Hadi as, karena memiliki keutamaan-keutamaan yang lazim dan keunggulan-keunggulan yang lebih dari pada yang lain dalam mengontrol dan mengatur urusan kepemimpinan, begitu pula karena adanya riwayat dari Imam Hadi as sebagai Imam kesepuluh Syiah. [30] Dalam sebuah riwayat dari Imam Hadi as yang dinukil oleh Ali bin Umar Noufeli berkata:

“Saya pernah bersama Imam Hadi as di halaman teras rumahnya tiba-tiba anaknya Muhammad –Abu Ja'far- lewat di hadapan kami. Kemudian aku berkata: jiwaku menjadi tebusanmu wahai Imam! Apakah dia ini adalah imam kami setelahmu? Dia menjawab: Imam kalian setelahku adalah Hasan as”. [31]

Sebenarnya hanya segelintir orang saja yang berdatangan meyakini keimamahan Muhammad bin Ali (yang meninggal di saat ayahnya Imam Hadi as masih hidup) dan begitu pula orang-orang yang meyakini bahwa Ja'far bin Ali adalah imam, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan para sahabat dan penolong Imam Hadi as meyakini keimamahan Imam Hasan Askari as dan berkorban deminya. Masudi meyakini bahwa kebanyakan kalangan Syiah duabelas imam adalah para pengikut Imam Hasan Askari as dan putranya yang mana di dalam sejarah mereka ini terkenal dengan kelompok Qath'iyah. [32]

Kehidupan di Samarra

Ketika Imam Hasan Askari berumur satu tahun, beliau dibawa ke kota Samarra bersama ayahnya pada tahun 233 H/ 847 M dan dia memulai kehidupannya di sana. [33]

Hubungan dengan Para Pengikut Syiah

Selama bertahun-tahun dari kehidupan Imam di Samarra, selain beberapa kali dipenjara, kelihatannya kehidupan dia sama seperti warga biasa, walaupun, perilakunya berada di bawah pengawasan Dinasti Abbasiyah. Berdasarkan bukti-bukti sejarah dapat diakui bahwa Imam Askari as sebagaimana para imam Syiah yang lain, jika dibebaskan beliau akan memilih untuk hidup di Madinah ketimbang Samarra. Oleh karena itu, selama beliau tinggal di Samarra, hal itu dianggap sebagai bentuk penahanan dari pihak para khalifah Abbasiyah. Hal yang khusus ini disebabkan adanya jaringan yang tersusun dan terdiri dari para pengikut Syiah yang memang sudah terbentuk cukup lama dan dalam pandangan para khalifah hal ini memiliki kepentingan yang begitu besar sehingga dapat mengkhawatirkan dan menjadi penyebab ketakutannya.

Oleh karena itu, Imam dimohon untuk selalu hadir dan senantiasa menetap di Samarra supaya selalu berada dalam pengawasan Dinasti Abbasiyah; sebagaimana pernyataan yang dikatakan oleh salah satu pelayan Imam as, menurut penukilannya Imam setiap hari Senin dan Kamis harus selalu hadir di Dar al-Khilafah secara terpaksa. (dalam sebagian naskah disebut dengan Dar al-'Amah yang mana kemungkinan besar itu adalah Dar al-Khilafah). [34] Walaupun terlihat secara lahiriah adalah sebuah penghormatan untuk Imam, namun sebenarnya hal itu adalah sebuah pengawasan yang dilakukan oleh pihak pemerintahan saat itu.

Para pengikut Syiah menghadapi kesulitan untuk menemui Imam; dimana ketika Khalifah pergi untuk melihat gubernur Basrah dan Imam juga dibawa bersama dengannya, para sahabat Imam di sepanjang jalan bersiap-sap untuk melihatnya. [35] Dari hikayat ini dapat dipahami dengan baik bahwa dalam kehidupan Imam, setidaknya ada waktu untuk melihatnya, walaupun tidak secara langsung.

Ismail bin Muhammad berkata: Aku duduk menghalangi jalan Imam untuk meminta bantuan uang dan ketika dia melewati jalan aku langsung meminta bantuan uang kepadanya. [36]

Perawi yang lain menukil bahwa di suatu hari telah dijanjikan bahwa Imam akan datang ke Dar al-Khilafah, kami berkumpul di sebuah pengepungan menunggu kedatangannya. Dalam situasi tersebut kami menerima sebuah catatan darinya yang kandungannya adalah sebagai berikut: Jangan ada seorangpun dari kalian yang memberikan salam atau isyarat ke arahku; karena kalian tidak akan berada dalam keamanan. [37] Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa seberapa kuat tangan kaki khalifah mengawasi tindakan dan hubungan Imam dengan para pengikutnya dan kemudian mengontrol mereka. Tentunya Imam juga dalam banyak kesempatan mempunyai waktu-waktu tertentu untuk saling bertemu dan mereka mempunyai cara tersendiri untuk membuat situasi tersebut. Salah satu kontak atau hubungan Imam dengan para pengikutnya adalah dengan cara surat menyurat dan ini juga disebutkan dalam banyak sumber yang sering kita temui. [38]

Batasan-batasan yang ketat dan larangan-larangan yang keras pemerintah terhadap kehidupan Imam Askari menyebabkannya untuk menggunakan para delegasi untuk mengadakan hubungan dengan para pengikut Syiah dan beberapa orang berada dalam jumlah tersebut. Dalam hal ini salah seorang dari mereka adalah Uqaid, seorang pelayan khusus Imam yang juga semenjak dari masa kecil diasuhnya dan pembawa surat Imam terbanyak untuk para pengikutnya. [39] Dan seorang dengan julukan yang asing dan aneh Abu al-Adyan juga seorang pelayan untuk Imam as yang juga mempunyai tugas untuk menyampaikan sebagian surat-surat Imam. [40] namun yang sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah seorang yang ditunjuk sebagai wakil Imam sebagaimana yang disebut dalam sumber-sumber Syiah adalah Utsman bin Said. Yang mana peranan Utsman bin Said setelah Imam Hasan Askari as wafat terus berlanjut dengan masuknya masa kegaiban kecil, sebagai orang pertama yang menjadi wakil dan duta serta pengganti khusus Imam Zaman as. [41]

Situasi dan Keadaan Imam di Samarra

Imam Hasan Askari as walaupun usianya masih belia, namun dikarenakan situasinya yang tinggi dari sisi ilmu dan moral, terlebih-lebih beliau adalah pemimpin orang-orang syiah dan keyakinan mereka kepada Imam tanpa ada sedikitpun kecurigaan dan penghormatan masyarakat kepadanya tanpa disangsikan lagi, menemukan reputasi yang besar. Begitu juga dengan hal tersebut dia mendapat perhatian Ahlusunnah dan Syiah, pemerintahan Abbasiyah selain pada beberapa hal, secara lahir menunjukkan penghormatannya kepada Imam.

Sa'ad bin Abdullah 'Asyari salah satu ulama terkenal Syiah yang kemungkinan telah bertemu dengan Imam as [42] berkata: “pada bulan Sya'ban tahun 278 -18 tahun setelah wafatnya Imam as- kami duduk dalam sebuah majlis Ahmad bin Ubaidillah bin Khaqan ayahnya adalah seorang menteri Mu'tamid Abbasiyah [43] -dimana ketika itu dia bertugas memegang perpajakan kota Qum dan memiliki permusuhan dengan keluarga Muhammad dan masyarakat Qum-. Perbincangan ketika itu mengenai pembahasan para Thalibiyun yang tinggal di Samarra dan madzhab serta posisi mereka di hadapan hakim, Ahmad berkata: “Aku tidak melihat dan tidak mendengar seseorang dari para Alawiyin di Samarra seperti Hasan bin Ali Askari as, yang begitu terkenal dengan martabat, kehormatan dan kecerdasan serta kedudukan yang tinggi di tengah-tengah Ahlulbait dan terhormat di sisi hakim penguasa dan Bani Hasyim, Sebagaimana dia lebih unggul dari para orang tua bahkan para menteri dan umara. Suatu hari aku berdiri di samping ayahku, saat itu ayahku duduk untuk bertemu dengan masyarakat. Salah seorang dari Jemaah haji datang dan berkata: Putra Ridha sedang mengantri di samping pintu. Ayahku dengan suara yang keras mengatakan: Izinkan dia masuk dan kemudian diapun masuk… Ayahku beberapa langkah maju ke depan menyambutnya ketika melihatnya masuk, sebuah tindakan yang tidak pernah dia lakukan kepada siapapun baik kepada para menteri atau umara lainnya yang memiliki jabatan. Sesudah dekat, tangannya ia lingkari ke leher Imam dan mengecup kening dan wajahnya. Ketika itu tangannya memengang tangan Imam dan membawanya duduk di tempat duduknya.

Ayahku duduk berhadapan dengannya dan mulai berbincang-bincang dengannya. Dalam perbincangannya dia memanggil Imam dengan julukan –yang menunjukkan penghormatan kepada Imam- dan senantiasa mengucapkan ayah dan ibuku menjadi tebusanmu… malamnya ketika aku pergi menghadap ayahku… aku bertanya kepadanya: “Ayah, orang yang datang hari ini, yang sangat engkau hormati dan engkau junjung, siapakah dia sehingga engkau senantiasa mengatakan ayah dan ibuku menjadi tebusanmu? Dia berkata: Dia adalah putra Ridha, Imam para pengikut Syiah; kemudian terdiam. Kemudian dia memecah keheningannya dan melanjutkan: Anakku, jika suatu hari kepemimpinan ini keluar dari tangan Bani Abbas dan beralih ke tangan Bani Hasyim, maka tidak ada orang yang paling layak untuk memikulnya kecuali orang tersebut. Dia adalah orang yang paling layak untuk memegang kekhilafahan karena keutamaan, keterjagaan jiwanya, zujud, dan ibadah serta moral baik yang dimilikinya. Jika engkau tidak melihat ayahnya, ayahnya adalah seorang yang berwibawa, pandai, cerdas, dan berhati baik. Dengan mendengar penjelasan ini, segala keharuan dan keemosian menguasai diriku, selain itu keingintahuanku bertambah untuk lebih mengenalnya.

Ketika aku bertanya tentangnya, dari setiap orang dari Bani Hasyim, para sekretaris, para hakim, dan para ahli hukum, bahkan orang-orang biasa, aku menemukannya sebagai orang yang terhormat dan memiliki keagungan yang tinggi di sisi mereka. Semua mengatakan bahwa dia Imam para pengikut Syiah. Sejak saat itu, kepentingannya di sisiku semakin bertambah, karena teman dan musuhnya memujinya dengan baik. [44]

Riwayat ini dapat menunjukkan kondisi sosial dan moral baik Imam as di tengah kalangan masyarakat secara umum dan bahkan buat para pengikut Syiah secara khusus, dengan mengingat bahwa perawi hadis atau riwayat ini adalah salah seorang pembenci berat Ahlulbait as. Pelayan Imam Askari as berkata: Hari-hari dimana Imam pergi ke tempat kediaman khalifah, rasa gembira dan kebahagiaan yang tak terkira merasuk ke hati-hati penduduk. Jalan-jalan yang dilewati Imam penuh dengan penduduk dan dengan kendaraan mereka. Ketika Imam datang, hiruk pikuk jalanan hening seketika. Imam berlalu di tengah-tengah penduduk dan memasuki ruang pertemuan. [45] hal ini adalah suatu hal yang alami dan dapat dipastikan bahwa kebanyakan dari mereka adalah para pengikut Syiah yang berdatangan ke Samarra dari segala penjuru, baik dekat maupun jauh, untuk melihat Imam mereka; walaupun keinginan dan kecintaan seluruh penduduk kepada keturunan Rasulullah saw mereka juga bersemangat untuk melihatnya, hal inilah yang menjadi sebab ramainya penduduk.

Para Khalifah yang Hidup Sezaman dengan Imam as

Priode Imamah dan kepemimpinan Imam Hasan Askari as bertepatan dan bersamaan dengan tiga Khalifah: Mu'taz Abbasi (252-255 H), Muhtadi (255-256 H) dan Mu'tamid (256-279 H). [46]

Periode Penahanan Imam

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya bahwa kedatangan Imam Hadi as beserta putranya Imam Askari as ke Samarra atas perintah Mutawakil Abbasi dan ini berarti memenjarakan kedua imam tersebut di dalam kota dengan tujuan mengontrol mereka dan hubungan mereka dengan para pengikut Syiahnya. Dalam beberapa keadaan selama penahanan ayah dan anak, terjadi banyak penekanan dan ketidakbebasan; khususnya ketika munculnya gerakan-gerakan tertentu yang mengancam pemerintahan, pribadi Imam bersama beberapa pengikutnya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Ada banyak riwayat yang mengungkit tentang penahanan Imam Askari as. Shaimuri dalam buku al-Aushia' meriwayatkan dan berkata: “Aku sendiri melihat tulisan khat Abu Muhammad Askari as ketika ia keluar dari penjara Mu'tamid yang di situ ayat ini tertulis di dalamnya:

﴾يُريدُونَ لِيُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْكافِرُونَ﴿
Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.

Syaikh Mufid dari Muhammad bin Ismail Alawi meriwayatkan demikian: Imam Askari as dipenjara berdampingan dengan Ali bin Autamisy (atau Barmisy). Orang ini adalah salah satu dari para pemusuh keluarga Abu Thalib. Dia diperintahkan sedapat mungkin untuk selalu keras ketika bergaul dengan Imam as. Namun dia dengan melihat Imam ketika berpisah dengannya lebih aktif dari yang lain mengenal kebesaran Ilahi pada diri Imam dan selalu memujinya. [47]

Kesyahidan

Penghancuran haram di tangan ekstem teroris

Imam sebelum wafatnya di akhir-akhir tahun 259 H. Ibunya ia kirim untuk berangkat haji dan segala yang akan terjadi padanya di tahun 260 H telah dikatakan kepadanya dan ia berpesan tentang putranya Imam Mahdi as dan Nama Agung dan juga warisan imamah dan senjata diserahkan kepadanya. Ibu Imam berjalan ke Mekah dan Imam Mahdi as juga dibawa bersamanya. [48]

Imam Askari as sakit pada awal bulan Rabiul Awwal tahun 260 H dan pada hari kedelapan bulan tersebut dia wafat pada usianya yang ke 28 di Samarra (Sarra man ra'a) dan dimakamkan di sebuah rumah yang ayahnya juga dimakamkan di situ. [49]

Thabarsi (wafat 548) mencatat: Kebanyakan dari para sahabat kami (yaitu ulama Syiah) meyakini bahwa Imam wafat karena diracun dan begitu seterusnya sebagaimana ayah dan para datuknya dan seluruh imam Syiah menemukan kesyahidan mereka dan alasan para ulama Syiah dalam hal ini adalah sebuah riwayat Imam Shadiq as, ia bersabda:
﴾والله ما منا الا مقتول شهید﴿
Demi Allah aku bersumpah, tidak ada dari kami yang terbunuh kecuali dalam keadaan syahid [50]

Penghancuran Haram di Tangan Para Ekstrem Teroris

Gambar perenovasian dan perbaikan haram

Haram dua imam Askariyain as dua kali hancur di tangan para teroris. Serangan pertama terjadi pada tahun 2005 dan serangan kedua terjadi pada tahun 2007 kira-kira setelah 16 bulan dari ledakan pertama.

Pada penghancuran pertama, para pelaku peledakan dengan menggunakan lebih dari dua ratus kilo gram bahan peledak TNT yang mereka taruh tepat di pusat kubah. Kubah dan sebagian menara-menara emas haram rusak dan kubahpun hancur luluh. dan pada serangan kedua juga menara-menara emas hancur.

Setelah serangan teroris ini, makam kedua Imam, berada dalam perbaikan dan perenovasiaan.

Lihat juga

Pranala Luar

Situs Haram Askariyain(berbahasa Arab)

Didahului oleh:
Imam Ali al-Hadi as
Imam ke-11 Syiah Imamiyah
254 H-260 H
Diteruskan oleh:
Imam Mahdi as

Catatan Kaki

  1. Kulaini, Ushul Kafi, jld.1, hlm.503.
  2. Naubakhti, Firaq al-Syiah, hlm. 105.
  3. Husain bin Abdul Wahab, Uyun al-Mu'jizat, hlm. 123.
  4. Thabari, Dalailu al-Imamah, hlm. 425.
  5. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, jld. 4, hlm. 421.
  6. Ibnu Khalkan, Wafayat al-A'yan, jld. 2, hlm. 94.
  7. Syaikh Shaduq, Kamaluddin, jld.1, hlm. 40.
  8. Syaikh Mufid, al-Irsyad, bab Tarikh Imam Hasan Askari.
  9. Syaikh Mufid, Masār al-Syiah, hlm.52.
  10. Thabrasi, 'I'lāmu al-Warā bi I'lāmi al-Hudā, hlm.349.
  11. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 4, hlm.434.
  12. Kulaini, Ushul al-Kāfi, jld. 1, hlm.503.
  13. Sibth bin Jauzi, Tazkirah al-Khawās, jld. 2, hlm.502.
  14. Masudi, Muruj al-Dzahab, jld. 4, hlm.110.
  15. Lihat: Ibnu Khalkan, Wafayāt al-A'yan, jld. 2, hlm. 94.
  16. Syaikh Shaduq, Kamāluddin, jld. 2, hlm.307; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 51, hlm.28.
  17. Masudi, Itsbāt al-Washiyah, hlm.266, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  18. Lihat, Syaikh Shaduq, Kamāluddin, hlm.307 dan…; Khoshaibi,Al-Hidāyah al-Kubrā, hlm. 248; Syaikh Thusi, Al-Ghaibah, hlm.213, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  19. Ibnu Hazm, Jumhurah Ansāb al-Arab, hlm.61; Syaikh Thusi, Al-Ghaibah, hlm.272; Dzahabi, Siar 'Alām al-Nubalā', jld. 13, hlm.121, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  20. seperti: Ibnu Abi al-Tsalj, Majmuatu Nafisah, hlm.26; Ibnu Khusyab, Tārikhu Mawālid, hlm.201; Dzahabi, Siar 'Alām al-Nubalā', jld. 13, hlm.121, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  21. Thuraihi, Jāmiu Maqāl, hlm.160, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  22. Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, jld. 3, hlm.523; Ibnu Thulun, Al-Aimah al-Itsna Asyar, hlm.113,; Thabrasi, Taj al-mawālid, Hlm. 59; Ibnu Atsir, Al-kāmil fi al-Tārikh, jld.7, hlm. 274; Ibnu Shabbag, Al-Fushul al-Muhimmah, Hlm. 278; Syabalanji, Nur al-Abshār, hlm. 183, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  23. Ibnu Thalhah, Mathālib al-Suāl, jld. 2, hlm.78.
  24. Thuraihi, Jāmiu Maqāl, hlm.160; Abu al-Ma'ali, Bayān al-Adyān, hlm. 75, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618.
  25. Zarandi, Ma'āriju al-Wushul ila Ma'rifat Fadhli Āli al-Rasul, hlm.176, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 618-619.
  26. Khoshaibi,al-Hidāyah al-Kubrā, hlm. 328;.
  27. Ibnu Abi al-Tsalj, Majmuatu Nafisah, hlm.21-22; lihat: Fahruddin Razi, al-Syajarah al-Mubārakah, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 619.
  28. Lihat seperti: Fahruddin Razi, al-Syajarah al-Mubārakah, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 619.
  29. Lihat: Ibnu Hazm, Jumhurah Ansāb al-Arab, hlm.61; Dzahabi, Siar 'Alām al-Nubalā, jld. 13, hlm.121, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 617.
  30. Syaikh Mufid, al-Irsyad, hlm. 495.
  31. Kulaini, Ushul Kafi, jld.1, hlm.324.
  32. Masudi, Muruju al-Dzahab, jld. 4, hlm.112.
  33. Ja'fariyan, Hayāte Fikri Siāsi Imamān Syieh, hlm. 335.
  34. Syaikh Thusi, Al-Ghaibah, hlm.129.
  35. Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 387.
  36. Arbili, Kasfu al-Gummah fi makrifati al-aimmah, jld. 2, hlm. 413.
  37. Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld.2, hlm.439
  38. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib, jld. 4, hlm. 425; Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hlm.214.
  39. Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hlm.282, dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 626.
  40. Syaikh Shaduq, Kamaluddin, hlm. 475., dikutip oleh Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 626.
  41. Paketchi, Hasan Askari as, Imam, hlm. 626.
  42. Najasyi, Rijāl Najāsyi, hlm. 126.
  43. Ibnu Atsir, Al-kāmil fi al-Tārikh, jld.7, hlm. 235.
  44. Kulaini, Ushul Kāfi, jld.1, hlm.503.
  45. Syaikh Thusi, Al-Ghaibah, hlm.214
  46. Thabari, Dalāilu al-Imāmah, hlm. 425.
  47. Syaikh Mufid, al-Irsyād, hlm. 432; Kulaini, Ushul Kāfi, jld.1, hlm.503.
  48. Masudi, Itsbāt al-Washiyah, hlm.217-218.
  49. Syaikh Mufid, Al-Irsyād, hlm.510.
  50. Thabarsi, I'lāmu al-Warā bi I'lāmi al-Hudā, jld. 2, hlm. 131-132

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi al-Karim, Al-kāmil fi al-Tārikh, Dar Shadir, Beirut, 1385 H.
  • Ibnu Hazm, Jumhurah Ansāb al-'Arab, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1403 H.
  • Ibnu Khalkan, Syamsuddin Ahmad bin Muhammad, Wafayat al-A'yan wa Anbāu Abnāi al-Zamān, riset: Ihsan Abbasi, Dar al-Tsaqafah, Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, toko kitab Musthafawi, Qum.
  • Ibnu Thalhah, Mathālib al-Suāl, Najaf, 1371 H/ 1951 M.
  • Ibnu Thulun, Al-Aimah al-Itsna Asyar, Dar Beirut li al-Thaba'ah wa al-Nasyr, Beirut, 1377 H.
  • Arbili, Kasfu al-Gummah fi Makrifati al-Aimmah, Riset: Sayid Hasyim Rasuli, Tabriz, 1381 S.
  • Paketchi, Hasan Askari As, Imam, dalam Dairatu al-Ma'arif Buzurg Islami (Ensiklopedia besar Islam) jld. 20, Markaz Dairatu al-Ma'arif Buzurg Islami, Teheran, 1391 S.
  • Ja'fariyan, Hayate Fikri Siāsi Imamān Syieh, Kantor penerbit Ma'arif, Qum, 1391 S.
  • Harrani, Ibnu Syu'bah, Tuhaf al-'Uqul an Āli al-Rasul Saw, edit dan penjelasan: Ali Akbr Ghaffari, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qom, 1404 H/ 1363 S.
  • Husain bin Abdul Wahab, Uyun al-Mu'jizat, Penerbitan Al-Haidariyah, Najaf, 1369 H.
  • Khoshaibi,Al-Hidāyah al-Alkubrā, Beirut, 1411 H/ 1991 M.
  • Sibth bin Jauzi, Tazkirat al-Khawās, Riset: Husain Taqi Zadeh, cetakan pertama, al-Majma' al-Alami li Ahli al-Bait As, tanpa tempat, 1426 H.
  • Syaikh Shaduq, Kamaluddin wa Tamamu Ni'mah, Dar al-Kutub al- Islamiah, Teheran, 1359 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Ghaibah, perpustakaan Nainawa.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Rijāl al-Kasyi, (Ikhtiyar Ma'rifatu al-Rijal), Universitas Masyhad, Masyhad, 1348 S.
  • Syaikh Mufid, al-Irsyad, cetakan ketiga, Muassasah al-'Alami li al-Mathbu'at, 1399 H.
  • Syaikh Mufid, Masar al-Syiah, riset: Mahdi Najaf,cetakan pertama, Dar al-Mufid, Beirut, 1414 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, 'Alāmu al-Warā bi 'Alāmi al-Hudā, riset: Ali Akbar Ghafari, Dar al-Ma'rifah, 1399 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Taj al-mawālid.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Rawa'iu al-Turats al-Arabi, Beirut, 13897 H.