Khawarij

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Khawarij (bahasa Arab: الخوارج) adalah sekelompok kaum muslimin yang berada di pihak tengah-tengah dan setelah Perang Shiffin dan peristiwa Arbitrase mengeluarkan diri (memisahkan diri) dari barisan Imam Ali as kemudian dengan menciptakan keadaan yang tidak aman, menyulut terjadinya Perang Nahrawan. Setelah kalah dalam Perang Nahrawan, orang-orang yang pernah ikut Perang Nahrawan berdasarkan hasil pemikirannya sendiri mendirikan pergerakan kemasyarakatan, politik, pertahanan dan kepercayaan khusus. Pada semua zaman terdapat banyak cabang terbentuk dan telah meluas hingga ke wilayah-wilayah Islam. Khawarij secara umum telah punah dan pada hari ini kita hanya menyaksikan sekelompok kaum muslimin yang memiliki kemiripan dengan keyakinan mereka seperti sebagian orang-orang yang berada di Oman.

Sejarah munculnya Khawarij

Berdasarkan beberapa riwayat, kelompok Khawarij berada di barisan Imam Ali as pada Perang Jamal, setelah Perang Shiffin dan sebelum peristiwa Arbitrase. [1] Para sejarawan biasanya menulis bahwa mereka muncul setelah Peristiwa Arbitrase. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Khawarij muncul setelah pengumuman mengenai keputusan hakamain.

Perang Shiffin

Setelah diletakkan Alquran di atas tombak dan pasukan Muawiyah mengusulkan untuk menjadikan Alquran sebagai sumber hukum, maka pasukan Imam Ali as menginginkan adanya Arbitrase. Imam dan sebagian sahabatnya tidak setuju adanya Arbitrase. [2] Setelah perang selesai, sekelompok orang menginginkan supaya perang dilanjutkan dan penerimaan Arbitrase dinilai sebagai kekafiran dan meminta supaya Imam Ali bertaubat. Sementara Imam Ali as tidak mau jika Arbitrase dibatalkan. Setelah Imam Ali as kembali ke Kufah, orang-orang yang tidak setuju adanya Arbitrase pergi ke Harura', dekat Kufah. [3] Kelompok inilah yang disebut dengan Khawarij.

Usaha Imam Ali as untuk mengembalikan Khawarij

Imam Ali as, pada awalnya mengutus Abdullah bin Abbas untuk berunding dengan mereka. Berdasarkan sebuah nukilan, 2000 atau 4000 orang kembali ke Kufah dan berdasarkan nukilan yang lain, tidak ada seorang pun yang menerimanya. Kemudian Imam Ali as pergi sendiri ke Harura' dan berbincang-bincang dengan mereka dan pada akhirnya sebagian besar dari mereka termasuk Abdullah bin Kawa Yasykari, Syab'at bin Rabi' dan Yazid bin Qais Arhabi yang merupakan pembesar mereka, kembali ke Kufah. [4] Khawarij kembali melakukan perlawanan di Kufah dan semua orang yang menerima peristiwa Arbitrase dan menyebut kafir atas orang-orang yang tidak mengkafirkan Imam Ali as. [5] Mereka bukan hanya tidak menerima peristiwa Arbitrase, namun juga menolak adanya kepemimpinan Islam. [6]. Mereka melakukan perlawanan-perlawanan terhadap peristiwa Arbitrase terutama di depan masyarakat umum khususnya di Masjid Kufah yaitu dengan;

1. Menuduh kafir kepada Imam Ali as, bahkan mengancam akan membunuhnya.
2. Meneriakkan yel-yel ketika Imam Ali as menyampaikan khutbah, berusaha menolak delegasi Arbitrase dan meminta peperangan diteruskan.

Meskipun demikian Imam Ali as bersikap lapang dada kepada mereka dan tidak menumpahkan darah serta tidak memerangi mereka. [7]

Arbitrase

Perundingan Tahkim dalam Syiah terjadi pada bulan Ramadhan 37 H/658 antara Abu Musa Asy'ari dan Amru bin Ash. Amru telah menipu Abu Musa dengan cara berunding tanpa menghasilkan keputusan. [8] Imam Ali as menilai kesepakatan hakamiyah bertentangan dengan Alquran dan bersiap lagi untuk berperang melawan Muawiyah. Dalam surat yang diberikan kepada Abdullah bin Wahab Rasbi dan Yazid bin Hashin, dua pemuka Khawarij dan kelompoknya bersiap-siap di Nahrawan; mereka mengatakan bahwa Arbitrase dilangsungkan tanpa dihakimi dengan menggunakan Alquran dan menginginkan dari Imam Ali as untuk bergabung dengan mereka guna melawan musuh. Mereka ingin supaya Imam Ali as mengakui kesalahannya dan bertaubat dan jika tidak melakukan hal ini, mereka akan menjauhinya. Setelah pengumuman Arbitrase, kelompok Khawaraij semakin melawan Imam Ali as. [9]

Perang Nahrawan

Tulisan Asli: Perang Nahrawan

Khawarij berbaiat kepada Abdullah bin Wahab sebagai Amir pada 10 Syawal dan bersepakat mengenai keluarnya mereka dari Kufah dan akan hadir di Nahrawan. [10] Dalam rute perjalanan yang dilalui, kelompok Khawarij membunuh orang-orang yang tak berdosa. Imam Ali as setelah mengajak mereka kembali kepada kebenaran disertai dengan berbagai bukti dan seluruh alasan, namun akhirnya terpaksa berperang dengan mereka. Perang Nahrawan yang meletus pada tahun 38 H/642 yang banyak menelan korban dari golongan mereka. Sekelompok dari mereka yang dikepalai oleh Farukh bin Naufal karena ragu untuk memerangi Imam Ali as, mereka menarik diri semenjak awal peperangan. [11] Jumlah Khawarij adalah 4 ribu hingga 16 ribu dan menurut riwayat 24 ribu.

Setelah Perang Nahrawan

Walaupun pihak Imam Ali as telah mengalahkan Khawarij, namun kelompok ini tetap ada sebagai kelompok politik, pemikiran dan militer. Imam Ali as dan para penganut Syiah tidak mau berperang melawan Khawarij. [12] Imam Hasan as setelah berdamai dengan Muawiyah, menolak keinginan Muawiyah untuk memerangi Khawarij. [13]

Latar belakang Terbentuknya Khawarij

Semangat Hidup di Gurun

Sebagian penulis mengatakan bahwa sumber Khawarij adalah kabilah Arab pada masa Jahiliyyah dimana para kepala kabilahnya ingin berperang demi mempertahankan keutamaan-keutamaan kelompoknya. Mereka akan berperang meskipun hanya disebabkan oleh peristiwa kecil. [14] Sebagian pembesar Khawarij berasal dari kabilah Arab dan tidak ada satu pun diantara mereka yang berasal dari kabilah besar. [15] Tidak ada satu pun sahabat dari kaum Anshar dan Muhajirin yang bergabung dengan golongan Khawarij. [16]

Susunan Kabilah-kabilah dan Permusuhannya dengan Kaum Quraisy

Kefanatikan terhadap suatu kabilah dan mengikuti pemimpin kabilah merupakan alasan-alasan pembentukan Khawarij dan tetap adanya Khawarij. Para pemimpin kabilah seperti Asy'at bin Qais Kindi memaksa Imam Ali as untuk menyetujui Arbitrase dan menghentikan perang. Mereka mengutus Abu Musa Asy'ari sebagai delegasi mereka. [17] Khawarij pada mulanya tidak menentukan suara bahwa seorang hakim tidak harus berasal dari Quraisy namun pada masa kemudian karena ketidakpuasan atas hegemoni Quraisy atas urusan umat, mereka menolak syarat kabilah Quraisy dalam kekhalifahan. [18] Kaum Quraisy tidak ada yang ikut dalam barisan kaum Khawarij. [19]

Mengadakan Pemberontakan kepada Utsman

Sebagian menilai bahwa kemunculan Khawarij berlanjut hingga pemberontakan kepada Utsman. [20] Pembunuhan Utsman dan perbedaan pendapat diantara para sahabat mengenai kekhalifahan menyebabkan mengemukakannya pendapat ini bahwa apabila seorang khalifah melawan suara rakyat serta hukum-hukum agama dan buruk dalam menjalankan roda pemerintahan serta tidak menampakkan nilai-nilai keadilan maka ia harus disingkirkan atau dibunuh. [21] Para pemimpin yang melawan kebijakan Utsman yang berjumlah kira-kira 30 orang tersebut, akhirnya menjadi pemuka Khawarij. [22]

Kebersamaan Mawali dan Para Budak

Semangat persamaan Khawarij, menjadikan para Mawali (masyarkat non Arab yang hidup dibawah kekuasaan Islam dan merupakan masyarkat kelas bawah) tertarik untuk mengikuti mereka. Sebagian pasukan Sasanid setelah kalah tinggal di Basrah dan menjadi Mawali Bani Tamim. Pada kemudian hari, sangat banyak para pembesar Khawarij yang berasal dari kabilah ini. [23] Adapun pendapat yang berbeda mengatakan, bahwa sebagian para sejarawan tidak menerima keberadaan Mawali ditengah-tengah kelompok Khawarij. Mereka menilai bahwa Khawarij berasal dari kaum kabilah Arab yang fanatik dan merendahkan para Mawali. [24] Agama dan kepercayaan tidak hanya menjadi hal yang menyatukan kaum Khawarij. Para budak [25], para perampok dan orang-orang yang lari dari pajak [26] juga termasuk orang-orang yang ada dalam kelompok Khawarij. [27]

Kebersamaan Qurra' dengan Khawarij

Sebagian literatur memberitakan bahwa sekelompok besar yang membentuk kaum Khawarj adalah qurra’ (orang-orang yang bagus dan lama bacaan Alqurannya) yang berada di antara pasukan Imam Ali dan Muawiyah pada Perang Shiffin dan juga bergabungnya 7 orang dari qurra’ ke barisan kelompok Khawarij. [28] Oleh itu, mereka disebut dengan qura atau nama dua kelompok ini disebut pada kesempatan yang bersamaan. Sebagai contoh: [29] Dan sebaliknya, kadang-kadang dengan menyandarkan riwayat-riwayat yang ada di referensi-referensi Khawarij dan riwayat-riwayat yang datang pada masa kemudian, qurra' menolak bertanggung jawab atas segala kesepakatan yang terjadi pada perang Shiffin dan menerima Arbitrase. [30] Sebagian juga berkata bahwa setelah kalah dalam perundingan tentang Arbitrase, mereka bergabung dengan Khawarij. [31]

Sebab-sebab lainnya

Disamping itu, sebab-sebab lain seperti tidak setuju dengan perlakuan Imam Ali as dalam membagi ghanimah dan hadiah berdasarkan persamaan, juga adanya perang di kalangan sendiri yaitu Perang Jamal dan Shiffin dimana pada peperangan itu kaum Muslimin berhadapan antara yang satu dengan yang lainnya, juga pelarangan Imam Ali as untuk mengambil ghanimah dalam Perang Jamal dan juga kritikan haruriah merupakan faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya khawarij. [32]

Nama-nama Khawarij

Khawarij, di samping memiliki nama terkenal yang disebutkan dalam perkataan Imam Ali as [33], juga disebut dengan nama-nama lainnya:

  • Khawarij: Khawarij secara leksikal adalah bentuk plural dari kharijiyyah (jamaah yang keluar) dan diambil dari fi'il kharaja berasal dari masdar khuruj bermakna merubah, memberontak, perang dan jihad. [34] Nama Khawarij ditafsirkan dengan makna yang bermacam-macam menurut para teolog dan sejarawan: Mereka mengartikan bahwa Khawarij adalah keluar dari pemerintahan yang zalim dan membandingkan kebijakan mereka dengan hijrahnya Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah. [35]
  • Muhakkimah: Nama ini diambil dari semboyan "La Hukma Illa Lillah" yang merupakan semboyan Khawarij dalam melawan peristiwa Arbitrase. [36]
  • Haruriah: Khawarij memisahkan diri dari pasukan Imam Ali as setelah peristiwa Arbitrase dan pergi ke Quryah Harura, dua mil dari Kufah. [37]
  • Mariqah: Mariqah dan marqun nama-nama yang dicela dalam hadis-hadis dan laporan-laporan sejarah atas Khawarij. [38] Imam berdasarkan hadis dari Nabi Muhammad saw, menyebut Khawarij dengan mariqah (orang yang membelot) [39]. Khawarij sendiri tidak menerima sebutan nama ini. [40]
  • Syurah: Syurah dimaknai orang-orang yang menjual, nama yang dipilih oleh khawarij sendiri. [41] Nama ini diambil dari Alquran (Qs Al-Baqarah: 207, Taubah: 111) bermakna orang-orang yang menyerahkan jiwanya di jalan ketaatan kepada Allah swt dan kebahagiannya adalah ketika menukar dengan surga. [42]
  • Nama-nama yang lain: Khawarij karena memiliki rasa permusuhan dengan Imam Ali as, maka disebut dengan Nawashib atau Nashibah. [43]

Khawarij disebut dengan mukaffarah karena mereka telah terkena dosa besar dan mengkafirkan kaum Muslimin yang berbeda dengannya. [44] Ahli Nahar atau Ahli Nahrawan adalah nama-nama lainnya bagi kelompok Khawarij. [45]

Perbedaan di kalangan Khawarij

Setelah terbunuhnya Abu Bilal Mardas bin Adiyyah yang merupakan pemuka Khawarij pada tahun 61 H/681 [46], di Mekah, Abdullah bin Zubair melakukan perlawanan dan kaum Khawarij bergabung dengannya dalam memerangi pemerintahan Umawi. Setelah kematian Yazid bin Muawiyah Umawi, Ibnu Zubair di Hijaz menganggap dirinya sebagai pemegang kekhalifahan. Namun Khawarij pada akhirnya memisahkan diri mereka karena tidak melihat bahwa Ibnu Zubair tidak seakidah dengannya. Pada kemudian hari terkait dengan bagaimana cara menghadapi pemerintahan dan kaum Muslimin, kaum Khawarij terbagi menjadi beberapa firqah:

  • Setelah peristiwa pemberontakan masyarakat Basrah kepada Ubadillah bin Ziyad, Nafi' bin Azraq pada bulan Syawal 64 H/684 pergi ke Ahwaz. Ia bersikap keras menilai bahwa kaum muslimin yang tidak memiliki akidah dengannya adalah kafir. Kaum Khawarij mempercayai dibolehkannya membunuh anak-anak dan menilai kafir serta murtad kepada kaum muslimin yang melakukan perbuatan dosa besar sehingga wajib dibunuh dan dibolehkan menjarah harta-harta orang lain. Mereka berlepas diri dan tidak sepakat dengan kelompok Khawarij Mu'tadil (nonblok).
  • Abdulah bin Abadh dan Abu Baihusy Haisham bin Jabir, kedua orang ini tidak sepakat dengan Nafi' dan berlepas diri darinya.
  • Najdah bin Amir Hanafi yang melakukan pemberontakan setelah syahadahnya Imam Hasan as di Yaman lebih memilih perlawanan yang lebih proporsional dan melepaskan diri dari Ibnu Azraq dan kembali ke Yaman. Ia pada akhirnya memimpin kaum Khawarij setelah Abu Thalut melepaskannya. Karenanya, Abu Thalut dan Abu Fudaik Abdullah bin Tsur yang merupakan kabilah Bakar bin Wail dan Athiyah bin Aswad Yasykari yang merupakan pemuka Banu Hunaifiyyah bergabung dengan Najdah. [47]

Tersebarnya Khawarij

Kufah dan Basrah merupakan markas kemunculan Khawarij. [48] Jumlah Khawarij Basrah lebih banyak dari pada Khawarij Kufah. Sangat banyak dari Khawarij Kufah yang kembali ke sisi Imam Ali as setelah mereka berdialog dengannya. [49] Setelah itu, kaum Khawarij tersebar di berbagai kota. Sebagian daerah yang merupakan tempat tinggal mereka pada pertengahan abad ke-4 adalah: Berbagai daerah di Iran, Aman, Bahrain, Hadhramaut, sebagian dari Yaman seperti Khaulan, Zubaid, Shan'a, Zangbar, Afrika Utara, dan sebagian daerah Maghrib Islami seperti Taharat dan Sajalmasah. [50] Kelompok Khawarij telah punah dan hanya di Ibadhiyah yang memiliki keyakinan dekat dengan akidah kaum Muslimin lainnya tetap ada di Yaman, Aman, Sayuh, Hadhramaut, Jarbah, Zangbar, Tarablis Barat dannn Al-Jazair. [51]

Ciri-ciri Kaum Khawarij

Disamping sifat-sifat yang telah dikatakan oleh Imam Ali as tentang Khawarij, para pengarang kitab-kitab sastra, sejarah, riwayat dari berbagai negara menjelaskan tentang ciri-ciri kaum Khawarij. Sifat-sifat yang ditujukan kepada mereka biasanya merupakan sifat-sifat yang buruk:

1. Membaca dan menghafalkan Alquran tanpa tadabbur.
2. Sangat berlebihan dalam beribadah [52]
3. Menampakkan kezuhudan [53]
4. Bodoh dan berpikiran sempit (misalnya menuduh kafir kepada orang-orang yang berbuat dosa dan membatasi rahmat Allah swt)
5. Tidak mengenal sunah Rasulullah saw dan hukum-hukum agama [54]
6. Keliru dalam memahami Alquran dan penerapan yang salah atas maksud-maksudnya, disertai dengan kesederhanaan dan pemahaman secara sempit.[55]
7. Sombong dan memandang kelompoknya lebih baik dan menilai kafir kepada kaum Muslimin kecuali golongan mereka sendiri. [56]
8. Ragu dalam berakidah
9. Menyukai perdebatan dan lemah dalam berargumen [57]
10. Memiliki akidah yang ekstrim.[58]
11. Bertutur kata dengan baik, namun buruk dan keras dalam tindakan [59]
12. Mencari keadilan dan amar ma'ruf nahi mungkar dan melakukan jihad dengan pimpinan merupakan nilai-nilai tertinggi dalam masyarakat [60] sehingga jika tidak melakukan perlawanan untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar dan tidak melakukan jihad maka disebut dengan kafir. [61]
13. Memberikan keutamaan bagi orang-orang yang jihad dengan ahli qiblah dan menawan atau membunuh anak-anak perempuan namun berkasih sayang kepada ahli dzimah dan kaum musyrikin. [62]
14. Tidak disiplin dan terpecah-pecah [63]
15. Bermusuhan dengan Imam Ali as dan memiliki dendam yang mendalam bahkan hingga syahadahnya.[64]
16. Ksatria dan sabar atas kesulitan-kesulitan yang menimpanya, [65] walaupun dengan jumlah pasukan yang sedikit mereka mampu mengalahkan pasukan Umawiyah. Meskipun terdapat pula berita mengenai pelarian-pelarian mereka dari medan peperangan. [66]

Khawarij kadang-kadang membunuh unta mereka sendiri, menghunuskan pedang mereka, dan secara serempak menyerang pasukan musuh seraya merindukan surga sebagai balasan atas jihad yang dilakukan. [67] Oleh itu, mereka terkenal dengan tipologi bahwa mereka gemar melakukan penyerangan luar. Mereka demi untuk menunjukkan atas kehambaan mereka dan kesiapan mereka kepada kematian mencukur rambut mereka. Oleh karena itu, kaum muslimin demi untuk melawan mereka, tidak memendekkan rambut mereka. [68] Mereka kadang-kadang juga mencukur bagian tengahnya dan membiarkan rambut-rambut disekitarnya. [69]

Pengaruh Khawarij dalam Sejarah Islam

Terpecahnya Pasukan Imam Ali as

Terdapat dua golongan dalam barisan Imam Ali as, pertama adalah munculnya khawarij. [70] Khawarij adalah golongan politik pertama kali dan firqah (kelompok) agama dalam sejarah Islam. [71] Tujuan-tujuan awal pergerakan Khawarij hanyalah politik. Pada masa Abdul Malik bin Marwan, kelompok ini menyampaikan ajaran-ajaran sederhana dan pengajaran-pengajaran politik mereka melalui pembahasan-pembahasan teologis. [72]

Menjadi cikal bakal terbentuknya pemerintahan Muawiyah dan upaya memerangi pemerintahan Umawi

Khawarij berdiri melawan Imam Ali as serta membunuhnya dan juga mempersiapkan pemerintahan bagi Muawiyah. [73] Khawarij menginginkan peperangan dengan Muawiyah dilanjutkan dan bergabung dengan pasukan Imam Hasan as. [74] Mereka setelah Imam Hasan as berdamai, melanjutkan peperangan dengan Muawiyah dan Umawi. [75]

Kaum Khawarij menilai kaum Umawi dan golongannya sebagai kafir. Oleh karena itu, mereka memandang bahwa semua tempat adalah Dar al-Kufr dan percaya bahwa untuk menegakkan keadilan dan menjauhkan kedzaliman, harus berjihad dengan orang-orang yang kafir. [76]

Oleh itu, motivasi Khawarij lebih banyaknya adalah Islami. Mereka dengan semboyan "La Hukma Illa Lillah" ingin memberlakukan hukum-hukum Ilahi Islami dan menegakkan keadilan dan kesetaraan. Tentu saja kesetaraan yang diyakini kaum Khawarij dengan kepercayaan kaum Badui berbeda. Imam Khawarij hanya boleh dipilih berdasarkan kelayakan madzhabnya tidak berdasarkan para pemuka kabilah-kabilah Badui lainnya yang berdasarkan hubungan nasab atau darah. [77] Khawarij berada di barisan-barisan penting yang bertujuan untuk melawan kaum Umawi, oleh karen itu mereka menolong Abdullah bin Zubair, Zaid bin Ali dan Abu Muslim Khurasani. [78]

Tujuan perang yang dilakukan oleh kaum Khawarij

Tujuan-tujuan kaum Khawarij yang lain dari memerangi dengan khalifah adalah mendapatkan harta dan ghanimah (harta rampasan perang) dan yang terpenting adalah mendapatkan kekuatan. Mereka berkompromi dengan pemerintahan Umawi dan mendapatkan tanggung jawab untuk mengelola pemerintahan-pemerintahan daerah. [79] Kadang-kadang mereka secara penuh memperoleh kekuatan untuk mengatur kekuatan dengan menyebut diri mereka dengan imam, amirul mukminin dan khalifah. [80] Kaum Umawi, khususnya Irak dan Iran dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memberangus kaum Khawarij. [81] Peperangan ini menjadi penyebab utama bagi kelemahan dan kehancuran pemerintahan Umawi. [82] Setelah pemerintahan Abbasi berkuasa, Khawarij terlibat peperangan dalam berbagai kesempatan dengan pemerintahan Umawi dan kadang-kadang berakhir dengan menetapnya mereka di beberapa daerah.

Perang dengan Kaum Khawarij Menurut Pendapat ulama

Ulama dan Fukaha Ahlusunah memerangi kaum Khawarij sebagai sesuatu yang perlu dilakukan namun kebanyakan mereka tidak mengkafirkan mereka dan hanya menilai bahwa mereka adalah kaum yang fasik. [83] Sebaliknya Fukaha Syiah berdasarkan riwayat dari para Imam as [84] mereka sepakat bahwa khawarij adalah kaum pemberontak dan merupakan kafir sehingga akan abadi di neraka jahanam. [85] Pendapat mereka tentang kaum Khawarij sebagai berikut:

  • Syahadat yang diucapkan oleh mereka tidak diterima.
  • Haram untuk memakan hewan sesembelihan mereka.
  • Tidak boleh menikah dengan mereka dan juga tidak wajib untuk mensalati jenazah mereka. [86]

Karya Ilmiah dan Seni

Di antara golongan Khawarij generasi awal, terdapat laporan mengenai beberapa pembahasan ilmiah. Misalnya pembahasan yang dilakukan oleh Nafi' bin Azraq dan Abdullah bin Abbas tentang permasalahan tafsir dan lughat. [87]

Semenjak pertengahan abad ke-2, secara perlahan-lahan Khawarij menulis buku-buku agama, fikih dan sejarah. Terdapat beberapa perawi hadis dan ulama serta Fukaha yang lahir dari kalangan mereka. [88] Mereka bukan merupakan golongan yang gemar menukilkan hadis.

Mereka mencukupkan diri mereka sendiri hanya dengan bentuk lahir ayat-ayat Alquran sebagai satu-satunya sumber fikih. [89] Karena inilah pemikiran mereka sederhana sekali dan mereka tidak memiliki ideologi filsafat, fikih yang luas dan teratur. Mereka hanya memiliki kitab Ibadhiyah yang merupakan kitab-kitab Ushul dan akidah-akidah dan pelajaran-pelajaran fikih. [90]

Ibnu Nadim, [91] dalam mengenang fukaha dan teolog Khawarij berkata: Disebabkan adanya penentangan serta tekanan dari masyarakat, orang-orang Khawarij menyembunyikan kitab-kitab mereka. Meskipun demikian, penulis Khawarij seperti Abu Firas Jabir bin Ghalib, Abul Fadhl Qurthulusi, Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Burda'i dan Abul Qasim Haditsi memiliki karya dalam bidang Ulumul Quran, Kalam, Fikih dan Ushul Fikih. [92]

Teolog Khawarij yang memiliki karya adalah Yaman bin Rubab, Abu Ali Yahya bin Kamil bin Thalihah Jahdzari, Abu Ali Muhammad bin Harb Sairafi, Abdullah bin Yazid Abadhi, Hafash bin Asyim, Ibrahim bin Ishaq Abadhi, Saleh Naji, Haitsam bin Haistsam Naji dan Hafash bin Harun. Tema-tema tulisan mereka dalam teologi adalah Tauhid, Makhluk, Mukmin, Amanat, Imamah, kemampuan dan jawaban-jawaban bagi para penentang mereka seperti Mu'tazilah, Murji'iyyah, Syiah dan Ghulat. [93]

Nama-nama penulis Khawarij lain dalam tema teologis, sejarah, biografi, fikih dan perbedaan madzhab adalah: Salim bin Athiyah Hilali (hidup pada permulaan abad ke-2), Abu Sufyan Mahbub bin Ruhail Qarasyi Makhzumi (w. akhir abad ke-2), Abul Hasan Ali bin Muhammad Basyui Ibadhi (abad 4), penghimpun beberapa risalah ulama Khawarij abad ke-2 hingga ke 4 yaitu Al-Sair, Muhammad bin Sa'is Izadi Qalhati (abad ke-6), pengarang Al-Kasyaf wa al-Bayan, Abul Abas Ahmad bin Sa'id Darjaini (w. 670 H/1272), pengarang Jawahir al-Muntaqah fi Itman ma Akhala bihi Kitab al-Thabaqat wa Risalah fi Kitab Abadhiyah, Ahmad bin Sa'id Shumahi (w. 928 H/1522) dan pengarang Al-Sair yang merupakan biografi ulama dan para pembesar Ibadhi. [94]

Nama-nama beberapa ulama dan sastrawan yang dinilai memiliki pemikiran Khawarij diantaranya adalah: Abu Ubaidah Mu'ammar bin Mutsanna (w. 209 H/824), seorang ahli bahasa, nasab, perawi terkemuka dan besar [95], Nashr bin Ashim Laitsi (w. 89-90 H/699-709), Fakih dan ulama Nahwu, seorang tabiin [96], Syabil bin Uzrah Sabghi (w. 140 H/758), ahli nasab, perawi, retorika dan syair yang menurut perkataan seseorang adalah penganut Syiah dan pada akhir umurnya menjadi pengikut madzhab Khawarij Shafariyah. [97] yang dikatakan bahwa perkataannya ketika terjalin kesepakatan dengan kaum Khawarij merupakan taqiyyah; [98] bahwa ia disebut sebagai orang Khawarij yang pada masa kemudian meninggalkan akidah ini. Sebagian pemuka, pemimpin dan pejabat pengadilan juga memiliki kecenderungan kepada Khawarij. [99]

Khawarij memiliki khatib dan penyair yang sangat banyak, dimana sebagian mereka sangat terkenal. [100] Kasidah-kasidah yang masih ada yang berasal dari mereka, berasal dari Imran bin Khathan, Quthri bin Faja'ah, Ubaidah bin Hilal Yasykari, Habib bin Khudarah Hilali dan A'raj Ma'ni dan Malikah Syaibani. [101] Sebagian syair-syair Khawarij adalah lagu-lagu pujian yang dinyanyikan dalam peperangan. [102]

Sebagian khutbah-khutbah dan surat-surat Khawarij masih ada dan diyakini ditulis oleh 18 pembesar mereka. Sebagian dari surat-surat itu tidak lebih dari beberapa baris dan yang paling panjang adalah surat milik Abu Hamzah Khariji. Kandungan tema syair-syair mereka adalah dakwah dan suluk keagamaan dan perpolitikan Khawarij serta ajakan untuk keluar, jihad dan beramar ma'ruf sesama manusia. [103]

Akidah

Khawarij merupakan salah satu dari firqah-firqah yang penting dalam bidang kalam dan politik dalam dunia Islam. Namun karena terbagi-bagi menjadi akidah pribadi maka menjadikan akidah mereka bukan merupakan satu kesatuan yang menyatu. Meskipun demikian dapat diisyaratkan mengenai kesamaan akidah-akidah yang dimiliki oleh mereka.

Masalah Khawarij dapat ditinjau dari dua segi: Segi kalam dan segi politik. Pada permulaan pemerintahan Bani Umayyah, sisi politik mereka lebih terlihat, namun dengan bergesernya masa, akidah Khawarij semakin terkenal. [104]Terkait mengenai pemikiran dan akidah-akidah Khawarij, tidak ada yang tersisa kecuali karya fikih Ibadhiyah,[105] sehingga harus membuka kitab-kitab Milal wa Nahl untuk mengetahui akidah-akidah mereka. Khawarij terkenal dengan pembahasan mengenai kekafiran dan dosa besar yang mempengaruhi dalam pembahasan ilmu kalam. [106]

  • Terkena dosa besar: Pemikiran Khawarij yang merupakan kesepakatan bersama adalah kafir dan terkena dosa besar. [107] Mereka disamping harus meyakini dengan hati dan melafadzkan dengan lisan, beramal pada yang lahir juga dimasukkan ke dalam keimanan mereka. [108]

Azraqah berlebihan dalam hal ini: Seorang yang melakukan dosa besar tidak bisa memiliki keimanan lagi dan dikarenakan kemurtadannya maka ia harus dibunuh bersama dengan anak-anaknya dan abadi dalam api neraka. [109]

Dari penyimpangannya yang lain adalah orang-orang yang berkelakuan seperti ini disebut dengan kufur nikmat bukan tidak memiliki keimanan lagi. [110] Khawarij menjadikan ayat 44 surah al-Maidah [111] sebagai dalil bahwa kafir adalah dosa besar. [112]

  • Imamah: Pendapat Khawarij mengenai kekhalifahan berdasarkan pemikiran mereka tentang dosa besar. Orang yang melakukan dosa tidak boleh memangku jabatan kepemimpinan dalam masyarakat. Apabila mereka menjabat sebagai pemimpin masyarakat, maka kaum mukminin harus keluar darinya. Sebutan takfiri adalah sebutan yang mereka alamatkan kepada para Sahabat Nabi saw. [113] Dalam tema pengangkatan Imam, Khawarij kecuali firqah Najdiyyah, secara terang-terangan tidak setuju dengan pendapat nash dan pengangkatan yang berasal dari Imam Maksum. Mereka berkeyakinan bahwa barang siapa yang meyakini kitab dan sunah dan mengetahui ajaran-ajarannya maka mereka layak untuk memegang tanggung jawab sebagai pemimpin dengan dibaiat oleh dua orang. [114] Mereka percaya bahwa Imam telah dipilih [115] tidak sebagaimana anggapan yang banyak berlaku bahwa Khawarij menerima kepemimpinan selain Quraisy. [116] Sebagian kaum Khawarij percaya bahwa pengangkatan Imam tidak wajib dan manusia bisa hidup tanpa Imam. [117]
  • Khulafa al-Rasyidin: Khawarij secara umum dalam masa pemerintahan empat khalifah menerima Umar dan Abu Bakar sebagai Imam dan Khalifah Rasulullah saw namun terkait dengan Umar hanya menerima kepemimpinannya selama 6 tahun sedangkan mengenai Imam Ali as hanya sampai ketika Imam Ali menerima Arbitrase saja . Oleh karena itu, Utsman dan Imam Ali as dalam dua sisa waktu pemerintahannya adalah kafir dan tercabut. [118]
  • Pendapat Fikih: Sebagian dari pendapat kelompok-kelompok fikih yang lain dinukilkan bahwa mereka mencabut hukuman rajam bagi para pezina karena tidak ada ayat dalam Alquran yang menjelaskan tentang hukuman itu, mubah untuk membunuh anak kecil yang melawan dan para wanita, percaya bahwa anak-anak yang musyrik juga seperti ayah-ayah mereka akan abadi di neraka, serta tidak membolehkan bertaqiyyah baik dalam perkataan maupun perbuatan. [119]
  • Khawarij dan selain kaum Muslimin: Dinukilkan bahwa Azraqah percaya bahwa kaum Muslimin yang tidak berada di barisan Khawarij harus dibunuh namun pembunuhan terhadap orang-orang Nasrani, Zoroaster dan Yahudi adalah haram. [120]

Pendapat lain yang juga merupakan pendapat Khawarij yang tidak bisa dikatakan bahwa hal ini merupakan kepercayaan kaum Khawarij adalah mengingkari Tuhan [121] karena hal ini juga merupakan keyakinan firqah kalam yang lain misalnya penciptaan Alquran, mengingkari kekuatan Allah swt atas kedzaliman, [122] mengingkari adanya syafaat, [123] mengingkari adanya azab kubur, [124] menggunakan pedang untuk melakukan amar ma'ruf nahi mungkar jika tidak ada pilihan lain [125] dan syarat syahnya salat jamaah dengan imam jamaah yang lebih utama. [126]

Firqah Khawarij

Laporan Milal wa Nahl tentang firqah Khawarij sangat tidak jelas. Oleh sebab itu, sangat susah untuk membedakan antara firqah-firqah yang asli dan yang bukan. Dalam sebagian sumber referensi hanya ada empat firqah yaitu Khawarij yang pertama (Al-Muhakkimah al-Ula, yakin kepada semboyan La Hukma Illa Lillah), Najdiyyah, Baihasiyyah dan Azaraqah. [127] Dalam sebagian referensi yang lain, terdapat 5 hingga 20 firqah bagi Khawarij. [128] Dalam sebagian sumber referensi, sebagian firqah adalah firqah asli dan sebagian lainnya adalah cabang-cabang dari firqah asli tersebut. Dalam berbagai sumber referensi ini, selain kelompok Muhakkimah al-Ula disebutkan juga firqah-firqah Khawarij yang lain seperti Azaraqah, Sufriyah, Baihisiyah, Tsa'alibah, Ajaradah, Najdiyah, Ibadhiyyah dan Syababiyyah. [129]

Kritik atas Khawarij

Semenjak munculnya Khawarij dalam sejarah Islam, telah banyak penyelewengan mereka baik dalam perkataan dan aktivitas mereka. Penyelewengan-penyelewengan ini bisa dikelompokkan menjadi 3 macam: hadis, tafsir dan berdalil. Dalam referensi riwayat, terdapat riwayat-riwayat atas ramalan-ramalan Nabi Muhammad saw tentang Khawarj dan keluarnya mereka dari agama. Secara umum dalam riwayat ini dikatakan mengenai pencelaan terhadap cara mereka beragama dan tindakan politik dan kemasyarakatan, juga peperangan yang mereka lancarkan dan pembunuhan yang mereka lakukan memiliki pahala. [130] Demikian juga Syiah dengan berpedoman kepada hadis Nabi yang ditujukan kepada Imam Ali as, beliau bersabda: "Hai Ali, barang siapa yang telah memerangi kamu, maka sejatinya ia telah memerangi aku. Menurut kepercayaan akidah ini bahwa orang-orang yang telah melawan Imam Ali as seperti Khawarij maka mereka adalah kafir. [131]

Telah diupayakan untuk memberi jawaban-jawaban atas tafsir yang ditulis oleh Khawarij yang mereka gunakan sebagai dasar untuk membenarkan akidah-akidah mereka. Sebagian penolakan ini berkaitan dengan tuduhan kafir dan telah melakukan dosa besar. Sebagian mufasir dan teolog menolak tentang tuduhan kafir dan perbuatan dosa. Mereka menunjukkan kesalahan Khawarij dalam memahami ayat-ayat yang dijadikan argumen bagi Kaum Khawarij, contohnya pemahaman mereka tentang ayat 97 Surah Ali Imran[132]. Khawarij percaya bahwa berdasarkan ayat ini, barang siapa yang tidak melaksanakan haji maka ia telah melakukan dosa besar oleh karenanya mereka telah kafir.

Dalam menjawab klaim ini, dikatakan bahwa kemungkinan maksud ayat man kafara adalah orang yang mengingkari dirinya telah mampu. [133] Oleh itulah dalam banyak hal-hal lain menolak penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh kaum Khawarij. [134] Dalam sebagian hal lainnya sebagai ganti menolak penafsiran Khawarij, memberikan keterangan-keterangan tentang hal-hal yang mengindikasikan klaim Khawarij. [135]

Catatan Kaki

  1. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shifin, hlm. 349; Thabari, Tārikh, jil. 4, hlm. 541.
  2. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shifin, hlm. 484; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 111-112.
  3. Nashr bin Muzahim, Waqa’ah Shiffin, hlm. 513-514; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 114, 122; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 63, 72, 78; Mas’udi, Muruj, jil. 3, hlm. 144.
  4. Muhammad bin Abdullah Askafi, Al-Mi'yār wa al-Muwazanah fi Fadhāil al-Imām Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as), hlm. 120-198; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 165, 181-182; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 122-123, 133-135; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 64-66, 73; Ibnu Katsir. Al-Bidāyah wa Nihāyah, jil. 7, hlm. 278; Riwayat lain tentang mudzakirah: Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 210-212.
  5. Mas'udi, Muruj Dzahab, jil. 3, hlm. 34.
  6. Nashr bin Muzahim, Waq’ah Shifin, hlm. 489, 517; Ibnu Abu Syaibah, Al-Mushannaf fi al-Ahādis wa al-Atsrā, jil. 8, hlm. 735, 742; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 122, 126, 134, 151; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 66, 72-74; Qas Muhammad bin Yazis Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 206; Untuk melihat jawaban Imam yang lainnya silahkan lihat: Nahj al-Balāghah, Khutbah 40
  7. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 126, 133; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 72-74; Mas’udi, Muruj, jil. 3, hlm. 144; Ibnu Atsir, Al-Kāmil fi Tārikh, jil. 3, hlm. 335.
  8. Ya'qubi, jil. 2, hlm. 190; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb al-Ayraf, jil. 3, hlm. 117-126, 133; Thabari, Tārikh, jil. 3, hlm. 117-126; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 57, 67, 71; Mas'udi, Muruj Dzahab, jil. 3, hlm. 145-150, Hikmat.
  9. Nahj al-Balāghah, Khutbah 35; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akhbār al-Thiwal, hlm. 206; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 77-78; Naif Mahmud Ma’ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya’tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 85.
  10. Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 74-75; Ibnu Katsir, Al-Kāmil fi Tārikh, jil. 3, hlm. 335-336.
  11. Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 187, 212-213; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 5, hlm. 169; Ya’qubi, jil. 3, hlm. 193; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 92-80; Khatib Baghdadi, Tārikh Baghdad, jil. 1, hlm. 528.
  12. Nahj al-Balāghah, Khutbah 60; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al- Balāghah, jil. 5, hlm. 14, 73
  13. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb al-Asyrāf, jil. 5, hlm. 78-79; Ja’far Murtadha Amili, Dirāsat wa Bahtsu fi Tārikh wa al-Islam, jil. 1, hlm. 37.
  14. Ahmad Sulaiman Ma’ruf, Qirāah Jadidah fi Mawāqif al-Khawārij wa Fikrahum wa Adabahum, hlm. 21-23; Ahmad Syalb, Mausu’ah al-Tārikh al-Islāmi wa al-Khadharah al-Islāmiyah, jil. 2, hlm. 210-211, Akhbār al-Abāsiyah, hlm. 335, Ibnu Abd Rabbah, Al-Iqdul Farid, jil. 1, hlm. 186.
  15. Umar Abu Nashr, Al-Khawārij fi Islām, hlm. 14. 21, Yusuf Babathai, Harkah al-Khawārij, Nazyatuha wa Asbabuha, hlm. 250. Sebagian besar kelompok Khawarij berasal dari kabilah Arab Tamim dan Bakar, dua kabilah yang berasal dari Yaman. Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 55.
  16. Amru bin Bahr Jahath, Kitāb Al-Haiwan, jil. 6, hlm. 455; Thabari, Tārikh, jil. 7, hlm. 396; Ibnu Jauzi, Talbis Iblis, hlm. 106, 110, Naif Mahmud Ma’ruf, Al-Khawarij fi Ashr Umawi, Naysa’tuhum, Tārikhuhum, Aqaiduhum wa Adabahum, hlm. 60.
  17. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shiffin, hlm. 489-490, 499-500, Yaqubi, jil. 2, hlm. 188-189, Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 51-59; Juga Ja’far Subhani, Bahuts fi Milal wa al-Nahl, jil. 5, hlm. 51-59, Juga Ja’far Subhani, Bahuts fi Milal wa Nahl, jil. 5, hlm. 75; Naif Mahmud Ma’ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 25-26, Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawārij, Firaquhum wa Aqaidahum, hlm. 14-15, 30-31.
  18. Umar Abu Nasr, Al-Khawārij fi Islām, hlm. 21, Muhammad Abu Zuhrah, Tārikh al-Madzāhib al-Islāmiyyah, jil. 1, hlm. 69.
  19. Naif Mahmud Ma’ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 27-28; Aqaiduhum wa Adabuhum, hlm. 25-26, Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawārij, Firāquhum wa Aqāidahum, hlm. 31.
  20. Yulius Walhawazan, Ahzab al-Mu’aradhah al-Siyasah al-Diniyyah fi Sadr Islam: Al-Khawarij wa al-Syiah, Terjemah Abdurahman Badawi, Muqadimah Badawi, hlm. 13; Ahmad Mu’ithah, Al-Islam al Khariji, hlm. 17, Naif Mahmud Ma’ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 25-26, Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawārij, Firāquhum wa Aqāidahum, hlm. 55, Al-Tathur wa al-Tajdid di Syi’r Umawi, hlm. 87.
  21. Umar Abu Nasr, Al-Khawārij fi Islām, hlm. 21-23; Muhammad Abu Zuhrah, Tārikh al-Madzahb Islamiyyah, jil. 1, hlm. 70-71, Naif, Mahmud Ma’ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 21.
  22. Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 49; Ahmad Sulaiman Ma'ruf, Qiraah Tajdidah fi Mawāqif al-Khawārij wa Fikruhum wa Adabuhum, hlm. 25-26; Qais Lathifah Bakkai, Harkah al-Khawarij, Nasya’tuha wa Tathurha ila Nihāyah al-Ahd Umawi, hlm. 17.
  23. Ahmad bin Yahya al-Baladzuri, Kitab Futuh al-Buldān, hlm. 66 280, 375; Juga silahkan lihat: Umar Abu Nasr, Al-Khawārij fi Islām, hlm. 18.
  24. Ahmad Amin, Fajr al-Islām, hlm. 261-262.
  25. Hafidh, 1384, jil. 1, hlm. 51; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 248; Muhammad bin Yazid Mubarrid, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 314; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al- Balāghah, hlm. 146, 204
  26. Ibrahim bin Muhammad Tsaqafi, Al-Gharat, jil. 17, hlm. 253; Thabari, Tārikh, jil. 57, hlm. 122
  27. Silahkan lihat: Abdul Malik bin Muhammad Tsa’alabi, Tsamar al-Qulub di al-Mudhāf wa al-Mansub, hlm. 174, 623-624, Ja’far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 133.
  28. Nasr bin Muzahim, Waq’ah Shifin, hlm. 188-190; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 6, hlm. 151-159; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 11, 34.
  29. Mas’udi, Muruj, jil. 3, hlm. 144; Ibnu Katsir, Bidaya wa Nihayah, jil. 7, hlm. 272, jil. 7, hlm. 238.
  30. Mahmud Ismail Abdul Razaq, Jadl Haul al-Khawarij wa Qadhiyah al-Tahkim, Majalah al-Tārikhiyyah al-Misriyyah, hlm. 57-69.
  31. Ahmad Amin, Fajr Islam, hlm. 256, Abdul Aziz Duri, Muqadimah fi Tārikh Sadr Islam, hlm. 59.
  32. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 35-36, 56-57, 134-135; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akbar al-Thiwal, hlm. 151-152, 164-165; Thabari, Tārikh, jil. 4, hlm. 541-542; Juga Yusuf Babatin, Harkah al-Khawarij, Nasya’tuha wa Asbabuha, hlm. 293, 200-203, 304; Lathifah Bakkai, Harkatul al-Khawarij, Nasya’tuha wa Tathurha ila Nihayah al-Ahd Umawi, hlm. 11-15; Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 1, hlm. 134-137.
  33. Nahj al-Balāghah, Khutbah 62, Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 76
  34. Ibnu Faris, Mu'jam Maqayis Lughah, Muhammad bin Ya'qub Firuz Abadi, Al-Qamus al-Muhith, klausul kharaja, lihat juga Nasir Sabi’i, Al-Khawarij wa al-Haqiwah al-Ghaibiyyah, hlm. 151-152, 154.
  35. Abdul Razaq bin Hamam San'ani, Al-Musahannif, jil. 10, hlm. 152; Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, Al-Ma’ruf bi Tārikh al-Khulafa, jil. 1, hlm. 121; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 8, hlm. 59; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 269; Asy’ari, hlm. 88-89.
  36. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 110-112; Ya’qubi, jil. 2, hlm. 190; Asy’ari, hlm. 128; Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 115; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 7, hlm. 277.
  37. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 114, 122; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 182; Ya’qubi, jil. 2, hal 191; Sam’ani, Syi’r al-Khawarij, jil. 2, hlm. 207; Yaqut Hamui, Kitab Mu’jam al-Buldan, klausul harura
  38. Ya'qubi, jil. 2, hlm. 194; Asy’ari, hlm. 127; Ibnu Babuwaih, Al-Amali, hlm. 464; Muthahhar bin Thahir Muqadasi, Kitab Bada wa al-Tārikh, jil. 5, hlm. 135, 224; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 7, hlm. 304, jil. 8, hlm. 127.
  39. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 149; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 91; Muhammad bin Ahmad Malathi Syafi’i, Al-Tanbiyah wa al-Rad ala Ahli Ahwa wa al-Bada’, hlm. 54; Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa all-Nihayah, jil. 6, hlm. 216.
  40. Asy’ari, 127
  41. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 9, hlm. 272; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 164-214.
  42. Asy'ari, hlm. 128, Ismail bin Hamad Jauhdari, Al-Sihah, Taj al-Lughah wa Sihah al-Arabiyyah, Ibnu Mandzur, Lisan al-Arabi, Syiri, Maqrizi, Al-Mawaidh wa al-I’tibar fi Dzikr al-Khathath wa al-Atsar, jil. 4, bag. 1, bag. 433.
  43. Maqrizi, Al-Mawa’idh wa al-I'tibar fi Dzikr al-Khatath wa Atsar, jil. 4, bag. 1, hlm. 428.
  44. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatawa, jil. 4, hlm. 261; jil. 7, bag. 13, hlm. 208-209.
  45. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 115, 247; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 83, 166.
  46. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 5, hlm. 188-193.
  47. Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 275-293; Baladzuri, Kitab Jamal min Ansab al-Asyraf, jil. 5, hlm. 479, 501, 563-568; Abdul Qahirin Thahir Baghdadi, Al-Firaq bainal Firaq, hlm. 52; Ibnu Atsir, Al-Kāmil fi al-Tārikh, jil. 4, hlm. 165-168, 201.
  48. Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 76.
  49. Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 104.
  50. Khalifah bin Khayath, Tārikh Khalifah bin Khayath, hlm. 253; Asy’ari, hlm. 128, Masudi, Muruj Dzahab, jil. 4, hlm. 27; Muhammad bin Ahmad Malatha Syafi'i, Tanbiyah wa Rad ala Ahla Ahwa wa Bada’, hlm. 55-57; Muhammad bin Ahmad Muqadasi, Ahsan al-Taqasim fi Ma'rifah al-Aqalim, hlm. 323, Nasywan bin Sa'id Hamiri, Al-Haural Ain, hlm. 202-203.
  51. Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, jil. 3, hlm. 336; Bill, hlm. 150; Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 110, 270; Ja’far Subhani, Bahuts fi Milal wa al-Nahl, jil. 5, hlm. 181.
  52. Nasr bin Muzahim, Waq’ah Shiffin, hlm. 491; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf,jil. 5, hlm. 212. 417-418; Muhammad bin Abdullah Hakim Naisyaburi, Al-Mustadrak ala al-Sahihain, jil. 2, hlm. 147-148; Muhammad bin Yusuf Salehi Syami, Sabal Huda wa al-Rāsyad fi Sirah Khairal Ibad, jil. 10, hlm. 131-132.
  53. Nasr bin Muzahim, Waq’ah Shiffin, hlm. 491; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 211; Ibnu Makula, Al-Kamāl fi Raf’ al-Irtiyāb, jil. 7, hlm. 251-252; Ibnu Atsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 9, hlm. 11.
  54. Nahj al-Balāghah, Khutbah 36, 127; Jumairi, hlm. 385, Kulaini, Al-Kafi, jil. 2, hlm. 405; Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatāwā, jil. 11, bag. 19, hlm. 39-40; Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 13, 137-141, 167-171.
  55. Muhammad Ismail Bukhari, Sahih al-Bukhari, jil. 8, hlm. 51; Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatāwā, jil. 8, bag. 13, hlm. 16; Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawarij: Tārikhuhum, Firqahum wa Aqaidahum, hlm. 59-61; Amir Najar, Al-Khawarij: Aqidah wa Fikr wa Falsafah, hlm. 162.
  56. Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatawa, jil. 16, bag. 28, hlm. 221; Nasir bin Abdul Karim Aql, Al-Khawarij: Awal al-Firaq fi Tārikh al-Islām, hlm. 32-33.
  57. Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 165, 238; Abul Faraj Isfahani, Al-Aghani, jil. 6, hlm. 149; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jil. 4, hlm. 136-139, 169.
  58. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 145; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 207-208; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 220; Amir Najar, Al-Khawarij: Aqidah wa Fikr wa Falsafah, hlm. 141-141; Ahmad Awadh Abu Syabab, Al- Khawarij: Tārikhuhum, Firqahum wa Aqaidahum, hlm. 57-59.
  59. Nasr bin Muzahim, Waq’ah Shiffin, hlm. 394; Ahmad bin Hanbal, jil. 3, hlm. 224, jil. 5, hlm. 36.
  60. Ibnu Qutaibah, Al-Imamah wa al-Siyasah, Al-Ma’ruf bi Tārikh Khulafa, jil. 1, hlm. 121; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 202; Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi, al-Firaq bainal Firaq, hlm. 45; Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi Milal wa al-Hawa wa al-Nahl, hlm. 204.
  61. Asy’ari, hlm. 87; Ibnu Hauzi, hlm. 110; Ibnu Atsir, Al-Kāmil fi al-Tārikh, jil. 4, hlm. 167; Ibnu Hajar Asqalain, Fathul Bari: Syarah Sahih al-Bukhari, jil. 12, hlm. 251.
  62. Ibnu Syadzab, Al-Aidhah, hlm. 48; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 164-165, 212, 293; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 7, hlm. 144, 146; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 174, jil. 6, hlm. 124.
  63. Ibnu Syadzan, Al-Aidhah, hlm. 48; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 393, Ja’far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 17, 24-26, hlm. 150-152; Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawarij Aqidah wa Fikr wa Falsafah, hlm. 143.
  64. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 128-129, 257-258.
  65. Amru bin Bahr Jahadh, Rasail Jahadh, jil. 1, hlm. 41-46; Amru bin Bahr Jahadh, Kitab al-Haiwan, jil. 1, hlm. 136, 185-187, Amru Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 2, hlm. 128-129; Ahmad bin Dawud Dainwari, Al-Akhbar wa al-Thiwal, hlm. 279; Thabari, Tārikh, jil. 6, hlm. 302; Ibnu Abdu Rabbah, Al-Abd Rabbah, Al-Iqdul Farid, jil. 1, hlm. 183; Ibrahim bin Muhammad Baihaqi, Al-Mahāsin wa al-Musawi, jil. 1, hlm. 217, jil. 2, hlm. 391; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 9, hlm. 12.
  66. Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 77-82, 152-153.
  67. Amru bin Bahr Jakhadh, Kitab al-Haiwan, jil. 1, hlm. 185-187; Ibnu Qutabah, Al-Imāmah wa al-Siyāsah, Al-Ma'ruf bi Tārikh al-Khulafā, jil. 1, hlm. 128; Ahmad bin Dawud Dainawari, Al-Akhbār wa al-Thiwāl, hlm. 279.
  68. Ahmad bin Hanbal, jil. 3, hlm. 64, 197; Ibnu Mandzur, Lisān al-Arab, Sabat, sabad; Ibnu Hajar Asqalani, Fath al-Bari: Syarah Sahih Bukhari, jil. 8, hlm. 54; Mahmud bin Ahmad Aini, Umdah al-Qari: Syarah Sahih al-Bukhari, jil. 22, hlm. 68, jil. 25, hlm. 301-302.
  69. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jil. 8, hlm. 123.
  70. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 3, hlm. 113; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 62.
  71. Amir Najar, Al-Khawarij: Aqidah wa Fikra wa Falsafah, hlm. 144; Ahmad Mu’ithah, Al-Islam wa al-Khawāriji, hlm. 14, 17; Nasir bin Abdul Karim Aql, Al-Khawārij: Awal Firaq fi Tārikh al-Islām, hlm. 24-25.
  72. Umar Abu Nasr, Al-Khawārij fi Islām, hlm. 41, 101-102.
  73. Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 78; Ibnu A'tsa, Kufi, Kitāb al-Futuh, jil. 5, hlm. 57-58.
  74. Muhammad bin Muhammad Mufid, Al-Irsyād fi Ma’rifah Hujajullah Ala Ibad, jil. 2, hlm. 10; Ali bin Isa Bahauddin Arbili, Kasyf Ghummah fi Ma’rifah Aimah, jil. 2, hlm. 162.
  75. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb al-Asyrāf, jil. 5, hlm. 169; Thabari, Tārikh, jil. 5, hlm. 165-166; Ja’far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 51; Suhair Qalamawi, Adab al-Khawarij fi Asr Umawi, hlm. 150-151.
  76. Ja’far Subhani, Bahuts fi Milal wa al-Nahl, jil. 5, hlm. 158-174.
  77. Asy'ari, hlm. 461; Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi, Al-Firaq bainal Firaq, hlm. 211; Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 116; Madelung, hlm. 54-55.
  78. Muhammad Ismail Bukhari, Al-Tārikh al-Saghir, jil. 1, ha, 191-193; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 5, hlm. 360, 373; Akhbār al-Daulah al-Abasiyah, hlm. 297-300; Nasywan bin Sa’id Hamiri, Al-Haur al-Ain, hlm. 185-187.
  79. Muhammad bin Yazid Mubarrad, jil. 3, hlm. 261-162; Ibnu A'tsam Kufi, Kitāb al-Futuh, jil. 47, hlm. 274; Mufid, Al-Ihtishāsh, hlm. 122; Ja'far Murtadha Amili, Ali as wa al-Khawārij, Tārikh wa Dirāsah, jil. 2, hlm. 71-76, 94-96.
  80. Mas'udi, Muruj Dzahab, jil. 4, hlm. 26-27; Ibnu Hazm, Kitab Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, hlm. 387; Yaqut Hamui, Mu’jam al-Adbā, jil. 1, hlm. 28, jil. 6, hlm. 2497; Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 10, hlm. 30.
  81. Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 6, hlm. 30; Ahmad bin Dawud Dainawri, Al-Akhbār al-Thiwāl, hlm. 270-277.
  82. Ja'far Murtadha Amili, Dirāsah wa Bahuts al-Tārikh wa Islam, jil. 1, hlm. 39-40; Juga silahkan lihat: Akhbar al-Daulah wa Abasiyah, hlm. 251; Mas'udi, Muruj Dzahab, jil. 4, hlm. 79-80.
  83. Amru bin Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 3, hlm. 130; Ibnu Qudamah Muqadawi, Al-Syarah al-Kabir, jil. 107, hlm. 76; Ibnu Taimiyyah, Minhaj al-Sunah wa al-Nabawiyyah, jil. 5, hlm. 247-248; Ibid, 1421, jil. 4, hlm. 124; Lihat juga: Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 6, hlm. 216-218; Ahmad bin Ali Maqrizi, Amta’ al-Isma’, jil. 9, hlm. 214.
  84. Sebagai contoh: Kulaini, Al-Kafi, jil. 2, hlm. 387; Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi Majlisi, Bihār al-Anwār, jil. 33, hlm. 325-342.
  85. Muhammad bin Muhammad Mufid, Awail Maqalat, hlm. 43-44; Ja'far bin Hasan Muhaqqiq Hilli, Al-Risālah al-Tasa’, hlm. 277; Ibid, bag. 1, hlm. 42; Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, Al-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarah al-Lum'ah al-Dimasyqiyyah, jil. 2, hlm. 407-408.
  86. Muhammad bin Hasan Thusi, Kitab al-Khālaf, jil. 2, hlm. 300; Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Kasyf al-Murād fi Syarah Tajrid al-I’tiqād, 1420-1422, jil. 4, hlm. 622; Ibid, 1414, jil. 2, hlm. 25; Zainuddin bin Ali Syahid Tsani, Masālik al-Ifhām ila Tanqih Syarāyi’ al-Islām, jil. 7, hlm. 432.
  87. Muhammd bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 184, 222-230.
  88. Masah, hlm. 147; Ignaz Goldziher, Al-Aqidah wa al-Syari'ah fi al-Islām, hlm. 193; Naif Mahmud Ma'ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 60. Untuk melihat karya-karya kalami dan keilmuan mereka silahkan lihat: Muhammad bin Umar Kasyyi, Ikhtiyār Ma’rifah al-Rijāl, hlm. 229; Muhammad bin Ahmad Malatha Syafi’i, Al-Tanbiyah wa al-Rad ala Ahla Ahwa wa al-Bada, hlm. 57; Ibnu Khaldun, jil. 3, hlm. 213-214.
  89. Muhammad bin Muhammad Mufid, Al-Jamāl wa al-Nusrah li Sayyid al-Itrah fi Harb al-Basrah, 1374 S, hlm. 85.
  90. Ahmad Amin, Dhuha al-Islām, jil. 3, hlm. 334-337.
  91. Ibnu Nadim, Al-Fehrest, hlm. 233-295.
  92. Ibnu Nadim, Al-Fehrest, hlm. 295.
  93. Asy’ari, hlm. 120; Mas’udi, Al-Tanbiyah, hlm. 395; Ibnu Nadim, Al-Fehrest, hlm. 233-234.
  94. Nasir Sabi'i, Al-Khawārij wa al-Haqiqah al-Ghaibah, hlm. 28-39.
  95. Amru bin Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 1, hlm. 347; Asy’ari, hlm. 120; Ibnu Nadim, Al-Fehrest, hlm. 59; Yaqut Hamui, Mu'jam al-Adabā, jil. 6, hlm. 2704-2705.
  96. Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 293; Yaqut Hamui, Mu’jam al-Adabā, jil. 6, hlm. 2749.
  97. Amru bin Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 1, hlm. 343; Ibnu Nadim, Al-Fehrest, hlm. 51; Lihat juga Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 9, hlm. 263
  98. Ibnu Hajar Asqalani, Kitab Tahdzib al-Tahdzib, jil. 3, hlm. 598-599
  99. Amru bin Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 1, hlm. 347; Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 3, hlm. 215; Asy’ari, ibid; Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Hawa wa al-Nahl, hlm. 204; Yaqut Hamui, Mu’jam al-Adabā, jil. 4, hlm. 2499.
  100. Muhammad bin Yazid Mubarrad, Al-Kāmil, jil. 37, hlm. 220; Muhassin bin Ali Tanukhi, Nasywarah al-Mukhadhārah wa Akhbār al-Mudzākarah, jil. 3, hlm. 291.
  101. Naif Mahmud Ma'ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 247-248.
  102. Naif Mahmud Ma'ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 250-252, 256-258; Syi’r al-Khawatij, hlm. 10-27; Suhair Qalamawi, Adab al-Khawārij fi Asr al-Umawi, hlm. 46-48, 50.
  103. Naif Mahmud Ma'ruf, Al-Khawārij fi Ashr Umawi: Nasya'tuhum, Tārikhuhum, Aqāidahum wa Adabuhum, hlm. 293-302; Untuk melihat khutbha-khutbah dan surat-surat Khawarij: Khalidah bin Hayath, Tārikh Khalifah bin Khayath, hlm. 251-252; Amru bin Bahr Jahadh, Al-Bayān wa al-Tabyin, jil. 2, hlm. 126-129, 310-311; Ahmad bin Yahya Baladzuri, Jumal min Ansāb Al-Asyrāf, jil. 7, hlm. 432-435; Thabari, jil. 7, hlm. 394-397.
  104. Izitisu, hlm. 34.
  105. Salim bin Dzakwan, hlm. 37-145.
  106. Yulius Walhawazan, Ahzab al-Mu'aradhah al-Siyāsah al-Diniyyah fi Sadr al-Islām: al-Khawārij wa al-Syiah, terjemah Abdurahman Badawi, hlm. 46; Ibnu Fork, Mujarad Maqālat al-Syaikh Abi Hasan al-Asy’ari, hlm. 149-157.
  107. Abu Khatam Razi, Kitab al-Zinah fi Kalamāt al-Islāmiyyah al-Arabiyyah, bag. 3, hlm. 282; Baghdadi, Kitab Ushuluddin, hlm. 332; Ibid, Al-Firaq baina Firaq. Hlm. 73; Ibnu Hazm, Kitāb al-Fashl fi Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 2, hlm. 113; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jil. 8, hlm. 113.
  108. Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 3, hlm. 188.
  109. Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, Kitab al-Maqālāt wa al-Firaq, hlm. 85-86; Ali bin Ismail Asy'ari, Maqālāt al-Islāmiyin wa Ikhtilāf al-Mushallin, jil. 1, hlm. 1, hlm. 159; Baghdadi, Al-Firaq baina al-Firaq, hlm. 82-83; Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 186.
  110. Ali bin Ismail Asy'ari, Maqālāl-Islamiyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, jil. 1, hlm. 175-176, jil. 1, hlm. 126; Syahfur bin Thahir Isfaraini, Al-Tabshir fi Din wa Tamiz al-Firqah al-Najiyyah an al-Firaq al Halikin, hlm. 26.
  111. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jil. 8, hlm. 114-118; Ali bin Muhammad Jarjani, Syarah al-Muwāqif, jil. 8, hlm. 334-338.
  112. Ali bin Muhammad Jarjani, Syarah al-Muwāqif, jil. 8, hlm. 334.
  113. Baghdadi, Al-Firaq baina al-Firaq, hlm. 73; Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 2, hlm. 113; Syahfur bin Thahir Isfaraini, Al-Tabshir fi al-Din wa Tamiz al-Firqah al-Najiyyah an al-Firaq al-Halikin, hal 26.
  114. Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, Kitab al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 8, Hasan bin Musa Naubakhti, Firaq al-Syiah, hlm. 10.
  115. Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 174-175.
  116. Hasan bin Musa Nubakhti, Firaq al-Syiah, hlm. 10; Ali bin Ismail Asy’ari, jil. 1, hlm. 189, jil. 2, hlm. 134; Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 2, hlm. 113; Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 175.
  117. Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 175; Ali bin Muhammad Jarjani, Syarah al-Muwāqif, jil. 8, hlm. 345.
  118. Abu Khatam Razi, Kitab al-Zainah fi Kalamāt al-Islāmiyyah al-Arabiyyah, bag. 2, hlm. 282; Ali bin Ismail Asy’ari, jil. 1, hlm. 189, jil. 2, hlm. 128; Muhammad bin Ahmad Malatha Syafi’i, Al-Tanbiyah wa al-Rad ala Ahli Ahwa wa al-Bada’, hlm. 51; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jil. 2, hlm. 274.
  119. Muhammad Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 186.
  120. Ibnu Hazam, Kitab al-Fashl, fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 189.
  121. Ali bin Ismail Asy’ari, Maqālāt al-Islāmiyyin wa Ikhtilāf al-Mushallin, jil. 1, hlm. 189.
  122. Asy'ari, jil. 1, hlm. 189.
  123. Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwā wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 63.
  124. Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwā wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 66.
  125. Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwā wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 171.
  126. Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwā wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 176.
  127. Silahkan lihat Sa'ad bin Abdullah Asy'ari, Kitab al-Maqalat al-Firaq, hlm. 5, 8, 85; Hasan bin Musa Nubakhti, Firaq al-Syiah, hlm. 10, 75.
  128. Silahkan lihat: Abu Khatam Razi, Kitab al-Zainah fi al-Kalamāt al-Islamiyyah al-Arabiyyah, bag. 3, hlm. 181-185; Muhammad bin Ahmad Malatha Ahmad Syafi’i, Al-Tanbiyah wa al-Rad ala Ahli Ahwa wa al-Bada’, hlm. 47-54; Baghdadi, Al-Firaq bainal Firaq, hlm. 74-113; Ibid, Kitab Ushuluddin, hlm. 332-333.
  129. Silahkan lihat: Ali bin Ismail Asy'ari, Maqālāt Islāmiyin wa Ikhtilāf al-Mushallin, jil. 1, hlm. 157-159; Syahfuz bin Thahir Asfaraini, Al-Tabshir fi al-Din wa Tamiz al-Firqah al-Najiyyah an Firaq al-Halikin, hlm. 26-36; Muhammad bin Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, jil. 1, hlm. 179-218; Ahmad Awadh Abu Syahab, Al-Khawarij: Tārikhuhum, Firaquhum wa Aqaidahum, hlm. 207-281.
  130. Sebagai contoh silahkan lihat: Abu Khatam Razi Kitab Zinah fi Kalamāt al-Islāmiyyah al-Arabiyyah, bag. 3, hlm. 276; Muhammad bin Ahmad Malatha Syafi'i, Al-Tanbiyah wa Rad ala Ahla Ahwa wa al-Bada, hlm. 50-51; Ibnu Hazam, Kitab Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa wa al-Nahl, jil. 4, hlm. 161; Ibnu Abil Hadidm jil. 2, hlm. 265-267.
  131. Mufid, hlm. 43; Nashiruddin Thusi, Tajrid al-I’tiqād, hlm. 295; Husain bin Yusuf Allamah Hilli, Kasyf al-Murad fi Syarah Tajrid al-I’tqad, hlm. 540; Miqdad bin Abdullah Fadhil Miqdad, Al-Lawāmi’ Ilahiyyah fi Mabahits al-Kalamiyyah, hlm. 372.
  132. «..لِلّه عَلَی‌النَّاسِ حِجُّ البَیتِ مَنِ استَطاعَ إلَیهِ سَبیلا وَ مَن کَفَرَ فَإنَّ اللّهَ غَنِی عَنِ العالَمین» "Di dalam rumah itu terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqâm Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu), maka ia akan menjadi aman; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Q.S: Ali Imran 97)
  133. Silahkan lihat: Ibnu Abil Hadid, jil. 8, hlm. 114; Jarjani, jil. 8, hlm. 335.
  134. Silahkan lihat: Muhammad bin Ahmad Malatha Syafi'i, Al-Tanbiyah wa al-Rad ala Ahli Ahwa wa al-Bada', hlm. 47-50; Ibnu Abil Hadid, jil. 8, hlm. 114-118; Jarjani, jil. 8, hlm. 334-338; Silahkan lihat: Ya'qub Ja'fari, Khawarij dar Tārikh, hlm. 255-257.
  135. Misalnya dalam bab Kufr Murtakib Kabirah silahkan lihat: Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi Milal wa al-Ahwā wa al-Nahl, jil. 3, hlm. 243-235; Jarjani, jil. 3, hlm. 324-325.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, cet. Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Qahirah, 1385/1387, 1965/1967, cet. Offset Beirut, tanpa tanggal.
  • Ibnu Hazm, Kitab al-Fashl fi Milal wa al-Ahwā wa Nahl, Mesir, 1320-1320, cet. Offset. Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Furak, Mujarad Maqālāt al-Syaikh Abil Hasan Asy’ari, cet. Daniel Zimarah, Beirut, 1987.
  • Abu Hatam Razi, Kitab al-Zainah fi Kalamāt al-Islāmiyyah al-Arabiyyah, bag. 3, cet. Abdullah Sulu, Samarai, Dar Abdullah Sulum Samarai, Al-Ghulu wa al-Firaq al-Ghaliyah fi Khadharah al-Islamiyyah, Baghdad, 1988.
  • Ahmad Awadh Abu Syabab, Al-Khawārij, Tārikhuhum, Firaquhum wa Aqaidahum, Beirut, 1426/2005.
  • Syahfurin Thahir Isfaraini, Al-Tabshir fi Din wa Tamiz al-Firqah al-Najiyyah an Firaq al-Hakilin, cet. Muhammad Zahid Kautsari, Qahirah, 1359/1940.
  • Sa’d bin Abdullah Asy’ari, Kitab Maqālāt wa al-Firaq, cet. Muhammad Jawad Masykur, Tehran, 1341 S.
  • Ali bin Ismail Asy’ari, Maqālāt al-Islamiyin wa Ikhtilāf al-Mushallin, cet. Muahmmad Muhyiddin Abdul Hamid, Qahirah, 1369-1373, 1954-1950.
  • Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi, Al-Firaq bainal Firaq, cet. Muhyiddin Abdul Hamid, Qahirah, tanpa tahun.
  • Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi, Kitab Ushuluddin, Istanbul, 1928, 1346, cet. Offset Beirut, 1401/1981.
  • Ali bin Muhammad Jarjani, Syarah al-Muwafiq, cet. Muhammad Badruddin Na’sani Halabi, Mesir, 1325/1907, cet. Offset Qum, 1370 S.
  • Ya’qub Ja’fari, Khawarij dar Tārikh, Tehran, 1371 S.
  • Muhammad Abdul Karim Syahristani, Al-Milal wa al-Nahl, cet. Ahmad Fahimi Muhammad, Qahirah, 1367-1368/1949-1848, cet. Offset Beirut, tanpa tanggal.
  • Muhammad Hasan Thusi, Al-Tibyān fi Tafsir al-Qurān, cet. Ahmad Habib Qashir Amili, Beirut, Tanpa tanggal.
  • Muhammad Hasan Thusi, Kitab Tamhid Ushul fi Ilmu Kalām, cet. Abdul Muhsin Masykuh Dini, Tehran, 1362 S.
  • Hasan bin Yusuf Allamah Hilli, Kasyf al-Murād fi Syarah Tajrid al-I’tiqād, cet. Hasan Hasan Zadeh Amuli, Qum, 1427.
  • Ali bin Husain Alamul Huda, Al-Dzakhirah fi Ilmu Kalām, cet. Ahmad Husaini, Qum, 1411.
  • Miqdad bin Abdullah Fadhil Miqdad, Al-Lawama’ al-Ilahiyah fi Mabāhits al-Kalamiyyah, cet. Muhammad Ali Qadhi Thabathabai, Qum, 1380 S.
  • Muhammad Amr Fahr Razi, I’tiqādāt Firaq Muslimin wa al-Musyrikin, cet. Thaha Abdul Rauf Sa’d wa Musthafa Hawari, Qahirah, 1398/1978.
  • Muhammad bin Muhammad Mufid, Awāil Maqālāt, cet. Ibrahim Anshari, Qum, 1413.
  • Muhammad bin Ahmad Malathi Syafi’i, Al-Tanbiyah wa Radd ala Ahla Ahwa wa al-Bada’, Cet. Muhammad Zahid Kautsari, Qahirah, 1418/1997.
  • Muhammad bin Muhammad Nashruddin Thusi, Tajrid al-I’tiqād, cet. Muhammad jawab Husaini Jalali, Qum, 1407.
  • Hasan Musa Nubakhti, Firaq Syiah, cet. Muhammad Shadiq Ali Bahrul Ulum, Najaf, 1355/1936.
  • Yulius Walhawazan, Ahzab al-Mu’aradhah al-Siyāsah al-Diniyyah fi Sadr Islam, Al-Khāwarij wa al-Syiah, Terjemah an al-Amaniyyah Abdurahman Badawi, Kuwait, 1976.
  • EI2aKh, s.v. “ites" (by G. Levi Della Vida); Toshihikodjri Izutsu, The concept of belief in Islamic theology: a semantic analysis ofImam and Islam, Tokyo 1965
  • Martin J. McDermott, The theology of al-Shaikh al-Mufid, Beirut 1978
  • Salim ibn Dhakwan, The epistle of Salim ibn Dhakwan, [ed.] Patricia Crone and Fritz Zimmermann, Oxford 200103)

Daftar Pustaka Bagian Akidah

  • Ibnu Ab Syaibah, Al-Mushannif fi Ahādits wa Atsar, cet. Said Muhammad Lahham, Beirut, 1409/1989.
  • Ibnu Atsir, Asad al-Ghabah fi Ma’rifah Sahabah, cet. Muhammad Ibrahim Bana dan Muhammad Ahmad Asyur, Qahirah, 1970-1973.
  • Ibnu Atsir, Al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, 1385-1386/1965-1966, cet. Offset, 1402-1399/1979-1982.
  • Ibnu A’tsam Kufi, Kitāb al-Futuh, cet. Ali Syiri, Beirut, 1411/1991.
  • Ibnu Babuwah, Al-Amāli, Qum, 1417.
  • Ibnu Taimiyyah, Majmu’ah al-Fatawā, cet. Musthafa Abdul Qdir Atha, Beirut, 1421/2000.
  • Ibnu Taimiyyah, Minhaj al-Sunah al-Nabawiyyah, cet. Muhammad Rasyad Salim, Riyadh, 1406/1986.
  • Ibnu Jauzi, Talbis Iblis, Beirut, 1407/1987.
  • Ibnu Hajar Asqalani Tabshir al-Muntabah bi Tahrir al-Musyatabiyyah, cet. Ali Muhammad Ali Najar dan Ali Muhammad Bijawi, Qahirah, 1383-1386, 1964-1967.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Fathul Bari, Syarah Shahih Bukhari, Baulaq, 1300-1301, cet. Offset Beirut, tanpa tanggal.
  • Ibnu Hajar Asqalani, Kitāb Tahdzib al-Tahdzib, cet. Sadiqi Jamil Athar, Beirut, 1415.1995.
  • Ibnu Hazm, Jumhurah Ansab al-Arab, cet. Abdul Salam Muhammad Harun, Qahirah, 1982.
  • Ibnu Khaldun
  • Ibnu Syadzab, Al-Aidhah, cet. Jalaluddin Muhaddits Armui, Tehran, 1363 S.
  • Ibnu Abdul Rabbah, Al-Aqad al-Farid, jil. 1 dan 2, cet. Mufid Muhammad Qamihah, Beirut, 1404/1983.
  • Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis Lughah.