Para Tawanan Karbala

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: c

Para Tawanan Karbala (bahasa Arab: أسراء کربلاء) diungkapkan khusus untuk orang-orang yang dalam Peristiwa Asyura dan setelah kesyahidan Imam Husain as dibawa oleh tentara musuh ke Kufah dan Syam. Jumlah para tawananan masih diperselisihkan, namun kepala rombongan tawanan tersebut adalah Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab sa. Mereka dengan ceramah-ceramah yang mereka sampaikan di berbagai pertemuan, telah menyebabkan penyesalan Yazid secara lahir dengan cepat.

Jumlah Para Tawanan

Para sejarawan tidak sependapat mengenai jumlah tawanan Ahlulbait dan orang-orang yang tersisa dari sahabat-sahabat Imam Husain as dan masing-masing mengisyaratkan pada beberapa nama-nama dari tawanan-tawanan tersebut. Beberapa sumber melaporkan bahwa hanya para wanita yang tertawan dan mereka berjumlah 61 orang yang berangkat dari Mekah menuju ke Kufah.

Orang-orang yang nama-nama mereka dinyatakan sebagai tawanan Karbala adalah sebagai berikut:

  • Laki-laki: Imam Sajjad as, Imam Baqir as, Umar bin Husain bin Ali, Muhammad bin Husain bin Ali, Muhammad bin Amr bin Husain bin Ali, dua orang anak dari Ja'far bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas bin Ali, Qasim bin Abdullah bin Ja'far, Qasim bin Muhammad bin Ja'far, Muhammad asghar bin Aqil, 'Ukbah bin Sam'an (hamba sahaya Rabab), hamba sahaya Abdurrahman bin Abdu Rabbah Anshari, Muslim bin Rabah (hamba sahaya Imam Ali as), Ali bin Utsman Maghribi.
  • Perempuan: Putri-putri Imam Ali as dengan nama-nama Zainab, Fatimah, Ummu Kultsum (atau Nafisah atau Zainab Sughra), Ummu Hasan, Khadijah istri Abdurrahman bin Aqil dan Ummu Hani istri Abdullah Akbar bin Aqil. [1] Tiga putri dari Imam Husain as dengan nama-nama: Sukainah, Fatimah, Ruqayyah, dan Zainab binti Husain, [2] Rubab istri Imam Husain, Ummu Muhammad (Fatimah putri Imam Hasan as), Istri Imam Sajjad as dan ibu Imam Baqir as, Fakihah ibunda Qarib bin Abdullah bin Ariqath. [3]

Perjalanan menuju Kufah

Setelah kesyahidan Imam Husain as, Ahlulbaitnya menghabiskan malam kesebelas di Karbala. Setelah dhuhur pada hari kesebelas para pasukan tentara Umar bin Sa'ad menguburkan semua tentara mereka yang mati, lalu mengumpulkan Ahlulbait Imam dan anggota keluarga dari para syuhada untuk dibawa pergi menuju ke Kufah.

Melintas dari Samping Jenasah Syuhada

Laskar pasukan Umar bin Sa'ad sengaja membawa para wanita Ahlulbait melintas dari samping tubuh-tubuh para syuhada, dan pada saat itu mereka meratap dan memukuli wajah karena kesedihan. Qurrah bin Qais Tamimi berkata, "Banyak hal yang ada dapat kulupakan, namun perkataan Zainab sa, putri Fatimah binti Muhammad sa tidak akan dapat pernah aku lupakan, yaitu ketika ia melintasi tubuh suci saudaranya Husain yang tergeletak di atas tanah ia berkata:

﴾يا محمداه، يا محمداه! صلى عليك ملائكة السماء، هذا الحسين بالعراء، مرمل بالدماء، مقطع الأعضاء، يا محمداه! و بناتك سبايا، و ذريتك مقتله، تسفى عليها الصبا﴿
﴾قال: فابکت و الله کل عدو و صدیق﴿

"Wahai Muhammad, Wahai Muhammad, para malaikat surga bershalawat kepadamu, Ini adalah Husain tergeletak di padang sahara, berlumuran dengan darah, terpotong anggota badannya! Wahai Muhammad, putri-putrimu menjadi tawanan, keturunanmu terbunuh tertiup angin." Dia mengutip: Demi Allah, musuh dan teman dibuatnya menangis. [4]

Pertemuan Pasukan Umar bin Sa'ad

Pasukan musuh menaikan para tawanan ke atas kendaraan tanpa pelana,[5] Ketika mereka memasuki kota Kufah, para penduduk keluar untuk melihat mereka, dan para wanita Kufah menangisi mereka, seseorang bernama Khadzlam bin Satir berkata, "Diantara keramaian aku melihat Ali bin Husain as yang di lehernya terikat dengan kedua tangannya diikat ke lehernya." [6]

Sampai di Kufah

Tentang waktu kedatangan para tawanan di Kufah tidak didapatkan laporan yang jelas dalam sumber-sumber klasik. Namun, Syaikh Mufid memiliki sebuah ungkapan yang dengan berdasarkan pada perkataan tersebut dapat dikatakan bahwa mereka masuk ke Kufah pada hari kedua belas. [7]

Pidato-pidato Para Tawanan

Setelah para tawanan menetap di Kufah, beberapa tawanan berpidato kepada orang-orang Kufah, orang-orang yang berpidato ketika itu adalah:

  • Imam Sajjad as: Pidato Imam Sajjad di Kufah dalam berbagai sumber dimuat diantaranya adalah dalam buku Mutsir al-Ahzān, Ibnu Nama Hilli. [8]
  • Sayidah Zainab sa: Pidato Sayidah Zainab di Kufah dimuat dalam buku Balāghāt al-Nisā oleh Ibn Thaifur Baghdadi (280 H/893). [9]
  • Fatimah Sughra: yang dimaksud adalah Fatimah Sughra putri Imam Husain as, dilaporkan bahwa pidatonya dimuat oleh Allamah Thabarsi dalam bukunya al-Ihtijaj[10] .
  • Ummu Kultsum putri Imam Ali: Pidato ini dikutip dalam Luhuf Ibnu Thawus. [11]

Di Istana Ibnu Ziyad

Para pembunuh Imam Husain as setelah sengaja membawa para tawanan melintasi jalan-jalan dan gang-gang Kufah, mereka dibawa ke istana Ubaidillah bin Ziyad. Dilaporkan, terjadi dialog sengit dan membara antara Sayidah Zainab dan Ubaidillah bin Ziyad. [12] [13] Ubaidillah juga mengeluarkan perintah untuk pembunuhan Imam Sajjad as yang mana dengan perantara Sayidah Zainab sa dan kecaman keras dari Imam Sajjad as, Ibnu Ziyad mengurungkan niatnya untuk membunuhnya. [14]

Perjalanan ke Syam

Rute Perjalanan

Rute perjalanan secara terperinci gerak para tawanan dari Kufah ke Syam tidak diketahui, namun dengan tempat-tempat yang mendapat berkah dari Imam Husain as, rute perjalanan tersebut ada kemungkinan dapat diidentifikasi. Tempat-tempat tersebut adalah sebagai berikut:

  • Maqam atau tempat kepala Al-Husain di Mosul: Menurut perkataan Harawi, maqam tersebut ada sampai abad ketujuh. [15]
  • Masjid Imam Zainal Abidin as dan maqam kepala Al-Husain di Nasibin: Nasibin sekarang ini adalah salah satu kota di Turki, [16] dikatakan bahwa bekas peninggalan dari darah kepala Imam Husain as masih ada di tempat tersebut.[17] Harawi telah mencatatnya dengan nama Masyhad al-Nuqthah. [18]
  • Makam Tharh: Tharh memiliki arti bahwa bayi yang lahir secara prematur. Ada kemungkinkan bahwa di antara para tawanan wanita ada yang hamil dan bayinya lahir sebelum waktunya. [19]
  • Maqam Hajar (batu): Ketika rombongan melakukan konvoi, kepala Imam mereka letakkan diatasnya. [20]
  • Kedudukan Gunung Jausyan: Gunung ini terletak di Aleppo. Seakan-akan dikatakan bahwa gunung ini mungkin berasal dari nama Syimr bin Dzil Jausyan. Menurut beberapa pandangan, di sana ada seorang biarawan yang menjalani kehidupannya dan kepala Imam Husain as diambil dari laskar tentara Yazid sebagai amanat. Karena kuburan Muhsin bin Al-Husain as ada di sana. [21] Maka nama tempat itu dikenal dengan Masyhad al-Siqt. [22]
  • Maqam Hamah: Maqam ini berada di kota Aleppo. Ibnu Syahrasyub juga telah mengenang lokasi ini. [23]
  • Maqam Hemes: Ibnu Syahrasyub juga telah mengenang lokasi ini. [24]
  • Maqam Ba'labak:. Di lokasi ini ada sebuah masjid yang menurut perkataan sebagian sejarawan, sebelumnya adalah maqam kepala Al-Husain as. [25]
  • Maqam kepala Imam Husain dan maqam Imam Zainal Abidin di Damaskus: dua maqam ini berada di Masjid Umawi. Ibnu Asakir mengenangnya dengan Maqam kepala Al-Husain[26] dan sumber-sumber lain meyakini bahwa maqam Imam Zainal Abidin as juga berada dekat di sekitarnya. [27]

Para Petugas rombongan

Ibnu Ziyad telah mengirim para tawanan ke Syam bersama sekelompok orang yang dipimpin oleh orang-orang terkenal seperti Syimr bin Dzil Jausyan dan Thariq bin Muhafaz bin Tsa'labah. [28] Menurut beberapa sumber Zahr bin Qais juga ada bersama mereka. [29]

  • Sikap para petugas: sesuai dengan penukilan Ibnu A'tsam dan al-Kharazmi, para antek Ubaidillah bin Ziyad membawa para tawanan dari Kufah menuju ke Syam melewati jalan-jalan dan rumah-rumah tanpa kain dan penutup, sebagaimana layaknya mereka membawa tawanan (kafir) Turki dan Dailam. [30] [31]
  • Laporan Imam Sajjad as: Tindakan dan perilaku para petugas pemerintah dengan tawanan dari perkataan Imam Sajjad as, telah dikutip sebagai berikut:

"Aku dinaikkan di atas sebuah unta kurus dan pincang yang mana di atasnya dipasang kayu dan papan, tanpa alas (sehingga ketika berjalan tidak merata), sedangkan kepala Imam Husain as berada di atas tombak dan para wanita berada di belakang kami dan tombak mengitari kami. Jika air mata mengalir dari mata salah satu dari kami, mereka memukul kepalanya dengan tombak hingga akhirnya kami sampai di kota Syam. Ketika kami tiba di Syam salah seorang berteriak, wahai penduduk Syam, mereka inilah para tawanan dari keluarga terkutuk." [32]

Di Syam

  • Mendekorasi Kota: Yazid memerintahkan untuk menghiasi kota ketika tawanan masuk, Sahl bin Sa'ad Saidi, termasuk dari orang-orang menyaksikan dan menggambarkan dekorasi kota dan sukacitanya penduduk ketika Ahlulbait as memasuki kota. [33]
  • Hari Kedatangan: berdasarkan kutipan sejarah, masuknya kepala para syahid ke Syam di hari pertama Shafar. [34] Pada hari itu, para tawanan dari pintu Touma atau gerbang jam dipersilakan masuk kota dan di jalan masuk pintu masuk ke masjid dan kemudian mereka ditempatkan di atas sebuah panggung tempat penjagaan para tawanan. [35]
  • Laporan kepada Yazid: Para petugas setelah membawa para tawanan berkeliling kota Syam, kemudian mereka dibawa pergi menuju ke istana Yazid. Zahr bin Qais atas nama para petugas lainnya, melaporkan Peristiwa Karbala kepada Yazid. [36]
  • Para tawanan masuk ke istana Yazid: Setelah mendengar laporan, Yazid memerintahkan untuk menghiasi Istananya, kemudian meminta para pembesar kaum untuk hadir di istananya dan para tawanan diperintahkan untuk masuk istana. [37] Sumber-sumber sejarah melaporkan bahwa para tawanan dalam keadaan tangan terikat tali yang menyambung satu dengan lainnya, masuk ke Majelis. [38] pada saat itu, Fatimah binti al-Husain berkata: "Hei, Yazid! Apakah layak putri-putri Rasulullah saw menjadi tawanan?". Seketika itu semua yang hadir di Istana Yazid menangis. [39]
  • Sikap dan tindakan Yazid terhadap kepala Imam di hadapan para tawanan: Yazid di hadapan para tawanan meletakkan kepala Imam di sebuah tempat terbuat dari emas[40] dan memukulnya dengan tongkat kayu. [41] Ketika Sukainah dan Fatimah kedua putri Imam Husain as melihat hal itu, mereka berteriak histeris sehingga perempuan-perempuan Yazid dan putri-putri Muawiyah pun berteriak mengangkat suara merintih keras. [42] Ada dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ridha as, Yazid meletakkan kepala Imam di dalam sebuah baskom dan kemudian diletakkan di atas meja makan dan kemudian dia dan para pengikutnya, sibuk bersenang-senang sambil makan dan minum arak, kemudian ia meletakkan papan meja catur di atas baskom tersebut dan mulai bermain catur di atasnya bersama teman-temannya. Ketika ia memenangkan permainannya, dia mengambil cangkir dan meminum birnya hampir habis dan sisanya ia tumpahkan di samping baskom yang ada penggalan kepala Imam dan jatuh ke tanah. [43]
  • Protes para hadirin: Beberapa orang dari hadirin protes dan keberatan dengan perilaku yang dilakukan oleh Yazid. Salah satu dari mereka adalah Yahya bin al-Hakam saudara dari Marwan bin al-Hakam dan Yazid memukulnya dengan sebuah tinju ke dadanya. [44] Abu Barzah al-aslami juga memprotes hal itu dan Yazid memerintahkan untuk mengusirnya dari majelis. [45]
  • Pidato: Setelah beberapa peristiwa dan kejadian berlalu, Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab sa demi melakukan pencerahan kepada publik ia berpresentasi dan berpidato di Syam, yang mana pidato dan presentasi ini dikenal dengan khutbah atau pidato Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab di Damaskus.
  • Tempat tinggal: Sumber-sumber sejarah menunjukkan Ahlulbait Imam Husain as selama berada di Syam, tinggal di dua tempat. Pertama mereka tinggal di reruntuhan rumah yang tidak beratap[46] yang dikenal dengan reruntuhan kota Syam dan kisah Sayidah Ruqayyah terjadi di sana. [47] Para tawanan berada di tempat itu selama dua hari. [48] Namun, setelah Imam Sajjad as dan Sayidah Zainab Sa berpidato, situasi publik berbalik dan memberikan keberuntungan kepada mereka, oleh karena itu, kemudian mereka dipindahkan ke sebuah rumah di dekat istana Yazid. [49]
  • Masa tinggal: Sebagian besar sejarawan menulis bahwa para tawanan mereka tinggal di Syam selama tiga hari. [50] Namun Imaduddin Thabari meyakini bahwa mereka berada di Syam selama tujuh hari[51] dan Sayid Ibnu Thawus meyakininya sampai satu bulan. [52] Namun, ia sendiri melemahkan pernyataannya.

Perjalanan Pulang

Para sejarawan tidak menyebutkan dengan jelas hari keluarnya para tawanan dari kota Syam untuk kembali Madinah. Begitu juga ketika mereka mengadakan perjalanan pulang, apakah mereka melewati Karbala atau tidak, di antara para ahli terdapat perbedaan pendapat. Sebagian dari mereka mengatakan mereka ketika kembali, mereka pada hari keempat puluh pergi ke Karbala, Sayid Muhammad Ali Qazi Thabathabai dalam buku Tahqiq Dar Bareye Awalin Arbain Hadrate Sayidus Syuhada Alaihi salam (Penelitian mengenai perimgatan Arbain pertama kali Sayidul Syuhada as) telah membuktikannya, namun Muhaddits Nuri[53] dan Syaikh Abbas Qummi [54] tidak menerima permasalahan ini.

Sampai Ke Madinah

Ketika para tawanan Karbala tiba di dekat Madinah, Imam Sajjad as memerintahkan untuk mendirikan kemah di luar kota, juga memerintahkan Basyir bin Hazlam dan berkata: "Pergilah ke kota dan sampaikan kepada para penduduk tentang kesyahidan ayahku." Basyir memberitahu kepada para penduduk bahwa Imam Sajjad as beserta keluarganya telah sampai di batas kota dan beristirahat di sana. Dengan mendengar berita itu, semua wanita Madinah keluar dari rumah mereka masing-masing dan meneriakkan kata kata: "Oooh,… Aduuh… tiada hari seperti hari itu, dimana semua pria dan wanita terlihat menangis sepeninggal Nabi saw, tiada hari yang lebih pahit dari hari itu untuk kaum muslimin." [55]

Catatan Kaki

  1. Mausu'atu Karbala, Labib Bidhun, jld.1, hlm.528.
  2. Al-I'lāq al-Khathirah, Ibnu Syidad, hlm. 48-50.
  3. Dzakhiratu Dārain, Al-Syirazi, hlm.327.
  4. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.114; Tārikh Thabari, jld.5, hlm.456.
  5. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.15, hlm.236.
  6. Syaikh Mufid, Amāli, hlm.321.
  7. Syaikh Mufid, al-Irsyād, jld.2, hlm.114.
  8. Mutsir al-Ahzan, hlm.89-90.
  9. Ibnu Theifur, Balāghat al-Nisā, hlm.23-24.
  10. Al-Ihtijaj, jld. 2, hlm. 105-140.
  11. Luhuf, hlm. 199.
  12. Mufid, al-Irsyad, jld.2, hlm.115-116.
  13. Thabari, jld.5, hlm.457.
  14. Ibnu A'tsam, kitāb al-Futuh, jld.5, hlm.123; Kharazmi, Maqtal al-Husain, jld.2, hlm.43.
  15. Ja'far Muhajir, Karavane Gham, hlm.29.
  16. Ibid, 30.
  17. Al-Isyarāt ila Ma'rifati al-Ziyarāt, hlm.66.
  18. Ibid.
  19. Muhajir, hlm.30.
  20. Al-I'lāq al-Khathirah, Ibnu Syidad, hlm. 178.
  21. Mu'jam al-Buldan, jld.2, hlm.186.
  22. Ibid.
  23. Manāqib Āli Abi Thālib alaihimu salam (li Ibnu syahrasyub), jld.4, hlm.82.
  24. Ibid.
  25. Muhājir, hlm.36-38.
  26. Ibnu asakir, Tārikh Madinatu Dimasyq, jld.2, hlm.304.
  27. Naimi, al-dāris fi Tārikh Madāris, jadwal tempat-tempat.
  28. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.416.
  29. Dinawari, Akbār al-Thiwāl, hlm.384-385.
  30. Ibnu A'tsam, kitāb al-Futuh, jld.5, hlm.127.
  31. Kharazmi, Maqtal al-Husain, jld.2, hlm.55-56.
  32. Sayid Ibnu Thawus, Al-Iqbāl, jld.3, hlm.89.
  33. Syaikh Shaduq, Amāli, Majlis.31, hlm.230.
  34. Abu Raihan Biruni, Ātsar al-Baqiah, hlm.331.
  35. Ibnu A'tsam, kitāb al-Futuh, jld.5, hlm.129-130.
  36. Tārikh al-Thabari, jld.5, hlm.460.
  37. Tārikh al-Thabari, jld.5, hlm.461.
  38. Sayid Ibnu Thawus, Luhuf, hlm.213.
  39. Ibnu Nama, Mutsir al-Ahzān, hlm.99.
  40. Kharazmi, jld.2, hlm.64.
  41. Yakubi, jld.2, hlm.64.
  42. Ibnu Atsir, Al-Kāmil, jld.2, hlm.577.
  43. Syaikh Shaduq, Uyun Ahbār al-Ridhā, jld.1, hlm.25, hadis 50.
  44. Thabari, jld.5, hlm.465.
  45. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld.3, hlm.416.
  46. Syaikh Shaduq, Amāli, majlis.31, hlm.231, hadis 4.
  47. Kamil Bahai, jld. 2, hlm.179.
  48. Shafar, Bashāir al-Darajāt, hlm.339.
  49. Mufid, al-Irsyad, jld.2, hlm.122.
  50. Thabari, jld.5, hlm.46; Kharazmi, jld.2, hlm.74.
  51. Al-Iqbal bil-'A'māl al-Hasanah, jld.3, hlm.101.
  52. Nuri, hlm.208-209.
  53. Nuri, hlm.208-209.
  54. Qummi, hlm.524-525.
  55. Sayid Ibnu Thawus, Luhuf, hlm.227.


Daftar Pustaka

  • Baladzuri, Ansāb al-asyrāf, riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zirkili, Dar al-Fikr, Beirut, 1417 H.
  • Biruni, Abu Raihan, Ātsar al-Baqiah, Dar Shadir, Beirut.
  • Dinawari, Abu Hanifah Ahmad bin Daud, Akbār al-Thiwāl, riset: I'sham Muhammad al-Haj Ali, dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1421 H.
  • Hamawi, Syahabuddin Abu Abdillah Yakut bin Abdullah( wafat 626), Mu'jam al-Buldān, Dar Shadir, cetakan kedua, Beirut, 1995.
  • Harawi, Ali bin Abi Bakr, Al-Isyārāt ila Ma'rifati al-Ziyārāt, riset: Janin Surdil, 1953.
  • Ibnu A'tsam Kufi, Ahmad bin A'tsam, al-Futuh, riset: Ali Syiri, Darul Adwa, Beirut, 1411 H.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Izzuddin Abdul Hamid, Syarh Nahjul Balāghah, riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, cetakan 2, penerbitan perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, Qom, 1404 H.
  • Ibnu asakir, Ali bin Hibbatullah, Tārikh Madinatu Dimasyq, riset: Ali asyur, Dar al-Ihya al-Thurats al-Arabi, Beirut, 1421 H.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Muhammad, Al-Kāmil fi al- Tārikh, Dar al-Turats al-Arabi, Beirut, 1405 H.
  • Ibnu Jauzi, Tadzkiratu al-Khawāsh, Percetakan Syarif al-Radhi, Qom, 1408 H.
  • Ibnu Nama, Ja'far bin Muhammad, Mutsir al-Ahzān, cetakan ketiga, Madrasah Imam Al-Mahdi Ajf, Qom, 1406 H
  • Ibnu Syahrasyub, Muhammad bi Ali Mazandarani (588) Manāqib Āli Abi Thālib alaihi salam, Qom, 1415 H.
  • Ibnu Syidad, Muhammad bin Ali, Al-I'lāq al-Khathirah fi Dzikri Umarā al-Jazirah, Damaskus, 2006.
  • Ibnu Theifur, Abul Fadhl bin Abi Thahir, Balāghat al-Nisā, perpustakaan Bashirati, Qom.
  • Kharazmi, Muafaq bin Ahmad Makki, Maqtal al-Husain, riset: Muhammad Samawi, Percetakan al-Zahra, Najaf, 1367 H.
  • Mufid, al-Irsyād fi ma'rifati Hujajullah ala al-Ibād, riset: Muassasah Alu al-Bait, al-Mu'tamar al-Alami al-Alfiyah al-Syaikh al-Mufid, Qom, 1413 H.
  • Mufid, Amāli, riset: Husain Ustad Wali, dan Ali Akbar Ghaffari, Jamiatu Mudarrisin, Qom, 1403 H.
  • Muhajir, Ja'far, Kāravāne Gham, Sayid Husain Mar'asyi, penerbitan Musafir, Teheran, 2011.
  • Naimi, Abdul Qadir bin Muhammad, al-dāris fi Tārikh Madāris, Damaskus, 1367 H.
  • Qummi, Abbas, Muntahā al-Āmāl, percetakan Husaini, Teheran, 1993.
  • Sayid Ibnu Thawus, Ali bin Musa bin Ja'far, Al-Iqbāl bil-A'mal Al Hasanah, riset: Jawad Qayyumi, Daftar Tablighat Islami, Qom, 1415 H
  • Sayid Ibnu Thawus, al-Malhuf fi Ma'rifati ala Qatlā al-Thufuf, riset: Faris Tabriziyan,Darul Uswah, 1414 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain, al-Amāli, Yayasan al-Bi'sah, Qom, 1417 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Husain, Uyun Ahbār al-Ridhā, editor: Husain A'lami, yayasan al-A'lami untuk penerbitan, Beirut, 1404 H.
  • Shafar Qummi, Muhammad bin Hasan, Bashāir al-Darajāt, Riset Muhsen Kuce Baghi, perpustakaan Ayatullah Mar'asyi Najafi, Qom, 1404 H.
  • Thabari, Imaduddin Hasan bin Ali, Kāmil Bahāi, Yayasan percetakan dan penerbitan, Qom, 1334.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Muluk wa al-Umam, riset, Muhammad Abulfazl Ibrahim, Rowai' al-Turats al-Arabi, Beirut.
  • Thabarsi, Ahmad bin Ali, al-Ihtijāj, riset: Ibrahim Bahaduri dan Muhammad Hadibeh, Uswah, cetakan kedua, Qom, 1416 H.
  • Yakubi, Ahmad bin Abi Yakub, Tārikh Yakubi, Dar Shadir, Beirut.