Prioritas: aa, Kualitas: b

Imam Ali Zainal Abidin as

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Imam Sajjad as)
Lompat ke: navigasi, cari
Ali bin Husain bin Abi Thalib as
Haram Imam Husein As
Deskripsi Imam Ali bin Husain al-Sajjad as
Posisi Imam Keempat Syiah
Nama Ali
Julukan Abul al-Hasan, Abu al-Husain, Abu Muhammad, Abu 'Abdillah
Gelar Zain al-'Abidin, Sayyid al-Sajidin, Dzu al-Tsafanat
Tanggal Lahir 5 Syaban 38 H
Tempat Lahir Madinah
Tanggal Wafat 20 Muharam 95 H
Nama Ayah Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib as
Nama Ibu Syahr Banu
Tempat Hidup Madinah
Lama Hidup 57 Tahun
Tempat Dikuburkan Baqi', Madinah
Istri Ummu 'Abdillah binti Husain bin Ali bin Abi Thalib as
Anak Muhammad, Hasan, husain, Akbar, Zaid, Umar, Husain ashgar, Abdurahman, Sulaiman, Ali, Khadijah, Muhammad Ashgar, Fathimah, 'Illiyah, Ummu Kultsum


Pusara Imam Sajjad as di Jannatul Baqi Madinah

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as (Bahasa Arab: علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) yang terkenal dengan sebutan Imam Sajjad dan Zainal Abidin adalah Imam Keempat Syiah (38-94 H). Ia menjadi imam selama 34 tahun. Ia hadir pada Peristiwa Karbala dan peristiwa-peritiwa lain yang terjadi pada masa hidupnya, antara lain Peristiwa Harrah, Kebangkitan Thawwabin (orang-orang yang taubat) dan Perlawanan Mukhtar.

Shahifah Sajjadiyah merupakan kumpulan doa Ali bin Husain as yang menggambarkan kehidupan sosial pada masanya. Shahifah Sajjadiyah adalah sebuah petunjuk jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta penyucian jiwa dari kotoran dan penghubung manusia kepada Allah swt.

Karya dan peninggalannya yang lain yaitu Risalah al-Huquq yang merupakan panduan tentang hak-hak yang menjadi tanggung jawab manusia.

Imam Zainal Abidin as diracun atas perintah Walid bin Abdul Malik. Ia dimakamkan di komplek pekuburan Baqi’ di samping kubur Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja'far al-Shadiq as.

Zuhri mengatakan, “Aku tidak melihat seorang pun dari Bani Hasyim yang lebih unggul darinya dan tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih fakih darinya." Syafi'i berkata, "Ia adalah orang yang paling fakih di antara penduduk Madinah.” Sementara Jahizh megatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang meragukan keutamannya atau mempermasalahkan keunggulannya.”


Jannatul Baqi Sebelum Penghacuran oleh Rezim Saudi

Nasab, Gelar dan Julukan

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as adalah Imam Keempat Syiah dan putra dari Imam Husain as. Mengenai nama dan nasab ibunya terdapat perbedaan pendapat sehingga disebutkan ada beberapa nama, di antaranya: Syahr Banu, Syahr Banuwiyah, Syahzanan[1], Jahansyah, Khulah, Sulafah, Ghazalah, Salamah, Harrar, Maryam dan Fatimah. Sayid Ja’far Syahidi mencatat bahwa diantara nama-nama yang ada, yang paling masyhur adalah Syahr Banu. Diantara nama ayah dari Syahr Banu yang tercatat adalah Yazdgerd raja terakhir kerajaan Sasanian, Nusyijan orang Khurasan dan Syirwaih putra Parwiz. Namun yang terkenal nama ayah Syahr Banu adalah Yazdgerd. Sayid Ja’far dengan mengutarakan dalil dan petunjuk, tidak menerima pensifatan ibu Imam Ali bin Husain as ini.[2] Dia mengatakan, “Setelah kesyahidan Imam Husain as, Zuyaid bekas budak Imam Husain as menikahi ibunya Imam Ali bin Husain as, dan darinya lahir Abdullah bin Zuyaid, sehingga Abdullah adalah saudara seibu Imam Ali bin Husain as.”[3]

Syaikh Shaduq menulis, “Ibu Imam Ali bin Husain as wafat ketika sedang mengandung. Kemudian seorang budak perempuan milik ayahnya menjadi pengasuh Ali bin Husain as. Ia Menganggap perempuan tersebut sebagai ibunya. Setelah mengetahui bahwa perempuan tersebut seorang budak perempuan dan bukan ibunya, kemudian Ali bin Husain as menikahkan perempuan tersebut kepada seorang lelaki. Masyarakat saat itu mengatakan bahwa Ali bin Husain as menikahkan ibunya kepada seorang lelaki.”[4]

Julukan yang diberikan kepala Ali bin Husain as yaitu Abu al-Hasan, Abu al-Husain, Abu Muhammad dan Abu Abdillah.[5] Sementara gelarnya yaitu Zain al-‘Abidin, Sayid al-Sajidin, Sajjad, Hasyimi, ‘Alawi, Mudni, Qurasyi dan Ali Akbar.[6] Gelar lain yang diberikan kepadanya adalah Dzu al-Tsafinat, karena ia memiliki tanda di bagian tubuhnya yang sering dipakai sujud, hingga lututnya seperti lutut unta yang keras dan tebal sebagai akibat dari bekas ibadah dan shalatnya yang banyak.[7] Imam Sajjad as pada zamannya terkenal dengan sebutan Ali al-Khair, Ali al-Ashgar dan Ali al-‘Abid.[8]

Hari Lahir dan Wafat

Berdasarkan pendapat yang masyhur, Imam Sajjad as lahir pada tahun 38 Hijriah, sehingga ia sempat mengalami masa hidupnya pada masa Imam Ali as, Keimamahan Imam Hasan as dan Imam Husain as. Ia juga mengalami masa pemerintahan Muawiyah yang berusaha keras menekan orang-orarang Syiah di Irak dan daerah lainnya. Namun dalam beberapa sumber data disebutkan bahwa usia Imam Sajjad as kurang dari 38 tahun, dengan kelahiran pada tahun 48 Hijriah.[9] Meskipun pendapat terakhir ini disebutkan dalam beberapa sumber, tapi terdapat bukti yang menolak pendapat tersebut. Misalnya yang masyhur diantara para sejarawan dan penulis biografi bahwa Imam Sajjad as lahir pada tahun 38 Hijriah. Dengan demikian, usia Imam Sajjad as pada saat peristiwa Karbala adalah 23 tahun.

Muhammad bin Umar Waqidi, seorang perawi sejarah Ahlu Sunah, menyebutkan bahwa ucapakan Imam Shadiq as yang mengatakan, “Ali bin al-Husain as wafat pada usia 58 tahun”, adalah sebagai bukti bahwa Imam Sajjad as ketika berada di Karbala bersama ayahnya berusia 23 atau 24 tahun.[10] Zahari juga menyebutkan Ali bin Husain as ketika bersama ayahnya di Karbala berusia 23 tahun.[11]

Imam Sajjad as syahid pada tahun 94 atau 95 H karena diracun atas perintah Walid bin Abdul Malik.[12] Ia dikuburkan di pemakaman Baqi’ di samping makam Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja'far al-Shadiq as.[13]

Anak dan Istri

Dalam sumber data sejarah disebutkan anak Imam Sajjad as berjumlah 15 orang (11 laki-laki dan 4 perempuan).[14] Nama-nama anak dan istrinya menurut Syaikh Mufid sebagai berikut:[15]

  1. Imam Muhammad al-Baqir as, ibuya bernama Ummu Abdillah putri Imam Hasan as.
  2. Abdullah
  3. Hasan
  4. Husain Akbar, ibu dari ketiganya adalah seorang kanis
  5. Zaid
  6. Umar, ibu dari keduanya adalah seorang kanis
  7. Husain ashgar
  8. Abdul Rahman
  9. Sulaiman, ibu dari ketiganya adalah seorang kanis
  10. Ali, merupakan anak terkcil
  11. Khadijah, ibu dari keduanya adalah seorang kanis
  12. Muhammad Ashgar, ibunya adalah seorang kanis
  13. Fatimah
  14. Illiyah
  15. Ummu Kultsum, ibu ketiganya adalah seorang kanis

Imamah

Setelah Imam Husain as syahid pada peristiwa Asyura tahun 61 H, Imam Sajjad as menjadi imam hingga wafat tahun 94 atau 95 H.

Dalil Imamah

Berdasarkan bukti-bukti dan dalil yang dikutip oleh para ahli hadis Syiah dalam kitab-kitabnya, Imam Sajjad as merupakan pengganti dan washi ayahnya, Imam Husain as.[16] Syaikh Mufid mengatakan bahwa dalil pertama imamah Imam Sajjad as adalah keutamaan ilmunya atas orang lain setelah ayahnya.[17] Hadis-hadis Nabi saw yang menyebutkan nama-nama para imam Syiah juga menjadi penguat hal ini.[18] Begitu juga berdasarkan dalil-dalil Syiah, peralatan seperti pedang dan baju besi Rasulullah saw yang mesti diwarisi para imam, semuanya ada pada Imam Sajjad as.[19] Hal ini juga secara gamblang termaktub dalam kitab-kitab Ahlusunnah.[20]

Para Penguasa Pada Masa Imam Ali bin Husain as

  1. Yazid bin Muawiyah (61-64 H).
  2. Abduullah bin Zubair (61-73 H), yang menjadi penguasa Mekah secara mandiri.
  3. Muawiyah bin Yazid (berkuasa hanya beberapa bulan pada tahun 64 H).
  4. Marwan bin Hakam (berkuasa sembilan bulan pada tahun 65 H).
  5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H).[21]
  6. Walid bin Abdul Malik (86-96 H).

Peristiwa Karbala dan Penawanan

Ketika terjadi peristiwa Karbala dan pada hari ketika Imam Husain as dan para sahabatnya syahid, Imam Ali bin Husain as sedang sakit parah. Sehingga ketika para musuh hendak membunuhnya, sebagian dari mereka berkata, “Cukuplah baginya dengan sakit yang dideritanya ini.”[22]

Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman ajf • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi • Raj'ah
Para Imam Imam Ali as • Imam Hasan as • Imam Husain as • Imam Sajjad as • Imam Muhammad al-Baqir as • Imam Ja'far al-Shadiq as • Imam Kazhim as • Imam Ridha as • Imam Muhammad al-Jawad as • Imam Ali al-Hadi as • Imam Hasan Askari as • Imam Mahdi Ajf
Ma'ad
Barzakh • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Buku-buku Beterbangan • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Kufah

Setelah tragedi Karbala, seluruh keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah dan Syam. Ketika tawanan dibawa dari Karbala ke Kufah, leher Imam Sajjad as diberi belenggu dengan Jamah, yaitu semacam belenggu atau borgol yang mengunci dan mengikat tangan serta leher secara bersamaan. Karena sakit dan tidak bisa menjaga dirinya di atas punggung unta, kedua kaki Imam Sajjad as diikatkan ke perut unta.[23]

Sebagian sejarawan mengatakan Imam Sajjad as membacakan sebuah khutbah di Kufah. Namun, karena keadaan Kufah dan pengekangan serta ketidakramahan para prajurit pemerintah yang berkuasa, juga rasa takut penduduk Kufah terhadap mereka dan sikap tidak bersahabat, maka khutbah yang penuh informasi itu sulit diterima. Selain itu, disebutkan bahwa isi khutbah yang disampaikannya sama dengan khutbahnya di masjid Damaskus.[24]

Ibnu Ziyad memenjarakan Imam Sajjad as dan para tawanan Karbala. Dia mengirim surat ke Syam dan meminta perintah Yazid selanjutnya. Yazid membalas suratnya supaya para tawanan dan kepala para syuhada Karbala dibawa ke Syam. Ibnu Ziyad merantai Imam Sajjad as dan memasang belenggu di lehernya. Para tawanan Karbala pun dibawa ke Syam dengan pengawalan Muharafah bin Tsa’labah.[25]

Syam

Imam Sajjad as memberikan khutbah di masjid Syam. Ia memperkenalkan dirinya, ayahnya dan kakeknya kepada masyarakat Syam. Ia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yazid dan orang-orangnya adalah tidak benar. Ayahnya bukanlah orag asing, dan ia tidak hendak menyerang orang Islam serta menyebarkan fitnah di negeri Islam. Ia bangkit untuk kebenaran dan atas undangan umat dengan menghilangkan bid’ah-bid’ah dalam agama, sehingga kesucian masa Rasulullah saw pun bisa disampaikan.[26]

Kembali ke Madinah

Imam Sajjad as hidup selama 34 tahun setelah peristiwa Karbala. Selama itu pula ia berusaha terus menghidupkan dan menjaga ingatan terhadap para syuhada Karbala. Setiap minum air ia selalu mengingat ayahnya, dan senantiasa menangisi musibah yang menimpa Imam Husain as. Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq as, “Imam Zainal Abidin as menangis utuk ayahnya selama 40 tahun. Ia setiap harinya puasa dan setiap malamnya ibadah salat. Ketika berbuka puasa, pembantunya membawakan air dan makanan untuknya dan berkata, “Silakan Tuan!” Imam Zainal Abidin as berkata, “Putra Rasulullah saw terbunuh dalam keadaan lapar! Putra Rasulullah terbunuh dalam kondisi kehausan!” Kalimat ini diulang-ulangnya dan ia menangis sedemikian rupa sehingga air matanya bercampur dengan air minum dan makanannya. Hal ini terus menimpanya hingga ia meninggal dunia.”[27]

Perlawanan Pada Masa Imam Sajjad as.

Pada masa hidup Imam Sajjad as dan setelah peristiwa Karbala, banyak terjadi perlawanan-perlawanan, diantaranya:

Peristiwa Harrah

Beberapa lama setelah peristiwa Karbala, masyarakat Madinah melakukan perlawanan terhadap penguasa Bani Umayah yang dikenal dengan perlawanan Harrah. Masyarakat Madinah melakukan baiat kepada Abdullah bin Hanzhalah—ayahnya terkenal dengan sebutan Ghasil al-Malaikah (yang dimandikan para malaikat). Mereka mengepung Bani Umayah yang berjumlah 1000 orang di dalam rumah Marwan bin Hakam yang kemudian diusir dari Madinah.[28] Imam Sajjad as sejak awal tidak terlibat dalam perlawanan ini. Ia tidak melibatkan diri karena mengetahui akhir dari peristiwa yang akan terjadi.[29]

Dalam peristiwa Harrah, Marwan—salah satu yang memusuhi Ahlulbait—pergi menemui Abdullah bin Umar dan memintanya untuk menjaga keluarga Marwan. Namun, Abdullah bin Umar menolaknya. Karena Marwan tidak bisa mengharapkan lagi bantuan Ibnu Umar, ia kemudian meminta perlindungan kepada Imam Sajjad as. Dengan kebesarannya, Imam Sajjad as menerima permintaan Marwan tersebut. Imam Sajjad as mengirim keluarga Marwan beserta istri dan anak-anaknya ke Yanba’—sumber air dekat Madinah sebelah kanan Gunung Radhawi.[30]

Dalam peristiwa ini Imam Sajjad as mengurusi empat ratus keluarga dan menanggung biaya hidup mereka selama pasukan Muslim bin ‘Uqbah—pemimpin pasukan Yazid dalam peristiwa Harrah—berada di Madinah.[31]

Kebangkitan Kelompok Tawabin

Kebangkitan Tawwabin adalah salah satu bentuk perlawanan setelah peristiwa Karbala yang dipimpin oleh Sulaiman bin Surad Khaza’i beserta beberapa tokoh Syiah di Kufah. Tujuan kelompok Tawwabin yaitu akan memberikan kepemimpinan umat kepada Ahlulbait keturunan Fatimah setelah meraih kemenangan. Sementara pada waktu itu tidak ada lagi keturunan Fatimah selain Ali bin Husain (Imam Sajjad as). Namun, ketika itu tidak terdapat hubungan apapun antara kelompok Tawwabin dan Imam Sajjad as.[32]

Kebangkitan Mukhtar

Kebangkitan Mukhtar merupakan kebangkitan ketiga yang penting yang terjadi setelah peristiwa Karbala, dimana terdapat keraguan menegenai hubungan Imam Sajjad as dengan kelompok ini. Bukan hanya dari sisi politik, namun juga terdapat masalah dari sisi akidah. Disebutkan bahwa setelah meraih kemenangan, Mukhtar menarik Syiah Kufah untuk berpihak kepadanya. Mukhtar meminta bertemu dengan Imam Sajjad as, namun Imam tidak menampakkan kesukaannya.[33]

Keutamaan Imam Sajjad As

Malik bin Anas berkata, “Ali bin Husain melakukan salat siang malam sebanyak 1000 rakaat sampai meninggal dunia, sehingga ia dijuluki Zainal Abidin (perhiasan para ahli ibadah).[34] Ibnu Abdi Rabbah menulis, “Ketika Imam Sajjad as bersiap-siap hendak salat, ia menggigil hebat. Kemudian ia ditanya mengenai hal tersebut. Imam berkata, “Celakalah engkau, apakah engkau tidak mengetahui kepada siapa aku akan menghadap dan kepada siapa aku akan bermunajat?”[35] Malik bin Anas berkata, “Ketika Ali bin Husain sudah mengenakan kain ihram, ia mengucapkan labbaika allahumma labbaik. Dan pada saat itu juga ia langsung pingsan dan terjatuh dari kendaraan tunggangannya.”[36]

Membantu Orang-Orang Fakir

Abu Hamzah Tsumali berkata, “Ali bin Husain as memikul sejumlah makanan dan dalam kegelapan malam ia memberikannya kepada fakir miskin secara diam-diam. Ia berkata, “Sedekah yang diberikan dalam kegelapan malam akan memadamkan amarah Allah swt.”[37]

Muhammad bin Ishaq berkata, “Orang-orang Madinah selama hidupnya tidak mengetahui dari mana kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Namun setelah wafatnya Imam Sajjad as, makanan-makanan mereka pun terhenti.[38]

Ketika malam hari memikul roti dipundaknya dan membawanya ke rumah-rumah orang yang membutuhkan, ia berkata, “Sedekah yang tersembunyi akan memadamkan murka Allah.” Akibat memikul karung, bekas pikulan tersebut nampak di pundaknya. Hal ini diketahui ketika tubuhnya yang suci dimandikan saat wafatnya.[39] Ibnu Sa’ad menulis, “Ketika orang-orang yang butuh datang menemui Imam Sajjad as, ia pun bangkit dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia berkata, “Sebelum sedekah sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan, ia akan sampai kepada Allah swt.”[40]

Pada suatu tahun, Imam Sajjad as hendak menunaikan ibadah haji. Saudarinya, sukainah binti Husain|Sukainah]], menyiapkan bekal senilai seribu Dirham. Ketika sampai di Harrah, bekal tersebut dibawa ke hadapan Imam Sajjad as, dan Imam membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.[41]

Imam Sajjad as memiliki seorang kemenakan yang miskin. Pada malam hari ketika kemenakannya tidak mengenalinya, ia pergi menjumpai kemenekannya tersebut dan memberinya beberapa Dinar. Kemenakannya bertanya, “Ali bin Husain as tidak memperhatikan familinya sendiri, semoga Allah mengingatkannya.” Imam mendengar perkataan kemenakannya tersebut dan dengan sabar serta tenang ia tidak menjelaskan siapa dirinya yang sesunggguhnya. Ketika Imam Sajjad as meninggal, kemenakannya tersebut tidak lagi mendapati kebaikan orang yang selama ini menolongnya. Orang tersebut pada akhirnya mengetahui bahwa orang yang selama ini berbuat baik adalah Ali bin Husain as. Kemudian ia pergi ke kuburan Imam Sajjad as dan menangis di pusara Imam.[42]

Abu Na’im menulis, “Dua kali ia membagi dua hartanya dengan orang-orang tidak mampu. Ia berkata, “Allah menyukai orang berdosa yang bertaubat.”[43] Abu Na’im juga menulis, “Masyarakat mengenalnya sebagai orang pelit. Namun ketika ia wafat, mereka mengetahui bahwa Ali bin Husain menjadi penanggung hidup seratus keluarga.[44] Ketika pengemis sering datang kepadanya, ia berkata, “Selamat datang orang yang bersedia membawa bekal saya ke akherat.”[45]

Sikap Terhadap Para Hamba Sahaya

Diantara kerja keras Imam Sajjad as yang memiliki nilai agama dan politik adalah perhatiannya kepada budak sahaya. Budak sahaya—khususnya sejak zaman khalifah kedua (Umar bin Khattab), terlebih pada masa Bani Umayah—menjadi bagian sosial yang sangat tertekan. Kaum budak juga berada pada tingkatan masyarakat yang paling rendah pada masa awal Islam. Imam Sajjad as seperti halnya Imam Ali as dengan perilaku Islaminya menyebabkan para budak sahaya Irak yang telah bebas tertarik kepadanya. Ia berusaha keras sehingga kehidupan sosial para budak ini meningkat.

Sayid al-Ahl menulis, “Imam Sajjad as meskipun tidak membutuhkan budak sahaya, namun ia melakukan pembelian budak sahaya. Akan tetapi pembelian ini hanya untuk membebaskan mereka. Para budak yang melihat niat Imam demikian, mereka datang kepada Imam supaya dibelinya. Imam Sajjad as pada setiap keadaaan selalu membebaskan mereka. Sehingga di Madinah terdapat banyak laki-laki dan perempuan, dimana mereka semuanya adalah budak-budak yang dibebaskan oleh Imam Sajjad as.[46]

Terjemahan Bahasa Indonesia Shahifah Sajjadiyah

Karya Peninggalan

Syaikh Mufid menulis, “Para ulama Ahlusunnah mengutip banyak ilmu dari Imam Sajjad as. Diantara karya peninggalannya yang masyhur menurut para ulama adalah nasihat-nasihat, doa-doa, riwayat tentang keutamaan Alquran, halal haram, peperangan dan hari-hari sejarah.[47]Sebuah hal menarik bahwa sekitar 300 hadis dari Imam Sajjad as dimuat dalam kutub Arbaah.[48]

Shahifah Sajjadiyah

Shahifah Sajjadiyah adalah kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Sebuah cerminan dari kehidupan sosial pada masanya—khususnya di Madinah—terlihat dalam Shahifah Sajjadiyah. Diantaranya, menghindari perilaku dan perkataan buruk masyarakat masa itu dan minta perlindungan kepada Allah dari apa yang dilihat dan didengar dan menjelaskan jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta pensucian jiwa dari kotoran. Sepertinya Imam Sajjad as dengan bahasa doanya sebisa mungkin hendak mengeluarkan masyarakat dari belenggu syaitan menuju naungan Allah swt.[49] Shahifah ini sudah tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Risalah Huquq

Risalah al-Huquq adalah salah satu karya yang dinisbatkan kepada Imam Sajjad as. Dalam risalah ini terdapat 51 hak (atau 50, menurut beberapa cetakan).[50] Risalah ini pun telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebagian hak yang terdapat di dalamnya adalah:

  1. Hak Allah
  2. Hak Jiwa
  3. Hak Lidah
  4. Hak Salat
  5. Hak Sedekah
  6. Hak Guru
  7. Hak Rakyat
  8. Hak Perempuan
  9. Hak Ibu
  10. Hak Ayah
  11. Hak Anak
  12. Hak Saudara
  13. Hak Budak
  14. Hak Teman
  15. Hak Tetangga
  16. Hak Peminjam Utang
  17. Hak Orang yang Marah Kepada Anda
  18. Hak Orang yang Membahagiakan Anda
  19. Hak Orang yang Berbuat Buruk
  20. Hak Ahli Dzimmah

Perkataan Ahli Sunnah Tentang Imam Sajjad as

Muhammad bin Muslim Zuhri berkata, “Aku tidak melihat orang dari Bani Hasyim yang lebih unggul darinya dan juga aku tidak melihat seseorang yang lebih fakih darinya.”[51] Syafi’i berkata, “Ia adalah orang yang paling fakih diantara penduduk Madinah.”[52] Jahizh berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang meragukan keutamaannya dan berkata tentang keunggulannya.”[53]

Catatan Kaki

  1. Syeikh Mufid menyebutkan nama ibu Imam Sajjad as adalah Syahzanan putri Yazdgerd bin Syahriyar bin Kisra. Ia juga menulis, “Bisa dikatakan juga bahwa nama ibunya adalah Syahr Banu.” Al-Mufid, Al-Irsyad, jld. 2, hlm. 137.
  2. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 10-26.
  3. Thabaqat, jld. 5, hlm. 162; dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 26.
  4. ‘Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 127; Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 26.
  5. Siyar A’lam al-Nubala’, jld. 4, hlm. 386; Kusrawi, Mausu’ah Rjal Kutub al-Syi’ah, jld. 3, hlm. 64; Abu Hatim Razi, al-Jarh wa al-Ta’dil, jld. 6, hlm. 178; Daulabi, Al-Kuna wa al-Asma, jld. 1, hlm. 147; Suyuthi, Tabaqat al-Huffazh, hlm. 37; Mazzi, Tahdzib al-Kamal, jld. 13, hlm. 236.
  6. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’, jld. 4, hlm. 386; Dzahabi, al-‘Ibar, jld. 1, hlm. 83; Mazzi, Tahdzib al-Kamal, jld. 13, hlm. 236; Ibnu Tughra, al-Nujum al-Zahirah, jld. 1, hlm. 229; Ibnu al-Khallakan, Wafayat al-A’yan, jld. 3, hlm. 266; Ibnu Hajar Asqalani, Tahdzib al-Tahdzib, jld. 7, hlm. 231; Kusrawi, Mausu’ah Rjal Kutub al-Syi’ah, jld. 3, hlm. 64.
  7. Ibnu Khallaqan, Wafayat al-A’yan, jld. 3, hlm. 274; Qalqasyandi, Shubh al-A’sya, jld 1, hlm. 516
  8. Ibnu Sa’d, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 5, hlm. 222.
  9. Qadhi Nu’man, Syarh al-Akhbar, jld. 3, hlm. 266.
  10. Ibnu Sa’d, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 5, hlm. 222.
  11. Ibnu Manzhur, Mukhtashar Tarikh Dimasyq, jld. 17, hlm. 231.
  12. Syabrawi, al-Ithaf bi Hubbi al-Asyraf, hlm. 143.
  13. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 138.
  14. Al-Mufid, al-Irsyad, hlm. 380.
  15. Al-Mufid, al-Irsyad, hlm. 155, Beirut: Muassasah Alulbait as li Tahqiqi al-Turats, 1414/1993.
  16. Al-Kafi, jld. 1, hl. 188-189.
  17. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 138.
  18. Al-Mufid, al-Ikhtishash, hlm. 211.
  19. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 139.
  20. Ibnu Sa’d, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 1, hlm. 386, 388.
  21. Al-Mufid, Al-Irsyad, hlm. 354, Muassasah al-A’lami li al-Mathbu’at.
  22. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 113.
  23. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 51-52.
  24. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 56-57.
  25. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 58-59.
  26. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 75.
  27. Sayid bin Thawus, al-Luhuf, hlm. 290.
  28. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 82-83.
  29. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 86.
  30. Thabari menyebutkan bahwa Imam Sajjad as dan Marwan adalah teman lama. Namun, perkataan ini tidak berdalil, karena Marwan sama sekali tidak pernah memperlihatkan kebaikannya kepada Bani Hasyim. Oleh karena itu, tidak tepat jika Imam Sajjad as disebutkan berteman dengan Marwan. Thabari hendak menutupi jiwa kepahlawanan dan kemuliaan yang tinggi dari keluarga Bani Hasyim dengan hanya menyebutnya sebagai pertemanan pribadi. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 83.
  31. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 86.
  32. Ja’fari, Tasyayyu’ dar Masir Tarikh, hlm. 186.
  33. Thusi, Rijal al-Kassyi, hlm. 126; Thusi, Ikhtiyar Ma’rifat al-Rijal, hlm. 126.
  34. Dzahabi, al-‘Ibar, jld. 1, hlm. 83.
  35. Ibnu Abdi Rabbah, ‘Aqdu al-Farid, jld. 3, hlm. 169; Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 392.
  36. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 392.
  37. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 393.
  38. Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, jld. 4, hlm. 393.
  39. Hilyat al-Auliya, jld. 3, hlm. 136; Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 77; Manaqib, jld. 4, hlm. 154; Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 154; al-Khishal, hlm. 616; ‘Ilal al-Syarayi’, hlm. 231; Biharul Anwar, hm. 90; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 147-148.
  40. Thabaqat, jld. 5, hlm. 160; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  41. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 78; Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 54; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  42. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 107; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 140; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  43. Thabari, Bagian 3, hlm. 3482; Thabaqat, jld. 5, hlm. 162; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  44. Shifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 54; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 136; Thabaqat, jld. 5, hlm. 164; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  45. Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 77; Manaqib, jld. 4, hlm. 154; Hilyat al-Auliya, hlm. 3, hlm. 136; Bihar, hlm. 137; Dikutip dalam Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 148.
  46. Sayid al-Ahl, Zain al-‘Abidin, hlm. 7 dan 47.
  47. Al-Mufid, al-Irsyad, jld. 2, hlm. 153.
  48. Muntazhir al-Qaim, Tarikh Imamat, hlm.172, 1432 H
  49. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 105.
  50. Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 169-170.
  51. Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 9, hlm. 124; al-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh, jld. 1, hlm. 75; Al-Amini, Takmilat al-Ghadir, jld. 2, hlm.406.
  52. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 15, hlm. 274.
  53. Ibnu ‘Anbah, ‘Umdat al-Thalib fi Ansab Aali Abi Thalib, hlm. 194; Syahidi, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, hlm. 108.


Daftar Pustaka

  • Al-Amini, Abd al-Husain, Takmilat al-Ghadir: Tsamarat al-Asfar ila al-Aqthar, Riset oleh: Markaz al-Amir li Ihya al-Turats al-Islami, Dishahihkan oleh: Markaz al-Ghadir li al-Diratsat wa al-Nashr wa al-Tauzi’, Beirut: 1429 H/2008.
  • Al-Dzahabi, Tadzkirat al-Hufazh, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Tanpa tanggal.
  • Al-Mufid, Muhammad bin Muhammad al-Nu’man, Al-Irsyad fi Ma’rifat Hujajillah ‘Ala al-‘Ibad, Riset oleh: Muassasah Aali al-Bait Aalihissalam li Ihya al-Turats, Qom: Almu’tamir al- ‘Alami li Alfiyat al-Syeikh al-Mufid, 1413 H.
  • Ibnu ‘Anbah, ‘Udat al-Thulab fi Ansab Aali Abi Thalib, Dishahihkan oleh: Muhammad Hasan Aali al-Thaliqani, Al-Najaf al-Asyraf: Mansyurat al-Mathba’at al-Haidariyah, 1961.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, Riset oleh Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, ‘Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakaahu, 1962.
  • Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 9, Riset oleh: Syiiri, Beirut: Dar al-Ihya Turats al-‘Arabi, 1408 H/1988.
  • Imam Sajjad, Shahifah Sajjadiyah, Terjemah Asadullah Mubassyari, Tehran: Penerbit Ney, 1991.
  • Syahidi, Sayid Ja’far, Zendegani-ye Ali bin al-Husain as, Tehran: Daftar Nasyr Farhanggi Islami, 2006.