Prioritas: b, Kualitas: b

Perlawanan Yahya bin Zaid

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Perlawanan Yahya bin Zaid
بقعه یحیی بن زید در جوزجان افغانستان.jpg
Makam Yahya bin Zaid di Jauzjan Afganistan
Masa kejadian 125 H/743
Tempat kejadian dekat Jauzjan
Akibat kekalahan pasukan Yahya bin Zaid
Pihak-pihak yang berperang
Pasukan Yahya bin Zaid Pasukan Bani Umayyah
Para Panglima
Yahya bin Zaid Amr bin Zurarah
Kekuatan
70 Pasukan 8 ribu tentara
Para Korban
terbunuhnya Yahya bin Zaid dan para pengikutnya terbunuhnya Amr bin Zurarah


Perlawanan Yahya bin Zaid (bahasa Arab: قيام يحيی بن زيد ) adalah perlawanan yang dipimpin oleh Yahya bin Zaid bin Ali, ia adalah cucu Imam Sajjad as yang bangkit melawan kekuasaan Bani Umayyah. Perlawanan ini terjadi pada tahun 125 H/743 di masa kekuasaan Walid bin Yazid yang juga berada di masa keimamahan Imam Shadiq as. Perlawanan ini terjadi di Khurasan, dan berakhir dengan terbunuhnya Yahya dan para pengikutnya.

Kesyahidan Yahya menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah. Umat kemudian bergabung dengan Abu Muslim Khurasani untuk melakukan perlawanan di Khurasan. Disebutkan bahwa ditahun kesyahidannya, setiap anak laki-laki yang lahir pada tahun tersebut diberi nama Yahya atau Zaid.

Biografi

Yahya bin Zaid bin Ali adalah cucu Imam Sajjad as. Ibunya bernama Raithah binti Abdullah bin Muhammad bin Hanifah.[1]Tidak ditemukan sumber sejarah yang menuliskan mengenai tahun kelahirannya, namun dengan berpatokan pada tahun syahidnya yaitu tahun 125 H/743 dan usianya saat itu diperkirakan 18 tahun maka dapat diperkirakan ia lahir sekitar tahun 107 H/725.[2]

Yahya bin Zaid hidup semasa dengan dua khalifah dari dinasti Bani Umayyah yaitu Hisyam bin Abdul Malik dan Walid bin Yazid.

Keputusan untuk Melawan

Pasca syahidnya Zaid bin Ali, putranya yang bernama Yahya menyembunyikan diri sampai akhirnya merasa memiliki kemampuan untuk menjalankan wasiat ayahnya untuk melanjutkan perlawanan dan menuntut balas. [3]Sementara itu, beberapa pembesar senantiasa mencegahnya untuk melakukan perlawanan karena rasa sayang. Disebutkan bahwa Imam Shadiq as menulis surat untuk Yahya bin Zaid yang berisi nasehat untuk tidak melakukan perlawanan karena nasibnya akan seperti ayahnya.[4]Namun Yahya tetap bersikeras hendak melancarkan perlawanan yang dengan itu ia kemudian pindah ke Khurasan.

Pindah ke Khurasan

Setelah perlawanan Zaid bin Ali berakhir dengan terbunuhnya Zaid, para pengikutnya kemudian tercerai berai dan hanya tersisa sepuluh orang yang tetap berada berasama Yahya bin Zaid. Yahya memutuskan untuk pindah ke Khurasan dan memulai perjalanan menuju Madain (yang pada masa itu merupakan jalan utama ke Khurasan dari jalur Irak)[5]. Itu terjadi ketika Yusuf bin Umar (hakim Kufah) telah berhenti melakukan pencarian karena mengira Yahya bersembunyi di rumah-rumah orang Kufah.[6]Ketika Yusuf bin Umar mengetahui bahwa Yahya telah pindah ke Khurasan, ia menyampaikan informasi tersebut kepada Hisyam bin Abdul Malik yang kemudian memerintahkan gubernur Khurasan untuk menangkap Yahya.[7]

Di Penjara Balkh

Setelah beberapa lama, Yahya kemudian pindah ke Balkh dan tinggal dengan seseorang yang bernama Huraisy bin Abdurrahman sampai Hisyam bin Abdul Malik meninggal dan jabatannya sebagai khalifah digantikan oleh Walid bin Yazid.[8]

Ketika Walid menduduki jabatan khalifah, Yusuf bin Umar menulis surat kepada gubernur Khurasan mengenai pergerakan Yahya dan posisinya. Ia juga memerintahkan kepada bawahannya di Balkh untuk menangkap Huraisy dan memaksanya untuk memberitahukan letak persembunyian Yahya bin Zaid.[9]Gubernur Balkh kemudian melaksanakan perintah tersebut dengan memberikan hukuman cambuk kepada Huraisy dengan 600 cambukan. Namun Huraisy bersumpah untuk tidak membuka mulut. Ia berkata, Demi Allah, jika Yahya berada di bawah kakiku, aku tidak akan pernah mengangkatnya (untuk mengungkapkannya)." Namun putra Huraisy yaitu Quraisy tidak tahan dengan siksaaan yang diterima ayahnya sehingga ia yang mengungkap tempat persembunyian Yahya. Berdasarkan informasi tersebut, Gubernur Balkh kemudian memerintahkan penangkapan Yahya dan membawanya menghadap ke Gubernur Khurasan.[10]

Sewaktu Walid bin Yazid mengetahui penangkapan tersebut, ia memerintahkan agar Yahya tetap berada dalam keadaan aman, serta ia memerintahkan agar pengikut-pengikut Yahya dibebaskan.

Ketika berita mengenai dibebaskannya Yahya sampai ke telinga orang-orang Syiah Khurasan, kalangan orang kaya dari mereka pergi ke pandai besi untuk mematahkan rantai besi dari leher, tangan dan kaki Yahya dan membelinya dengan harga yang tinggi (dalam salah satu sumber disebutkan 20 ribu dirham[11]). Mereka kemudian membagi rantai besi tersebut dan dari rantai besi tersebut mereka membuat cincin untuk diri mereka sendiri sebagai bentuk tabarruk mereka kepada kepribadian Yahya.[12]

Awal Perlawanan

Setelah pembebasan Yahya, Gubernur Khurasan memberinya dua ribu dirham dan menyarankan agar ia bergabung dengan Walid bin Yazid. Yahya memilih untuk pergi ke Sarkhas. Gubernur Khurasan mengirim surat kepada penguasa Sarkhas agar mengusir Yahya dari wilayah tersebut. Ia juga menulis surat kepada penguasa Thus, bahwa jika Yahya memasuki wilayahnya agar tidak memberikan izin menetap pada Yahya dan memintanya untuk ke Abrsyahr (Neisyabur).[13]Gubernur Abrsyahr memberikan seribu dirham kepada Yahya dan mengirimkannya ke Beyhaq.[14]

Tidak lama Yahya membeli beberapa kuda dan bersama dengan 70 pengikutnya kembali ke Abrsyahr. Sewaktu Gubernur Khurasan mendapatkan informasi mengenai pergerakan Yahya, ia memerintahkan penguasa Thus dan Sarkhas untuk membantu Abrsyahr dalam memadamkan perlawanan Yahya. Dalam peristiwa tersebut, 10 ribu tentara melawan Yahya dengan 70 orang pengikutnya.[15]Ini adalah awal dari pemberontakan Yahya.

Dalam pertempuran tersebut, Yahya mencapai kemenangan dan Amr bin Zurara terbunuh. Yahya mengambil kuda perang dan senjata mereka sebagai harta rampasan.[16]

Perang Jauzjan

Setelah pertempuran di Naisyabur, Yahya pergi ke Herat dan dari sana bergerak ke Jauzjan. Gubernur Khurasan mengirim pasukan 8 ribu tentara untuk menghabisinya.[17]Pada saat yang sama beberapa orang dari Jauzjan, Thaliqan, Faryab dan Balkh bergabung dengan pasukan Yahya.[18]Kedua pasukan bertemu di sebuah perkampungan bernama Arghui atau Ar'unah di dekat Jauzjan dan terjadi pertempuran dasyhat yang berlangsung selama tiga hari. Akhir dari pertempuran yang tidak seimbang tersebut, semua pengikut Yahya terbunuh.[19]

Kesyahidan Yahya

Pada sore hari Jumat di bulan Sya'ban tahun 125 H/743[20]seorang budak yang telah bebas bernama Isa, menembakkan anak panah yang mengenai dahi Yahya yang kemudian menjadi penyebab kematian Yahya. Surat bin Muhammad, komandan pasukan sayap kanan tentara Umayyah kemudian memenggal kepala Yahya dan membawanya ke Gubernur Khurasan dan ia juga menunjukkannya kepada Walid bin Yazid. [21]

Walid kemudian memerintahkan agar kepala Yahya dibawa ke Madinah dan diserahkan ke Rithah, ibu Yahya.

Sewaktu Rithah melihat kepala Yahya, ia berkata: "Kalian telah mengambilnya dariku sejak dulu dan setelah terbunuh kalian menghadiahkannya untukku! segala Puji bagi Allah pada pagi dan malam hari, salam untuknya dan ayahnya."[22]

Jenazah Yahya tanpa kepala digantung di gerbang Jauzjan dan tetap di tempat tersebut sampai Abu Muslim al-Khurasani melakukan perlawanan. Saat itu mereka mengambil jenazah Yahya dan menguburkannya.[23]

Pesan-pesan Perlawanan

Kesyahidan Yahya menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan menjadi semangat baru bagi penduduk Khurasan untuk bangkit melawan dan mengusung slogan perlawanan "al-Ridha min Ali Muhammad". Disebutkan, penduduk Khurasan berkabung untuk Yahya selama tujuh hari dan setiap bayi laki-laki yang lahir pada tahun itu mereka namakan Yahya atau Zaid.[24]

Disebutkan, Abu Muslim berhasil membunuh semua orang yang terlibat langsung dalam kematian Yahya.[25]

Catatan Kaki

  1. Maqatil al-Thalibiin, hlm. 145
  2. Qarasyi, Hayat al-Syahid al-Khalid Zaid bin Ali, hlm. 60
  3. Shabiri, Tārikh Firqa Islāmi, jld. 2, hlm. 68
  4. Shabiri, Tārikh Firqa Islāmi, jld. 2, hlm. 68, yang menukil dari al-Hayāh al-Siyāsiyah wa al-Fikriyah al-Zaidiyah fi al-Masyraq al-Islāmi, hlm. 77-78 dan al-Wāfi bi al-Wāfiyāt, jld. 2, hlm. 37-38.
  5. Maqātil al-Thālibīn, hlm. 146
  6. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4290
  7. Tārikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 299
  8. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4339 dan Maqatil al-Thalibiin, hlm. 146-147
  9. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4339
  10. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 434; Maqātil al-Thalibiin, hlm. 147
  11. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4340
  12. Maqatil al-Thalibiin, hlm. 148
  13. Maqatil al-Thalibiin, hlm. 148
  14. Maqatil al-Thalibiin, hlm. 149
  15. Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4341; Maqātil al-Thalibiin, hlm. 149
  16. Maqātil al-Thalibiin, hlm. 149
  17. Maqātil al-Thalibiin, hlm. 149; Tārikh Thabari, jld. 10, hlm. 4341
  18. Ansab al-Asyraf, juz III, hlm. 1381
  19. Maqatil al-Thalibiin, hlm. 150
  20. Ibnu 'Unabah, al-Raghib fi Tasyjir 'Umdah al-Thalib fi Ansab Al Abi Thalib, hlm. 258; Muntakhab al-Tawarikh, hlm. 355; Thabaqat Nashiri, jld. 2, hlm. 388
  21. Maqātil al-Thalibiin, hlm. 150
  22. Ma'alim Ansab al-Thalibiin, hlm. 195
  23. Maqātil al-Thalibiin, hlm. 150
  24. Shabiri, Tārikh Firqa Islāmi, jld. 2, hlm. 69, dinukil dari Marwaj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 222 dan Sair A'lam al-Nubala, jld. 5, hlm. 391
  25. Maqātil al-Thalibiin, hlm. 150

Daftar Pustaka

  • Alu Thu'mah, Abdul Jawad. Ma'ālim Ansāb ath-Thālibīn. Riset Salman as-Sayyid Hadi Alu Thu'mah. Qom: Nasyr Ayatullah al-'Udzma al-Mar'asyi Najafi, 1422 H.
  • Ibnu 'Inabah, Jamaluddin Ahmad. Ar-Rāghib fī Tasyjīr 'Umdah ath-Thālib fī Ansāb Āli Abī Thālib. Qom: Hasanain, 1427 H.
  • Irbili, Ali bin Isa. Kasyf al-Ghummah fī Ma'rifah al-Aimmah. Tabriz: Bani Hasyim, 1381 H.
  • Khurasani, Muhammad Hasyim. Muntakhab at-Tawārīkh. Tehran: 1347 HS (1968).
  • Minhaj, Siraj. Thabaqāt Nāshirī Tārikh Iran wa Islam. Cet. I. Riset Abdul Hayy Habibi. Tehran: 1363 HS (1984).
  • Qurasyi, Baqir Syarif. Hayah asy-Syahīd al-Khālid Zaid bin Ali. Qom: Mahir, 1429 H.
  • Shabiri, Husain. Tārīkh Firaq Islami. Cet. VII. Tehran: Samt, 1390 HS (2011).
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārīkh Thabarī. Diterjemahkan oleh Abul Qasim Payande. Cet. IV. Tehran: Asathir, 1375 HS (1997).