Prioritas: c, Kualitas: b

Turbah Imam Husain as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Turbah)
Lompat ke: navigasi, cari

Turbah (bahasa Arab: :التربة) dalam istilah Syi'ah adalah tanah dan debu yang diambil dari pusara Imam Husain as yang dinamakan dengan "Turbah Karbala" atau "Turbah Imam Husain as". Menurut sebagian riwayat, Turbah Karbala memiliki keutamaan dan disunnahkan sujud di atasnya saat menunaikan salat. Dalam riwayat yang lain diterangkan bahwa turbah ini mempunyai beberapa pengaruh. Orang-orang Syi'ah membuat "turbah salat" dan "tasbih" dari tanah Karbala. Menajiskan turbah haram hukumnya dan makan sedikit darinya untuk pengobatan penyakit dibolehkan. Sebagian orang memendam sedikit darinya bersama jenazah untuk mengurangi tekanan alam kubur.

Secara detail, batasan yang darinya dapat diambil turbah tidak bisa ditentukan. Menurut sebagian ulama Syi'ah, sampai jarak 5 Farsakh (± 27.5 KM) dari pusara Imam Husain as masih termasuk turbah.

Turbah Dalam Bahasa

Turbah dalam bahasa bermakna tanah. [1] Sebagian ulama memberikan kemungkinan bahwa tanah yang diambil di sekitar setiap makam suci seperti makam Imam-imam Syiah, para Nabi As, syuhada dan orang-orang saleh dinamai turbah. Tetapi, makna yang umum atau makna khususnya adalah tanah makam Imam Husain as. Dan maksud kata "al-Thin" atau "Thinul Qabr" dalam riwayat-riwayat para Imam As adalah makna ini juga. [2]

Abu Raihan Biruni[3] menyebut tempat ziarah Imam Husain dengan kalimat "Turbah Mas'udah" (tanah yang dibahagiakan). Bagi Syi'ah, turbah senantiasa terhormat, suci dan menjadi syiar mereka. [4]

Turbah Dalam Hadis

Dalam sebuah hadis, ketika Nabi Isa as mengabarkan kepada Hawariyun tentang kesyahidan Imam Husain as menyinggung kehormatan turbahnya. [5] [6] Banyak hadis-hadis yang diriwayatkan dalam literatur-literatur Syi'ah dan Ahlusunnah yang menerangkan bahwa Nabi saw mengetahui akan kesyahidan Imam Husain as. Pada sebagian riwayat itu diterangkan bahwa Jibril (atau Malaikat yang lain) membawa tanah merah Karbala kepada Nabi saw yang membuat hatinya tersentuh. Karena banyak terjadi perbedaan dalam hadis-hadis ini, khusunya terkait Malaikat yang membawa tanah tersebut, maka sebagian ulama menduga bahwa peristiwa ini terjadi beberapa kali. [7] [8] Hadis-hadis ini diriwayatkan dari Nabi saw melalui jalan sahabat baik laki-laki maupun perempuan termasuk isteri-isteri Nabi saw. [9] [10] [11]

Memerahnya Warna Turbah

Foto Turbah Imam Husain as yang berubah warna merah darah pada hari Asyura.[12]

Berdasarkan sebagian hadis yang kebanyakan hadis-hadis itu dinukil dari Ummu Salamah[13] diterangkan bahwa Nabi saw memberikan tanah yang dibawa Malaikat kepada beliau kepada Ummu Salamah dan dia menaruknya di dalam botol (atau baju atau kerudung), lalu beliau menjelaskan bahwa berubahnya tanah itu menjadi warna merah darah di hari Asyura pertanda kesyahidan Imam Husain as. [14] Dalam sebagian referensi, kandungan hadis ini dihitung sebagai bagian dari mukjizat Nabi saw. [15]

Berubahnya warna turbah menjadi merah darah di hari Asyura juga dimuat pada sebagian laporan-laporan yang lain. [16] Dalam referensi-referensi Syi'ah, hadis-hadis ini dinukil dari Nabi saw, Imam Baqir as, Imam Shadiq as melalui sekitar 10 perawi. [17] Pada sebagian referensi tersebut diterangkan bahwa Nabi saw memberikan turbah sedikit kepada Ummu Salamah. Di hadis lain dijelaskan bahwa turbah ini masih tersimpan rapi hingga masa kematian Ummu Salamah. [18] dan menurut sebagian riwayat, turbah itu ada di sisi Imam Baqir as. [19] Pada sebagian doa-doa juga disinggung atau dijelaskan kejadian pembawaan turbah tersebut oleh Jibril. [20]

Hadis-hadis Imam Ali as Mengenai Turbah

Ada beberapa hadis mengenai turbah dinukil dari Imam Ali as, diantaranya adalah ketika beliau melewati Karbala pada perang Shiffin menukilkan hadis Nabi saw tentang turbah pada sahabat-sahabatnya. [21] Secara zahir hadis ini terdengar dua kali; yaitu ketika Imam Ali as pergi ke perang Shiffin dan sepulang beliau darinya. [22] Dalam hadis lain dijelaskan tentang pengetahuan Imam Ali as akan tanah tempat syahadah Imam Husain as. [23] Menurut sebuah hadis, ketika Imam Ali as melewati Karbala selain menangis dan menyinggung peristiwa Asyura juga mengingatkan kehormatan tanah di sana. [24]

Hadis-hadis Dari Imam-imam Yang lain Terkait Turbah

Imam Husain as ketika sampai di Karbala, menukil hadis Ummu Salamah mengenai turbah. [25] Berdasarkan beberapa riwayat, Ummu Salamah menukilkan hadis ini kepada Imam Husain di saat beliau berangkat dari Madinah. [26] Imam-imam Syiah yang lain juga menyampaikan perihal turbah ini, dan memujinya dengan sifat Mubarakah, Thahirah dan Miskah Mubarakah serta menekankan akan keutamaannya. [27] Ketika Imam Ridha as mengambil turbah maka menciumnya dan menangis. [28] Dalam sebagian hadis dijelaskan tentang kecintaan para Malaikat pada turbah ini. [29]

Pengaruh-pengaruh Turbah Menurut Riwayat

Penyembuhan

Dalam matan hadis dan fikih disebutkan pengaruh yang banyak untuk turbah. Disebutkan dalam hadis-hadis bahwa turbah dapat menyembuhkan penyakit dengan syarat yakin padanya atau yakin pada kepemimpinan Imam Husain as. [30] Sebagian hadis menerangkan bahwa cara mengambil turbah atau memakannya pun dapat memberikan pengaruh. [31] Mencari kesembuhan melalui turbah disepakati secara ijma oleh ulama Imamiyah[32] dan ada beberapa pengaruh yg ditulis.

Banyak pernyataan dari para perawi yang dapat dipercaya mengenai pengaruh turbah.[33] Mencari kesembuhan dari turbah Hamzah, paman Nabi saw, para syuhada dan orang-orang saleh sejak dahulu menjadi kebiasaan di kalangan kaum muslimin. [34]

Aman dari Rasa Takut

Pengaruh lain turbah adalah aman dari rasa takut, dan dalam hadis-hadis sangat ditekankan untuk membawa turbah. [35] Imam Ridha as meletakkan turbah sedikit pada setiap barang bawaan seperti kain. [36] Dan perbuatan ini dilakukan untuk menjaga dan melindungi barang tersebut. [37] Demikian juga dalam sebagian referensi disebutkan bahwa membawa turbah dapat mendatangkan berkah.[38]

Dalam riwayat, dianjurkan mencekoki turbah pada bayi yang baru lahir dan para fugaha memandangnya mustahab (sunah). [39] Dan dianjurkan menghadiahkan turbah. [40]

Sunah Menyertakan Turbah Dengan Mayit

Para fukaha imamiyah sepakat bahwa menyertakan turbah bersama mayit demi keamanan dari azab kubur adalah hal yang mustahab. [41] Namun, mereka berbeda pendapat mengenai cara melakukan itu. [42] Bagi sebagian Fuqaha, dalil kesunnahannya adalah semata-mata keberkahan turbah itu[43] tapi sebagian yang lain mendasarkan perbuatan ini pada hadis. [44]

Pengaruh-pengaruh Lain Turbah

Disebutkan pengaruh-pengaruh lain untuk turbah, diantaranya adalah: bertambahnya rizki, ilmu yang bermanfaat, mendapatkan kumulian, diangkatnya kefakiran, dan segala pengaruh baik yang muncul. [45] Terkait sebagian pengaruh turbah muncul pertanyaan ini, apakah pengaruh-pengaruh ini terealisasi dengan makan turbah atau muncul dari pembawaannya? [46]

Keutamaan Sujud di Atas Turbah

Menurut hadis-hadis dan kitab-kitab fikih, turbah adalah benda terbagus yang dapat dijadikan tempat sujud. [47] Dalam sebagain riwayat diterangkan bahwa Imam Shadiq as menyimpan turbah (debu/tanah) Imam Husain as sedikit di dalam kantong sutera warna kuning, ketika salat beliau menuang turbah itu di sajadah dan sujud di atasnya. [48] Sesuai tuntunan hadis dan fikih, sujud di atas turbah dan membaca tasbih dengan menggunakan turbah dapat membuat hati lembut. [49]

Teks terkuno mengenai turbah dengan redaksi "لوح من طین القبر"; papan dari tanah kubur, dimuat pada surat resmi (tauqi') Imam Mahdi Afs yang dikeluarkan pada tahun 308 H sebagai jawaban dari pertanyaam-pertanyaan Muhammad bin Abdullah bin Ja'far Himyari. Pada hadis ini dan hadis-hadis lain, kesunnahan membaca zikir dengan tasbih yang terbuat dari turbah sangat ditekankan.[50] Syahid Awal memandang hadis-hadis ini mutawatir. [51]

Membuat Tasbih Dari Turbah

Dalam riwayat Imam Shadiq as, tasbih Sayidah Fatimah Sa awalnya diikat dengan benang wol yang jumlah takbir diikatkan padanya. Setelah Hamzah bin Abdul Mutthalib syahid di peran Uhud, Sayidah Fatimah as membuat tasbib dari tanah kuburnya. Setelah Imam Husain as Syahid maka pembuatan tasbih dari tanah kuburnya menjadi hal biasa. Dalam hadis lain dari Imam Shadiq as, "tasbih turbah" Hamzah dan "tasbih turbah" Imam Husain as diperbandingkan, dan turbah Imam Husain diyakini lebib utama.[52]

Dalam riwayat-riwayat ditegaskan pahala memegang "tasbih turbah" Imam Husain as sekalipun tanpa membaca zikir. [53] Secara zahir, menggunakan "tasbih turbah" sebagaimana "turbah salat" hingga tahun 308 (tahun korenpondesi Himyari ke Imam Zaman Afs) merupakan sunah yang belum menyebar luas.

Hukum-hukum Fikih Turbah

Mengingat kesucian turbah, maka disebutkan hukum-hukum khusus untuknya dalam kitab-kitab fikih. Antara lain adalah: haram menajiskan turbah dan wajib membersihkan najis darinya. Bahkan boleh jadi menajiskan turbah adalah pertanda kekafiran. [54] Demikian halnya dengan turbah yang ditaruk bersama mayit, sedemikian rupa harus dijaga sehingga tidak menimbulkan penghinaan padanya. [55] Menghina turbah memiliki efek-efek duniawi yang tidak diinginkan. [56]

Makan tanah haram hukumnya, dan makan turbah hanya boleh untuk pengobatan. [57] Dalam sebagian hadis dan fatwa, berbuka (ifthar) dengan turbah boleh. Tentu saja ada sebagian fuqaha yang tidak membenarkan perbuatan ini. [58] Kadar turbah yang boleh dimakan untuk penyembuhan adalah sedikit dan batas maksimal seukuran baji kacang polong. [59]

Dalam sebagian riwayat, makan turbah imam-imam yang lain juga dibolehkan. Tetapi, hal ini tidak diterima oleh para fuqaha dan tidak sesuai dengan sebagian hadis yang lain. [60] Bagi para fuqaha, jual beli turbah boleh[61] tetapi dalam sebagian riwayat hal itu dilarang.[62]

Batasan Turbah

Dalam riwayat-riwayat, batasan sekitar kubur Imam Husain as yang tanahnya dianggap turbah bermacam-macam; berkisar antara 20 Dzira', 25 Dzira', 70 Dzira', 1 mil (1.6 Km), 4 mil, 10 mil, 1 farsakh (± 5.5 Km) dan 5 farsakh (± 27.5 Km). Menurut para fuqaha, semua itu bisa benar, artinya semakin dekat tanah itu kepada kubur Imam Husain as maka penghormatan dan pengaruhnya akan semakin besar. [63]

Ada doa-doa dan amalan khusus yang dinukil saat mengambil dan makan turbah atau membawanya seperti mandi, membaca ayat-ayat Al-Qur'an, mencium dan meletakkannya di mata. [64] Menurut para fuqaha, adab-adab ini memperbesar atau mempercepat efek turbah, tetapi efek turbah itu sendiri tidak bergantung padanya. [65]

Karya-karya Yang Ditulis Mengenai Turbah

Karya-karya Yang Diterbitkan

Hadis-hadis seputar turbah banyak disebutkan dalam sumber-sumber hadis[66] dan juga ada karya-karya yang ditulis secara independen, antara lain adalah: Risalah al-Sujud ala al-Turbah al-Masywiyah (sujud di atas turbah Husaini yang dibakar) karya Muhaqqiq Karki, Al-Ardh wa al-Turbah al-Husainiyan (Bumi dan tanah Husaini), karya Muhammad Husain Al Kasyiful Ghitha, Al-Istisyfa bi al-Turbah al-Syarifah al-Husainiyah (Berobat dengan turbah mulia Husaini) , karya Abul Ma'ali Kalbasi, Khake Behesyt (Tanah surga), karya Mahdi Shadri, Sajdegah dar Fadhilate Sajdeh bar Turbat (Tempat sujud dalam keutamaan bersujud di atas turbah), karya Sayid Muhammad Amruhi Hindi, [67] "Sajdegahe Rasul dar Sajdeh bar Turbat", edisi Urdu, karya Ahmad Sultan Muathafawi Chesyti. [68]

Karya-karya Yang Tidak Terbit

Diantara karya-karya yang tidak terbit mengenai turbah adalah: Syaraf al-Turbah , karya Muhammad bin Bakran Razi, [69] Syaraf al-Turbah, karya Abul Mufaddhal Syaibani , [70]. "Lum'ah Ma'ani dar Isbate Fadhilate Sajdeh bar Turbat", edisi Persia, karya Sayid Ali Ridhawi Lahuri, [71] "Matsnawi Syafanameh dar Bare-e Atsare Turbate Sayyidus Syuhada", karya Surudeh Taib Tabrizi. [72]

Catakan Kaki

  1. Ibnu Manzhur, Firuz Abadi, dibawah kata "ترب"
  2. Syahid Tsani, al-Fawāidil Milliyah li Syarhirrisalah al-Nafliyah, hlm. 211; Bahrani, al-Hadaiq al-Nādhirah fi Ahkamil Itrah al-Thahirah, jld.8, hlm. 261
  3. Biruni, Atsar al-Baqiyah, hlm.329
  4. Al Kasyiful Ghitha, al-Ardh wa al-Turbah al-Husainiyah, hlm.32
  5. Ibnu Babawaih, Uyun Akhbar al-Ridha, jld.2, hlm.531-532
  6. Shadri, "Khake Behesyt, hkm.22
  7. Bahrani, Awalimul Ulum wa al-Ma'arif wa al-Ahwal min al-Ayat wa al-Akhbar wa al-Aqwal, jld.17, hlm. 124-131
  8. Amini, Siratuna wa Sunnatuna, hlm.53-129
  9. Ibnu Hanbal, al-Musnad, jld. 11, hlm. 207-208
  10. Mufid, al-Irsyad, jld.2, hlm. 129
  11. Alawi Syajari,Fadhlu Ziyaratil Husain, hlm. 90-92
  12. [ http://hajj.ir/14/35909 ]
  13. Muwahhid Abthahi Isfahani, jld.4, hlm. 218-242
  14. Abu Ya'la Mushili, jld. 6, hlm. 129-130; Khushaibi, hlm. 202-203; Ibnu Qulawaih, hlm. 59-61; Thabrani, jld.3, hlm. 108; Ibnu Syajari, jld.2, hlm. 82, pertemuan ke-29, hlm. 139-140; Hakim Naisyaburi, jld.5, hlm. 567
  15. Abu Naim, hlm. 553; Baihaqi, jld. 6, hlm. 468-470
  16. Maitsami Iraqi, hlm. 542; Dastghib, hlm. 123-124
  17. Thusi, 1414, hlm. 314-318, 330; Fadhl Thabrisi, jld.1, hlm. 428
  18. Ibnu Qulawaih, hlm. 60
  19. Thusi, 1414, hlm. 316
  20. Ibnu Qulawaih, hlm. 280, 282, 284, 285; Majlisi, jld.98, hlm. 118, 129
  21. Nashr bin Muzahim, hlm. 140; Ibnu Saad, hlm. 48-49; Ibnu Hanbal, jld. 1, hlm. 446; Abu Ya'la Mushili, jld. 1, hlm. 298; Ibnu Asakir, hlm.23423
  22. Muwahhid Abthahi Isfahani, jld. 4, hlm. 365-366
  23. Ibnu Saad, hlm. 48; Ibnu Qulawaih, hlm. 72
  24. Himyari, hlm. 26; Ibnu Qulawaih, hlm. 269-270
  25. Sibthu Ibnu Jauzi, hlm.225
  26. Khushaibi, hlm. 203; Mas'udi, hlm. 155; Ibnu Hamzah, 1412, hlm. 330-331; Muwahhid Abthahi Isfahani, jld. 4, hlm. 218-221
  27. Ibnu Qulawaih, hlm. 267-268, 270-271; Ashfari, hlm. 16-17; Majlisi, jld.98, hlm. 128-132
  28. Majlisi, jld.98, hlm.131
  29. Ibnu Qulawaih, hlm. 68; Mufid, Kitab al-Mazar, hlm. 151; Shadri, hlm. 49
  30. Kulaini, jld.4, hlm. 588; Alawi Syajari, hlm. 91; Thusi, 1411, hlm. 732-734; Ibnu Masyhadi, hlm. 361-363; Majlisi, jld. 98, hlm. 118
  31. Barqi, hlm. 500; Kulaini, jld. 4, hlm. 243; Ibnu Babawaih, 1386, hlm. 410; Thusi, al-Amali, hlm. 318
  32. Syahid Awal, al-Bayan, jld.2, hlm. 25
  33. Maitsami Iraqi, hlm. 542; Qommi, jld.2, hlm.695; A'raji Fahham, jld. 2, hlm.204-206; Shadri, hlm. 109-110, 115-116
  34. Samhudi, jld.1, hlm. 69, 116, jld. 2, hlm. 544; A'raji Fahham, jld.2, hlm. 179-182
  35. Ibnu Qulawaih, hlm. 278-280;Thusi, Tahdzibul Ahkam, jld. 6, hlm. 75; al-Amali, 1414, hlm. 318
  36. IbnuQulawaih, hlm. 278
  37. Kalbasi, hlm. 130
  38. Ibnu Qulawaih, hlm. 278; Najafi, jld. 18, hlm. 162
  39. Kulaini, jld. 6, hlm. 24; Mufid, Muqni'ah, hlm. 521; Sallar Dailami, hlm. 156; Ibnu Barraj, jld. 2, hlm. 259; Ibnu Hamzah, Al-Wasilah ila Nailil Fadhilah, hlm. 372; Yusuf Bahrani, jld. 7, hlm. 131
  40. Syahid Awal, al-Durus al-Syar'iyah fi Fiqh al-Imamiyah, jld. 2, hlm. 26
  41. Thusi, al-Khilaf, jld.1, hlm. 706; Muhaqqiq Hilli, al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukhtashar, jld. 1, hlm. 299-300
  42. Al-Fiqhul Mansub lil Imam al-Ridha as, hlm. 184; Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, hlm. 20; Thusi, al-Iqtishad al-Hadi ila Thariq al-Rasyad, hlm. 250; Ibnu Idris Hilli, jilid. Hlm. 165; Muhaqqiq Hilli, al-Mu'tabar fi Syarh al-Mukttashar, jld. 1, hlm. 301; Allamah Hilli, Tadzkirah al-Fuqaha, jld. 2, hlm. 94-95; Syahid Awal, Dzikra al-Syi'ah fi Ahkam al-Syariah, jld. 2, hlm. 21
  43. Syahid Awal, Dzikra al-Syi'ah fi Ahkam al-Syariah, jld.2, hlm. 21; Musawi Amili, jld. 2, hlm. 139
  44. Thusi, Tahdzibul Ahkam, jld. 6, hlm. 76; Thusi, Mishbahul Mutahajjid, hlm. 735; Ahmad Thabrisi, jld. 2, hlm. 582; Yusuf Bahrani, jld.4, hlm. 112; Hur Amili, jld.3, hlm. 30; Allamah Hilli, Tadzkiratul Fuqaha, jld. 2, hlm. 95; Syahid Awal, Dzikra al-Syi'ah fi Ahkam al-Syariah jld.2, hlm. 21
  45. Ibnu Qulawaih, hlm. 277, 282, 285; Ibnu Bastham, hlm. 52; Nuri, 1470-148, jld. 8m hlm. 237; Kalbasi, hlm. 109; Farhad Mirza Qajar, hlm. 6
  46. Naraqi, jld. 5, hlm.15, hlm. 163; Kalbasi, hlm. 67, 77
  47. Ibnu Babawaih, Man la Yahduruhu al-Faqih, jld. 1, hlm. 268; Syahid Awal,al-Durus al-Syar'iah fi Fiqhil Imamiyah, jld.2, hlm. 26; Yusuf Bahrani, jld. 7, hlm 260; Naraqi, jld. 5, hlm. 266
  48. Thusi, Mishbahul Mutahajjid, hlm. 733; Dailami, jld. 1, hlm. 115; Muhammad Baqir Majlisi; jld. 82, hlm. 153; Al Kasyiful Ghitha, hlm. 39
  49. Majlisi,jld.2, hlm. 177
  50. Mufid, Kitabul Mazar, hlm. 150-151; Hasan Thabrisi, hlm. 281; Ibnu Masyhadi, hlm. 366-368; Hur Amili, jld. 2, hlm. 45545; Mjlisi, jld. 82, hlm. 333-340
  51. Syahid Awal, al-Durus al-Syar'iyah fi Fiqhil Imamiyah, jld. 2, hlm. 26
  52. Mufidd, al-Irsyad, hlm. 150-151
  53. Thusi, Mishbahul Mutahajjid, hlm. 735; Thusi, Tahdzibul Ahkam, jld. 6, hlm. 75-76; Ahmad Thabrisi, jld. 2, hlm. 583; Mufid, Kitabul Mazar, hlm. 152
  54. Allamah Hilli, Mukhtalaf al-Syi'ah fi Ahkam al-Syari'ah, jld. 1, hlm. 267; Allamah Hilli, Tadzkiratul Fuqaha, jld. 1, hlm. 127; Najafi, jld. 8, hlm. 335; Al Kasyiful Ghitha, hlm. 175; Sabzawari, hlm. 18
  55. Thabathabai Yazdi, jld. 1, hlm. 315, masalah 9; Haki, jld. 4, hlm. 199
  56. Thusi, al-Amali, hlm. 320; Nuri, 1378, jld.2, hlm. 283
  57. Kulaini, jld. 6, hlm. 265-266; Ibnu Barraj, jld. 2, hlm. 433; Ibnu Hamzah, hlm. 433; Muhaqqiq Hilli, Syarayi' al-Islam fi Masailil Halal wal Haram, jld. 3, hlm. 176; Naraqi, jld. 15, hlm. 162; Kalbasi, hlm. 28-30
  58. Al-Fiqhul Mansub lil Imam al-Ridha, hlm. 210; Ibnu Syu'bah, hlm. 488; Ibnu Babawaih, jld. 174; Mufid, Massar al-Syi'ah fi Mukhtashar Tawarikh al-Syari'ah, hlm. 31; Ibnu Thawus, Iqbal, hlm. 281; Syahid Awal, al-Bayan, hlm. 203; Syahid awal, Dzikra al-Syi'ah fi Ahkam al_syari'ah, jld. 4, hlm. 175-176; Muhammad Baqir Majlisi, jld. 57, hlm. 158-161
  59. Kulaini, jld. 6, hlm. 378; Ibnu Barraj, jld. 2, hlm. 429-430; Ibnu Idris Hilli, jld. 1, hlm. 318; Muhaqqiq Hilli, Syarayi', jld. 3, hlm. 176; Majlisi, jld. 57, hlm. 161-162; Kalbasi, hlm. 45-47
  60. Ibnu Qulawaih, hlm. 280-281; Ibnu Babawaih, Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 1, hlm. 104; Majlisi, jld. 57, hlm. 156
  61. Syahid awal, al-Durus, jld. 2, hlm. 26; Al Kasyiful Ghitha, hlm. 376
  62. Ibnu Qulawaih, hlm. 286
  63. Ibnu Qulawaih, Tahdzibul Ahkam, jld. 6, hlm. 71-72; Thusi, Mishbahul Mutahajjid, hlm. 731-732; Ibnu Fahad Hilli,jld. 4, hlm. 220; Syahid Tsani, al-Raudhatul Bahiyyah fi Syarhil Lum'ah al-Dimasyqiyah, jld. 7, hlm. 327; Muqaddas Ardabili, jld. 2, hlm. 313; Majlisi, jld. 5, hlm. 370-371; Naraqi, jld. 15, hlm. 165-167
  64. Ibnu Qulawaih, bab 93-94; Thusi, Al-Amali, hlm. 318; Ibnu Thawus, Al-Aman, hlm. 47; Ibnu Thawus, Falah al-Sail, hlm. 62, 224-225; Ibnu Masyhadi, hlm. 363-366
  65. Muqaddas Ardabili, jld. 11, hlm. 236
  66. Ibnu Qulawaih, bab 17, 91 dan 95
  67. Agha Buzurg Tehrani, jld.12, hlm. 147
  68. Agha Buzurg Tehrani, jld.12, hlm. 147
  69. Najjasyi, hlm. 394; Agha Buzurg Tehrani, jld. 14, hlm. 180
  70. Najjasyi, hlm. 396; Agha Buzurg Tehrani, jld. 14, hlm. 180
  71. Agha Buzurg Tehrani, jld.18, hlm. 354
  72. Agha Buzurg Tehrani, jld.19, hlm. 84

Daftar Pustaka

  • Ibnu Barraj. Al-Muhadzzab. Qom: 1406 H.
  • Ibnu Babawaih. Ilal al-Syarayi'. Najaf: percetakan Offset Qom, tanpa tahun.
  • Ibnu Babawaih, Kamaluddin wa Tamam al-Ni'mah, percetakan Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1404 H.
  • Ibnu Babawaih, Man la Yahduruhu al-Faqih, percetakan Ali Akbar Ghaffari,Qom, 1414 H.
  • Ibnu Babawaih,Uyun Akhbar al-Ridha, percetakan Mahdi Lajurdi, Qom, 1404 H.
  • Ibnu Bastham(Husain bin Bastham) dan Ibnu Bastham (Abdullah bin Bastham), Thibbul Aimmah, Najaf, 1385 H, percetakan Offset, Qom, 1404 H.
  • Ibnu Hamzah, al-Tsaqib fi al-Manaqib, percetakan Nabil Ridha Alwan, Qom, 1412 H.
  • Ibnu Hamzah, al-Wasilah ila Nailil Fadhilah, percetakan Abdul Azim Bakka',Najaf, 1399 H.
  • Ibnu Hanbal, Al-Musnad, percetakan Ahmad Muhammad Syakir, Kairo, 1416 H.
  • Ibnu Idris Hilli, Kitab al-Sarair al-Hawi li Tahrir al-Fatawa, Qom, 1411 H.
  • Ibnu Saad, Tarjumah al-Imam al-Husain as wa Maqtaluhu, bagian yang tidak dicetak dari kitab "al-Thabaqat al-Kabir", karya Ibnu Saad, percetakan Abdul Aziz Thabathabai, Qom, 1415 H.
  • Ibnu Syajari, Kitab al-Amali yang terkenal dengan al-Amali al-Khamisiyah, Bairut, 1403 H.
  • Kasyiful Ghitha,Muhammad Husain, al-Ardh wa al-Turbah al-Husainiyah, Qom, 1416 H.