Ilmu Ghaib

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari

Ilmu Ghaib (Bahasa Arab:علم الغيب) adalah sejenis pengetahuan yang tidak bisa diperoleh manusia secara biasa. Ilmu ghaib seperti ini adalah anugerah dari Allah Swt kepada sebagian orang. Berdasarkan ajaran Syiah, pada dasarnya pengetahuan sesuatu yang ghaib hanya diperuntukkan bagi Allah Swt, namun, berdasarkan suatu kemaslahatan, Dia menganugerahkan ilmu ghaib itu kepada sebagian manusia. Meski demikian, sebagian ilmu tentang zat-Nya hanya Allah Swt saja yang mengetahui dan tidak ada seorang pun yang akan sampai ke hakikat tersebut. Berdasarkan ajaran agama, para Nabi atau paling tidak sebagian dari para Nabi (Nabi Muhammad Saw), para Imam Syiah dan sebagian manusia saleh memiliki ilmu ghaib. Ukuran dan keluasan ilmu ghaib dalam setiap mereka berbeda dan kebanyakan ilmu ghaib dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw dan para penggantinya. Mengenai ilmu ghaib yang dimiliki oleh para Imam, terdapat dua pendapat di kalangan para teolog Syiah. Ulama masa kiwari Syiah berkeyakinan bahwa ilmu ghaib para imam bersifat tidak terbatas.

Pengertian Ilmu Ghaib

Ghaib secara leksikal adalah sesuatu yang tersembunyi dari panca indra, kebalikan syuhud yang berarti sesuatu yang dapat dipahami dengan panca indra. [1] Ghaib menurut istilah al-Quran dan hadis adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui dengan menggunakan sarana-sarana biasa. [2] Ilmu ghaib adalah sebuah frase yang bermakna mengetahui yang gaib atau berbicara tentang sesuatu yang gaib, atau pendeknya pengetahuan tentang hal-hal tersembunyi dan segala sesuatu yang yang tidak dapat dipahami dengan alat-alat observatori empirik. [3]

Macam-macam Ilmu Ghaib

Berdasarkan sebuah klasifikasi, perkara ghaib dibagi menjadi dua bagian:

  • Ilmu-ilmu ghaib yang akan nampak dengan pembelajaran dan latihan-latihan jiwa.
  • Ilmu-ilmu ghaib yang hanya mungkin dimiliki oleh Allah Swt dan Ia sendiri yang mengetahui siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang layak untuk mengetahui ilmu ghaib itu

Bagian kedua ini terdiri dari dua bagian lagi:

  • Ilmu ghaib yang penjelasannya diperlukan untuk para Nabi dan para malaikat Ilahi. Mukjizat, agama-agama dan kabar-kabar tentang peristiwa ghaib termasuk ke dalam pembagian ini.
  • Ilmu ghaib khusus kepunyaan Allah dan Ia tidak memberi tahu ke siapa-pun diantara hamba-Nya. [4]

Kelompok ilmu-ilmu ghaib ini seperti yang berkaitan dengan dzat-dzat Ilahi. Jenis ilmu ghaib ini tidak dapat di saksikan dengan panca indra, pikiran dan hati. [5]

Kemungkinan (Imkan) Mengetahui Ilmu Ghaib

Berdasarkan ajaran agama Islam, Allah Swt mampu memberitahukan rahasia ilmu ghaib dan suatu peristiwa yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman:

یعْلَمُ مَا بَینَ أَیدِیهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ یحِیطُونَ بِشَیءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء﴿

“Allah mengetahui segala yang berada di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sedikit pun dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.”(Qs al-Baqarah [2]: 255)

Ibnu Sina berdasarkan argumen dan pengalaman empiris berkata bahwa sebagaimana ketika manusia tidur, boleh jadi ia akan menerima pengetahuan-pengetahuan ilmu ghaib dan ilmu ghaib itu pun akan terjadi, maka tidak ada rintangan bahwa dalam keadaan bangun pun hal ini akan terjadi.[6]

Ilmu Ghaib para Nabi

Salah satu tipologi para Nabi untuk menjalankan tanggung jawab risalahnya adalah mengetahui dan memiliki ilmu ghaib. Allah Swt memberi tahu para Nabi-Nya dengan menganugerahkan tentang ilmu-ilmu pada masa dahulu maupun pada masa yang akan datang. [7] Al-Quran mengabarkan tentang sebagian ilmu ghaib yang dimiliki Nabi Isa As.

وَأُنَبِّئُکم بِمَا تَأْکلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِی بُیوتِکمْ إِنَّ فِی ذَلِک لآیةً لَّکمْ إِن کنتُم مُّؤْمِنِینَ﴿

“Dan aku memberitahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Qs Ali Imran [3]: 49)

Dalam surah Jin telah diisyaratkan bahwa Allah Swt akan menganugerhkan pengetahuan tentang ilmu ghaib yang dimilikinya sesuai dengan kapasitas setiap para Nabinya. [8]

عَالِمُ الْغَیبِ فَلَا یظْهِرُ عَلَی غَیبِهِ أَحَدًا* إِلَّا مَنِ ارْتَضَی مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ یسْلُک مِن بَینِ یدَیهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا﴿

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib dan Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka Dia menetapkan para penjaga (malaikat) di hadapan dan di belakangnya." (Qs Jin [27]: 26-27)

Menurut keyakinan sebagian mufassir, ayat 179 surah Ali Imran menunjukkan bahwa seluruh Nabi memiliki ilmu ghaib karena dalam ayat itu ada kata “min” yang menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Swt. [9]

Ilmu Ghaib Nabi Muhammad Saw

Dikatakan bahwa Nabi Muhammad Saw memiliki ilmu ghaib yang lebih banyak dari pada nabi lainnya karena beliau mengemban tugas risalah dalam waktu yang lebih lama dan tempat yang lebih luas pula. Beliau dengan ijinnya memiliki ilmu ghaib sebanding dengan kebutuhannya untuk menjalankan amanah risalahnya.[10] Al-Quran merupakan salah satu kabar gaib yang telah diketahui oleh Nabi Muhammad Saw dan diisyaratkan bahwa beliau mengetahui keberadaan al-Quran semenjak sebelum beliau menerima wahyu.

تِلْک مِنْ أَنْباءِ الْغَیبِ نُوحیها إِلَیک ما کنْتَ تَعْلَمُها أَنْتَ وَ لا قَوْمُک مِنْ قَبْلِ هذا﴿

“Itu adalah di antara berita-berita ghaib yang penting yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Qs Hud [11]: 49)

Ilmu Ghaib para Imam

Berdasarkan kepercayaan teolog Syiah, salah satu kebutuhan kepribadian Imam adalah mengetahui secara sempurna akan syariat yang ada pada mereka dan menjaga syariat itu dari distorsi serta memberikan penafsiran secara benar atas agama. Apabila Imam tidak memiliki dan mengetahui ilmu dan pengetahuan semacam ini, maka tujuan Allah Swt dalam memberikan kedudukan keimamahan kepada mereka sebagai penjelas dan penjaga syariat akan cacat. [11] Oleh itu, perlu sesuatu yaitu harus memiliki pengetahuan secara sempurna untuk digunakan sebagai penjelas dan penjaga agama dari distorsi. [12] Dari sisi bahwa pengetahuan terhadap masalah yang sangat luas dan komprehensif tidak sesuai dengan kelemahan yang dimiliki oleh manusia, maka sangat wajar dan tidak mungkin jika manusia menerima pengetahuan yang lua dan komprehensif. Oleh itu, sebagian ilmu dari ilmu-ilmu ini harus sampai kepada para Imam melalui jalan yang tidak biasa dan diluar kemampuan manusia. [13]


Pandangan Syiah Mengenai Ilmu Imam

Menurut Syiah, ilmu ghaib Imam Maksum As seperti ilmu Nabi Muhammad Saw yang diperoleh dari Allah Swt[14] dan dalam bentuk ilmu hudhuri. Oleh itu, apabila mereka berada di sisi manusia biasa dan mengetahui terhadap ilmu ghaib, bukan berarti bahwa ilmu ghaib itu selalu bersama mereka secara fi’li dalam bentuk khuduri. [15] Penjelasan tersebut ada dalam beberapa hadis dari para Imam As yaitu bahwa para Imam memiliki ilmu terhadap sesuatu dan pengetahuan mereka diperoleh karena Allah Swt telah mencurahkan pengetahuan kepada mereka.[16] Dalam riwayat Syiah dijelaskan mengenai sebagian ramalan dan kabar ghaib para Imam. Sebagian kabar ini tertera dalam Nahjul Balaghah, seperti kabar tentang hancurnya kota Kufah, [17] serangan Abdul Malik Marwan ke kota Kufah, [18] kabar tentang pertumpahan darah dan robeknya perut Hujaj bin Yusuf Tsaqafi, [19] kabar tentang perang berdarah Basrah, [20] kabar tentang pemerintahan empat gubernur fasik yang merupakan anak-anak dari Marwan[21] dan juga kabar penyerangan Mongolia dan khianat yang dilakukan oleh mereka.[22]

Pandangan Teolog Syiah

Mengenai ilmu ghaib para Imam, terdapat beberapa pandangan diantara para teolog Syiah:

  • Ilmu ghaib mutlak dan aktual Imam terhadap lauh, tsbat dan lauh mahfudz
  • Ilmu ghaib mutlak dan aktual Imam hanya terhadap lauh mahfudz dan itsbat
  • Ilmu ghaib Imam karena permintaan Allah Swt
  • Teori tawaquf dan tidak berpendapat tentang ilmu Imam secara mendetail. [23]
  • Ilmu Imam yang terbatas terhadap sebagian perkara-perkara yang diperlukan oleh para Imam untuk menjalankan tugas imamah dan kepemimpinan. [24]


Keluasan Ilmu Imam (Menurut Pendapat Kedua)

Berdasarkan keyakinan Syiah, ilmu Imam meliputi semua urusan yang diperlukan untuk menjalankan keimamahan dan kepemimpinan. [25] Dalam riwayat Syiah dijelaskan bahwa keluasan ilmu para Imam meliputi semua urusan yang berada di alam baik ketika yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Juga dijelaskan bahwa Allah Swt tidak akan menunjuk hamba-Nya sebagai hujat-Nya terhadap orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan. [26] Sebagian contoh dari pengetahuan-pengetahuan Imam As adalah:

  • Ilmu terhadap kitab Allah mutlak, muqayad, am, khash, nasikh dan mansukh
  • Ilmu terhadap kitab-kitab samawi
  • Ilmu terhadap segala peristiwa yang telah terjadi dan akan terjadi. [27]
  • Ilmu terhadap kematian dan musibah-musibah. [28]
  • Ilmu kepada semua permasalahan dunia dan akhirat. [29]
  • Ilmu terhadap cara dan zaman syahadahnya. [30]
  • Ilmu terhadap rahasia-rahasia Ilahi. [31]
  • Ilmu terhadap ahkam-ahkam Ilahi.[32]


Metode para Imam untuk Memperoleh Ilmu Ghaib

Berdasarkan sumber rujukan Syiah, para Imam Maksum As memperoleh ilmu ghaib melalui beberapa cara:

  • Menerima ilmu ghaib dari Nabi Muhammad Saw

Dari hadis yang berasal dari Imam Ridha As dijelaskan bahwa: Ilmu Imam berasal dari Nabi Muhammad Saw dan Nabi memperoleh ilmu ghaib dari Allah Swt melalui malaikat Jibril. [33] Dalam riwayat yang berasal dari Imam Baqir juga digambarkan bahwa para Imam Maksum mengetahui ilmu-ilmu yang diketahui oleh para malaikat dan para Nabi.[34]

Pengajaran ini diperoleh melalui beberapa cara:

  • Pelajaran biasa: Berdasarkan jenis pengajaran ini, Imam Ali As sebagaimana masyarakat pada umumnya memperoleh manfaat keilmuan dari Nabi Muhammad Saw meskipun beliau menerima manfaat lebih banyak dari pada manusia-manusia pada umumnya.[35]
  • Perpindahan ilmu-ilmu Nabi Muhammad Saw kepada para Imam dari jalan luar biasa

Pada bagian ini perpindahan pengetahuan dan ilmu laduni Nabi Muhammad Saw kepada para Imam As tidak melibatkan masyakarat lainnya dan metode ini adalah metode khusus para Imam.[36] Metode-metode ini meliputi:

  • Ilmu tentang keadaan akhir hayat Nabi dipindahkan kepada Imam Ali As. Berdasarkan riwayat yang ada, terdapat serangkaian kejadian-kejadian yang diberitahukan kepada Imam Ali yang sebanding dengan 1000 pintu ilmu dan setiap pintu terdapat 1000 pintu lain yang terbuka. Ilmu ini meliputi kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lampau dan pada masa depan, ilmu-ilmu tentang kematian dan musibah-musibah dan penghakiman. Ilmu ini termasuk bagian dari khazanah imamah yang akan berpindah dari setiap Imam kepada Imam setelahnya. [37]
  • Melalui Kitab Jamiah: Kitab ini disabdakan Nabi Muhammad Saw kepada Imam Ali As kemudian Imam Ali As menuliskan apa-apa yang didiktekan oleh Nabi Saw. Kitab ini meliputi kabar dan pengetahuan-pengetahuan mengenai hal-hal yang diperlukan oleh para Imam dan dipindahkan dari imam yang satu ke Imam selanjutnya. [38]
  • Melalui Kitab Al-Jufr: Kitab ini berisi riwayat yang berasal dari para Nabi dan pengganti beliau, ilmu para Nabi dan Ausiya serta ilmu ulama Bani Israel. Demikian juga dalam kitab itu, kitab-kitab Samawi sebelumnya juga ada seperti: Kitab Zabur, Nabi Daud As, Kitab Taurat Nabi Musa, Kitab Injil Nabi Isa As dan Mushaf Ibrahim As.[39]
  • Melalui Mushaf Fatimah

Berdasarkan sebagian riwayat, mushaf Fatimah As adalah kumpulan riwayat-riwayat tentang pembicaraan Malaikat kepada Hadhrat Zahra As dan dikabarkan tentang kejadian-kejadian pada masa depan hingga hari kiamat. Hadhrat Zahra mengatakan hal itu kepada Imam Ali As kemudian Imam Ali mencatatnya. [40] Dalam riwayat dikatakan bahwa dalam Mushaf Fatimah dituliskan mengenai kabar-kabar mengenai kejadian-kejadian di masa depan. [41];[42]


  • Melalui Ilham dan Mendengar

Dari Hasan bin Yahya Madaini dinukilkan bahwa Imam Shadiq As bertanya: “Ketika aku bertanya kepada Imam Shadiq As, Dengan ilmu apakah Anda menjawab pertanyaan?” Beliau menjawab: Kadang-kadang dengan menggunakan ilham, kadang-kadang mendengar dari Malaikat dan kadang-kadang dengan kedua cara itu. [43]

Hikmah Ilmu Ghaib Para Imam Muhammad Ridha Mudzafar menyebutkan hikmah ilmu ghaib untuk para Imam sebagai berikut:

  • Memberikan manfaat untuk Imam
  • Menambah kekuatan dalam mendakwahkan risalah bagi para Imam
  • Sampainya kesempurnaan kasih sayang Tuhan kepada para Imam. [44]


Dalil-dalil Ilmu Ghaib para Imam

Berdasarkan sebagian riwayat disebutkan bahwa para Imam adalah pewaris ilmu para Nabi[45] dan kotak ilmu Ilahi. [46]Kaum Syiah guna membuktikan ilmu ghaib para Imam menggunakan dalil-dalil riwayat, misalnya riwayat yang berasal dari Nabi Muhammad Saw tentang Imam Ali As. Rasulullah Saw bersabda: أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَ عَلِيٌّ بَابُهَا [47]

Berdasarkan sebuah riwayat, Hisyam setelah mendengar jawaban dari Imam Shadiq As tentang 500 masalah yang berkaitan dengan ilmu kalam berkata: Aku tahu bahwa masalah halal dan haram berada di tangan Anda dan beliau menjawab: Celakalah kamu, hai Hisyam! Allah memenuhi keperluan orang-orang dengan menjadikan hujat-hujat-Nya.[48]

Ilmu Ghaib pada Orang Lain

Ilmu ghaib sebagaimana yang telah dijelaskan tidak terkhususkan ditujukan kepada para Nabi dan para Imam Syiah namun ilmu ghaib, dengan derajatnya masing-masing dimiliki pula oleh orang lain. Al-Quran menerangkan sebagian orang-orang yang memiliki ilmu ghaib, misalnya:

  • Bunda Maryam. [49]
  • Istri Nabi Ibrahim. [50]
  • Ibu Nabi Musa. [51]
  • Yang menemani Nabi Musa (Nabi Khidhir). [52]
  • Kaum Mukminin yang menjadi saksi bagi kaum munafikin. [53]
  • Yang menemani Sulaiman, Ashif bin Barkhiya.[54]


Permasalahan disekitar Ilmu Ghaib

Terkait dengan ilmu ghaib yang dimiliki oleh para Imam As, terdapat subhat-subhat dan keraguan-keraguan yang timbul di dalamnya. Para teolog Syiah berusaha menjawab keraguan-keraguan itu. Sebagian isu-isu yang dilontarkan adalah:

  • Apabila para Imam memiliki ilmu ghaib dan ilmu laduni lalu mengapa dalam berbagai riwayat tidak dijelaskan mengenai ilmu ghaib mereka? Sebagai contoh pada klaim seseorang yang bertanya kepada Imam dalam hadis dari Imam Shadiq As memiliki ilmu ghaib ataukah tidak. Imam menjawab aku tidak memilikikanya dan sebagai buktinya beliau bersabda: Budakku melakukan tindakan buruk tapi aku tidak menemukannya. [55]

Kritikan ini dibangun atas dasar ketidakpahaman seseorang dalam memahami riwayat-riwayat Ahlulbait As secara keseluruhan. Berdasarkan dalil-dalil ayat al-Quran dan riwayat para Imam, para Imam Syiah memiliki ilmu ghaib. Oleh itu, riwayat yang memiliki kandungan tentang pengingkaran ilmu ghaib terhadap kekhususan para Imam yang memiliki ilmu ghaib, pasti merupakan riwayat yang maj’ul (palsu) dan disampaikan karena unsur taqiyyah. Bukti atas perkataan ini adalah lanjutan riwayat ini juga yang dijelaskan dalam jawaban persoalan. Pada riwayat ini, Imam Ridha mengingkari adanya ilmu ghaib yang beliau miliki namun dalam kelanjutan hadis itu ketika beiau bersama dengan perawi pergi ke suatu tempat, di mana di tempat itu tidak ada orang lain selain perawi tersebut, Imam Ridha As dengan mendasarkan al-Quran, menjelaskan bahwa beliau tidak hanya mengetahui ilmu ghaib saja, namun hujat Tuhan harus memiliki ilmu ghaib dan hal ini adalah sebuah kemestian bagi hujah-Nya sehingga akan mampu melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya. [56]

  • Apabila para Imam mengetahui penyebab dan masa tentang syahadahnya, maka para Imam berkewajiban untuk mencegah terjadinya peristiwa itu, bukan justru pergi ke tempat syahadahnya. Misalnya apabila Imam Ali As mengetahui zaman dipukulnya pedang baginya pada malam 21 Ramadhan di Masjid Kufah, seharusnya beliau tidak pergi ke masjid itu. Jika tidak demikian, maka pada hakekatnya hal ini adalah sebuah bentuk bunuh diri.

Beberapa jawaban atas persoalan diatas adalah: Sebagian untuk lari dari persoalan diatas berkeyakinan bahwa Imam tidak memerlukan ilmu ghaib untuk menjalankan keimamahan dan kepemimpinan misalnya Imam tidak mengetahui zaman dan penyebab kesyahidannya. [57] Sebagian dengan memisahkan antara ilmu dhahir dan batin berkeyakinan bahwa Imam mengetahui segala urusan dhahir dan batin. Mereka dalam kedudukan dhahirnya berkewajiban memelihara dhahir dan kewajiban kemasyarakatan berdasarkan kewajiban yang iembannya, namun dalam tataran batin, berdasarkan ilmu Allah Swt dalam menjalankan risalah dan imamah diberikan kepada mereka, mereka mengetahui akhir kejadian dan kejadian-kejadian yang sedang terjadi, termasuk nasib mereka sendiri Meskipun demikian, Imam memiliki kewajiban untuk menjalankan melakuan tindakan dalam tataran dhahir, bukan batin. Oleh itu, mereka tidak bisa mencegah kejadian itu dengan jalan ilmu yang dimiliki tentang bagaimana dan kapan zaman syahadahnya. [58] Dengan memperhatikan dalil-dalil ayat dan riwayat ilmu ghaib para Imam, nampaknya pendapat kedua adalah pendapat yang benar.

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Tharihi jld. 2, hlm. 134-135; Raghib, hlm. 616.
  2. Subhani, jld. 3, hlm. 402-407.
  3. Jawadi Amuli, jld. 3 hlm. 414, Dekhoda, klausul ilmu ghaib.
  4. Shadeqi Tehrani, jld. 27, hlm. 17-18.
  5. Jawadi Amuli, jld. 3, hlm. 415.
  6. Ibnu Sina, hlm. 150-151.
  7. Thusi, al-Tebyān, jld. 2, hlm. 459.
  8. Thabathabai, jld. 20, hlm. 83.
  9. Menurut istilah nahwu, min dalam ayat ini adalah min bayaniyah bukan tab’idziyah; Thusi, al-Tebyan, jld. 3, hlm. 63.
  10. Mudzafar, hlm. 15.
  11. Mudzafar, hlm. 16.
  12. Mufid, Awāil al-Maqālāt, hlm. 39.
  13. Syarif Murtadza, jld. 2, hlm. 39.
  14. Kharazi, jld. 2, hlm. 46.
  15. Mudzafar, hlm. 62.
  16. Kulaini, jld. 1, hlm. 285.
  17. Nahj al-Balāghah, khutbah 101.
  18. Nahj al-Balāghah, khutbah 101 dan 189.
  19. Nahj al-Balāghah, khutbah 116.
  20. Nahj al-Balāghah, khutbah 102.
  21. Nahj al-Balāghah, khutbah 73.
  22. Nahj al-Balāghah, khutbah 128.
  23. Qaram Ali, Makalah Ilmu Imam Husain terhadap kesyahidannya sendiri.
  24. Salehi, Najaf Abadi, hlm. 455-456.
  25. Shaduq, Al-Khisāl, jld. 2, hlm. 529.
  26. Kulaini, jld. 1, hlm. 260-261.
  27. Mudzafar, hlm. 23.
  28. Kasyi, hlm. 1348.
  29. Kulaini, jld. 1, hlm. 61.
  30. Kulaini, jld. 1, hlm. 258.
  31. Thusi, Tahdzib al-Ahkām, jld. 6, hlm. 95.
  32. Mudzafar, hlm. 12.
  33. Kulaini, jld. 1, hlm. 256.
  34. <Kulaini, jld. 1, hlm. 255.
  35. Kharazi, jld. 2, hlm. 64.
  36. Shaduq, jld. 2, hlm. 275.
  37. Kulaini, jld. 1, hlm. 240.
  38. Kulaini, jld. 1, hlm. 240.
  39. Shafar, hlm. 110.
  40. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 26, hlm. 18.
  41. Shafar, hlm. 149 dan 150.
  42. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 26 hlm. 57; Thusi, al-Amāli, jld. 1, hlm. 408.
  43. Mudzafar, 21-34.
  44. Kulaini, jld. 1 hlm. 470.
  45. Kulaini, jld. 1 hlm. 192.
  46. Hur Amili, jld. 27, hlm. 34.
  47. Kulaini, jld. 1, hlm. 262.
  48. Qs Ali Imran [3]: 45 dan 45.
  49. Qs Al-Qasash [28]:51.
  50. Qs Hud [11]: 69-73.
  51. Qs al-Kahfi [18]: 65.
  52. Qs Taubah [9]: 105.
  53. Qs Al-Naml [27]: 40.
  54. Kulaini, jld. 1, hlm. 257.
  55. Mudzafar, hlm. 62.
  56. Salehi Najaf Abadi, hlm. 455-456.
  57. Majlisi, Mir’ah al-Uqul, jld. 3 hlm. 124-125.
  58. Majlisi, Mir’ah al-Uqul, jld. 3 hlm. 124-125.


Daftar Pustaka

  • Ibnu Sina, Husain bin Abdullah, Al-Isyārāt wa al-Tanbihāt, Qum, Nasyar al-Balaghah, 1375 S.
  • Jawadi Amuli, Adab Fanāi Muqarribān, Qum, Isra, 1388 S.
  • Hilli, Ajubah al-Masāil al-Mahnaiyyah, Mukaddimah: Muhyiddin Mamaqani, Qum, Hayyam, 1401 H.
  • Kharazi, Muhsin, Bidāyah al-Ma’ārif al-Ilahiyah fi Syarah Aqāid al-Imāmiyyah lil Mudzaffar, Qum, Nasyar Islami, 1420.
  • Dekkhuda, Ali Akbar, Lughat Nāmeh Dekhudā.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad, Al-Mufradāt fi Gharib al-Quran, Riset: Shafwan Adnan Dawudi, Damisyq dan Beirut, Al-Dar al-Syamiyah wa Dar al-Ilm, 1412 H.
  • Subhani, Ja’far, Mafāhim al-Qurān, Ja’far al-Hadi, Qum, Muasasah Imam Shadiq, 1420 H.
  • Syarif Murtadha, Ali bin Husain, al-Shāfi fi al-Imāmah, 1420.
  • Shadiqi Tehrani, Muhammad, al-Furqān fi Tafsir al-Qurān bi al-Qurān, Qum, Intisyarat Farhang Islami, 1365 S, cet. Ke-2.
  • Salehi Najaf Abadi, Ni’matullah, Syahid Jāwid, Bina, 1361, cet. 12.
  • Shaduq Muhammad bin Ali bin Babuwaih, al-Khishāl Nasyar Jāmiah Mudarisin, 1403.
  • Shafar, bin Hasan, Bashāir al-Darajāt, Qum, Ketab Khaneh Ayatullah najafi Mar’asyi, 1410 H.
  • Thabthabai, Muhammad Husain, Al-Mizān fi Tafsir al-Mizān, Qum, Nasyar Islami, 1417, cet. 5.
  • Tharihi, Fakhruddin, Majma’ al-Bahrain, Riset: Sayid Ahmad Husaini, Tehran, Ketab Furusyi Murtadhawi, 1375 S, cet. 3.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tebyān fi Tafsir al-Qurān, Riset: Sayid Ahmad Qushair Amili, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Tahdzib al-Ahkām, Tehran, Da al-Kitab Islamiyah, 1365 S.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Amali, Qum, Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
  • Qadrdan Qarar Maliki, Muhammad Hasan, Kalām Falsafi, Qum Intisyarat Wutsuq, 1378 S.
  • Kasyi, Muhammad bin Umar Rijal Kasyi, Masyhad, Nasyar Danesygah Masyhad, 1348 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Beirut, Dar al-Wafa, 1414 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Marah al-Uqul fi Syarah Akhbār al-Rasul, Editor: Sayid Hasyim Rasuli Mahalati, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, 1370 S, cet. Ke-3.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, Awāil al-Maqālāt, Qum, Konggres Syaikh Mufid, 1413 H.