Prioritas: aa, Kualitas: b
tanpa navbox

Perjanjian Damai Imam Hasan as

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Perdamaian Imam Hasan)
Lompat ke: navigasi, cari

Perdamaian Imam Hasan as (bahasa Arab:صلح الإمام الحسن عليه السلام) Perjanjian damai antara Hasan bin Ali bin Abi Thalib Imam Kedua Syiah dan Muawiyah bin Abu Sufyan terjadi pada tahun 41 H/661 paska kesyahidan Imam Ali as. Perjanjian damai ini disepakati setelah meletusnya perang dimana Imam Hasan al-Mujtaba as harus berhadapan dengan keinginan Muawiyah dan penolakannya untuk memberikan baiat kepada imam yang merupakan khalifah kaum Muslimin. Perang ini terputus di tengah jalan disebabkan oleh beberapa faktor seperti tiadanya dukungan dari masyarakat, adanya pengkhianatan sebagian pemimpin pasukan Imam Hasan as, untuk menjaga kemaslahatan kaum Muslimin, menjaga komunitas Syiah dan bahaya kaum Khawarij. Akibat dari beberapa faktor ini, Imam Hasan as akhirnya terpaksa harus menerima traktat perjanjian damai yang berdasarkan butir perjanjian, diantaranya adalah pemerintahan harus diserahkan dari Imam Hasan as kepada Muawiyah.

Perjanjian ini mengandung beberapa syarat. Syarat terpenting dari isi perjanjian itu adalah Muawiyah tidak memiliki wewenang untuk mengangkat khalifah dan tidak melakukan konspirasi kepada Imam Hasan dan kaum Muslimin. Muawiyah tidak menjalankan satu pun dari persyaratan ini.

Kufah Paska Kesyahidan Imam Ali as

Usai pemakaman jenazah suci Imam Ali as, kaum Syiah di Kufah memberikan baiat kepada putranya Hasan as. Namun sejarah mencatat bahwa Imam Hasan as menghadapi masa-masa sulit pada detik-detik pertama pemerintahannya. Pertama-tama ia harus menenangkan Kufah. Selain Syam (Suriah) yang dipimpin dan dikuasai Muawiyah, Imam Hasan harus memilih gubernur-gubernur baru untuk Mesir, Hijaz dan daerah-daerah Timur (Khurasan, Azerbaijan dan daerah-daerah Iran lainnya). Hal yang terpenting dari semua ini adalah Imam Hasan as harus menyelesaikan urusan Syam dan menyingkirkan Muawiyah atau membatasi ruang geraknya dari Irak. [1]

Urusan Syam pada masa pemerintahan Imam Ali as sedemikian pelik dan sulit apa lagi pada masa-masa Muawiyah mengklaim dirinya sebagai khalifah kaum Muslimin. Persoalan Damaskus bukanlah persoalan yang mudah dapat dipecahkan. Dengan pasukan apa Imam Hasan berperang melawan Muawiyah? Ia sendiri menjadi saksi bagaimana ayahandanya dulu pada masa-masa pemerintahannya menyeru orang-orang Irak untuk berhadap-hadapan dengan Muawiyah namun hanya segelintir orang yang menyambut seruan tersebut.

Terlepas dari Syam, siapakah yang harus memikul tugas-tugas pemerintahan di negeri-negeri Islam yang amat luas dan jauh itu? Untuk menyerahkan tugas-tugas pemerintahan ini diperlukan orang-orang Muslim yang beriman, pekerja keras, berani dan lebih penting dari semuanya itu adalah tidak tamak. Sementara kebanyakan yang ada di sekeliling Imam Hasan as bukanlah orang-orang yang teguh dan kukuh imannya. Penyerahan hadiah Muawiyah kepada orang-orang di sekeling Imam Hasan membuat mata mereka silau. Mereka adalah orang-orang yang acap kali menyusahkan ayahandanya Imam Ali as. Dalam masa singkat ini, klasifikasi masyarakat semakin terang dan jelas bagi Imam Hasan as.

Dari Basrah dan para loyalis Utsman tentu tidak dapat diharapkan karena mereka tentu tidak akan melepaskan Muawiyah begitu saja. Khawarij juga sekiranya mereka membantu tentunya bukan tanpa pamrih, apa lagi pada masa-masa sebelumnya mereka hanya berkata-kata sederhana dan menurutnya mereka ingin melenyapkan kemungkaran, sekarang juga menghendaki pemerintahan dan khilafah. Satu-satunya pendukung yang dapat diandalkan adalah orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai Syiah. Namun kebanyakan kesyiahan mereka hanyalah klaim dan hanya dipermukaan; sebagaimana ayahnya, Imam Ali as, mereka memanggilnya dari Hijaz ke Irak akan tetapi mereka malah meninggalkannya. Entah mereka berhadap-hadapan dengan Imam Ali as atau bersikap hipokrit di hadapan Imam Ali as. [2]

Tentu saja masyarakat sebagaimana mereka, tidak dapat diharapkan bisa berlaku baik kepada putranya (Imam Hasan). Namun meskipun demikian, tetap terdapat orang-orang yang tulus dan Syiah sejati yang merupakan penolong hakiki Imam Hasan as an ayahandanya. Sayang, karena kepolosan dan keluguan mereka, sehingga acapkali termakan tipuan dan menjadi obyek muslihat Muawiyah. Karena mereka tidak menyangka bahwa boleh jadi seluruh sisi, geliat dan gejolak mereka adalah untuk dunia bukanlah untuk meraih keridhaan Allah swt. [3]

Pendahuluan Perang

Dari sisi lain, pada hari-hari seperti itu Muawiyah tidak tinggal diam. Antek-antek Muawiyah, penguasa Suriah telah menggalang kekuatan dan konspirasi di Hijaz, Yaman, Mesir dan bahkan di dalam Irak sendiri.

Mereka mendekati para kepala suku dan pembesar kabilah dengan menyogok atau membunuh mereka, menebarkan rumor, berita-berita dusta dan menyebarkan di negeri yang mudah menerima kabar-kabar dusta seperti Irak. Melakukan penjarahan di kota-kota perbatasan dan menakut-nakuti penduduk kampung. Membuat berita-berita burung terkait dengan kedermawanan dan kemurahan hati Muawiyah serta kelihaiannya mengelola pemerintahan. Kesemua ini menjadi alat bagi Muawiyah untuk memuluskan langkahnya untuk berkuasa di Irak. [4]

Muawiyah dengan laskarnya sampai di Irak dan berdiam di suatu tempat yang bernama Maskin. Imam Ali as telah menyiapkan laskar untuk menyerang Syam. Pasukan yang disiapkan ini seharusnya menunaikan tugas mereka, namun siapakah yang menjadi panglima perang ketika itu? Qais bin Sa'ad bin Ubadah atau Ubaidillah bin Abbas? Qais telah bersiap-siap untuk berangkat menuju Syam sementara Hasan as bertolak ke Madain. Namun setiap harinya terjadi pergolakan baru di kamp. Suatu hari orang-orang memberitakan bahwa mereka telah membunuh Qais. Dengan tersebarnya berita kematian Qais ini kerusuhan terjadi di tengah pasukan yang sedianya harus berangkat ke Syam. [5]

Orang-orang datang menyerbu ke tenda imam mereka dan menjarah apapun yang terdapat di tenda itu sedemikian sehingga mereka menarik karpet dari bawah kakinya dan menyerangnya tatkala ia pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat berlindung dan melukai pahanya dengan sebuah pacul. Al-Thabari menulis, "Hari ketika orang-orang menjarah kemah Hasan as dan pergi ke rumah Sa'ad bin Mas'ud Tsaqafi (paman Mukhtar). Sa'ad adalah penguasa kota Madain yang diangkat oleh Imam. Mukhtar ketika itu masih muda. Katanya kepada Sa'ad: "Engkau ingin memperoleh harta dan kemuliaan?" "Bagaimana?" "Tangkaplah Hasan dan serahkan kepada Muawiyah. Mintalah apapun yang engkau inginkan!" "Laknat Allah swt ke atasmu! Alangkah kejinya dirimu! Bagaimana mungkin keturunan putri Nabi Muhammad saw saya serahkan kepada musuh." [6]

25 Tahun kemudian, Mukhtar lah yang menjadi orang terdepan di Kufah yang memimpin perlawanan melawan Bani Umayyah. Boleh jadi para penukil sejarah kemudian (pendukung Ibnu Zubair) melemparkan tuduhan tersebut kepada Mukhtar, meski boleh jadi nukilan sejarah itu ada benarnya; namun bagaimanapun di sela-sela laporan sejarah, satu hal yang pasti, terdapat sebuah hakikat yang senantiasa ada pada setiap perjuangan dan pergolakan atau revolusi semenjak dulu hingga sekarang.

Dan hakikat itu adalah bahwa pada masa-masa tersebut di Kufah terdapat sekelompok orang yang tinggal dan hanya memikirkan keuntungan pribadinya ketimbang kemaslahatan kaum Muslimin. [7] Imam Hasan as dengan melihat adanya penolakan bahkan pembangkangan dari orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai sahabatnya, menyimpulkan bahwa mengusung perlawanan melawan Muawiyah tidak memberikan hasil yang berguna. Tentu saja jika ia tetap bersisih kukuh dan gigih melawan Muawiyah dan menginstruksikan kepada laskar (sekiranya ada laskar yang tetap bertahan di sampingnya) untuk bergerak maju maka sebelum sampai Madain mereka pasti kabur dan bahkan pekerjaan yang diusulkan oleh Mukhtar dan ditawarkan kepada pamannya kemudian pamannya tidak menerima, akan mereka kerjakan dan menyerahkan Imam Hasan as kepada musuhnya. Sehingga dengan demikian, pada akhirnya Imam Hasan menyepakati perjanjian damai dengan Muawiyah. [8]

Tempat dan Waktu Perjanjian Damai

Perjanjian damai ditandatangani di daerah bernama Maskin dan di daerah ini dihadiri oleh banyak orang dari Syam. Peraturan perjanjian damai diumumkan dan dijalankan. [9]Baqir Syarif Qarasyi dalam Hayāt al-Hasan berkata, "Terdapat perbedaan pendapat terkait dengan kapan perdamaian ini dilaksanakan sebagaimana masa perjanjian damai dan pelaksanaannya, ada yang menyebut Rabiul Awwal tahun 41 H/662, juga ada yang menyebut Rabiul Akhir dan Jumadil Awal." [10]

Surat Perjanjian Damai

Sejak hari penyusunan surat perjanjian hingga hari tercatatnya perjanjian itu dalam kitab telah berlangsung lebih dari 200 tahun lamanya. Dalam masa ini, Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah, demikian juga kelompok-kelompok politik-mazhab sepanjang yang mereka bisa, mengotak-atik sanad perjanjian ini dan sanad-sanad lainnya masing-masing untuk kepentingan dan keuntungan mereka sendiri. Dan sebaliknya sedapat mungkin direkayasa untuk menghabisi lawan-lawan politik mereka. Mau-tak-mau untuk mengkaji hal ini maka harus disebutkan beberapa indikasi eksternal. [11]

Al-Thabari menulis, "Pertama-tama Muawiyah mengirim sebuah kertas putih (kertas kosong) yang berstempel di akhir surat kepada Imam Hasan as sehingga apapun yang diinginkannya ditulis dan Muawiyah akan menerima apa pun isi tulisan itu. Namun sebelum surat ini sampai di tangan Imam Hasan as, ia menulis syarat-syaratnya dan mengirimnya kepada Muawiyah. Karena kertas putih kosong yang telah dibubuhi stempel oleh Muawiyah telah sampai di tangan Imam Hasan as, ia menuntut beberapa hal lainnya lebih dari apa yang tertulis di surat itu, namun Muawiyah tidak menerimanya." [12]

Apa yang ditulis oleh al-Thabari ini juga disebutkan oleh Ibnu Atsir dalam kitabnya. [13] Dalam menganalisa catatan al-Thabari di atas, Syahidi menulis, "Pastinya kisah ini dibuat-buat oleh sejarawan masa Bani Umayah atau mereka memutarbalikkan fakta dan menambah-nambah di dalamnya. Bagi orang-orang yang tanpa tendensi meneliti kehidupan Hasan bin Ali as mengetahui dengan baik dan terlepas dari posisi imamah yang diyakini Syiah bahwa Hasan bin Ali as adalah seorang yang terhiasi dengan sifat sosial yang tinggi dan berbudi pekerti yang luhur. Tatkala berdamai dengan Muawiyah, ia tahu betul bahwa berkonfrontasi senjata dengan Muawiyah hasilnya tidak lain tumpahnya darah banyak orang dan kemenangan final berada di tangan Muawiyah. Ia bukanlah seorang pragmatis yang ingin mengambil keuntungan dengan mengecoh pembeli dan tatkala melihat kondisi pasar sedang booming yang dapat memberikan keuntungan lebih banyak untuk dirinya maka ia ingin menaikkan harganya. Sedemikian ia sangat memperhatikan masyarakat sehingga musuhnya sekalipun memberi pengakuan atas etos sosial yang dimilikinya.” [14]

Sekiranya kisah kertas putih yang berstempel Muawiyah yang dikirim ke Imam Hasan as itu ada benarnya maka harus dikatakan bahwa karena Imam Hasan telah menyatakan syarat-syaratnya dan mengembalikannya kepada Muawiyah, setelah Muawiyah berhasil mencapai apa yang diharapkannya dan meninggalkan perang karena tidak satu pun dari syarat-syarat perjanjian yang dijalankan, ia membuat berita dusta dan menyebarkannya ke mana-mana. [15]

Yang lebih mengherankan lagi adalah al-Thabari menulis sebagian dari surat perjanjian damai itu yang lebih cocok dengan mitos dan lelucon ketimbang sebuah riwayat sejarah apatah lagi ingin mengungkap sebuah fakta sejarah. [16]

Sebagian sejarawan menulis, "Imam Hasan dengan syarat yang telah diajukan memberikan baiat kepada Muawiyah dengan syarat Muawiyah menyerahkan 50 ribu Dirham yang terdapat di baitul mal Kufah dan juga pajak dari Persia serta tidak lagi melaknat Ali as di mimbar-mimbar. Muawiyah tidak menerima syarat terkahir ini dan telah ditetapkan di hadapan Hasan mereka tidak melaknat Ali. Adapun pajak itu dicatat oleh orang-orang Basrah dan mereka berkata bahwa harta ini adalah fai kami." [17]

Syahidi dalam menganalisa riwayat-riwayat sejarah semacam ini menulis: "Sejarawan ini sama sekali tidak memperhatikan bahwa apabila Hasan sedemikian mudah berdamai dengan Muawiyah karena urusan harta maka pengikutnya atau ia sendiri tidak akan membiarkannya hidup atau sedemikian ia berkata-kata tentangnya sehingga ia tidak lagi akan menampakkan dirinya di perkampungan kaum Muslimin. Lalu Kufah di mana? Pajak orang-orang Persia di mana? Memangnya Hasan tidak dapat meminta nilai nominal harta itu dari baitul mal Syam? Memangnya Muawiyah pelit dalam urusan ini? Lantas syarat-syarat asasi yang karenanya surat perjanjian damai itu ditulis dimana gerangan berada? Mengapa Thabari tidak menyebutkannya?" [18]

Kebalikan dari sanad-sanad buatan ini, kita memiliki sanad lainnya yang menyingkap fakta yang sebenarnya dan menunjukkan para sejarawan era Bani Umayah dan Bani Abbasiyah bilamana kenyataan menguntungkan Ahlulbait Nabi saw maka mereka akan tinggalkan atau tutupi. Tulisan al-Baladzuri yang lebih awal ketimbang al-Thabari nampaknya lebih cocok dan sesuai dengan kenyataan yang ada. [19]

Isi Perjanjian Damai

Al-Baladzuri menulis, “Muawiyah mengirimkan kertas kosong yang berstempel kepada Imam Hasan as untuk menuliskan apa saja yang diinginkannya dan Imam Hasan menulis, “Ini adalah surat perjanjian damai antara Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan yang sepakat berdamai dan menyerahkan urusan kaum Muslim kepadanya. Dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Hendaknya Muawiyah bertindak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
  2. Tidak melantik seseorang untuk menjadi khalifah dan setelahnya urusan khilafah diselesaikan dengan permusyaratan kaum Muslimin.
  3. Orang-orang dimanapun berada, harta, jiwa dan anak-anaknya berada dalam keadaan aman.
  4. Muawiyah tidak boleh merongrong Hasan as secara diam-diam ataupun terang-terangan atau menakut-nakuti pengikutnya.

Abdullah bin Harits dan Amr bin Salmah menjadi saksi atas surat perjanjian damai ini. [20]

Ibnu Hajar menyebutkan isi perjanjian damai ini sebagai berikut: Surat ini adalah perjanjian damai yang disepakati oleh Hasan bin Ali ra dan Muawiyah. Hasan berdamai dengan Muawiyah dan menyerahkan urusan kaum Muslimin kepadanya dengan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Hendaknya Muawiyah bertindak sesuai dengan Al-Quran, Sunnah Nabi dan sirah Khulafaur Rasyidin.
  2. Muawiyah tidak berhak untuk menentukan seorang pun untuk menduduki khilafah dan setelahnya urusan khilafah diselesaikan dengan permusyaratan kaum Muslimin..
  3. Orang-orang dimanapun berada, di Suriah, Irak, Hijaz, atau Yaman berada dalam keadaan aman.
  4. Sahabat Ali as dan Syiahnya, di mana pun mereka berada, maka harta, jiwa dan anak-anaknya berada dalam keadaan aman.
  5. Muawiyah bin Abi Sufyan akan memikul tanggung jawab atas perjanjian yang telah disepakati dan tidak menimbulkan persoalan bagi Hasan bin Ali atau saudaranya atau salah satu dari Ahlulbait Nabi saw baik secara diam-diam atau pun terang-terangan dan tidak menakut-nakuti mereka di mana pun mereka berada.

Fulan dan fulan yang menjadi saksi atas perjanjian ini dan cukuplah Allah swt menjadi saksi. [21]

Para Penentang Perdamaian

Hujr bin Adi, Adi bin Hatim, Musayyab bin Nujabah, Malik bin Dhamrah, Sufyan bin Abi Dalil, Basyir Hamadani, Sulaiman bin Shurad, Abdullah bin Zubair, Abu Sa'id, Qais bin Sa'ad adalah para sahabat Imam Hasan as yang menentang perdamaian ini dan percakapan mereka dengan Imam Hasan as tercatat dan terekam dalam literatur-literatur sejarah. [22]

Dalil-dalil Perdamaian Imam Hasan dengan Muawiyah

Menjaga Keselamatan Diri dan Orang-orang Syiah

Syiah khusus Amirul Mukminin kebanyakan telah gugur sebagai syahid pada Perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan. Akibat dari peperangan ini hanya segelintir dari mereka yang masih hidup. Sekiranya perang meletus, dengan mempertimbangkan kelemahan warga Irak, tentu saja Imam Hasan as dan Syiahnya akan menderita kekalahan yang tidak dapat dikompensasi, lantaran Muawiyah akan menghabisi mereka semua. "Saya pergi ke hadapan Imam Hasan as dan berkata kepadanya, "Wahai putra Rasulullah! Meski Anda tahu bahwa Anda di pihak yang benar mengapa Anda sudi berdamai dengan Muawiyah yang sesat dan jahat?'" Ungkap Abi Sa'id 'Aqisha. "Apabila saya tidak melakukannya (berdamai) maka tidak akan ada tersisa dari Syiahku di muka bumi. Mereka akan membunuh semuanya." Jawab Imam Hasan as.[23] Ada seseorang yang mengatai Imam Hasan as dengan kalimat "Ya Mudzilla al-Mu'minin." "Saya bukanlah orang yang menghinakan orang-orang beriman melainkan saya memberikan mereka kemuliaan. Karena tatkala saya melihat kalian (orang-orang Syiah) tidak memiliki kemampuan untuk berhadap-hadapan dan bertahan melawan lasykar Syam, maka saya menyerahkan urusan pemerintahan, yang dengan itu saya dan kalian tetap dapat bertahan hidup." Sanggah Imam Hasan as. "Sebagaimana seorang pandai, menyelamatkan sebuah bahtera sehingga pemilik dan penumpangnya dapat selamat. Kisah saya dan Anda demikian adanya, sehingga kita tetap bertahan hidup di antara musuh-musuh dan para penentang." [24] Imbuh Imam Hasan. Atau dalam hadis yang lain, Imam Hasan as berujar, "Demi Allah! Apa yang saya lakukan lebih baik untuk Syiahku dan lebih banyak manfaatnya daripada terbit dan terbenamnya matahari." [25]

Pasca peristiwa perdamaian, Hujr bin Adi datang kepada Imam Hasan as dan menyampaikan protes kepadanya. "Engkau telah menghitamkan wajah orang-orang beriman?" Sahut Hujr. "Tidaklah demikian. Setiap orang tidak semuanya berpikiran sebagaimana pikiranmu. Apa yang saya kerjakan adalah demi menjaga keselamatan jiwa dan supaya kamu tetap bertahan hidup." Jawab Imam Hasan as.[26]

Tiadanya Sokongan dari Masyarakat

Untuk menguji kesiapan masyarakat dalam berperang menghadapi Muawiyah, Imam Hasan berkata, "Apabila kalian siap perang dan menolak untuk berdamai, dengan bersandar pada pedang, kita sandarkan urusannya kepada Allah swt; namun apabila kalian memilih untuk tinggal, kita menerima berdamai dengannya dan kita akan memilih opsi damai." Dalam kondisi seperti ini, dari pelbagai sudut masjid orang-orang berseru dengan suara lantang, "Al-Baqiyah...al-Baqiyah..(tinggal..tinggal)" Mereka menandatangani perjanjian damai. [27]

Syaikh al-Mufid dalam al-Irsyad berkata; "Sudah menjadi jelas bagi Imam Hasan as bahwa masyarakat meninggalkannya sendiri. Adapun Khawarij karena permusuhan dan menganggap bahwa Imam Hasan itu kafir menjadi semakin buruk dan menilai darahnya halal untuk ditumpahkan, hartanya dijarah, selain mereka terdapat orang yang pikiran-pikiran kotornya membuat Imam Hasan as agak tenang, enggan bertahan untuk membelanya kecuali sedikit saja yang merupakan dari kerabatnya yang merupakan Syiah ayahnya atau Syiah Imam Hasan sendiri. Dan mereka ini jumlahnya sedikit yang tidak berdaya untuk dihadap-hadapkan dengan lasykar Syam yang memiliki kekuatan penuh dan dalam jumlah yang jauh lebih besar. [28]

Sulaim bin Qais al-Hilali berkata, "Karena Muawiyah datang ke Kufah, Imam Hasan as bangkit di hadapannya dan mendatangi mimbar. Setelah mengucapkan tahmid dan pujian kepada Allah swt, beliau bersabda, "Demi Allah! Sekiranya masyarakat berbaiat kepadaku, menaatiku dan menolongku, maka langit akan menurunkan hujan untuk mereka dan bumi akan membagikan keberkahannya. Dan engkau Muawiyah sekali-kali tidak akan pernah bersikap tamak terhadap pemerintahan."[29]

Selagi berkhutbah tentang tidak adanya dukungan masyarakat dan ketiadaan sahabat-sahabat yang setia, Imam Hasan mengungkapkan, "Sekiranya kami menemukan penolong dan pembantu, kami tidak akan menyerahkan pemerintahan kepada Muawiyah. Karena pemerintahan haram bagi Bani Umayah."[30] Atau dalam menjawab seseorang yang memprotes perjanjian damai, Imam Hasan berkata, "Saya menyerahkan urusan pemerintahan kepada Muawiyah karena tidak memiliki para penolong untuk berperang dengannya. Sekiranya memiliki penolong, maka siang dan malam saya akan bertempur dengannya hingga menyudahi segala urusan dengannya."[31]

Menghindari Pertumpahan Darah

Imam Hasan as dalam sebuah pidatonya terkait dengan sebab perdamaian dengan Muawiyah menjelaskan, “Saya memutuskan untuk berdamai dan mengumumkan gencatan senjata. Saya melihat, mencegah pertumpahan darah lebih baik dan tujuan saya adalah demi kebaikan kalian dan supaya kalian tetap dapat bertahan hidup.”[32] Atau dalam penjelasan lain, Imam Hasan as mengungkapkan, “Sesungguhnya otak orang-orang Arab berada di tangan saya. Mereka berdamai dengan siapa saja yang saya ajak berdamai dan berperang dengan siapa saja yang saya perangi, namun demi keridhaan Tuhan dan menjaga darah kaum Muslimin saya tinggalkan itu semua.” [33]

Dalam menjawab protes Sulaiman bin Shurad, Imam Hasan as berkata, “Saya melihat sesuatu selain yang engkau lihat. Dan terkait dengan apa yang telah saya lakukan tidak lain kecuali untuk menghindari pertumpahan darah.” [34]

Demikian juga dalam penjelasan lain disebutkan, “Saya melihat lebih baik menghindari tumpahnya darah kaum Muslimin ketimbang harus berperang.”[35] Usai perjanjian damai, Muawiyah meminta Imam Hasan untuk ikut serta berperang melawan Khawarij, namun ia menolak ajakan itu. Dalam menjawab surat Muawiyah, Imam Hasan menulis, “Wahai Muawiyah! Sekiranya saya ingin berperang dengan Ahlulkiblah maka pertama yang saya perangi adalah kamu. Namun saya telah menarik tangan darimu dan demi kemasalahatan umat Islam serta menjaga darah kaum Muslimin saya mengalah darimu.”[36]

Menjaga Agama

Salah satu sebab penting perdamaian Imam Hasan yang dapat dijelaskan adalah demi menjaga agama, karena kondisi masyarakat Islam berada di ambang jurang kebinasaan sedemikian sehingga apabila berperang dengan Muawiyah maka pokok agama akan tercerabut dari akarnya. Lantaran perang dengan Muawiyah bukan hanya tidak bermanfaat bagi orang-orang Kufah dan juga tidak mendatangkan keuntungan bagi orang-orang Syam, bahkan peluang pasukan militer Roma yang telah bersiaga untuk menyerang akan terbuka lebar.

Ya'qubi menulis, “Muawiyah pada tahun 41 H, kembali ke Syam dan tatkala mendapatkan berita pasukan Romawi dalam jumlah besar tengah mempersiapkan perang. Oleh itu, ia mengutus seseorang ke kemah panglima perang Roma dan menyerahkan seratus ribu Dinar sehingga ia dapat berdamai dengan pasukan Romawi.”[37]

Dari sisi lain, masyarakat dari sisi budaya berada dalam sebuah situasi sehingga apabila terjadi pertumpahan darah dan meletus api peperangan yang akan melahirkan sikap pesimistik terhadap agama dan segala yang disakralkan. Boleh jadi berdasarkan hal ini Imam Hasan mengungkapkan bahwa salah satu alasannya berdamai adalah demi menjaga agama, “Saya kuatir akar kaum Muslimin akan tercerabut dari tanah dan tiada yang tersisa dari mereka; karena itu surat perjanjian damai yang saya sepakati itu adalah supaya agama dapat terjaga.” [38]

Perasaan Letih Masyarakat dari Perang

Kaum Muslimin, selang beberapa tahun semenjak masa hijrah Rasulullah ke Madinah dan membentuk pemerintahan Islam, di samping ghazawat (perang yang diikuti oleh Rasulullah saw secara langsung) dan sariyyah (Rasulullah saw tidak ikut dalam perang), pada masa tiga khalifah juga harus menghadapi tiga perang panjang dengan Roma, Persia dan sebagian kaum serta bangsa-bangsa di sekeliling Jazirah Arab. Demikian juga pada masa khilafah Imam Ali bin Abi Thalib juga, mereka harus mengalami tiga perang saudara besar.

Dengan demikian, mental militer dan kesiapan perang tidak begitu mendukung kecuali beberapa gelintir Syiah sejati dan para pemuda yang gemar berperang, selebihnya lebih memilih untuk selamat dan menunjukkan kerelaan pada kondisi yang ada. Atas dasar itu, “Tatkala Imam Hasan as dan sahabat terdekatnya seperti Hujr bin Adi dan Qais bin Sa'ad Anshari menyeru dan memobilisasi orang-orang untuk hadir di kamp militer, hanya sedikit orang yang menjawab seruan itu dan sebagian besar lainnya tidak mengindahkan seruan itu.” [39]

Imam Hasan berkata kepada orang-orang yang memberikan baiat kepadanya dan memberikan janji untuk membantu, “Sekiranya kalian jujur dengan ucapan kalian, maka tempat pertemuan kita adalah di kamp militer Madain. Karena itu, di situlah kalian nanti bergabung dengan saya.” Setelah itu, Imam Hasan as bergerak ke Madain. Mereka yang memang niat untuk turut serta dalam perang, ikut bergerak bersama Imam Hasan as namun banyak di antara mereka yang melanggar dan tidak setia dengan apa yang tadinya mereka ikrarkan di hadapan Imam Hasan as. Mereka telah menipu Imam Hasan sebagaimana sebelumnya mereka juga berhasil menipu Imam Ali as. [40]

Dalam mengecam lasykar yang tadinya menyatakan siap membantu, Imam Hasan berkata, “Alangkah anehnya bangsa yang tidak memiliki rasa malu dan juga tidak memiliki agama. Jika saya menyerahkan urusan pemerintahan kepada Muawiyah maka demi Allah tidak akan ada kelapangan yang akan kalian dapatkan pada pemerintahan Bani Umayah. Demi Allah! Mereka akan menghajar dan mengazab kalian sekejam-kejamnya.” [41] Atau dalam pidato lainnya, Imam Hasan mengungkapkan, “Saya melihat mayoritas kalian ingin berpaling dari perang dan kalian tidak bersemangat. Dan saya tidak akan memaksakan atas apa yang kalian tidak senangi.” [42]

Bahaya Khawarij

Ibnu Arabi, penulis Ahkam al-Qur'an berkata, "Salah satu sebab perdamaian Imam Hasan Mujtaba as adalah bahwa ia melihat Khawarij telah mengepung sekelilingnya dan tahu bahwa apabila ia (Imam Hasan) melanjutkan perang melawan Muawiyah dan sibuk dalam peperangan itu, maka Khawarij akan menguasai negeri-negeri Islam dan berkuasa atasnya. Apabila Imam Hasan angkat senjata berperang melawan Khawarij dan sibuk untuk menuntaskan dan memenangi peperangan itu, maka Muawiyah yang akan menguasai negeri-negeri Islam." [43]

Laskar Yang Tidak Berimbang

Syaikh al-Mufid dalam al-Irsyad menulis, "Dalam menyertai Imam terdapat beragam jenis masyarakat. Sekelompok Syiahnya, Syiah ayahnya, sekelompok hakamiyat (Khawarij) yang dengan segala muslihat ingin berperang dengan Muawiyah, sekelompok pendukung anarkis, orang-orang yang tamak terhadap rampasan perang dan sebagian orang-orang peragu serta para loyalis kabilah yang mengikut pada kepala-kepala suku. Terang kebanyakan kelompok ini motivasinya bukan berdasarkan agama."[44]

Pasukan yang terdiri dari beberapa unsur tersebut di hadapan setiap ancaman akan terpecah menjadi dua bagian dan mereka akan beralih memerangi panglima mereka. "Khawarij bersama Hasan namun untuk menciptakan fitnah. Mereka pergi ke medan jihad namun dengan niat fasad (merusak)." [45]

Dalam menjawab seseorang yang memprotes perjanjian damai itu, Imam Hasan as menjelaskan faktor-faktor dan sebab-sebab mengapa ia memutuskan demikian, "Warga Irak adalah orang-orang yang siapa pun yang mempercayai mereka akan kalah karena tidak satu pun dari mereka yang dapat sepakat dalam pikiran dan keinginan satu sama lain. Tidak dalam kebaikan juga tidak dalam keburukan, mereka tidak pernah sampai pada keputusan final." [46]

"Imam Hasan as tidak ada pilihan lain kecuali menerima perdamaian dan tidak mengangkat senjata karena para pengikutnya adalah orang-orang yang lemah dan minim akidah terhadap Imam Hasan. Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah mereka menentangnya dan kebanyakan dari mereka memandang halal membunuh Imam Hasan dan menyerahkannya kepada musuh. Sebagai contoh putra pamannya sendiri Ubaidillah bin Abbas menarik diri dan bergabung dengan musuh dan secara umum masyarakat Irak adalah orang-orang yang memantapkan hatinya pada dunia dan melupakan kenikmatan-kenikmatan akhirat." [47]

Di antara lasykar yang nampak taat kepada Imam Hasan adalah sekelompok dari para kepala suku secara diam-diam menulis surat kepada Muawiyah: Kami ikut dan menaati perintah Anda. Kami akan memprovokasinya untuk berangkat untuk menemui Anda. Kami akan memikul tanggung jawab untuk menyerahkan Imam Hasan tatkala Muawiyah mendekat kepada laskar Imam Hasan dan kemudian menghabisinya.” [48] Zaid bin Wahab Jahani berkata, "Tatkala mereka menikam Imam Hasan dan di Madain di rawat dan menderita sakit, ia pergi membesuk Imam Hasan dan berkata, "Keputusan apa yang Anda akan ambil karena orang-orang pada bingung dan tidak tahu harus berbuat apa?". Menjawab pertanyaan ini, Imam Hasan menjawab, "Demi Allah! Bagiku Muawiyah lebih baik daripada mereka yang beranggapan sebagai Syiahku. Mereka membuat rencana untuk membunuhku, menjarah barang-barangku dan membawa hartaku."[49]

Nasib Surat Perjanjian Damai

Paska perjanjian damai, Muawiyah berpidato di Masjid Kufah dan mengumumkan bahwa segala syarat yang saya harus penuhi terhadap Hasan akan saya injak-injak dan tetap akan mencaci maki Imam Ali as serta tidak akan menghormati Imam Hasan as. Mendengar hal ini, Imam Hasan as bangkit dan menyampaikan khutbah berapi-api dan lumayan panjang menanggapi pidato Muawiyah.[50]

Terkait dengan butir pertama perjanjian damai; meski Imam Hasan tertekan dari para sahabat dan orang-orang yang loyal terhadapnya, tetap setiap dengan perjanjian yang telah dibuatnya sementara ia sebenarnya bebas sekiranya ingin mengubah syarat-syaratnya, karena penyerahan khilafah itu bersyarat dan Muawiyah sama sekali tidak menepati syarat-syarat yang telah disepakati. "Menyandarkan zina pada nasab, mengerjakan salat Jum'at pada hari Rabu, [51] meniadakan hudud Ilahi, membolehkan riba, azan pada hari Id, khutbah sebelum salat id, zakat pada pemberian ('athaya), bersikap cabul, tanpa malu dan membuat hadis palsu" [52] merupakan bidah-bid'ah yang bertentangan dengan sunah yang dilakukan Muawiyah. Muawiyah dengan mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah telah melanggar butir kedua dari perjanjian.[53]

Terkait dengan kesetiaan pada butir ketiga perjanjian damai; Muawiyah tahu bahwa pemerintahannya akan tegak dengan cacian dan balas dendam kepada Imam Ali. Orang-orang yang bekerja untuk Muawiyah sedemikian kukuh membenci Imam Ali as sehingga mereka menganggap bagian dari salat Jumat. Siapa pun yang tidak melakukan hal ini maka akan dilengserkan dari jabatannya. [54]

Bertentangan dengan butir keempat perjanjian damai, Warga Basrah dicegah untuk menyerahkan pajak kepada Imam Hasan dan (antek-antek Muawiyah) menyatakan, "Harta ini adalah milik kami."[55] Mereka mengklaim bahwa "Perbuatan ini dilakukan sesuai dengan instruksi Muawiyah." [56]

Bertentangan dengan butir keempat lima perjanjian, Muawiyah mengirimkan surat edaran ke seluruh bawahan dan gubernurnya di negeri-negeri Islam dan dalam surat edaran itu ia menulis, "Ketahuilah siapa pun yang terbukti mencintai Ali maka namanya harus dihapus dari daftar gaji dan rezekinya dipotong." Muawiyah melampirkan surat lagi pada surat edaran dan menginstruksikan siapa pun yang tertuduh memiliki hubungan dengan kelompok ini supaya dijebloskan ke penjara dan rumahnya dihancurkan. [57]

Muawiyah berulang kali berencana untuk membunuh Imam Hasan as[58] dan pada akhirnya dengan memberikan janji muluk-muluk kepada Ja'dah istri Imam Hasan, Muawiyah berhasil menipunya. Ja'dah berhasil membunuh Imam Hasan dengan membubuhi racun pada makanannya.[59] Dengan kesyahidan Imam Hasan, Muawiyah melanggar dan menginjak-injak butir terakhir perjanjian yang telah disepakatinya dengan Imam Hasan.

Buku-buku yang Menulis tentang Perjanjian Damai Imam Hasan

کتاب صلح الحسن.jpg

Sebagian buku yang langka ditemukan yang menulis tentang perjanjian damai Imam Hasan as. Di antara buku-buku itu adalah sebagai berikut:

  • Sulh al-Hasan wa Muawiyah, karya Ahmad bin Muhamamd bin Sa'id bin Abdur-Rahman al-Sab'i al-Hamadani, wafat 333 H.
  • Sulh al-Hasan Alaihi al-Salam, karya, Abdur-Rahman bin Katsir al-Hasyimi.
  • Qiyam al-Hasan Alaihi al-Salam, karya Ibrahim bin Muhammad Sa'id bin Hilal bin Ashim bin Sa'ad bin Mas'ud bin Mas'ud al-Tsaqafi, wafat 282 H.
  • Qiyam al-Hasan Alaihi al-Salam, karya Hisyam bin Muhammad bin Al-Sa'ib.
  • Kitab Abdul-‘Aziz bin Yahya al-Jaludi al-Bashri, tentang peristiwa Hasan as.
  • Akhbar al-Hasan Alaihi al-Salam, karya Haitsam bin Adi al-Tsa'labi, wafat 207 H.
  • Akhbar al-Hasan Alaihi al-Salam, karya Abi Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Isfahani al-Tsaqafi. [60]

Untuk Telaah Lebih Jauh

  • Zendegani Imam Hasan as, Baqir Syarif al-Qarasyi, Penerjemah: Fakhruddin Hijazi, Intisyarat Bi'tsah.
  • Hayat Fikri wa Siyasi Imaman Syi'ah, Rasul Ja'fariyan, Intisyarat Ansariyan.
  • Tahlili az Zendegani Siyasi Imam Hasan Mujtaba As, Sayid Ja'far ‘Amili, Terjemah Muhammad Sepehri, Intisyarat Daftar Tablighat Islami, Hauzah Ilmiah Qum.
  • Sulh al-Hasan, Terjemah Sayid Ali Khamenei, Intisyarat Gulsyan, Cetakan Ketigabelas.
  • Danesynameh Imam Hasan Mujtaba,Hauzah Net.

Catatan Kaki

  1. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 158.
  2. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 158.
  3. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 158.
  4. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 158-159.
  5. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 159.
  6. Al-Thabari, Tārikh al-Rusul wa al-Wuluk (Tarikh Thabari), jld. 7, hlm 2, 1881 M; Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 404, 1385 H; Sesuai nukilan dari Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 159.
  7. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 159.
  8. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 160.
  9. Baqir Syarif Syarifi, Hayāt al-Hasan, hlm. 471.
  10. Baqir Syarif Qarasyi, Hayat al-Hasan, hlm. 471.
  11. Syahidi, Tārikh Tahlili Islām, hlm. 160.
  12. Thabari, Tārikh al-Rusul wa al-Wuluk (Tārikh Thabari), jld. 7, hlm 2, 1881 M; Sesuai nukilan dari Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 160.
  13. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 405, Dar Shadir, 1385 H; Sesuai nukilan dari Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 160.
  14. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 160-161.
  15. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 161.
  16. Syahidi, Tārikh Tahlili Islām, hlm. 161.
  17. Lihat, Tārikh Thabari, Peristiwa-peristiwa Tahun 40; Ibnu Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 405 dan juga Tarikh Islam karya Fayyadh; Sesuai nukilan Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 161.
  18. Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 161.
  19. Syahidi, Tārikh Tahlili Islām, hlm. 161-162.
  20. Al-Baladzuri, Ansābul Asyrāf, jld. 3, hlm. 41-41, Dar al-Ta'arif, 1397 H; Sesuai nukilan Syahidi, Tārikhe Tahlili Islām, hlm. 162.
  21. Ibnu Hajar Haitammi, al-Shawāiq al-Muhriqah, hlm. 136, Maktabah al-Qahirah, Kairo, 1385 S; lihat juga, Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balāghah, Diedit oleh Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, hlm. 44, jld. 16, Matb'ah ‘Isa al-Babi, Kairo, 1385 H; juga lihat, Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Alu Abi Thalib, Taus'eh Intisyarat Allamah, Tanpa Tahun; Sesuai nukilan Syahidi, Tārikh Tahlili Islām, hlm. 162.
  22. Baqir Syarif Qarasyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 499-507
  23. Syaikh as-Shaduq, 'Ilal al-Syarā'i, jld. 1, hlm. 211.
  24. Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 75, hlm. 287.
  25. Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 44, hlm. 19.
  26. Syarif Murtadha, Tanzih al-Anbiya, hlm. 170.
  27. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 406.
  28. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 10.
  29. At-Thabrisi, al-Ihtijāj, jld. 2, hlm. 289.
  30. Ar-Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld. 2, hlm. 576.
  31. at-Thabrisi, al-Ihtijāj, jld. 2, hlm. 291.
  32. Al-Arbili, Kasyful Ghummah, jld. 1, hlm. 571.
  33. Al-Arbili, Kasyful Ghummah, jld. 1, hlm. 523.
  34. Ar-Rawandi, Tanzih al-Anbiya, hlm. 172.
  35. At-Thabrisi, al-Ihtijāj, jld. 1, hlm. 282.
  36. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 409.
  37. Ya'qubi, Tārikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 144-145.
  38. Baqir Syarif Qarasyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 35.
  39. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 6.
  40. Ar-Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld. 2, hlm. 574.
  41. Ar-Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld. 2, hlm. 576.
  42. Ad-Dinawari, Akhbār al-Thiwāl, hlm. 220.
  43. Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur'ān, jld. 3, hlm. 152.
  44. Radhi Alu Yasin, Shulh al-Hasan, hlm. 170.
  45. Radhi Alu Yasin, Shulh al-Hasan, hlm. 177.
  46. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 407.
  47. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 10.
  48. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 9.
  49. At-Thabrisi, al-Ihtijāj, jld. 2, hlm. 290.
  50. Al-Arbili, Kasyful Ghummah, jld. 3, hlm. 341.
  51. Radhi Alu Yasin, Shulh al-Hasan, hlm. 192.
  52. Baqir Syarif Qarasyi, Hayāt al-Hasan, Penerjemah: Hijazi, hlm. 402-410.
  53. Radhi Alu Yasin, Shulh al-Hasan, hlm. 409.
  54. Baqir Syarif Qarasyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 554-555.
  55. Jarir at-Thabari, Tarikh Thabari, hlm. 126.
  56. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 3, hlm. 405.
  57. Baqir Syarif Qarasyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 568.
  58. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 357.
  59. Syaikh al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 13.
  60. Shulh Imam Hasan, Penerjemah: Ayatullah Khamenei, hlm. 32.

Daftar Pustaka

  • Al-'Amili, Tahlil az Zendegi Imām Hasan Mujtaba, Terjemah Sepehri, Intisyarat Daftar Tablgihat, 1418 H.
  • Al-Arbili, Kasyf al-Ghummah, Nasyir Majma Jahani Ahlulbait as, 1426 H.
  • Al-Mufid, al-Irsyād, Terjemah Khurasani, Intisyarat Ilmiyah Islamiyah, 1422 H.
  • Al-Mufid, al-Jamal, Nasyir Maktab al-I'lam al-Islami, 1413 H.
  • At-Thabrisi, al-Ihtijāj, Intisyarat Uswah, 1413 H.
  • As-Suyuthi, Tārikh al-Khulafah, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.
  • Baqir Syarif Qarasyi, al-Hayāt al-Hasan, Terjemah Fakhruddin Hijazi, Intisyarat Bi'tsah, 1418 H.
  • Ja'fariyan, Hayāt Fikri wa Siyasi Imamān Syiah, Intisyarat Ansariyan, 1423 H.
  • Jarir at-Thabari, Tārikh Thabari, Muassasah al-A'lami lil Matbu'ah Beirut, Tanpa Tahun.
  • Radhi Yasin, Shulh al-Hasan, Terjemah Sayid Ali Khamenei, Intisyarat Gulsyan, Cetakan 13, 1420 H.
  • Ya'qubi, Tārikh Ya'qubi, Terjemah Muhammad Ibrahim Ayati, Intisyarat ‘Ilmi wa Farhanggi, 1403 H.
  • Syaikh as-Shaduq, Āmāli, Terjemah Kumrei, 1404 H.
  • Syaikh as-Shaduq, Āmāli, Intisyarat Kitabkhaneh Islami, 1403 H.
  • Syaikh as-Shaduq, ‘Uyūn Akhbār al-Ridhā, Terjemah Ali Akbar Ghaffari, Akhtar Syimal, 1415 H.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Tārikh Tahlili Islām, Tehran, Markaz Nasyr Danesygah, 1432 H.
  • Software Jāmi' al-Ahādits, Naskah 5/3, Markaz Tahqiqat Komputer ‘Ulum Islami Nur.
  • Software Nur al-Sirah 2, Markaz Tahqiqat Komputer ‘Ulum Islami Nur.