Prioritas: aa, Kualitas: b

Fatimah az-Zahra sa

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Fatimah Zahra sa)
Lompat ke: navigasi, cari

Fatimah binti Muhammad
Sayidatu Nisa al-Alamin
Lahir 20 Jumadil Akhir, 8
Tempat lahir Mekah, Arab Saudi
Wafat 3 Jumadil Akhir , 11
Tempat dimakamkan Madinah, Arab Saudi (pusaranya disembunyikan)
Ayah Nabi Muhammad saw
Ibu Khadijah binti Khuwailid
Suami Ali bin Abi Thalib
Putra putri Imam Hasan AsImam Husain asMuhsinZainabUmmu Kultsum
Keturunan Ahlul Bait As
Kunya Ummu Abiha (Ibu ayahnya) • Ummul Aimmah (Ibu para Imam) • Ummul Hasan (Ibu Hasan) • Ummul Husain (Ibu Husain) • Ummul Muhsin (Ibu Muhsin)
Gelar Zahra • Shiddiqah • Radhiyah • Mardhiyah • Mubarakah • Batul

Fatimah (Bahasa Arab:فاطمة سلام الله عليها) putri Nabi Muhammad saw dan Khadijah Kubra Sa adalah istri Imam Ali as dan salah seorang dari 5 Ashabul Kisa'. Bagi orang-orang Syiah, ia merupakan salah seorang dari Empat Belas Manusia Suci. Imam Kedua dan Imam Ketiga Syiah serta Zainab sa adalah anak-anaknya. Batul dan Sayyidatu Nisāil Alamin (penghulu kaum wanita di dunia) termasuk dari julukannya. Dan Ummu Abiha(ibu ayahnya) termasuk dari gelarnya. Fatimah sa, satu-satunya perempuan yang hadir bersama Rasulullah saw pada hari Mubahalah di hadapan kaum kristen Najran.

Dalam peristiwa Saqifah, selain dia menolak hasil keputusan musyawarah Saqifah, juga menilai penggasaban kekhilafahan Abu Bakar dan tidak berbaiat kepadanya. Terkait peristiwa perampasan Fadak dan pembelaan terhadap kekhilafahan Imam Ali as, ia menyampaikan sebuah Khutbah yang dikenal dengan "Khutbah Fadakiyah". Fatimah sa Tak lama setelah Nabi saw wafat, dalam peristiwa penyerangan rumahnya oleh para pendukung khilafah Abu Bakar, mengalami musibah dan jatuh sakit. Dan tak lama setelah itu ia meninggal pada 3 Jumadil Akhir tahun 11 H di Madinah. Jenazah Fatimah sa atas wasiatnya sendiri dimakamkan di malam hari secara sembunyi-sembunyi dan kuburannya tidak pernah terungkap.

Surah Al-Kautsar, ayat Tathir, ayat Mawaddah dan ayat Ith'am serta sejumlah hadis seperti hadis Bidh'ah (بِضعة) dan hadis Laulaka semuanya berkisar mengenai keutamaan yang dimiliki Sayidah Fatimah sa.

Dalam riwayat disebutkan, Nabi Muhammad saw memperkenalkan Fatimah sa sebaik-baik wanita di dua alam dan menyakini bahwa kemurkaan dan keridaannya sebagai kemurkaan dan keridaan Allah swt. Tasbih Fatimah Zahra sa adalah bacaan tasbih yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw kepada puterinya tersebut, demikian pula Mushaf Fatimah adalah kitab yang memuat perkataan-perkataan malaikat utusan Allah swt yang diilhamkan kepada Sayidah Fatimah sa dan ditulis oleh Imam Ali as. Mushaf tersebut berada ditangan Imam-imam maksum As secara bergiliran dan sekarang berada di tangan Imam Zaman Afs.

Umat Islam Syiah menjadikan Sayidah Fatimah sa sebagai tokoh teladan, dan pada peringatan haul kesyahidannya, yang dikenal dengan hari-hari Fatimiyah, mereka mengadakan majelis-majelis duka.

Nama dan Garis Keturunan

Fatimah sa adalah putri Nabi Muhammad saw dan Khadijah sa putri Khuwailid.[1] Untuk Fatimah sa disebutkan beberapa gelar yang jumlahnya sekitar 30 gelar. Para peneliti meyakini bahwa gelar-gelar ini menerangkan sebuah karakteristik atau ciri-ciri khusus perilaku Fatimah sa. "Zahra", "Shiddiqah", "Muhaddatsah", "Batul", "sayidatu Nisa al-Alamin", "Manshurah", "Thahirah", "Muthahharah", "Zakiyyah", "Mubarakah", "Radhiyah", dan "Mardhiyah" adalah gelar-gelarnya yang paling terkenal.[2]

Fatimah sa memiliki beberapa nama panggilan diantaranya adalah Ummu Abiha (Ibu ayahnya), Ummul Aimmah (Ibu para Imam), Ummul Hasan (Ibu Hasan), Ummul Husain (Ibu Husain) dan Ummul Muhsin (Ibu Muhsin). [3]

Biografi

Garis Kehidupan Sayidah Fatimah Sa

فاطمه الزهرا2.jpg


20 Jumadil Akhir, 5 Bi'tsah[4] Lahir
10 Ramadhan, 10 Bi'tsah Hari wafat ibunya Khadijah Sa



akhir Shafar, 2 H. Hari akad Fatimah Sa dengan Imam Ali As[5]


1 Dzulhijjah, 2 H. Hari pernikahan dan menetapnya Fatimah Sa di rumah Ali As[6]


15 Ramadhan, 3 H. Kelahiran putra pertama:Imam Hasan As[7]


7 Syawal, 3 H. Kehadiran di medan perang Uhud untuk mengobati luka Rasullah Saw[8]


3 Sya'ban, 4 H. Lahirnya Imam Husain As[9]



5 Jumadil Awal, 5 H. atau 6 H.


Lahirnya Zainab Sa[10]


6 H Lahirnya Ummu Kultsum Sa[11]
7 H.? Diserahkannya tanah Fadak kepada Fatimah oleh Rasulullah Saw[12]
24 Dzulhijjah, 9 H. Hadir dalam peristiwa Mubahalah[13]


28 Shafar atau 12 Rabiul Awal, 11 H. Wafatnya Nabi Saw[14]


Rabiul Awal, 11 H. Diambilnya Fadak atas perintah Abu Bakar


Rabiul awal, 11 H. Menyampaikan khutbah Fadakiyah di Masjid Nabawi


Rabiul awal, 11 H. Pembuatan Bait al-Ahzan di Pemakaman Baqi oleh Ali As untuk Fatimah Sa yang secara khusus sebagai tempatnya meluapkan kesedihan atas kematian ayahnya Nabi Saw
Rabiul awal, 11 H. Penyerangan dan upaya pembakaran ke rumah Fatimah Sa. Pada peristiwa tersebut Sayidah Fatimah Sa mengalami keguguran sehingga janin yang bernama Musin meninggal dun
13 Jumadil Awal atau 3 Jumadil Akhir, 11 H. Hari Syahadahnya[15]


Fatimah sa adalah anak keempat atau kelima (menurut satu penukilan) Nabi saw dan ibunya adalah istri pertama Nabi menurut kesepakatan semua ahli sejarah. Fatimah sa dilahirkan di Mekah di rumah Khadijah di gang Attharin dan gang al-Hajar di dekat tempat sa'i.[16] Dalam sumber-sumber sejarah Syiah tanggal lahirnya disebutkan 20 Jumadil Akhir.[17] Terkait tahun kelahirannya terdapat empat pendapat:

  • Tahun kelima Bi'tsah: Berdasarkan pandangan yang beredar di kalangan Syiah, masa kelahiran Fatimah sa 5 tahun setelah Bi'tsah.[18]
  • Tahun pertama bi'tsah: Ya'kubi meyakini kesyahidan Fatimah sa terjadi pada umurnya yang ke 23 tahun. Berdasarkan itu, maka tahun kelahirannya terjadi pada tahun pertama bi'tsah.[19]
  • Tahun kedua bi'tsah: Syaikh Mufid dan Kaf'ami memilih pendapat ini.[20]
  • Lima tahun sebelum bi'tsah: Berdasarkan pandangan yang beredar di kalangan Ahlusunnah, Fatimah sa lahir lima tahun sebelum bi'tsah.[21]

Di Mekah

Tidakadanya laporan sejarah yang mendetail tentang periode kehidupan Fatimah sa di Mekah membuat sulit untuk mengenal masa-masa ini. Namun demikian, ada beberapa kejadian dan peristiwa penting terkait masa kecilnya Fatimah sa, diantaranya:

  • Tekanan ekonomi dan sosial kaum Quraisy: setelah dimulai dakwah Nabi saw secara terang-terangan, para pemimpin Quraisy dan kaum musyrikin yang lain menentang Nabi dan senantiasa mengganggu serta menyakitinya. Mereka meletakkan Nabi saw, Bani Hasyim dan para pendukungnya di Syi'b Abi Thalib dalam blokade ekonomi dan sosial. Tiga tahun masa kecil Fatimah disertai dengan tekanan-tekanan ini. [22]
  • Hari wafat ibunya: Pada pemblokadean ekonomi-sosial Nabi saw dan Bani Hasyim, Fatimah kehilangan ibunya, Khadijah sa. Di tahun ini pula Abu Thalib, paman Nabi, yang menjadi pelindungnya dalam menghadapi tekanan-tekanan Quraisy meninggal dunia.[23]
  • Upaya pembunuhan Nabi saw: Salah satu kejadian yang dihadapi Fatimah pada masa kecilnya adalah perjanjian Quraisy untuk membunuh Nabi saw. Menurut sebagian laporan literatur Ahlusunnah, Fatimah sa mengetahui perkumpulan Quraisy di Hijr Ismail dan sumpah mereka untuk membunuh Nabi saw. Dalam kondisi menangis ia mendatangi Nabi saw dan mengabarkannya akan keputusan ini.[24]
  • Keluar Mekah dan Hijrah ke Madinah: Setelah Nabi saw keluar dari Mekah di tengah malam dan hijrah ke Madinah, Fatimah sa bersama Ali as dan sejumlah wanita pergi dari Mekah ke Madinah. Sepanjang perjalanan, kaum musyrikin Quraisy mengancam Fatimah dan rombongannya hingga terjadi perseteruan antara Ali as dan Abu Sufyan yang berakhir dengan kegagalan Quraisy dalam upaya mengembalikan Ali as dan rombongannya ke Mekah.[25]

Pernikahan

Setelah pemerintahan Islam dibentuk atas pimpinan Nabi saw di Madinah, Fatimah sa mendapatkan kedudukan istimewa di kalangan kaum muslimin. Selain persoalan ini, segala kecintaan Nabi saw pada Fatimah sa, karakteristik spritual dan kecantikannya dibanding kaum wanita pada zamannya[26] manarik simpati sebagian kaum muslimin untuk menikah dengan putri Nabi saw.[27] Banyak dari pembesar Quraisy yang lebih dahulu memeluk Islam dibanding orang lain atau mempunyai kekuatan finansial yang bagus mencoba meminang Fatimah sa.[28] Imam Ali as, Abu Bakar, Umar [29] dan Abdurrahman bin Auf[30] termasuk diantara para peminang. Semua peminang selain Ali as ditolak oleh Nabi saw.[31] Nabi saw dalam menjawab mereka berkata: "Pernikahan Fatimah adalah urusan langit dan membutuhkan keputusan dan hukum Tuhan".[32] dalam sebagian tempat juga disinggung tentang ketidakrelaan Fatimah sa akan perkawinan dengan para peminang.[33]

Karena Ali as memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw dan menyaksikan karakteristik akhlak dan agama Fatimah sa, maka ia sangat mendambakan dapat menikah dengan Fatimah.[34] Namun, ahli sejarah menuturkan bahwa Ali as tidak memperkenankan dirinya untuk meminang putri Nabi saw.[35] sa'ad bin Mu'adz menyampaikan masalah ini pada Nabi saw dan dia menyetujui peminangan Ali as[36] serta menjelaskan keinginan Imam Ali as, ciri-ciri perilaku dan keutamaannya kepada Fatimah sa yang disambut dengan senang hati olehnya.[37]

Ali as sebagaimana muhajirin Madinah yang lain, pada bulan-bulan awal setelah hijrah tidak memiliki kondisi ekonomi yang bagus dan menghadapi kesulitan untuk membayar maskawin yang telah disepakati . [38] Oleh karenanya, atas nasehat Nabi saw ia menjual atau mengadaikan baju perangnya untuk mahar sayidah Fatimah sa.[39] acara akad pernikahan Ali as dan Fatimah sa dilangsungkan di masjid dan dihadiri oleh kaum muslimin. [40] Terkait tahun acara akad nikahnya terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas sumber menyebutkan tahun ke 2 H [41] Resepsi pernikahannya diselenggarkan setelah perang Badar pada bulan Syawal atau Dzulhijjah tahun ke 2 H. [42]

Anak-anak

Literatur Syiah dan Ahlusunnah sepakat bahwa Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum adalah empat putra-putri Fatimah sa dan Ali as.[43] Dalam literatur Syiah dan sebagian literatur Ahlusunnah disebutkan juga putra lain yang gugur dari kandungan dalam peristiwa yang menimpa Fatimah sepeninggal Nabi saw. Namanya adalah Muhsin.[44]

Peristiwa di Akhir Kehidupan

Beberapa bulan di akhir kehidupan Fatimah as terjadi peristiwa menyakitkan padanya. Para sejarawan menyebutkan bahwa pada masa-masa ini tak seorang pun menyaksikan dia pernah tertawa. [45]Wafat Nabi saw,[46] peristiwa Saqifah, perampasan kekhilafahan, penyitaan Fadak oleh Abu Bakar dan penyampaian khutbah Fadakiyah di tengah-tengah sahabat[47]adalah serentetan kejadian terpenting di akhir kehidupannya. Selain Ali as, Fatimah sa adalah salah satu penentang utama musyawarah saqifah dan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah. [48]Oleh karena itu, mereka berdua mendapat ancaman dari pihak khalifah seperti ancaman pembakaran rumah sayidah Fatimah sa.[49] Tidak berbaiatnya Imam Ali as dan para penentang Abu Bakar serta berkumpulnya mereka di rumah sayidah Fatimah sa menjadi pemicu para pendukung khalifah untuk menyerang rumah putri Nabi ini. Dalam penyerangan ini dilakukan karena Fatimah menghalangi Ali as yang dibawa untuk berbaiat secara paksa untuk Abu Bakar[50] maka ia mengalami luka dan anaknya gugur dari kandungan.[51] Setelah kejadian ini, Fatimah sa berbaring sakit.[52] Dan tak lama setelahnya mereguk cawan syahadah.[53]

Terkait penentangan dengan pihak kekhilafahan dan hakim yang berkuasa atas masyarakat Islam, Fatimah sa berwasiat pada Imam Ali as agar para penentangnya jangan sampai hadir mendirikan salat Shalat Jenazah dan mengikuti acara pemakaman dirinya dan meminta kepada Ali as supaya ia dikuburkan di malam hari.[54] Menurut pandapat yang masyhur, sayidah Fatimah sa syahid pada tanggal 3 Jumadil Akhir tahun 11 H di Madinah.[55]

Perilaku Individual dan kekeluargaan

sayidah Fatimah sa sebagaimana halnya Nabi saw sangat gemar beribadah. Waktu-waktu pokoknya digunakan untuk salat dan munajat.[56] Sekian banyak dari para pengunjungnya dan kerabat-kerabatnya sering kali melihat beliau dalam keadaan membaca al-Qur'an.[57] Dalam sebagian sumber disebutkan bahwa ketika sayidah Fatimah sa sedang sibuk membaca al-Quran banyak anugerah-anugerah gaib yang turun. Sebagai contoh, ketika salman menyaksikan penggilingan batu sayidah Fatimah sa berputar sendiri saat beliau berada disampingnya sambil membaca al-Quran ia terheran-heran, dan akhirnya menyampaikan kejadian itu pada Nabi saw. Beliau menjawab:"Allah swt mengirim Jibril untuk memutarkan penggilingan batunya". [58]Lamanya salat, bangun malam untuk ibadah[59] puasa dan ziarah ke makam para syuhada adalah sejumlah kriteria-kriteria perilaku sayidah Fatimah sa yang sangat diakui oleh penuturan-penuturan Ahlulbait as, sebagian sahabat dan para tabiin.[60] Kriteria ini menjadi sebab penisbatan doa-doa dan tasbih-tasbih kepada sayidah Fatimah sa yang terdapat dalam kitab-kitab doa dan beberapa munajat salat.[61]

Dalam laporan-laporan sejarah dan riwayat disebutkan bahwa Fatimah sa sangat mencintai Ali as dalan kondisi apapun bahkan menyatakan di depan Nabi saw bahwa Ali as sebaik-sebaik teman dan suami.[62] Penghormatan Imam Ali as padanya juga menunjukkan keagungan karakteristik sayidah Fatimah sa. Disebutkan, Fatimah sa di dalam rumah dengan kata-kata romantis dan di tengah-tengah masyarakat dengan panggilan Abal Hasan memanggil Imam Ali as.[63] Dalam riwayat, Fatimah sa berdandan untuk Ali as dan mengenakan perhiasan sekalipun murah harganya seperti kalung dan anting.[64]

Periode awal kehidupan Fatimah sa dan Ali as disertai dengan kesulitan ekonomi[65] hingga kadang-kadang mereka tidak mendapatkan makanan yang dapat mengenyangkan Hasan dan Husain. [66] Namun demikian, Fatimah sa tidak protes atas kondisi yang ada dan bahkan untuk membantu suaminya dalam mencari nafkah memintal wol.[67] Disebutkan bahwa Fatimah sa sekalipun kondisi ekonominya bagus tetap hidup sederhana dan menginfakkan hartanya.[68] Menghadiahkan baju barunya pada malam resepsi pernikahannya pada orang yang membutuhkan,[69] pemberian kalungnya pada orang fakir[70] dan pemberian semua makanannya pada orang miskin, yatim dan tawanan yang karena perbuatan itu turun ayat Ith'am adalah serentetan contoh dari karakteristik ini.[71]

Fatimah sa menginginkan pekerjaan-pekerjaan rumahnya dia lakukan sendiri dan menyerahkan pekerjaan luar rumah kepada Ali as.[72] ketika Rasulullah saw mengutus seorang pembantu bernama Fiddhah ke rumah Fatimah sa, separuh pekerjaan rumah dia melakukan sendiri dan menyerahkan separuhnya lagi kepada Fiddhah.[73]

Sikap Politik dan Sosial

Fatimah sa seperti halnya seluruh wanita muslim awal Islam turut hadir dalam ranah-ranah sosial dan politik. Keikutsertaan Fatimah sa dapat dibagi pada dua periode; sebelum wafatnya Nabi saw dan sesudahnya. Hijrah ke Madinah, hadir dalam sebagian perang awal Islam seperti Uhud, Khandaq dan Pembukaan Kota Mekah adalah termasuk peran beliau sebelum Nabi saw wafat. Peran politik terpenting Fatimah sa adalah berhubungan dengan masa singkat hidupnya sepeninggal Nabi saw. Protes terhadap peristiwa saqifah dan pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah setelah Nabi saw sekalipun beliau berulang kali berwasiat akan kepenggatian Imam Ali as, pergi ke rumah para pemuka kaum Muhajir dan Anshar untuk mengambil pengakuan mereka terkait kelayakan Imam Ali as untuk khilafah, upaya mengembalikan kembali kepemilikan Fadak, pembacaan khutbah Fadakiyah di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshar, dan pembelaan terhadap Ali as pada peristiwa penyerangan rumah Fatimah sa oleh pihak kekhilafahan adalah sikap-sikap politik terpenting Fatimah sa. Menurut para peneliti sejarah, banyak dari perkataan-perkataan dan perilaku-perilku Fatimah sa sepeninggal Nabi saw adalah sebagai reaksi politis dan protes terhadap Abu Bakar dan para pendukung khilafah yang merampas kekhilafahan.

Penentangan Fatimah sa dengan Keputusan Musyawarah saqifah

Setelah pembentukan syura saqifah dan pembaiatan sahabat kepada Abu Bakar sebagai khalifah, Fatimah sa, Ali as dan sejumlah sahabat seperti Thalhah dan Zubair menentang tindakan para sahabat ini.[74] Sebab, dalam peristiwa Ghadir Nabi saw sudah mendeklarasikan Imam Ali as sebagai penggantinya.[75] Berdasarkan laporan-laporan sejarah, Fatimah sa bersama Ali as mendatangi rumah-rumah sahabat dan mencari dukungan dari mereka. Dalam menjawab permintaan Fatimah, mereka menyatakan, andaikata permintaan ini terjadi sebelum mereka membaiat Abu Bakar maka mereka akan mendukung kekhilafahan Ali as. Setelah mereka tidak mau mendukung Ali as, Fatimah sa juga mengingatkan sahabat bahwa berbaiat kepada Abu Bakar akan mendapatkan hukuman Allah swt.[76]

Cerita Fadak dan Khutbah Fadakiyah

Setelah Abu Bakar duduk di kursi khilafah, dengan mendakwa bahwa Fadak bukan milik seseorang, ia merampas Fadak dari Fatimah sa dan menyitanya.[77] Fatimah sa menentang sikap Abu Bakar ini dan untuk mengambil kembali Fadak berdialog dengan Abu Bakar. Setelah Fatimah mengajukan dalil dan bukti,[78] dengan terpaksa Abu Bakar dalam satu surat mengakui bahwa Fadak milik Fatimah sa. Selepas kejadian ini, Umar bin Khattab merampas surat itu dan merobeknya.[79] Mengingat Fatimah sa tidak berhasil dalam menarik kembali Fadak, ia pergi ke masjid Nabi saw dan menyampaikan khutbah diantara para sahabat, dan dalam khutbahnya itu ia menyalahkan tindakan Abu Bakar dalam menyita Fadak dan merampas kekhilafahan. Dalam khutbah ini, Fatimah sa meyakini bahwa hasil tindakan-tindakan Abu Bakar dan para pendukungnya adalah api neraka.[80]

Bekerjasama Dengan Para Pembela Yang Menentang Abu Bakar

Karena sahabat membaiat Abu Bakar sebagai khalifah dan mengesampingkan sabda Nabi saw tentang kepenggantian Imam Ali as, maka Ali, Fatimah, bani Hasyim dan sebagian sahabat menentang pembaiatan ini. Para penentang kekhilafahan Abu Bakar berkumpul di rumah Fatimah sa dan membela kebenaran akan kepenggatian Imam Ali as.[81]Ibn Hisyam, Sirat al-Nabawiyyah li Ibnu hisyam, jld.4, hlm.328. Abbas bin Abdul Muththalib, salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Ammar bin Yasir, Miqdad Aswad, Ubai bin Kaab dan sekelompok bani Hasyim lainnya adalah termasuk orang-orang yang berkumpul melakukan pembelaan terhadap kebenaran. [82]

Peristiwa Penyerangan Rumah

Ibnu Abdirabbih dari ulama sunni menulis, setelah Abu Bakar tahu soal perkumpulan orang-orang yang menentangnya di rumah Fatimah, ia mengeluarkan perintah untuk menyerang ke sana dan membubarkan barisan para penentang, kalau mereka bertahan, maka harus berperang dengan mereka. Umar disertai beberapa orang pergi ke rumah Fatimah sa dan meminta mereka untuk keluar rumah, lalu ia mengancam untuk membakar rumah itu bila mereka tidak patuh pada perintahnya.[83] Umar disertai kelompok lain dari para penyerang memasuki rumah dengan kasar. Di sini Fatimah sa keluar rumah dan mengancam para penyerang itu jika mereka tidak mau keluar dari Rumah akan mengadukan kepada Allah swt.[84] oleh sebab itu, para penyerang meninggalkan rumah itu dan membawa semua orang yang berkumpul kecuali Ali as dan Bani Hasyim ke masjid supaya berbaiat pada Abu Bakar.[85]

Setelah para penyerang mengambil baiat secara paksa dari orang-orang yang membentengi (rumah Fatimah sa), mereka sekali lagi menyerbu rumah Fatimah sa dan membakar pintu rumahnya untuk mengambil baiat juga dari Imam Ali as dan bani Hasyim. Fatimah sa yang berada dibalik pintu terluka akibat kobaran api, dan dorongan serta pendobrakan yang dilakukan oleh Umar dan pengikutnya atas pintu rumahnya telah menggugurkan bayi (Muhsin) yang dikandung dalam perutnya.[86] Dalam sebagian keterangan disebutkan bahwa Umarlah yang meletakkan Fatimah sa diantara pintu dan dinding[87] dan menimpakan pintu ke Fatimah sa hingga tulang rusuknya patah[88] serta menendang perutnya.[89] Setelah kejadian ini Fatimah jatuh sakit.[90]

Penolakan Permintaan Abu Bakar dan Umar

Perlakuan-perlakuan kasar Abu Bakar dan Umar terhadap Fatimah sa dan Ali as terkait Fadak dan kejadian pembaiatan paksa khalifah menuai kemarahan Fatimah sa pada Abu Bakar dan Umar. Berdasarkan keterangan-keterangan, setelah penyerangan Umar dan antek-anteknya ke rumah Fatimah sa, Abu Bakar dan Umar memutuskan untuk mendatangi rumah Fatimah guna meminta maaf. Tetapi Fatimah sa tidak mengizinkan mereka masuk. Akhirnya atas perantara Ali as mereka bisa masuk rumah Fatimah sa. Fatimah Dalam pertemuannya dengan mereka, menghadapkan wajahnya ke dinding dan tidak menjawab salam mereka.

Setelah Fatimah sa mengingatkan hadis Nabi saw bahwa kesenangan dan kemarahan Nabi bergantung pada kesenangan dan kemarahan Fatimah, Fatimah sa berkata pada Abu Bakar dan Umar bahwa mereka penyebab kemarahan Fatimah.[91] Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Fatimah sa bersumpah untuk melaknat mereka seusai setiap salat.[92]

Kesyahidan, Tasyyi' dan Pemakaman

Setelah beberapa waktu sakit akibat derita jiwa dan raga yang ditimpanya dalam peristiwa pasca waftanya Nabi saw, maka pada tahun 11 H Fatimah sa meninggal dunia.

Mengenai tanggal kesyahidan Fatimah sa ada beberapa pandangan. Pendapat termasyhur di kalangan Syiah adalah 3 Jumadil Akhir.[93] Menurut pendapat lain, 13 Rabiul Tsani, [94] 20 Jumadil Akhir [95] dan 3 Ramadhan [96] disebut sebagai hari kesyahidan Fatimah sa.

Sebelum kesyahidannya, Fatimah berwasiat supaya orang-orang yang pernah menzaliminya dan membuatnya marah dan murka tidak datang menyalatinya dan hadir dalam acara pemakaman. Oleh karenanya, ia berwasiat supaya ditasyyi' dan dikuburkan secara sembunyi-sembunyi dan merahasiakan tempat kuburnya.[97] Menurut ahli sejarah, Ali as dibantu oleh Asma bin Umais memandikan istrinya. [98] dan dia sendiri menyalatkan jenazahnya.[99] Selain Imam Ali as, ada beberapa orang lagi yang ikut serta dalam menyalati Fatimah sa. Terjadi perbedaan pendapat tentang jumlah dan nama-nama mereka. Sumber-sumber sejarah menyebutkan Imam Hasan as, Imam Husain as, Miqdad, salman, Abu Dzar, Ammar, Aqil, Zubair, Abdullah bin Masud dan Fadhl bin Abbas yang ikut serta dalam salat itu. [100] Di saat yang sama, para sejarawan dan penulis buku sejarah Syiah sepakat bahwa salman, Miqdad, Abu Dzar dan Ammar termasuk dari mereka yang hadir pada acara itu.

Menurut sebagian peneliti, wasiat Fatimah sa supaya dimakamkan secara sembunyi-sembunyi adalah sikap politiknya yang terakhir dalam menentang tubuh kekhilafahan.[101]

Tempat Dimakamkan

Jasad suci sayidah Fatimah sa diusung dengan keranda yang dibuat atas permohonannya dan dikuburkan secara sembunyi-sembunyi.[102] Pemakaman secara sembunyi-sembunyi menyebabkan tempat pemakaman sayidah Fatimah sa terrahasiakan dari khalayak dan kuburannya tidak pernah terungkap. Pada saat yang sama sumber-sumber sejarah dan riwayat menyebutkan beberapa titik sebagai tempat pemakaman sayidah Fatimah sa:

  • Di Rumah Fatimah sa,[103]

Kemaksuman

Menurut Syiah, sayidah Fatimah sa adalah suci dari noda dan dosa (maksum)[106] Menurut ulama Syiah, Fatimah Zahra sa adalah salah satu manifestasi dari ayat Tathir; yaitu ayat yang menetapkan kesucian (ishmah) Lima Manusia Suci dan Imam-imam Syiah.[107] keterangan pertama dari sejarah yang mengetengahkan kesucian sayidah Fatimah pasca wafatnya Nabi saw adalah berujung pada peristiwa pengosopan Fadak yang mana Imam Ali as menegaskan kesucian sayidah Fatimah sa dengan bersandar pada ayat Tathhir, dan memandang salah tindakan Abu Bakar dalam merampas Fadak dari Fatimah dan meyakini kebenaran atas penuntutan Fatimah sa akan Fadak.[108]

Selain Syiah, dalam sumber-sumber riwayat Ahlusunnah juga terdapat riwayat-riwayat Nabi saw yang menegaskan bahwa Nabi saw berdasarkan ayat Tathir meyakini Ahlulbaitnya, yakni Fatimah sa, Ali as, Hasan as, dan Husain as suci dari segala bentuk dosa.[109]

Keutamaan-Keutamaan

Banyak keutamaan sayidah Zahra sa yang disebutkan dalam sumber-sumber riwayat, tafsir dan sejarah Syiah dan Ahlusunnah. Sebagian keutamaan-keutamaan itu didasarkan pada al-Qur'an yang asbab nuzulnya berkenaan dengan Ahlulbait Nabi saw, dimana Fatimah sa adalah salah seorang diantara mereka. Serentetan keutamaan-keutamaan lain juga disebutkan dalam riwayat-riwayat.

  • Ayat Tathir: Allah swt dalam ayat ini menegaskan kehendak-Nya akan kesucian Ahlulbait as dari segala keburukan dan kekejian.[110] Banyak sumber-sumber riwayat Syiah dan Ahlusunnah menyebutkan bahwa Fatimah sa menjadi salah satu misdak Ahlulbait dalam ayat Tathir.[111] Menurut pendapat Syiah, Fatimah sa berdasarkan ayat Tathhir memiliki kedudukan Ishmah (suci)[112]
  • Ayat Mawaddah: Dalam ayat 23 surah al-Syura, Allah swt menjadikan kecintaan pada Ahlulbait as sebagai upah penyampaian risalah. Berdasarkan sebagian riwayat, ayat ini turun khusus pada Fatimah sa, Ali as, dan Hasanain as (Hasan as dan Husain as).[113]
  • Ayat Mubahalah: Ayat ini menyinggung kejadian mubahalahnya Nabi saw dengan kaum kristen Najran dan penetapan kebenaran diri Nabi saw dimana Fatimah sa, Ali as dan Hasanain as turut hadir di dalamnya. Dalam peristiwa mubahalah, Nabi saw menghadirkan sebaik-sebaik individu-individunya. Dalam buku-buku tafsir, riwayat dan sejarah disebutkan bahwa ayat Mubahalah adalah salah satu ayat yang turun berkenaan dengan keunggulan dan kemulian Ahlulbait Nabi saw.[114]
  • Ayat Ith'am: ayat 5 - 9 surah al-Insan juga turun berkenaan dengan Fatimah, Ali dan Hasanain. Ayat ini turun setelah Imam Ali as, Fatimah sa dan Hasanain beserta pembantu mereka Fiddhah berpuasa tiga hari, dan pada tiga hari itu setiap kali mereka mau berbuka puasa memberikan semua hidangan mereka kepada orang miskin, yatim dan tawanan padahal mereka sendiri dalam keadaan lapar. Ayat ini dikenal dengan Ayat Ith'am (memberi makan).[115]
  • Surah Al-Kautsar: sebagian mufassir Syiah dan Ahlusunnah berkeyakinan bahwa Fatimah sa dan keturunannya menjadi misdak "'Kautsar" (kebaikan yang melimpah) dalam surah al-Kautsar. Atas dasar ini, kebaikan yang banyak adalah keberlangsungan keturunan Nabi saw melalui Fatimah sa [116] yang mana kedudukan Imamah dipercayakan pada tanggung jawab keturunan ini.[117]

Selain keterangan ayat-ayat al-Quran, banyak keterangan riwayat-riwayat tentang kedudukan Fatimah yang sebagian riwayat itu mencapai tingkat mutawatir. Riwayat-riwayat itu antara lain adalah:

  • Hadis Laulaka: dalam sebagian literatur disinggung hadis Qudsi Nabi saw yang menerangkan kebergantungan penciptaan alam semesta pada penciptaan Nabi saw, penciptaan beliau pada penciptaan Ali as, penciptaan Nabi saw dan Ali as pada penciptaan Fatimah sa.[118] Sebagian ahli hadis yang mepermasahkan sanad hadis ini meyakini bahwa kandungannya dapat dipertanggung jawabkan.[119]
  • Hadis Bidh'ah: dalam sebuah riwayat, Nabi saw menegaskan bahwa Fatimah sa adalah penggalan darah daging beliau sembari bersbada: "barang siapa yang meyakiti Fatimah berarti ia menyakiti aku". Riwayat ini dengan beragam redaksi telah dinukil oleh ahli hadis periode pertama seperti Syaikh mufid dan Ahmad bin Hanbal. [120]
  • Murka Fatimah murka Allah: ada riwayat dari Nabi saw yang menerangkan bahwa Allah murka disaat Fatimah Murka dan Allah rela disaat Fatimah rela.[121]
  • Penghulu kaum wanita: dalam banyak riwayat Syiah dan Suni, Fatimah disebut sebagai sebaik-baik wanita surga, sebaik-baik wanita di dua alam dan sebaik-baik wanita umat ini.[122]
  • Muhaddatsah: pembicaraan para Malaikat dengan Fatimah sa adalah diyakini sebagai salah satu karakteristiknya. Ciri khusu ini membuat Fatimah disebut Muhaddatsah. Dialog Fatimah dengan para Malaikat lebih sering terjadi sepeninggal Nabi saw dan untuk menghibur dia atas perpisahannya dengan sang ayah serta untuk mengabarkan dia akan keadaan masa depan keturunan Nabi saw. Kejadian-kejadian yang akan datang yang diberitahukan Malaikat Ilahi pada Fatimah sa dicatat oleh Ali as dan dikenal dengan "Mushaf Fatimah".[123]

Warisan Spiritual

  • Riwayat-riwayat: bagian penting dari peninggalan Fatimah sa adalah riwayat-riwayat yang dinukil darinya. Dari sisi kandungan, riwayat-riwayat ini beragam dan meliputi persoalan-persoalan akidah, fikih, akhlak dan sosial. Sebagian riwayat-riwayatnya dinukil dalam kitab hadis Syiah dan Ahlusunnah dan banyak dari riwayat-riwayat tersebut dikoleksi secara independen serta dibukukan dengan judul-judul seperti "Musnad Fatimah" dan "Akhbar Fatimah". Sebagian Musnad-musnad ini sudah tiada dalam sepanjang masa dan hanya dalam kitab-kitan rijal, biografi dan bibliografi disinggung para perawi dan penulis musnad-musnad tersebut.[124]
  • Mushaf Fatimah sa: salah satu peninggalan yang tersisa dari Fatimah adalah sebuah kitab dengan nama Mushaf Fatimah. Kitab ini mencakupi persoalan-persoalan yang diterangkan Malaikat Ilahi pada Fatimah sa, dan Imam Ali as menulisnya.[125] Menurut keyakinan orang-orang Syiah, Mushaf Fatimah menjadi warisan disisi imam-imam Syiah, dan setiap imam pada akhir hayatnya menyerahkan Mushaf itu pada imam berikutnya.[126] selain para imam tak seorang pun dapat menjaungkau kitab tersebut. Kini, kitab itu berada di tangan Imam Zaman Afs.[127]
  • Khutbah Fatimah sa: diantara riwayat-riwayat dan perkataan-perkataan Fatimah sa, ada sebuah khutbah terkenal yang tersisa dari beliau yang menarik perhatian kaum muslimin. Khutbah ini terkenal dengan khutbah "Fadakiyah" yang disampaikan oleh Sayidah Fatimah sa terkait peristiwa perampasan khilafah dan Fadak. Banyak syarah khutbah Fadakiyah yang ditulis yang kebanyakan diberi nama "Syarah Khutbah Zahra sa" atau "Syarah Khutbah Lummah" (nama lain dari khutbah Fadakiyah).[128]
  • Tasbih Fatimah Zahra sa: tasbih-tasbih ini adalah zikir yang diajarkan Nabi saw kepada Fatimah[129] dan dia sangat senang belajar zikir ini.[130] Terkait pengajaran tasbih-tasbih ini oleh Nabi saw kapada Fatimah sa beragam laporan yang disebutkan dalam literatur Syiah dan Ahlusunnah. Dalam literatur-literatur ini ditulis bahwa Imam Ali as dalam kondisi apapun tidak pernah meninggalkan zikir ini setelah mendengarnya dari Nabi saw.[131]
  • Salat Sayidah Zahra sa: dalam sebagain teks-teks riwayat dan kitab-kitab doa disebutkan bahwa Fatimah sa menunaikan salat-salat khusus yang dia pelajari dari Nabi saw atau Jibril. Sebagian salat-salat itu dikenal dengan "Salat Sayidah Fatimah".[132]
  • Syair-syair yang dinisbatkan pada Fatimah sa: dalam sumber-sumber sejarah dan riwayat ada syair-syair yang dinisbatkan pada Fatimah sa. Ditinjau dari sisi historis, syair-syair ini berkenaan dengan dua periode: periode sebelum wafatnya Nabi saw dan periode pasca wafatnya beliau. Terkait syair-syair Fatimah sa juga ditulis beberapa monografi.[133]

Fatimah sa Dalam Sastra dan Budaya Syiah

Sirah Fatimah sa memiliki pelbagai macam peran dalam kebudayaan Syiah dan kehidupan orang-orang Syiah. Sebagai contoh adalah:

  • Mahar(maskawin) sunnah: dalam riwayat-riwayat dan matan-matan fikih Syiah mahar Fatimah sa dijadikan contoh maskawin yang dalam istilah disebut Mahrussunnah (maskawin yang disunnahkan)[134]
  • Hari-hari Fatimiyah: kaum Syiah pada hari-hari Fatimiyah mengadakan acara duka. Di Iran, hari kesyahidan Sayidah Zahra sa yang bertepatan dengan tanggal 3 Jumadil Akhir adalah hari libur resmi.[135]
  • Pembuatan kembali tempat Bani Hasyim secara simbolik: Pada periode sekarang, bertepatan dengan hari-hari Fatimiyah maka dibuat secara simbolik tempat Bani Hasyim, pemakaman Baqi dan rumah Fatimah sa dengan gaya kuno, dan banyak dari masyarakat melihat tempat-tempat ini.[136]
  • Pemintasan Teater dan takziyah: pada tahun-tahun terakhir, pemintasan teater, pernyataan duka cita (takziyah), dan pertunjukan-pertunjukan di jalanan dengan tema-tema seperti "wanita air dan cermin"[137] "wanita terasingkan"[138] adalah termasuk agenda-agenda khusus hari-hari berkabung atas kesyahidan Fatimah sa.
  • Penyelenggaraan acara resepsi pernikahan: salah satu sunah-sunah yang menyebar luas di kalangan Syiah adalah pelaksanaan acara resepsi pernikahan di hari ulang tahun pernikahan Fatimah sa dan Ali as.
  • Hari wanita:di Iran, hari kelahiran Fatimah sa dinamakan hari wanita dan ibu[139]. pada hari ini, Warga Iran mengadakan pesta dengan memberikan hadiah kepada Ibu mereka.[140]
  • Penamaan putri-putri: di Iran, nama Fatimah dan Zahra termasuk dari 10 nama besar pertama untuk para putri.[141]

Sastra dan Syair Fatimi

Sebagain para penyair dan sastrawan persia mengarang sastra-sastra mengenai Fatimah dan melantunkan syair-syair mengenai dia. Sebagian ahli sastra meyakini bahwa paling kunonya syair Fatimi kembali ke abad 4 H. Pada masa moderen, syair Fatimi lebih banyak beredar di kalangan para penyair hingga diselenggarakan konferensi dengan tema "Syair Fatimi" yang dihadiri oleh para penyair yang membacakan syair-syair terkait tema ini. Banyaknya syair-syair Fatimi yang dibacakan membuat para peneliti di bidang sastra memandang syair Fatimi sebagai salah satu gaya syair Ayini (agamis) yang meninjau kedudukan dan sirah Fatimah sa.(136) Kitab Kisyti-e Pahlu Girifteh (Bahtera berlabuh) dan Fatimah Fatimah ( Fatimah adalah Fatimah) adalah diantara karya-karya sastra kontemporer yang dapat dijadikan misal.

Keterpengaruhan Pemerintahan-pemerintahan Syiah dari Fatimah sa

Bibliografi Fatimi

Penulisan tentang Fatimah sa menarik perhatian kaum muslimin khususnya orang-orang Syiah sejak abad pertama Hijriyah. Dalam satu pengklasifikasian karya-karya yang ditulis atau dikoleksi seputar Fatimah dapat dibagi pada tiga kategori: penulisan Musnad, penulisan manaqib dan penulisan biografi.[142]

Diantara musnad-musnad yang disusun oleh orang-orang Syiah yang dapat disebut adalah: "Musnad Fatimah al-Zahra", karya Azizullah Daiquchani, "Musnad Fatimah Zahra", karya Sayid Husain Syaikhul Islami, "Nahjul Hayah" (kamus kata-kata mutiara Fatimah), karya Muhammad Dasyti, "Musnad Fatimah", karya Mahdi Ja'fari[143], dan "Dalail al-Imamah" (dalil-dalil kepemimpinan), karya Thabari Imami (paling kunonya sumber penulisan-penulisan musnad Syiah mengenai Fatimah sa).[144] Adapun manaqib-manaqib yang dapat disebutkan antara lain adalah: "Manaqib Fatimah al-Zahra wa Wuldiha" (Keutamaan-keutamaan Fatimah dan anak-anaknya),karya Thabari Imami[145], "Syarh Ihqaqul Haq wa Izhaqul bathil" (Penjelasan buku Penetapan Kebenaran dan Pemusnahan Kebatilan), karya Sayid Syihabuddin Mar'asyi Najafi, "Fadhail Fatimah al-Zahra az Negahe Digaran" (Keutamaan-keutamaan Fatimah Zahra menurut orang lain), Nasir Makarim Syirazi, dan "Fatimah Zahra Az Nazhari Riwayate Ahlisunnat" (Fatimah Zahra Menurut Riwayat Ahlusunnah), karya Muhammad Washif.[146]


Diantara musnad-musnad Ahlusunnah mengenai Fatimah sa yang dapat disebutkan adalah: "Al-Saqifah wa Fadak" (Saqifah dan Fadak), karya Jauhari Basri , "Man Rawa an Fatimah min Auladiha"(anak-anak Fatimah yang meriwayatkan darinya), karya Ibnu Uqdah Jarudi, dan "Musnad Fatimah", karya Dar Quthni Syafii. Adapun manaqib-manaqib yang dapat disebutkan antara lain adalah: "Al-Tsughur al-Bāsimah fi Fadhail al-Sayyidah al-Fatimah" (Muka Tersenyum Melihat Keutamaan-keutamaan Sayidah Fatimah), karya Jalaluddin Suyuthi, dan "Ithāf al-Sāil bima li Fatimah min al-Manaqib wa al-fadhail" (Persembahan Seorang Penanya Tentang Keutamaan dan Keistimewaan Fatimah sa), karya Muhammad Ali Manawi.[147]

Catatan Kaki

  1. Syahidi, Zendegi Fatimah Zahra, hlm. 21.
  2. Shaduq, al-Amali, 1417 H, h. 74, 187, 688, 691, 692; Kulaini, al-Kafi,1985,jld. 1, hlm.240; Masudi, Asrar al-Fathimiyyah, 1420 H, him.409.
  3. Majlisi, Biharul Anwar, 1404 H, jld.43, hlm.16; Ibn Syahr Asyub, Manaqib al Abi Thalib, 1376 H.
  4. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, tahkik Muhammad 'Abdul Qadir 'Atha, Beirut, Darul Kutub al-'Ilmiyyah, cetakan pertama, 1990.
  5. Tarikh Thabari, jld.2, hlm.410.
  6. 'Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.43, hlm.92.
  7. Kilaini, al-Kafi, jld.1, hlm.461.
  8. Syahidi, Zendegani Fatimah Zahra Sa, hlm.78.
  9. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.44, hlm.201.
  10. Mahallati, Dzabihullah, Rayahin al-Syari'ah, Darul Kutub al-Islamiyyah, jld.3, hlm.33.
  11. Dzahabi, Siyaru A'lam al-Nubala' , jld.3, hlm.500.
  12. Muttaqi Hindi, Kanz al-'Ummal, jld.2, hlm.158, jld.3,767.
  13. Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, jld.2, hlm.293.
  14. Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.189.
  15. Kulaini, al-Kafi, jld.1, hlm.241, hadis:5.
  16. Batnuni, al-Rihlah al-Rihlat al-Hijaziyyah, al-Maktabat al-Tsiqafiyyah al-Diniyyah, hlm.128.
  17. Mufid, Masar al-syariah, 1414 H, hlm.54; Thusi, muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, hlm.793.
  18. Kulaini, al-Kafi, 1985, jld.1,hlm.458; Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, 1411 H, hlm.793; Thabari, Muhammad bin Jarir, Dala'il al-Imamat, Qom, Muassasah al-Bi'tsah, 1413 H, jld.79,hlm.134; Fattal Naisyaburi, Rawdhat al-Wa'izhin, hlm.143;Thabrisi, I'lam al-Wara, 1417 H, jld.1, hlm.290;Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, 1376 H, jld.3, hlm.132.
  19. Ya'kubi, Tarikh Ya'qubi, Dar Shadir, jld.2, hlm.115.
  20. Mufid, Masar al-Syari'ah fi Mukhtashar Tawarikh al-Syari'ah, hlm.54; Kaf'ami, al-Mishbah, hlm.512.
  21. Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.1, hlm.133, jld.8, hlm.19; Baladzuri, Ansab al-asyraf, jld.1, hlm.403; Ibnu 'Abd al-Barr, al-Isti'ab fi Ma'rifat al-ashab, jld.4, hlm.1899.
  22. Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, riset: Muhammad 'Abdul Qadir, jld.1, hlm.163.
  23. Ya'kubi, Tarikh Ya'qubi, Daru Shadir, jld.2, hlm.35.
  24. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jld.1, hlm.368; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, jld.1, hlm.163.
  25. Muhaqqiq sabziwari, Nemuneh Bayyinat dar Sya'n Nuzul Ayat az Nazar Syaikh Thuis wa sayir Mufassirin Khassah wa 'Ammah, hlm.173-174.
  26. Kulaini, al-Kafi, 1985, jld.8, hlm.165; Maghribi, Syarh al-Akhbar fi Fadha'il al-A'immat al-Athar, jld.3, hlm.29;sahmi, Tarikh Jurjan, hlm.171.
  27. Thabathaba'i, Izdiwaj Fathimah, jld.1, hlm.128.
  28. Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-A'immah, jld.1, hlm.363;Kharizmi, al-Manaqib, hlm.343.
  29. Nasa'i, al-sunan al-Kubra, jld.5, hlm.143;Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, jld.2, hlm.16-168.
  30. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, hlm.82.
  31. Kharizmi, al-Manaqib, hlm.343.
  32. Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra jld.8, hlm.19.
  33. Thusi, Muhammad Hasan, al-Amali, hlm.39.
  34. Shaduq, al-Amali, hlm.653; Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-a'immah, jld.1, hlm.364.
  35. Mufid, al-Ikhtishash, hlm.148.
  36. Mufid, al-Ikhtishash, hlm.148.
  37. Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Amali, hlm.40.
  38. Ibnu Atsir Jazari, Usd al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah, jld.5, hlm.517.
  39. Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-a'immah, jld.1, hlm.358.
  40. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah hlm. 88-90;Kharizmi, al-Manaqib, hlm.335-338.
  41. Ibnu Hajar 'asqalani, Tahdzib al-Tahdzib jld.12, hlm.391;Maqrizi, Imta' al-asma', jld.1, hlm.73;Kulaini, al-Kafi, jld.8, hlm.340.
  42. Thusi, al-amali, hlm.43;Thabari, Muhammad bin Abilqasim, Bisyarat al-Mushthafa li Syi'at al-Murtadha, hlm.410.
  43. Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.355.
  44. Syahristani, al-Milal wa l-Nihal, jld.1, hlm.57;Dzahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jld.15, hlm.578; Masudi, Itsbat al-Wasiyyah li Imam Ali bin Abi Thalib, hlm.154 dan 155; Hilali 'amiri, Kitab Sulaim bin Qais, hlm.153.
  45. Ibnu sa'ad, al-thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar Shadir, jld. 2, hlm.238;Kulaini, al-Kafi, 1985, jld.3, hlm.228.
  46. Kulaini, al-Kafi, 1985, jld.1, hlm.241.
  47. Mufid, al-Muqni'ah, hlm.289-290; sayyid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld.4, hlm.101;Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.29, hlm. 124;Irbili, Kasyf al-Ghummah, jld.1, hlm.353-364.
  48. Jawhari Bashri, al-saqifah wa al-Fadk, hlm.63;Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahjul Balaghah , jld.2, hlm.47.
  49. Ibnu Abi Syaibah Kufi, al-Mushannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, jld.8, hlm.572.
  50. Jawhari Bashri, al-saqifah wa al-Fadk, hlm.72-73
  51. Thabrisi, al-Ihtijaj, jld.1, hlm.109.
  52. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, hlm.143.
  53. Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, hlm.793.
  54. Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.137.
  55. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, hlm.139.
  56. Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Amali, hlm.528.
  57. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, hlm.139.
  58. Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.116-117.
  59. Shaduq, 'Ilal al-Syara'i' , jld.1, hlm.182.
  60. Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.2, hlm.119.
  61. Ibnu Thawus, Jamal al-Usbu', hlm.93;Kulaini, al-Kafi, jld.3, hlm.343.
  62. Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.131.
  63. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.43, hlm.192-199; Jawhari Bashri, al-saqifah wa Fadak, hlm.64.
  64. Shaduq, al-Amali, hlm.552.
  65. Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, jld. 8, hlm.25.
  66. Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.43, hlm. 72.
  67. Kharizmi, al-Manaqib, hlm.268.
  68. Thabrisi, Hasan bin Fadhl, Makarimal-Akhlaq, hlm.94-94.
  69. Mar'asyi Najafi, Syarh Ihqaqa al-Haqq, jld. 19, hlm.114.
  70. Thabari Muhammad bin Abilqasim, Bisyarat al-Mushthafa li Syia'at al-Murtaha, hlm. 218-219.
  71. Ibili, Kashf al-Ghummah, jld.1, hlm.169.
  72. Himyari Qummi, Qurb al-Isnad, hlm.52.
  73. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, h. 140-142.
  74. Ibn Abilhadid, Syarh Nahjulbalaghah, jld.1, hlm.123.
  75. Amini, al-Ghadir, jld.1, hlm.33.
  76. Ibnu qutaibah, Dinawari, al-Imamah wa al-siyasah, hlm.28.
  77. Jawhari Bashri, al-saqifah wa Fadak, hlm.119.
  78. Suyuthi, al-durr al-Mantsur, jld.3, hlm.290.
  79. Mufid, al-Ikhtishash, hlm.184-185;Halabi, al-Sirah al-Halabiyah, jld.3, hlm.488.
  80. Thabari Imami, Dala'il al-Imamah, hlm.111-131.
  81. Ibnu Katsr, Tarikh Ibnu Latsir, jld.5, hlm.246.
  82. askari, saqifah:Barrasi Nahwe Syikl Giri Hukumat pas az Payambar, hlm.99.
  83. Ibn 'Abdurabbah Andulusi, ''al-'And al-Farid, jld.3,hlm.64.
  84. Ya'kubi, Tarikh Ya'qubi, jld.2, hlm.105.
  85. Ibnu Abil Hadid, Sharh Nahjul Balaghah, jld.2, hlm.21.
  86. Thabari, Muhammad bin Jarir, Dala'il al-Imamah, hlm.134.
  87. Shaduq, Ma'am al-Akhbar, hlm.206.
  88. 'Amili, Ranjhaye Hadhrat Zahra sa, jld.2, hlm.350-351.
  89. Mufid, al-Ikhtishash, hlm.185.
  90. Thabari, Muhammad bin Jarir, Dala'il al-Imamah, hlm.134.
  91. Ibnu Qutaibah Dinawari, al-Imamah wa al-Siyasah, jld.1, hlm.31.
  92. Kahalah, A'lam al-Nisa' fi 'Alamai al-'Arab wa al-Islam, cetakan ke-10, jld.4, hlm.123-124.
  93. Thusi, Mishbah al-Mutahajjid, hlm.793.
  94. Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.132.
  95. Thabari Imamai, Dala'il al-Imamah, hlm.136.
  96. Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-Imamah, jld.2, hl,125.
  97. Shaduq, 'Ilal al-Syara'i' , jld.5, hlm.185; Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.135.
  98. Baladzuri, Ansab al-asyraf, jld.2, hlm.134;Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld.2, hlm.473-474.
  99. Irbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifat al-Imamah, jld.2, hl,125.
  100. Hilali 'Amiri, Kitab Sulaim bin Qais, hlm.393;Thabrisi, 'I'lam a-Wara, jld.1, hlm.300; Shaduq, al-Khishal, hlm.361;Thusi, Ikhtiyar Ma'rifat al-Rijal', jld.1, hlm.33-34.
  101. Farahmandpur, Fahimeh, Sireh Siyasi Fathimah, jld.2, hlm.315.
  102. Maghribi, Da'ail al-Islam, jld.1, hlm.232-233;Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.29.
  103. Mufid, al-Ikhtishash, hlm.185;Shaduq, Man la Yahdhuruh al-Faqih, jld.2, hlm.572.
  104. Thabari Imami, Muhammad bin Jarir, Dala'il al-Imamah, hlm.136;Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.139.
  105. Ibnu sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, jld.8, hlm.30.
  106. sayyid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld.4, hlm.95;Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.112.
  107. sayyid Murtadha, al-Syafi, jld.3, hlm.134-136; Bahrani, Ghayat al-Maram, jld.3, hlm.176;Thabrisi, Majna' al-Bayan, jld.8, hlm.559.
  108. Thabrisi, Ahmad bin Ali, al-Ihtijaj, jld.1, hlm.122-123;SHaduq, 'Ilalal-Syara'i' , jld.1, hlm.190-192.
  109. Ibn Maedawaih Ishfahani, Manaqib Ali bin Abi Thalib, hlm.305; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jld.5, hlm.199;Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld.2, hlm.316.
  110. Surah Ahzab, ayat 33.
  111. Thabrisi, al-Ihtijaj, jld.1, hlm.215; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jld.5, hlm.198.
  112. Thabrisi, Majma' al-Bayan, jld.8, hlm.559-560.
  113. Abul Futuh Razi, Rawdh al-Jinan wa Rawh al-Jinanfi tafsir al-Qur'an, jld.17,hlm.122;Bahrani, al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, jld.4, hlm.815; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bil Ma'tsur, jld.6, hlm.7;Abu al-Su'ud, Irsyad al-'Aql al-salim ila Mazaya al-Qur'an al-Karim, jld.8, hlm.30.
  114. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, jld.1, hlm.379; Balaghi, Hujjat al-Tafasir wa Balagh al-Iksir, jld.1, hlm.268;Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, jld.4, hlm.293.
  115. Thusi, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an jld.10, hlm.211;Zimakhsari, al-Kasysyaf jld.4, hlm.670;Fakhru Razi, al-Tafsir al-Kabir, jld.30,hlm.746-747.
  116. Thabathaba'i, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, jld.20, hlm.370-371;Makarim Syirazi, Tafsir Nemunah, jld.27, hlm.371;Fakhru Razi, al-Tafsir al-Kabir, jld32, hlm.313; Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa asrar al-Ta'wil, jld.5, hlm.342;Naisyaburi, Tafsir Ghara'ib al-Qur'an, jld.6, hlm.576.
  117. Mufid, al-Amali, hlm.260;Thusi, al-Amali, hlm.24; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jld.4, hlm.5.
  118. Mirjahani, sayyid Muhammad Hasan, Jannat al-'ashimah, hlm.148.
  119. Situs Jamaran:pecakapan dengan Ayatullah Syubairi Zanjani
  120. Mufid, al-Amali, hlm.260;Thusi, al-Amali, hlm.24;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jld.4, hlm.5
  121. Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, jld.3, hlm.154.
  122. Shaduq, 'Ilal al-Syara'i' , jld.2, hlm.182;Thabari Imami, hlm.81;Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jld.3, hlm.80;Bukhari, Muhammad bin Isma'il, Shahih al-Bukhari, jld.4, hlm.183;Muslim Naisyaburi, Shahih Muslim, jld.7, hlm.143,144.
  123. Kulaini, al-Kafi, jld.1, hlm.240-241; Ibnu Syahr asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.3, hlm.116.
  124. Ma'muri, Kitabsyenasi Fathimah, hlm.561-563,
  125. Kulaini, al-Kafi, jld.1, hlm.241.
  126. Shaffar, Basa'ir al-Darajat al-Kubra, hlm.173-181.
  127. Aqa Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, jld.21, hlm.126.
  128. Aqa Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, jld.8, hlm.93;jld.13, hlm.224.
  129. Shaduq, Man la Yahdhuruh al-Faqih, jld.1, hlm.320-321;Bukhari, Shahih Bukhari, jld.4, hlm.48, 208.
  130. Shaduq, Muhammad bin Ali, 'Ical al-Syara'i' , jld.2, hlm.366.
  131. Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld.1, hlm.107.
  132. Ibnu Thawus, Ali bin Musa, Jamal al-Usbu' , hlm.70, 93.
  133. 'Alimi, Asy'ar Fathimah Sa, jld.3, hlm.110-120.
  134. Syahid Tsani, al-Rawdhat al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'at al-Dimasyqiyyah, jld.5, hlm.344.
  135. Kantor bereits Fars
  136. IRIB News
  137. iqna.ir
  138. iqna.ir
  139. [1]
  140. Beytoote.com
  141. Kantor Berita Fars
  142. Ma'muri, Kitabsyenasi Fathimah Sa, hlm.561.
  143. Ma'muri, Kitabshenasi Fatimah, jld.2, hlm.564.
  144. Ma'muri, Kitabshenasi Fatimah, jld.2, hlm.563.
  145. Aqa Buzurg Tehrani, al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, jld.22, hlm.322.
  146. Ma'muri, Kitabshenasi Fatimah, jld.2, hlm.567.
  147. Ma'muri, Kitabshenasi Fatimah, jld.2, hlm.566.


Daftar Pustaka

  • Ibnu Abi al-Hadid, 'Izzuddin Abu Hamid Abdul Hamid bin Hibatullah, Syarah Nahjul Balaghah, riset: Muhammad Abulfadhl Ibrahim, Mesir, Daru Ihya' al-Kutub al-Arba'ah, cetakan pertama, 1378 H.
  • Ibnu Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar al-Sadir, 1385 H.
  • Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, riset:Muhammad 'Abdul Qadir 'Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah cetacean pertama, 1410 H.
  • Ibnu 'Abdi Rabbah Andulusi, Ahmad bin Muhammad, al-'And al-Farid, riset: Ali Syiri, Beirut, Daru Ihya' al-Turats al-'Arabi, cetakan pertama, 1409 H.
  • Ibnu Katsir, Isma'il bin 'Umar, Tarikh Ibn Katsir, Mesir, Mathba'a al-Sa'adah, 1351-1358 H.
  • Ibnu Hisyam, Abu Muhammad 'Abdul Malik bin Hisyam Himyari, Sirat al-Nabawiyya li Ibn Hisyam, riset: Mushthafa al-Saqa, Ibrahim al-Abyari dan 'Abdul Hafizh al-Syibli, Mesir, Turats al-Islam, cetakan ke-2, 1375 H.
  • Ibnu Abi Syaibah Kifi, 'Abdullah bin Muhammad, al-Mushannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar, riset: Sa'id Lahham, Beirut, Darul Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Atsir Jazari, Ali bin Muhammad, Usd al-Ghabah fi Ma'rifat al-Sahabah, Tehran, percetakan Isma'iliyan, tanpa tanggal.
  • Ibnu Hajar 'Asqalani, Ahmad bin Ali, Tahdzib al-Tahzhib, Beirut, Darul Fikr, 1404 H.
  • Ibnu Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar al-Shadir, tanpa tanggal, tanpa tempat publikasi.
  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali, Manaqib Al Abi Thalib, sekelompok guru dari Najaf, Najaf, al-Maktabat al-Haydariyyah, 1376 H.
  • Ibnu Thawus, Sayyid Ali bin Musa, Jamal al-Usbu' riset: Jawad Qayyumi, Yayasan al-Afaq, 1371 H.
  • Ibnu 'Abd al-Barr, Yusuf bin 'Abdullah Qurthubi, al-Isti'ab fi Ma'rifat al-Ashab riset:Ali Muhammad Bajawi, Beirut, Darul Jail, 1412 H.
  • Ibnu Qutaibah Dinawari, Abu Muhammad 'Abdullah bin Muslim, al-Imamah wa al-Siyasah, terjemahan Sayyid Nashir Thabathabayi, Tehran, percetakan Quqnus, 1380.
  • Ibnu Qutaibah Dinawari, Abu Muhammad 'Abdullah bin Muslim, al-Imamah wa al-Siyasah, riset: Ali Syiri, Qom, Publikasi Syarif Radhi, 1413.
  • Ibnu Katsir, Isma'il bin Umar, al-Bidayah wa al-Nihayah, riset: Ali Syiri, Beirut, Daru Ihya' al-Turats al-Arabi, 1408 H.
  • Ibnu Katsir, Isma'il bin Umar, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Beirut, Darul Ma'rifah, 1412 H.
  • Ibnu Mardawaih Ishfahani, Ahmad bin Musa, Manaqib Ali bin Abi Thalib, riset 'Abdurr Razaq Muhammad Husain, Qom, percetakan Darul Hadits, 1424 H.
  • Ibnu Hisyam, 'Abdul Malikm Himyari, al-Sirah al-Nabawiyyah, riset: Muhammad 'Abdul Hamid, Kairo, Maktabat Muhammad Ali Sabih wa Awladih, 1383 H.
  • Abu al-Su'ud, Muhammad bin Muhammad 'Imadi, Irsyad al-'Uqul al-Salim ila Mazaya al-Qur'an al-Karim, Beirut, Daru Ihya al-Turats al-'Arabi, tanpa tempat publikasi.
  • Abul Futuh Razi, Husain bin Ali, Rawdh al-Jinan wa Rawh al-Jinan fi Tafsir al-Qur'an, riset: Yahaqqi/Nashih, Masyhad, Astan Quds Radhawi, 1417 H.
  • Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Beirut, Dar al-Shadir, tanpa tanggal.
  • Irbili, Ahmad bin 'Isa, Kasyf al-Ghumah fi Ma'rifat al-A'immah, Qom, Percetakan Radhi, cetakan pertama, 1421 H.
  • Irbili, Ahmad bin 'Isa, Kasyf al-Ghumah fi Ma'rifat al-A'immah, Beirut, Darul Adhwa', 1405 H.
  • Aqa Buzurg Tihrani, Muhammad Muhsin, al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syiah, Beirut, Darul dhawa', 1403 H.
  • Batnuni, Muhammad Labib, al-Rihlat al-Rihlah al-Hijaziyya, Kairo, al-Maktabat al-Tsiqafiyya al-Diniyya, tanpa tanggal.
  • Bahrani, Sayyid Hasyim Husaini, al-Burhan fi Tafsir al-Qur'an, Tehran, Bunyad Bi'tsat, 1416 H.
  • Bahrani, Sayyid Hasyim Husaini, Ghayat al-Maram wa Hujjat al-Khisam, riset: Sayyid Ali asyur, Qom, Mu'assisat al-Ma'arif al-Islamiyya, 1313 H.
  • Bukhari, Muhammad bin Isma'il, Shahih al-Bukhari, Beirut, Darul Fikr, 1401.
  • Bukhari, Muhammad bin Isma'il, Shahih al-Bukhari, Beirut, Dar Shadir, tanpa tanggal.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansar al-Asyraf, riset: Suhail Zakkar dan Riyadh Zarakali, Beirut, Darul Fikr, 1417 H.
  • Balaghi, Sayid 'Abdul Hujjat, Hujjat al-Tafasir wa Balagh al-Iksir, Qom, percetakan Hikmat, 1386 H.
  • Baydhawi, 'Abdullah bin 'Umar, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil, riset: Muhammad 'Abdul Rahman Mur'ashli, Beirut, Daru Ihya' al-Turats al-'Arabi, 1418 H.
  • Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa, Susan al-Tirmidzi, riset: 'Abdul Wahhab 'Abul Lathif, Beirut, Daul Fikr, 1403.
  • Tehrani, Mujtaba, Pembicaraan Singkat tentang Khutbah Hadhrat Zahra sa Tehran, Majalah Payame Azadi, 2009.
  • Jawhari Bashri, Ahmad bin 'Abdul 'Aziz, al-Saqifah wa Fadak, riset: Muhammad Hadi Amini, Beirut, Syirkat al-Kutubi, 1413 H.
  • Hakim Naysyaburi, Muhammad bin 'Abdullah, al-Mustadrak 'ala Shahihain riset: Yusuf Mur'ashli, beirut, Darul Ma'rifah, tanpa tanggal.
  • Halabi, Ali bin Burhan, al-Sirat al-Halabiyya, Beirut, Darul Ma'rifah, 1400 H.
  • Himyari Qummi, 'Abdullah bin Ja'far, Qurb al-Isnad, Qim, Mu'assisat Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1413 H.
  • Kharizmi, Muwaffaq bin Ahmad, al-Manaqib, riset: Malik Mahmudi, Qom, Nasyr Islami, 1411 H.
  • Dubai, Muhammad bin Ahmad, al-Dzurriyat al-Thahirah al-Nabawiyyah, riset: Sayyid Muhammad Jawad Husaini, Qom, Nasyr Islami, 1407 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad Siyar A'lam al-Nubala' riset: Syu'aib al-Arnaut, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1413 H.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin 'Umar, al-Kasysyaf, Beirut, Darul Kutub al-'Arabi, 1407 H.
  • Sahmi, Hamzah bin Yusuf, Tarikh Jurjan, Beirut, 'Alam al-Kutub, cetakan ke-4, 1407 H.
  • Sayyid bin Thawus, Ali bin Musa, Jamal al-Usbu' riset: Jawad Qayyumi, Muassasah al-Afaq, 1993.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain, al-Syafi fi al-Imamah, riset: Sayyid 'Abd al-Zahra Husaini, Qom, cetakan Isma'iliyan, 1410 H.
  • Suyuthi, Jalal al-Din, al-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma'tsur, Qom, Perpustakaan Mar'asyi Najafi, 1404 H.
  • Syahristani, Muhammad bin 'Abdul Karim, al-Milal wa al-nihal, riset: Muhammad Sayid Gilani, Beirut, Darul Ma'rifah, 1422 H.
  • Syahid Tsani, Zain al-Din bin Ali 'Amili, al-Rawdhat al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum'at al-Dimasyqiyyah, riset: Sayid Muhammad Kalantar, Qom, percetakan Dawari, 1410 H.
  • Syahidi, Sayid Ja'far, Zindigani Fatimeh Zahra sa, Tehran, Daftar Nasyr Farhang Islami, 1985.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Ma'am al-Akhbar, revisi dan komentar:Ali Akbar al-Qhifari, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 2001.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, 'Ilal al-Syara'i' , riset: Sayid Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum, Najaf, al-Maktabat al-Haidariyyah, 1385 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, al-Amali, Qpm, Muassasah al-Bi'tsah, 1417 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, al-Khishal, riset: Ali Akbar Ghaffari, Qom, Nasyr Islami, 1403 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali, Man la Yahdhuruhu al-Faqih, riset: Ali Akbar Ghaffari, Qom, Nasyr Islami, 1404 H.
  • Shaffar, Muhammad bin Hasan, Basa'ir al-Darajat al-Kubra, riset: Mirza Muhsin Kuceh Baghi, Tehran, Muassasah al-A'lami, 1404 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain, al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an, Qom, Nasyr Islami, 1417 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Kazhim, Izdiwaj Fathimah, Danesynameh Fathimi, Tehran, 2015.
  • Thabrisi, Ahmad bin Ali, al-Ihtijaj, riset: Muhammad Baqir Khirsan, Najaf, Dar al-Nu'man, 1386 H.
  • Thabrisi, Hasan bin Fadhl, Makarim al-Akhlaq, Qom, percetakan al-Syarif al-Radhi, 1392 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan, I'lam al-Wara, Qom, Muassasah Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1417 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan, Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an, Tehran, percetakan Khusrau, 1994.
  • Thabari Imami, Muhammad bin Jarir, Dala'il al-Imamah, Qom, Muassasah al-Bi'tsah, 1413 H.
  • Thabari, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir, Tarikh Thabari, riset: Majd Abulfadhl Ibrahim, Beirut, Dar al-Turats, cetakan kedua, 1387 H/1967.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut, Muassasah al-A'lami, 1403 H.
  • Thabari, Muhammad bin Abul Qasim, Bisyarat al-Mushthafa li Syi'at al-Murtadha, riset: Jawad Qayyumi, Qom, Nasyr Islami, 1420 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Mishbah al-Mutahajjid, Beirut, Muassasah Fiqh al-Syiah, 1411 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, Ikhtiar Ma'rifat al-Rijal, riset: Sayyid Mahdi Raja'i, Qom, Muassasah Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1404 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Amali, riset: Muassasah al-Bi'tsah, Qom, Dar al-Tsiqafah, 1414 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan, al-Tibyan fi Tafsir al-Qur'an, riset: Ahmad Qashir 'Amili, Maktab al-A'lam al-Islami, 1409 H.
  • 'Alimi, Sayyid Ja'far Murtadha, Asy'ar Fathimah Sa, Danisynameh Islami, Tehran, Lembaga Publikasi Penelitian Budaya dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 2015.
  • 'Amili, Sayyid Ja'far Murtadha, Ranj-hayi hadhrat Zahra sa, penerjemah:Muhammad Sepehri, Qom, Percetakan Tahdzib, 2004.
  • Fakhru Rabi, Muhammad bin 'Umar, al-Tafsir al-Kabir, Beirut, Daru Ihya' al-turats al-'Arabi, 1420 H.
  • Farahmandpur, Fahimeh, Sireh Siyasi Fathimah, Daneshnameh Fathimi, Tehran, Lembaga Publikasi Penelitian Budaya dan Pemikiran Islam, cetakan pertama, 2015.
  • Kahalah, Umar Ridha, A'lam al-Nisa' fi 'Alamay al-'Arab wa al-Islam, Beirut, Muassasah al-Risalah, cetakan ke-10, 1412 H/1991.
  • Kaf'ami, Ibrahim bin Ali, al-Mishbah, Beirut, Muassasah al-A'lami, 1403 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'kub, al-Kafi, Beirut, 1401 H.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'kub, al-Kafi, riset: Ali Akbar Ghaffari, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1985.
  • Muttaqi Hindi, 'Ala al-Din Ali bin Hisam, Kanz al-'Ummal, Birgt, Muassasah al-Risalah, tanpa tanggal.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, riset: Syaikh 'Abd al-Zahra 'Alawi, Beirut, Dar al-Ridha, tanpa tanggal.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Muassasah al-Wafa', Beirut, Lebanon, 1404 H.
  • Muhaqqiq Sabziwari, Muhammad Baqir, Nemunah Bayyinat dar Sya'n Nuzul Ayat az Nazar Syaikh Thuis wa Sayir Mufassirin Khashshah wa 'Ammah, Tehran, percetakan Islami, cetakan kedua, 1981.
  • Mahallati, Dzabihullah, Rayahin al-Syari'ah, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, tanpa tanggal.
  • Mudir Syanehci, Khzhim, 'Ilm al-Hadits, Masyhad, Percetakan Universitas Masyhad, 1966.
  • Mar'asyi, Najafi, Sayyid Syahabuddin, Syarah Ihqaq al-Haq, Qom, Perpustakaan Mar'asyi najafi, tanpa tanggal.
  • Masudi, Ali bin Husain, Itsbat al-Wasiyyah li Imam Ali bin Abi Thalib, Qom, percetakan Anshariyan, 1417 H.
  • Masudi, Muhammad Fadhil, Asrar al-Fathimiyyah, riset: Sayyid 'Adil 'Alawi, Muassasah al-Za'ir, 1420 H.
  • Muslim Naisyaburi, Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Beirut, Darul Fikr, tanpa tanggal.
  • Ma'muri, Ali, Kitabsyenasi Fathimah, Danesynameh Fathimi, Tehran, Lembaga Publikasi Penelitian Budaya dan Pemikiran Islam, cetacean pertama, 2015.
  • Maghribi, Qadhi Nu'man bin Muhammad Tamii, Syarh al-Akhbar fi Fadha'il al-A'immat al-Athar, riset: Sayyid Muhammad Husaini jalali, Qom, percetakan Nasyr Islami, 1414 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Ikhtishash, riset: Ali Akbar Ghaffari, Qom, percetakan Nasyr Islami, 1414 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Irsyad fi Ma'rifat Hujajillah 'ala al-'Ibad, Qom, Kongres Syaikh Mufid, 1413 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, al-Amali, riset: Husain Ustad Wali dan Ali Akbar Ghaffari, Beirut, Darul Mufid, 1414 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad, Masar al-Syari'ah fi Mukhtashar Tawarikh al-Syiah riset: Mahdi Najafi, Beirut, Darul Mufid, 1414 H.
  • Maqrizi, Ahmad bin Ali, Imta al-Asma' , riset: Muhammad Namisi, Beirut, Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 1420 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemunah, Tehran, Darul Kutub al-Islamiyyah, 1996.
  • Mirjahani, Sayyid Muhammad Hasan, Jannatul 'Ashimah, Tehran, Perpustakaan Shadr, 1398 H.
  • Nasa'i, Ahmad bin Syu'aib, al-Sunan al-Kubra, riset: 'Abdul Ghaffar Sulaiman Bundari dan Sayyid Kasrawi, Beirut, Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 1411 H.
  • Naisyaburi, Hasan binMuhammad, Tafsir Ghara'ib al-Qur'an wa Ragha'ib al-Furqan, riset: Zakariyya 'Amirat, beirut, Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 1411 H.
  • Hilali 'Amiri, Sulaim bin Qais, Kitab Sulaim bin Qais, riset: Muhammad Baqir Anshari,Qom, nary al-Hadi, 1420 H.
  • Ya'kubi, Ahmad bin Ishaq, Tarikh Ya'qubi, Daru Shadir, Beirut, tanpa tanggal.