Prioritas: b, Kualitas: b
tanpa navbox

Mukjizat

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Mukjizat (bahasa Arab: معجزة) adalah perkara luar biasa yang dilakukan oleh para Nabi, memiliki perbedaan dengan aturan-aturan biasa dan lazim yang berlaku pada keadaan biasa untuk membuktikan kebenaran atas pengakuan kenabiannya, perkara-perkara yang tidak bisa dilakukan manusia pada umumnya. Mukjizat memiliki syarat-syarat dan tipologi-tipologi diantaranya tahaddi, tidak ada yang mampu untuk melakukannya.

Menurut akidah mutakalim Syiah, mukjizat tidak bertentangan dengan sebab akibat. Mukjizat yang merupakan kekuatan Ilahi dipakai pemilik mukjizat untuk tujuan menunjukkan kebenaran dalam berdakwah. Dalam sumber-sumber rujukan Islam, sangat banyak dari mukjizat-mukjizat para Nabi yang tercatat dimana sebagian darinya bisa dipahami dan dirasakan dengan panca indra dan sebagiannya lagi hanya bisa dipahami oleh akal. Mukjizat yang paling terkenal dari para nabi adalah menghidupkan kembali orang yang sudah mati, tongkat Nabi Musa, tangan berwarna putih, tetap hidupnya Nabi Ibrahim di api dan mukjizat abadi Nabi Muhammad saw, Al-Quran.

Definisi

Mukjizat adalah nama fa'il berasal dari kata dasar "a-ja-za" [1] bermakna pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Dalam istilah agama dan teologi mukjizat adalah suatu perkara yang luar biasa disertai dengan pengakuan kenabian dan penantangan serta tidak ada seorang pun yang mampu menghadapinya. [2]

Menurut definisi yang lebih umum, mukjizat adalah perkara luar biasa yang terjadi karena ijin khusus Allah dan tujuannya adalah untuk menetapkan pilihan dan kedudukan Ilahi yang suci. Mukjizat memiliki beberapa ciri-ciri untuk dilakukan pengenalan dan penetapan, diantaranya adalah tahaddi dan tidak ada seorang pun yang mampu melakukannya. [3]

Perbedaan antara Mukjizat dan Karamah

Karamah merupakan kemampuan luar biasa yang muncul dari auliya Ilahi namun tidak disertai dengan pengakuan nubuwwah (atau kedudukan-kedudukan Ilahi) [4] sementara salah satu syarat mukjizat adalah disertainya dengan pengakuan kenabian (atau kedudukan-kedudukan Ilahi) [5]

Perbedaan mukjizat dan sihir

Perbedaan-perbedaan antara mukjizat dan karamah menurut para teolog dan filosof dari satu sisi dan perbedaan antara mukjizat dan sihir dari sisi lain adalah:

  • Sumber fi'il: Mukjizat dan karamah berasal dari Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya dan tidak bisa dipelajari lain halnya dengan sihir dan sejenisnya yang bisa dipelajari oleh pelakunya
  • Tujuan: Para Nabi dan pemilik karamah bertujuan untuk memperolah tujuan Ilahi dan menggunakan mukjizat dan karamah untuk menetapkan kebenaran ajaran-ajaran agamanya sedangkan sihir bertujuan untuk mencari ketenaran, memburu harta dan kedudukan [6]
  • Ciri-ciri amalan: Sihir memiliki amalan-amalan tertentu sedangkan mukjizat dan karamah tidak memiliki amalan-amalan tertentu seperti bisa diulangnya sihir-sihir yang telah ia lakukan, kemungkinan adanya sisi membahayakan bagi orang lain dan bisa dikalahkan oleh orang lain. [7]

Syarat-syarat mukjizat

Mukjizat memiliki beberapa syarat yang dalam referensi-referensi teologi disebutkan secara berbeda. Ada tiga syarat asli mukjizat yang disebutkan dalam semua kitab-kitab:

  • Adikodrati
  • Disertai dengan pengakuan kenabian
  • Sesuai dengan pengakuan artinya mukjizat harus sesuai dengan pengakuan pembawa mukjizat. Misalnya jika seorang yang memiliki mukjizat mengaku bahwa air sumur akan bertambah, apabila ia menyebabkan kurangnya air sumur itu, maka hal ini bukan termasuk mukjizat. [8]

Tujuan Mukjizat

Berdasarkan sumber-sumber rujukan teologi dan akidah Islam tujuan para Nabi memiliki mukjizat adalah untuk membuktikan kebenaran kenabiannya sehingga masyarakat akan beriman dan akan mengikuti ajaran-ajaran para Nabi untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati. [9]

Mukjizat dan hukum sebab akibat

Salah satu masalah penting yang ada dalam pembahasan mukjizat adalah kaitan amalan mukjizat dengan hukum sebab akibat. Berdasarkan hukum sebab akibat, segala kejadian yang ada di alam semesta ini tidak boleh keluar dari hukum sebab akibat. Namun sebab ini adalah bukan sebab lazim dan sebab yang dikenal. Sebuah kejadian, meskipun tidak bisa terwujud tanpa sebab, namun bisa memiliki sebab yang tidak dikenal. Alasan hal ini adalah bahwa kemampuan pengenalan manusia secara natural adalah terbatas dengan eksperimen-eksperiman ilmiah dan hal-hal natural dan tidak mampu untuk menetapkan adanya kejadian atau hal-hal supranatural dan efek-efeknya. [10]

Perbedaan mukjizat para Nabi

Berdasarkan referensi-referensi agama, mukjizat-mukjizat para Nabi adalah bermacam-macam, meskipun semuanya memiliki sisi kesamaan dari segi keluarbiasaannya. Perbedaan ini berdasarkan perbedaan masyarakat dan tingkatan pengetahuan pada zaman yang berbeda-beda. Hikmah Ilahi menuntut bahwa pada setiap zaman mukjizat para nabi adalah suatu perkara yang luar biasa, suatu perkara yang seperti keahlian yang dimiliki oleh masyarakat pada waktu itu. Sebagaimana pada zaman Nabi Musa karena pengetahuan dan praktek-praktek sihir sangat mengemuka, maka orang-orang yang ahli pada masa itu bisa membedakan antara manakah yang sihir dan yang bukan sihir. Allah menentukan bahwa mukjizat Nabi Musa As adalah tongkat sehingga mereka tidak bisa membawakan yang serupa dengannya dan mengakui kemukjizatan tongkat Nabi Musa As.

Demikian pula pada masa Nabi Isa As yang mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati dan memberikan kesembuhan bagi orang yang buta dan menyembuhkan orang yang telah buta sejak lahir sehingga akan jelaslah kelebihan Nabi Isa As dari pada tabib-tabib pada masa itu. Pengakuan mereka kepada mukjizat Nabi Isa As adalah bukti nyata atas pengakuan kenabian Nabi Isa As sehingga hujah bagi mereka telah sempurna. Sedangkan pada zaman Nabi Muhammad saw karena kaum Arab berada pada tingkatan kefasihan yang sangat tinggi [11] dan para sastrawan saling berlomba untuk mengadu syair-syair mereka maka syair-syair pada masa itu sangat terkenal dan salah satu dalil pengaruh mukjizat al-Quran bagi mereka adalah karena hal ini.

Macam-macam mukjizat

Sebagian para pemikir percaya bahwa mukjizat para nabi dibagi menjadi dua:

  • Mukjizat rasional, perkara-perkara yang disaksikan oleh mata seperti unta Nabi Saleh, taupan Nabi Nuh As, api Nabi Ibrahim As, tongkat Nabi Musa As dan dihidupkannya kembali orang yang telah mati oleh Nabi Isa As. Tipologi mukjizat ini adalah orang-orang kebanyakan dan orang-orang pintar dan ahli bisa melihatnya dan tentu saja jenis mukjizat ini lebih menarik bagi orang-orang awan, namun biasanya susah untuk membedakan mukjizat-mukjizat tersebut dengan perkara-perkara yang dilakukan oleh para pesihir dan lainnya dan untuk menentukannya memerlukan orang-orang yang pintar dalam perkara ini sebagaimana untuk menentukan bahwa tongkat Nabi Musa itu bukan sihir yang ditentukan oleh para pesihir dan orang-orang yang berilmu dalam hal ini.
  • Mukjizat akal: Mukjizat akal adalah perkara-perkara yang hanya bisa diterima oleh akal dan tidak bisa dipahami oleh indra. Bagian mukjizat ini diterima oleh para ilmuwan seperti tentang kabar ghaib. [12]

Contoh-contoh mukjizat para Nabi

Mukjizat Nabi Ibrahim

  • Dinginnya api

قُلْنا یا نارُ کونی‏ بَرْداً وَ سَلاماً عَلی‏ إِبْراهیمَ "Kami berfirman, "Hai api, menjadi dingin dan keselamatanlah bagi Ibrahim." (Qs Al-Anbiya [21]: 69)

  • Menghidupkan kembali burung yang telah terpotong-potong

وَ إِذْ قالَ إِبْراهیمُ رَبِّ أَرِنی‏ کیفَ تُحْی الْمَوْتی‏ قالَ أَوَ لَمْ تُؤْمِنْ قالَ بَلی‏ وَ لکنْ لِیطْمَئِنَّ قَلْبی‏ قالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّیرِ فَصُرْهُنَّ إِلَیک ثُمَّ اجْعَلْ عَلی‏ کلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءاً ثُمَّ ادْعُهُنَّ یأْتینَک سَعْیاً وَ اعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزیزٌ حَکیم "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum yakinkah engkau?" Ibrahim menjawab, "Aku telah meyakininya, akan tetapi supaya hatiku tetap mantap." Allah berfirman, "Ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah. Kemudian, letakkanlah di atas setiap bukit satu bagian dari bagian-bagian daging burung itu, lalu panggillah mereka, niscaya burung-burung itu akan datang kepadamu dengan segera." Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs Al-Baqarah [2]: 26)

Mukjizat Nabi Musa

Al-Quran menjelaskan beberapa mukjizat Nabi Musa As yang beliau perlihatkan untuk kaum Bani Israel dan Raja Firaun untuk menyempurnakan hujah. Sebagian mukjizat itu adalah: [13]

  • Mukjizat 9 macam: Nabi Musa As selama menghadapi Raja Firaun untuk menyempurnakan hujah baginya tongkat menjadi ular, tangan putih, banjir, hujan belalang, hujan darah, kelaparan, dan kekurangan tanaman.

فَأَرْسَلْنا عَلَیهِمُ الطُّوفانَ وَ الْجَرادَ وَ الْقُمَّلَ وَ الضَّفادِعَ وَ الدَّمَ آیاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَکبَرُوا وَ کانُوا قَوْماً مُجْرِمینَ "Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, serangga tanaman, katak, dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa." (Qs Al-A'raf [7]: 133)

  • Terbelahnya laut dan lewatnya Bani Israel

فَأَوْحَینا إِلی‏ مُوسی‏ أَنِ اضْرِبْ بِعَصاک الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَکانَ کلُّ فِرْقٍ کالطَّوْدِ الْعَظِیمِ "Dan kami wahyukan kepada Musa, "Lemparkanlah tongkatmu!" Maka sekonyong-konyong tongkat itu (berubah menjadi ular besar dan) menelan apa yang mereka sulapkan." (Qs Al-A'raf [7]: 117)

  • Dua belas mata air

وَ إِذِ اسْتَسْقی‏ مُوسی‏ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصاک الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتا عَشْرَةَ عَیناً قَدْ عَلِمَ کلُّ أُناسٍ مَشْرَبَهُمْ "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!" Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh setiap suku (Bani Isra'il yang berjumlah dua belas kabilah itu) mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang telah diberikan oleh) Allah dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan."

  • Dihidupkannya orang yang telah dibunuh oleh Bani Israel

وَ إِذْ قالَ مُوسی‏ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ یأْمُرُکمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." (Qs Al-Baqarah [2]: 67)

  • Mendapat naungan awan

وَ ظَلَّلْنا عَلَیکمُ الْغَمام Dan Kami naungi kamu dengan awan (Qs Al-Baqarah [2]: 57)

  • Turunnya manna dan salwa

وَ أَنْزَلْنا عَلَیکمُ الْمَنَّ وَ السَّلْوی‏ کلُوا مِنْ طَیباتِ ما رَزَقْناکم dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan-makanan yang baik yang telah Kami anugerahkan kepadamu. (Qs Al-Baqarah [2]: 57)

  • Meletakkan gunung Thur diatas kepada Bani Israel

وَ إِذْ أَخَذْنا مِیثاقَکمْ وَ رَفَعْنا فَوْقَکمُ الطُّورَ Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu dan angkat (gunung) Thursina di atas (kepala)mu. (Qs Al-Baqarah [2]: 63)

Mukjizat-mukjizat Nabi Isa

Al-Quran mengisyaratkan beberapa mukjizat Nabi Isa, diantaranya: Menghidupkan orang yang telah meninggal, menyembuhkan orang yang buta, menyembuhkan orang yang telah buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak, memberikan kabar ghaib, memberi ruh kepada patung burung. وَ رَسُولاً إِلی‏ بَنی‏ إِسْرائیلَ أَنِّی قَدْ جِئْتُکمْ بِآیةٍ مِنْ رَبِّکمْ أَنِّی أَخْلُقُ لَکمْ مِنَ الطِّینِ کهَیئَةِ الطَّیرِ فَأَنْفُخُ فیهِ فَیکونُ طَیراً بِإِذْنِ اللَّهِ وَ أُبْرِئُ الْأَکمَهَ وَ الْأَبْرَصَ وَ أُحْی الْمَوْتی‏ بِإِذْنِ اللَّهِ وَ أُنَبِّئُکمْ بِما تَأْکلُونَ وَ ما تَدَّخِرُونَ فی‏ بُیوتِکمْ إِنَّ فی‏ ذلِک لَآیةً لَکمْ إِنْ کنْتُمْ مُؤْمِنین "Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Isra'il (yang berkata kepada mereka), "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhan-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah seperti bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku memberitahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." (Qs Ali Imran [3]: 49)

Mukjizat-mukjizat Nabi Muhammad Saw

Tulisan Asli: Mukjizat Nabi Muhammad Saw Mukjizat Nabi Muhammad Saw dua macam: Sebagian bisa diterima akal dan sebagian lainnya bisa diterima oleh panca indra. Diantara mukjizat-mukjizat beliau adalah:

  • Terbelahnya Bulan: Para Mufassir Syiah dan Ahlu Sunah menukilkan bahwa ketika kafir Quraisy di Mekah menginginkan supaya Nabi Muhammad Saw menampakkan mukjizat, Nabi Muhammad Saw menunjuk bulan dan pada saat itu, bulan terbelah menjadi dua. [14] [15]

اِقْتَربَتِ السّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ وَ اِنْ یرَوا آیةً یعْرِضُوا وَ یقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرُّ "Hari kiamat telah dekat dan bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang terus menerus." (Qs Al-Qamar [54]: 1-2)

Dalam riwayat yang berasal dari ulama Syiah dan Ahlusunnah dinukilkan bahwa matahari kembali ke belakang atas permintaan Nabi Muhammad Saw untuk Imam Ali as sehingga Imam Ali as melaksanakan salat Ashar. Peristiwanya adalah sebagai berikut: Pada suatu hari, Ali as tengah diutus untuk melaksanakan tugas. Nabi Muhammad Saw tidak tahu bahwa Imam Ali as belum melaksanakan salat Ashar. Beliau meletakkan kepala beliau di paha Imam Ali as dan tidur. Pada saat itu, wahyu Ilahi turun dan Nabi menerima wahyu. Pada saat itu wahyu turun hingga menjelang Maghrib. Ketika waktu penerimaan wahyu selesai, Nabi bertanya kepada Imam Ali as apakah telah mengerjakan salat Ashar? Ketika Imam Ali as menjawab bahwa ia belum mengerjakan salat Ashar karena kepala Nabi Saw berada di paha Imam Ali as dan tidak bisa membangunkan Nabi Saw, maka Nabi memohon kepada Allah Swt untuk mengembalikan matahari supaya Imam Ali memiliki kesempatan untuk mengerjakan salat Ashar. Pada saat itu pun, matahari kembali seukuran dengan waktu fadhilah mengerjakan salat Ashar [16] [17]

  • Al-Qur'an: Al-Quran adalah mukjizat paling utama Nabi Muhammad Saw. Mukjizat ini dari berbagai sisi memiliki i'jaz dan dari beberapa sisi lainnya memiliki nilai yang lebih penting:
  • Mukjizat-mukjizat yang lain tidak cukup untuk membuktikan kenabian, namun harus dibuktikan dari tempat lain bahwa pembawa mukjizat menilai bahwa ia seorang nabi dan memiliki syarat-syarat kenabian sehingga mukjizat tersebut merupakan dalil atas pengakuan kenabian yang ia katakan. Namun Al-Quran secara mandiri bisa dijadikan sebagai bukti akan kemukjizatan Nabi Muhammad Saw karena secara terang menjelaskan semua perkara dan tidak memerlukan penjelasan-penjelasan lain
  • Mukjizat-mukjizat lain terkhusus hanya pada zaman tertentu dan orang-orang yang menyaksikan saja dan bukan merupakan dalil bagi orang lain untuk membuktikan kenubuwwahannya kecuali jika berasal dari tawatur atau bisa dibuktikan dari jalan yang pasti seperti tongkat Nabi Musa dan yad baidha (tangan berwarna putih) dan menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan bertasbihnya keriki dan lainnya. Namun Al-Quran tetap menjadi mukjizat pada setiap masa hingga hari kiamat.
  • Setiap surah adalah mukjizat berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang lain yang akan menjadi mukjizat jika semua unsur-unsur mukjizatnya ada baru disebut sebagai mukjizat
  • Mukjizat lain hanya memilili satu sisi mukjizat namun Al-Quran adalah mukjizat dari berbagai sisi. [18]

Catatan Kaki

  1. Kasyaf Istilah al-Funun, jil. 2, hal. 1575.
  2. Mufid, Al-Nakat al-I'tiqādiyah, hal. 35; Jurjani, Al-Ta'rifat, hal. 96.
  3. 1.
  4. Sajadi, Farhang Ma'ārif Islami, jil. 3, hal. 1569.
  5. Jurjani, Al-Ta'rifāt, hal. 79.
  6. Makarim Syirazi, jil. 8, hal. 358.
  7. Ridhai Isfahani, Pazuhesyi dar I'jāz Ilmi Qurān, hal. 64 dan 65.
  8. Silahkan lihat: Mufid, Al-Irsyād, hal. 126-129.
  9. Misbah Yazdi, Amuyesy Aqāid, hal. 219-223.
  10. Misbah Yazdi, Amuyesy Aqāid, hal. 226-227.
  11. Thaib Husain, jil. 1, hal. 42.
  12. Mukjizah Syenāsi, Sa'idi Rusyan, hal. 104.
  13. Site Pazuheh.
  14. Qumi, jil. 2, hal. 341.
  15. Ibnu Syahr Asyub, jil.1, hal. 163.
  16. Ibnu Athiyah, jil. 1, hal. 791.
  17. Mas'udi, Abul Hasan, hal. 153.
  18. Thaib Husain, jil. 1, hal. 41.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib, Riset: Ba'qai, Beirut.
  • Ibnu Athiyyah, Abha al-Murad, Beirut, Muasasah A'lami, 1423 H.
  • Jurjani, Mir Sayid Syarif, al-Ta'rifāt, Tehran, Nasir Khosro, 1412 H.
  • Rabbani Gulpaigani, Mukhadhirat fi Ilahiyat, Qum, Muasasah Imam Shadiq, 1428 H.
  • Ridhai, Muhammad Ali, Pazuhesyi dar I'jāz Quran, Rasyt, Kitab Mubin, 1381 S.
  • Sa'idi Rusyan, Muhammad Baqir, Mu'jizah Syenāsi, Qum, Tanpa penerbit.
  • Sajjadi, Farhang Ma'ārif Islāmi, Tehran, Danesygah Tehran, 1373 S.
  • Thaib, Abdul Husain, Athyab al-Bayān fi Tafsir al-Quran, Tehran, Islamiyyah, 1378 S, cet. Ke-2.
  • Qumi, Ali bin Ibrahim, Tafsir Qumi, Riset: Sayid Thaib Musawi Jazairi, cet Dar al-Kitab, Qum, 1367 S, cet. 4.
  • Mas'udi, Abul Hasan, Itsbāt al-Washiyah lil Imam Ali bin Abi Thalib, Qum, Anshariyan, 1423.
  • Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Amuzisy Aqāid, Tehran, Syerkat wa Nasyar Bainal Milal, 1377 S.
  • Mufid, al-Nukat al-I'tiqadiyyah, Qum, Al-Mautur al-Alimi, 1413 H.
  • Mufid, al-Irsyāf fi Ma'rifah al-Hujaj 'ala al-'Ibad, Qum, Konggirih Syaikh Mufid, 1413 H.
  • Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1374 S.