Prioritas: aa, Kualitas: b

Haji

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Islam
کتیبه مسجد.png

Haji (Bahasa Arab: الحج) adalah amalan ibadah dalam agama Islam yang bermakna perjalanan ke Mekah di Saudi Arabia untuk menziarahi Kakbah dan melakukan amalan-amalan ibadah khusus. Ibadah haji wajib bagi kaum Muslimin sekali saja seumur hidupnya. Syarat-syarat wajib melakukan ibadah haji adalah: Berakal, baligh, istita'at (merdeka dan mampu). Tiga jenis haji: Qiran, Ifrad dan Tamattu' yang dilakukan pada tiga bulan: Syawal, Dzulkaidah dan Dzulhijjah.

Semenjak seseorang berkewajiban untuk mengenakan pakaian ihram, maka sebagian dari pekerjaan-pekerjaan tertentu haram baginya dan wajib baginya melakukan manasik haji. Manasik haji adalah melakukan wuquf di Arafah, wuquf di Masy'ar, pergi ke Mina, Melempar Jumrah, Sa'i antara Marwah dan Shafa, Thawaf Nisa', salat Thawaf Nisa', Thawaf Ziarah, salat thawaf dan Berkurban.

Manasik haji adalah perkumpulan terbesar di antara kaum Muslimin dan semua mazhab-mazhab Islam pada musim haji di Mekah.

Arti Leksikal dan Teknikal Haji

Arti kata bahasa Arab "hajj” atau "hijj” merencanakan membawa dalil dan burhan tentang perintah penting. [1] Yang dimaksud dengan haji dalam teks-teks agama dan pelbagai literature adalah pergi ke baitullah al-Haram dengan maksud melaksanakan ibadah-ibadah khusus dan pada zaman khusus. Menurut istilah fikih, haji adalah kumpulan amalan-amalan yang dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu di Mekah. [2] Manasik haji adalah sekumpulan pekerjaan-pekerjaan ibadah ritual haji. [3] Kata manasik adalah bentuk plural dari mansak bermakna tempat atau masa atau masa ibadah, ibadah dan tempat menyembelih. Maksud darinya adalah semua pekerjaan yang dilakukan oleh seorang yang melaksanakan ibadah haji di Mekah. [4]

Haji dalam Al-Quran

Dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat-ayat yang menyinggung masalah haji, haji adalah kewajiban (taklif) bagi orang-orang yang memiliki kemampuan (mustathi') [5] dan termasuk tanda-tanda agung dan layak untuk dihormati. [6]

  • Berdasarkan ayat 27 surah Al-Hajj, Nabi Ibrahim as bertanggung jawab untuk menyampaikan hukum haji kepada masyarakat. Al-Quran mendefinisikan haji sebagai ibadah yang harus dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu dan hilal yang merupakan tanda-tanda masuknya bulan baru adalah merupakan tanda bagi datangnya musim haji tersebut. [7]
  • Demikian juga dalam Al-Quran haji ditetapkan pada bulan-bulan tertentu. [8] Berdasarkan hal ini, kebiasaan jahiliyyah yang mengubah bulan-bulan haram dengan memajukan atau memundurkan manasik haji adalah hal-hal yang tidak dapat diterima. [9]
  • Pada ayat-ayat yang lainnya dibahas mengenai manasik, hukum-hukum fikih haji dan akhlak haji, mislanya: diharuskannya melaksanakn haji Tamattu' bagi penduduk bukan Mekah dan penduduk sekitar Haram [10], wukuf di Masy'aril Haram dan Arafah dengan adab-adabnya [11], hukum-hukum yang berkaitan dengan berkurban [12] memburu dalam manasik haji [13], kewajiban berthawaf untuk mengelilingi Kakbah [14] dan melakukan Sa'i antara Marwah dan Shafa. [15] Tidak boleh memotong rambut sebelum melaksanakan kurban [16] bolehnya mencari uang dan berjualan pada saat melakukan haji [17] sebagian pekerjaan-pekerjaan yang dilarang atau dicela ketika melaksanakan haji seperti mujadalah, mendekati istri [18] dan melawan sebagian kebiasaan-kebiasaan tercela masyarakat jahiliyyah[19]

Dalil Hadis

Dalam dua kitab Wasail al-Syi'ah dan Mustadrak al-Wasail lebih dari 9150 hadis tentang kedudukan dan hukum-hukum haji yang menunjukkan pentingnya masalah haji dalam agama Islam, juga hukum-hukum yang sangat banyak jumlahnya secara mendetail mengenai haji.

  • Haji dalam riwayat lebih baik dari pada puasa dan jihad, bahkan setiap ibadah selain salat. [20] Dalam manasik haji terkandung rahasia-rahasia dan faedah-faedah haji yang tak terkira. Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as: Orang yang melaksanakan ibadah haji adalah tamu Tuhan; Apabila Allah menghendaki, Ia akan mengkaruniakannya dan apabila Allah menghendaki, akan mengabulkan doa-doanya dan apabila para haji memintakan syafaat bagi orang lain kepada Allah maka permohonan itu akan diterima dan apabila ia berdiam diri (tidak meminta apa-apa) maka Allah Swt sendiri yang akan memberi. [21] Dalam riwayat yang lain dari Imam Shadiq as juga: Kemudian ketika para haji berada di Mina, terdengar seruan dari sisi Allah: Apabila kamu menginginkan kebahagiaan bagiku, maka aku sudah rela. [22]
  • Dalam hadis-hadis disebutkan bahwa haji termasuk rukun Islam [23] dan termasuk pekerjaan-pekerjaan dan kewajiban-kewajiban yang paling penting. [24]
  • Imam Ali as menamakan haji dengan jihad yang tidak mampu [25] dan dalam surat wasiatnya hal terkecil yang didapat adalah diampuninya dosa-dosa. [26]
  • Tidak melaksanakan atau mengakhirkan haji wajib, maka berdasarkan hadis ia akan dicela dan akan mengakibatkan pengaruh-pengaruh buruk baik di dunia maupun di akherat. [27]
  • Haji dalam hadis sangat penting ditekankan sedemikian sehingga dimisalkan bagi pemimpin kaum Muslimin jika masyarakat tidak melaksanakan haji, maka supaya memerintahkan masyarakat untuk melaksanakannya dan jika perlu biaya haji dipenuhi dari baitul mal [28]

Hikmah Diwajibkannya Haji

  • Sangat banyak hadis yang menjelaskan tentang hikmah diwajibkannya haji. Imam Ali as dalam berbagai kesempatan mengingatkan pentingnya berhaji misalnya untuk menunjukkan ketawadhuan dihadapan kebesaran Tuhan, membebaskan manusia dari kesombongan, ujian berat dan bersabar atas kesulitan-kesulitan, mempererat persaudaraan antara kaum Muslimin, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dan untuk memperoleh rahmat dari Allah swt. [29]
  • Sayidah Fatimah sa bersabda, "haji merupakan salah satu faktor untuk mengokohkan agama.” [30]
  • Imam Shadiq as bersabda: "Di antara hikmah haji menurut hadis dari Nabi Muhammad Saw: Berkumpulnya kaum Muslimin dari berbagai belahan dunia, saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya, memanfaatkan kesempatan untuk melakukan hubungan perdagangan, mempelajari ilmu-ilmu keagamaan.” [31]
  • Imam Ridha as bersabda: "Sebagian hikmah-hikmah haji yang lain adalah: Menjadi tamu Tuhan dan bertaubat atas dosa-dosa yang dilakukan pada masa lampau, mencegah badan untuk memperturutkan kenginan-keinginan nafsu, menjauhkan diri dari sifat hati yang keras dan keputus-asaan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain, pemanfaatan sisi ekonomi, mempelajari masalah-masalah keagamaan.” [32]

Adab-adab Perjalanan

Anjuran-anjuran cukup banyak dari Rasulullah saw dan para Imam as tentang adab-adab safar, diantaranya:

  • Penyesalah dan bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan, memiliki sifat zuhud sehingga tidak akan melakukan perbuatan dosa dan mendatangkan kesabaran yang akan menjauhkan rasa marah, berbuat baik sesama teman seperjalanan, bermurah hati dalam menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan berhaji, menghindari menawar barang ketika berbelanja, [33] bertutur kata yang baik selama perjalanan, menghindari perbuatan yang tidak penting selama dalam perjalanan dan memberi makan bagi orang-oang yang membutuhkan. [34]
  • Dalam hadis dijelaskan bahwa pahala dan ampunan Ilahi akan diperoleh seseorang yang berhaji dengan syarat jika orang yang pergi haji melaksanakannya dengan ikhlas dan menjauhkan diri dari segala penyakit riya. [35]

Kewajiban Berhaji

Haji merupakan rukun Islam dan bagi setiap orang yang memenuhi syarat wajib untuk melakukan ibadah haji sekali dalam umur hidup. Terhadap haji wajib dalam istitilah syara' dan menjadi wajib juga bukan karena nadzar dan hal-hal semacamnya, dari sisi bahwa haji merupakan rukun agama, maka disebut dengan "Hajjatul Islam". [36]

Kewajiban haji adalah segera artinya pada tahun pertama istitha'at harus dilakukan dan jika ia tidak melaksanakan kewajiban berhaji, maka ia harus mengerjakannya pada tahun selanjutnya, dan mengakhirkan kewajiban beribadah haji dari tahun semenjak ia mampu melakukan adalah dosa besar. [37]

Haji kadang-kadang menjadi wajib karena nadzar, sumpah, tidak sahnya haji yang dilakukan sebelumnya, dan badal haji bagi orang lain. [38] Tanpa terpenuhinya salah satu dari hal-hal yang mewajibkan haji, maka melakukan haji sunah hukumya, sebagaimana pengulangan pelaksanaan haji setiap tahun atau membawa keluarga untuk berhaji juga sunnah hukumnya. [39]

Syarat-syarat Wajib Haji

Syarat-syarat wajib haji meliputi: berakal, baligh, [40] merdeka, [41] istitha'at atau mampu. [42] Oleh itu, haji tidak wajib bagi orang-orang yang gila, belum baligh, budak dan orang-orang yang tidak mampu. Jika orang-orang yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan ibadah haji, melaksanakan ibadah haji, maka haji mereka tidak dapat disebut dengan Hajjatul Islam. [43]

Jenis-jenis Haji

Haji memiliki tiga bagian: haji Tamattu', haji Qiran dan haji Ifrad.

  • Haji tamattu adalah kewajiban seseorang yang tinggal pada jarak 16 atau 12 farsah dari Mekah atau lebih jauh berdasarkan perbedaan fatwa-fatwa. [44]
  • Haji Qiran dan Ifrad adalah kewajiban penduduk Mekah dan orang-orang yang jarak tempat tinggalnya lebih dekat dari jarak itu hingga Mekah. [45]

Manasik Haji

Amalan-amalan dan manasik haji berdasarkan urutan waktu adalah:

  1. Mengenakan pakaian Ihram
  2. Wukuf di Arafah
  3. Wukuf di Masy'aril Haram (Muzdalifah)
  4. Bermalam di Mina pada malam-malam 11, 12 dan pada sebagian malam 13 untuk melakukan amalan-amalan:
    1. Lempar tiga Jumrah pada hari yang telah ditentukan. [46]
    2. Berkurban di Mina yang diwajibkan dalam haji Tamattu' dan disunnahkan dalam haji Qiran dan haji Ifrad. [47]
    3. Halq (menggundul) atau taqshir (mencukur)
  5. Thawaf ziarah
  6. Salat Thawaf ziarah
  7. Sa'i antara Shafa dan Marwah
  8. Thawaf Nisa'
  9. Salat thawaf Nisa'
  • Dalam haji Tamattu', umrah Tamattu' harus dilakukan sebelum haji.
  • Amalan-amalan Mekah (lima amalan terkhir), dengan menjaga syarat-syarat yang telah ditetapkan, dapat dilakukan juga setelah Halq atau Taqshir pada hari ke-10.

Hal-hal yang disunahkan dalam Manasik Haji

Setiap manasik haji, memiliki adab-adab dan hal-hal mustahab yang dianjurkan untuk dikerjakan. Dalam kitab-kitab fikih, disebutkan tentang adab-adab untuk melakukan ihram, memasuki Masjidil Haram, thawaf, salat tawaf, sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, wukuf di Masy'aril Haram, melempar jumrah, berkurban, berada di Mina dan di Mekah sendiri.

Peristiwa Penting

Pembunuhan Jamaah Haji pada tahun 1987 M

Sepanjang sejarah, kadang-kadang para jamaah haji selama menempuh perjalanan haji atau diantara al-Haramain al-Syarifain, menderita kerugian harta dan jiwa. Diantaranya pada tanggal 31 Juli 1987 M bertepatan dengan 6 Dzulhijjah tahun 1407 H, ratusan peziarah dari Iran dan beberapa peziarah dari negara-negara lain di Mekah dan Kakbah, diserang secara sadis dan dibunuh oleh agen Wahabi Arab Saudi, dan hal itu terjadi pada saat mereka melakukan ritual kewajiban Ilahi untuk berlepas diri dari kaum musyrikin. [48]

Kejadian Mina pada tahun 2015 M

Kejadian Mina, adalah kejadian paling mematikan dalam peristiwa haji Tamattu' yang terjadi pada tanggal 24 September 2015 M bertepatan dengan Idul Kurban yang menelan korban nyawa lebih dari 2900 jiwa. Sebagian sumber kabar menuliskan jumlah orang yang tewas menembus hingga 5 ribu jiwa lebih. Para hujaj yang meninggal atau hilang atau luka-luka parah dalam insiden ini berasal dari 39 negara. Pemerintah Arab Saudi hingga sekarang belum mengeluarkan pernyataan resmi sebab kejadian ini.

Penyebab meletusnya kejadian ini, sebagaimana yang diumumkan oleh pemerintah setempat karena penutupan jalur 204 dan adanya penumpukan jamaah. Berdasarkan statistik terbaru yang dilansir, jumlah peziarah Republik Islam Iran adalah jumlah paling banyak yang meninggal dunia dan terluka dari pada negara-negara lain.

Ayatullah Sayid Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran memberikan reaksi keras atas insiden Mina dan mengumumkan tiga hari sebagai hari berkabung nasional. Rahbar menilai penyebab insiden ini adalah kesalahan managemen yang dilakukan Arab Saudi atas penyelenggaraan ibadah haji. [49] Demikian juga Macky Sall, presiden Republik Senegal juga mengumumkan hari berkabung selama tiga hari. [50]

Akibat kejadian ini dan tidak terjalinnya kesepakatan antara Iran dan Arab Saudi, maka pengirimin jemaah haji Iran pada tahun 2016 M dibatalkan.

Catatan Kaki

  1. Al-Jauhari, Ibnu Mandzur, Zubaidi, terkait kata hajj.
  2. Silahkan lihat: Ibnu Idris al-Hilli, jld. 1, hlm. 506; Muhaqqiq al-Hilli, 1409, jld. 1, hlm. 163; Muhaqqiq al-Karki, 1409, jld. 1, hlm. 163; Muhaqqiq al-Karki, 14091412, jld. 2, hlm. 149150.
  3. Silahkan lihat: Abul Salah al-Halabi, hlm. 195, 198, 217; al-Thusi, Al-Mabsuth, jld. 1, hlm. 309; Aini, jld. 9, hlm. 121.
  4. Jauhari, Ibnu Mandzur Thuraihi, frasa nasak.
  5. QS.. Ali Imran [3]: 97.
  6. QS.. Haj [22]: 32.
  7. QS. al-Baqarah [2]: 189.
  8. QS. al-Baqarah [2]: 197.
  9. Silahkan lihat: QS. al-Taubah [9]: 37.
  10. QS. al-Taubah [9]: 196.
  11. QS. al-Baqarah [2]: 198-199.
  12. QS. al-Baqarah [2]: 196; Haj [22]: 28.
  13. QS. al-Maidah [5]: 12, 95 dan 96.
  14. QS. al-Haj [22]: 29.
  15. QS. al-Baqarah [2]: 158.
  16. QS. al-Baqarah [2]: 196.
  17. QS. al-Baqarah [2]: 198.
  18. QS. al-Baqarah [2]: 197.
  19. QS. al-Baqarah [2]: 189.
  20. Al-Kafi (al-Kulaini), jld. 4, hlm. 253-254.
  21. Al-Kafi (al-Kulaini), jld. 4, hlm. 255.
  22. Al-Kafi (al-Kulaini), jld. 4, hlm. 262.
  23. Silahkan lihat: Ibnu Khuzaimah, jld. 1, hlm. 159; Ibnu Hajar al-Asqalani, jld. 3, hlm. 285, 286; Hurr al-Amili, jld. 1, hlm. 1320, 2628.
  24. Silahkan lihat: Al-Bukhari, jld. 2, hlm. 141; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 252-264; Ibnu Babawaih, hlm. 465, 1368 S.
  25. Nahj al Balaghah, hikmah ke-136.
  26. Silahkan lihat: Kulaini, jld. 7, hlm. 5152; juga untuk mengetahui contoh-contoh dari hadis-hadis Ahlu Sunah dari Nabi Muhammad Saw silahkan lihat: Al-Bukhari, jld. 2, hlm. 209.
  27. Silahkan lihat: Nahj al-Balaghah, surat 47; Turmudzi, jld. 2, hlm. 153-154; Khurr al-Amili, jld. 11, hlm. 29-32.
  28. Silahkan lihat: Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 259-260, 272, jld. 11, hlm. 23-24.
  29. Silahkan lihat: Nahj al-Balaghah, Khutbah 1, 110, 192. Hikmah 252.
  30. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jld. 29, hlm. 223.
  31. Silahkan lihat: Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 14.
  32. Ibnu Babuwaih, no. 1363, jld. 2, hlm. 90.
  33. Ibnu Babuwaih, 1404, jld. 3, hlm. 167, 197; al-Thusi, Tahdzib, jld. 5, hlm. 445; Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 149, jld. 17, hlm. 455-456.
  34. Silahkan lihat: Ibnu Abi Jumhur, jld. 4, hlm. 33; Qazwini, hlm. 586-588; Syakui, hlm. 99.
  35. Silahkan lihat: Ibnu Babuwaih, no. 1368, hlm. 504; Ibnu Hajar al-Asqalani, jld. 3, hlm. 302; Hurr al-Amili, jld. 11, hlm. 166, 109, 110.
  36. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 220-223.
  37. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 223-225.
  38. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 216-228.
  39. Muhadzdzab al-Ahkam, jld. 12, hlm. 18.
  40. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 229.
  41. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 241.
  42. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 248.
  43. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 229, 241, 248 dan 275.
  44. Jawāhir al-Kalām jld. 18, hlm. 105.
  45. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 44-47.
  46. Jawāhir al-Kalām jld. 17, hlm. 136.
  47. Jawāhir al-Kalām, jld. 17, hlm. 114, 115.
  48. http://www.irdc.ir/fa/calendar/136/default.aspx.
  49. khameini.ir.
  50. Site Irna.

Daftar Pustaka

  • Al-Quran al-Karim.
  • Nahj al-Balāghah, Subhi, Salihi, Qahirah, 1411 H/1991 M.
  • Ibnu Abi Jumhur, Awali al-Liali al-Aziz fi al-Hadits al-Diniyah, cet. Mujtaba Araki, Qum, 14031405/19831985.
  • Ibnu Idris al-Hilli, Kitāb al-Sarāir al-Hawi li Tahrir al-Fatawi, Qum, 1410-1411 H.
  • Ibnu Babuwaih, Tsawāb A'māl wa Iqāb al-A'mal, Qum, 1410 H.
  • Ibnu Babuwaih, Uyun al-Ridhā, Cet. Mahdi Lajurdi, Qum, 1404 H.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, Syarah Sahih Bukhari, Bulaq, 1300-1301, cet. Offset Beirut, tanpa tahun.
  • Ibnu Khuzaimah, Sahih Ibnu Khuzaimah, cet. Muhammad Mustafa A'dhami, 1412 H/1992 M.
  • Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, cet. Ali Syiri, Beirut, 1412 H/1992 M.
  • Abu Salah al-Halabi, Al-Kāfi fi al-Fiqh, cet. Ridha Ustadi, Isfahan, 1403 H.
  • Ismail Hamad al-Jauhari, al-Sihah, Taj al-Lughah wa Sihah al-Arabiyah, cet. Ahmad al-Ghafur Athar, Qahirah, cet. Offset Beirut, 1407 H.
  • Bahrani, Yusuf bin Ahmad, al-Hadaiq al-Nadhirah fi Ahkām fi al-Itrah, Jamiah Mudarisin, Qum, 1405 H.
  • Hur al-Amili, Muhammad bin Hasan, Tafsil wa Wasāil Syiah ila Tahsil Masail al-Syiah, Qum, 1409-1412 H.
  • Al-Sabzawari, Sayid Abdul A'la, Mahdzab al-Ahkām fi bayan al-Halāl wa al-Harām, Muasasah al-Manar Qum, 1413 H.
  • Abdul Jabbar bin Zainal Abidin Syakui, Misbah al-Haramain, cet. Jawad Thabathabai, Tehran, 1426 H.
  • Fakhruddin Muhammad Thuraihi, Majma' al-Bahrain, cet. Ahmad Husaini, Tehran, 1403 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, cet. Ahmad Husaini, Tehran, 1403 H.
  • Al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub, Dar al-Kitab al-Ilamiyah, Tehran, 1407 H.
  • Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi al-Majlisi, Bihār al-Anwār, Beirut, 1403 H/1983 M.
  • Muhammad Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, cet. Muhammad Dhahani Efendi, Istanbul, 1401 H/1981 M.
  • Muhammad Hasan al-Thusi, al-Mabsuth fi Figh al-Imāmiyyah, jld. 1, cet. Muhammad Taqi Kasyfi, Tehran, 1429 H.
  • Muhammad Hasan al-Thusi, Tahdzib al-Ahkām, Cet. Hasan Musawi Khurasan, Tehran, 1405 H.
  • Muhammad Isa al-Turmudzi, jld. 2, cet. Abdurahman Muhammad Utsman, Beirut, 1403 H.
  • Muhammad bin Muhammad alZubaidi, Taj al-Arus min Jawahir al-Qamus, cet. Ali Syiri, Beirut, 1414 H/1994 M.
  • Muhammad Hasan bin Muhammad Ma'shum alQazwini, Kasyf al-Ghitha an Wujuh Marāsim al-Ihtida fi Ilm al-Akhlāq, cet. Muhsin Ahmadi, Qum, 1422 H.
  • Muhammad bin Ahmad al-Aini, Umdah al-Qāri, Syarah Sahih Bukhari, Beirut, Tanpat tahun.
  • Al-Najafi, Muhammad Hasan, Jawāhir al-Kalām fi Syarah Syarayi' al-Islam, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, Beirut, 1414 H.
  • Al-Yazdi, Sayid Kazhim Thabathabai, al-Urwah al-Wutsqa fi ma Ta'ummu bihi al-Balwa (Muhassyi), Jamiah Mudarisin, 1419 H.