Ummul Banin

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Artikel bagus sejak 26 Maret 2017Prioritas: a, Kualitas: a
Ummul Banin
Istri Imam Ali as
Nama lengkap Fatimah binti Hizam
Terkenal dengan Ummul Banin
Garis keturunan Bani Kilab
Kerabat termasyhur Imam Ali As (istri)Abbas As (putra)
Lahir Madinah
Tempat tinggal Madinah
Tempat dimakamkan Pemakaman Baqi, Madinah
Dikenal sebagai Istri Imam Ali as

Fatimah binti Hizam (Bahasa Arab: فاطمة بنت حِزام ) yang terkenal dengan sebutan Ummul Banin (أمّ البَنین), salah satu istri dari istri-istri Ali bin Abi Thalib As dan termasuk dari pribadi-pribadi terhormat di tengah-tengah kaum Syiah. Dia adalah ibunda Sayidina Abbas As dan tiga anak lainnya bernama Abdullah, Ja’far dan Utsman yang mana keempat-empatnya meneguk cawan syahadah di hari Asyura. Dikarenakan dia adalah ibu dari empat orang anak laki-laki, maka dia dikenal dengan Ummul Banin.

Setelah peristiwa Asyura, Ummul Banin bertakziah demi Imam Husain dan anak-anaknya sampai-sampai para musuh Ahlulbait As juga seirama dengannya. Pusara Ummul banin berada di pemakaman Baqi.

Keturunan dan Wafat

Ayah Ummul Banin Abul Majl Hizam bin Khalid, termasuk dari kabilah Bani Kilab[1] dan ibunya laili atau Tsamamah putri Suhail bin Amir bin Malik. [2] Mengenai tanggal wafat Ummul Banin tidak diketahui kejelasannya. Namun yang masyhur bahwa hari ke-13 Jumadil Akhir adalah hari wafatnya. (perlu referensi) jasadnya dikuburkan di Baqi.

Menikah dengan Imam Ali As

Bertahun-tahun sepeninggal Sayidah Fatimah Sa, Imam Ali bersama saudaranya Aqil yang sangat terkenal dengan nasab keturunan asal usul Arab, bermusyawarah untuk memilih seorang istri yang benar-benar murni dari keturunan Arab sehingga melahirkan anak-anak yang pemberani dan berjiwa kesatria dan Aqil mengusulkan kepadanya, Fatimah binti Hizam bin Khalid untuk dijadikan istri dan berkata bahwa belum terlihat di kalangan Arab keluarga yang lebih berani dari keluarga Bani Kilab dan Ali As menikah dengannya. [3]

Hasil dari pernikahan itu, 4 putra laki-laki bernama Abbas, Abdullah, Ja’far dan Utsman. 4 orang ini terkenal dengan keberanian dan kepahlawanan mereka dan dengan inilah Fatimah dinamakan Ummul Banin (Ibu dari anak-anak lelaki). Ke-4 anak laki-lakinya meneguk cawan syahadah di Karbala di samping saudara mereka dan bersama Imam mereka Imam Husain As. [4]

Dikatakan bahwa dia kemudian setelah beberapa kali mengusulkan kepada Imam Ali As dan mengatakan hendaknya Imam mengganti memanggilnya dari nama aslinya Fatimah menjadi Ummul Banin, supaya Hassanain As dengan panggilan nama Fatimah itu, tidak terbangkitkan kembali kenangan pahit di masa lalu dalam pikiran mereka.( Perlu rujukan)

Ummul Banin setelah Peristiwa Karbala

Peta Jannatul Baqi, Madinah

Ummul Banin tidak hadir pada Peristiwa Karbala. Ketika rombongan kafilah dari para tawanan Karbala memasuki Madinah, seseorang memberinya berita kesyahidan anak-anak, tapi dia malah mengatakan; Katakanlah kepadaku tentang Husein As. Ummul Banin, ketika ia mendengar ke-4 anaknya Syahid bersama Imam Husein As, berkata: “Seandainya semua anak-anakku dan semua yang ada di bumi berkorban demi Husain dan dia tetap hidup.” Semua pembicaraannya ini dianggap sebagai pernyataan ikhlasnya dalam mengabdi kepada Ahlulbait dan Imam Husain As. [5]

Diterangkan bahwa Sayidah Zainab Sa setibanya di Madinah, dia langsung pergi mengunjungi Ummul Banin dan melayangkan ucapan belasungkawa kepadanya atas kesyahidan anak-anaknya. [6]

  • Kesedihan Ummul Banin atas anak-anaknya

Ummul Banin setelah mendengar kabar kesyahidan anak-anak, setiap hari dia pergi ke pemakaman Baqi dengan cucunya Ubaidillah (anak dari Abbas) dan di sana ia membacakan puisi-puisinya dan melantunkannya dengan penuh tangis dan derita. Penduduk Madinah berkumpul mengitarinya dan menagis seirama bersamanya. Bahkan dikatakan bahwa Marwan bin al-Hakam juga hadir bergabung dengan mereka dan menangis. [7]

Dia dalam mengenang Sayyidina Abbas As membawakan bait-bait syair dan melantunkan:

Wahai orang yang melihat Abbas menyerang musuh dan putra-putra Ali As berada di belakangnya. Mereka berkata tangan anakku terpotong dan sepasak tiang merasuk ke atas kepalanya. Jika ada pedang di tanganmu tiada seorangpun yang bersedia datang menghampirimu. [8]

Dia dikenal dengan seorang pujangga dan penyair yang fasih dan seorang yang ahli dan berilmu [9]


Ucapan Para Tokoh tentang Ummul Banin

Zainuddin Amuli yang dikenal dengan Syahid Tsani berkenaan dengan Ummul Banin berkata: " Ummul Banin termasuk dari para wanita yang berpengetahuan dan penuh keutamaan. Dia terhadap keluarga Nabi memiliki kecintaan yang murni dan intens yang tinggi dan telah mengabdikan dirinya untuk melayani mereka. Keluarga Nabi juga menempatkannya dalam kedudukan yang istimewa dan memberikan penghormatan khusus kepadanya. Pada hari-hari besar, mereka datang menjenguknya sebagai orang yang dihormati dan mereka benar-benar menghargainya." [10]

Sayid Mahmud Husaini Shahroudi (wafat 17 Sya'ban 1394 H) mengatakan: "'. Saya dalam kesulitan-kesulitan saya, seratus kali mengirimkan shalawat untuk ibu dari Sayidina Abulfadhl Abbas As, Ummul Banin Sa, dan hajat-hajatku terkabul" [11]

Seyed Muhsin Amin dalam bukunya A’yan al-Syiah menulis: "Ummol Banin Sa Adalah seorang penyair yang indah penjelasannya dan dari golongan keluarga yang mulia dan berani '." [12]

Muqrim berkata: "Ummul Banin dari para perempuan saleh dan terhormat. Dia benar-benar mengetahui kedudukan Ahlulbait dan benar-benar Ikhlas dalam menyayangi dan mecintai mereka dan sebaliknya dia juga memiliki kedudukan yang tinggi dan makam yang mulia. [13] Ali Muhammad Ali Dukhail, penulis kontemporer Arab ketika menyifati perempuan yang mulia ini menulis: “Keagungan perempuan ini (Ummul Banin) begitu tampak ketika berita kesyahidan putra-putranya disampaikan kepadanya sama sekali dia tidak pedulikan hal itu, malah dia menanyakan tentang keselamatan Imam Husain As: Seakan Imam Husain itu anaknya sendiri bukan mereka.” [14]

Baqir Syarif Qurasyi: Penulis buku Abbas bin Ali, Rāid al-Karāmah dalam keutamaan Sayidah Ummul Banin menulis: Dalam sejarah tidak ditemukan seorang perempuan yang begitu mencintai anak-anak madunya dengan kecintaan yang benar-benar murni melebihi dari kecintaan terhadap anak-anaknya sendiri, kecuali perempuan suci ini; yaitu Ummul Banin Sa. [15]

Catatan Kaki

  1. Thabari, Tārikh, jld.4, hlm.118.
  2. Ibnu Anbah, ‘Umdatu al-Thālib, hlm.356; Ghaffari, Ta’limāt bar Maqtal al-Husain, hlm.174.
  3. Ibnu Anbah, ‘Umdatu al-Thālib, hlm.356.
  4. Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm.82-84; Ibnu Anbah, ‘Umdatu al-Thālib, hlm.356; Hassun, A’lām al-Nisā’ al-Mu;mināt, hlm.496.
  5. Hassun, A’lam al-Nisā’ al-Mu;mināt, hlm.496-497; Mahallati, Riyāhin al-Syari’ah, jld.3, hlm.293.
  6. Musawi, Qamar Bani Hāsyim, hlm.16
  7. Isfahani, Maqātil al-Thālibin, hlm.85.
  8. Mahallati, Riyāhin al-Syari’ah, jld.3, hlm.294 dan Tanqih al-Maqāl, jld.3, hlm.70.
  9. Hassun, A’lām al-Nisā’ al-Mu;mināt, hlm.496-497;
  10. Setāreh Derahshān Madinah Hadharate Ummul Banin, hlm.7.
  11. Cehreh Derakhshān Qamar Bani Hāsyim Abu al-Fadh al-Abbas As, jld.1, hlm.464.
  12. A’yan al-Syiah, jld.8, hlm.389.
  13. Muqrim, al-Abbas As, hlm.18.
  14. Dukhail, al-Abbas As, hlm.18.
  15. Syarif Qurasyi, al-Abbas bin Ali, hlm.23.


Daftar Pustaka

  • Dukhail, Ali Muhammad Ali, al-Abbas bin Amirul Mukminin Aalaihis salam, Lebanon-Beirut, Muassasah Ahlul Bait, 1401 H.
  • Ghaffari, Hasan, Ta’liqāt bar Maqtal al-Husain Abu Mikhnaf, Qum, 1364 S.
  • Hassun, Muhammadwa ummu Ali Masykur, A’lām al-Nisā’ al-Mu’mināt, Tehran, 1411 H.
  • Ibnu Anbah, Ahmad, Umdah al-Thalib, Najaf, 1381 H/1961 M.
  • Isfahani, Abu al-Faraj, Maqātil al-Thālibin, riset: Ahmad Shaqar, Kairo, 1368 H/1949 M.
  • Mahalati, Dzabihullah, Rayāhin al-Syariah, Tehran, 1364 S.
  • Musawi, Muqrim, Abdur Razak, Qamar Bani Hasyim, Najaf, 1369 H/ 1950 M.
  • Syarif al-Qurasyi, Baqir, al-Abbas bin Ali, Rāid al-Karāmah wa al-Fidā’ fi al-Islām, Dar al-Kitab al-Islāmi, hlm. 23, disadur dari Ummul Banin; symbol Pengorbanan.
  • Thabari, Tārikh, Penerbit Maktabah Urumiah, Urumiah.