Prioritas: aa, Kualitas: b

Khotbah al-Ghadir

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Khotbah al-Ghadir (bahasa Arab: خطبة الغدير) adalah sebuah Khotbah dari Nabi Muhammad saw yang berisi tentang pengenalan Imam Ali as sebagai pemimpin kaum Muslimin. Nabi Muhammad menjelaskan Khotbah ini pada tanggal 18 Dzulhijjah sekembalinya dari Haji Wada' di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Sangat banyak ulama baik Syiah maupun Sunni yang menukilkan Khotbah ini.

Khotbah ini merupakan dalil bagi para penganut Syiah untuk membuktikan tentang wilayah (kepemimpinan) Imam Ali as segera setelah Nabi Muhammad saw. Kaum Syiah membuktikan klaim ini dengan berbagai indikasi dan bukti.

Hadis al-Ghadir adalah bagian dari Khotbah yang disampaikan oleh Nabi saw. "Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya." Mengingat bahwa Khotbah ini dinukil lebih dari 110 sahabat dan 84 tabiin dapat dikatakan bahwa hadis ini merupakan hadis mutawatir dalam literatur Syiah dan Sunni.

Allamah Amini mengumpulkan silsilah sanad Khotbah dan hadis al-Ghadir dari sumber-sumber Sunni dengan menyertakan dalil-dalil untuk membuktikan peristiwa al-Ghadir dalam 11 jilid Kitab al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab.

Peristiwa al-Ghadir

Pada tahun ke-10 H, bulan-bulan Haram yang diubah sebagai akibat dari tindakan kaum musyrikin, kini sejalan dengan masa-masa permulaannya. [1] Pada tahun ini Nabi Muhammad saw memutuskan untuk pergi ziarah ke baitullah. Haji yang dikerjakan pada masa-masa akhir dari kehidupannya, kemudian disebut sebagai Haji Wada'. [2]

Kemudian kepada kaum Muslimin disampaikan bahwa Nabi saw mengambil keputusan untuk berhaji tahun ini [3] dan kepada masyarakat diumumkan supaya mempersiapkan diri untuk menunaikan haji pada tahun itu. [4]

Pada tahun itu, sangat banyak kaum Muslimin yang berkumpul untuk menyertai Nabi Muhammad saw dalam menunaikan ibadah haji di Madinah. [5] Ia keluar dari kota Madinah pada 25 Dzulkaidah menuju Mekah. [6]

Imam Ali as pada bulan Ramadan tahun itu juga diutus untuk pergi ke Yaman guna berperang dengan kaum Musyrikin di sebuah tempat bernama Madzhaj. [7]

Setelah mencapai kemenangan dan mengumpulkan harta rampasan perang, atas perintah Nabi saw, mereka pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. [8]

Pada hari Arafah, Nabi Muhammad menyampaikan Khotbah kepada para jamaah haji dan mengingatkan tentang permasalahan seperti: Menghormati darah kaum Muslimin, sifat amanah yang harus diemban, pengharaman riba, menunaikan hak-hak wanita dan pelarangan untuk mengikuti bujukan dan rayuan setan kepada para jamaah haji. [9]

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, mereka keluar dari Mekah dan kembali ke tempat asalnya masing-masing. Kafilah haji itu pada tanggal 18 Dzulhijjah sampai di sebuah tempat bernama Ghadir Khum. [10]

Ghadir Khum adalah sebuah tempat antara Mekah dan Madinah. Tempat ini berada di antara jarak dua kilo meter (berada di Juhfah dan merupakan persimpangan jalan bagi para jamaah haji untuk menuju tujuannya masing-masing). [11] Semenjak kafilah haji Nabi Muhammad saw sampai ke tempat ini, Malaikat Jibril menurunkan surah al-Maidah, ayat 67, "Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu. Dan jika kamu tidak mengerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." [12] [Note 1] dan ayat ke-3 dari surah tersebut; "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu menjadi agama bagimu." [13] [Note 2] surah yang sama dan Nabi saw berkewajiban untuk mengumumkan wilayah (kepemimpinan) Imam Ali as. [14]

Kafilah itu berhenti atas perintah Nabi saw dan kafilah lain pun bergabung dengan mereka. Setelah selesai menyelesaikan salat Zhuhur, mereka menyiapkan mimbar dan Nabi pun menyampaikan Khotbahnya. Dalam Khotbah itu, Nabi mengabarkan bahwa sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Ia menyampaikan tentang dua pusaka penting yang berada di antara kaum Muslimin dan tentang pengutamaan wilayah dan kepemimpinannya atas kaum Muslimin. [15] Kemudian ia mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as dan bersabda, "Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka ia pun harus menjadikan Ali sebagai pemimpinnya." [16]

Kemudian Nabi Muhammad saw mendoakan orang-orang yang membela dan menyokong Imam Ali as dan melaknat musuh-musuhnya. [17] Pada saat itu, Hasan bin Tsabit meminta ijin dari Nabi saw untuk membacakan syair guna menggambarkan peristiwa itu. [18] Setelah itu, Khalifah Kedua (Umar bin Khattab) mengucapkan ucapan selamat atas diangkatnya Imam Ali as sebagai washi setelah Nabi saw. [19]

Poin-poin Utama dari Khotbah al-Ghadir

  • Pada permulaan Khotbah, Nabi Muhammad saw mengucapkan puji-pujian yang cukup panjang dengan ucapan yang fasih tentang sifat-sifat Allah swt di hadapan para hadirin.
  • Perintah Tuhan untuk menyampaikan pesan penting dan turunnya ayat Tabligh.
  • Permintaan Nabi kepada Allah swt supaya Allah mencabut perintah untuk menyampaikan ayat tabligh ini karena akan mengundang fitnah dari kaum munafik, turunnya malaikat Jibril berulang kali untuk menyampaikan ayat tabligh dan juga menjamin bahwa Nabi saw akan terselamatkan dari fitnah.
  • Pemberitahuan bahwa saat itu adalah kehadiran terakhir Nabi saw di tengah-tengah perkumpulan masyarakat dan pemimpin umat hingga hari kiamat adalah Imam Ali as dan para keturunannya.
  • Hukum-hukum haram yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw hingga hari kiamat adalah haram selamanya dan begitu juga dengan hukum-hukum halal.
  • Penjelasan tentang derajat ilmu dan keutamaan Imam Ali as.
  • Mengingkari kepemimpinan Imam Ali as adalah sebuah dosa yang tidak dimaafkan
  • Orang-orang yang ragu terhadap perkataan Nabi dan salah satu perkataan Imam seperti kaum kafir jahiliyyah
  • Penjelasan kalimat-kalimat sejarah tentang sabda: Man Kuntu Maulahu fahadza Ali Maulahu.
  • Penjelasan kembali tentang hadis Tsaqalain dan kedudukan dan kebersamaan antara Alquran dan Ahlulbait as
  • Penegasan tentang wasiat dan kekhalifahan Imam Ali as
  • Turunnya Malaikat Jibril dan pemberitahuan tentang sempurnanya agama
  • Penjelasan tentang kedudukan imamah dan anjuran rasa takut dari hasad kepada Imam
  • Isyarat terhadap pembangkangan-pembangkangan kaum munafik
  • Penjelasan tentang akhir keimamahan yang akan dipimpin oleh Imam Mahdi as
  • Peringatan kepada masyarakat untuk menjauhi imam-imam yang berdusta
  • Memerintahkan kepada para yang hadir untuk menyampaikan kepada yang tidak datang
  • Kira-kira Nabi saw menjelaskan 20 kalimat tentang sifat-sifat Imam Mahdi dan pemerintahannya
  • Kebaikan yang paling tinggi adalah memahami kata-kata Nabi dan menyampaikan pesan itu kepada orang lain
  • Menjelaskan tentang keutamaan lain Imam Ali dan perintah akan baiat secara resmi kepada Imam Ali sebagai Imam dan pengganti Nabi.

Rujukan-rujukan Khotbah al-Ghadir

Kandungan Khotbah ini dinukil pada setiap kurun dan zaman dalam berbagai bentuk dalam literatur-literatur hadis dan sejarah baik Syiah maupun Ahlusunah. Nukilan ini sampai kepada Nabi Muhammad saw melalui tiga jalan: riwayat Imam Baqir as, [20] Khudzaifah bin Yaman [21] dan Zaid bin Arqam. [22]

Teks Khotbah al-Ghadir tercatat dalam kitab-kitab berikut ini:

  • Raudha al-Wā'izhin
  • Al-Ihtijāj
  • Al-Yaqin
  • Nuzhāh al-Kirām
  • Al-Iqbāl
  • Al-Udad al-Qawiyyah
  • Tahshin
  • Al-Shirāth al-Mustaqim
  • Nahj al-Imān

Hadis al-Ghadir

Kandungan hadis al-Ghadir dinukil selama beberapa abad yang lama, baik dalam literatur Syiah maupun Ahlusunah. Titik kesamaan semuanya adalah dari sisi kesamaan bahwa Imam Ali as sebagai wali bagi kaum Mukminin. Kesamaan dari nukilan yang beragam itu adalah ungkapan: "Siapa yang aku menjadi pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya."[Note 3] Penggalan ini merupakan penggalan dari Khotbah al-Ghadir yang dikenal dengan Hadis al-Ghadir. [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29]

Nukilan Langsung

Menurut Allamah Amini, hadis ini dinukil oleh Ahmad bin Hanbal dari 40 jalur, Ibnu Jarir Thabari dari 72 jalur, Jazairi Muqri dari 80 jalur, Ibnu Uqdah dari 105, Abu Sa'id Sajistani dari 120 jalur, Abu Bakar Ju'abi dari 125 jalur.[30] dan Hafidz Abul A'la A'thari Hamadani dari 250 jalur. [31]

Sebagian dari ulama rijal dan ahli hadis Ahlusunah mengakui sanad hadis ini berjumlah banyak dan sebagian besar dari sanad itu merupakan sanad yang shahih dan hasan. [32] Perawi hadis ini kira-kira berjumlah 90 sahabat dan 84 tabiin.

Nukilan Tidak Langsung

Di samping adanya nukilan secara langsung dari para ahli hadis dan ulama rijal, hadis ini juga dinukil oleh orang-orang yang hadir dalam peristiwa Ghadir Khum. Mereka mendengar dan kemudian menukilkan hadis al-Ghadir itu: Abi at-Thufail dari 30 orang [33] Amir bin Laila al-Ghifari dari 17 orang, [34] Umairah bin Sa'd dari 12 orang, [35] Abdur Rahman bin Abi Laili dari 12 orang , [36] Abdul Khair dan Amr Dzi Marrah dan Habbah al-'Arani dari 12 orang, [37] Abi Hurairah, Abas dan Ubay Sa'id dari 90 orang, [38] Abi Qulabah dari 12 orang, [39]Zaid bin Yathiq dari 12 orang, [40], Sa'id bin Wahab dari 5 atau 6 orang.

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Biruni, al-Atsār al-Bāqiyah, hlm. 71; Shaduq, al-Khishāl, jld. 2, hlm. 487; Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 15, hlm. 282; Ibnu Atsir, al-Nihāyah, hlm. 140.
  2. Bukhari, Tārikh al-Kabir, jld. 4, hlm. 1599; Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 152; Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, jld. 3, hlm. 360.
  3. Thabari, Tārikh Al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 149.
  4. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 3, hlm. 1089; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 5, hlm. 110.
  5. Waqidi, al-Maghāzi, jld. 3, hlm. 1089; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 5, hlm. 110.
  6. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 149.
  7. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 132; Ya'qubi, Tārikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. ; Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, jld. 3, hlm. 289.
  8. Waqidi, al-Maghāzi, jld. 3, hlm. 1079-1080-1081; Halabi, al-Sirah al-Halabiyyah, jld. 3, hlm. 289.
  9. Thabari, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 150-152; Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 2, hlm. 603-604.
  10. Ya'qubi, Tārikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 118.
  11. Yaqut, Mu'jam al-Buldān, jld. 2, hlm. 103.
  12. QS. Al-Maidah [5]: 67
  13. QS. Al-Maidah [5]: 3
  14. Mufid, Tafsir al-Qurān, jld. 1, hlm. 184; 'Ayasyi, Tafsir 'Ayāsyi, jld. 1, hlm. 3.
  15. Ya'qubi, Tārikh al-Ya'qubi, jld. 2, hlm. 1, bag. 12.
  16. Ibnu Atsir, Usd al-Ghābah, jld. 5, hlm. 253; Kulaini, al-Kāfi, jld. 2, hlm. 27.
  17. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld, 2, hlm. 111; Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 7, hlm. 349; Nasai, jld. 5, hlm. 45.
  18. Shaduq, al-Amāli, hlm. 575; Mufid, Aqsām al-Maula, hlm. 35; Thusi, al-Iqtishād, hlm. 351; Thusi, al-Rasāil, hlm. 138.
  19. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 7, hlm. 349.
  20. Ibnu Fatal, Raudhah al-Wā'idzin, jld. 1, hlm. 9; Thabrisi, jld. 1, hlm. 66; Ibnu Thawus, al-Yaqin, hlm. 342; Alamul Huda, Nazhah al-Kirām, jld.1, hlm. 186.
  21. Ibnu Thawus, al-Iqbāl, hlm. 454 dan 456.
  22. Hilli, al-'Udadu al-Qawiyyah, hlm. 169; Ibnu Thawus, al-Tahshin, hlm. 578; Bayadhi, al-Shirāth al-Mustaqim, jld. 1, hlm. 301, Husain bin Jabur, Nahj al-Imān, 26-34.
  23. Haitami, jld. 9, hlm. 136.
  24. Dulabi, jld. 3, hlm. 928.
  25. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 118.
  26. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 5, hlm. 366.
  27. Amini, al-Ghadir, jld. 1, hlm. 14-15.
  28. Ibnu Maghazali, Manāqib, hlm. 112, hadis 112 dan 155; Ibnu Atsir, Usd al-Ghābah, jld. 3, hlm. 307; Haitsami, jld. 9, hlm. 107.
  29. Bukhari, jld. 1, hlm. 375.
  30. Amini, al-Ghadir, jld. 1, hlm. 40.
  31. Amini, al-Ghadir, jld. 1, hlm. 185.
  32. Ibnu Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bāri, jld. 3, hlm. 484.
  33. Ibnu Hanbal, jld. 4, hlm. 370.
  34. Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishābah, jld. 3, hlm. 484.
  35. Ibnu Maghazali, Manāqib, jld.1, hlm. 484.
  36. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 66.
  37. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 88.
  38. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 84.
  39. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld. 1, hlm. 119; Khatib, jld. 16, hlm. 348.
  40. Ibnu Maghazali, Manāqib, jld. 1, hlm. 54.
  1. یا أَیهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَیک مِنْ رَبِّک وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ یعْصِمُک مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا یهْدِی الْقَوْمَ الْکافِرینَ
  2. الْیوْمَ یئِسَ الَّذینَ کفَرُوا مِنْ دینِکمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْیوْمَ أَکمَلْتُ لَکمْ دینَکمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَیکمْ نِعْمَتی‏ وَ رَضیتُ لَکمُ الْإِسْلامَ دیناً
  3. مَنْ كُنْتُ مَوْلاهُ، فَهذا عَلِىٌّ مَوْلاهُ.

Daftar Pustaka

  • Alamul Huda. Nuzhah al-Kirām. Riset: Muhamamd Syirwani. Teheran: Penerbitan Taraqqi.
  • Amini. Al-Ghadir. Beirut: Darul Kitab al-Arabi.
  • Ayasyi. Tafsir 'Ayāsyi. Riset: Rasuli Mahallati. Teheran: Maktabah Ilmiyah Islami.
  • Baladzuri. Ansāb al-Asyrāf. Riset: Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Muassasah ‘Alami.
  • Bayadhi, Ali bin Yusuf. Al-Shirāth al-Mustaqim. Najaf: Percetakan Haidariyah.
  • Biruni, Muhammad bin Ahmad. Al-Atsār al-Bāqiyah fi al-Qurun al-Khaliyah. Teheran: Penerbitan Mirats Maktub, 1422 H.
  • Bukhari. Tārikh al-Kabir. Riset: Sayid Hasyim Nadwi. Beirut: Darul Fikr.
  • Dulabi. Al-kuna wa al-Asma’. Beirut: Dar Ibnu Hazm.
  • Haitsami. Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid. Beirut: Darul Fikr.
  • Halabi. Al-Sirah al-Halabiyyah. Beirut: Darul Ma’rifah.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf. Al-'Udadu al-Qawiyyah. Qom: Perpustakaan Ayatullah Mar'asyi.
  • Husain bin Jabur. Nahj al-Imān. Masyhad: naskah tulisan tangan perpustakaan Imam Hadi as.
  • Ibnu Atsir. Al-Nihāyah. Riset:Thahir Ahmad az-Zawi. Beirut: Al-Maktabah al-Ilmiyah.
  • Ibnu Atsir. Usd al-Ghābah. Riset: Muhammad Ibrahim Bana. Beirut: Darus Syu’ab.
  • Ibnu Fatal Neisyaburi. Raudhah al-Wā'idzin. Qom: Syarif Radhi.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani. Al-Ishābah. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah.
  • Ibnu Hajar al-'Asqalani. Fath al-Bāri Syarhi Shahih al-Bukhari. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1427 H.
  • Ibnu Hajar al-Haitami. Al-Shawaiq al-Muhriqah.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1414 H.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Mulk. Al-Sirah al-Nabawiyyah.
  • Ibnu Katsir. Al-Bidāyah wa al-Nihāyah. Riset: Musthafa al-Saqa dan Ibrahim al-Abyari dan Abdul Hafizh Syalbi. Beirut: Darul Ma’rifah.
  • Ibnu Maghazali. Manāqib Ali bin Abi Thalib. Teheran: Maktabah Islamiyah.
  • Ibnu Thawus. Al-Iqbāl. Teheran: darul Kutub Islamiyah
  • Ibnu Thawus. Al-Tahshin. Qom: Darul Kitab.
  • Ibnu Thawus. Al-Yaqin. Riset: Muhammad Baqir Anshari. Qom: Darul Kitab.
  • Khatib Baghdadi. Tarikh Baghadad. Riset: Musthafa Abdul Qadir. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya’kub. Al-Kāfi. Qom: Darul Hadits, 1429 H.
  • Majlisi. Bihār al-Anwār. Beirut: Muassasah al-Wafa’.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Aqsām al-Maula. Qom: al-Mu’tamar al-Alami li as-Syaikh al-Mufid, 1413 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Tafsir al-Qurān al-Majid. Riset: Sayid Muhammad Ayazi. Qom: Pusat Penerbitan Kantor Tablighat Islam, 1422 H.
  • Nasai. Sunan al-Kubra. Riset: Abdul Ghaffar Sulaiman. Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah.
  • Shaduq. Al-Amāli. Teheran: perpustakaan Islamiyah.
  • Shaduq. Al-Khishāl. Editor: Ali Akbar Ghaffari. Qom: Jamiah Mudarrisin, 1362 HS.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārikh al-Umam wa al-Muluk (Tarikh at-Thabari). Riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Darut Turats, cet. II, 1387 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Jawami’ al-Jami’. Teheran: Penerbitan Universitas Tehran dan Pusat Hauzah Ilmiyah Qom, 1377 HS.
  • Thusi. Al-Iqtishād fima Yata’allaq bil I’tiqad. Beirut: Darul Adhwa, cet. II, 1406 H.
  • Thusi. Al-Rasāil al-‘Asyar. Qom: Muassasah an-Nasyr al-Islami, cet. II, 1414 H.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar. Al-Maghāzi. Riset: Marsden Jones. Beirut: Muassasah ‘Alami, cet. III, 1409 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya’qub. Tārikh al-Ya'qubi. Beirut: Dar Shadir.
  • Yaqut, Syahabuddin Abu Abdillah. Mu'jam al-Buldān. Beirut: Dar Shadir, cet. II, 1995.


Khotbah