tanpa foto

Ummu Salamah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Ummu Salamah
Istri Nabi Saw
Nama lengkap Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah
Lakab Ummul Mukminin
Terkenal dengan Ummu Salamah
Afiliasi agama Islam
Tempat tinggal MekkahMadinah
Wafat 62 H
Tempat dimakamkan Pemakaman Baqi, Madinah
Istri-istri Nabi saw
امهات المؤمنین.png

Nama

Khadijah al-Kubra sa

Saudah

Aisyah

Hafsah

Zainab (binti Khuzaimah)

Ummu Salamah

Zainab (binti Jahsy)

Juwairiyah

Ummu Habibah

Mariyah

Shafiyah

Maimunah

Tanggal Nikah

(27 sebelum Hijrah/595)

(sebelum Hijrah/sebelum 622)

(1, 2, atau 4 H/622, 623, atau 625)

(3 H/624)

(3 H/624)

(4 H/625)

(5 H/626)

(5 H atau 6 H/626 atau 627)

(6 atau 7 H/627 atau 628)

(7 H/628)

(7 H/628)

(7 H/628)

Ummu Salamah (Bahasa Arab: أُمّ سَلَمه ) yang memiliki nama asli Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah adalah salah seorang istri Nabi Muhammad saw sehingga memiliki laqab Ummul Mukminin. Ia menerima Islam diawal-awal tahun Bi'tsah. Ia juga termasuk dalam kelompok pertama yang berhijrah ke Habasyah atas perintah Nabi Muhammad saw bersama sejumlah kaum Muslimin yang dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib. [1] Sebelum menikah dengan Nabi Muhammad Saw, ia telah menikah sebelumnya [2] yang kemudian pada tahun 4 H tidak lama setelah suaminya meninggal dunia, ia dinikahi oleh Rasulullah saw. Mayoritas sejarahwan menyebutkan Ummu Salamah wafat setelah peristiwa tragedi Karbala.

Nama dan Nasab

Nama aslinya adalah Hindun. Dikarenakan ia memiliki putera bernama Salamah, maka iapun lebih dikenal dengan nama Ummu Salamah. Nama ayahnya Abu Umayyah bin Mughirah [3] dan nama ibunya Atikah. Sebagian berpendapat Atikah adalah puteri dari Abdul Muththalib. [4] Namun mayoritas sejarahwan menyebutkan ibunya adalah puteri dari 'Amir bin Rabi'ah al-Kinani. [5]Mengenai tahun kelahirannya, tidak ada informasi yang jelas mengenai hal tersebut.

Masuk Islam dan Hijrah ke Habasyah

Sebelum menikah dengan Rasulullah saw, ia adalah istri dari Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi. [6] Ia bersama dengan suaminya dan kaum Muslimin lainnya tinggal di Mekah. Sewaktu Nabi Muhammad saw memerintahkan kaum Muslimin untuk berhijrah, ia ikut bersama suaminya ke Habasyah. [7] Semua riwayat berkenaan dengan utusan Quraisy di Habasyah yang berdebat dengan Ja'far bin Abi Thalib dihadapan Raja Najasyi dinukil dari Ummu Salamah. Ibnu Hisyam meriwayatkan kisah masuknya kaum Muhajirin ke Habasyah yang disambut dengan hangat oleh raja Habasyah dari periwayatan Ummu Salamah. [8]

Hijrah ke Madinah

Sewaktu Nabi Muhammad saw memerintahkan kaum Muslimin untuk berhijrah ke Madinah, diantara yang pertama melakukannya adalah Abu Salamah. Sewaktu Ummu Salamah bersama dengan puteranya Salamah hendak turut bersama suaminya memulai perjalanan ke Madinah, ia dicegah dan dilarang oleh keluarga besarnya Bani Mughirah. Ummu Salamah berkata mengenai keterpisahannya ia dengan suami dan anaknya berkata, "Selama satu tahun siang dan malam aku menangis. Dan setiap hari aku berada di tepi jalan, kepada siapapun yang baru tiba dari Madinah aku menanyakan kabar mereka. Karena keluargaku tidak tahan dengan kesedihanku, akhirnya mereka mengizinkanku untuk turut ke Madinah dan akhirnya akupun ke Madinah setelah satu tahun."[9]

Kehidupan di Madinah

Pernikahan dengan Rasullah Saw

Ummu Salamah sebelum bersama dengan Rasulullah saw ia adalah istri dari Abu Salamah bin Abdul Asad. Setelah Abu Salamah wafat, ia kemudian menikah dengan Rasulullah saw. Diriwayatkan, selepas masa iddahnya, ia sempat dilamar oleh Abu Bakar dan kemudian oleh Umar, namun Ummu Salamah tidak menerimanya. Namun sewaktu Nabi Muhammad saw melamarnya, iapun menerimanya. [10]

Dinukil oleh Syaikh Shaduq dari Imam Shadiq as, bahwa setelah Khadijah, Ummu Salamah adalah istri terbaik Rasulullah saw. [11] Ummu Salamah memiliki keutamaan yang besar dan derajat yang tinggi, yang membuat Aisyah kerap kali cemburu dengannya. [12]

Ikut Serta dalam Peperangan

Ummu Salamah ikut serta dalam sejumlah peperangan dengan musuh Islam seperti perang al-Muraisi', Khaibar, Hudaibiyah, Khandaq, Fathul Makah dan Hunain. Ia menemani Rasulullah saw disaat-saat itu. [13]Ia punya kebiasaan setiap bulan menzirahi makam para Syuhada di bukit Uhud, dan mengucapkan salam untuk mereka. [14]

Ummu Salamah dan Ahlulbait as

Ummu Salamah disebutkan senantiasa bersama dengan Ahlulbait as. Menurut riwayat, setelah wafatnya Rasulullah saw ia termasuk salah seorang pembela dan pendukung Ahlulbait As. Ia membela dan berada dipihak Sayidah Fatimah sa ketika Abu Bakar mengingkari adanya warisan untuk Fatimah sa dan menolak memberikannya. [15]

Menolak Perang Jamal

Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman, dan terjadinya peristiwa Perang Jamal yang dipimpin oleh Aisyah yang didukung oleh Thalhah dan Zubair, awalnya Aisyah juga mengajak Ummu Salamah, namun ia menolaknya. [16] Sewaktu Aisyah menyesali perbuatannya, Imam Ali as mengutus putera Ummu Salamah, yaitu Umar bin Abi Salamah untuk berkhidmat kepada Aisyah. Setelahnya, Amirul Mukminin as mengangkat Umar bin Abi Salamah menjadi gubernur di Bahrain, kemudian menjadi gubernur di Fars. Menurut sejumlah riwayat, ia juga menjadi gubernur Hulwan, Mah dan Masbadzan. [17]

Kecintaan pada Imam Husain as

Kecintaannya kepada Ahlulbait as sampai kesegenap jiwanya. Ia turut mengasuh dan membesarkan Imam Husain as dimasa kecilnya. [18] Sewaktu berita mengenai syahidnya Imam Husain as sampai ke telinganya, ia sangat bersedih dan larut dalam kedukaan. Diriwayatkan atas kesedihannya itu, ia melakukan majelis duka. [19]

Ummu Salamah dan Peristiwa Karbala

Sebelum Imam Husain as melakukan perjalanan ke Kufah untuk menyelamatkan agama kakeknya [20] Menurut sejumlah riwayat, Rasulullah saw pernah menyerahkan segenggam tanah Karbala kepada Ummu Salamah yang kemudian disimpannya didalam sebuah kaca. Nabi Muhammad saw bersabda, "Sewaktu kau melihat tanah ini berubah menjadi genangan darah, ketahuilah puteraku Husain telah terbunuh."

Suatu hari, Ummu Salamah melihat Nabi Muhammad saw dalam mimpinya, yang datang menemuinya dengan wajah penuh rasa sedih dan pakaian penuh dengan debu. Nabi saw berkata kepadanya, "Aku datang dari Karbala dan telah menguburkan para syuhada." Seketika itu juga, Ummu Salamah terbangun dari tidurnya dan melihat ke kaca tempat ia menyimpan tanah Karbala pemberian Rasulullah saw. Tanah tersebut telah berubah menjadi genangan darah dan saat itu juga Ummu Salamah paham dengan peristiwa yang tengah terjadi, yaitu Imam Husain ss telah syahid di Karbala. Menyadari hal itu, Ummu Salamahpun menangis keras penuh kesedihan. Hal itu mengundang kedatangan para tetangganya dan menanyakan apa yang terjadi. Ummu Salamahpun kemudian menjelaskannya. Hari itu juga penduduk Madinah mengadakan majelis kesedihan untuk Imam Husain as. [21] Peristiwa ini dalam riwayat dikenal dengan istilah Hadis Qarura.

Penentangannya kepada Muawiyah

Pasca perdamaian Imam Hasan as dengan Muawiyah, Ummu Salamah meminta Jabir bin Abdullah al-Anshari dan saudara sepupunya untuk membaiat Muawiyah dengan tujuan agar keselamatan keduanya terjamin. [22] Meski demikian Ummu Salamah sendiri tidak berdiam diri dengan kondisi tersebut. Sewaktu Muawiyah memerintahkan kepada para khatibnya melaknat Imam Ali as di mimbar-mimbar, ia menulis surat kepada Muawiyah yang berisi kecamannya terhadap tindakan Muawiyah tersebut. [23]

Wafat

Mengenai tahun wafatnya Ummu Salamah terdapat perbedaaan pendapat. Beragam pendapat itu menyebutkan, ia wafat kisaran tahun 59 H sampai 62 H. [24] Namun pendapat yang kuat adalah yang menyebutkan ia wafat pada tahun 62 H. Sebab terdapat sejumlah riwayat yang menyebutkan ia masih hidup saat peristiwa Asyura berlangsung. [25]Disebutkan Ummu Salamah diantara istri Nabi saw yang terakhir wafat.

Mengenai Ummu Salamah, dari puteranya Umar diriwayatkan sewaktu wafat usianya kisaran 84 tahun. [26] Ummu Salamah dimakamkan di Pemakaman Baqi bersama dengan pembesar-pembesar Islam lainnya. [27]

Musnad Ummu Salamah

Ummu Salamah meriwayatkan banyak hadis dari suaminya Rasulullah Saw yang dapat ditemui dalam banyak kitab hadis baik dari Sunni maupun Syiah. Disebutkan hadis yang diriwayatkan sekitar 378 hadis, yang dikumpulkan dalam sebuah kitab yang diberi nama Musnad Ummu Salamah. [28]

Diantara hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah yang terdapat dalam kitab hadis Sunni dan Syiah adalah sebagai berikut:

  1. Penyebab turunnya ayat Tathir [29] yaitu hadis Kisa [30]
  2. Hadis mengenai peristiwa Karbala dan syahidnya Imam Husain. [31]
  3. Ummu Salamah demikian pula suaminya Abu Salamah bin Abdul Asad meriwayatkan sejumlah hadis yang disampaikan Sayidah Fatimah az-Zahra sa. [32]

Ummu Salamah yang Terpercaya

Sewaktu Imam Husain as berniat hendak keluar dari kota Madinah, simpanan Ahlulbait as diserahkan kepada Ummu Salamah untuk dijaga. Sekembalinya Imam Sajjad as dari Karbala, Ummu Salamah menyerahkan kembali yang diamanahkan Imam Husain as tersebut. Hal tersebut menunjukkan, posisi Ummu Salamah dimata Ahlulbait as, yaitu sebagai orang yang dapat dipercaya. [33]

Catatan Kaki

  1. Bukhari Muhammad, al-Tarikh al-Shagir, jld.1, hlm. 28.
  2. Dzahabi Muhammad, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 202.
  3. Dzahabi Muhammad, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 201-2012.
  4. Riyahin al-Syari'ah, Muhallati, jld. 4, hlm. 375.
  5. Ibnu Sa'ad Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 8, hlm. 86; Ibnu Habib Muhammad, al-Muhbar, jld. 1, hlm. 83.
  6. Dzahabi Muhammad, Siyar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 202.
  7. Bukhari Muhammad, al-Tarikh al-Shagir, jld. 1, hlm. 28.
  8. Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabawiah, jld. 1, hlm. 334.
  9. Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabawiah, jld. 1, hlm. 469.
  10. Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 203-204.
  11. Shaduq, al-Khishal, jld. 2, hlm. 419.
  12. Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2.
  13. Waqidi Muhammad, al-Maghazi, jld. 2, hlm. 467.
  14. Waqidi Muhammad, al-Maghazi, jld. 1, hlm. 314.
  15. Ibnu Rustum Thabari Muhammad, Dalail al-Imamah, jld. 1, hlm. 39.
  16. Ya'qubi Ahmad, Tarikh, jld. 2, hlm. 78; Ibnu Qutaibah, Imamah wa al-Siyasa, jld. 1, hlm. 57-58; Ibnu Abi Thahir Thaifur Ahmad, Balaghat al-Nisa, jld. 1, hlm, 15-16; Ibnu Abdur Rabbah Ahmad, al-'Aqad al-Faraid, jld. 4, hlm. 316-317; Ibnu Babawaih Muhammad, Ma'ani al-Akhbar, jld. 1, hlm. 357.
  17. Baladzuri Ahmad, Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 430; Thabari, Tarikh, jld. 4, hlm. 451-452.
  18. Ibnu Hamzah Abdullah, al-Tsaqib fi al-Manaqib, jld. 1, hlm. 330.
  19. Ibnu Atsir Ali, Usd al-Ghabah, jld. 2, hlm. 22.
  20. Bihar al-Anwar, jld. 26, hlm. 209; Ushul al-Kafi, jld. 1, hlm. 235; Itsbat al-Hidayah, jld. 5, hlm. 216.
  21. Bihar, jld. 45, 227 dan 232, jld. 44, hlm. 225, 231, 236, 239; Itsbat al-Hidayah, jld. 5, hlm. 192; Shaduq, Amali, , hlm. 120.
  22. Bukhari Muhammad, al-Tariqh al-Saqir, jld. 1, hlm. 141; Watsaqafi Ibrahim, al-Gharat, jld. 1, hlm. 415; al-Ikhtishash, yang dinisbatkan kepada Syaikh Mufid, jld. 1, hlm113-116.
  23. Ibnu Abdu Rabbah Ahmad, al-'Aqad al-Faraid, jld. 4, hlm. 366; Khatib Baghdadi Ahmad, Tarikh Baghdad, jld. 7, hlm. 401.
  24. Waqidi Muhammad, al-Maghazi, jld. 1,hlm. 344; Ibnu Sa'ad Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 4, hlm. 341; Ibnu Abd al-Barra Yusuf, al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashhab, jld. 4, hlm. 1921; Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 207; Ibnu Jauzi Abdurrahman, Sifat al-Shafwah, jld. 2, hlm. 42.
  25. Al-Hur al-Amili Muhammad, Wasail al-Syiah, jld. 20, hlm. 143; Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 207.
  26. Ibnu Sa'ad Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, jld. 8, hlm. 96; Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 202.
  27. Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 209; Ibnu Abd al-Barr Yusuf, al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashhab, jld. 4, hlm. 1921.
  28. Dzahabi Muhammad, Siar A'lam al-Nubala, jld. 2, hlm. 210; Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld. 6, hlm. 289-324.
  29. Surah al-Ahzab: 33.
  30. Kitab Sulaim bin Qais, riset: Alawi Hasani Najafi, jld. 1, hlm. 59-60; Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld. 6, hlm. 292-296-298; Tahbarani Sulaiman, al-Mu'jam al-Kabair, jld. 3, hlm. 46-49; Hakim Naisyaburi Muhammad, al-Mustadrak al-Sahihain, jld. 3, hlm. 146.
  31. Khashaibi Husain, al-Hidayah al-Kubra, jld. 1, hlm. 203-204; Mas'udi Ali, Itsbat al-Washiah, jld. 1, hlm 141; Ibnu Abdu Rabbah Ahmad, al-'Aqad al-Faraid, jld. 4, hlm. 383; Ya'qubi Ahmadi, Tarikh, jld. 2, hlm. 182-183.
  32. Ibnu Hajar al-Asqalani Ahmad, Tahdzib al-Tahdzhib, jld. 12, hlm. 456; Hakimi Muhammad Ridha, A'yan al-Nisa, jld. 1, hlm. 627-628; Ibnu Asakir Abdurrahman, Kitab al-Arbai'in fi Manaqib Ummahat al-Mu'minin, jld. 1,hlm. 71, 74 dan 104.
  33. Al-Hur al-Amili Muhammad, Wasail al-Syiah, jld. 20, hlm. 143.

Daftar Pustaka

  • Ahmad bin Hanbal, Musnad, Beirut, Dar Shadr.
  • Al-Hur al-Amili Muhammad,Wasail al-Syi'ah, riset: Muhammad Razi, Beirut, 1389 H.
  • Al-Ikhtishash, dinisbatkan kepada Syaikh Mufid, riset: Muhammad Mahdi Hasan Khurasan, Qom, Maktabah Bashirat.
  • Al-Imamah wa al-Siyasayh, dinisbatkan kepada Ibnu Qutaibah, Kairo, 1356 H/1937.
  • Al-Qur'an al-Karim.
  • Baladzuri Ahmad, Ansab al-Asyraf, riset: Muhammad Hamidullah, Kairo, 1959.
  • Bukhari Muhammad, al-Tarikh al-Shaghir, riset: Mahmud Ibrahim Zayid, Beirut, 1406 H/1986.
  • Dzahabi Muhammad, Siyar A'lam al-Nubala, riset: Syuaib Arnauth dkk, Beirut, 1405 H.
  • Hakim Naisyaburi Muhammad, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, Beirut, 1398 H/1978.
  • Hakimi Muhammad Ridha, A'yan al-Nisa, Beirut, 1403 H/1983.
  • Ibnu Abd al-Barr, Yusuf, al-Isti'ab fi Ma'rifah al-Ashhab, riset: Ali Muhammad Bajawi, Kairo, 1380 H/1960.
  • Ibnu Abd Rabbah Ahmad, al-'Aqad al-Faraid, riset: Ahmad Amin dkk, Beirut, 1402 H/1982.
  • Ibnu Abi Thahir Thaifur Ahmad, Balaghat al-Nisa, Beirut, Dar al-Nahdah al-Haditsah.
  • Ibnu Asakir Abdurrahman, Kitab al-Arba'in fi Manaqib Ummahat al-Mu'minin, riset: Muhammad Muti' Hafidz dan Gazwah Badiz, Beirut, Dar al-Fikr.
  • Ibnu Atsir Ali, Usd al-Ghabah, Tehran, al-Mathbu'ah al-Islamiyah.
  • Ibnu Babwaih Muhammad, Ma'ani al-Akhbar, riset: Muhammad Mahdi Hasan Khurasan, Qom, Mansyurat Maktbah al-Mufid.
  • Ibnu Babwaih, Muhammad bin Ali, al-Khishal, Ali Akbar Ghaffari, Qom, Jama'at al-Mudarrisin, 1403 H.
  • Ibnu Habib Muhammad, al-Muhbar, riset: Alyazadeh Laistan Asytar, Haidar Abad Dakan, 1361 H/1942.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani Ahmad, Tahdzhib al-Tahdzhib, Haidar Abad Dakan, 1327 H.
  • Ibnu Hamzah Abdullah, al-Tsaqab fi al-Manaqib, riset: Nabil Reza 'Alawan, Qom, 1412 H.
  • Ibnu Hisyam Abd al-Mulk, al-Sirah al-Nabawiah, riset: Mushtafa Saqa dkk, Kairo, 1375 H/1955.
  • Ibnu Jauzi Abdurrahman, Shifatu al-Shafwatu, riset: Mahmud Fakhuri dan Muhammad Rawas Qal'ahji, Beirut, 1406 H.
  • Ibnu Qutaibah Abdullah, al-Ma'arif, riset: Tsarwat Akasyih, Kairo, 1960.
  • Ibnu Rustum Thabari Muhammad, Dalail al-Imamah, Najaf, 1383 H/1963.
  • Ibnu Sa'ad Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, Beirut, Dar Shadr.
  • Ishak bin Muhammad Hamadani, Tarjamah wa Insya Sirah al-Nabi (Sirah Rasulullah), riset: Asghar Mahdawi, Tehran, 1361 S.
  • Khashaibi Husain, al-Hidayah al-Kubra, Beirut, Muassasah al-Balagh, Khatib Baghdadi Ahmad, Tarikh Baghdad, Kairo, 1349 H.
  • Kitab Sulaim bin Qais, riset: Alawi Hasani Najafi, Beirut, 1400 H/1980.
  • Mas'udi Ali, Itsbat al-Washiah, Qom, 1404 H.
  • Thabari, Tarikh.
  • Thabrani Sulaiman, al-Mu'jam al-Kabir, riset: Hamdi Abdul Majid Salafi, Baghdad, al-Dar al-'Arabiyah al-Thaba'ah.
  • Tsaqafi Ibrahim, al-Gharat, riset: Abd al-Zahra Husaini, Beirut, 1407 H/1987.
  • Waqidi Muhammad, al-Maghazi, riset: Marceden Jhones, London, 1966.
  • Ya'qubi Ahmad, Tarikh, terj: Muhammad Ibrahim Ayati, Tehran, 1356 S.
  • Zubairi Mush'ab, Nasab Quraisy, riset: Lawi Parwansal, Kairo, 1953.