Prioritas: aa, Kualitas: b

Tawassul

Dari WikiShia
(Dialihkan dari Tawasul)
Lompat ke: navigasi, cari
Akidah Syiah
‌Ma'rifatullah
Tauhid Tauhid Dzati • Tauhid Sifat • Tauhid Af'al • Tauhid Ibadah
Furuk Tawasul • Syafa'at • Tabarruk •
Keadilan Ilahi
Kebaikan dan keburukan • Bada' • Amru bainal Amrain •
Kenabian
Keterjagaan • Penutup Kenabian • Nabi Muhammad Saw • Ilmu Gaib • Mukjizat • Tiada penyimpangan Alquran
Imamah
Keyakinan-keyakinan Kemestian Pelantikan Imam • Ismah Para Imam • Wilayah Takwini • Ilmu Gaib Para Imam • Kegaiban Imam Zaman as • Ghaibah Sughra • Ghaibah Kubra • Penantian Imam Mahdi • Kemunculan Imam Mahdi as • Raj'ah
Para Imam
  1. Imam Ali
  2. Imam Hasan
  3. Imam Husain
  4. Imam Sajjad
  5. Imam Baqir
  6. Imam al-Shadiq
  7. Imam al-Kazhim
  8. Imam al-Ridha
  9. Imam al-Jawad
  10. Imam al-Hadi
  11. Imam al-Askari
  12. Imam al-Mahdi
Ma'ad
Alam Barzah • Ma'ad Jasmani • Kebangkitan • Shirat • Tathayur al-Kutub • Mizan
Permasalahan Terkemuka
Ahlulbait • Empat Belas Manusia Suci • Taqiyyah • Marja Taklid

Tawasul (bahasa Arab:التوسل) adalah salah satu ajaran Syiah dan mayoritas umat Islam yang bermakna menjadikan seseorang atau sesuatu sebagai perantara di sisi Allah swt, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan untuk meminta hajat atau keinginan. Tawasul dan syafaat memiliki hubungan yang dekat dan kedua amalan ini sering disebutkan bersama.

Menurut akidah Syiah, pentingnya tawasul itu muncul dari perintah Allah swt dalam Alquran dan hadis-hadis yang banyak dari Ahlulbait as. Dalam doa-doa dan ziarah-ziarah Aimmah as banyak mengandung tawasul dan yang paling lengkap adalah doa Tawasul.

Di masa modern ini, Wahabi yang mengikuti pandangan Ibnu Taimiyah mempermasalahkan tawasul, sementara ulama Syiah dan Ahlusunnah tidak menerima keberatan-keberatan ini (yakni mereka meyakini tawasul sebagai amalan yang dianjurkan dalam Islam).

Makna Tawasul

Tawasul bermakna melakukan pekerjaan untuk mendekatkan diri kepada sesuatu atau seseorang. [1] Menurut istilah, kalimat ini berarti menjadikan pekerjaan-pekerjaan baik, orang-orang shaleh dan orang-orang yang dekat dengan Allah swt sebagai perantara demi tercapainya keinginan dan terjawabnya doa. Dalam praktik tawasul, ketika orang berdoa dan beristigatsah, ia panjatkan kepada Allah swt sesuatu yang menjadi perantara diterimanya taubat dan doanya serta terpenuhi keinginannya. Orang atau objek tempat tawasul adalah setiap orang atau sesuatu yang terhormat di sisi Allah swt; seperti sifat dan nama-nama Allah swt atau Nabi Muhammad saw dan doanya atau para Auliya besar dan Malaikat. Keinginan yang diminta bisa perkara agama dan spiritual atau perkara duniawi dan material.

Wasilah atau perantara adalah sesuatu yang mana manusia melalui itu menjadi dekat dengan sesuatu yang lain. [2]

Menurut riwayat Syi'ah, wasilah atau perantara memiliki makna luas meliputi kewajiban, sunah syar'i,[3] doa-doa orang shaleh, orang-orang beriman, atau para auliya Allah swt. [perlu sumber].

Legalitas Tawasul

Para peneliti dalam menetapkan legalitas tawasul membawa dalil Alquran, hadis, dan tradisi. Sebagiannya lagi berpendapat bahwa selain telah disyariatkannya tawasul oleh agama, akar tawasul pun ada dalam fitrah dan akal manusia. [4]

Dalil Alquran

Alquran menganjurkan orang-orang beriman untuk bertawasul, ayat yang paling jelas tentang tawasul ada dalam surah Al-Maidah. Allah swt secara eksplisit memerintahkan orang-orang beriman yang jika ingin mendekatkan dirinya kepada Allah swt, maka carilah suatu perantara: یا أَیهَا الَّذِینَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَیهِ الْوَسِیلَةَ وَجَاهِدُواْ فِی سَبِیلِهِ لَعَلَّکُمْ تُفْلِحُونَ; "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." [5]

Dalam surah An-Nisa ayat 64, dianjurkan kepada para pendosa agar pergi mengunjungi Nabi saw dan memohon kepada beliau agar memintakan ampun untuknya sampai Allah swt mengampuninya.

Pada saat saudara-saudara Yusuf menyesali perbuatannya, bukannya mereka langsung memohon ampunan kepada Allah swt, tetapi mereka menjadikan ayahnya sebagai perantara dan mereka memohon kepada ayahnya agar memohonkan ampunan di sisi Allah swt. [6]

Dalam suatu ayat dikatakan kepada para hamba untuk berpegang kepada tali Allah: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِیعاً وَلا تَفَرَّقُوا; "Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai". [7]

Menurut riwayat Syi'ah, maksud dari tali Allah adalah keluarga Nabi saw. [8]

Dalil Riwayat

Dalam sumber riwayat, banyak hadis dari Ahlulbait as pada bab Tawasul yang dinukilkan yang menjelaskan tentang makna tawasul, contoh perantara (wasilah), pengaruh-pengaruh dan hasil-hasilnya.

  • Dalam suatu riwayat dari Sayidah Zahra sa: Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt memerlukan wasilah dan kami adalah wasilah dan perantara Allah di antara makhluknya. [9]
  • Menurut sebuah hadis, Imam Shadiq as berkata: “kami (Ahlulbait) adalah tali Allah swt sesuai firman Allah swt: [10] وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِیعاً وَلا تَفَرَّقُوا; "dan berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai." [11]
  • Dan juga menurut hadis-hadis, setelah Nabi Adam as diusir dari surga, ia terampuni berkat bertawasul kepada Nabi saw dan Ahlulbaitnya.[12] Para Nabi as terdahulu pun bertawasul kepada kedudukan Nabi saw.[13]
  • Dalam sebuah riwayat yang dinukilkan dari Amirul Mukminin as [14]bahwa ia menyebutkan contoh terbaik dari tawasul, diantaranya: Iman kepada Allah swt, jihad di jalan Allah, melaksanakan kewajiban, puasa, haji dan umrah.
  • Buku-buku ziarah dan doa yang sampai dari Rasul saw dan Ahlulbaitnya dipenuhi dengan kandungan-kandungan tawasul dan penyumpahan Allah swt melalui hak Rasul dan para Imam Maksum. Ini pun termasuk bentuk tawasul.[15]

Riwayat-riwayat yang menjadi dalil disyariatkannya tawasul pun dapat dilihat dari sumber-sumber Ahlusunah. Diantaranya riwayat seorang buta yang dapat melihat setelah bertawasul kepada Nabi saw [16][17]atau hadits dari Aisyah yang dinukilkan dari Rasul: “Amirul Mukminin adalah wasilah terdekat kepada Allah swt” [18]

Tradisi Muslim

Tradisi orang-orang Islam pada permulaan Islam dan para sahabat Nabi saw menunjukan bahwa tawasul kepada orang-orang shaleh dan suci adalah perkara baik dan dapat diterima. Ada beberapa contoh yang akan disebutkan:

  • Tawasulnya Umar kepada Abbas bin Abdul Muthalib ketika beristisqa atau meminta hujan [19]
  • Tawasulnya Shafiyah, bibi Rasul kepada beliau dengan melantunkan syair untuk mengingatnya [20]
  • Tawasulnya seorang laki-laki kepada Rasul pada zaman khilafah Utsman atas bimbingan Utsman bin Hanif [21]dan tawasulnya Bilal bin Harits kepada beliau untuk memohon hujan [22]
  • Dalam tulisan Zaini Dahlan [23]beliau meneliti dzikir dan doa-doa orang-orang terdahulu, didapati banyak sekali tawasul di dalamnya. Ibnu Hajar Haitami[24]menukilkan sebagian syair-syair Syafi'i yang di dalamnya disebutkan dengan jelas bahwa keluarga Rasullullah adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. menurut sebuah riwayat, Malik bin Anas dalam perbincangannya dengan Mansur Dawaniqi, dia mengajarkan cara berziarah kepada Rasul dan tawasul kepadanya[25]

Macam-macam Tawasul

Dalam literatur Syiah, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt tidak bisa menggunakan setiap perantara; contohnya menggunakan api yang ada dalam beberapa agama atau patung yang biasa digunakan di Hijaz adalah bathil dan haram. Karena pembolehan syariat dalam menggunakan api sebagai perantara belum ditetapkan dan haramnya menggunakan patung telah jelas. Untuk mengetahui apa saja yang menjadi wasilah menurut syariat harus dikembalikan kepada Alquran dan riwayat. Oleh karena itu tawasul dapat dibagi menjadi dua macam; tawasul masyru' (yang disyariatkan) dan tawasul goiru masyru' (yang tidak disyariatkan) [26]

Dalam riwayat Ahlulbait as telah dijelaskan melalui apa saja kita bisa bertawasul, di antaranya:

Syubhat-syubhat Wahabi Tentang Tawasul

Mayoritas orang-orang Islam baik Syiah maupun Ahlusunnah[Note 1] menerima adanya tawasul. Di sini kelompok wahabi menolak tawasul, namun banyak ulama Islam yang menulis kitab untuk menolak pendapat mereka[34] Sebagian keberatan-keberatan wahabi adalah sebagai berikut:

Tawasul dan Tauhid

Dalil pertama yang digunakan Wahabi adalah bahwa tawasul dan tauhid saling bertentangan. Karena setiap hamba hanya dapat memohon pertolongan kepada Allah swt dan memohon pertolongan kepada selain Allah swt adalah syirik. Ibnu Taimiyah untuk membenarkan pendapat ini, terkadang menggunakan ayat Illahi, misalnya ayat 56 dan 57 surah Al-Isra'.

«قُلِ ادْعُواْ الَّذِینَ زَعَمْتُم مِّن دُونِهِ فَلاَ یمْلِکُونَ کَشْفَ الضُّرِّ عَنکُمْ وَلاَ تَحْوِیلًا. أُولَئِکَ الَّذِینَ یدْعُونَ یبْتَغُونَ إِلَی رَبِّهِمُ الْوَسِیلَةَ أَیهُمْ أَقْرَبُ وَیرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَیخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّکَ کَانَ مَحْذُورًا»

Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." [35]

Dan ayat 5 surah Al-Fatihah «إِیاکَ نَعْبُدُ وإِیاکَ نَسْتَعِینُ»; "Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan." Dia percaya bahwa yang dilarang dan tercela dalam ayat ini adalah tawasul kepada selain Allah swt [36]

Menurut orang yang menerima tawasul, ayat ini memiliki pengertian yang lain; dua ayat pertama membicarakan tentang penafian sifat ketuhanan pada sesembahan orang-orang musyrik dan tidak pantasnya banyak Tuhan untuk dijadikan sesembahan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan tawasul kepada perkara yang suci dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah swt. begitu pula ayat 5 surat Al-Fatihah membicarakan penafian memohon pertolongan kepada selain Allah swt dengan mempercayai kemandirian wasilah-wasilah dari Allah swt, bukannya menafikan memohon pertolongan kepada Allah swt dengan wasilah atau perantara; sebagaimana dalam Alquran disebutkan pula tentang memohon pertolongan kepada salat dan perkara-perkara yang lainnya. [37]

Orang-orang yang mempercayai Tawasul berpendapat bahwa menurut logika pun tawasul bukanlah syirik; karena memohon pertolongan kepada seseorang atau sesuatu tidaklah bermakna menyembah orang atau sesuatu tersebut. Sistem alam semesta berdasarkan keterkaitan satu dengan yang lainnya dan tentunya semuanya bersandar kepada kehendak Allah swt dan tidak ada satu pun secara bebas dapat mempengaruhi yang lainnya. Sebagaimana meminta pertolongan terhadap perantara, alat-alat material dan manusia dalam perkara-perkara tertentu bukanlah syirik, menggunakan perkara nonmaterial pun jika dengan kepercayaan bahwa sesuatu tersebut bergantung kepada sesuatu yang lain, maka hal itu bukanlah syirik. Pandangan tauhid mengharuskan bahwa manusia selain menggunakan sarana-sarana dan perantara-perantara, dia juga harus mengetahui sumbernya dan kebergantungan seluruh sarana dan perantara tersebut kepada Tuhan semesta alam, inilah yang dinamakan Tauhid. [38]

Orang-orang yang tidak menerima tawasul, selain dalil di atas tersebut, mereka pun menyandarkan keharaman tawasul kepada ayat-ayat yang lainnya . [39] Diantaranya ayat 3 surah Al-Zumar:

«ألَا لِلَّهِ الدِّینُ الْخَالِصُ وَالَّذِینَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِیاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِیقَرِّبُونَا إِلَی اللَّهِ زُلْفَی إِنَّ اللَّهَ یحْکُمُ بَینَهُمْ فِی مَا هُمْ فِیهِ یخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا یهْدِی مَنْ هُوَ کَاذِبٌ کَفَّارٌ»

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar."

Dan ayat 37 surat Saba':
«‌وَمَا أَمْوَالُکُمْ وَلَا أَوْلَادُکُم بِالَّتِی تُقَرِّبُکُمْ عِندَنَا زُلْفَی إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِکَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِی الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ»

"Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)."

Akan tetapi, ayat yang pertama menafikan ibadah kepada selain Allah swt dan menyembah berhala, bukannya menafikan mendekatkan diri kepada Allah swt dengan cara tawasul kepada orang-orang shaleh tanpa harus menyembahnya. Tentang ayat kedua bisa dikatakan bahwa tawasul kepada para Nabi dan Auliya merupakan salah satu contoh dari pekerjaan mulia (amal shaleh) dan tidak bertentangan dengan maksud ayat tersebut. [40]

Tawasul Kepada Rasul Setelah Wafatnya

Menurut akidah Ibnu Taimiyah tawasul kepada doa Rasulullah saw dan orang-orang saleh hanya boleh pada saat masa hidupnya dan setelah kematiannya tidak ada lagi pekerjaan yang dapat dilakukan oleh mereka dan tawasul pun menjadi tidak sah.

Menurut akidah kebanyakan orang Muslim, perkataan Ibnu Taimiyah bertentangan dengan ayat Alquran yang menyatakan adanya kehidupan setelah kematian dan kehidupan para Nabi dan Auliya Allah setelah berpindah ke alam Barzakh. Sebagaimana pula menurut Alquran dengan jelas menyebutkan bahwa kehidupan para Syuhada berlanjut setelah kematiannya. [41]

Para Nabi yang kedudukannya lebih tinggi dari para Syuhada, setelah kematian zhahiri mereka masih hidup. Menurut pandangan Islam, kematian bukan kebinasaan manusia, melainkan perpindahan dari satu alam ke alam lainnya. [42]

Sebagaimana semasa hidup Rasulullah, padanya seorang muslim dapat memohon untuk didoakan dan dimintakan ampunan, setelah kematian beliau pun ia dapat memohon permohonan itu; karena menurut Alquran dan Sunnah ada kemungkinan terjalinnya hubungan manusia yang ada di dunia dan arwah manusia yang ada di alam Barzakh. Percakapan Nabi Shaleh dan Syu'aib dengan umat yang telah binasa[43] dan bahwa dalam Alquran Allah memerintahkan kepada Nabi saw untuk berbicara dengan para Nabi yang terdahulu[44] serta percakapan Nabi saw dan Amirul Mukminin as dengan orang-orang yang terbunuh dalam perang Badar dan Jamal[45] adalah termasuk diantara dalil-dalil dan bukti-bukti pendapat ini.

Tawasul dan Bid'ah

Sirah Nabi saw dan Ahlulbait as dan perbuatan sahabat dan umat Muslim pada permulaan Islam adalah tidak relevan dengan menganggap tawassul sebagai bid'ah. Sebagian peristiwa yang menyebutkan tentang berlansungnya kebiasaan bertawasul di sisi umat Muslim diantaranya adalah: Tawasulnya Umar kepada Abas bin Abdul Muththalib pada saat Istisqa atau memohon hujan, [46]bertawasulnya Shafiyah, bibi Rasul kepadanya dengan melantunkan syair untuk mengingat beliau,[47][48] tawasul seorang laki-laki kepada Rasul pada zaman khalifah Utsman atas bimbingan Utsman bin Hanif[49] dan tawasulnya Bilal bin Harits kepada Rasul untuk meminta hujan[50]

Menurut tulisan Zaini Dahlan, [51] meneliti dan menelusuri dzikir dan doa-doa orang-orang terdahulu, banyak sekali didapati tawasul mereka di dalamnya. Ibnu Hajar Haitami[52] menukilkan sebagian syair-syair Syafi'i yang di dalamnya disebutkan dengan jelas bahwa keluarga Rasullullah adalah perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. menurut sebuah riwayat, Malik bin Anas dalam percakapannnya dengan Mansur Dawaniqi, dia mengajarkan cara berziarah kepada Rasulullah dan tawasul kepadanya. [53]

Bahkan jika sanad sebagian riwayat Ahlusunnah mengenai kebolehan bertawassul tidak dapat diterima, banyaknya jumlah riwayat menunjukkan bahwa tawasul dari masa sahabat sampai masa-masa berikutnya adalah hal yang lumrah dan dapat diterima dikalangan orang-orang Muslim. Samhudi[54]menyebutkan peristiwa bermacam-macam tentang dikabulkannya permintaan orang-orang yang memohon dengan cara bertawasul kepada Rasulullah di makamnya. [55]

Cara Bertawasul dalam Ziarah dan Doa

Meneliti tentang cara tawasul dan adab yang digunakan dalam doa-doa ma'tsur (do'a yang sampai dari para Ma'sumin) dan ziarah para Imam as menunjukkan gambaran benar tentang tawasul yang disyari'atkan. Tawasul kepada para Imam dan Auliya Ilahi terdapat dalam kebanyakan doa-doa Syiah dan ziarah Nabi dan Aimmah as. Juga disebutkan dalam kitab-kitab doa, salat-salat khusus untuk bertawasul kepada Nabi saw atau kepada salah satu Imam as,[56] dimana yang paling terkenal adalah doa Tawasul. Sebagaian dari isi doa tawasul adalah sebagai berikut [57]:

  • اَللّهُمَّ اِنّی اَسئلُکَ وَاَتَوَجَّهُ الَیکَ بِنَبِیکَ نَبِی الرَّحمَةِ...; "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan aku menghadap kepada-Mu dengan perantara nabi-Mu Nabi yang membawa rahmat"
  • یا رَسوُلَ اللّهِ ...اِنا تَوَجَّهنا وَاستَشفَعنا وَ تَوَسَّلنا بِکَ اِلی اللّهِ وَ قَدَّمناکَ بَینَ یدَی حاجاتِنا یا وَجیهاً عِندَاللّهِ اِشفَع لَنا عِندَاللّه; "Wahai Rasulullah! Dengan perantaramu kami menghadap Allah, memohon syafaat dan bertawasul kepada-Nya, dan kami dahulukan engkau di antara hajat-hajat kami. Wahai Rasul yang berkedudukan tinggi di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah".
  • Bersumpah kepada Allah swt dengan perantara hak Nabi saw, Aimmah as, dan orang-orang shaleh pun merupakan salah satu dari tawasul yang disyariatkan; seperti mengatakan: «اللهم انی اسئلک بجاه محمد»; Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan perantara kedudukan Muhammad" atau «اللهم انی اسئلک بحق کل مومن مدحته فیه»; "Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu dengan perantara hak setiap orang mukmin yang Engkau puji di dalam Alquran".

Etika Tawasul dalam Budaya Syiah

Tawasul memiliki kedudukan khusus dalam budaya Syiah, oleh karenanya tawasul memiliki etika dan adab khusus di antara orang-orang Syiah. Sebagian etika ini tanpa didasari riwayat, namun tidak melanggar syariat; seperti menyiapkan jamuan atas nama Aimmah As, misalnya jamuan Imam Zainal Abidin as atau jamuan Sayyidina Abul Fadhl Abbas. Dalam majelis ini selain memberikan makanan kepada orang-orang mukmin, membaca Alquran dan doa dan menghadiahkan pahala kepada imam tersebut, mereka pun bertawasul kepadanya [butuh sumber].

Mengadakan majelis-majelis doa tawasul dalam bentuk berjamaah juga merupakan etika orang-orang Syiah yang biasanya dilaksanakan pada malam rabu di masjid-masjid, haram Imam, ataupun di rumah-rumah. Sebagian dari kelompok Syiah mentradisikan cara bertawasul yang meskipun dalam ajaran muktabar Syiah sendiri hal itu tidak mendapat landasan dan dalil pendukung. [butuh sumber].

Catatan Kaki

  1. Ibn Manzur, Lisan al-Arab, juz 11, hal. 724, kata Wasala.
  2. Jauhari, al-Shihah, hal. 560.
  3. Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.30, hlm. 43
  4. Lihat: Subhani, Tawasul, ld. 8, hlm. 540-541
  5. QS. Al-Maidah: 35
  6. QS. Yusuf: 97.
  7. QS. Ali Imran: 103.
  8. Tafsir al-Mizan, tentang ayat, terdapat pula di Bihār al-Anwar, juz. 24. hal. 84.
  9. Balaghah al-Nisa, hal 14, Syarh Nahj al-Balaghah, juz 2. Hal. 267.
  10. QS Ali Imran: 103.
  11. Bihār al-Anwar, juz 24, hal. 84.
  12. Suyuti, al-Durr al-Mantsur, jld.1, hlm. 60-61
  13. Syaikh Shaduq, al-Amali, hlm. 218, Fattal Naisyaburi, Raudhatul Wa'izhin, jld. 2, hlm.372
  14. Nahj al-Balaghah, Khutbah ke 110.
  15. Untuk contohnya lihatlah ziarah Rasul, ziarah Jami'ah kabirah, dan doa'doa Sahifah Sajadiyah.
  16. Ibnu Majah, Sunan Ibni Majah, juz. 1. Hal. 441.
  17. Musnad Ahmad bin Hanbal, juz. 4, hal. 138.
  18. Syarh Nahjul Balagah, juz 2, hal. 267; danIbnu al-Maghazili, al-Manāqib, hal. 56, Juz 79.
  19. Lihat kitab: Shahih Bukhari, juz2, hal. 16; Ibn Atsir. Juz 3, hal. 166; Ibn Hajar Asqalani, Juz 2, hal. 441-442.
  20. Lihat kitab: Thabari, hal, 252, Haitsami, Juz 9, Hal. 39.
  21. Lihat kitab: Thabrani, juz 9. Hal. 31.
  22. Dahlan, hal. 18.
  23. Dahlan, al-Durar al-Saniyah, hal. 31.
  24. Dahlan, al-Durar al-Saniyah, hal. 180.
  25. Lihat kitab: Samhudi, Wafaul Wafa' juz 4, hal. 1376.
  26. Subhani, Ja'far, Tawasul jld.8, 541
  27. Nahjul Balaghah, Khutbah ke 110.
  28. Shahifah Sajadiyah, Do'a ke 42.
  29. QS. Al-A'raf:180.
  30. QS. Hasyr: 10.
  31. QS. Nisa':64.
  32. Bihar al-Anwar, juz 24, hal. 84.
  33. Nahjul Balaghah Khutbah ke 110
  34. Lihat kitab: Syifa' al-Saqam, juz 1, hal. 245-320; Wafa al-Wafa', juz 1, hal 1371; Syawahid al-Haq fi al-Istighatsah bi Sayyid al-Khalq, juz 1, hal. 386.
  35. QS. Al-Isra: 56 dan 57.
  36. Rifai, Al-Tawashul ila Haqiqat al-Tawasul, hal. 12-14, 54.
  37. QS. Al-Baqarah: 45.
  38. Untuk penjelesan lebih detail lihat: Muthahari Murtadha, Jahonbini Tauhidi (Pandangan dunia tentang Tauhid), juz 2, hal. 72
  39. Al-Tawashul ila Haqiqat al-Tawasul al-Masyru wa al-Mamnu', hal.179.
  40. Al-Tawasul, hal. 77-85.
  41. QS. Ali Imran:169-171.
  42. QS. As-Sajdah: 10 dan 11; Zumar: 42.
  43. QS. Al-A'raf: 78-79 dan 91-93.
  44. QS. Zukhruf: 45.
  45. Sirah al-Nabi, juz 2, hal. 292; Shahih Bukhari, juz 5, hal. 76. 112; al-Jamal wa al-Nushrah lisayyid al-Itrah fi Harb al-Bushrah, hal 391-392.
  46. Shahih Bukhari, juz 2, hal. 16; Usd al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah, juz 3, hal. 166; Ibnu Hajar Asqalani, juz 2, hal 411-412.
  47. Ibnu Hajar Asqalani, juz 2, hal 411-412.
  48. Dzakhair al-Uqba fi Manaqib Dzaw al-Qurba, hal 252.
  49. Al-Mu'jam al-Kabir, juz 9, hal. 31.
  50. Al-Durar al-Saniyyah fi Rad ‘ala al-Wahabiyah, hal 18.
  51. Al-Durar al-Saniyyah fi Rad ‘ala al-Wahabiyah, hal 31.
  52. Majma al-Zawaid wa Manba'ul Fawaid, juz 9, hal. 180.
  53. Wafa al-Wafa bi Akhbar Daril Musthafa, juz 4, hal. 1376.
  54. Lihat kitab; Wafa al-Wafa bi Akhbar Dar al-Musthafa, juz 4, hal. 1380-1387.
  55. Al-Tawasul Mafhumuhu wa Aqsamuhu, hal. 59-66.
  56. Mafatih al-Jinān, bagian doa.
  57. Mafatih al-Jinan, Do'a Tawasul.
  1. Sebagian dari ulama Ahlusunnah yang berpendapat bahwa tawasul merupakan perkara yang diperbolehkan atau disunahkan antara lain :
    • Taqiyuddin Subki (W.756 H), seorang ulama bermadzhab Syafi'i dalam kitabnya yang berjudul Syifa al-Siqam beliau berkata : “Tawasul, Istighatsah, dan Tasyaffu' (memohon syafaat) melalui Nabi Muhammad saw kepada Allah merupakan hal yang dibolehkan dan dianjurkan. Kebolehan dan kebaikan perkara ini termasuk salah satu perkara yang jelas bagi orang yang beragama, yang ma'ruf sebagai hal yang dilakukan para Nabi, rasul, Salafus Shalihin, ulama dan kaum awam dari umat Islam. Dan agama-agama lainnya pun tidak mengingkarinya, dan tidak pernah sekalipun terdengar (seseorang mengingkarinya) dari zaman ke zaman, hingga datanglah Ibnu Taimiyah dengan pendapat yang lemah, dia mengeluarkan pendapat baru yang tidak pernah ada di zaman sebelumnya”. [Syifa al-Siqam fi Ziyarati Khair al-Anām; Taqiyyuddin Sabaki, hal. 160].
    • Nuruddin Samhudi (W. 911 H), seorang ulama Ahlusunah berkata: “Ketahuilah bahwa istighatsah dan tasyaffu' melalui Nabi saw, kedudukan dan barakahnya di sisi Allah swt, merupakan amalan para Nabi dan Salafu Shalihin yang dilaksanakan di setiap zaman, sebelum terciptanya Nabi saw dan setelah terciptanya hingga di alam barzakh dan hari kiamat”. [Wafāul Wafa' bi Akhbāri Dāril Mushthafa, Nuruddin Samhuudi hal. 1372].
    • Zaini Dahlan (W. 1304 H), Imam Masjid al-Haram menulis: “Apabila bertawasul dengan perantara amal yang sholeh diperbolehkan -seperti yang tertera dalam hadis Shahih Bukhari mengenai tiga orang yang berlindung di dalam gua dan lobang gua itu tertutup, kemudian masing-masing dari mereka bertawasul kepada Allah melalui amalan yang terbaik hingga terbukalah lobang gua tersebut- maka sesungguhnya bertawasul kepada Nabi saw adalah lebih layak dan utama karena mengandung keutamaan kenabian dan keutamaan-keutamaan yang lainnya, baik di masa beliau masih hidup ataupun ketika beliau wafat…….”
    • Imam Muhammad Ghazali seorang Ulama dan Arif masyhur dikalangan muslimin dalam tulisannya beliau membenarkan tawassul. Di dalam salah satu risalahnya beliau menulis bab khusus dan terpisah tentang dibolehkannya tawassul dengan membawa dalil-dalil syar'inya.
    • Hafidz Abu Bakar Baihaqi dalam kitabnya yang berjudul Dalāil al-Nubuwwah menulis tentang kisah tawassul Nabi Adam dan Nabi-nabi lainnya.
    • Imam Jalaluddin Suyuti seorang ulama besar sejarah Islam dalam kitabnya al-Khashāish al-Kubra dan beberapa kitab yang lain menjelaskan tentang tawassul Nabi Adam.
    • Imam Hafidz Abu Abdillah al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak ala al-Shahihain menjelaskan tentang tawassulnya Nabi Adam kepada Nabi Muhammad saw.
    • Imam Mufassir Qur'an Abu Abdillah Qurtubi dalam tafsir ayat «ولـــــو أنهم إذ ظلمواأنفسهم» dalam jilid 5 halaman 265 juga berpendapat tentang diperbolehkannya bertawassul dan beliau juga menekankannya.
    • Alamah Ahmad Syihabuddin Khufaji dalam kitabnya Nasimu al-Riyadh juga banyak menyebutkan tentang hal ini.
    • Imam Hafidz Qasthalani dalam kitabnya 'Mawahib al-Ladunniyah dalam maqshad awal juga berpendapat sama dengan ulama-ulama sebelumnya.
    • Alamah Syaikh Muhammad Abdul Baqi Zarqani dalam Syarh Mawahib jilid 1 halaman 10, 44
    • Imam Syaikhul Islam Abu Zakaria Yahya Nawawi dalam kitabnya Idhāh bab 6 halaman 498.
    • Alamah Ibnu Hajar Haitami Makki dalam catatan terhadap kibat Idhāh halaman 499. Selain itu, dalam hal ini dia juga menulis kitab khusus bernama al-Jawharul Munadzzham
    • Hafidz Syihabuddin Muhammad bin Muhammad bin Hazari Dimasyqi dalam kitabnya yang berjudul 'Iddatul Hushnil Hashin dalam tema Keutamaan Doa.
    • Alamah Imam Muhammad bin Ali Syaukani dalam kitabnya dengan judul Tuhfah al-Dzakirin, halamana 161.
    • Alamah Imam Muhaddist Ali bin Abdul Kafi as-Subki dalam kitabnya Syifā al-Siqām fi Ziyarati Khairil Anam.
    • Syaikh Ahmad Sarhandi yang ber-laqab Imam Rabbani merupakan ulama besar dan pembimbing sufi yang terkenal selalu menjalankan Syari'at, dan dalam tulisannya beliau berpendapat tentang bolehnya tawassul.
    • Hafidz Ibnu Hajar ‘Asqalani, menukil kisah tentang seorang pria Arab yang datang di pusara Nabi saw dan bertawasul disana. Sanadnya Shahih dan dijelaskan dalam kitab Fathul Bari, jilid 2 halaman 495.
    • Imam Abu al-Qasim Qusyairi, Mufassir Terkenal penulis dari Risaalah Qusyairiyah
    • Imam Fakhrur Razi Ulama Besar dan Penafsir al-Qur'an yang dalam beberapa kitabnya mengisyaratkan tentang bolehnya tawassul.
    • Hafidz Abu al-Faraj Ibnu Jauzi dalam kitabnya al-Wafaa menyebutkan hadist tengtang tawassul.
    • Hafidz Imaduddin Ibnu Katsir dalam tafsir ayat «ولـــــو أنهم إذ ظلمواأنفسهم» membawa kisah tentang percakapan seseorang yang suka mencela dan seorang Arab yang datang ke pusara Nabi saw memohon syafaat dan dia tidak memprotes apa yang ia lakukan. Begitu juga dia membawa kisah tawassulnya Nabi Adam yang tertulis dalam kitabnya al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jilid 1 halamana 80. Selain itu, pada jilid 1 halaman 91 di kitab yang sama mengatakan bahwa sanad Kisah pemuda Arab yang bertawassul di Pusara Nabi saw adalah shahih. Dan ia juga menyebut syiar kaum muslimin “Ya Muhammadah” dalam jilid 6 halaman 324.
    • Syihabuddin Romli ra dalam kitab-kitabnya menulis beberapa hal tentang tawassul. Dalam karya-karya lainnya, ia juga meyakini tawassul.
    • Imam Syaikh Nuruddin Qari, yang terkenal dengan sebutan Maula Ali Qari dalam bukunya Syarh Syifa juga menulis beberapa hal tentang tawassul.
    • Imam Nasafi penulis kitab Syarh Aqāid Ahlussunnah yang merupakan salah satu dari kitab akidah yang terpercaya, berpendapat tentang shahihnya tawassul.

Daftar Pustaka

  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shaih al-Bukhari. Istambul, tanpa nama, 1421 H.
  • Dahlan, Ahmad Zaini. Al-Durar al-Saniyyah fi Rad ‘ala al-Wahabiyah. Beirut: al-Maktabah al-Tsaqafah, tanpa tahun.
  • Haitsami, Ali bin Abi Bakr. Majma' al-Zawaid wa Manba' al-Fawaid. Beirut: tanpa nama, 1408 H.
  • Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah. Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain. Beirut: Cetakan Yusuf Abdurrahmaan Marasyali, 1406.
  • Hur Amili, Muhammad bin Hasan. Wasail al-Syi'ah. Peneliti: Razi, Muhammad/ Rabbani Syirozi, Abdur Rahim. Penerbit: Markaz Itilaat wa Madarik Islami.
  • Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid bin Hibatullah. Syarh Nahjil Balaghah. Peneliti: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Qom: Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi, 1404 H.
  • Ibnu al-Maghazi, Ali bin Muhamamd. Manaqib Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib. Shan'a: Dar al-Atsar, 1424 H.
  • Ibnu Atsir. Usd al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. Beirut: tanpa nama percetakan, 1417/1996.
  • Ibnu Hajr Asqalani, Ahmad bin Ali. Fathul Bari: Syarh Shahih al-Bukhari. Beirut: Darul Ma'rifat, tanpa tahun.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Muhammad. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Ibnu Hisyam. Al-Sirah al-Nabawiyah. Kairo: tanpa nama, 1383 H.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Editor: Muhammad Fuad Abdul Baqi. Kairo: Jam'iyah al-Muknaz al-Islami, 1321 HQ/1380.
  • Ibnu Thawus, Ali bin Musa. Al-Iqbal bi al-A'mal. Qom: Maktabah al- I'lam al-Islami, 1418-1419 H.
  • Jauhari Bashri, Ahmad bin Abdul Aziz. Al-Saqifah wa Fadak. Peneliti: Muhammad Hadi Amini. Teheran: Maktabah Nainawa al-Haditsah, tanpa tahun.
  • Jauhari, Isamil bin Hamad. Al-Shihah. Beirut: Dar al-Ma'rifah, cet. III, 1429 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar. Peneliti: Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Mufid, Muhamamd bin Muhammad. Al-Jumal. Qom: Maktab al-A'lam al-Islami, 1416 H.
  • Muthahhari, Murtadha. Atsar Ustad Syahid Muthahhari. Teheran: Intisyarat Shadra, 1377 HS.
  • Nabhani, Yusuf bin Ismail. Syawahid al-Haq fi al-Istighatsah bi Sayyid al-Khalq. Beirut: tanpa nama, 1417 H.
  • Rifai, Muhamamd Nasib. Al-Tawashul ila Haqiqah al-Tawassul al-Masyru' wa al-Mamnu'. Beirut: tanpa nama, 1415 H.
  • Samhudi, Ali. Wifa' al-Wafa. Beirut: 1401 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali Babawaih. Al-Amali. Teheran: Nasyr Kitabchi, cet. VI, 1376 HS.
  • Subhani, Ja'far. Al-Tawassul Mafhumuhu wa Aqsamuhu wa Hukmuhu. Tanpa tempat, tanpa nama, 1415 H.
  • Subhani, Ja'far. Tawassul, di Daneshname Jahan Islam. Teheran: Bunyod Dairah al-Ma'arif Islami, 1383 HS.
  • Subki, Ali. Syifa al- Saqam. Riset: Muhammad Ridho Husaini Jalali. Qom: 1419 H.
  • Thabari, Ahmad bin Abdullah. Dzakhair al-Uqba fi Manaqib Dzawil Qurba. Kairo: 1356 H. Beirut: Cetakan Offset, tanpa tahun.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Muassasah al-A'lami, tanpa tahun.
  • Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. Al-Mu'jam al-Kabir. Cetakan Hamdi Abdul Majid Salafi, cetakan Offset Beirut 1404.