Imamah

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c tanpa link tanpa foto tanpa Kategori tanpa infobox tanpa navbox tanpa alih tanpa referensi

Imamah(Bahasa Arab: الإمامة ) dalam pandangan Syiah adalah kepemimpinan sebuah komunitas Islam dengan pelantikan Ilahi dan penganti Nabi Islam Saw dalam urusan agama dan duniawi. Ajaran ini, termasuk dari dasar-dasar mazhab Syiah dan termasuk sisi-sisi perbedaan akidah antara Syiah dan Sunni. Kepentingan permasalahaan imamah di sisi kaum Syiah menyebabkan mereka dijuluki dengan mazhab Imamiah.

Menurut ajaran-ajaran Syiah, Nabi mulia Saw semenjak awal misinya, memberikan perhatian khusus pada urusan pelantikan dan pengenalan khalifahnya dan imam kaum muslimin setelah wafatnya. Tindakan-tindakannya dalam merealisasikan hal ini, dimulai sejak awal dakwah terang-terangannya, dengan mengenalkan Imam Ali As sebagai khalifah dan pengganti setelahnya dan hal ini terus berlanjut hingga hari-hari akhir hayatnya, dalam perjalanan pulang dari Haji Perpisahan pada tanggal 18 Dzulhijjah di Ghadir Khum.

Kaum muslimin dari kalangan Ahlusunnah menegaskan kelaziman akan adanya imam dan keharusan mengikuti perintah-perintahnya, namun mereka meyakini bahwa seorang imam harus dipilih oleh masyarakat dan Nabi Saw dari sisinya sama sekali tidak mengenalkan seseorangpun sebagai khalifah setelahnya.

Kaum Syiah —yang diantaranya adalah kelompok asli seperti Imamiyah, Zaidiyah dan Ismailiyah— memiliki perbedaan pendapat dalam penentuan jumlah dan sosok substansi para imam. Jumlah para imam Syiah adalah duabelas orang. Imam pertama dari mereka adalah Imam Ali As dan Imam yang terakhir dari mereka adalah Imam Mahdi Ajf. Setelah Imam Ali As, Imam Hasan As, dan kemudian saudara lakinya Imam Husain As(salam sejahtera kepada mereka) yang mengemban jabatan imamah dan setelah tiga Imam ini, sembilan orang dari anak keturunan Imam Husain As secara tertib yang mengemban tugas jabatan ini.

Falsafah keberadaan imam adalah mengutip, menjaga agama Islam dan menjelaskan secara benar pengetahuan-pengetahuan agama dan oleh karena itu, diharuskan bagi seorang imam untuk memiliki potensi tetap dalam meninggalkan dosa, Ilmu Ladunni dan karunia Tuhan dan kewenangan wilayah dari sisi Tuhan demi melakukan tugas-tugasnya dengan baik.

Konsep dan Terminologi

Pengertian Secara Bahasa

Imamah dalam bahasa berarti pemimpin dan kepemimpinan. Dan dalam bahasa Arab, kata Imam berarti seseorang atau sesuatu yang diikuti. Dengan melihat hal ini, kata imam bisa memiliki beberapa subyek dan substansi dan contoh-contohnya adalah sebagai berikut, seperti: Al-Quran, Nabi Islam Yang Mulia Saw, Pengganti Nabi Saw, imam salat jamaah, panglima tentara, pemandu parawisata, pemandu unta dan seorang cendikiawan yang diikuti.[1]

Kata Imam dalam Al-Quran

Al-Quran Al-Karim, menggunakan kata imam untuk sebagian manusia dan makhluk lainnya; penggunaan-penggunaan kata imam pada selain manusia seperti: Lauh Mahfudh, [2] jalan yang terang, [3] dan kitab suci Nabi Musa As. [4] Sedangkan penggunaan Al-Quran untuk sebagian manusia dalam kata ini ada dua bentuk: yang pertama adalah imam yang haq(benar) dan imam yang batil (tidak benar). Dan substansi imam yang haq adalah para nabi yang diutus oleh Allah, [5] hamba-hamba Allah yang layak, [6] dan orang-orang yang lemah. [7] Para pemimpin kafir seperti Firaun dan para penguasa yang bekerja di dalam pemerintahannya adalah substansi dari imam yang batil yang ada dalam Al-Quran Al-Karim. [8]

Dalam sebuah ayat Al-Quran kata imam dipakai seakan-akan mencakup fungsi-fungsi sebelumnya, sebagaimana firmannya:
﴾وَیوْمَ نَدْعُو کلّ أُناس بِإِمامِهِم﴿
( Ingatlah)suatu hari (yang di hari itu)Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; [9]

Pengertian Secara Istilah

Para teolog mendefinisikan imamah dalam dua bentuk: pertama: Sebagian menggolongkannya ke dalam terminologi umum dan juga mencakup kenabian. Sebagaimana definisi berikut yang menafsirkan bahwa imamah adalah kepemimpinan umum dalam permasalahan-permasalahan agama dan duniawi. [10] Kedua: Mereka mendefinisikan bahwa imamah adalah pengganti Nabi dalam urusan agama dan meyakini bahwa taat kepada imam adalah hal yang diwajibkan. [11]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa definisi imamah dengan kepemimpinan umat Islam dalam urusan agama dan duniawi sebagai pengganti Nabi Saw merupakan hal yang disepakati oleh semua aliran-aliran Islam. [12]

Kedudukan Imamah dalam Syiah

Dalam pandangan Syiah, Imamah termasuk dari dasar-dasar dan pokok-pokok keyakinan Islam, namun Mu'tazilah dan Asya'irah juga mazhab-mazhab Islam lainnya menganggap hal itu sebagai cabang agama. Dengan demikian, Syiah telah meletakkan permasalahan Imamah pada posisi yang lebih menonjol dibandingkan Ahlussunnah. Dalam budaya Syiah, masalah Imamah selain mencakup permasalahan khilafah juga mencakup urusan-urusan lainnya. Kepentingan permasalahan ini dapat dibuktikan secara jelas dengan ada ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan permasalahan Imamah; karena menurut keyakinan Syiah, Imamah pada keyataannya adalah sebuah perkara yang serupa dengan nubuwah atau kenabian.

Imamah dan Khilafah

Jika kita melihat Imamah dari sudut pandang sejarah maka posisi keistimewanya di sisi kaum muslimin sangatlah jelas. Imamah adalah permasalahan terpenting dan tersensitif yang menjadi pembahasan dan dialog, setelah Nabi Besar Islam Saw. Tidak ada satupun dari ajaran-ajaran agama, yang menjadi pembahasan dan konflik dalam sepanjang waktu seperti pembahasan Imamah. [13]

Kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Saw,di saat-saat yang berbeda dan dengan tema yang bermacam-macam dapat juga disebut dengan imamah (kepemimpinan) dan khilafah (kekhalifahan). Jabatan ini dikatakan Imamah karena memiliki sisi kepemimpinan dan perlindungan dan dengan sudut pandang inilah dianggap sebagai pengganti Rasulullah Saw, hal yang semacam ini dikatakan dengan khilafah. Dengan demikian, Imam dalam syareat Islam adalah khalifah dan pengganti Rasulullah Saw. Tentunya dalam hal ini apakah dia dapat juga dinamakan sebagai khalifatullah? Di dlam pandangan Ahlussunnah ada dua pendapat: Sebagian meyakini bahwa jabatan seperti ini diperbolehkan dan sebagian lagi meyakini bahwa hal ini tidak dapat dibenarkan. [14] Riwayat-riwayat Ahlulbait As juga meyakini bahwa Imamah adalah adalah khalifah Allah dan Rasul-Nya. [15]

Imamah ; Janji Ilahi

Al-Quran Al-Karim, meyakini bahwa kedudukan Imamah atau kepemimpinan lebih unggul dari kedudukan nubuwah atau kenabian, karena telah diingatkan tentang Nabi Ibrahim As, bahwa dia setelah meraih jabatan nubuwah dan risalah juga sukses dalam cobaan-cobaan dan ujian-ujian Allah, baru kemudian Allah memberinya posisi imamah.

﴾و إذ إبتَلی ابراهیمَ ربُّه فأتَمَهُنّ، قال إنّی جاعِلُک للناس إماما قالَ وَ مِنْ ذُرِّیتی قالَ لا ینالُ عَهْدِی الظَّالِمین﴿
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman:" Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata:" (Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman:" Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim". [16]

Selain itu, Allah dalam kelanjutan ayat ini, melestarikan Imamah sebagai janji dan ikatan ilahi. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan jabatan semacam ini tidak akan berada di tangan rakyat.

Dan riwayat-riwayat Ahlulbait As juga menunjukkan akan hal tersebut. [17]

Ayat Ikmal adalah salah satu ayat yang berkaitan dengan peristiwa Al-Ghadir

Imamah; Faktor Kesempurnaan Agama

Hadis-hadis yang juga dapat menunjukkan kedudukan tinggi jabatan Imamah adalah hadis-hadis yang dikutip untuk sebab turunnya ayat ikmaluddin [18] .

Menurut riwayat ini, ayat ikmaluddin turun berkenaan dengan kejadian Ghadir Khum, yang mana Nabi Saw dengan perintah Allah ditugaskan untuk mengenalkan Ali As sebagai pemimpin umat Islam setelahnya. [19] Dengan demikian, agama Islam, melalui Imamah sampai pada kesempurnaan yang dikehendaki.

Ayat 67 Surah Al-Maidah terkenal dengan ayat Tabligh

Ayat Tabligh [20] juga penjelas hal ini, karena sesuai dengan ayat ini dan dengan memperhatikan riwayat-riwayat sebab turunnya ayat tersebut, Imamah begitu memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga jika Nabi Saw tidak menyampaikan masalah ini, seakan-akan dia tidak menyampaikan risalah Ilahinya dan usaha serta jerih payahnya akan sia-sia. [21]

Kepentingannya di Hari Kiamat

Menurut Al-Quran Al-Karim, hari Kiamat setiap orang akan pergi menuju pemimpin dan imamnya. Allah Swt berfirman:

﴾یوْمَ نَدْعُو کلّ أُناس بإِمامِهِمْ﴿

(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; [22]

Tentunya pembahasan ini juga dinukil oleh Syiah dan Ahlusunnah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Ridha As. Dengan demikian, kelak di hari Kiamat setiap kelompok akan dipanggil dengan nama kitab samawi, sunah nabi dan imamnya. [23]

Amirul Mukminin Ali As berkata:

Para imam adalah para pemimpin dan pemberi hidayah bagi hamba-hambanya dan seseorang tidak akan masuk surga, kecuali dia mengenal mereka dan mereka juga mengenalnya dan seseorang tidak akan masuk neraka, kecuali dia mengingkari mereka dan dan mereka juga mengingkarinya. [24]

Dalam beberapa hadis yang diriwayatkan oleh para imam Syiah As bahwa salat, zakat, puasa, haji dan wilayah kepemimpinan adalah termasuk dari rukun-rukun Islam dan diantara kelima rukun tersebut, wilayah kepemimpinan memiliki kedudukan yang lebih unggul, karena hal itu merupakan kunci dan petunjuk bagi rukun-rukun lainnya. [25]

Pentingnya Keberadaan Imam

Dalam pandangan para teolog Imamiyah, Imamah adalah sebuah kewajiban dan kewajibannya adalah kewajiban teologi; yaitu kewajiban bagi Allah, dan bukan bagi manusia. Makna dari kewajiban ini adalah bahwa hal ini adalah tuntutan keadilan dan hikmah serta kebijaksanaan dan sifat kesempurnaan lainnya dari Allah Swt dan karena jika tindakan atau amalan ini tidak dilakukan maka akan memberikan kesan kurang dalam penciptaan Allah Swt yang natijahnya adalah kemustahilan, oleh karena itu, pelaksanaan amalan dan tindakan tersebut adalah hal yang wajib dan darurat. Tentunya kewajiban ini muncul dari sifat-sifat kesempurnaaan Allah dan bukan berarti seseorang mewajibkannya kepada Allah. Sebagaimana Ia telah mewajibkan kepada diriNya sebagai pemberi rahmat dan petunjuk:

Khajeh Nashir dalam hal ini berkata:

Imamiah meyakini bahwa pelantikan imam adalah sebuah karunia; karena mendekatkan masyarakat untuk melakukan ketaatan dan menjauhkan mereka dari perbuatan maksiat; dan karunia bagi Allah adalah yang yag wajib. [26]

Mazhab-mazhab selain Syiah

Kebanyakan dari mazhab-mazhab Islam, mewajibkan permasalahan Imamah walaupun mereka berselisih pendapat dalam menentukan posisi pembahasan ini apakah kewajiban secara hukum fikih atau teolog atau pada pembahasan teks riwayat atau logika.

  • Asya'irah: Kelompok Asya'irah juga mewajibkan permasalahan Imamah namun dikarenakan mereka tidak meyakini pada pembahasan kebaikan dan keburukan adalah sifatnya akal (logika) dan tidak ada hal yang wajib bagi Allah Swt, kewajiban itu dilimpahkan kepada masyarakat dan meyakini bahwa kewajiban itu sifatnya adalah tekstual sesuai dengan riwayat dan tidak secara logika. Adhduddin Eiji meyakini bahwa pandangan Asya'irah mengatakan bahwa, pelantikan imam wajib secara teks, [27] dan ini dalam artian bahwa karena Allah Swt berkata keberadaan imam dan pelantikannya adalah wajib bukan berarti akal kita dapat memahami.

Dalil-dalil kewajiban Imamah

Ayat Ulil Amr

﴾یا أَیهَا الَّذِینَ آمَنُوا أَطِیعُوا اللَّهَ وَأَطِیعُوا الرَّسُولَ وَأُولِی الْأَمْرِ مِنْکمْ﴿

Dalam ayat ini Allah Swt menyuruh untuk taat kepada Ulil Amr, maka dengan demikian sudah dipastikan keberadaan Ulil Amr supaya mereka ditaati. [29] Taftazani dengan mengisyaratkan pada bukti ini berkata: kewajiban mentaati Ulil Amr menuntut perealisasian hal tersebut. [30]

Hadis Man Māta

Rasulullah Saw bersabda:

﴾مَنْ ماتَ وَ لَمْ یعْرِفْ إمامَ زَمانِهِ ماتَ مِیتَةً جاهِلِیةً﴿

Sesuai dengan hadis diatas, barang siapa yang mati dan dia tidak mengetahui imam zamannya dia akan mati sebagaimana mati jahiliyah.

Sebagian dari para teolog Islam meyakini bahwa hadis ini adalah dalil kewajiban Imamah, karena sesuai dengan hadis tersebut, mengenal dan mengetahui imam di setiap zaman adalah merupakan taklif secara agama yang disyareatkan dan kelazimananya adalah zaman tidak pernah kosong dari seorang Imam. [31]

Tradisi dan Perjalanan Kaum Muslimin

Sebagian dari para teolog menganggap bahwa sirah atau perjalanan kaum muslimin adalah dalil dan bukti kewajiban imamah, karena dengan melihat tradisi dan perjalanan kaum muslimin akan jelas bahwa mereka mengganggap kewajiban imamah adalah perkara yang diterima dan hal yang tidak diragukan lagi. Perselisihan antara Syiah dan Ahlusunnah juga berkaian dengan permasalahan konkrit san sosok imam yang mengemban imamah. Bukan pada pokok permasalahan imamah itu sendiri. [32] Abu Ali dan Abu Hasyim al-Jubbai dan sebagian yang lainnya berdalih tentang kewajiban imamah dengan ijma' para sahabat. [33]

Kaidah lutf (karunia Allah)

Alasan atau dalil logika terpenting para teolog Imamiah tentang kewajiban Imamah adalah kaidah lutf atau karunia Allah Swt. Para teolog Syiah meyakini bahwa Imamah adalah salah satu substansi yang jelas dari karunia Allah Swt dan menjelaskan bahwa karena Allah harus memberikan karunia kepada hamba-hambaNya dan melantik serta mengenalkan Imam juga adalah bentuk dari sebuah karunia, maka Imamah juga adalah suatu hal yang wajib.

Sayid Murtadha dalam menjelaskan bahwa Imamah adalah sebuah karunia berkata:

Kita tahu bahwa ada banyak sekali tugas logika bagi manusia, dan kita juga tahu bahwa orang-orang yang mukallaf itu tidak maksum. Dengan memperhatikan pada dua hal di atas, maka dalil Imamah adalah sebagai berikut bahwa setiap orang yang berakal yang mengenal dan tahu tentang uruf atau tradisi dan perjalanan orang-orang yang berakal dia tahu bahwa di mana saja di satu masyarakat ada seorang pemimpin yang layak dan benar-benar mumpuni untuk mencegah dan menghalau kezaliman dan kebatilan dan membela keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, dan situasi masyarakat lebih siap untuk pengembangan keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai luhur dan ini tidak lain adalah sebuah karunia, karena karunia adalah dengan memperhatikan padanya , para mukallaf akan menuju ke arah taat dan kebaikan dan akan menjauhi hal-hal yang buruk dan yang menjerumuskan. Oleh karena itu, Imamah adalah sebuah karunia bagi para mukallaf.
Para teolog seperti Ibnu Maitsam Bahrani, Sadiduddin Hemmesi, Khajeh Nashiruddin Thusi dan tokoh lainnya juga sesuai dengan kaidah ini, telah memberikan penjelasan-penjelasan yang berbeda-beda dalam menggambarkan Imamah dan kewajibannya. [34]

Para teolog Mu'tazilah, walaupun menerima dengan kaidah lutf, namun mereka tidak menerima masalah ini bahwa imam adalah termasuk dari bagian kaidah ini dan banyak komentar yang disampaikan dalam masalah ini yang mana Sayid Murtadha telah menjawabnya dalam kitab Al-Syafi Fi al-Imamah.

Falsafah Imamah

Sebagaimana yang yakini oleh Ahlusunnah bahwa imam hanya sosok seorang hakim bagi masyarakat, biasanya mereka mengenalkan falsafah keberadaan seorang imam dengan terbentuknya sebuah pemerintahan dan pelaksanaan tugas-tugas pemerintah dan pengaturan serta kepengurusan sebuah masyarakat. Sebagai contoh; dalam pandangan Mu’tazilah terlaksananya hokum-hukum agama seperti menegakkan hukum-hukum pidana, menjaga keberadaan umat Islam, mempersiapkan dan menertibkan kekuatan tentara pejuang untuk berjuang melawan musuh dan kepengurusan yang serupa, ini semua telah membentuk tujuan-tujuan terbentuknya imamah. [35] [36]

Namun Syiah Imamiah menjelaskan, ada dua macam tujuan untuk alas an keberadaan imam. Pertama: Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ahlusunnah, yaitu memiliki tujuan-tujuan dan pemanfaatan-pemanfaatan praktis. Dengan dasar ini, menjaga system sosial masyarakat muslim, tegaknya keadilan sosial, terlaksananya hukum-hukum Islam terutama hukum-hukum yang memiliki aspek sosial, penerapan batasan-batasan Tuhan adalah termasuk salah satu bentuk dari tujuan-tujuan imamah. [37] Namun, bagian lainnya yang merupakan bagian terpenting dari tujuan terbentuknya imamah adalah: Penukilan, penjagaan dan penjelasan syariat pengetahuan-pengetahuan agama Islam.

Penukilan Syariat

Dalam pandangan Imamiah, Allah telah mewahyukan agama secara sempurna kepada Nabi Saw dan diapun telah menyampaikannya secara sempurna juga kepada para Imam sehingga mereka secara bertahap menjelaskannya kepada masyarakat. Dengan dasar ini, hukum-hukum yang ada yang berkaitan dengan peribadatan, transaksi, kontrak; baik yang sepihak atau dua belah pihak, warisan, batasan-batasan pidana, dan ganjaran tebusan, secara terperinci belum dijelaskan dalam Al-Quran dan sunnah Nabi Saw. Namun yang ada dalam Al-Quran dan sunnah Nabi adalah hukum-hukum yang sifatnya global dan universal. Hukum-hukum yang sampai kepada kita dari jalan hadis-hadis Nabi saw adalah terbatas dan seluruh hadis inipun dari sisi sanadnya tidaklah valid.

Oleh karena itu, untuk menutupi kekurangan ini Ahlusunnah terpaksa menggunakan sumber-sumber lain seperti Qias, Istihsan dan cara-cara lainnya yang jika dinilai menurut ilmu pengetahuan tidak menghasilkan sebuah keyakinan.

Qias, Istihsan dan metode-metode lainnya yang tidak meyakinkan, menurut pandangan Syiah tidak memiliki validitas dan kita tidak memiliki dalil akal atau syariat yang dengan bersandar kepada hal-hal tersebut mampu digunakan dalam proses pengambilan kesimpulan sebuah hukum darinya. Contohnya, puasa di hari akhir bulan Ramadhan adalah wajib, dan puasa di hari pertama bulan Syawal, haram dan di hari keduanya dihukumi sunnah, padahal klo secara zahir nampaknya tidak ada perbedaan antara keduanya. Oleh karena itu, hanya sekedar keserupaan antara dua hal, hukum tidak dapat kita sama ratakan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam pandangan Syiah, Nabi Saw, telah menyampaikan agama secara sempurna dan dalam hal ini tidak ada kekurangan sama sekali sehingga untuk menutupi kekurangan itu dibutuhkan Qias atau Istihsan. Namun karena ketidaksiapan masyarakat dan tidak adanya perkara, kebanyakan dari hukum-hukum tersebut untuk masyarakat biasa dari dasar belum terlontarkan. Nabi Saw mengajarkan hukum-hukum semacam ini kepada para imam sehingga mereka yang akan menjelaskan kepada masyarakat secara bertahap.

Penjagaan Syariat

Satu lagi dari perkara dan urusan yang melazimkan keberadaan seorang imam dan termasuk dari falsafah-falsafah imamah adalah penjagaan syariat. Berdasarkan hal ini, wujud atau keberadaan imam akan menyebabkan agama terjaga dari perubahan dan perombakan; karena selain Al-Quran secara terperinci tidak menjelaskan hukum-hukum syariat, di sisi lain Al-Quran pula tidak menjelaskan atau berbicara dengan sendirinya, akan tetapi perlu penafsiran. Namun dikarenakan pemahaman orang lain tentang Al-Quran, setidaknya masih dimungkinkan adanya kesalahan dan kekeliruan, oleh karena itu, perlu ada orang-orang yang pemahaman mereka tentang Al-Quran terjaga dari salah dan pengkhianatan. Keberadaan mereka adalah tolok ukur dan ukuran untuk menentukan kesalahan pemahaman orang lain. Tolok ukur dan timbangan tersebut apapun dia, pada hakikatnya adalah akan menjadi penyebab terjaganya syariat tersebut.

Selain itu, hukum-hukum dan pengetahuan-pengetahuan yang telah dikutip dan dinukil secara mutawatir atau sosial itu terbatas dan tidak mencakup semua hukum syariat. Ijmak yang tanpa disandarkan pada pandangan dan perkataan para maksum juga dengan sendirinya tidak memiliki validitas. Dengan demikian, jalan satu-satunya yang tersisa adalah syariat hanya akan terjaga dengan keberadaan imam yang maksum; karena pandangannya maksum, terjaga dari segala kesalahan dan dengan itu segala perkataan tentang tafsir Al-Quran, dan penjelasan syariat dapat dinilai dan diprediksikan.

Penjelasan Pengetahuan-pengetahuan Agama

Penjelasan bagian dari pengetahuan-pengetahuan dan hukum-hukum syariat yang belum sempat dijelaskan oleh Nabi Saw, karena keadaan tidak memungkinkannya untuk menjelaskan hal itu atau tidak mempunyai kesempatan yang cukup, sehingga dan penjelasan hal-hal tersebut diberikan kepada para imam. ini adalah beberapa faktor yang melazimkan keberadaan.

Keistimewaan-keistimewaan dan Kelaziman-kelaziman Imamah

Ismah(keterjagaan dari dosa)

Salah satu syarat dan kelaziman imamah adalah keterjagaan seseorang dari dosa dan kesalahan dalam menjalankan tugas-tugas dan perintahnya. Alasan dari perkara ini adalah bahwa Imam adalah pengganti Nabi dan marja keilmuan dalam hukum-hukum agama dan pengetahun-pengetahuannya, penjelas dan penafsir Al-Quran dan sunnah nabi. Oleh karena itu, sudah merupakan sebuah kelaziman bahwa ia harus terjaga dari dosa dan kesalahan sehingga masyarakat bisa mempercayainya dan mendengar perkataan-perkataannya. Jika tidak demikian, maka kepercayaan masyarakat akan hilang dan tujuan Allah Swt atas penentuan para imam sebagai petunjuk bagi manusia akan gagal dan sirna.

Ilmu Tuhan

Para Imam selain mereka juga mendengar apa yang pernah disampaikan oleh Nabi baik secara langsung atupun melalui perantara, mereka juga memiliki ilmu-ilmu yang lain. Pengetahuan ini adalah dari salah satu segi ilmu-ilmu yang berada di luar kebiasaan yang berbentuk ilham dan tahdist (semacam wahyu) kepada mereka. Sebagaimana pula ilham yang pernah diwahyukan kepada Nabi Khidir, Dzulkifli, Sayidah Maryam dan ibunda Nabi Musa As. Dengan ilmu semacam inilah sebagian para imam di usia belia dan kecil, sampai pada kedudukan Imamah. Dengan perantara ilmu ini, mereka memerlukan dan mengunakannya untuk petunjuk jalan hamba-hamba Allah dan menjalankan tugas dan misi imamah mereka, mereka tahu dan berwawasan sehingga tidak perlu untuk belajar dari orang lain. [38]

Wilayah Kewenangan

Wilayah berarti suatu cara pendekatan dalam menghadap keharibaan Allah Swt yang membuat bentuk tertentu dari penggunaan dan tindakan seorang wali. [39]

Wilayah kewenangan ini terbagi menjadi dua bagian. Wilayah takwini atau wilayah terhadap alam adalah kekuasaan atau hak kewenangnan imam atas makhluk-makhluk hidup di alam dan di luar alam dan penggunaan atau tindakan atas keseluruhannya yang sifatnya adalah hakiki. Bagian lainnya dari wilayah adalah wilayah tasyri’i, dan yang dimaksud di sini adalah cakupan dan pengusaaan imam untuk menafsirkan dan menjelaskan Al-Quran Al-Karim dan sunnah-sunnah Nabi dan juga membimbing dan memimpin umat dan masyarakat. [40]

Keotentikan Kata dan Kelaziman Taat Kepadanya

Keistimewaan ini memiliki arti demikian bahwa perkataan dan pembicaraan imam dan tafsirannya adalah dari perkataan dan kalam Ilahi, valid dan wajib ditaati. Keistimewaan ini disebabkan penggunaan dan pemanfaatan dari Ilmu laduni yang diberikan langsung oleh Allah kepadanya dan wawasan pengetahuan dari maksud Allah Swt dalam ayat-ayat dari buku-buku langit.[41]

Imam-imam Syiah

Imam-imam Syiah duabelas orang dari keluarga Nabi Islam. Imam Ali As adalah Imam pertama dan imam-imam setelahnya adalah anak dan cucu-cucu Imam Ali As dan Sayidah Zahra Sa. Para imam memiliki ilmu Ilahi dan kedudukan Ismah dan berhak memberi syafa’at dan dengan bertawasul kepada mereka seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Mereka selain merupakan sumber marja keilmuan tentang ajaran-ajaran agama, tanggung jawab sebagai pemimpin politik sosial masyarakat juga berada pada duabelas orang ini.

Tidak sedikit hadis-hadis yang dinukil dari Nabi Saw yang menggambarkan keistimewaan-keistimewaan para imam, dan menjelaskan jumlah dan penyebutan nama-nama mereka dan menunjukkan bahwa keseluruhan mereka adalah dari Quraisy dan Ahlulbait Nabi Saw, dan Mahdi yang dijanjikan juga dari mereka dan dia adalah yang terakhir dari mereka.

Terdapat riwayat-riwayat yang jelas dari Nabi Saw mengenai keimamahan Ali As sebagai Imam pertama dan nas-nas yang jelas dan valid dari Nabi Saw serta Ali As untuk keimamahan kedua dan begitu seterusnya sampai keimamahan imam yang datang selanjutnya secara gamblang telah dijelaskan. Dengan demikian, berdasarkan teks ini, imam-imam Islam adalah 12 orang dan nama mereka adalah sebagai berikut: [42]

  1. Ali bin Abi Thalib
  2. Hasan bin Ali
  3. Husain bin Ali
  4. Ali bin Husain
  5. Muhammad bin Ali
  6. Ja’far bin Muhammad
  7. Musa bin Ja’far
  8. Ali bin Musa
  9. Muhammad bin Ali
  10. Ali bin Muhammad
  11. Hasan bin Ali
  12. Mahdi Ajf

Keritikan Ketidaksesuaian Imamah(kepemimpinan) dengan Khatamiah(kepenutupan)

Dari keritikan-keritikan yang masuk pada pembahasan ini adalah keritikan pada dasar imamah yaitu imamah dengan arti yang sudah dikatakan dan diyakini oleh para pengikut Syiah, tidak sesuai dengan khatamiyah (penutup kenabian); karena seseorang yang memiliki syarat keistimewaan-keistimewaan imamah menurut pandangan para pengikut Syiah adalah tidak ada perbedaannya dengan Nabi. [43] Ja’far Subhani menjawab keritikan tersebut. Dia berkata demikian:

Perbedaaan antara kenabian dan pemeliaraan ilmu-ilmu Nabi yang mulia sudah jelas, dan tidak perlu penjelasan. Karena sebagai penguat kenabian adalah bahwa nabi adalah audien wahyu yang mendengar kalam dan perkataan Allah Swt, melihat utusan-Nya dan memiliki Syariat yang mandiri atau orang yang memarakkan syariat sebelumnya. Adapun imam adalah gudang dan tempat pemeliaraan ilmu-ilmu Nabi yang mana setiap kali umat membutuhkannya akan mereka keluarkan, tanpa harus mereka menjadi audien wahyu atau mendengar kalam Allah Yang Maha Suci atau melihat malaikat pembawa wahyu. [44]

Selain itu sebagian lainnya meyakini bahwa imamah dengan arti yang telah dijelaskan adalah perbuatan dan tindakan orang-orang Ghulat dari para pengikut Syiah yang mana dalam literatur dasar permulaan Islam dan keyakinan-keyakinan para pengikut Syiah pada abad-abad pertama, tidak ada hal semacam itu.

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Mu'jam al-maqayis fi al-Lugah, hlm. 48; Al-Mishbah al-Munir, jld. 1 hlm. 31-32; lisan al-Arab, jld. 1, hlm.157; Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, hlm. 24; Aqrab al-Mawarid, jld.1, hlm.19; Al-mu'jam al-Washith, jld. 1, hlm. 27.
  2. Q.S. Surah Yasin, 12.
  3. Q.S. Surah Al-Hijr, 79.
  4. Q.S. Surah Hud, 17.
  5. Q.S. Surah Al-Baqarah,124; Q.S. Surah Al-Anbiya, 73; Q.S. Surah Al-Sajdah, 24.
  6. Q.S. Surah Al-Furqan, 74.
  7. Q.S. Surah Al-Qashash, 5.
  8. Q.S. Surah Al-Taubah, 12; Q.S. Surah Al-Qashash, 41.
  9. Q.S. Al-Isra', 71.
  10. Al-Ta'rifat, hlm. 28; Qawaid al-Maram fi Ilmi al-Kalam, hlm. 174; Irsyad al-Thalibin, hlm.325; Syarh al-Maqasid, jld.5, hlm. 234; Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 345.
  11. Al-Bab Al-Hadi Asyar,hlm. 66; Irsyad al-Thalibin, hlm. 325-326; Al-Lawami' al-Ilahiyah, hlm. 319-320; Syarh al-Mawaqif, jld. 8, hlm. 345; Abkar al-Afkar, jld. 3, hlm. 416; Syarh al-Maqasid, jld.5, hlm. 234.
  12. Gauhar Murad, hlm. 461-462; Sarmoyeh Iman, hlm. 107.
  13. Al-milal wa al-Nihal, jld.1, hlm. 22.
  14. Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm. 191.
  15. Ushul Kafi, jld.1, hlm. 155
  16. Q.S. Al-Baqarah, 124.
  17. Usul Kafi, jld.1, hlm. 133-134, 149-151, 154; Ghayat al-Maram, jld. 3, hlm. 127-129; Al-Burhan Fi Tafsir Al-Quran, jld.1, hlm. 149-151.
  18. Q.S. Al-Maidah, ayat 3
  19. Al-Ghadir, jld.1, hlm. 230-236; Ghayat al-Maram, jld. 3, hlm. 328-340.
  20. Q.S. Al-Maidah, ayat 67
  21. Al-Ghadir, jld.1, hlm. 214-223; Ghayat al-Maram, jld. 3, hlm. 320-327.
  22. Q.S. Surah Al-Isra' , 71.
  23. Majma' al-Bayan, jld. 3, hlm. 43.
  24. Nahjul Balaghah, Khutbah 252
  25. Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 16, hadis 5dan 8.
  26. Talkhish al-Muhassal, hlm. 407.
  27. Syarh al-Mawāqif, jld.8, hlm. 345.
  28. Qawāid al-Aqāid, hlm.110; Syarh al-Maqāshid, jld.5, hlm. 235; Talkhis al-Muhassal, hlm. 406; Kasfu al-Murād, hlm. 290; Syarh al-Mawāqif, jld.8, hlm. 345.
  29. Talkhis al-Muhassal, hlm. 407.
  30. Syarh al-Maqāshid, jld.5, hlm. 239.
  31. Syarh al-Maqāsid, jld.5, hlm. 239; Syarh al-Figh al-Akbar, hlm. 179; Al-Nabrās, hlm. 514; Talkhish al-Muhassal, hlm. 407.
  32. Syarh al-Mawāqif, jld.8, hlm. 346; Syarh al-'Aqāid al-Nafsiyah, hlm. 110; Nihāyah al-Aqdām, hlm.479; Ghāyat al-Marām, hlm. 364.
  33. Al-Mughni Fi Abwaābi al-Tauhid wa al-'Adl, Al-Imāmah, jld.1, hlm.47.
  34. Qawaid al-Maram, hlm. 175, Taqrib al-Ma'arif, hlm. 95; Al-Manfadz min al-Taqlid, jld. 2, hlm.240; Kasfu al-Murad, hlm. 290; Irsyad al-Thalibin, hlm. 327.
  35. Al-Mughni fi Abwābi al-Tauhid wa al-Adl, Al-Imāmah, jld.1, hlm.39-41.
  36. Syarh al-Ushul al-Khamsah, hlm. 509.
  37. Al-Alfain, hlm. 7-8.
  38. Misbah Yazdi, Āmozeshe Aqāid, hlm. 321-322.
  39. Thabathabai, al-Mizān fi Tafsir al-Qurān, jld.6, hlm. 12.
  40. Jawadi Amoli, Wilāyate Faqih, hlm. 124-125.
  41. Thabathabai, Syieh dar Islām, hlm. 31-32.
  42. ThabaThabai, Syieh dar Islām, hlm. 198-199
  43. lihat: Nasir bin Abdillah Ali al-Ghiffari, Ushul Mazhab al-Syiah al-Imāmiyah al-Itsnā Asyariyah, jld.2, hlm.655; Ceramah Dr. Surush, 3 Murdad 84, universitas Surabin-Paris: lembaga media Dr. Abdul Karim Surush.
  44. Subhani, Ilāhiyāt Ala Huda al-Kitāb wa al-Sunnah wa al-‘Aql, jld.4, hlm.39


Daftar Pustaka

  • Abu Hanifah, Syarh al-Fiqh al-Kabir, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, cetakan kedua, 1428 H.
  • Al-Mu’jam al-Wasith
  • Al-Nabrās
  • Al-Qurān Al-Karim, terjemahan Fuladvan
  • Amadi, Saifuddin, Abkār al-Afkār, Kairo, Dar al-Kutub, 1423 H.
  • Amadi, Saifuddin, Ghāyatu al-Marām fi Ilmi al-Kalām, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1413 H.
  • Amini, Abdul Husain, al-Ghadir, Qum, Markaz al-Ghadir, 1416 H.
  • Bahrani, Ibnu Maitsam, Qawāid al-Marām fi Ilmi al-Kalām, Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi, cetakan kedua, 1406 H.
  • Bahrani, Sayid Hasyim, Al-Burhan fi Tafsir al-Qurān, Qum, Nasyr Bi’sah, 1374 S.
  • Fadil Miqdad, al-Lawami’ al-Ilāhiyah, Daftar Tablighat Islami, cetakan kedua, Qum.
  • Fadil Miqdad, Irsyād al-Thālibin, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi, Qum, 1405 H.
  • Fayadh Lahiji, Gauhar Murād, Sayeh, Teheran, 1383 S.
  • Fayadh Lahiji, Sarmāyeh Imān Dar Ushul I’tiqādāt, editor: Shadiq Larijani, Nasyr al-Zahra, cetakan ketiga,Teheran, 1372 S.
  • Fayyumi, Ahmad bin Muhammad, al-Mishbāh al-Munir fi Gharib al-Syarh al-Kabir, Dar al-Hijrah, 1414 H.
  • Hakim Neisyaburi, al-Mustadrak Ala al-Shahihain.
  • Halabi, Abu Al-Shalah, Taqrib al-Ma’ārif, Qum, al-Hadi, 1404 H.
  • Hemeshi, Mahmud, al-Munqidz min al-Taqlid.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf, al-Alfin, Qum, Muassasah Islamiyah, 1423 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf, al-Bāb al-Hādi Asyar, Tehran, Muassasah Muthala’ah Islamiyah, 1423 H.
  • Hilli, Hasan bin Yusuf, Kasf al-Murād, Qum, Nasyr Islami, 1413 H.
  • Ibnu Abil Hadid, Abdul Hamid, Syarh Nahjul Balāghah, editor: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Ibnu Abi al-Hadid, Qum, Perpustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi.
  • Ibnu Faris, Ahmad, Mu’jam al-Maqāyis fi al-Lughah, editor: Abdus Salam Muhammad Harun, Qum, 1404 H.
  • Ibnu Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal.
  • Ibnu Manzur, Muhammad bin Mukrim, Lisān al-Arab, editor: Jamaluddin Mirdamadi, Beirut, Dar al-Fikr dan Dar Shadir, 1414 H.
  • Jawadi Amuli, Wilāyate Faqih.
  • Kulaini, Muhammad bin Yakub, Ushul al-Kāfi, editor: Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, dar al-Kutub al-Islamiyah, cetakan keempat, Teheran,1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, Dar Ihya al-Thurast al-Arabi, cetakan kedua, Beirut, 1403 H.
  • Masudi, Abul Hasan, Itsbāt al-Washiah lil-Imām Ali bin Abi Thalib, Anshariyan, cetakan ketiga, Qom, 1423 H.
  • Mir Sayid Syarif, al-Ta’rifāt, Nasir Khusru, cetakan keempat, Teheran,1412 H.
  • Mir Sayid Syarif, Syarh al-Mawāqif, Syarif Radhi, Efes Qum, 1325 H.
  • Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi, Amozesy Aqāid, Nasyre Bainal Milal, Teheran, 1377.
  • Muqaddimah Ibnu Khaldun,
  • Nahjul Balāghah, terjemahan Syahidi
  • Qhadi Abdul Jabbar, al-Mughni fi Abwāb al-Tauhid wa al-Adl, al-Imamah, Al-dar al-Misriyah, cetakan 1962-1965, Kairo.
  • Qhadi Abdul Jabbar, syarh al-Ushul al-Khamsah, Dar Ihya al-Thurast al-Arabi, Beirut, 1422 H.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad, al-Murfadāt fi Gharib al-Qurān, editor: Dar al-Qalam, Beirut, 1412 H.
  • Subhani, Ja’far, al-Milal wa al-Nihal.
  • Subhani, Ja’far, Ilāhiyāt ala Huda al-Kitāb wa al-Sunnah wa al-Aqliyah, tulisan: Syaikh Hasan Amili, Qom, Muassasah Imam Shadiq, cetakan keempat, 1417 H.
  • Syahristani, Nihāyah al-Aqdām, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1425 H.
  • Syarif Murtadha, al-Dzahirah fi ilm al-Kalām, Qum, Nasyr Islami, 1411 H.
  • Syertuni, Said, Akrab al-Mawārid, Qum, peroustakaan Ayatullah Mar’asyi Najafi, 1361 S.
  • Taftazani, Sa’aduddin, Syarh al-Aqāid Al-Nafsiyah, Kairo, Perpustakaan al-Kulliyat al-Azhariyah, 1407 H.
  • Taftazani, Sa’aduddin, Syarh al-Maqāsid, Afset Qum, Sayrif Radhi, 1409 H.
  • Thabarsi, Fadhl bin Hasan, majma al-Bayān.
  • Thabathabai, Muhammad Husain, al-Mizān fi Tafsir al-Qurān, Qum.
  • Thusi, Nasiruddin, Qawāid al-Aqāid, Dar al-Gharbah, Lebanon, 1413 H.
  • Thusi, Nasiruddin, Talkhis al-Muhassal, Dar al-Adwa, Beirut, cetakan kedua, 1405 H.

ِِّّّّ