Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa infobox
tanpa navbox
tanpa referensi

Nabi Nuh as

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Nabi Nuh as (bahasa Arab: نوح) adalah nabi pertama dari para nabi ulul azmi. Ia adalah nabi pertama yang pada zamannya turun azab. Nabi Nuh as mengajak kaumnya selama kira-kira 950 tahun untuk menyembah kepada Tuhan Yang Esa namun karena kaumnya tidak beriman, Allah swt mengazab mereka dengan mengirimkan banjir Nabi Nuh as.

Nabi Nuh as dengan petunjuk Allah swt membuat kapal menyelamatkan kaum mukminin dan juga setiap sepasang hewan. Alquran menyebut Nabi Nuh as sebagai Nabi yang memiliki syariat dan kitab. Dalam banyak ayat-ayat Alquran banyak kisah-kisah Nabi Nuh as dituliskan. Salah satu surah Alquran menggunakan namanya. Ia terkenal dengan sebutan syaikhul anbiya karena umurnya yang panjang. Sebagian ulama untuk membuktikan panjangnya Imam Zaman afs berargumen dengan menggunakan usia Nabi Nuh as.

Pengenalan

Berdasarkan riwayat-riwayat Islam, Nabi Nuh as adalah anak ke-9 dari keturunan Nabi Adam as. Ia berasal dari keturunan Lamekh anak Metusalah, anak Nabi Idris as, anak Yard, anak Mahlapil, anak Qainan, anak Unusy bin Syits, anak Nabi Adam as. [1] Terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya. [2] Menurut keyakinan sebagian sejarawan, ia lahir dan hidup di antara kota Nahrawain dan kota Kufah. [3] Nama asli Nabi Nuh as tidaklah jelas. Dalam sumber-sumber referensi, namanya Abdul Ghafar, Abdul Malik, Abdul Ali. [4] Dalam riwayat disebutkan bahwa tangisan Nabi Nuh untuk dirinya dan dalam riwayat lain tangisannya untuk menyelamatkan dan memberi hidayah kepada kaumnya menjadi sebab atas penamaanya dengan nama Nuh. [5]

Anak-anak

Alquran dan sangat banyak riwayat mengisyaratkan tentang anak-anak Nabi Nuh as sebelum datangnya banjir Nabi Nuh as padahal sebagian anak Nabi Nuh as lahir setelah peristiwa banjir Nabi Nuh asterjadi. [6] Nabi Nuh as memiliki empat putra, nama-namanya adalah Sem, Ham, Yafet dan Kan'an. Semua anak-anak Nabi Nuh as beriman dan ikut Nabi Nuh as di perahu. Dan hanya Kan’an yang tidak ikut serta dalam perahu Nabi Nuh as. [7] Berdasarkan sumber-sumber riwayat, keturunan Nabi Nuh as berasal dari keturunan Sem. [8]

Tanggal Wafat dan Tempat dikebumikan

Dalam sejarah tidak dijelaskan kapan Nabi Nuh as wafat. Lama kehidupannya adalah 70 hingga 600 tahun setelah peristiwa banjir Nabi Nuh as. [9] Mengenai tempat dikuburkannya Nabi Nuh as, terdapat beberapa nukilan:

  • Qaryah Tsamanin dekat Gunung Jaudi di Mosul
  • Nakhjawan
  • Gunung Budha di India
  • Mekah diantara rukun dan zam-zam
  • Karak Ba'albak Libanon: Di kuburan yang dinisbatkan kepada Nabi Nuh as dan anak-anaknya
  • Magharah Quds, di sebelah kuburan Nabi Adam as, Sam, Nabi Ibrahim as, Ishak dan Ya'qub as
  • Najaf Asyraf disamping Nabi Adam as dan Imam Ali as [10]
  • Nahawand di Propinsi Hamedan: Berdasarkan penelitian dengan judul "Nuh dan Nahawand" Kuburan dan tempat berlabuhnya perahu Nabi Nuh as adalah Nahawand”. [11]

Diangkat Sebagai Nabi

Nabi Nuh adalah nabi ke empat setelah Nabi Adam as, Nabi Syits as dan Nabi Idris as. [12] Berdasarkan ayat ke -7 surah Al-Ahzab dan ayat ke-13 surah Al-Syura, ia adalah Nabi Ulul Azmi pertama. Sangat banyak para mufasir yang meyakini bahwa dalam dua ayat ini, lima nabi yang disebut itu memiliki kedudukan yang sangat terhormat karena mereka adalah para nabi ulul azmi, pemilik syariat dan kitab. [13]

Mengenai zaman diangkatnya Nabi Nuh as terjadi perbedaan diantara sejarawan. [14] Berdasarkan ayat-ayat Alquran, selama menjadi Nabi, ia mengajak kaumnya untuk menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa semenjak belum adanya peristiwa banjir Nabi Nuh as. [15] Berdasarkan ayat ke-23 surah Nuh, kaum nabi Nuh as menyembah berhala-berhala dengan nama: Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr. [16] Nabi Nuh as telah berupaya untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran agamanya kepada masyarakat, namun pada akhirnya hanya sedikit yang mengikuti ajaran Nabi Nuh as. [17]

Menurut sebagian besar ulama Syiah dan berdasarkan riwayat-riwayat ahlul bait as, dakwah dan kenabian Nabi Nuh bersifat global dan mendunia. [18] Meskipun demikian ulama Ahlusunah percaya bahwa dakwah Nabi Nuh tidak bersifat mendunia dan hanya berdakwah kepada kaumnya, yaitu Kaum Kaldah dan Asyur yang tinggal di Palestina, Syamat dan Irak. [19]

Allamah Thabathabai dalam menafsirkan ayat 19-35 surah Hud menilai bahwa kenabian Nabi Nuh as sangat mirip dengan kenabian Nabi Muhammad saw. Hal ini bisa dilihat dari sisi seperti peringatan dari syirik dan menyembah berhala, dalil-dalil kaum musyrikin untuk menolak dakwah mereka seperti penilaian bahwa mereka adalah seorang manusia, menuduh pendusta kepada mereka, tidak menerima imbalan dalam memberi hidayah kepada manusia dan argumen-argumen mereka yang diberikan kepada kaumnya masing-masing. Allamah Thabathabai berkeyakinan bahwa peringatan-peringatan Nabi Nuh as dan Nabi Muhammad saw ini adalah sama, Allah meng-athaf-kan kisah-kisah Nabi Muhammad saw dengan kisah-kisah Nabi Nuh as dan tuduhan-tuduhan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad saw di-atfhaf-kan ke kisah Nabi Nuh as. [20] Kemiripan ini juga diakui oleh para mufasir dan peneliti lain. [21]

Umur yang Panjang

Alquran dalam ayat 14 surah Al-Ankabut menginformasikan bahwa lama kehidupan Nabi Nuh sebelum kejadian banjir Nabi Nuh as adalah 950 tahun dan tidak disebutkan berapa lama umur beliau. Terdapat perbedaan mengenai umur beliau. [22] Dalam kitab Taurat disebutkan bahwa lama kehidupan Nabi Nuh as sebagai syaikh al-Anbiya adalah antara 930 tahun hingga 2500 tahun. Mengenai kejadian-kejadian dalam kehidupan Nabi Nuh as seperti masa diangkatnya menjadi Nabi, masa kehidupan setelah peristiwa banjir Nabi Nuh as, demikian juga mengenai masa umurnya, terjadi perbedaan pendapat. [23]

Nikmatullah Jazairi percaya bahwa berdasarkan sebagian riwayat-riwayat Syiah umur Nabi Nuh as aalah 2500 tahun. [24] Allamah Thabathabai juga mengatakan bahwa Nabi Nuh memiliki umur yang sangat panjang, hal ini didasarkan kepada ayat-ayat Alquran yang mengabarkan bahwa masa kenabian Nabi Nuh as sebelum peristiwa banjir Nabi Nuh as adalah selama 950 tahun. Allamah Thabathabai, tidak seperti yang lainnya mengatakan bahwa umur panjang Nabi Nuh as bukanlah merupakan sebuah mukjizat, bukan pula karena perbedaan masa itu dengan masa sekarang. Allamah melanjutkan bahwa umur Nabi Nuh as berlangsung secara natural dan hingga sekarang tidak ada dalil yang menyatakan tentang ketidakmungkinan umur yang panjang bagi Nabi Nuh as. [25]

Kaum mukminin, musnahnya semua kaum musyrikin dan universalnya dahwah nabi Nuh adalah salah sisi-sisi kesamaan yang dijelaskan dalam sebagian riwayat antara Imam Zaman as dan Nabi Nuh as. [26] Sebagian untuk menilai bahwa umur Imam Zaman afs adalah umur yang normal, menjelaskan panjangnya umur Nabi Nuh as sebagai bahan perbandingan. [27]

Nabi Nuh as dalam Alquran

Nabi Nuh as adalah diantara 26 nabi yang namanya terdapat dalam Alquran. [28] Namanya adalah nama salah satu surah-surah Alquran. Disamping itu, nama Nuh disebutkan sebanyak 43 kali dalam 28 surah Alquran. Kisah mengenai Nabi Nuh as dalam Alquran hanya cerita secara global saja tentang sedangkan tentang kedetailainnya tidak dijelaskan. Kisah Nabi Nuh as pada sebagian surah dijelaskan secara global dan pada surah yang lainnya dijelaskan secara mendetail. Kisah Nabi Nuh as yang diceritakan secara mendetail ada dalam surah-surah: Surah al-A’raf ayat 59-69, Surah Hud ayat 25-49, surah mukminun ayat 23 -30, surah Syu’ara ayat 105-122, surah al-Qamar ayat 9-17 dan surah Nuh. Kandungan-kandungan kisah Nabi Nuh as dalam Alquran dijelaskan sebagai berikut:

  • Kemelencengan manusia secara bertahab dari fitrah dan ditemukannya perbedaan kasta setelah Nabi Adam as dan risalah Nabi Nuh as
  • Agama dan syariah Nabi Nuh as dan kedudukan Nabi Nuh as diantara nabi-nabi yang lain
  • Sabar atas kesulitan dalam berdakwah
  • Lama kehidupan Nabi Nuh as diantara kaumnya
  • Pembuatan perahu oleh Nabi Nuh as
  • Turunnya azab dan datangnya banjir Nabi Nuh as
  • Selesainya cerita dan turunnya nabi Nuh as dan para pengikutnya di bumi
  • Kisah tenggelamnya anak laki-laki Nabi Nuh as
  • Keutamaan-keutamaan Nabi Nuh as (Nabi Ulul Azmi yang pertama, ayah ke dua generasi manusia pada zaman sekarang dan lainnya) [29]

Keunggulan Akhlak

Dalam riwayat Syiah, disebutkan keunggulan akhlak Nabi Nuh as. Diantaranya ia adalah hamba Allah swt yang gemar bersyukur. Setiap kali ia mengenakan baju, minum dan makan ia selalu bersyukur kepada Allah swt. Imam Baqir as dan Imam Shadiq as menukilkan bahwa Nabi Nuh as setiap pagi dan malan berkata: Tuhanku, Engkau menyaksikan bahwa dalam setiap pagi dan sore aku bersyukur atas segala nikmat yang ada pada agama atau duniaku, semuanya berasal dari-Mu, Engkau adalah satu-satunya sesembahan dan tidak ada sekutu bagi-Mu, segala puja dan puji syukur hanya kepada-Mu, semoga Engkau meridhaiku. [30]

Dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa meskipun umur Nabi Nuh as panjang dan ia disebut dengan Syaikh al-Anbiya namun ketika malaikat maut menghampirinya dan ia sedang berada di bawah sinar matahari, ia kemudian minta izin untuk pergi ke tempat yang teduh. Malaikat Izrail bertanya kepadanya: Bagaimana melihat dunia? Nabi Nuh as menjawab: Yang terjadi padaku di dunia adalah seperti aku pergi ke tempat yang teduh setelah dari bawah sinar matahari. [31]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Katsir, Qishāsh al-Anbiyā, 1411 H, hlm. 83; Al-Najar, Qishāsh al-Anbiyā, 1406 H, hlm. 30; Qutth Rawandi, Qishāsh al-Anbiyā, 1430 H, jld. 1, hlm. 250-251.
  2. Jazairi, al-Nur al-Mubin fi Qishāsh al-Anbiyā wa al-Mursalin (Qishāsh Quran) , 1381, hlm. 117; Ibnu Katsir, Qishāsh al-Anbiyā, 1411 H, hlm. 83; Thabari, Tarikh al-Thabari, 1375 S, hlm. 178; Nidai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 39.
  3. Biazar Syirazi, Bāstān Syenāsi wa Jughrāfiyāi Tārikhi Qishāsh Quran, 1380 S, hlm. 32.
  4. Quthb Rawandi, Qishāsh al-Anbiyā as, 1430 H, jld. 1, hlm. 286-287.
  5. Syaikh Shaduq, Ilal al-Syarāyi’, 1385 H, jld. 1, hlm. 28; Quthb Rawandi, Qishāsh al-Anbiyā as, 1430 H, jld. 1, hlm. 286-287.
  6. Katib Waqidi, al-Thabaqāt al-Kubrā, 1374 S, jld. 1, hlm. 25; Mustaufa Qazwini, Tārikh Guzideh, 1346 S, hlm. 26; Nidai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 44.
  7. Katib Waqidi, al-Thabaqāt al-Kubrā, 1374 S, jld. 1, hlm. 25; Mustaufa Qazwini, Tarikh Guzideh, 1364 S, hlm. 26; Nidai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 44.
  8. Nidai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 51, Qazwini, Mausu’ah al-Imām al-Shādiq, 1417 H, jld. 5, hlm. 128.
  9. Mustaufa Qazwini, Tārikh Guzideh, 1364 S, hlm. 24.
  10. Bizari Syirazi, Bāstan Syenāsi wa Jughrafiyāi Tārikhi Qishāsh Quran, 1380 S, hlm. 46; Silahkan lihat: Nashrullah, Tarikh Kirk Nuh, 1406 H, Silahkan lihat: Ibnu Katsir, Qishāsh al-Anbiyā, hlm. 93.
  11. Afra Asyab Pur, Nuh wa Nakhawand? , dalam majalah Farhanggiyan, no. 5, hlm. 118-142.
  12. Biyumi Mehran, Barrasi Tārikhi Qishāsh Quran, 1389 S, jld. 4, hlm. 3; al-Najar, Qishāsh al-Anbiyā, 1406 S, hlm. 30.
  13. Mataridi, Ta'wilat Ahlu Sunah, 1426 H, hlm. 359; Tha'labi, al-Kasyf wa al-Bayān al-Ma’ruf Tafsir al-Tsa'labi, 1422 H, jld. 8, hlm. 10; Thabathabai, al-Mizan, 1390 H, jld. 16, hlm. 278; al-Furqan fi Tafsir Alquran bi Alquran wa al-Sunah, jld. 24, hlm. 24; Shadiqi, al-Furqān fi Tafsir Alquran bi Alquran wa al-Sunah, 1406 H, jld. 24, hlm. 46.
  14. Silahkan lihat: Tabel bagian umur.
  15. Surah Nuh: 5-10.
  16. Surah Nuh: 23
  17. Surah Nuh: 5-15
  18. .Thabathabai, al-Mizān, 1390 H, 10, hlm. 102, dan 260.
  19. Nidai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 48; Thabathabai, al-Mizān, 1390 H, 10, hlm. 260-262.
  20. Thabathabai, al-Mizān, 1390 H, jld. 10, hlm. 210-219.
  21. Biyumi Mehran, Barrasi Tārikhi Qishāsh Quran, 1389 S, jld. 4, hlm. 9-16.
  22. Ibnu Katsir, Qishāsh al-Anbiyā, hlm. 65.
  23. Qutb Rawandi, Qishāsh al-Anbiyā, 1430 H, jld. 1, hlm. 257-269; Jazairi, al-Nur al-Mubin fi Qishāsh al-Anbiyā wa al-Mursalin (Qishāsh Quran) , 1381, hlm. 111; Thabari, Tārikh Thabari, 1375 S, jld. 1, hlm. 117; Katib Waqidi, al-Thabaqāt al-Kubra, 1374 S, jld. 1, hlm. 25; Mustaufi Qazwini, Tārikh Guzideh, 1364 S, hlm. 24; Ibnu Katsir, Qishāsh al-Anbiyā, hlm. 92; Muqadaqi, Oferinisy wa Tarikh, 1374 S, jld. 1, hlm. 423.
  24. Jazairi, al-Nur al-Mubin fi Qishāsh al-Anbiyā wa al-Mursalin (Qishāsh Quran) , 1381 S, hlm. 113.
  25. Thabathabai, al-Mizān, 1390, jld. 10, hlm. 271.
  26. ‘Alai Nejad, Syabahat hai Imām Zamān afs ba Aimah Ma'shumin wa Anbiyā as, 1395 S, hlm. 62-64.
  27. Silahkan lihat: Qazwini, Imām Mahdi az Wilādat ta Dhuhur, 1387 S, hlm. 124; Radhawi, Imam Mahdi afs, hlm. 33; Ridhwani, Wujud Imam Mahdi az Mandhar Quran wa Hadis, 1386 S, hlm. 79; Nadhari Munfarid, Imām Mahdi afs az Tawalud ta Raj’at, 1389 S, Amini Gulistani, Simāi Jahān dar Asr Imām Zamān afs, 1385 S, hlm. 218.
  28. Thabathabi, al-Mizān, 1390 H, jld.2 , hlm. 141.
  29. Thabathabai, al-Mizān, 1390 S, jld. 10, hlm. 271-296.
  30. Jazairi, Al-Nur al-Mubin fi Qishāsh al-Anbiyā wa al-Mursalin, (Qishāsh al-Quran, 1391, hlm. 117.
  31. Nedai, Tārikh Anbiyā az Adam ta Khātam, 1389 S, hlm. 50; Quthb Rawandi, Qishāsh al-Anbiyā as, 1430 H, jld. 1, hlm. 257-262; Al-Nur al-Mubin fi Qishāsh al-Anbiyā wa al-Mursalin (Qishāsh Quran) , 1381, hlm. 111.