Madinah Al-Munawwarah

Dari Wiki Shia
(Dialihkan dari Madinah)
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c tanpa infobox tanpa alih
Pemandangan dari salah satu sudut Masjid Nabawi di Madinah

Madinah al-Munawarah (Bahasa Arab:المدينة المنورة) atau Madinah al-Rasul (مَدینَةُ الرسول atau Madinah (المدينة ) berarti kota Nabi, kota religi kedua terpenting kaum muslimin yang terletak di Arab Saudi. Hijrah Nabi Muhammad Saw ke kota ini, menjadi permulaan penanggalan kaum Muslimin. Masjid, pusara Nabi Saw, pekuburan Baqi dan pusara empat Imam Syiah serta banyak para tokoh dan pembesar Islam dan juga tempat-tempat suci lainnya ada di kota ini. Dengan hijrahnya Nabi Saw ke kota ini menyebabkan perubahan nama kota ini yang tadinya bernama Yatsrib berubah menjadi Madinah dan hingga tahun 36 Hijriah menjadi ibu kota pertama pemerintahan Islam. Peperangan kaum Muslimin dengan Kaum Musyrikin, Perang Nabi dengan kaum Yahudi Madinah, pemberontakan terhadap Khalifah ketiga kaum Muslimin dan hingga ia terbunuh, peristiwa Harrah, bangkitnya Nafsu Zakiyah dan bangkitnya Syahid Fahk termasuk dari peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kota ini.

Mengadakan perjalanan ke Madinah dan menziarahi tempat-tempat bersejarah lainnya serta mendirikan salat di Masjid Nabawi merupakan hal-hal yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kaum muslimin yang berangkat menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Letak Geografi Madinah

Kota Madinah yang sebelumnya benama Yatsrib, termasuk dari kota-kota terpenting negara Arab Saudi[1] dan terletak pada 450 Km² timur laut Mekah di wilayah daerah Hijaz.

Kota ini terletak di barat laut Semenanjung Arab di dataran mulus. Bujur geografinya, sepanjang 39° dan 59 menit Timur dan lintang geografinya selebar 24° dan 57 menit utara.[2] Kota ini berada pada ketinggian 597-639 meter di atas permukaan laut. [3] [4]]

Kota Madinah terletak di antara dua dataran Harrah—.Harrah biasanya mengacu pada bebatuan hitam yang melapisi topografi permukaan kasar yang berbukit dan bukan berbentuk pegunungan—dimana di sebelah Timur bernama "Harrah wa Aqim" dan di seblah Barat bernama "Harrah wa Barrah".[5] Gunung yang paling menjulang di kota Madinah adalah gunung Uhud.

Cuaca dan Udara

Suhu kota Madinah hangat dan beriklim gurun, tetapi dibandingkan dengan kota Mekah dan suhunya lebih rendah. Suhu udara di kota ini ketika datang musim panas akan naik melebihi dari 45° derajat Celcius. Air minum dan pertanian di kota ini kebanyakan bergantung pada curah hujan dan air sumur. [Perlu rujukan]

Dulu, sumber mata air di kota Madinah temasuk dangkal, sehingga dengan menggali sumur air mudah diperoleh dan air sumur ini digunakan untuk air minum dan bercocok tanam.[6]

Penduduk Madinah Pra Islam

Sebelum munculnya Islam, dua etnis Arab dan Yahudi hidup di kota Yatsrib. Etnis Yahudi terdiri dari Bani Qainuqa', Bani Nadhir dan Bani Quraizhah yang pernah tinggal di bagian selatan dan tenggara.[7] Etnis Arab terdiri dari dua suku, Khazraj dan Aus. Dahulu suku Khazraj tiga kali lebih banyak dari suku Aus dan hidup di wilayah pusat kota Madinah.

Etnis Arab kota Madinah lebih banyak dari etnis Yahudi. Di antara suku Khazraj dan Aus terjadi banyak pertikaian, dimana pertikaian ini menyebar sampai di kalangan etnis Yahudi.

Panorama Kota Madinah

Ekonomi Madinah

Madinah secara ekonomi berbeda dengan Mekah. Sekalipun di Madinah juga terdapat perdagangan, tetapi tidak seperti perdagangan di Mekah yang mempunyai rombongan dagang musim dingin dan panas. Ekonomi kota Madinah berasal dari cocok tanam, bertani dan kebun kurma yang terletak di pinggiran kota, seperti di Quba dan dekat gunung Uhud.[8] Penghasilan utama Madinah adalah kurma dan anggur. Pohon kurma merupakan sumber utama kehidupan ekonomi, dimana buahnya dijadikan makanan dan kayunya digunakan sebagai bahan bangunan.[9] Namun, kebanyakan penduduk Madinah tidak memiliki kondisi keuangan yang cukup.[10]

Nama Kota Madinah di Dalam Al-Quran dan Hadis.

Nama lama dan baru kota Mdinah dipakai dalam Al-Quran:

  • Madinah; di dalam surah Al-Munafiqun ayat 8 disebutkan, "Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya…."

Surah Al-Taubah ayat 101 disebutkan, "Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ..."

  • Yatsrib; nama lama sebelum hijrah Nabi Saw. Dalam surah Al-Ahzab ayat 13, dikatakan, "Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mreka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, Maka Kembalilah kamu …".

Zujaji mengatakan bahwa Yatsrib merupakan nama pendiri kota. Namanya adalah Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Arm bin Ubail bin 'Aush bin Arm bin Sam bin Nuh As. Karena keturunan Nabi Nuh as yang bernama Yatsrib dengan keluarganya tinggal di daerah ini, maka tempat tersebut kemudian dinamakan Yatsrib.


  • Dar; dalam surah Al-Hasyr ayat 9 disebutkan, "Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman …"

Sementara Rasulullah Saw menamai kota ini dengan "Thayyibah" dan "Thabah."

Hijrah Nabi Saw ke Kota Madinah

Rasulullah saw pergi ke kota Yatsrib 13 tahun setelah kenabian pada permulaan bulan Rabiul Awal. Hijrah ini terjadi setelah perjanjian 'Aqabah Pertama dan Kedua dengan penduduk Yatsrib. Setelah tinggal beberapa hari di Quba, Nabi Saw kemudian berangkat ke Madinah. Nabi Saw menghabiskan sisa hidupnya di Madinah selama sepuluh tahun dan kota ini menjadi pusat penyebaran Islam.[11]

Perkara yang Dilakukan Rasulullah saw di Madinah

Membangun Masjid

Langkah pertama Nabi Saw di Madinah adalah membangun masjid, dimana masjid bukan hanya pusat ibadah tapi juga merupakan tempat kebudayaan, politik dan pemerintahan. Sejak dulu masjid menjadi salah satu pusat pertahanan Islam.[12]

Membuat Surat Perjanjian

Langkah kedua Nabi Saw adalah membuat sebuah perjanjian umum untuk semua kaum muslim Madinah. Diantara isi perjanjian yang semua muslimin berjanji dan berbaiat untuk melaksanaknnya adalah bahwa penghukuman hanya milik Allah dan Rasul-Nya dan mereka menerima hukum pidana Islam sebagai undang-undang.[13]

Mempersaudarakan Kaum Muslimin

Langkah ketiga yang dilakukan Nabi Saw adalah mempersaudarakan kaum muslimin. Beliau mempersaudarakan setiap dua orang muslim, sehingga mempunyai hubungan yang lebih erat.[14]

Madinah Pusat Pemerintahan Islam

Pada beberapa masa, Madinah menjadi pusat pemerintah Islam, yaitu sejak zaman Nabi Saw sampai akhir pemerintahan Imam Hasan as tahun 41 Hijriah (kecuali 3 tahun pemerintahan Imam Ali as). Pada masa pemerintahan Nafs Zakiyah (tahun 145 H), Madinah juga menjadi pusat pemerintah Islam.

Madinah Tempat Lahir dan Pusara Para Maksum As

Madinah merupakan tempat lahir beberapa Imam Syi'ah: Imam Hasan as,[15] Imam Husain as,[16] Imam Sajjad as,[17] Imam Baqir as,[18] Imam Shadiq as, Imam Kazim as,[19] Imam Ridha as,[20] Imam Jawad As,[21] Imam Hadi as[22] dan Imam Hasan Askari As.[23]

Beberapa kuburan Imam Syi'ah juga terletak di kota ini, yaitu Imam Hasan as,[24] Imam Sajjad as,[25] Imam Baqir as[26] dan Imam Ja'far as.[27]

Masjid Penuh Berkah

Masid Nabawi

Langkah awal Nabi saw di kota Madinah ialah membangun masjid yang paling mulia setelah Masjidil Haram. Berkenaan dengan shalat di masjid ini, Rasulullah Saw bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا تَعْدِلُ عِنْدَاللَّهِ عَشَرَةَ آلافِ صَلَاةٍ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْمَسَاجِدِ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَإِنَّ الصَّلَاةَ فِيهِ تَعْدِلُ مِائَةَ أَلْفِ صَلَاةٍ

Artinya: "Shalat di masjidku di sisi Allah sebanding dengan sepuluh ribu shalat di masjid yang lain kecuali Masjidil Haram, dimana shalat di dalamnya sebanding dengan seratus ribu shalat."[28]

Masjid Quba

Daerah Quba terletak 6 km bagian selatan Masjid Nabi dan termasuk daerah yang bercuaca baik. Berdasarkan banyak riwayat, Masjid Quba merupakan wujud dari surah Al-Taubah ayat 108 yang berbunyi, "… Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan shalat di dalamnya …"

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah Saw.[29]

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّر فی بَیتِهِ ثُمَّ أَتی مَسْجِدَ قُبا فَصَلی فیه رَکْعتْین کانَ کَأَجْرِ عُمْرَة

Artinya: "Barang siapa yang mensucikan dirinya di rumah kemudian datang ke masjid Quba dan shalat 2 rakaat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah."[30]

Masjid Syajarah

Masjid ini sekarang terkenal dengan nama Syajarah, Dzul Hulaifah dan Abyare Ali (Irigasi Ali). Masjid Syajarah adalah salah satu masjid yang penting di luar kota Madinah dan berperan penting sebagai salah satu tempat miqat dan ihram.

Masjid Jum'ah

Dalam perjalanan dari Quba ke Yatsrib, Nabi Saw dengan rombongan Bani Salim untuk pertama kalinya menunaikan salat Jumat. Oleh karena itu, tempat shalat Rasulullah dikenal sebagai Masjid al-Jum'ah.

Masjid al-'Umrah

Terdapat sebuah masjid dengan nama Masjid al-'Arafat atau Masjid al-'Umrah di arah kiblat Masjid Quba. Disebut demikian karena pada suatu hari di hari Arafah, Rasululah berdiri di tempat ini dan tanahnya begitu datar, sehingga Nabi Saw bisa melihat semua orang yang berdiri di Arafah.[31]

Masjid 'Utban bin Malik

Masjid 'Utban bin Malik salah satu masjid di daerah Quba. 'Utban adalah seorang pemimpin kaum Anshar. Ia meminta kepada Nabi Saw untuk datang ke rumahnya supaya bisa membuat tempat shalat untuk Nabi. Keinginannya ini karena kadang-kadang banjir menjadi penghalang baginya dan masjid di daerahnya. Rasulullah pergi ke rumahnya dan shalat di suatu tempat di rumahnya dan tempat itu kemudian di kenal sebagai masjid.[32]

Masjid Ali As

Masjid ini terletak di selatan Masjid Fath dan lebih tinggi dari lembah Buthhan. Disebut Masjid Ali karena pada saat pengepungan kota Madinah dalam perang Ahzab, Amirul Mukminin Ali as beribadah di sana.[33]

Masjid Syajarah

Masjid Fadhikh

Pada perang Bani Nadhir, Rasulullah Saw mempunyai sebuah tenda di tempat ini dan karena berkah kehadiran Nabi di tempat itu maka dibangunlah sebuah masjid. Nama masjid ini karena di tempat tersebut terdapat sebuah pohon Fadhikh, nama pohon kurma—Fadhikh semacam minuman keras yang diambil dari pohon kurma. Tempat ini dikenal juga sebagai Masjid Radd al-Syams. Dalam beberapa riwayat, para Imam as mengingatkan supaya menziarahi masjid tersebut.[34]

Masjid Tujuh

Sebelah barat laut kota Madinah dan di kaki gunung Sal' terdapat tujuh masjid yang berdekatan dan di sebut Masjid Tujuh, yaitu: Masjid Ali, Masjid Salman, Masjid Fathimah, Masjid Abu Dzar, Masjid Dzu Qiblatain, Masjid Abu Bakr, Masjid Umar.[35]

Di Madinah juga terdapat masji-masjid yang lain, yaitu:

  • Masjid Fath
  • Masjid Ghumamah
  • Masjid al-Ijabah (Mubahalah)
  • Masjid Ma'ras
  • Masjid Tsaniyatul Wida'
  • Masjid Saqiya
  • Masjid dan Masyrubah Ummu Ibrahim[36]

Tempat Penting

Pemakaman Baqi'

Pemakaman Baqi adalah pemakaman terkenal dan terlama di Islam. Pemakaman ini berada di bagian timur Madinah. Kuburan empat imam maksum: Imam Hasan Mujtaba As, Imam Ali bin Husain As, Imam Muhammad Baqir As, Imam Ja'far As dan Fatimah binti Asad. Menurut sebuah pendapat, kuburan Fathimah Zahra pun terdapat di pemakaman ini. Begitu juga kuburan Abbas paman Nabi, Ummul Banin, Ibrahim putra Nabi, Ruqayyah dan Ummu Kultsum putri Rasulullah, istri-istri Nabi—Shafiyyah dan 'Atikah—dan banyak dari kuburan para penghulu, sahabat, tabi'in, orang sholeh, zahid, 'abid dan para syuhada berada di pemakaman ini.

Nabi Saw sangat menghormati orang-orang yang di kubur di Baqi'. Nabi bersabda, "Aku diperintahkan untuk meminta ampunan bagi orang yang di kubur di Baqi'." Setiap kali melewati pemakaman Baqi', Nabi Saw berkata: [37]السَّلامُ عَلَيْكُمْ مِنْ دِيَارِ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُونَ

Gunung Uhud

Gunung Uhud terletak di timur laut kota dan 5 km dari Masjid Nabawi.[38] Karena gunung ini sendiri dan terpisah dari gunung-gunung sekitar Madinah, maka ia dinamakan Uhud.[39] Gunung yang panjangnya 7 km—dari timur ke barat—ini merupakan gunung terpanjang di jazirah Arab dan berukuran besar dengan diameter antara satu sampai tiga km.[40]

Pegunungan Uhud pada awal Islam menjadi saksi perlawanan kebenaran dan kebatilan. Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu, tanggal 7 Syawal tahun 3 Hijriyah. Para syuhada Uhud dikuburkan di gunung ini.[41]

Komplek Pegunungan Uhud'

Rumah Fathimah Zahra Sa

Rumah Sayidah Fathimah dan Imam Ali As terletak di samping Masjid Nabi. Rumah ini mempunyai dua pintu, pintu pertama terbuka ke masjid yang digunkana sebagai pintu masuk masjid ketika waktu shalat, dan pintu lainnya digunakan untuk keluar masuk kegiatan sehari-hari. Rumah ini menjadi pengecualian pada peristiwa penutupan pintu-pintu rumah yang mengarah ke Masjid Nabi (peristiwa Sadd al-Abwab).

Riwayat-riwayat Syi'ah dan Sunni menyebut rumah ini sebagai Bait Fathimah atau Hujrah Fathimah.[42] Di kemudian hari, ketika perluasan Masjid Nabi, rumah ini dirusak dan kini terletak di sekitar makam Nabi Saw.

Rumah Kultsum bin Hadm dan Sa'ad bin Khaitsimah

Di daerah Quba banyak tempat yang sudah sirna, seperti rumah Kultsum bin Hadm dan Sa'ad bin Khaitsimah. Rumah tersebut adalah tempat singgahnya Nabi setelah hijrah dan tempat tinggal bagi kebanyakan muhajirin pertama.[43]

Sumur Urais

Urais dalam bahasa penduduk Syam bermakna Fallah (keberuntungan). Sumur ini dinamakan sumur Urais, sumur Khatam dan sumur Nabi. Sumur ini sering disebut dalam sumber-sumber sejarah dan hadis karena peristiwa jatuhnya cincin Nabi di sumur tersebut oleh Usman pada zamannya.[44]

Kuburan Muhammad Nafs Zakiyah

Kuburan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Imam Hasan As terletak di bagian barat laut kota dekat gunung Sal'.[45]

Peristiwa Penting Dalam Sejarah Madinah

Perang Bani Qainuqa'

Setelah perang Badar, suku Yahudi ini memutus perjanjian dengan Nabi. Nabi Saw menasehati mereka supaya mengambil pelajaran dari kejadian Bani Quraisy, tetapi mereka tidak mempedulikannya. Pada suatu hari seorang lelaki Yahudi menghina seorang muslimah, sehingga seorang muslim yang melihat kejadian itu marah kemudian membunuh lelaki Yahudi tersebut. Orang-orang Yahudi Bani Qainuqa' membunuh orang muslim tersebut dan mengumumkan perang, kemudian berlindung di benteng mereka dan bersiap untuk perang. Nabi mengepungnya dan setelah beberapa waktu mereka diusir dari Madinah dengan diperbolehkan membawa bekal.[46]

Perang Bani Nadhir

Pada suatu hari Nabi pergi ke benteng Bani Nadhir dan orang-orang Yahudi berniat membunuh Nabi. Mereka naik ke atap rumah dan hendak menjatuhkan batu besar ke kepala Nabi. Tetapi, Nabi mengetahui hal tersebut berdasarkan wahyu dan beliau langsung pergi dari benteng. Kemudian Nabi memerintahkan Bani Nadhir keluar dari Madinah karena telah mengkhianati perjanjian.[47]

Pintu Rumah Fathimah Zahra Sa. Sumber: Fars News Agency

Perang Bani Quraizhah

Setelah Bani Nadhir dikeluarkan dari Madinah, orang-orang Yahudi Bani Quraizhah memutuskan perjanjian. Kemudian mereka bersekutu dengan suku Quraisy dan orang-orang kafir dalam peristiwa perang Ahzab dan serentak melakukan serangan pada malam hari.[48] Namun, akhirnya atas kerjasama seorang mualaf, perjanjian mereka dengan orang-orang kafir menjadi berantakan dan mereka menghentikan persekutuannya dengan kelompok Arab.[49]

Setelah berakhirnya perang Ahzab, Nabi Saw mengepung Bani Quraizhah. Kira-kira setelah satu bulan pengepungan, akhirnya Bani Quraidzah menyerah.[50] Kemudian kaum laki-laki mereka dihukum mati, sementara kaum perempuan dan anak-anak ditawan.

Peristiwa Harrah

Peristiwa Harrah adalah salah satu kejahatan besar Bani Umayyah setelah membunuh Imam Husain as. Peristiwa ini merupakan perlawanan penduduk Madinah yang dipimpin oleh Abdullah bin Hanzhalah bin Abi 'Amir terhadap pemerintahan Yazid bin Muawiyah pada tahun 63 Hijriah.

Yazid mengutus lima ribu pasukan ke Madinah dipimpin Muslim bin Uqbah. Pasukan ini berhasil memadamkan perlawanan penduduk Madinah dengan kekerasan yang keji. Pada peristiwa ini banyak penduduk Madinah yang dibunuh, termasuk 80 sahabat Nabi dan 700 orang penghafal Al-Quran. Harta dan kehormatan penduduk dihalalkan selama tiga hari bagi pasukan Syam dan selama itu mereka melakukan semua kejahatan.[51]

Perlawanan Nafs Zakiyah

Muhammad Nafs Zakiyah melakukan perlawanan di Madinah pada masa pemerintahan Manshur 'Abbasi tahun 145 Hijriah.

Penduduk Madinah, khususnya ahli hadis seperti Malik bin Anas berpihak kepada Nafs Zakiyah dan menganggap baiat kepada Manshur tidak sah karena dipaksa.

Pada saat peperangan di Madinah, pasukan Nafs Zakiyah kalah dan ia sendiri terbunuh dan jasadnya dikuburkan di Baqi.[52]

Catatan Kaki

  1. Hujjat al-Tafasir wa Balagh al-Iksir, jld. 2, mukaddimah, hlm. 1064.
  2. Qurreh Chanlue, Haramain Syarifain, hlm.116.
  3. Amili, Ma'alim Makkah wa al-Madinah baina al-Madhi wa al-Hadhir, hlm.261.
  4. http://www.pajoohe.com/fa/index.php?Page=definition&UID=39106
  5. Atsar al-Bilad wa Akhbar al-'Ibad, hlm. 157.
  6. Ansab al-Asyraf, opcit, jld. 5, hlm. 487 dan Mu'jam al-Buldan, opcit, jld. 3, hlm. 104.
  7. Al-Anshari, Atsar al-Madinah al-Munawwarah, hlm. 210.
  8. Al-Mufashal fi Tarikh…, op cit, hlm. 132.
  9. Al-Nadawi, Sayyid Ali Hasani, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Damaskus, Daru Ibn Katsir, Cetakan ke-12, 1425 H, hlm. 266.
  10. Ahsan al-Taqasim, opcit, hlm. 34.
  11. Kurdi, Ubaidillah Muhammad Amin, Makah wa Madinah, hlm. 212.
  12. Ibid.
  13. Ibid.
  14. Ibid.
  15. Mufid, Al-Irsyad, hlm. 309.
  16. Ibid, hlm. 331.
  17. Ibid, hlm. 435.
  18. Ibid, hlm. 452.
  19. Ibid, hlm. 497.
  20. Ibid, hlm. 525.
  21. Ibid.
  22. Ibid, hlm. 569.
  23. Ibid, hlm. 585.
  24. Ibid, hlm. 322.
  25. Ibid, hlm. 435.
  26. Ibid, hlm. 452.
  27. Ibid, hlm. 467.
  28. Masjid al-Nabi, Markaz-e Tahqiqat-e Hajj, hlm. 3.
  29. Abul Futuh Razi, Ruh al-Jinan wa Ruh-al-Jinan, jld. 6, hlm. 111; Thabathabai, Al-Mizan, hlm. 618; Sayid Quthub, hlm. 305.
  30. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 3, hlm. 210; Ibnu Sa'ad, At-Thbaqat al-Kubra, jld. 1, hlm. 189.
  31. Tarikh al-Ma'alim al-Madinah al-Munawwarah, hlm. 125-126.
  32. Ibid, hlm. 155.
  33. Khalashat al-Wafa' bi Akhbari Dar al-Musthafa; Al-Dar al-Tsamin, hlm. 233; Al-Masajid wa al-Amakin al-Atsariyyah, hlm. 24.
  34. Bihar al-Anwar, jld. 63, hlm. 487; Jld. 81, hlm. 82; Jld. 96, hlm. 335; Jld. 97, hlm. 213, 214, 216, 224.
  35. Opcit.
  36. Makah wa Madinah, Markaz-e Tahqiqat-e Haj, hlm. 28.
  37. Baqi', Markaz-e Tahqiqat-e Haj, hlm. 3.
  38. Atsar-e Islami Makah wa Madinah, hlm. 354.
  39. Fath al-Bari, jld. 7, hlm. 289-290; Wafa' al-Wafa', jld. 3, hlm. 108.
  40. Tarikh wa Atsar-e Islami Makah, hlm.307.
  41. Waqidi, Maghazi, hlm. 145; Al-Masajid wa al-Amakin al-Atsariyyah, hlm. 31; Tarikh al-Madin al-Munawwarah, jld. 1, hlm. 130.
  42. UID=10484&http://www.pajoohe.com/fa/index.php?Page=definition.
  43. Al-Tuhfah al-Lathifah, hlm. 70.
  44. Ja'fariyan, Atsar-e Islami Makah wa Madinah, Masy'ar, hlm. 253; Asghar Qaidan, Tarikh wa Atsar-e Islami Makah Mukarramah wa Madinah Munawwarah, hlm. 385.
  45. Hujjat al-Tafasir wa Balagh al-Iksir, jld. 2, Mukaddimah, hlm. 1071.
  46. Waqidi, Maghazi, hlm. 127-128; Dengan penjelasan sedikit berbeda di sirah Ibnu Hisyam, hlm. 314-315; Thabari, jld. 3, hlm. 997; Al-Kamil Ibn Atsir, jld. 3, hlm. 970-971.
  47. Al-Maghazi, hlm. 269-270; Al-Thabaqat Ibn Sa'ad, jld. 2, hlm. 55-56; Sirah Ibnu Hisyam, hlm. 354-355; Al-Kamil Ibn Atsir, jld. 3, hlm. 1010-1011; Thabari, jld. 3, hlm. 1054-1056.
  48. Waqidi, Maghazi, hlm. 345-346.
  49. Sirah Ibnu Hisyam, hlm. 371-374; Al-Thabaqat Ibn Sa'ad, jld. 2, hlm. 67; Maghazi, hlm. 361-363; Thabari, jld. 3, hlm. 1078-1079; Al-Kamil Ibn Atsir, jld. 3, hlm. 1022.
  50. Thabari, jld. 3, hlm. 1084; Ya'kubi, jld. 1, hlm. 411.
  51. Mas'udi, Muruj al-Dzahab, jld. 2, hlm. 73-75.
  52. Ibid, jld. 2, hlm. 298-299.


Daftar Pustaka

  • Thabathabai, Muhammad Husain, Al-Mizan; Muhammad Baqir Musawi Hamedani, Bunyad-e Ilmi wa Fikr-e Allamah Thabathabai, 1363.
  • Sayyid Quthub, Fi Dhilal Al-Quran, Beirut, Dar al-Ihya' al-Turats al-'Arabi, Cetakan kelima, 1384 H.
  • Razi, Abul Futuh, Ruhul Jinan wa Ruhul Jinan, Tehran, Ketab Furusyi Islami, Tanpa Tahun.
  • Qaidan, Asghar, Tarikh wa Atsar-e Islami Makah Mukarramah wa Madinah Munawwarah, Masy'ar, Kedua, 1374 S.
  • Al-Masajid wa al-Amakin al-Atsariyyah
  • Syeikh Mufid, Al-Irsyad, Terjemah Hasan Musawi Mujab, Qom, Penerbit Surur, 1388 S.
  • Mas'udi, Ali bin Husain, Muruj al-Dzahab wa Ma'adin al-Jauhar, Terjemah Abul Qasim Poyande, Tehran, Penerbit Ilmi Farhanggi, 1387 S.
  • Ja'fariyan, Rasul, Atsar-e Islami Makah wa Madinah, Masy'ar, Pertama, 1381.
  • Ibnu Katsir, Abu Fida' 'Ismail bin Umar, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H.