Konsep:WILAYAH IMAM ALI (AS)

WILAYAH IMAM ALI (AS) bermakna imamah Imam Ali (as) atau salah satu tingkatan dan kedudukan imamah beliau. Mayoritas peneliti dan penulis menggunakan kata wilayah dan imamah dalam makna yang sama, namun Murtadha Muthahhari menganggapnya sebagai salah satu tingkatan imamah dan merupakan tingkatan yang paling tinggi.
Wilayah Imam Ali (as) tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, namun dalam sumber-sumber riwayat dan tafsir, banyak ayat yang ditafsirkan merujuk kepadanya, dan dalam hadis-hadis disebutkan tentang urgensi serta kedudukan tinggi wilayah Imam Ali (as) beserta dampaknya; di antaranya wilayah Ali (as) diperkenalkan sebagai salah satu rukun Islam, penyempurna agama, dan merupakan wilayah ilahi serta wilayah Rasul-Nya. Beberapa dampak wilayah Imam Ali (as) dalam riwayat antara lain: masuk ke Surga, aman dari api Neraka, izin melintasi jembatan Sirat, serta keberuntungan dan ampunan.
Dalam sebagian riwayat, wilayah Imam Ali (as) dianggap sebagai syarat diterimanya Iman dan amal perbuatan. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syiah mengenai apakah wilayah merupakan syarat diterimanya amal (qabul) ataukah syarat keabsahan (shihhah) amal tersebut.
Berdasarkan hadis-hadis tafsir, Ayat Wilayah, Ayat Tabligh, dan Ayat Ikmal menunjukkan wilayah Imam Ali (as). Selain itu, sekelompok ulama Syiah juga menganggap Hadis Ghadir dan Hadis Wilayah bermakna wilayah Imam Ali (as) serta menyebut beliau sebagai Wali dan pemilik otoritas (shahib ikhtiyar) atas kaum mukminin.
Kedudukan dan Urgensi
Wilayah Imam Ali (as) termasuk tema yang banyak dibahas dalam berbagai tafsir dan riwayat. Meskipun wilayah Imam Ali (as) tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, namun banyak ayat yang ditafsirkan merujuk kepadanya;[1] di antaranya "Tali Allah" dalam ayat 103 surah Ali Imran (WA'TASHIMU BI-HABLI LLAHI JAMI'AN WA LA TAFARRAQU)[2] dan "Jalan yang Lurus" (Shirath al-Mustaqim) dalam Ayat 153 Surah Al-An'am[3] serta Ayat 43 Surah Az-Zukhruf[4] ditafsirkan sebagai wilayah Ali (as). Selain itu dalam berbagai riwayat, amanah yang disebutkan dalam Ayat Amanah di mana langit, bumi, dan gunung-gunung menolak untuk memikulnya, ditafsirkan sebagai wilayah Imam Ali (as).[5]
Dalam kitab Danesynama-ye Amir al-Mu'minin as terkumpul sekitar seratus riwayat mengenai wilayah Imam Ali (as).[6] Dalam beberapa riwayat, wilayah Imam Ali (as) dinyatakan sebagai penyempurna agama[7] dan wilayah yang sama dengan wilayah Allah dan Nabi (saw),[8] serta orang yang mengingkari wilayah Ali (as) dianggap sama dengan mengingkari wilayah Nabi (saw).[9] Dalam beberapa Hadis Bani al-Islam pun wilayah Ali bin Abi Thalib (as) dihitung sebagai salah satu fondasi dan rukun Islam.[10]
Konsep Wilayah
Allamah Thabathaba'i berpendapat bahwa wilayah bukan bermakna pertolongan dan bantuan, melainkan bermakna kepengasuhan (sarparasti) dan kepemilikan atas pengaturan (tadbir). Makna ini adalah makna umum dan berlaku pada seluruh bentuk derivasinya.[11] Menurut pandangannya, wilayah terdiri dari sejenis kedekatan (qurb) yang mengakibatkan hak tasharruf (pengelolaan) dan kepemilikan tadbir yang khusus.[12] Abdullah Jawadi Amoli, mufasir dan faqih Syiah, menganggap makna asli wilayah adalah kedekatan (qurb) di mana konsekuensinya adalah memegang jabatan dan kepengasuhan urusan-urusan atau pertolongan dan kecintaan.[13] Menurut pandangan Fakhruddin al-Turaihi, penulis kitab Majma' al-Bahrain, Walayah merujuk pada pengaturan, kekuatan, dan tindakan, serta bermakna kecintaan kepada Ahlulbait dan para pengikutnya, mematuhi perintah dan larangan mereka, serta meneladani mereka dalam perilaku dan akhlak.[14]
Kata wilayah dalam bahasa terkadang digunakan dengan fathah pada huruf waw (Walayah) dan terkadang dengan kasrah (Wilayah). Sekelompok pakar bahasa menggunakan Walayah terkait hubungan-hubungan seperti kekerabatan, kecintaan, warisan, serta pertolongan dan bantuan, sementara mereka memaknai Wilayah sebagai kepengasuhan dan kepemimpinan urusan.[15] Menurut Sibawaih, pakar ilmu nahwu terkenal pada abad kedua Hijriah, kedua kata tersebut bermakna kepemimpinan dan pengaturan urusan.[16] Sejumlah pihak juga menganggap keduanya bermakna pertolongan dan bantuan.[17]
Hubungan dengan Imamah
Beberapa ulama Syiah menganggap wilayah dan imamah dalam makna yang sama.[18] Syekh Mufid juga memaknai Maula dan Wali dalam Hadis Ghadir sebagai Imam.[19] Banyak peneliti dan penulis [20] seperti Sayyid Murtadha Askari dalam buku Wilayah Ali dar Qur'an Karim va Sunnat-e Payambar sawTemplat:Y dan Naser Makarem Shirazi, salah satu Marja Taklid Syiah dan mufasir Al-Qur'an, dalam buku Ayat-e Wilayat dar Qur'an,Templat:Y juga beberapa ulama lainnya, telah menggunakan kata wilayah dan imamah dalam makna yang sama serta tidak membedakan keduanya, namun Murtadha Muthahhari,[21] menganggap wilayah sebagai tingkatan dan derajat imamah yang tertinggi, dan sebagian lainnya[22] menganggapnya sebagai dimensi terpenting nubuwah dan imamah.
Mayoritas mutakallim Syiah dan Sunni dengan sedikit perbedaan mendefinisikan imamah sebagai berikut: "al-Imamatu riyasatun 'ammatun fi umur al-din wa al-dunya niyabatan ['au khilafatan] 'an al-Nabi saw; Imamah adalah kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia sebagai wakil dan pengganti dari Nabi (saw)".[23]
Dampak Wilayah
Templat:Kotak kutipan Dalam riwayat-riwayat yang dinukil dari para Ma'shum, disebutkan beberapa dampak dari wilayah Imam Ali (as), antara lain:
- Masuk ke Surga.[24] Dalam sebuah riwayat dari Nabi Akram (saw) dinukil bahwa barangsiapa ingin hidup dan matinya seperti Nabi (saw) dan ingin menetap di surga yang telah Allah janjikan, maka hendaknya ia menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai wali-nya.[25]
- Aman dari api neraka dan azab ilahi:[26] Dalam hadis qudsi yang masyhur, wilayah Amirul Mukminin diperkenalkan sebagai benteng aman ilahi dan faktor keamanan dari api neraka di mana siapa pun yang memasukinya akan aman dari azab Neraka: "WILAYATU 'ALIY BIN ABI THALIB HISHNI FA-MAN DAKHALA HISHNI AMINA NARI; Wilayah Ali bin Abi Thalib adalah benteng-Ku. Barangsiapa memasuki benteng ini, maka ia aman dari api-Ku".[27]
- Izin melintasi Sirat:[28] Dalam sebuah hadis dari Nabi (saw) disebutkan: "IDZA KANA YAUM AL-QIYAMAH WA NUSHIB AL-SHIRATH 'ALA ZHAHRANAY JAHANNAM FA-LA YAJUZUHA WA YAQTHA'UHA ILLA MAN KANA MA'AHU JAWAZ BI-WILAYATI 'ALIY BIN ABI THALIB; Ketika kiamat tiba dan jembatan Sirat dipasang di atas punggung neraka Jahanam, maka tidak ada orang yang melaluinya dan tidak ada yang dapat melintasinya kecuali orang yang bersamanya terdapat izin melalui wilayah Ali bin Abi Thalib (as)".[29]
- Faktor keberuntungan dan ampunan: Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Baqir (as), kegembiraan, keberuntungan, kehormatan, ampunan, kesehatan (afiat), kenyamanan, dan keridaan berada dalam wilayah Imam Ali (as).[30] Dalam sebuah hadis dari Imam al-Ridha (as), mereka yang menerima wilayah Imam Ali (as) pada hari Ghadir Khum diserupakan dengan para malaikat yang bersujud kepada Adam, dan mereka yang tidak menerima wilayah beliau diserupakan dengan Iblis.[31]
Wilayah, Syarat Penerimaan atau Keabsahan Iman dan Amal

Dalam beberapa riwayat, wilayah Imam Ali (as) dianggap sebagai syarat diterimanya Iman. Sebagai contoh dalam sebuah riwayat dari Nabi Akram (saw) dinukil: "... 'ALIYYUN AMIR AL-MU'MININ ... LA YAQBALU LLAHU AL-IMANA ILLA BI-WILAYATIHI WA THA'ATIHI; Ali adalah Amirul Mukminin ... Allah tidak menerima iman melainkan melalui wilayah dan ketaatan kepadanya".[32]
Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Sajjad (as) dari Nabi (saw) dinukil bahwa jika seseorang beribadah selama usia Nabi Nuh dan menginfakkan emas seukuran gunung Uhud, menunaikan Haji ribuan kali dan mati syahid di jalan Allah, namun ia tidak menerima wilayah Imam Ali (as), maka Allah akan melemparkannya tertelungkup ke dalam api Neraka dan ia tidak akan pernah menghirup bau surga.[33] Riwayat serupa mengenai wilayah para Imam (as) juga telah dinukil.[34] Dalam Tafsir al-Qumi dalam tafsir Ayat 18 Surah Ibrahim disebutkan bahwa jika seseorang tidak menerima wilayah Imam Ali (as), maka amalnya batil dan seperti debu yang ditiup angin kencang pada hari yang badai.[35]
Dalam sebuah hadis dari Imam al-Baqir (as) tanpa penyebutan eksplisit terhadap wilayah Imam Ali (as), wilayah Wali Allah disebutkan sebagai syarat diterimanya amal dan iman: "... AMA LAU ANNA RAJULAN QAMA LAILAHU WA SHAMA NAHARAHU WA TASHADDAQA BI-JAMI'I MALIHI WA HAJJA JAMI'A DAHRIHI WA LAM YA'RIF WILAYATA WALIYYI LLAHI FA-YUWALIAHU WA YAKUNA JAMI'U A'MALIHI BI-DALALATIHI ILAIHI, MA KANA LAHU 'ALA LLAHI HAQQUN FI TSAWABIHI, WA LA KANA MIN AHLI AL-IMAN; Sesungguhnya jika seorang pria bangkit di malam hari untuk beribadah dan berpuasa di siang hari, mensedekahkan seluruh hartanya, menunaikan haji di sepanjang usianya, namun ia tidak mengenal wilayah Wali Allah agar ia mengikutinya, dan amalnya tidak disertai dengan bimbingan darinya, maka baginya tidak ada hak pahala dari sisi Allah Swt dan ia bukan termasuk ahli iman".[36] Allamah Majlisi menganggap hadis ini bersifat shahih[37] dan dalam penjelasan mengapa orang tersebut tidak mendapatkan pahala ia berkata karena orang semacam itu tidak dihitung sebagai mukmin dan berdasarkan ayat-ayat janji pahala hanya diberikan kepada kaum mukminin.[38]
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama Syiah mengenai apakah wilayah merupakan syarat keabsahan (shihhah) amal sehingga ibadah-ibadah akan batil jika tanpanya dan harus di-qadha, ataukah wilayah merupakan syarat penerimaan amal (qabul) sehingga tanpanya amal tersebut meskipun secara lahiriah sah dan tidak perlu di-qadha namun tidak maqbul (diterima); sejumlah ulama,[39] menganggap penerimaan wilayah sebagai syarat keabsahan ibadah dan amal, sementara kelompok lain[40] menganggapnya sebagai syarat diterimanya amal dan kelayakan mendapatkan pahala.
Beberapa pihak mengklaim tidak adanya perbedaan pendapat (adam al-khilaf)[41] atau adanya Ijma'[42] atas wilayah sebagai syarat keabsahan.
Ayat Wilayah dan Ayat Terkait
Templat:Utama Ayat Wilayah, menurut perkataan sekelompok mufasir Syiah, menunjukkan wilayah Imam Ali (as) dalam makna kepengasuhan dan otoritas atas urusan-urusan;[43] karena para mufasir Syiah dan Sunni menganggap sebab turunnya ayat tersebut adalah peristiwa Imam Ali (as) memberikan cincin.[44] Berdasarkan ayat ini, hanya Allah, Rasul-Nya, dan Imam Ali (as) yang merupakan wali dan pengasuh kaum mukminin.[45] Ayat ini termasuk di antara ayat-ayat yang juga dijadikan sandaran untuk membuktikan imamah Imam Ali (as).[46]
Ayat Ikmal menurut keyakinan para ulama Syiah turun mengenai Peristiwa Ghadir;[47] menurut perkataan Naser Makarem Shirazi, dalam tafsir-tafsir Syiah yang dimaksud dengan sempurnanya agama adalah pengumuman wilayah dan kekhalifahan Imam Ali (as) atas kaum Muslimin, dan berbagai riwayat pun mengonfirmasi hal tersebut.[48]
Dalam sebuah riwayat dari Imam al-Baqir (as), ayat ini ditafsirkan sebagai wilayah dan dianggap sebagai kewajiban terakhir yang diturunkan kepada Nabi (saw).[49]
Ayat Tabligh juga berdasarkan berbagai riwayat, turun mengenai wilayah Imam Ali (as).[50]
Hadis Wilayah dan Ghadir
Templat:Utama Dalam Hadis Wilayah "HUWA WALIYYU KULLI MU'MININ BA'DI; Ia [Ali] adalah wali bagi setiap mukmin setelahku", Hazrat Ali (as) diperkenalkan sebagai pemilik wilayah dan wali kaum mukminin setelah Rasulullah (saw).[51]
Hadis Ghadir "Man kuntu maulahu fa-'Aliyyun hadza maulahu" juga karena berbagai alasan dan bukti menunjukkan wilayah Imam Ali (as) dalam makna kepengasuhan dan prioritas dalam pengelolaan (aulawiyyah fi al-tasharruf).[52] Kedua hadis ini juga telah dijadikan sandaran untuk membuktikan imamah Imam pertama.[53]
Catatan Kaki
- ↑ Sebagai contoh lihat: al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 412-436; al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 200, 271, 383, jld. 2, hlm. 35, 47, 77, 105, 126, 198, 255, 389, dan 390; Furat al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 66, 91, 106, 107, 178; al-Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 102, 255, 285, 384.
- ↑ Furat al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 91.
- ↑ al-Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 384.
- ↑ al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 2, hlm. 286.
- ↑ al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 412.
- ↑ Lihat: Muhammadi Reysyahri, Danesynama-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 2, hlm. 119-177.
- ↑ Lihat: Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 205, hadis 351; Muhammadi Reysyahri, Danesynama-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 7, hlm. 566-569.
- ↑ Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 4, hlm. 420, hadis 5918; Thabari Amoli, Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha, 1383 H, hlm. 191; Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 418.
- ↑ Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar fi Fadha'il al-Aimmah al-Ath-har as, 1409 H, jld. 2, hlm. 205, hadis 533.
- ↑ Shaduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 268
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 13, hlm. 317.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 12.
- ↑ Jawadi Amoli, Wilayat dar Qur'an, 1379 HS, hlm. 20.
- ↑ Turaihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 1, hlm. 462 dan 463, di bawah kata Wala.
- ↑ Lihat: al-Azhari, Tahdzib al-Lughah, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, jld. 15, hlm. 323; Raghib al-Isfahani, Mufradat Alfadz al-Qur'an, 1412 H, hlm. 885; Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jld. 15, hlm. 407; Turaihi, Majma' al-Bahrain, 1375 HS, jld. 1, hlm. 455, di bawah kata Wala.
- ↑ Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jld. 15, hlm. 407.
- ↑ Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, 1414 H, jld. 15, hlm. 407; al-Jauhari, al-Shihah, 1410 H, jld. 6, hlm. 2530; Mustafawi, al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an, 1368 HS, jld. 13, hlm. 203 dan 204.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Makarem Shirazi, Payam-e Qur'an, 1386 HS, jld. 9, hlm. 43; Sejumlah penulis, Imamat-pajushi, 1381 HS, hlm. 48.
- ↑ Syekh Mufid, Risalah fi Ma'na al-Maula, naskah manuskrip, nukilan dari: Sejumlah penulis, Imamat-pajushi, 1381 HS, hlm. 48.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Sobhani, Mansyur-e Javid, 1383 HS, jld. 8, hlm. 128, 148; Hosseini Tehrani, Imam-syenasi, 1426 H, jld. 2, hlm. 206 dan jld. 5, hlm. 200 dan jld. 7, hlm. 278; Sejumlah ilmuwan, Imamah va Wilayah dar Qur'an, 1397 HS, hlm. 13, 49, 92 dan 93, 161, 187.
- ↑ Motahari, Imamah va Rahbari, 1380 HS, hlm. 55.
- ↑ Sejumlah penulis, Imamat-pajushi, 1381 HS, hlm. 177.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Mufid, al-Nukat al-I'tiqadiyyah, 1413 H, hlm. 39; Allamah al-Hilli, al-Bab al-Hadi Asyar, 1365 HS, hlm. 39; Fayyadh Lahiji, Gohar-e Morad, 1383 HS, hlm. 461 dan 462; al-Taftazani, Syarh al-Maqashid, 1409 H, jld. 5, hlm. 232; al-Jurjani, Syarh al-Mawaqif, 1325 H, jld. 8, hlm. 345.
- ↑ al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 437, hadis 7; Thabari Amoli, Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha, 1383 H, hlm. 191.
- ↑ al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 209; Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 578.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Thusi, al-Amali, 1414 H, hlm. 295; Thabari Amoli, Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha, 1383 H, hlm. 187; Muhammadi Reysyahri, Danesynama-ye Amir al-Mu'minin as, 1389 HS, jld. 2, hlm. 168-173.
- ↑ Shaduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 235, hadis 9; al-Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jld. 1, hlm. 170.
- ↑ Lihat: al-Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jld. 2, hlm. 162; Khwarazmi, al-Manaqib, 1411 H, hlm. 72.
- ↑ Thabari Amoli, Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha, 1383 H, hlm. 200.
- ↑ al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 1, hlm. 210, hadis 7.
- ↑ Sayyid Ibnu Thawus, al-Iqbal bi al-A'mal al-Hasanah, 1376 HS, jld. 2, hlm. 262.
- ↑ Shaduq, al-Amali, 1376 HS, hlm. 11; Thabari Amoli, Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha, 1383 H, hlm. 18; lihat pula: Khwarazmi, al-Manaqib, 1411 H, hlm. 34.
- ↑ Ibnu Syadzan al-Qumi, al-Raudhah fi Fadha'il Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib, 1423 H, hlm. 96.
- ↑ Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 245, hadis 2313.
- ↑ al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 368.
- ↑ al-Kulaini, al-Kafi, 1407 H, jld. 2, hlm. 19, hadis 5.
- ↑ Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 7, hlm. 102.
- ↑ Majlisi, Mir'at al-'Uqul, 1404 H, jld. 7, hlm. 108.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Musawi Amili, Madarik al-Ahkam, 1411 H, jld. 7, hlm. 75; Thabathaba'i Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa (dengan catatan kaki), 1419 H, jld. 2, hlm. 214; Khoei, Mausu'ah al-Imam al-Khoei, 1418 H, jld. 21, hlm. 452-454; Thabathaba'i Qomi, al-Ghayah al-Qushwa (Kitab al-Shaum), 1417 H, hlm. 287.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Thabathaba'i Yazdi, al-'Urwah al-Wutsqa (dengan catatan kaki), 1419 H, jld. 3, hlm. 612 dan 613, catatan kaki Borujerdi dan Kasyif al-Ghitha; Imam Khomeini, Syarh-e Cehel Hadits, 1381 HS, hlm. 576-578; Sobhani, al-Mahshul fi 'Ilm al-Ushul, 1414 H, jld. 1, hlm. 180 dan 181.
- ↑ Khoei, Mausu'ah al-Imam al-Khoei, 1418 H, jld. 21, hlm. 452.
- ↑ Thabathaba'i Qomi, al-Ghayah al-Qushwa (Kitab al-Shaum), 1417 H, hlm. 287.
- ↑ Makarem Shirazi, Ayat-e Wilayat dar Qur'an, 1386 HS, hlm. 75 dan 80; Faryab, Ma'na va Ciesti-ye Imamat dar Qur'an, Sunnat va Atsar-e Mutakalliman, 1391 HS, hlm. 161.
- ↑ Thabathaba'i, al-Mizan, 1417 H, jld. 6, hlm. 8; Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, 1419 H, jld. 3, hlm. 126; al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, 1404 H, jld. 2, hlm. 293 dan 294; al-Haskani, Syawahid al-Tanzil, 1411 H, jld. 1, hlm. 209-239.
- ↑ Makarem Shirazi, Ayat-e Wilayat dar Qur'an, 1386 HS, hlm. 1.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Sayyid Murtadha, al-Dzakhirah fi 'Ilm al-Kalam, 1411 H, hlm. 438; Thusi, Tajrid al-I'tiqad, 1407 H, hlm. 225; Muhaqqiq al-Hilli, al-Maslak fi Ushul al-Din, 1414 H, hlm. 248; Fadhel al-Miqdad, Irsyad al-Thalibin, 1405 H, hlm. 341 dan 342.
- ↑ Lihat: Makarem Shirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 264.
- ↑ Makarem Shirazi, Tafsir-e Nemuneh, 1371 HS, jld. 4, hlm. 264 dan 265.
- ↑ al-Qumi, Tafsir al-Qumi, 1404 H, jld. 1, hlm. 162; al-Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 292 dan 293.
- ↑ Lihat: al-Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, 1380 HS, jld. 1, hlm. 332; Furat al-Kufi, Tafsir Furat al-Kufi, 1410 H, hlm. 130.
- ↑ Lihat: Hosseini Milani, Tasyyid al-Muraja'at, 1427 H, jld. 3, hlm. 244-248.
- ↑ Lihat: al-Amini, al-Ghadir, 1416 H, jld. 1, hlm. 651-679.
- ↑ Sebagai contoh lihat: Allamah al-Hilli, Kasyf al-Murad, 1382 HS, hlm. 191; Hosseini Milani, Tasyyid al-Muraja'at, 1427 H, jld. 3, hlm. 232-237.
Catatan
Daftar Pustaka
- Aghadadi, Ahmad Reza. al-Nushush: Bisy az 500 Dalil-e Roshan bar Wilayat-e Hazrat Ali as az Manabe'-e Ahlusunnat. Qom, Dalil-e Ma, cetakan kedua, 1392 HS.
- Al-Amini, Abdul Husain. al-Ghadir. Qom, Markaz-e al-Ghadir, cetakan pertama, 1416 H.
- Al-Ayyasyi, Muhammad bin Mas'ud. Tafsir al-Ayyasyi. Riset: Sayyid Hashem Rasouli Mahallati. Teheran, al-Mathba'ah al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1380 HS.
- Al-Azhari, Muhammad bin Ahmad. Tahdzib al-Lughah. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cetakan pertama, tanpa tahun.
- Al-Haskani, Abdullah bin Abdullah. Syawahid al-Tanzil li-Qawa'id al-Tafdhyil. Teheran, Kementerian Bimbingan Islam, cetakan pertama, 1411 H.
- al-Jauhari, Ismail bin Hammad. al-Shihah - Taj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyyah. Riset dan koreksi: Ahmad Abdul Ghafur Attar. Beirut, Dar al-Ilm li al-Malayyin, cetakan pertama, 1410 H.
- al-Jurjani, Mir Sayyid Syarif. Syarh al-Mawaqif. Riset: Badruddin Na'sani. Qom, Syarif Radhi, cetakan pertama, 1325 H.
- al-Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. al-Kafi. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1407 H.
- Al-Qumi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qumi. Riset: Tayyib Musawi Jaza'iri. Qom, Dar al-Kitab, cetakan ketiga, 1404 H.
- al-Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakr. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asye Najafi, cetakan pertama, 1404 H.
- al-Taftazani, Sa'duddin. Syarh al-Maqashid. Riset dan catatan: Abdurrahman Amira. Qom, Syarif Radhi, cetakan pertama, 1409 H.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. al-Bab al-Hadi Asyar. Teheran, Muassasah Motale'at-e Islami, 1365 HS.
- Allamah al-Hilli, Hasan bin Yusuf. Kasyf al-Murad fi Syarh Tajrid al-I'tiqadat (Qism al-Ilahiyat). Qom, Muassasah Imam Sadiq (as), cetakan kedua, 1382 HS.
- Askari, Murtadha. Wilayah Ali dar Qur'an Karim va Sunnat-e Payambar saw. Qom, Danesykade-ye Ushul al-Din, 1389 HS.
- Fadhel al-Miqdad, Miqdad bin Abdullah. Irsyad al-Thalibin ila Nahj al-Mustarsyidin. Riset: Sayyid Mahdi Raja'i. Qom, Perpustakaan Ayatullah Mar'asye, 1405 H.
- Fayyadh Lahiji, Abdurrazzaq. Gohar-e Morad. Teheran, Penerbit Sayeh, cetakan pertama, 1383 HS.
- Furat al-Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Riset: Muhammad Kazem. Teheran, Kementerian Bimbingan Islam, cetakan pertama, 1410 H.
- Faryab, Mohammad Hossein. Ma'na va Ciesti-ye Imamat dar Qur'an, Sunnat va Atsar-e Mutakalliman. Qom, Lembaga Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, cetakan pertama, 1391 HS.
- Hosseini Milani, Sayyid Ali. Tasyyid al-Muraja'at wa Tanfidu al-Mukabarat. Qom, Markaz al-Haqa'iq al-Islamiyyah, cetakan keempat, 1427 H.
- Hosseini Tehrani, Sayyid Mohammad Hossein. Imam-syenasi. Masyhad, Allamah Thabathaba'i, cetakan ketiga, 1426 H.
- Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad. Syarh al-Akhbar fi Fadha'il al-Aimmah al-Ath-har as. Muhammad Hossein Hosseini Jalali. Qom, Jami'ah-ye Modarresin, cetakan pertama, 1409 H.
- Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim. Riset: Muhammad Hossein Syamsuddin. Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cetakan pertama, 1419 H.
- Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram. Lisan al-Arab. Riset dan koreksi: Ahmad Fares. Beirut, Dar al-Fikr, cetakan ketiga, 1414 H.
- Ibnu Syadzan al-Qumi, Abul Fadhl Syadzan bin Jibrail. al-Raudhah fi Fadha'il Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib as. Qom, al-Maktabah al-Amin, cetakan pertama, 1423 H.
- Imam Khomeini, Sayyid Ruhullah. Syarh-e Cehel Hadits (Arba'in Hadis). Teheran, Penerbit Lembaga Penyusunan dan Publikasi Karya Imam Khomeini, cetakan ke-25, 1381 HS.
- Jawadi Amoli, Abdullah. Wilayat dar Qur'an. Qom, Pusat Penerbitan Esra, cetakan pertama, 1379 HS.
- Khoei, Sayyid Abu al-Qasim. Mausu'ah al-Imam al-Khoei. Qom, Lembaga Menghidupkan Karya Imam al-Khoei, cetakan pertama, 1418 H.
- Khwarazmi, Muwaffaq bin Ahmad. al-Manaqib. Riset: Malek Mahmudi. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, cetakan kedua, 1411 H.
- Maibadi Yazdi, Mir Hossein bin Mu'inuddin. Syarh Diwan Mansub be Amir al-Mu'minin Ali bin Abi Thalib. Atas usaha Akram Syafa'i, berdasarkan naskah situs Tasavvuf Iran.
- Majlisi, Mohammad Baqir. Mir'at al-'Uqul fi Syarh Akhbar Alu al-Rasul. Riset: Sayyid Hashem Rasouli Mahallati. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kedua, 1404 H.
- Makarem Shirazi, Naser. Ayat-e Wilayat dar Qur'an. Disusun oleh: Abul Qasim Alian-nejadi. Qom, Nasl-e Javan, 1386 HS.
- Makarem Shirazi, Naser. Tafsir-e Nemuneh. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesepuluh, 1371 HS.
- Makarem Shirazi, Naser. Payam-e Qur'an. Teheran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cetakan kesembilan, 1386 HS.
- Motahari, Murtadha. Imamah va Rahbari. Teheran, Penerbit Sadra, cetakan ke-26, 1380 HS.
- Muhaqqiq al-Hilli, Najmuddin Jafar bin Hasan. al-Maslak fi Ushul al-Din wa al-Risalah al-Mati'iyyah. Masyhad, Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah, cetakan pertama, 1414 H.
- Muhammadi Reysyahri, Mohammad dkk. Danesynama-ye Amir al-Mu'minin as bar Paye-ye Qur'an, Hadits va Tarikh. Terjemahan: Abdul Hadi Mas'udi dkk. Qom, Darul Hadits, cetakan ketiga, 1389 HS.
- Musawi Amili, Muhammad bin Ali. Madarik al-Ahkam fi Syarh 'Ibadat Syarayi' al-Islam. Beirut, Muassasah Al al-Bait (as), cetakan pertama, 1411 H.
- Mustafawi, Hassan. al-Tahqiq fi Kalimat al-Qur'an al-Karim. Teheran, Kementerian Bimbingan Islam, cetakan pertama, 1368 HS.
- Raghib al-Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradat Alfadz al-Qur'an. Libanon-Suriah, Dar al-Ilm - Dar al-Syamiyyah, cetakan pertama, 1412 H.
- Sayyid Ibnu Thawus. al-Iqbal bi al-A'mal al-Hasanah. 1376 HS.
- Sayyid Murtadha, Ali bin al-Husain. al-Dzakhirah fi 'Ilm al-Kalam. Riset: Sayyid Ahmad Hosseini. Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1411 H.
- Sejumlah ilmuwan. Imamah va Wilayah dar Qur'an. Terjemahan: Ahmad Nazhem. Qom, Majma' Jahani Ahlulbait (as), cetakan pertama, 1397 HS.
- Sejumlah penulis. Imamat-pajushi (Barresi-ye Didgah-haye Imamiyah, Mo'tazele va Asya'ere). Di bawah pengawasan Yazdi Mothlaq. Masyhad, Universitas Ilmu Islam Razavi, cetakan pertama, 1381 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. al-Amali. Teheran, Kitabchi, cetakan keenam, 1376 HS.
- Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawayh. Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Daftare Entesyarat-e Islami, cetakan kedua, 1413 H.
- Sobhani, Jafar. al-Mahshul fi 'Ilm al-Ushul. Qom, Muassasah Imam Sadiq (as), cetakan pertama, 1414 H.
- Sobhani, Jafar. Mansyur-e Javid. Qom, Muassasah Imam Sadiq (as), cetakan pertama, 1383 HS.
- Thabari Amoli, Imaduddin. Bisyarat al-Musthafa li-Syi'at al-Murtadha. Najaf, al-Maktabah al-Haidariyyah, cetakan kedua, 1383 H.
- Thabathaba'i Qomi, Sayyid Taqi. al-Ghayah al-Qushwa fi al-Ta'liq 'ala al-'Urwah al-Wutsqa (Kitab al-Shaum). Qom, Penerbit Mahallati, cetakan pertama, 1417 H.
- Thabathaba'i Yazdi, Sayyid Muhammad Kazim. al-'Urwah al-Wutsqa (dengan catatan kaki). Qom, Daftare Entesyarat-e Islami, cetakan pertama, 1419 H.
- Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Husain. al-Mizan fi Tafsir al-Qur'an. Qom, Maktabah al-Nasyr al-Islami, cetakan kelima, 1417 H.
- Thabrasi, Fadhl bin al-Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an. Riset: Muhammad Javad Balaghi. Teheran, Penerbit Naser Khosrow, cetakan ketiga, 1372 HS.
- Thusi, Khwajah Nasiruddin. Tajrid al-I'tiqad. Riset: Hosseini Jalali. Qom, Daftare Tablighat-e Islami, cetakan pertama, 1407 H.
- Thusi, Muhammad bin al-Hasan. al-Amali. Qom, Dar al-Tsaqafah, cetakan pertama, 1414 H.
- Turaihi, Fakhruddin. Majma' al-Bahrain. Riset dan koreksi: Sayyid Ahmad Hosseini. Teheran, Murtadhawi, cetakan ketiga, 1375 HS.