Kegaiban Imam Mahdi as

Prioritas: aa, Kualitas: b
Dari wikishia
(Dialihkan dari Kegaiban)



Kegaiban Imam Mahdi as (bahasa Arab:غيبة الإمام المهدي) adalah salah satu keyakinan eksklusif Syiah dua belas Imam. Hal ini mengacu pada kehidupan rahasia Imam Mahdi as, Imam kedua belas Syiah. Menurut ajaran mazhab Syiah, Imam Mahdi as memiliki dua kegaiban: satu kegaiban sughra yang berlangsung selama 69 tahun dan lainnya adalah kegaiban kubra yang berlanjut hingga hari ini sampai waktu kemunculannya kembali.

Menurut keyakinan Syiah, Imam Mahdi as berinteraksi dengan masyarakat Syiah selama masa kegaiban kecil melalui perantara orang-orang khusus beliau yang disebut wakil empat. Tetapi selama kegaiban kubra, komunikasi Imam as dengan orang-orang syiah terputus; dan mereka dalam masalah agama harus merujuk pada perawi hadis (fakih) dan ulama Syiah. Tentu saja, dalam riwayat dan literatur Syiah, Imam diibaratkan matahari di balik awan selama kegaibannya dan orang-orang senantiasa merasakan manfaat keberadaannya. Ada beberapa poin yang disebutkan dalam riwayat para imam Syiah tentang alasan dan sebab kegaiban, salah satunya adalah ujian bagi orang Syiah. Ulama Syiah telah menulis beberapa kitab untuk menjelaskan masalah kegaiban, yang paling terkenal diantaranya adalah kitab Ghaibat Nu'mani dan kitab Ghaibat Syekh Thusi.

Epistemologi Kegaiban

Kepercayaan pada kegaiban Imam kedua belas adalah salah satu keyakinan eksklusif Syiah, kebalikan dari Ahlusunnah. Dalam kepercayaan Syiah, kegaiban mengacu pada kehidupan tertutup Imam Mahdi as, Imam Syiah ke-12.[1] Kaum Syiah meyakini bahwa Imam Mahdi as akan hidup dalam kegaiban atas perintah Allah swt sampai waktu kemunculannya yang waktunya tidak diketahui.[2]

Bagaimana Kegaiban Ada beberapa penjelasan karakteristik kegaiban Imam Mahdi as diantaranya:

  • Tersembunyi seluruh fisik: Fisik Imam Mahdi as tersembunyi dari pandangan kasat mata orang-orang dan penyembunyian ini terjadi melalui mukjizat.[3] Menurut pandangan ini, Imam Mahdi as melihat orang-orang, akan tetapi orang-orang tidak mampu melihatnya. Menurut Sayid Muhammad Shadr, pendapat ini adalah pendapat paling sederhana yang dapat diterima terkait disembunyikannya Imam dari kaum zalim dan penindas.[4] Syahid Shadr juga menilai[5] konsep di atas seragam dengan makna gaib secara literal dan sesuai dengan hadis yang menyamakan Imam Mahdi as dengan matahari di balik awan saat kegaiban.[6]
  • Tersembunyi karakteristik dan sosok: Menurut Sayid Reza Shadr, yang dimaksud dengan kegaiban Imam Keduabelas bukanlah bersembunyi di gunung, gua, atau tempat lain, melainkan sosok dan karakteristiknya tidak diketahui orang.[7]
  • Tersembunyi fisik dan karakteristik: Dalam beberapa kasus, fisik Imam ke-12 tersembunyi dari mata orang-orang, dan dalam beberapa kasus fisiknya terlihat oleh orang-orang, namun tidak dikenali. Lutfullah Shafi Gulpeighani, salah satu Marja besar Syi'ah meyakini bahwa berdasarkan hadits dan kisah orang-orang yang bertemu dengan Imam Mahdi, dapat disimpulkan bahwa kegaiban terjadi dalam dua bentuk (fisik dan anonimitas), namun terkadang kedua bentuk tersebut terjadi bersamaan.[8]

Kegaiban Sughra dan Kubra

Kegaiban Imam Mahdi as terbagi dalam dua periode; Periode jangka pendek yang dinamai dengan kegaiban sughra dan periode jangka panjang yang disebut dengan kegaiban kubra. Sheikh Mufid menyebutkan dua kegaiban ini sebagai kegaiban kusra yaitu pendek dan kegaiban thula yang bermakna panjang.[9] Imam al-Zaman as dalam sebuah surat yang ia tulis kepada wakil terakhirnya, Ali bin Muhammad Samari, enam hari sebelum kematiannya, menyebutkan bahwa kegaiban kubra sebagai kegaiban tammah ( kegaiban sempurna) dan itu adalah kegaiban yang setelahnya Imam tidak akan pernah terlihat kembali hingga mendapatkan izin Allah swt.[10]

Kegaiban Shugra

Kegaiban sughra adalah periode pertama dari kehidupan tersembunyi dan rahasia Imam kedua belas, yang berakhir pada tahun 329 H. Periode ini berlangsung selama 69 atau 74 tahun, tergantung perselisihan tentang waktu permulaannya. Sekelompok ulama Syiah seperti Syekh Mufid (wafat 413 H) dalam kitab Al-Irshad[11] dan Thabarsi (meninggal tahun 548 H.) dalam kitab I’lam Al-Wara menganggap durasi kegaiban kecil adalah 74 tahun dan dimulai pada tahun 255 H. (tahun kelahiran Imam Mahdi as)[12] Adapun kelompok lain meyakini bahwa awal mula kegaiban Imam Mahdi as terjadi pada tahun 260 H, bertepatan dengan syahidnya Imam Hasan Askari as dan tahun awal keimamahan Imam Mahdi as yang berlangsung selama 69 tahun.[13]

Kegaiban Kubra

Kegaiban Kubra adalah periode kedua dari kehidupan tersembunyi dan rahasia Imam Mahdi as, yang dimulai pada tahun 329 H bersamaan dengan wafatnya Ali bin Muhammad Samari, wakil keempat Imam Mahdi as, dan akan terus berlanjut hingga kemunculannya. Selama periode ini, Imam Mahdi as tidak berinteraksi secara lahir dengan orang-orang Syiah, dan dia tidak menunjuk orang tertentu sebagai wakilnya. Namun, menurut kaum Syiah, pada periode ini perawi hadits dan ulama Syiah adalah wakil umum Imam as. Berdasarkan persetujuan dan legalitas Imam Mahdi as kepada Ishaq bin Yaqub, kaum Syiah harus merujuk kepada perawi hadits (ahli fikih) dalam isu-isu kontemporer.[14]

Namun, terjadi perbedaan pendapat tentang otoritas fakih selama periode kegaiban kubra.[15] Imam Khomeini bersandarkan legalitas Imam as, mengatakan bahwa selama periode kegaiban kubra, semua urusan masyarakat Islam diserahkan kepada para fukaha.[16]

Adapun perbedaan antara kegaiban sughra dan kegaiban kubra adalah kehadiran empat wakil sebagai perantara komunikasi yang bertanggung jawab untuk menyampaikan pesan-pesan Imam as selama kegaiban sughra, dan setelah ketiadaan mereka, komunikasi dengan Imam kedua belas dengan masyarakat umum terputus sama sekali.[17]

Situasi dan Kondisi Masyarakat Syiah Pada Awal Kegaiban

Pada masa Imam Hasan Askari as sangat masyhur dan populer bahwa masyarakat Syi'ah sedang menunggu kehadiran putranya untuk bangkit.[18] Oleh karena itu, antek-antek dinasti Abbasiyah melacak dan mencari putra Imam Askari as tersebut. Imam Hasan Askari as memperkenalkan putranya hanya kepada beberapa sahabat dekat dan kerabatnya saja,[19] oleh karena itu mayoritas masyarakat Syiah, ketika Imam Hasan Askari syahid, tidak banyak mengetahui keberadaan putra Imam Askari as tersebut.[20] Di sisi lain, karena keadaan politik, dalam surat wasiatnya, Imam Askari as hanya menyebutkan nama ibunya;Tentu hal ini setelah satu atau dua tahun gugurnya Imam Askari as menyebabkan sebagian orang Syiah percaya bahwa ibu Imam Hasan Askari as pada masa kegaiban adalah wakil dan pemikul kursi imamah.[21]

Setelah syahidnya Imam Askari as, beberapa sahabat Imam yang dipimpin oleh Utsman bin Said Amri (meninggal antara 260 - 267 H) mengumumkan kepada komunitas Syiah bahwa Imam Askari as meninggalkan seorang putra yang sekarang menjadi penggantinya dan bertanggung jawab atas segala urusan keimamahan.[22] Namun, saudara laki-laki Imam Askari, Ja'far, meskipun ibu Imam Askari as masih hidup, ia mengklaim sebagai pewaris dan suksesor Imam Askari as.[23] Ibu Imam Askari as dan bibinya, Hakimah mendukung kepemimpinan putra Imam Hasan Askari as, akan tetapi saudara perempuan Imam Askari as sebaliknya, mendukung Imamah saudaranya Ja'far.[24] Begitupula keluarga Naubakht secara resmi memperkenalkan Utsman bin Said dan putranya sebagai Wakil Imam Mahdi as.[25]

Tentu situasi dan kondisi seperti ini menyebabkan perpecahan ditubuh syiah sendiri.[26] Sebagian kelompok bergabung dengan sekte Syiah lainnya.[27] Kelompok lainnya tidak menerima kematian Imam Askari as dan menganggapnya Mahdi yang dinanti, sebagian yang lain menerima kepemimpinan Sayid Muhammad, putra Imam Hadi as dan mengingkari kepemimpinan dan imamah Imam Askari as,[28] Sebagian kelompok yang lain menjadikan Jafar Kazab sebagai Imam,[29] namun pada akhirnya mayoritas Syiah menerima kepemimpinan dan Imamah Imam Mahdi as yang mana kelak kelompok ini menjadi representasi asli gerakan Syiah Imamiyah.[30]

Falsafah Kegaiban

Menurut keyakinan para peneliti Syiah, rahasia dan penyebab kegaiban hingga kini masih misterius; Sebagaimana tertera dalam beberapa riwayat bahwa hikmah utama kegaiban Imam adalah salah satu rahasia Tuhan yang kelak akan terungkap setelah kemunculannya.[31] Namun demikian, beberapa hal mendapatkan afirmasi sebagaimana tertera di dalam hadits diantaranya:

  • Melindungi nyawa Imam Mahdi as[32]
  • Ujian bagi manusia[33] Dalam sebuah riwayat dari Imam Musa bin Jafar as disebutkan bahwa Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan kegaiban.[34] Menurut sebagian hadits, ujian pada masa-masa kegaiban adalah salah satu ujian yang paling berat.[35] Adapun maksud dari berat bisa dilihat dari dua sisi:
  • Kegaiban yang berkepanjangan menyebabkan orang-orang ragu hingga sekelompok orang meragukan kelahiran Imam Mahdi as dan sebagian lain meragukan umur panjang Imam Mahdi as.[36]
  • Ujian berat dan musibah tragis yang terjadi selama kegaiban, mengubah haluan masyarakat sehingga sangat sulit untuk mempertahankan iman dan istiqamah yang mana menjadikan iman mereka betul-betul di tepi jurang bahaya.[37]
  • Imam tidak berbaiat kepada siapapun pelaku tirani dan kezaliman hingga kemunculannya.[38] Menurut sebagian riwayat, Imam Zaman as tidak akan pernah mengakui pemerintahan tirani bahkan taqiyah sekalipun. Imam as tidak ditunjuk untuk bertaqiyah dan mengakui kekuasaan penguasa mana pun, beliau tidak akan pernah tunduk di bawah kekuasaan penindas mana pun, serta beliau as akan menegakkan perintah-perintah agama Allah swt sepenuhnya tanpa takut atau khawatir kepada apapun.[39]
  • Untuk mendidik manusia.[40]
  • Kurangnya suport, sokongan dan dukungan politik serta sosial bagi globalisasi Islam.

Masalah kegaiban sudah ada dari dulu dan terjadi pada sebagian nabi.[41] Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an sejumlah Nabi, seperti: Nabi Saleh, Yunus,[42] Musa,[43] Isa as dan Nabi Khidr as mereka tersembunyi dari mata publik karena alasan untuk menguji umat mereka. Dalam beberapa hadis, disebutkan bahwa kegaiban para nabi yang terjadi diantara pengikut mereka sebagai sunnah ilahi.[44]

Menurut Syekh Thusi, masyarakat juga berperan dalam kegaiban Imam. Ya, karena perbuatan mereka yang mengancam Imam, menciptakan tidak aman bagi Imam, dan tidak tunduk kepada Imam, mereka tentu berperan dan memiliki andil dalam mempersiapkan kegaiban Imam sehingga mereka terhalang dari keberadaan rahmat Imam dan berinteraksi dengannya.[45] Khajah Nashir al-Din Thusi, filosof dan teolog Syiah juga dalam bukunya, Tajrid al-I'tiqad, mengatakan bahwa kegaiban Imam as memiliki keterkaitan erat dengan peran masyarakat.[46]

Karya Tulis tentang Kegaiban

Banyak kitab telah ditulis berkenaan kegaiban Imam Mahdi as. Kitab-kitab seperti Al-Ghaibah yang ditulis oleh Nu’mani (ditulis pada tahun 342 H), Kamal al-Din yang ditulis oleh Syekh Shaduq (meninggal 381 H) dan Al-Ghaibah yang ditulis oleh Syekh Thusi termasuk di antara karya-karya klasik tentang tema ini.[47] Beberapa karya lain yang ditulis tentang hal ini diantaranya adalah:

  • Buku The Ocultation of the Twelfth Imam, A Historical Background oleh Jassim Hossein. Dalam buku ini, penulis melihat Mahdisme dengan perspektif sejarah, serta membahas peran para wakil imam di masa kegaiban sughra. Muhammad Taqi Ayatollahi menerjemahkannya ke dalam bahasa persia dengan judul Sejarah Politik kegaiban Imam ke-12.
  • Arba Risalat Fi al-Ghaibah: Karya Syeikh Mufid yang terdiri dari empat risalah berupa tanya jawab tentang Imam Mahdi as. Pada risalah keempat, membahas tentang falsafah dan alasan kegaiban Imam Mahdi as.
  • Al-Fusul al-Ashrah fi al-Ghaibah atau Al-Mashail al-Asyhr fi al-Ghaibah karya Syeikh Mufid adalah kitab yang menjawab sepuluh syubhat tentang kegaiban Imam Mahdi as.
  • Ensiklopedia Al-Imam al-Mahdi adalah koleksi empat jilid kitab tentang masalah Mahdisme, yang ditulis oleh Sayid Muhammad Shadr (meninggal 1377), salah satu ulama besar Syiah dari Irak. Jilid pertama kitab ini berjudul Tarikh al-Ghaibah al-Sughra dan jilid keduanya berjudul Tarikh al-Ghaibah al-Kubra. Adapun dua jilid lainnya terkait dengan periode setelah kegaiban.

Catatan Kaki

  1. Nu'mani, al-Ghaibah, hlm. 61; Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 164.
  2. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 340.
  3. Shafi Gulpaigani, Pasukh-e Dar Pursesy, hlm. 71; Shadr, Tārīkh al-Ghaibah al-Kubrā, hlm. 31-32.
  4. Shadr, Tārīkh al-Ghaibah al-Kubrā, hlm. 31-32.
  5. Shadr, Tārīkh al-Ghaibah al-Kubrā, hlm. 31-32.
  6. Sulaimiyan, Darsname-e Mahdawiyat, hlm. 39.
  7. Shadr, Rah-e Mahdi (af), hlm. 78.
  8. Shafi Gulpaigani, Pasukh-e Dah Pursesy, hlm. 70.
  9. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 340.
  10. Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 395.
  11. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 340.
  12. Thabrasi, I'lām al-Warā Bi A'lām al-Hudā, jld. 2, hlm. 259-260.
  13. Shadr, Tārīkh al-Ghaibah as-Shughrā, hlm. 339-342.
  14. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 484.
  15. Fadhil Lankarani, Masyru'iyyat Wa Zarurat-e Ejra-e Hudud-e Eslami Dar Zaman-e Gheibat, hlm. 10.
  16. Lihat: Imam Khomeini, Kitāb al-Bai', jld. 2, hlm. 635.
  17. Shadr, Tārīkh al-Ghaibah as-Shughrā, hlm. 341-345.
  18. Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 336.
  19. Husain, Tarikh-e Seasi-e Gheibat-e Emam-e Dawazdahum, hlm. 102.
  20. Naubakhti, Firaq as-Syī'ah, hlm. 105; Syekh Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 336.
  21. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 507.
  22. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, hlm. 92-93.
  23. Syekh Mufid, al-Irsyād, hlm. 345.
  24. Mudarrisi Thabathaba'i, Maktab Da Farayand-e Takamul, hlm. 161-162.
  25. Mudarrisi Thabathaba'i, Maktab Da Farayand-e Takamul, hlm. 162.
  26. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 426, 429, 487.
  27. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 408.
  28. Shaberi, Tarikh-e Firaq-e Eslami, jld. 2, hlm. 197, cat. 2.
  29. Naubakhti, Firaq as-Syī'ah, hlm. 107-109; Asy'ari Qummi, al-Maqālāt Wa al-Firaq, hlm. 110-114; Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 408.
  30. Sayyid Murtadha, al-Fushūl al-Mukhtārah, hlm. 321.
  31. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 282.
  32. Nu'mani, al-Ghaibah, hlm. 177; Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 334.
  33. Nu'mani, al-Ghaibah, hlm. 205; Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 339.
  34. Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 204.
  35. Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 203-207.
  36. Faidh Kasyani, Fashl 1, bab. 8, hlm. 101.
  37. Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 202.
  38. Nu'mani, al-Ghaibah, hlm. 171, 191; Syekh Thusi, al-Ghaibah, hlm. 292.
  39. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 2, hlm. 480.
  40. Nu'mani, al-Ghaibah, hlm. 141.
  41. Sulaimiyan, Darsname-e Mahdawiyat, hlm. 41.
  42. QS. Al-Anbiyā':87.
  43. QS. Al-Baqarah:51.
  44. Syekh Shaduq, Kamāl ad-Dīn, jld. 1, hlm. 323.
  45. Syekh Thusi, al-Ghaibah, jld. 1, hlm. 7.
  46. Thusi, Tajarīd al-I'tiqād, hlm. 221.
  47. Thabathaba'i, Tarikh-e Hadits-e Syi'e, hlm. 38-39.

Daftar Pustaka

  • Asy'ari Qummi, Sa'd bin Abdullah. Al-Maqālāt Wa al-Firaq. Riset Muhammad Jawad Masykur. Tehran: Entesyarat-e Elmi Wa Farhanggi, 1361 HS/1982.
  • Fadhil Lankarani, Muhammad Jawad. Masyru'iyat Wa Zarurat-e Ehya-e Hudud-e Eslami Dar Zaman-e Gheibat. Qom: Markaz-e Feqhi-e A'emme-e Athhar, 1430 H.
  • Husain, Jasim. Tarikh-e Seyasi-e Gheibat-e Emam-e Dawazdahum. Penerjemah Sayyid Muhammad Taqi Ayatullahi. Tehran: Amir Kabir, 1377 HS/1998.
  • Imam Khomeini, Ruhullah. Kitāb al-Bai'. Qom: Entesyarat-e Esma'iliayan, 1363 HS/1984.
  • Mudarrisi Thabathaba'i, Sayyid Husain. Maktab Dar Farayand-e Takamul: Nazari Bar Tathawwur-e Mabani-e Fekri-e Tasyayyu' Dar Se Qarn-e Nukhustin. Penerjemah Hasyim Izad Panah. Tehran: Kavir, 1388 HS/2009.
  • Nubakhti, Hasan bin Musa. Firaq as-Syī'ah. Editor Muhammad Shadiq Āl Bahrul Ulum. Najaf: Perpustakaan al-Murtadhawiyah, 1355 H.
  • Nu'mani, Muhammad bin Ibrahim. Al-Ghaibah. Tehran: Nasyr-e Shaduq, 1397 H.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. Al-Fushūl al-Mukhtārah Min al-'Uyūn Wa al-Mahāsin. Qom: Al-Mu'tamar al-'Alami Li Alfiyah as-Syekh al-Mufid, 1413 H.
  • Shabiri, Husein. Tarikh-e Firaq-e Eslami. Tehran: Sazman-e Muthale'e Wa Tadwin-e Kutub-e Ulum-e Ensani-e Danesygaha, 1390 HS/2011.
  • Shadr, Sayyid Muhammad. Tārīkh al-Ghaibah al-Kubrā. Kumpulan dari Mausū'ah al-Imām al-Mahdī (Jilid 2). Beirut: Dar at-Ta'aruf, 1412 H.
  • Shadr, Sayyid Muhammad. Tārīkh al-Ghaibah as-Shughrā. Beirut: Dar at-Ta'aruf, 1412 H.
  • Shadr, Sayyid Ridha. Rah-e Mahdi (af). Oleh Sayyid Baqir Khusru Syahi. Qom: Bustan-e Ketab, 1378 HS/1999.
  • Shafi Gulpaigani, Luthfullah. Pasukh-e Dah Pursesy. Qom: Yayasan Entesyarat-e Hazrat-e Ma'shume, 1417 H.
  • Sulaimiyan, Khuda Murad. Darsname-e Mahdawiyat (2): Hazrat-e Mahdi Wa Dauran-e Gheibat. Qom: Bunyad-e Farhanggi-e Hazarat-e Mahdi-e Mau'ud, 1388 HS/2009.
  • Syekh Mufid, Muhammad bin Muhammad bin Nu'man. Al-Irsyād Fī Ma'rifah Hujaj Allāh 'Alā al-'Ibād. Qom: Muhibbin, 1426 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Kamāl ad-Dīn Wa Tamām an-Ni'mah. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1395 H.
  • Syekh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Ghaibah. Riset Ibadullah Tehrani Wa Ali Ahmad Nashih. Qom: Dar al-Ma'arif al-Islamiyyah, 1411 H.
  • Thabathaba'i, Sayyid Muhammad Kazhim. Tarikh-e Hadits-e Syi'e: Ashr-e Gheibat. Qom: Dar al-Hadits, 1395 HS/2016.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. I'lām al-Warā Bi A'lām al-Hudā. Qom: Yayasan Āl al-Bait Li Ihya' at-Turats, 1417 H.
  • Thusi, Khaje Nashiruddin. Tajrī al-I'tiqād. Editor Muhammad Jawad Huseini Jalali. Tehran: Maktab al-I'lam al-Islami, 1407 H.