tanpa foto
tanpa infobox
tanpa alih

Ayat Siqayat Al-Haj

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Ayat Siqayat al-Haji (bahasa Arab: آية سقاية الحاج) (QS. At-Taubah: 19) menjelaskan lebih baiknya iman kepada Allah, hari kaimat dan jihad di jalan Allah daripada memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram. Ulama meyakini sebab turunnya ayat saat Abbas bin Abdul Muththalib bangga menjamu para peziarah Masjid al-Haram, dan Syaibah bin Usman bangga menjadi juru kunci Kakbah. Imam Ali as meyakini kebanggaan dirinya akan keimanan kepada Allah dan hari kiamat serta jihad di jalan Allah, lebih baik daripada kebanggan mereka. Ayat di atas turun mendukung pandangan Imam Ali as. Sebagian peneliti meyakini ayat ini sebagai dalil atas lebih utamanya Imam Ali as atas sahabat yang lain. Mereka menyimpulkan keunggulan Imam terletak pada kepemimpinan dan khilafah setelah Nabi saw. Imam Ali as dalam syura enam orang juga berdalil dengan ayat ini dalam menetapkan kelebih utamaan dirinya. Imam Hasan as juga dalam perdamaian dengan Muawiyah mengisyaratkan keutamaan Imam Ali as sesuai ayat ini.

Pengenalan, Teks dan Terjemahan

Ayat sembilan belas surah At-Taubah dinamakan Ayat Siqayat al-Haj.[1][Note 1] Dalam ayat ini, memberi minum para pelaksana haji dan juru kunci serta menjaga Masjid al-Haram dihadapkan dengan beriman kepada Allah, hari kiamat dan jihad di jalan Allah[2] dan menyalahkan orang-orang yang menganggap memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji (siqayat) dan menjadi juru kunci Masjid al-Haram lebih utama daripada iman kepada Allah, hari kiamat dan jihad di jalan Allah.[3] Jabatan Siqayat al-Haj bersama juru kunci Kakbah dihitung sebagai jabatan terpenting sebelum Islam[4] dan termasuk dari perbuatan para pembesar Mekah[5] dan dipegang oleh Bani Hasyim[6] serta dikoordinasi oleh Abbas bin Abdul Muththalib[7] Dua perbuatan ini mendapatkan pengesahan setelah Islam datang.[8]

أَجَعَلْتُمْ سِقایةَ الْحاجِّ وَ عِمارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرامِ کمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَ الْیوْمِ الْآخِرِ وَ جاهَدَ فی سَبیلِ اللَّهِ لا یسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَ اللَّهُ لا یهْدِی الْقَوْمَ الظَّالِمین﴿۱۹﴾

"Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zalim."

Sebab Turunnya Ayat

Sebab turunnya ayat Siqayat al-Haj diyakini mengacu pada percakapan Imam Ali as dengan Abbas bin Abdul Muththalib dan Syaibah bin Usman. Tatkala mereka saling membanggakan diri dan masing-masing memegang jabatan, mereka berbangga-bangga. Abbas berbangga dari penjamuan para peziarah dan Syaibah bin Usman atau Thalhah bin Syaibah berbangga dengan kejurukuncian dan penjagaan Kakbah. Akhirnya Imam Ali as dijadikan juri dan diminta supaya menilai mengenai kelebih utamaan salah satu dari dua jabatan. Imam Ali as dengan menolak kelebihutamaan mereka, menegaskan bahwa kebanggan dirinya, yaitu iman kepada Allah, hari kiamat dan jihad di jalan Allah yang menjadi faktor keberimanan seperti dua orang ini, lebih baik. Setelah beberapa waktu, Nabi Muhammad saw mengetahaui kejadian tersebut dan turunlah ayat di atas mendukung pandangan Ali as.[9]

Sabab nuzul ini tercatat dalam laporan-laporan yang banyak dengan sedikit perbedaan.[10] Sebagian peneliti mengklaim syuhrat atasnya[11] dan percaya ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali as[12] dan hal itu dianggap keutamaan khususnya.[13] Dalam hadis yang dinukil dari Imam Hasan as,[14] Imam Shadiq as,[15] Abdullah bin Abbas dan yang lain[16] ditegaskan pula bahwa sebab turunnya ayat berkenaan dengan Imam Ali as.

Sebagian peneliti meyakini bahwa ayat Siqayat al-Haj bukan sekedar menjelaskan kaidah umum, dan mengabarkan satu kejadian di zaman kenabian dan memiliki sebab turun khusus; [17] namun sebagian lagi dengan memperhatikan sebab turunnya berkenaan dengan kedudukan Ali as, meyakini pesan ayat universal dan dapat mencakupi personal-personal lain.[18] Disebutkan kemungkinan-kemungkinan lain[19]mengenai sebab turunnya ayat di buku-buku Syiah dan Ahlusunnah.[20]

Refleksi Dalam Sumber Referensi

Banyak dari ulama dan para pembesar menukil sebab turunnya ayat berkenaan dengan Imam Ali as.[21] Furat bin Ibrahim Kufi (w. 352),[22] dan Fadhl bin Hasan Thabrisi (w. 548 H)[23] dari mufasir Syiah dan juga Fakhrurrazi (606 H),[24] Hakim Haskani (w. 490 H),[25] Muhammad bin Jarir Thabari (w. 310 H),[26] Ahmad bin Muhammad Qurthubi (w. 761 H),[27] Abdurrahman Suyuthi (w. 911 H)[28] dan Ibnu Abi Hatim (w. 327 H)[29] dari mufasir Ahlusunnah mengisyaratkan sebab turunnya ayat ini berkenaan dengan Imam Ali as. Dalam buku Ihqaq al-Haq disinggung lebih dari 15 kitab tafsir Ahlusunnah yang menyebutkan sebab turun ini dan mengutip hadis-hadis mereka;[30] Sebagaimana Allamah Amini di dalam al-Ghadir menyebutkan banyak ulama Ahlusunnah yang menukil sebab turun ini.[31]

Dalam kitab-kitab hadis juga disinggung sebab turun ini.[32] Dalam kitab Shahih Muslim dimuat sebab turun ini tanpa menyebut nama seseorang dan mencatat kejadian ini dengan hanya menggunakan kata "seorang laki-laki";[33] Namun sebagian lain dari ulama Ahlusunnah selain menyinggung hadis ini, juga menyebut hadis-hadis lain yang menyebut nama seseorang.[34] Meskipun demikian, Ibnu Katsir dari ulama Ahlusunnah mengingkari sebab turunnya ayat ini mengenai keutamaan Imam Ali as.[35] Demikian juga Ibnu Taimiyah meyakini bahwa hadis ini tidak dikutip di dalam kitab-kitab hadis muktabar.[36]

Validitas

Ulama Syiah sepakat bahwa ayat Siqayat al-Haj turun berkenaan dengan Imam Ali as.[37] Menurut pernyataan Sayid Ali Milani, teolog kontemporer, sanad dari sebab turunnya ayat adalah akurat dan sumbernya termasuk dari sumber yang paling terpercaya dalam ilmu hadis dan tafsir dan dinukil dari berbagai jalan.[38] Sebagian penulis berkeyakinan, dengan memperhatikan refleksi sebab nuzul yang disebutkan di kitab-kitab tafsir, maka tidak ada keraguan mengenai kebenarannya.[39] Penulis kitab Ihqaq al-Haq memandang sebab nuzul ini shahih, ia berkata: Dalam hal ini tidak ada perbedaan.[40]

Perseteruan Orang-Orang Mukmin dengan Orang-Orang Kafir

Sebagian peneliti meyakini bahwa ayat Siqayat al-Haj turun di Madinah dan setelah Abbas bin Abdul Muththalib masuk Islam. Karena itu, perseteruan ini terjadi diantara dua kelompok orang-orang mukmin;[41] Namun sebagian lagi meyakini waktu turunnya ayat sebelum Abbas beriman[42] dan perseteruan ini terjadi diantara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir;[43] sebagaimana dalam satu hadis dinyatakan bahwa Abbas menolak tawaran Imam Ali as untuk hijrah dan menganggap pekerjaan siqayat lebih baik[44] dan atau saat Abbas ditawan pada perang Badar, berkata, jika kalian lebih dahulu memeluk Islam daripada kami, maka kami lebih dahulu menjadi penjamu para peziarah dan pemakmur Kakbah daripada kalian.[45] Dalam sebagian kecil laporan juga diyakini bahwa perseteruan ini terjadi diantara kelompok kaum muslimin dan kaum Yahudi yang mengklaim bahwa profesi menjamu para peziarah dan juru kunci masjid lebih baik daripada iman kepada Tuhan dan jihad.[46]

Menurut pernyataan Syaikh Thusi, dalam ayat ini Allah berbicara kepada sekelompok orang kafir yang sibuk bekerja sebagai penjamu para pelaku haji dan pemakmur Masjid al-Haram dan memandang bahwa profesi ini sama atau lebih baik daripada iman dan jihad, bahwa pekerjaan ini tidak sama dengan iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya.[47] Karena itu disimpulkan dari ayat siqayat al-Haj bahwa tidak ada satu perbuatan pun yang bernilai tanpa iman, meskipun perbuatan itu dari perbuatan baik.[48]

Argumentasi

Imam Ali as dalam syura enam orang yang dibentuk untuk menentukan khalifah paska kematian khalifah kedua, bersandar kepada sebab turunnya ayat ini yang berkenaan dengan dirinya untuk menetapkan kelayakan dan elektabilitas dirinya terhadap kekhalifahan.[49] Begitu juga saat beliau menjawab pertanyaan apa keutamaannya yang paling baik, mengisyaratkan ayat ini. [50]

Imam Hasan as dalam perdamaian dengan Muawiyah dalam satu pidato menyinggung keutamaan ayahandanya dengan menunjuk ayat ini.[51] Demikian juga Makmun Abbasi dalam satu surat kepada Bani Hasyim yang di dalamnya memuji dan menyanjug Imam Ali as dan keunggulan beliau atas Abbas bin Abdul Muththalib, bersandar pada ayat ini.[52]Kisah pembanggaan diri dan turunnya ayat dibuat dalam bentuk bait-bait syair oleh beberapa penyair seperti Sayid Himyari, al-Nasyi, al-Basynawi.[53]

Petunjuk atas Kepenggatian Imam Ali as

Sebagian peneliti berkeyakinan bahwa ayat siqayat al-Haj turun berkenaan dengan penjelasan keutamaan Imam Ali as[54] dan menunjukkan keunggulan Imam as atas sahabat yang lain[55] serta menetapkan elektabilitas Imam Ali as dalam kepemimpinan dan kekhalifahan setelah Nabi saw.[56] Dikatakan juga, petunjuk ayat ini atas kepemimpinan Imam Ali as sangat jelas.[57] Sebab telah disepakati oleh semua bahwa Imam Ali as lebih baik dari semua sahabat dalam iman, hijrah dan jihad.[58]

Makarim Syirazi, mufasir Syaih, meyakini bahwa dengan memperhatikan keutamaan lebih dahulu dalam iman dan jihad Imam Ali as atas orang lain, kalau Allah hendak memilih seorang pengganti untuk Nabi saw, maka Dia mendahulukan yang paling utama daripada tidak utama dan yang utama. Sebab Allah Maha Bijaksana, dan mendahulukan yang tidak utama dan yang utama atas yang paling utama bertentangan dengan kebijaksanaan. Dan jika masalah kekhalifahan adalah pilihan, maka kaum berakal dengan adanya yang paling utama, tidak akan memilih yang tidak utama dan yang utama.[59]

Catatan Kaki

  1. Makarim Syirazi, Āyāt al-Wilayah fi al-Quran, hlm. 229
  2. Thabathabai, al-Mizan, jld. 9, hh. 203-205
  3. Thabari, Jāmi' al-Bayan, jld. 10, hlm. 67; Qurthubi, al-jāmi' li Ahkām al-Quran, jld. 8, hlm. 92, Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 323
  4. Lihat Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 323
  5. Askari, Ma'ālim al-Madrasatain, jld. 1, hlm. 201
  6. Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Quran, jld. 11, hlm. 57
  7. Zirikli, al-Alam, jld. 3, hlm. 264; Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajiz, jld. 3, hlm. 170
  8. Yaqubi, Tarikh Yaqubi, jld. 2, hlm. 60; Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 61; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 364
  9. Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, hh. 165-166; Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Quran, jld. 8, hlm. 91; Husaini Astarabadi, Takwil al-Ayat al-Zhahirah, hlm. 206
  10. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Quran, jld. 11, hlm. 55
  11. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 322
  12. Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, hh. 165-169
  13. Makarim Syirazi, Āyāt al-Wilayah fi al-Quran, hlm. 209
  14. Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, hlm. 170
  15. Qummi, Tafsir Qummi, jld. 1, hlm. 284; Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, jld. 2, hlm. 195
  16. Suyuthi, al-Dur al-Mantsur, jld. 3, hlm. 220
  17. Makarim Syirazi, Āyāt al-Wilayah fi al-Quran, hh. 229-320
  18. Fadhlullah, Tafsir min Wahy al-Quran, jld. 11, hlm. 55
  19. Contonya lihat: Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-wajiz, jld. 3, hlm. 17; Tsaalabi, Jawāhir al-Hasanāt, jld. 3, hlm. 170
  20. Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 321
  21. Allamah Amini, al-Ghadir, jld. 2, hh. 94-96
  22. Contohnya silakan lihat: Furat Kufi, Tafsir Furat Kufi, hlm. 166
  23. Thabrisi, Majma' al-Bayan, jld. 5, hlm. 24
  24. Fakhrurrazi, Mafātih al-Ghaib, jld. 16, hlm. 13
  25. Hakim Haskani, Syawāhid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 323
  26. Thabari, Jāmi' al-Bayan, jld. 1, hh.67-68
  27. Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Quran, jld.8, hh. 91-92
  28. Suyuthi, al-Dur al-Mantsur, jld. 3, hlm. 220
  29. Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Quran al-'Azhim, jld. 4, hlm. 108
  30. Syusytari, Ihqāq al-Haq, jld. 14, hh. 194-199
  31. al-Ghadir, jld. 2, hh. 93-96
  32. Contohnya lihat: Kulaini, al-Kafi, jld. 8, hlm. 204; Ibnu Hayyun, Da'āim al-Islam, jld. 1, hlm. 19; Syarh al-Akhbār, jld. 1, hlm.324; Syaikh Thusi, al-Amali, hlm. 545
  33. Muslim, Shahih Muslim, jld. 3, hlm. 499
  34. Sebagai contoh silakan lihat: Thabari, Jāmi' al-Bayan, jld. 10, hlm. 68; Tsa'labi, al-Kasyf wa al-Bayan, jld. 5, hh. 10-21
  35. Ibnu Katsir, al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 7, hlm. 358
  36. Ibnu Taimiyah, Minhāj al-Sunnah, jld. 5, hlm. 18
  37. Astrabadi, al-Barāhin al-Qāthi'ah, jld. 3, hlm. 260; Muqaddas Ardabili, Hadiqat al-Syiah, jld. 1, hlm. 94
  38. Milani, Syarh Minhāj al-Karāmah, jld. 2, hlm. 276
  39. Muzhaffar, Dalāil al-Shidq, jld. 5, hlm. 26; Makarim Syirazi, Āyāt al-Wilayah, hlm. 232
  40. Syusytari, Ihqāq al-Haq, jld. 3, hlm. 122
  41. Thabathabai, al-Mizan, jld. 9, hlm. 203-205
  42. Muqaddas Ardabili, Hadiqat al-Syiah, jld. 1, hlm. 95
  43. Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Quran, jld. 8, hlm. 92
  44. Haskani, Syawāhid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 323: Ibnu Juazi, Zād al-Masir, jld. 2, hlm. 244
  45. Thabari, Jāmi' al-Bayan, jld. 10, hlm. 219; Syaikh Thusi, al-Tibyan, jld. 5, hlm. 191; Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Quran al-Azim, jld. 4, hlm. 108
  46. Qurthubi, al-Jāmi' li Ahkām al-Quran, jld. 8, hlm. 92; Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajiz, jld. 3, hlm. 17
  47. Syaikh Thusi, al-Tibyan, jld. 5, hlm. 191
  48. Qiraati, Tafsir Nur, jld. 3, hlm. 394
  49. Syaikh Thusi, al-Amali, hlm. 550; Dailami, Irsyād al-Qulub, jld. 2, hlm. 261; Thabari, al-Mustarsyid, hlm. 352; Thabrisi, al-Ihtijāj, jld. 1, jlm. 140
  50. Ibnu Hayyun, Da'āim al-Islam, jld. 1, hlm. 16; Ayyasyi, Tafsir al-Ayyasyi, jld. 2, hlm. 83
  51. Hilali, Kitab Sulaim bin Qais, jld. 2, hlm. 960; Syaikh Thusi, al-Amali, hlm. 561-563; Haskani, Syawahid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 336
  52. Allamah Majlisi, Zendegani-e Hazrat-e Imam Ridha as, hlm. 202-205
  53. Allamah Amini, al-Ghadir, jld. 2, hlm. 96
  54. Allamah Hilli, Minhāj al-Karamah, hlm. 85; Tim Penulis, Fi Rihab Ahlilbait, jld. 22, hlm. 18
  55. Milani, Syarh Minhāj al-Karamah, jld. 2, hlm. 276
  56. Syusytari, Ihqaq al-Haq, jld. 3, hlm. 128; Muqaddas Ardabili, Hadiqat al-Syiah, jld. 1, hlm. 95; Milani, Syarh Minhaj al-Karamah, jld. 2, hlm. 286; Mkarim Syirazi, Āyāt al-Wilayah fi al-Quran, hlm. 229
  57. Sayid bin Thawus, al-Tharāif, jld. 1, hlm. 51; Milani, Syarh Minhāj al-Karamah, jld. 2, hlm. 273
  58. Muzhaffar, Dalāil al-Shidq, jld. 5, hlm. 27; Allamah Majlisi, Haqq al-Yaqin, hlm. 84
  59. Makarim Syirazi, ‘’Ayat al-Wilayah fi al-Quran’’, hlm. 234
  1. Siqāyat bermakna tempat minum air dan atau wadah air (Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, jld. 14, hlm. 392) dan atau alat dan wadah yang dengannya mereka memberi air; (Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jld. 7, hlm. 323) sebagaimana ia dikatakan juga untuk alat menimba air dan atau tempat di mana sumur air berada di sana;(Thabrisi, Majma' al-Bayan, jld. 5, hlm. 24) Adapun siqayat dalam ayat ini bermakna masdar, yakni memberi air; (Thabathabai, al-Mizan, jld. 9, hh. 203-205) Oleh sebab itu, arti Siqāyat al-Hāj adalah memberi minum para pelaksana haji.(Ibnu Manzhurz Lisan al-Arab, jld. 14, hlm. 392)

Daftar Pustaka

  • Allamah Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir. Qom; Markaz al-Ghadir, 1412 H.
  • Allamah Hilli, Hasan bin Yusuf. Minhāj al-Karamah fi Makrifat al-Imamah. Masyhad: Muassasah Asyura', 1379 HS.
  • Allamah Majlisi, Muhammad Baqir. Zendegani Hazrat-e Ali bin Musa al-Ridha as. Terjemahan Musa Khusrawi. Teheran: Instisyarat Islamiyah, 1380 HS.
  • Askari, Sayid Murtadha. Ma'ālim al-Madrasatain. Teheran: Muassasah al-Bi'tsah,cet. IV, 1412 H.
  • Astarabadi, Muhammas Jakfar. Al-Barāhin al-Qāthi'ah di Syarh Tajrid al-Aqāid al-Sāthi'ah. Qom: Maktabah al-A'lam.al-Islami, 1382 HS.
  • Ayyasyi, Muhammad bin Masud. Kitab al-Tafsir. Riset Hasim Rasuli Teheran: Maktabah al-Imiyah al-Islamiyah, 1380 HS.
  • Bahrani, Hasyim bin Sulaiman. Al-Burhān fi Tafsir al-Quran. Riset Qism al-Dirasat alzIslamiyah Muassasah al-Bi'tsah. Teheran: Bonyad-e Bi'tsat, 1416 H.
  • Dailami, Hasan bin Muhammad. Irsyād al-Qulub ila al-Shawab. Qom: alzSyarif al-Radhi, 1412 H.
  • Fadhlullah Sayid Muhammad Husain. Tafsir min Wahy al-Quran. Beirut: Dar al-Mallak li al-Thaba'ah wa al-Nasyr, cet. II, 1419 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. Al-Tafsir al-Kabir (Mafātih al-Ghaib). Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. III, 1420 H.
  • Furat Kufi, Furat bin Ibrahim. Tafsir Furat al-Kufi. Riset Muhammad Kazhim Mahmudi. Teheran: Sazman Chab va Intisharat-e Wizarat-e Irsyad-e Islami, 1410 H.
  • Haskani, Ubaidullah bin Abdullah. Syawāhid al-Tanzil li Qawā'id al-Tafdhil. Riset Muhammad Baqir Mahmudi. Teheran: Wizarat-e Farhang va Irshad-e Islami, 1411 H.
  • Hilali, Sulain bin Qais. Kitab Sulaim bin Qais al-Hilali. Qom: Al-Hadi, 1405 H.
  • Husaini Astarabadi Sayid Syarafuddin Ali. Takwil al-Āyāt al-Zhāhirah. Riset Ustad Wali. Qom: Daftar-e Intisyarat-e Islami. Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom: 1409 H.
  • Huwaizi, Abdu Ali bon Jumah. Tafsir Nur al-Tsaqalain. Qom: Ismaliyan cet. IV, 1415 H.
  • Ibnu Athiyah, Abdulhaq bin Ghalib. Al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Quran al-Aziz. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1422 H.
  • Ibnu Hayyun, Nukman bin Muhammad. Da'āim al-Islam wa Dzikr al-Halal wa al-Haram wa al-Qadhaya wa al-Ahkam. Qom: Muassasah Al al-Bait as, cet. II, 1385 H.
  • Ibnu Hayyun, Nukman bin Muhammad. Syarh al-Akhbār fi Fadhāil al-Aimmah al-Athhār Alaihimussalam. Qom: Jamiah mudarrisin, 1409 H.
  • Ibnu Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Zād al-Masir fi Ilm al-Tafsir. Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1422 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Al-Bidāyah wa al-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Quran al-Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1419 H.
  • Ibnu Abi Hatim, Abdurrahman bin Muhammad. Tafsir al-Quran. Riset As'ad Muhammad al-Thayyib. Saudi Arabia: Maktabah Nizar Musthafa Al Baz, cet. III, 1419H
  • Ibnu Taimiyah Harrani, Ahmad bin Abdul Halim. Minhāj al-Sunnah al-Nabawiyah fi Naqd Kalam al-Syiah al-Qadariyah. Riset Muhammad Rasyad Salim. Jamia'ah al-Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah, 1406 H.
  • Jakfari Yaqub. Tafsir Nur Kautsar. Qom: Hijrat, tth.
  • Kulaini, Muhammad binYaqub. Al-Kafi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. IV, 1407 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Āyāt al-Wilayah fi al-Quran. Qom: Muassasah al-Imam Ali bin Abi Thalib ad 1383 H.
  • Makarim Syirazi, Nashir. Tafsir Nemuneh. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. X, 1371 HS.
  • Milani, Sayid Ali. Syarh Minhaj al-Karamah. Qom: Markaz al-Haqaiq al-Islamiyah, 1386 HS.
  • Muqaddas Ardabili, Ahmad bin Muhammad. Hadiqat al-Syiah. Qom: Inyisyarat Anshariyan, cet. III, 1383 HS.
  • Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Riset: Muhamamd Fuad Abdul Baqi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tth.
  • Muzhaffar, Muhammad Husain. Dalāil al-Shidq. Qom: Muassasah Al al-Bait, 1422 H.
  • Qiraati, Muhsin. Tafsir Nur. Teheran: Markaz-e Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 HS.
  • Qummi, Ali bin Ibrahim. Tafsir al-Qummi. Qom: Dar al-Kitab, cet. III, 1363 HS.
  • Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. Al-Jāmi' li Ahkām al-Quran. Riset Ahmad al-Barduni dan Ibrahim Athfisy. Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, cet. II, 1384 H.
  • Suyuthi, Abdurrahman bin Abi Bakar. Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma'tsur. Qom: Ketabkhaneh Umumi Ayatullah al-Uzhma Marasyi Najafi- 1404 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Amali. Qom: Dar al-Tsaqafah, 1414 H.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Tibyan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tth.
  • Syusytari, Qadhi Nurullah. Ihqaq al-Haq wa Izhaq al-Bathil. Qom: Maktabah Ayatullah al-Marasyi al-Najafi, 1409 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Al-Mustarsyi fi Imamat Amir al-Mukminin. Qom: Muassasah al-Washif, 1415 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar al-Makrifah, 1412 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, 1387 H.
  • Thabathabai, Sayid Muhammad Husain. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Muassasah alzA'lami li al-Mathbuat, cet. II, 1403 H.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Majma' al-Bayan fi Tafsir al-Quran. Teheran: Nashie Khasru, cet. III, 1372 HS.
  • Tim Penulis. Fi Rihāb Ahlibait. Qom: al-Majma al-Alami li Ahlilbait as, cet. II, 1426 H.
  • Tsa'alibi, Abdurrahman bin Muhammad. Tafsir al-Tsa'alibi al-Musamma bi al-Jahāhir al-Hassan fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1418 H.
  • Tsa'labi, Ahmad bin Muhammad. Al-Kasyf wa al-Bayan al-Ma'ruf bi Tafsir al-Tsa'labi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1422 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Yaqub. Tarikh Yaqubi. Beirut: Dar Shadir, tth.
  • Zirikli, Khairuddin. Al-A'lam. Beirut: Dar al-Ilm li al-Malayin, cet. VIII, 1989 M.