Prioritas: c, Kualitas: b
tanpa foto
tanpa infobox

Saluni Qabla an Tafqiduni

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Saluni Qabla an Tafqiduni (bahasa Arab: سَلُونِی قَبْلَ‏ أَنْ‏ تَفْقِدُونِی) (artinya: bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku) adalah ungkapan Imam Ali as yang menunjukkan keluasan ilmunya. Berdasarkan sumber referensi Syiah dan Ahlusunnah, Imam Ali as berulang kali menyampaikan perkataan ini. Di antaranya dalam satu pidato yang direaksi oleh Sa'ad bin Abi Waqqash dan ia bertanya kepada Imam Ali as berapa helai rambut dan jenggotnya?

Dalam jawabannya, Imam Ali as berkata, di kepalamu tiada rambut tumbuh kecuali di akarnya ditempati setan. Beliau juga mengabarkan tentang kemartiran Imam Husain as, putranya, di tangan Umar bin Sa'ad.

Ungkapan "bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" diyakini sebagai salah satu keutamaan khusus Imam Ali as dan dalil atas keunggulannya atas sahabat Nabi yang lain.

Pengenalan Global

«سَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" adalah satu kalimat dari Imam Ali as.[1] Berdasarkan riwayat yang dikutip di dalam Yanabi' al-Mawaddah, Ali bin Abi Thalib berkali-kali menyampaikan kalimat ini.[2] Di antaranya, setelah masyarakat membaiat beliau sebagai khalifah, beliau menyampaikannya dalam satu pidato kepada warga Kufah[3] dan juga menyampaikannya kepada sekelompok sahabat-sahabatnya di antara jeda waktu perang Shiffin dan Nahrawan.[4]

Kandungan kalimat ini dikutip juga dengan redaksi-redaksi berikut: «فَاسْأَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Maka bertanyalah kalian kepadaku sebelum kalian kehilangan aku",[5] «سَلُونِی عَمَّا شِئْتُمْ»; "Bertanyalah kepadaku apa saja yang hendak kalian tanyakan".[6] «سَلُونِی قَبْلَ أَنْ لَا تَسْأَلُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian dilarang bertanya kepadaku." dan «سَلونی».[7]

Petunjuk Hadis atas Luasnya Ilmu Imam Ali as

Pada sebagian syarah Nahjul Balaghah dimuat bahwa kalimat: «سَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" menunjukkan pengetahuan Imam Ali as kepada segala sesuatu.[8] Demikian juga menurut pernyataan Molla Shaleh Mazandarani, alim Syiah (w 108q H), sebagian ulama Ahlusunnah meyakini kalimat ini sebagai bukti atas luasnya ilmu Imam Ali as.[9]

Dikutip dari Imam Shadiq as mengenai arti "bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" bahwa tak seorang pun memiliki ilmu kecuali ia telah menimbanya dari Ali as. Manusia ke manapun menghendaki akan pergi. Demi Allah, ilmu yang benar tidak ada selain di sini. Dalam lanjutan riwayat dikutip bahwa Imam Baqir as menunjuk rumahnya.[10] Menurut perkataan Allamah Majlisi, maksud Imam Baqir as dari "rumahnya" adalah rumah wahyu dan kenabian.[11]

Demikian juga pada lanjutan «سَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" dimuat varian kalimat yang mengisahkan keluasan ilmu Imam Ali as. Di antaranya:

  • "Sungguh ilmu yang paling awal dan paling akhir ada padaku. Aku mengeluarkan hukum fatwa untuk ahli Taurat sesuai dengan Taurat, untuk ahli Injil sesuai dengan Injil dan untuk ahli Alquran sesuai dengan Alquran."[12]
  • "Mengapa kalian tidak bertanya kepada seseorang yang mengetahui ilmu bencana, musibah dan nasab?"[13]
  • "Aku lebih tahu jalan-jalan langit kertimbang jalan-jalan bumi."[14]
  • "Demi Allah aku akan menjawab apa saja yang kalian tanyakan. Kalian bertanya Alquran, demi Allah aku tahu seluruh ayat-ayatnya turun di malam hari atau di siang hari, turun di bumi yang datar atau di atas gunung."[15]
  • "Demi Allah, setiap pertanyaan kalian mengenai sesuatu yang lampau, sekarang dan yang akan datang akan kujawab."[16]

Keutamaan Khusus Imam Ali as

Mururut perkataan Ibnu Mardawaih, ahli hadis Ahlusunnah abad keempat dan kelima, kalimat :«سَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku." menunjukkan kelebihpintaran Imam Ali as dibanding sahabat yang lain.[17] Begitu pula Ibrahim bin Muhammad Juwaini Syafii, salah satu ulama Ahlusunnah (w 730 H), dalam kitab Faraid al-Simthain meyakini kalimat ini sebagai keutamaan khusus Imam Ali as yang mana lawan dan kawan tidak punya jalan lain selain mengakuinya.[18] Menurut pandangan Sayid Ibnu Thawus kalimat ini merupakan satu bentuk tantangan dalam ilmu, sebab Imam Ali as menyampaikannyan di depan khalayak dan musuh.[19] Meskipun demikian, Syamsuddin Dzahabi[20] dan Ibnu Taimiyah[21] salah satu ulama salafiyah, dalam menolak keutamaan ini berkata: Ali as menyampaikan kalimat ini kepada penduduk Kufah, yang mana mereka adalah orang-orang bodoh.

Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Baqir as[22] dan Imam Shadiq as[23] terkadang menyampaikan kalimat :«سَلُونی قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku." Demikian juga dinukil dari Rasulullah saw kalimat: «سَلُونِی عَمَّ شِئْتُمْ»; "Bertanyalah kepadaku apa saja yang kalian kehendaki.".[24] Meskipun demikian dikutip dari sebagian ulama Ahlusunnah bahwa selain Imam Ali as tidak ada seorang pun yang mengutarakan kalimat ini.[25] Tentu saja dalam sebagian literatur Ahlusunnah dikatakan, selain Ali as tiada seorang sahabat pun yang mengatakan kalimat ini.[26]

Pengaku Pembohong

Para ulama kaum muslimin melaporkan bahwa ada orang-orang yang mengaku-ngaku menyampaikan: «سَلُونِی قَبْلَ‏ أَنْ‏ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepada mereka. Di antara mereka adalah Qatadah bin Di'amah dari tabiin dan fukaha Basrah[27] dan Ibnu Jauzi, seorang fakih bermazhab Hanbali abad keenam.[28]

Begitu juga Allamah Amini dalam kitab al-Ghadir menyebut lima nama lain yang mengaku-ngaku menyampaikan: «سَلُونِی»; "bertanyalah" dan terbongkar.[29] Menurut pernyataan Allamah Majlisi dan Molla Shaleh Mazandari, siapa pu selain Imam Ali as mengaku-ngaku seperti ini, pasti terbongkar.[30]

Para Rawi Hadis dan Validitasnya

«سَلُونِی قَبْلَ‏ أَنْ‏ تَفْقِدُونِی»; "Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku" dinukil oleh banyak perawi, di antaranya Amir bin Watsilah,[31] Abdullah bin Abbas,[32] Sulaim bin Qais al-Hilali,[33] Asbagh bin Nubatah,[34] dan 'Abayah bin Rib'i.[35] Hakim Naisyaburi menilai sahih sanad hadis yang dinukil oleh Abu Thufail Amir bin Watsilah.[36]

Reaksi Sa'ad bin Abi Waqqash

Sesuai laporan sebagian sumber referensi, setelah Imam Ali as mengutarakan kalimat ini dalam satu pidato, Sa'ad bin Abi Waqqash bertanya kepadanya berapa helai rambut dan jenggotku? Dalam jawabannya, Imam Ali as bersumpah bahwa Rasulullah saw telah mengabarinya bahwa kamu akan bertanya seperti ini kepadaku. Di kepala dan janggutmu tiada sehelai rambut pun kecuali di akarnya ditempati setan. Demikian juga di rumahmu ada seekor kambing jantan (maksudnya, Umar bin Sa'ad) yang akan membunuh putraku, Husain as.[37] Sebagian peneliti mengutip kejadian ini berkenaan dengan Anas, ayahnya Sinan bin Anas salah satu pembunuh Imam Husain.[38]

Catatan Kaki

  1. Silakan rujuk: Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 266-268; 296-299; Ibnu Quliwaih, Kamil al-Ziyarat, hlm. 74; Shaduq, al-Amali, hlm. 133 dan 341-344; Nahjul Balaghah, revisi Shubhi Shaleh, khotbah 189, hlm. 280; Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak,jld. 2, hlm. 383; Kharazmi, al-Manaqib, hlm. 91; Juwaini, Faraid al-Simthain, jld. 1, hlm. 340 dan 341; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balghah, jld. 2, hlm. 286; jld. 6, hlm. 136, jld. 7, hlm. 57, jld. 10, hlm. 14, jld. 13, hlm. 101
  2. Al-Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, jld. 1, hlm. 222
  3. Mufid, al-Irsyad, jld. 1, hlm. 34, 35 dan 330
  4. Silakan rujuk: Hilali,Kitab Sulaim bin Qais al-Hilali, jld. 2, hlm. 802 dan 941
  5. Nahjul Balaghah, revisi Shubhi Saleh, khotbah 93, hlm. 137
  6. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 399, hadis no. 2; Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 12
  7. Silakan rujuk: Ibnu Abdilbar, al-Isti'ab, jld. 3, hlm. 1107; Thabari, Dzakhair al-'Uqba, jld. 1, hlm. 399 dan 400; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 27, hlm. 100 dan jld. 42, hlm. 398 dan jld. 44, hlm. 335 dan 397; Kharazmi, al-Manaqib, hlm. 94; Haskani, Syawahid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 40-42 dan 45
  8. Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 5, hlm. 192; Hasyimi Khui, Minhaj al-Bara'ah, jld. 2, hlm. 402 dan jld. 11, hlm. 172
  9. Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 5, hlm. 192
  10. Kulaini, al-Kafi, jld. 1, hlm. 399, hadis no. 2; Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 12, hadis no. 1
  11. Majlisi, Mir'at al-'Uqul, jld. 4, hlm. 308
  12. Shaduq, al-Amali, hlm. 341
  13. Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 266-268
  14. Nahj al-Balaghah, revisi Shubhi Shaleh, khotbah 189, hlm. 280
  15. Ibnu Abdilbar, jld. 3, hlm. 1107; Haskani, Syawahid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 42; Thabari, Dzakhair al-'Uqba, jld. 1, hlm. 399 dan 400; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 37 hlm. 100 dan jld. 42, hlm. 398
  16. Ibnu Quliwaih, Kamil al-Ziarat, hlm. 74: Shaduq, al-Amali, hlm. 133 dan 134; Mufid, al-Irsyad, jld. 1, hlm. 330 dan 331
  17. Ibnu Mardawaih Isfahani, Manaqib Ali bin Abi Thalib, hlm. 86 dan 87
  18. Juwaini, Faraid al-Simthain, jld. 1, hlm. 340
  19. Sayib Ibnu Thawus, al-Tharaif, jld. 2, hlm. 510
  20. Dzahabi, al-Muntaqa min Minhaj al-I'tidal, hlm. 342
  21. Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, jld. 8, hlm. 56 dan 67
  22. Ibnu Hayyun, Syarh al-Akhbar, jld. 3, hlm. 292
  23. Ibnu Abi Zainab, al-Ghaibah li al-Nu'nami, hlm. 87; Dzahabi, Tarikh al-Islam, jld. 3, hlm. 828; Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, jld. 1, hlm. 222
  24. Sebagai contoh silakan rujuk: Nisyaburi, Shahih Muslim, jld. 4, hlm. 1834
  25. Ibnu Atsir, Usd al-Ghabah, jld. 3, hlm. 1103b Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 42, hlm. 399; Haskani, Syawahid al-Tanzil, jld. 1, hlm. 50; Ibnu Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 7, hlm. 46
  26. Ibnu Hanbal, Fadhail al-Shahabah, jld. 2, hlm. 646; Dzahabi, Tarikh al-Islam, jld. 2, hlm. 361; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 42, hlm. 399; Kharazmi, al-Manaqib, hlm. 90 dan 91
  27. Zamakhsyari, al-Kasysyaf, jld. 3, hlm. 355 dan 356; Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 5, hlm. 192
  28. Nubathi, Amili, al-Shirath al-Mustaqim, jld. 1, hlm. 218
  29. Silakan rujuk: Amini, al-Ghadir, jld. 6, hlm. 275 dan 276
  30. Majlisi,Mir'at al-'Uqul, jld. 4, hlm. 308; Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 5, hlm. 192 dan jld. 6, hlm. 400
  31. Hakim Nisyaburi, al-Mustadrak, jld. 2, hlm. 383; Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jld. 17, hlm. 335; Ibnu Abdilbar, al-Isti'ab, jld. 3, hlm. 1107; Thabari, Dzakhair al-'Uqba, jld. 1, hlm. 399 dan 400
  32. Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, jld. 1, hlm. 224
  33. Al-Hilali, Kitab Sulaim bin Qais, jld. 2, hlm. 802 dan 941
  34. Shaduq, al-Amali, hlm. 133 dan 341
  35. Shaffar, Bashair al-Darajat, hlm. 266; Qunduzi, Yanabi' al-Mawaddah, jld. 1, hlm. 222
  36. Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak, jld. 2, hlm. 383 dan 506
  37. Ibnu Quliwaih, Kamil al-Ziyarat, hlm. 74; Shaduq, al-Amali, hlm. 133 dan 134; Mufid, al-Irsyad, jld. 1, hlm. 330 dan 331
  38. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, jld. 2, hlm. 286; Mazandarani, Syarh al-Kafi, jld. 6, hlm. 400

Daftar Pustaka

  • Amini, Abdul Husain. Al-Ghadir. Qom: Markaz al-Ghadir, cet. I, 1416 H.
  • Dzahabi, Syamsuddin. Al-Muntaqa min Minhaj al-I'tidal fi Naqd Kalami Ahl al-Rafdh wa al-I'tizal. Riset Muhibbuddin Khatib, tanpa nama, tanpa tahun.
  • Dzahabi, Syamsuddin. Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A'lam. Riset Basysyar Awwad Ma'ruf. Dar al-Gharb al-Islami, cet. I, 2003 M.
  • Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah. Al-Mustadrak ala al-Shahihain. Riset Musthafa Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1411 H/ 1990 M.
  • Haskani, Ubaidullah bin Abdullah. Syawahid al-Tanzil li Qawa'id al-Tafdhil. Riset dan revisi Muhammad Baqir Mahmudi. Teheran: Wizarate Fathangg wa Irsyad Islami, cet. I, 1411 H.
  • Hilali, Sulaim bin Qais. Kitab Sulaim bin Qais al-Hilali. Riset dan revisi Muhammad Anshari Zanjani Khuini. Qom: al-Hadi, cet. I, 1405 H.
  • Ibnu Abdilbar, Yusuf bin Abdullah. Al-Isti'ab fi Ma'rifat al-Ashhab. Riset Ali Muhammad al-Bajawi. Beirut: Dar al-Jail, cet. I, 1412 H.
  • Ibnu Abi al-Hadid, Abdulhamid bin Hibatullah. Syarh Nahj al-Balaghah. Riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Qom: Perpustakaan Ayatullah Marasyi Najafi, cet. I, 1404 H.
  • Ibnu Abi Zainab, Muhammad bin Ibrahim. Al-Ghaibah li al-Nu'mani. Riset dan revisi Ali Akbar Ghaffari. Teheran: Penerbit Shaduq, cet. I, 1397 H.
  • Ibnu Asakir, Ali bin Hasan. Tarikh Dimasyq. Riset 'Amr bin Gharamah 'Amrawi. Beirut: Dar al-Fikr, 1415 H/ 1995 M.
  • Ibnu Atsir, Muhammad bin Muhammad. Usd al-Ghabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/1989 M.
  • Ibnu Hanbal, Ahmad bin Hanbal. Fadhail al-Shahabah. Riset Washiyullah Muhamma Abbas. Beirut: Muassasah al-Risalah, cet. I, 1403 H.
  • Ibnu Hayyun, Nu'man bin Muhammad Maghribi. Syarh al-Akhbar fi Fadhail al-Aimmah al-Athhar as. Riset dan revisi Muhammad Husain Husaini Jalali. Qom: Jamiah Mudarrisin, cet. I, 1409 H.
  • Ibnu Mardawaih Isfahani, Ahmad bin Musa. Manaqib Ali bin Abi Thalib wa ma Nazala min al-Quran fi Ali. Riset Abdurrazzaq Muhammad Hirzuddin. Qom: Dar al-Hadits, cet. II, 1424 H.
  • Ibnu Quliwaih, Jakfar bin Muhammad. Kamil al-Ziyarat. Riset dan revisi Abdul Husain Amini. Najaf: Dar al-Murtadhawiyah cet. I, 1366 HS.
  • Ibnu Taimiyah. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah fi Naqdi Kalam al-Syiah al-Qadariyah. Riset Muhammad Rasyad Salim. Jamiah al-Imam Muhammad bin Sa'ud al-Islamiyah, cet. I, 1406 H.
  • Juwaini, Ibrahim bin Muhamamd. Faraid al-Simthain. Riset Muhammad Baqir Mahmudi. Beirut: Muassasah Mahmudi, 1400 H.
  • Kharazmi, Muwaffaq bin Ahmad. Manaqib. Qom: Muassasah Nasyre Islami, tanpa tahun.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub. Al-Kafi. Riset dan revisi Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. IV, 1407 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Mir'at al-Uqul fi Syarh Akhbar Al al-Rasul. Riset dan revisi Sayid Hasyim Rasuli Mahallati. Teheran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. II, 1404 H.
  • Mazandarani, Muhammad Shaleh bin Ahmad. Syarh al-Kafi (Ushul wa Raudhah). Riset dan revisi Abul Hasan Sya'rani. Teheran: Maktabah al-Islamiyah, cet. I, 1382 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyad fi Ma'rifat Hujajillah ala al-'Ibad. Qom: Kongres Syaikh Mufid, cet. I, 1313 H.
  • Nabathi Amili, Ali bin Muhammad. Al-Shirat al-Mustaqim ila Mustahiqqi al-Taqdim. Revisi Muhammad Baqir Behbudi. Teheran: al-maktabah al-murtadhawiyah, 1384 H.
  • Naisyaburi, Muslim bin Hajjaj. Shahih Muslim. Riset Muhammad Fuad Abdul baqi. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, tanpa tahun.
  • Qunduzi, Sulaiman bin Ibrahim. Yanabi' al-Mawaddah li Dzawi al-Qurba. Qom: Dar al-Uswah, tanpa tahun.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih. Al-Amali. Teheran: Ketabchi, cet. VI, 1376 H.
  • Shaffar, Muhammad bin Hasan. Bashair al-Darajat fi Fadhail Al Muhammad. Qom: Maktabah Ayatullah Marasyi Najafi, cet. II, 1404 H.
  • Syarif Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah. Revisi Shubhi Shaleh. Qom: Hijrat, cet. I, 1404 H.
  • Thabari, Muhibbuddin. Dzakhair al-'Uqba fi Manaqib Dzawi al-Qurba. Qom: Dar al-kutub al-Islamiyah, cet. I, 1428 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Rijal al-Thusi. Riset Jawad Qayyumi Isfahani. Qom: Muassasah Nasyre Islami, cet. III, 1373 HS.
  • Zamakhsyari, Mahmud bin Umar. Al-Kasysyaf an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa Uyun al-Aqawil fi Wujuh al-Ta'wil. Revisi Musthafa Husain Ahmad. Beirut: Dar al-Kutub al-Arabi, cet. III, 1407 H.