Konsep:Penulisan Sirah

Penulisan Sirah adalah penulisan karya-karya yang di dalamnya dilaporkan tentang sirah Rasulullah saw, biografi beliau, sirah Ahlulbait as, biografi mereka, serta cara mereka menghadapi peristiwa-peristiwa politik dan sosial.
Penulisan sirah Nabawi saw dianggap sebagai topik pertama dari historiografi Islam serta cabang yang paling penting dan paling banyak volumenya. Alasan hal ini adalah diperkenalkannya Nabi saw sebagai teladan (uswah). Penulisan sirah Ahlulbait as juga dianggap sebagai salah satu poros penting dan bervolume besar dalam historiografi Islam yang kemunculannya disebabkan oleh konflik pemikiran dan politik masyarakat pada masa kekhalifahan Imam Ali as.
Dalam bidang sirah Nabawi saw, Sirah Ibnu Ishaq dianggap sebagai sirah pertama yang koheren dan komprehensif. Dalam bidang sirah Ahlulbait as, dua buku karya Ubaidullah bin Abi Rafi' (W. 80 H) tentang penghakiman Imam Ali as dan para syuhada Perang Jamal, Shiffin, dan Nahrawan dianggap sebagai tulisan-tulisan pertama.
Dalam bidang sirah Nabawi saw, keberadaan volume riwayat sirah Nabawi saw yang signifikan dalam hadis-hadis Ahlulbait as dianggap sebagai bukti perhatian para sahabat Imam as dan Syiah terhadap penulisan sirah Nabawi saw. Namun, dikatakan bahwa dibandingkan dengan Ahlusunah, kontribusi Syiah dalam kodifikasi sirah Nabawi saw tidaklah luas. Dalam bidang sirah Ahlulbait as, kepeloporan Syiah, menurut beberapa pendapat, dianggap sebagai penyebab kepeloporan mereka dalam historiografi Islam.
Tulisan-tulisan yang lengkap dan independen, monografi tematik, dan penulisan sirah tematik dianggap sebagai jenis-jenis penulisan sirah Nabawi saw; sebagai contoh, kitab "Subul al-Huda wa al-Rasyad" karya Muhammad bin Yusuf Shalihi Syami dianggap sebagai contoh sirah lengkap dan independen dari abad ke-10 Hijriah. Dalam bidang sirah Ahlulbait as, jenis-jenis seperti biografi umum dan monografi tematik dalam topik-topik seperti pertempuran Imam Ali as dan penulisan Maqtal telah disebutkan; sebagai contoh, kitab Al-Irsyad karya Syekh Mufid dianggap sebagai jenis pertama dari biografi umum tentang sirah Ahlulbait as.
Definisi dan Kedudukan
Pendahuluan terjemahan kuno dari Kasyf al-Ghummah tentang perlunya penulisan sirah: Tidak tersembunyi bagi para pemilik akal (arbab al-albab) bahwa tujuan penciptaan alam dan Adam adalah keberadaan yang penuh kedermawanan Sayyidul Basyar (Pemimpin Manusia) dan para Imam Dua Belas, shalawat Allah atas mereka, karena mereka adalah makhluk paling sempurna di alam semesta dan jenis Bani Adam yang paling utama, dan Allah SWT dalam kitab-kitab samawi telah mewajibkan kecintaan dan loyalitas (wilayah) kepada mereka atas setiap individu manusia, dan menjadikan berlepas diri (tabarra) dari musuh-musuh mereka wajib atas setiap mukallaf, dan kemasyhuran berita yang valid ini telah sampai ke telinga kesadaran setiap manusia. Maka wajib dan lazim bagi setiap orang untuk mengerahkan usaha maksimal dan kesungguhan sempurna dalam meneliti keadaan dan peninggalan serta memeriksa manaqib dan berita mereka, dan menapakkan kaki keteguhan dan kekokohan di jalan yang lurus dan metode yang benar agar memperoleh manfaat dari pancaran cahaya mereka, terbebas dari kegelapan syubhat yang batil, dan selamat dari tingkatan orang-orang celaka dan munafik, serta mencapai derajat tinggi orang-orang yang berbahagia dan sepakat.[1]
Penulisan sirah merujuk pada penulisan karya-karya yang di dalamnya dilaporkan tentang sirah Nabawi saw yang mencakup berita terkait awal dakwah Islam, biografi, tata cara bicara dan perilaku, serta sejarah peperangan (ghazwat) Rasulullah saw, dan sirah Ahlulbait as yang mencakup biografi para Imam as, tata cara bicara dan perilaku, serta cara mereka menghadapi peristiwa politik dan sosial.[2]
Penulisan sirah Nabawi saw dianggap sebagai topik pertama dari historiografi Islam serta cabang yang paling penting dan paling banyak volumenya.[3] Alasan hal ini adalah diperkenalkannya Nabi saw dalam Al-Qur'an sebagai teladan; hal yang mendorong umat Islam untuk mengatur kehidupan individu, sosial, dan politik mereka sesuai dengan sirah Nabi saw.[4] Meskipun banyak karya dalam bidang penulisan sirah Nabawi, Salahuddin Munajjid (W. 1431 H), bibliografer Suriah, telah menyajikan daftar karya-karya tersebut yang ditulis oleh sekitar 1500 penulis.[5]
Penulisan sirah Ahlulbait as juga dianggap sebagai salah satu poros penting dan bervolume besar dalam historiografi Islam yang, meskipun tidak ada penulisan komprehensif pada periode awal historiografi Islam dalam topik ini, banyak buku telah ditulis dalam berbagai sub-topik di bidang ini.[6]
Alasan kemunculan penulisan sirah Ahlulbait as, selain adanya kepedulian keagamaan untuk meneladani para Imam as di kalangan Syiah,[7] dianggap disebabkan oleh konflik pemikiran dan politik masyarakat Islam setelah pembunuhan khalifah ketiga dan masa kekhalifahan Imam Ali as.[8] Berdasarkan hal ini, alasan kemunculan cabang penulisan sirah ini dianggap untuk mencapai tujuan kalam (teologi) guna membuktikan keunggulan dalam masalah pemikiran yang menantang di bidang Imamah.[9]
Tulisan Awal dan Penulis Sirah Pertama
Dalam beberapa sumber, dibahas topik tulisan awal dan penulis sirah pertama di bidang sirah Nabawi saw dan sirah Ahlulbait as:
Di Bidang Sirah Nabawi saw

Di bidang sirah Nabawi saw, menurut beberapa peneliti, pada awalnya penulisan sirah terkait dengan kodifikasi Hadis, namun dengan cepat dua sirah praktis (amali) dan ucapan (goftari) Nabi saw dipisahkan satu sama lain; sirah praktis disebut sebagai "Sirah" dan sirah ucapan disebut sebagai "Hadis".[10] Sadiq Ainavand (W. 1394 HS/2015 M), peneliti sejarah Islam, menganggap landasan kemunculan tulisan-tulisan awal di bidang sirah Nabawi adalah bab-bab Maghazi dan Sirah dalam kitab-kitab hadis yang setelah beberapa waktu mendapat perhatian secara independen.[11]
Madinah, karena menjadi pusat pemerintahan Nabi saw, disebut sebagai tempat pertama di mana sirah Nabi saw ditulis di bawah judul umum mazhab historiografi Madinah.[12] Oleh karena itu, dalam beberapa penelitian yang mengandalkan sumber-sumber terdahulu, penulis sirah pertama juga dianggap berasal dari sejarawan mazhab ini: dalam beberapa sumber Sahl bin Abi Hatsmah (W. sekitar 41 H),[13] dalam sumber lain Sa'id bin Sa'ad al-Anshari,[14] dalam beberapa lainnya Urwah bin Zubair (W. 94 H),[15] dan dalam beberapa lainnya Ibnu Syihab al-Zuhri (W. 124 H).[16]
Menurut beberapa peneliti, perbedaan pendapat mengenai penulis sirah pertama bukan karena pertentangan nukilan, melainkan karena perbedaan sumber-sumber awal dalam kriteria pemilihan.[17] Sedemikian rupa sehingga kondisi politik dan budaya masa hidup penulis sirah, inovasi, pengaruhnya pada sumber-sumber selanjutnya, dan keberadaan karyanya dianggap berpengaruh dalam pemilihan;[18] dengan mengandalkan pertimbangan inilah, sebagai contoh, Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi (W. 230 H), penulis sirah, menganggap Sirah Ibnu Ishaq, karya Muhammad bin Ishaq (W. 151 H), sebagai sirah Rasulullah saw yang pertama.[19] Kriteria beliau untuk pemilihan ini dianggap sebagai keteraturan dan kelengkapan;[20] karena sebelum penulisan sirah ini, tidak ada sirah yang disusun dalam bab-bab, koheren, dan komprehensif.[21]
Di Bidang Sirah Ahlulbait as
Di bidang sirah Ahlulbait as, tulisan-tulisan awal umumnya dianggap sebagai monografi sejarah seputar peristiwa-peristiwa yang menantang secara teologis dan politik; tantangan yang menyebabkan para penulis dengan kecenderungan politik dan pemikiran yang berbeda mulai menulis untuk menyajikan pandangan mereka tentang satu subjek.[22] Sedemikian rupa sehingga sebagai contoh tentang Perang Jamal, disebutkan empat monografi dengan kecenderungan yang berbeda: Imamiyah, Zaidiyah, dan Ahlusunah.[23]
Ubaidullah bin Abi Rafi' (W. 80 H), sahabat dan juru tulis Imam Ali as, dianggap sebagai orang pertama yang menulis tentang sirah Ahlulbait as.[24] Dalam beberapa sumber, dua karya berjudul "Qadhâyâ Amîr al-Mu'minîn as' dan "Tasmiyah man Syahida ma'a Amîr al-Mu'minîn 'Ali as al-Jamal wa Shiffîn wa al-Nahrawân min al-Shahâbah Radhiyallahu 'Anhum" dinisbatkan kepadanya.[25]

Peran Syiah dalam Penulisan Sirah
Sayid Hasan Sadr dalam kitab Ta'sis al-Syi'ah li 'Ulum al-Islam, menganggap Syiah sebagai pelopor dalam penulisan sirah, baik di bidang sirah Nabawi maupun di bidang sirah Ahlulbait as.[26]
Di Bidang Sirah Nabawi saw
Di bidang sirah Nabawi saw, keberadaan volume riwayat sirah yang signifikan dalam hadis-hadis Ahlulbait as, di samping riwayat-riwayat[27] tentang perhatian para Imam as terhadap pengetahuan sirah Nabi saw dianggap sebagai bukti perhatian para sahabat Imam as dan Syiah terhadap penulisan sirah Nabawi saw.[28]
Dalam beberapa sumber, para penulis sirah awal Syiah, yang sebagian merupakan murid para Imam as dan mendirikan mazhab historiografi Irak, telah didaftar; orang-orang seperti Aban bin Taghlib (W. 141 H), Abu Mikhnaf (W. 157 H), Abu Ma'syar al-Sindi (W. 170 H), Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya al-Madani (W. 184 H), Abdullah bin Maimun al-Qaddah (W. abad ke-2 H), Aban bin Utsman al-Ahmar (W. abad ke-2 H), Muhammad bin Abi Umair (W. 217 H), Ahmad bin Muhammad bin Khalid al-Barqi (W. 274 atau 280 H), dan Bani Fadhal.[29]
Namun demikian, Rasul Jafarian, peneliti sejarah Syiah, berpendapat bahwa, dibandingkan dengan Ahlusunah, kontribusi Syiah dalam kodifikasi sirah Nabawi saw tidaklah luas; karena karya-karya umum tentang sirah Nabawi saw sejauh menyangkut hal-hal umum disepakati oleh Fariqain (dua kelompok: Syiah dan Sunni) dan Syiah, sebagai minoritas, lebih fokus pada kasus-kasus khusus yang diperselisihkan.[30]
Selain itu, menurut Jafarian, pandangan Syiah dalam penulisan sirah, dibandingkan dengan Ahlusunah, adalah pandangan yang memberikan kesucian lebih pada kepribadian Nabi saw.[31] Menurutnya, hal ini disebabkan oleh konsep kemaksuman di kalangan Syiah.[32]
Di Bidang Sirah Ahlulbait as
Di bidang sirah Ahlulbait as, berdasarkan pendapat orang-orang seperti Sayid Hasan Sadr[33] dan Aqa Bozorg Tehrani[34] yang meyakini bahwa dua buku Ubaidullah bin Abi Rafi' ditulis pada masa pemerintahan Imam Ali as, dikatakan bahwa penulisan sirah Ahlulbait as dapat menjadi jenis pertama dari historiografi Islam.[35]
Berita-berita dalam buku Ubaidullah bin Abi Rafi', yang dianggap mencerminkan suasana menantang pada masa penulisnya, dinilai memiliki pengaruh besar pada karya-karya yang ditulis setelahnya; sedemikian rupa sehingga berita-berita bukunya dengan fokus pada sirah Imam Ali as menjadi dasar bagi penulis biografi sahabat Ahlusunah seperti Sulaiman bin Ahmad Thabarani (W. 360 H) dan Abu Nu'aim al-Isfahani (W. 430 H).[36]
Juga dikatakan bahwa masuknya Syiah ke dalam arena historiografi, dalam bentuk penulisan sirah Ahlulbait as, menyebabkan aliran-aliran yang menentang Syiah di kalangan Ahlusunah lebih fokus pada kodifikasi sirah Nabawi saw; fokus ini, sebaliknya, dianggap sebagai faktor bagi fokus lebih besar Syiah pada penulisan sirah Ahlulbait as dalam bentuk topik-topik seperti pertempuran Imam Ali as.[37]
Tulisan tentang Sirah Nabawi: Jenis dan Contoh

Menurut Rasul Jafarian, penulisan sirah sejak awal mencakup dua bagian mendasar: *Bi'tsah* (pengutusan) yang dimulai dari penjelasan keadaan leluhur Nabi saw dan berakhir dengan Hijrah; dan *Maghazi* yang mencakup peristiwa militer dan non-militer setelah hijrah.[38]
Menurutnya, tulisan-tulisan ini dipengaruhi oleh berbagai mazhab historiografi Islam;[39] mazhab-mazhab yang merupakan hasil dari selera politik dan ideologi sejarawan dari berbagai wilayah Dunia Islam, termasuk Hijaz, Irak, dan Syam.[40] Selain perbedaan isi tulisan penulis sirah Nabawi saw karena perbedaan mazhab historiografi mereka, beberapa jenis juga telah disebutkan untuk jenis penulisan sirah ini dari segi cara penulisannya:[41]
Tulisan Tidak Terkodifikasi
Tulisan tidak terkodifikasi mencakup tulisan-tulisan awal Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in Rasulullah saw dari apa yang mereka lihat dan dengar dari ucapan dan perilaku Nabi saw dalam berbagai topik yang dikumpulkan dalam lembaran-lembaran yang tersebar dan tidak terkodifikasi.[42] Banyak dari tulisan ini telah hilang dan para peneliti telah mengakses isi teks-teks ini melalui karya-karya selanjutnya, yang ditulis berdasarkan karya-karya ini, atau kadang-kadang merekonstruksinya.[43] Sebagai contoh, tentang Ibnu Abbas dinukil bahwa ia terlihat membawa papan-papan berisi nukilan sirah yang telah ia kumpulkan dan tulis.[44]
Tulisan Lengkap dan Independen
Tulisan lengkap dan independen tentang sirah Nabawi saw yang dimulai dengan penulisan Sirah Ibnu Ishaq dan berlanjut dalam karya-karya ini:
- Al-Sîrah al-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam al-Himyari (W. 213 H)
- Aujad al-Siyar li Khair al-Basyar karya Ahmad bin Faris al-Lughawi (W. 395 H)
- Jawâmi' al-Sîrah karya Ibnu Hazm al-Andalusi (W. 456 H)
- Al-Wafâ bi Ahwâl al-Musthafâ karya Ibnu Jauzi (W. 597 H)
- Subul al-Hudâ wa al-Rasyâd karya Muhammad bin Yusuf Shalihi Syami (W. 942 H)
- Al-Sîrah al-Halabiyyah karya Ali bin Ibrahim Halabi (W. 1044 H).[45]
Tulisan dalam Karya Sejarah Lainnya
Tulisan dalam karya sejarah lainnya, seperti sejarah umum,[46] Thabaqat,[47] dan Tarajim (biografi).[48] Sebagai contoh sejarah umum, disebutkan bahwa bagian besar dari Tarikh al-Thabari berkaitan dengan sirah Nabi saw dari lahir hingga wafat.[49] Selain itu, sebagai contoh buku Thabaqat, disebutkan kitab "Thabaqat" Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi (W. 230 H) di mana volume besar darinya didedikasikan untuk sirah Nabi saw.[50] Dikatakan bahwa buku ini karena kekunoan dan kedekatannya dengan masa risalah merupakan salah satu pilar penting penulisan sirah.[51]
Dalam hal penyisipan sirah Nabawi saw dalam karya-karya tarajim (biografi), disebutkan kitab *Al-Tarikh al-Kabir* karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari (W. 256 H), penulis Shahih, yang di awal bukunya menyajikan sirah singkat Rasulullah saw untuk mencari berkah.[52] Dikatakan bahwa metode ini setelah Bukhari menjadi tradisi tetap dalam penulisan biografi.[53]
Monografi Tematik

Monografi tematik[54] yang dianggap mencakup monografi tentang kelahiran, leluhur (ayah), ibu, istri, dan wafat Nabi saw;[55] seperti berturut-turut:
- Al-Durar al-Munazhzham fî Maulid al-Nabî al-Mu'azhzham karya Muhammad bin Ahmad al-'Azafi (W. 677 H)[56]
- Al-Maqâmah al-Sundusiyyah fî al-Âbâ' al-Syarîfah al-Musthafawiyyah karya Jalaluddin Suyuthi (W. 911 H)[57]
- Ummahât al-Nabî karya Ibnu Habib al-Baghdadi (W. 245 H)[58]
- Tasmiyah Azwâj al-Nabî karya Abu Ubaidah Ma'mar bin Mutsanna (W. 207 H)[59]
- Wafâh al-Nabî karya Salamah bin Khattab al-Barawistani, penulis Syiah (W. 270 H)[60]
Penulisan Sirah Tematik
Sirah dengan berbagai pendekatan tematik termasuk Penulisan Maghazi, Penulisan Syamail, Penulisan Dalail, Penulisan Manaqib, dan Penulisan Khasais;[61] seperti berturut-turut:
- Kitab Al-Maghâzî karya Muhammad bin Umar al-Waqidi 207 H)[62]
- Syamâ'il al-Nabî, karya Abu Isa Muhammad bin Isa Tirmidzi (W. 279 H)[63]
- Dalâ'il al-Nubuwwah wa Ma'rifah Ahwâl Shâhib al-Syarî'ah karya Ahmad bin Husain Baihaqi (W. 458 H)[64]
- Mathâlib al-Sa'ûl fî Manâqib al-Rasûl karya Muhammad bin Thalhah Syafi'i (W. 652 H)[65]
- Al-Mawâhib al-Ladunniyyah bi al-Minah al-Muhammadiyyah karya Ahmad bin Muhammad Qasthalani (W. 923 H)[66]
Tulisan tentang Sirah Ahlulbait as: Jenis dan Contoh
Tulisan-tulisan terkait sirah Ahlulbait as dianggap memiliki sejarah panjang dalam sejarah penulisan Islam.[67] Tulisan-tulisan ini, selain oleh Syiah, dianggap sebagai hasil karya berbagai kelompok agama, termasuk Ahlusunah dan Sunni Dua Belas Imam.[68] Tulisan-tulisan ini dikategorikan di bawah beberapa topik:[69]
Biografi Umum
Menurut Jafarian, penulisan karya-karya dalam bentuk biografi umum tentang Ahlulbait as dimulai sejak abad ke-4 Hijriah dengan penulisan kitab Al-Irsyâd fî Ma'rifah Hujajillâh 'alâ al-'Ibâd oleh Syekh Mufid (W. 413 H).[70] Ia mendaftar karya-karya lain di bidang ini sebagai berikut:[71]
- I'lâm al-Warâ bi A'lâm al-Hudâ karya Fadhl bin Hasan al-Thabrisi (W. 548 H)
- Raudhah al-Wâ'izhîn wa Bashîrah al-Mutta'izhîn karya Fattal Naisaburi (W. 508 H)
- Manâqib Âl Abî Thâlib karya Ibnu Syahr Asyub (W. 588 H)
- Kasyf al-Ghummah fî Ma'rifah al-A'immah as karya Ali bin Isa al-Arbili (W. 692 H)
Tulisan dalam Karya dengan Berbagai Topik
Jafarian menunjukkan beberapa tulisan di bidang sirah Ahlulbait as dalam karya-karya dengan topik-topik seperti hadis, kalam, ansab (silsilah), dan rijal.[72] Ia menunjuk contoh-contoh di bidang ini: Dalam kitab-kitab kalam, Al-Syâfî fî al-Imâmah karya Sayid Murtadha (W. 436 H) di mana dalam bagian dalil naqli-nya terdapat pembahasan sirah;[73] dalam kitab-kitab hadis, kitab Al-Kâfî karya Kulaini yang dalam "Kitab al-Hujjah"-nya banyak pembahasan di bidang sirah dinukil;[74] dalam kitab-kitab ansab, kitab Al-Majdî fî Ansâb al-Thâlibiyyîn karya Ali bin Muhammad al-Alawi al-Umari (W. sekitar 460 H)[75] dan dalam kitab-kitab rijal kitab Rijâl al-Najâsyî karya Abul Abbas Najasyi (W. 463 H).[76]
Penulisan Sirah Tematik

Karya-karya yang di dalamnya membahas pembuktian Imamah bagi para Imam as atau dalam bentuk penulisan Dalail yang menyebutkan bukti-bukti imamah para Imam as dengan menukil karamah mereka atau karya Penulisan Manaqib di bidang sirah Ahlulbait as dianggap sebagai sirah tematik Ahlulbait as.[77]
Sebagai contoh dari kasus pertama, disebutkan kitab Itsbât al-Washiyyah li al-Imâm 'Alî bin Abî Thâlib as karya Ali bin Husain al-Mas'udi (W. 346 H).[78] Sebagai contoh penulisan Dalail, disebutkan Dalâ'il al-Imâmah karya Muhammad bin Jarir al-Thabari al-Shaghir[79] dan sebagai contoh penulisan Manaqib disebutkan kitab Syarh al-Akhbâr fî Fadhâ'il al-A'immah al-Athhâr as karya Qadhi Nu'man al-Maghribi (W. 363 H).[80]
Monografi
Monografi tentang sirah Ahlulbait as dianggap mencakup topik-topik seperti penjelasan pertempuran Imam Ali as, penulisan Maqtal, penulisan Qadha (penghakiman), penulisan Khutbah, penulisan Wasiat, dan penulisan Munazharah (debat).[81]
Tulisan tentang Pertempuran Imam Ali as
Karena pertempuran Imam Ali as pada masa kekhalifahannya merupakan peristiwa menantang internal Islam pertama dan menyebabkan munculnya kelompok-kelompok agama dan politik, bidang penulisan pertama tentang sirah Ahlulbait as dianggap seputar topik ini;[82] sebagai contoh disebutkan hal-hal berikut:[83]
- Al-Jamal, Shiffîn wa al-Nahrawân karya Jabir bin Yazid al-Ju'fi (W. 128 H)[84]
- Al-Jamal fî Amr Thalhah wa al-Zubair wa 'Â'isyah karya Mu'min al-Thaq (W. 160 atau setelah 180 H)[85]
- Al-Jamal wa Masîr 'Â'isyah wa 'Alî karya Saif bin Umar al-Tamimi[86]
- Waq'ah Shiffîn karya Nashr bin Muzahim al-Minqari (W. 212 H)[87]
- Al-Jamal, Al-Ghârât wa al-Nahrawân karya Ali bin Muhammad al-Madaini (W. 224 H)[88]
- Al-Jamal wa al-Nushrah li Sayyid al-'Itrah fî Harb al-Bashrah karya Syekh Mufid[89]
Penulisan Maqtal
Penulisan Maqtal didefinisikan sebagai sejenis kronik tentang terbunuhnya tokoh (atau tokoh-tokoh) Muslim menyusul peristiwa internal Islam.[90] Dikatakan bahwa tulisan pertama di bidang ini terkait dengan Tragedi Asyura.[91] Di antara karya-karya penulisan Maqtal disebutkan hal-hal berikut:[92]
- Maqtal al-Husain bin 'Alî as karya Ashbagh bin Nubatah (W. abad pertama Hijriah)[93]
- Maqtal Amîr al-Mu'minîn as, Qatl al-Hasan as, dan Qatl al-Husain as karya Abu Mikhnaf (W. 157 H)[94]
- Maqtal Amîr al-Mu'minîn as dan Maqtal al-Husain as karya Muhammad bin Zakaria al-Ghalabi[95]
- Maqtal al-Husain as karya Muwaffaq bin Ahmad Khawarizmi (W. 567 H)[96]
Penulisan Qadha

Penulisan Qadha (Qadha-negari) disebut sebagai penulisan karya-karya tentang penghakiman-penghakiman menonjol yang dilakukan dalam sejarah Islam.[97] Dikatakan bahwa penulisan tentang penghakiman Imam Ali as dalam buku berjudul Qadhâyâ Amîr al-Mu'minîn as karya Ubaidullah bin Abi Rafi' menghubungkan bidang historiografi ini dengan sirah Ahlulbait as.[98] Ajâ'ib Ahkâm Amîr al-Mu'minîn as wa Masâ'iluhu karya Ashbagh bin Nubatah,[99] dan Qadhâ' 'Alî as karya Abdul Aziz al-Jaludi (W. 330 atau 332 H)[100] dianggap sebagai karya penulisan Qadha.[101]
Penulisan Khutbah
Penulisan Khutbah (Khutbeh-negari), mengingat pentingnya penyampaian khutbah dalam sejarah Islam, dianggap berfokus pada penghafalan dan penulisan khutbah-khutbah penting.[102] Dalam jenis penulisan sirah ini, Syiah dianggap pelopor dengan menulis khutbah-khutbah Amirul Mukminin as.[103] Karya-karya seperti Khuthbah al-Zahrâ karya Abu Mikhnaf,[104] Khuthab Amîr al-Mu'minîn as karya Ismail bin Mihran al-Sakuni (hidup hingga 224 H),[105] dan Khuthab Amîr al-Mu'minîn as karya Abdul Azhim al-Hasani (W. 252 H)[106] dianggap sebagai karya penulisan Khutbah.[107]
Penulisan Kelahiran dan Wafat
Penulisan Kelahiran (Milad-negari) dan Wafat (W. -negari) sebagai tulisan untuk mencatat waktu dan tempat kelahiran serta kematian orang-orang penting dan masalah khusus seputar mereka dianggap sebagai bagian dari tulisan sirah Ahlulbait as.[108] Wahb bin Wahb al-Qurasyi, yang dikenal sebagai Abul Bakhtari (W. 200 H), dengan menulis kitab Maulid Amîr al-Mu'minîn as wa Akhbâruhu ma'a al-Nabî saw dianggap sebagai pendiri dalam jenis penulisan ini.[109] Masârr al-Syi'ah fî Mukhtashar Tawârîkh al-Syarî'ah karya Syekh Mufid[110] dan Tâj al-Mawâlîd fî Mawâlîd al-A'immah wa Wafayâtihim karya Aminul Islam Thabrisi[111] dianggap sebagai karya lain di bidang ini.[112]
Penulisan Munazharah
Penulisan Munazharah (Munazharah-negari) digunakan untuk karya-karya yang mencatat perdebatan yang terjadi dalam majelis debat para Imam as.[113] Para sahabat Imam as dan yang terdepan di antara mereka Mufadhal bin Umar al-Ju'fi dianggap sebagai pelopor di bidang ini.[114] Kitab Munâzharah ma'a al-Syâkk bi Hadhrah al-Shâdiq as karya Ali bin Yaqthin (W. 182 H)[115] dan Al-Ihtijâj 'alâ Ahl al-Lajâj karya Ahmad bin Ali al-Thabrisi[116] dianggap sebagai bagian dari karya-karya ini.
Catatan Kaki
- ↑ Arbili, Kasyf al-Ghummah, 1382 HS, jld. 1, hlm. 2.
- ↑ Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 249.
- ↑ Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 249; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 47.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 3.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 117-118.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 13-14.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 119.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 119.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 250.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 55-56; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Sezgin, Tarikh al-Turats al-Arabi, 1412 H, jld. 1, 65-66.
- ↑ Amin, Dhuha al-Islam, 1425 H, jld. 2, hlm. 245.
- ↑ Gibb, «Ilm al-Tarikh», hlm. 486.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 5, hlm. 450.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 48.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 62; Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 111.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 119.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 119.
- ↑ Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 232; Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 181.
- ↑ Thusi, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 174-175.
- ↑ Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 232.
- ↑ Untuk mengakses contoh dalam riwayat dari Imam Sajjad as lihat: Khatib Baghdadi, Al-Jami' li Akhlaq al-Rawi, 1417 H, jld. 2, hlm. 228.
- ↑ Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 252; Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 359; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 50.
- ↑ Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 235; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 51-112.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 358.
- ↑ Jafarian, Sireh-ye Rasul-e Khoda, 1382 HS, hlm. 81.
- ↑ Jafarian, Sireh-ye Rasul-e Khoda, 1382 HS, hlm. 81.
- ↑ Sadr, Ta'sis al-Syi'ah, A'lami, 1416 H, hlm. 232.
- ↑ Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 4, hlm. 181.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 120.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 121-122.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 122-123.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 45.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 55-56.
- ↑ Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 55-56; Ainavand, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, 1377 HS, jld. 1, hlm. 246-247.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 6-10.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 57-58.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 58; Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 61-62.
- ↑ Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi, Al-Thabaqat al-Kubra, 1410 H, jld. 2, hlm. 283.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar saw, 1399 HS, hlm. 183-192; Jafarian, Manabe'-e Tarikh-e Eslami, 1393 HS, hlm. 108-109.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 205-272.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 272-307.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 307-318.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 224.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 277.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 277.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 308.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 308.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 319-338.
- ↑ Sakhawi, Al-I'lan bi al-Taubikh, Beirut, hlm. 90.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 23.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 50.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 54.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 220.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 187.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 339-419.
- ↑ Nassar, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw), 1399 HS, hlm. 363.
- ↑ Sakhawi, Al-I'lan bi al-Taubikh, Beirut, hlm. 168.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 65.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 191.
- ↑ Munajjid, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Kairo, hlm. 120.
- ↑ Dadash-nejad, Simay-e Davazdah Emam (as), 1395 HS, jld. 1, hlm. 17.
- ↑ Dadash-nejad, Simay-e Davazdah Emam (as), 1395 HS, jld. 1, hlm. 19; Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 34-37.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 19-33.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 23.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 24-25.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 28-33.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 29.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 30.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 33.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 33.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 26-32.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 26.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 27-28.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 31.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 123-250.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 121-123.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 123-157.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 90.
- ↑ Thusi, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 207.
- ↑ Ibnu Nadim, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 123.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 428.
- ↑ Yaqut Hamawi, Mu'jam al-Udaba, 1414 H, jld. 4, hlm. 1856.
- ↑ Jafarian, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), 1390 HS, hlm. 29.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 157.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 159.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 157-187.
- ↑ Thusi, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 85-86.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 320.
- ↑ Ibnu Nadim, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 138.
- ↑ Thabathaba'i, Ahl al-Bait fi al-Maktabah al-Arabiyyah, 1417 H, hlm. 541-542.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 187.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 192.
- ↑ Husaini Jalali, Tadwin al-Sunnah al-Syarifah, 1418 H, hlm. 140.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 240-241.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 187-198.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 199-200.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 200-201.
- ↑ Thusi, Al-Fihrist, 1417 H, hlm. 204.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 26-27.
- ↑ Najasyi, Rijal al-Najasyi, 1418 H, hlm. 247.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 199-209.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 214; Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 227-234.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 214.
- ↑ Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 20, hlm. 375.
- ↑ Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 3, hlm. 209.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 213-234.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 235.
- ↑ Husainiyan Muqaddam, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari, 1395 HS, hlm. 237-238.
- ↑ Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 22, hlm. 298.
- ↑ Aqa Bozorg Tehrani, Al-Dzari'ah, 1403 H, jld. 1, hlm. 281.
Daftar Pustaka
- Ainavand, Sadiq, Elm-e Tarikh dar Gostareh-ye Tamaddon-e Eslami, Teheran, Pazhuheshgah-e Ulum-e Ensani va Motale'at-e Farhangi, 1377 HS.
- Aqa Bozorg Tehrani, Muhammad Muhsin bin Ali, Al-Dzari'ah ila Tashanif al-Syi'ah, Tahqiq: Sayid Ahmad Husaini Isykevari, Beirut, Dar al-Adhwa', 1403 H.
- Ibnu Sa'ad Katib al-Waqidi, Muhammad bin Sa'ad, Al-Thabaqat al-Kubra, Tahqiq: Muhammad Abdul Qadir Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1410 H.
- Ibnu Nadim, Muhammad bin Ishaq, Al-Fihrist, Tahqiq: Ibrahim Ramadhan, Beirut, Dar al-Ma'rifah, 1417 H.
- Arbili, Ali bin Isa, Kasyf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah, Terjemahan: Ali bin Husain Zaware'i, Tahqiq: Ibrahim Miyanji, Teheran, Entesharat-e Eslamiyeh, 1382 HS.
- Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1425 H.
- Jafarian, Rasul, Hayat-e Fekri va Siyasi-ye Emaman-e Syi'eh (as), Teheran, Nashr-e Elm, 1390 HS.
- Jafarian, Rasul, Sireh-ye Rasul-e Khoda, Qom, Entesharat-e Dalil-e Ma, 1382 HS.
- Jafarian, Rasul, Manabe'-e Tarikh-e Eslam, Teheran, Nashr-e Elm, 1393 HS.
- Husaini Jalali, Sayid Muhammad Reza, Tadwin al-Sunnah al-Syarifah, Qom, Maktab al-I'lam al-Islami, 1418 H.
- Husainiyan Muqaddam, Husain, Tathavvur-shenasi-ye Sireh-negari ba Tekiyeh bar Naqsh-e Ashab-e Emaman (as), Qom, Pazhuheshgah-e Hozeh va Daneshgah, 1395 HS.
- Khatib Baghdadi, Ahmad bin Ali, Al-Jami' li Akhlaq al-Rawi wa Adab al-Sami', Tahqiq: Muhammad Ajjaj Khatib, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1417 H.
- Dadash-nejad, Mansour, Simay-e Davazdah Emam dar Miras-e Maktub-e Ahl-e Sonnat, Qom, Pazhuheshgah Ulum va Farhang Eslami, 1395 HS.
- Sakhawi, Muhammad bin Abdurrahman, Al-I'lan bi al-Taubikh liman Dzamma al-Tarikh, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Tanpa Tahun.
- Sezgin, Fuat, Tarikh al-Turats al-Arabi, Qom, Kitabkhaneh Omumi Hazrat Ayatullah al-Uzhma Mar'asyi Najafi, 1412 H.
- Sadr, Sayid Hasan, Ta'sis al-Syi'ah li 'Ulum al-Islam, Beirut, A'lami, 1416 H.
- Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Fihrist, Tahqiq: Javad Qayyumi, Qom, Nasyr al-Faqahah, 1417 H.
- Thabathaba'i, Sayid Abdul Aziz, Ahl al-Bait fi al-Maktabah al-Arabiyyah, Qom, Muassasah Al al-Bait li Ihya' al-Turats, 1417 H.
- Gibb, Hamilton Alexander Rosskeen, «Ilm al-Tarikh», dalam *Da'irah al-Ma'arif al-Islamiyyah* (Jld. 4), Terjemahan: Kelompok Penerjemah, Beirut, Dar al-Fikr, Tanpa Tahun.
- Munajjid, Salahuddin, Mu'jam ma Ullifa 'an Rasulillah (saw), Tahqiq: Nadi Attar, Kairo, Dar al-Qadhi Iyadh lil-Turats, Tanpa Tahun.
- Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijal al-Najasyi, Tahqiq: Sayid Musa Syubairi Zanjani, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1418 H.
- Nassar, Ammar Aboudi, Tahavvol-e Sireh-negari Payambar (saw) nazd-e Movarrekhin-e Mosalman ta Payan-e Asr-e Abbasi, Terjemahan: Ameneh Mousavi Shajari dan Seif Ali Zahedifar, Qom, Pazhuheshgah Ulum va Farhang Eslami, 1399 HS.
- Yaqut Hamawi, Yaqut bin Abdullah, Mu'jam al-Udaba, Tahqiq: Ihsan Abbas, Beirut, Dar al-Gharb al-Islami, 1414 H.