Peristiwa Terbunuhnya Utsman

tanpa navbox
Dari wikishia

Peristiwa terbunuhnya Utsman mengacu pada pemberontakan masyarakat pada tahun 35 H dalam melawan Utsman bin Affan, khalifah ketiga umat Islam, yang menyebabkan terjadinya peristiwa pembunuhannya. Awal pemberontakan muncul dari rakyat Mesir sebagai tanggapan atas pemecatan Amr bin Ash dari jabatan gubernur Mesir dan pengangkatan Abdullah bin Abi Sarh sebagai penggantinya. Tentu saja, cara Utsman memerintah dalam mempercayakan posisi penting pemerintahan kepada kerabat Umayyahnya, serta memberikan bagian terbesar Bait al-Mal kepada mereka, menyebabkan ketidakpuasan dan protes di kalangan masyarakat, termasuk para sahabat Nabi saw. Para pemrotes Mesir pergi ke Madinah untuk melakukan unjuk rasa, dan dengan perantaraan Imam Ali as, Utsman berkomitmen untuk mereformasi banyak hal yang berguna bagi masyarakat Mesir. Ketika dalam perjalanan kembali, mereka menemukan surat Utsman yang ditujukan kepada gubernur Mesir, di mana Utsman memerintahkan untuk membunuh dan memenjarakan mereka. Oleh karena itu, mereka kembali ke Madinah dan menuntut pengunduran diri Utsman dari kekhalifahan, tetapi Utsman tidak menyetujui permintaan mereka. Mereka mengepung rumah Utsman dan setelah empat puluh hari pengepungan, kemudian dia dibunuh dan jasadnya dicegah untuk dimakamkan di pemakaman orang-orang Muslim. Pembunuhan Utsman menyebabkan dimulainya konflik dan perang saudara di antara umat Islam. Antara lain, berkobarnya lagi konflik antara bani Hasyim dan bani Umayyah, begitu juga Aisyah, Thalhah dan Zubair yang memulai perang Jamal melawan Imam Ali dengan dalih menuntut darah Utsman. Oleh karena itu, peristiwa ini dianggap sebagai awal dari fitnah di dalam dunia Islam. Imam Ali as menganggap Utsman memiliki banyak kesalahan dan kekeliruan, tetapi Imam Ali as tidak setuju kalau Utsman terbunuh, jadi dia memerintahkan orang-orang seperti Imam Hasan as dan Abdullah bin Zubair untuk melindungi rumah Utsman.

Pentingnya Peristiwa Ini Dalam Sejarah Islam

Pembunuhan Utsman dianggap sebagai salah satu peristiwa terpenting di periode setelah Nabi Islam Muhammad saw. Menurut beberapa peneliti, setelah terbunuhnya Utsman, sejarah Islam memasuki babak baru.[1] Selain itu, pembunuhan Utsman memiliki berbagai konsekuensi dan berpengaruh dalam kemunculan peristiwa - peristiwa selanjutnya. Sejarawan Ahlusunah, Ibn Hajar Asqalani (W. 852 H) menganggap peristiwa pembunuhan Utsman sebagai awal dari fitnah di dalam dunia Islam.[2]

Deskripsi Kisah

Menurut sumber – sumber sejarah yang ada, setelah tersingkirnya Amr bin Ash dari pemerintahan Mesir dan diangkatnya Abdullah bin Abi Sarh sebagai penggantinya, sekitar enam ratus orang Mesir pergi ke Madinah untuk melakukan unjuk rasa, dan ini adalah awal dari aksi protes terhadap Utsman.[3] Setelah pindah ke Madinah, para pengunjuk rasa menulis surat dan menyeru orang-orang untuk datang ke Madinah.[4]

Kedatangan Pengunjuk Rasa di Madinah dan Tobat Utsman

Ketika para pengunjuk rasa mendekati kota Madinah, Utsman menjadikan Imam Ali as sebagai mediator untuk mengembalikan mereka ke Mesir.[5] Menurut keterangan sumber – sumber sejarah, Utsman berjanji kepada para pengunjuk rasa bahwa orang-orang yang diasingkan akan dikembalikan, dan dalam masalah pembagian harta Baitul mal akan memperhatikan asas keadilan. Dan orang-orang yang dapat dipercaya dan kuat akan ditunjuk untuk menangani urusan ini.[6] Juga, Utsman pergi ke mimbar dan bertobat, serta meminta pengampunan atas tindakannya dan menjadikan orang-orang sebagai saksi atas apa yang dia katakan. Setelah itu, para pengunjuk rasa kembali ke kota mereka.[7]

Para Pengunjuk Rasa Kembali ke Madinah

Ketika para pengunjuk rasa kembali dari Madinah, mereka menemukan budak Khalifah yang menyembunyikan sebuah surat.[8] Surat tersebut disahkan dengan cap dari Khalifah dan di dalamnya tertulis perintah pembunuhan dan pemenjaraan para pengunjuk rasa. Para pengunjuk rasa kembali ke Madinah setelah mengetahui isi dari surat itu.[9] begitu juga orang-orang Kufah setelah diberitahu isi surat tersebut.[10] Para pengunjuk rasa pergi menemui Imam Ali as dan pergi bersamanya ke Utsman. Utsman bersumpah bahwa dia tidak menulis surat itu bahkan tidak mengetahuinya.[11] Tetapi para pengunjuk rasa tidak yakin dan mengatakan bahwa Utsman harus mengundurkan diri dari kekhalifahan.[12] Utsman tidak menerima kata-kata mereka, namun Utsman mengatakan bahwa dirinya siap untuk bertobat. Dengan mengacu pada taubat sebelumnya dan pelanggarannya, para pengunjuk rasa mengatakan bahwa mereka akan puas hanya dengan pengunduran diri Utsman dari kekhalifahan, baik itu dengan konsekuensi mereka terbunuh atau utsman yang terbunuh.[13]

Pengepungan Rumah Utsman

Para pengunjuk rasa mengepung rumah Utsman dan mereka mencegah air dan makanan masuk ke dalam rumahnya.[14] Para pengepung adalah orang-orang dari wilayah Mesir, Basrah, Kufah dan sebagian penduduk Madinah.[15] Pengepungan rumah Utsman berlangsung selama empat puluh hari.[16] Selama periode ini, Utsman menulis surat kepada Muawiyah dan Ibn Amir dan meminta bantuan mereka.[17] Di sisi lain, atas perintah Imam Ali as, Imam Hasan as bersama dengan orang-orang seperti Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam melindungi rumah Utsman.[18] Utsman meminta Imam Ali as, Thalhah, Zubair dan istri-istri Nabi Saw untuk membawakan air untuknya.[19] Imam Ali as dan Ummu Habibah, istri Nabi Saw adalah orang-orang pertama yang mencoba membawakan air untuk Utsman, tetapi pemberontak mencegah mereka.[20] Setelah mencegah masuknya air dan makanan, Imam Ali as menegur keras para pemberontak dan menganggap tindakan mereka bukanlah tindakan orang-orang beriman, bahkan orang-orang kafir pun tidak akan melakukannya. Imam Ali as mengatakan dalil mana yang memperbolehkan penahanan dan pembunuhan Utsman.[21] Tentu saja, ada beberapa kelompok diam-diam membawa air kepada khalifah.[22]

Pembunuhan dan Penguburan Utsman

Ada berbagai keterangan yang berbeda tentang pembunuhan Utsman.[23] Menurut beberapa keterangan, sebuah kelompok menyerang rumah dan orang-orang di rumah mengusir mereka. Mereka menyerang lagi, dalam serangan ini Utsman terbunuh[24] dan jari istrinya Nailah terputus[25]. Pembunuhan Utsman diperkirakan terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah, 35 H.[26] Hari kematian Utsman juga dikenal sebagai Peristiwa “Yaumuddar". Menurut keterangan yang diriwayatkan oleh Tabari, jenazah Utsman dibiarkan selama tiga hari, setelah itu, beberapa jenazah yang ada dibawa ke Baqi, tetapi beberapa orang mencegah jasanya untuk dimakamkan di Baqi, sehingga ia dimakamkan di Husy-Kaukab (pemakaman orang-orang Yahudi), dan kemudian Muawiyah menggabungkan tempat tersebut ke dalm Baqi.[27]

Asal Muasal Munculnya Ketidakpuasan dan Pemberontakan

Sebagian orang percaya bahwa ketidakpuasan dan pemberontakan terhadap Utsman tidak terjadi secara tiba-tiba dan hanya sekali terjadi, tetapi justru dilatarbelakangi dengan berbagai faktor yang menyebabkan munculnya pihak oposisi dari waktu ke waktu.[28] Faktor-faktor tersebut sebagian besar terkait dengan kinerja Khalifah.[29] Diantaranya:

• Pengangkatan Bani Umayyah Untuk Memegang Urusan Pemerintahan Menurut Rasul Jafarian (lahir tahun 1343 HS), seorang sejarawan, Utsman mempercayakan posisi penting pemerintahan kepada Bani Umayyah dan hampir semua kekuasaan jatuh ke tangan mereka.[30] Dengan pengangkatan Bani Umayyah untuk memegang posisi penting pemerintahan, Utsman bisa dikatakan sebagai pengasas pemerintah Bani Umayyah. Sumber sejarah menyebutkan beberapa kabilah dari Utsman dan posisi mereka sebagai berikut:

Pengangkatan kerabat Utsman ke posisi penting dan bentuk kinerja pemerintahan mereka telah menyebabkan banyak umat Islam melakukan protes.[31] Bagaimana dengan Abdullah bin Amir yang memiliki riwayat kemurtadannya.[32] Walid bin Uqbah disebut sebagai fasik di dalam Al-Qur'an. Dia dan ayahnya diusir dari Madinah oleh Nabi Saw, akan tetapi Utsman tetap membawa mereka kembali ke Madinah.[33]

Imam Ali as berkata: "Yang ketiga (Utsman) berkuasa ... dan garis keturunan ayahnya (Bani Umayyah) bangkit bersamanya dan mulai menjarah Baitul Mal seperti unta yang dengan bersemangat memakan tanaman musim semi yang segar. Sebagai akibat dari situasi ini, anyamannya menjadi kapas, dan perbuatan amalannya telah membunuhnya".[34]

• Pemberian Harta Baitul Mal Utsman menjadi sangat kaya setelah menjabat kekhalifahan.[35] Permasalahan terpenting Utsman adalah pembagian harta Baitul Mal.[36] Dia memberikan banyak harta kepada bani Umayyah.[37] Pada kesempatan lainnya ia memberikannya kepada Abdullah bin Abi Sarh.[38] Dia juga memberikan banyak harta kepada Harits bin Hakam,[39] Hakam bin Abi al-Ash,[40] Abdullah bin Khalid bin Asyad dan lainnya. Pemberian harta ini bertentangan dengan kebijakan para khalifah sebelum Utsman,[41] dan telah menyebabkan dampak negatif bagi masyarakat, serta menimbulkan kecurigaan banyak orang.[42]

• Abdullah Bin Saba Beberapa sejarawan Ahlussunah percaya bahwa Abdullah bin Saba berperan dalam mempropagandakan dan menciptakan pemberontakan melawan Utsman.[43] Di sisi lain, pihak dari ulama Syiah[44] dan sebagian ulama Ahlussunah[45] meragukan keberadaan seseorang bernama Abdullah bin Saba ini. Juga, menurut Rasul Jafarian, masyarakat Islam tidak begitu lemah sehingga pemberontakan melawan khalifah Muslim dilakukan oleh seorang Muslim Yahudi yang baru menjadi Islam.[46]

Peran Sahabat

Taha Husein (meninggal 1973), salah satu peneliti dari Ahlussunah percaya bahwa tidak ada Sahabat Muhajir dan Ansar yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. Beberapa dari mereka menentang kebijakan Utsman, tetapi mereka terpaksa untuk tetap diam. Sebagian sahabat lainnya tidak ikut campur, dan yang lainnya juga meninggalkan Madinah.[47] Dia juga meyakini bahwa apa yang dilaporkan dalam sumber-sumber periwayatan dan sejarah tentang adanya peran para sahabat dalam pengepungan dan penyerangan, serta pembunuhan Utsman adalah lemah.[48] Hal ini adalah sebagai hasil dari analisa pada keyakinan Ahlusunnah yang memandang keadilan semua sahabat, sedangkan pengakuan terhadap peran sahabat dalam pembunuhan Utsman bertentangan dengan keyakinan mereka.[49] Namun, menurut berbagai sumber, beberapa sahabat terlibat dalam pemberontakan melawan Utsman. Misalnya, Hasyim bin Utbah telah memperkenalkan para pembunuh Utsman sebagai sahabat Muhammad Saw, anak-anak mereka, dll.[50] Juga, istri Utsman menulis surat kepada Muawiyah setelah pembunuhan Utsman, dimana ia menganggap penduduk Madinah sebagai orang-orang yang mengepung Utsman di rumahnya.[51]

Posisi Imam Ali as

Di satu sisi, Imam Ali as menyebut Utsman sebagai "pemikul banyak kesalahan"[52] dan tidak meyakini bahwa Utsman dibunuh dalam kondisi terzalimi.[53] Di sisi lain, dia menentang pembunuhan Utsman dan menunjuk dirinya sebagai orang yang paling tidak bersalah dalam kaitannya dengan pembunuhan Utsman[54], begitu juga Imam Ali as menasihati para pemberontak dan menunjukkan kesalahan mereka.[55] Selama pengepungan rumah Utsman, beberapa orang menyarankan kepada Imam Ali as untuk meninggalkan Madinah sehingga jika Utsman terbunuh, dia sedang tidak berada di Madinah. Namun Imam Ali as tidak menerima tawaran mereka.[56]

Thalhah

Thaha Husein (meninggal 1973 M), seorang sejarawan Mesir, menganggap Thalhah sebagai salah satu orang yang tidak menyembunyikan keinginannya untuk bergabung dengan para pemberontak, bahkan dia memberikan sebagian hartanya kepada sekelompok dari mereka.[57] Juga, menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Thalhahlah yang memberikan ide untuk melarang membawakan air dan makanan ke dalam rumah Utsman.[58]

Muawiyah

Ketika Utsman dikepung, dia menulis surat kepada Muawiyah dan meminta bantuannya. Muawiyah juga mengirim pasukan sebanyak dua belas ribu orang. Tapi dia memerintahkan mereka untuk tinggal di perbatasan Suriah sampai perintah berikutnya dikeluarkan.[59] Tentara ini gagal mencapai Madinah untuk membantu khalifah, dan ketika utusan Suriah pergi ke Utsman untuk mendapatkan informasi darinya, Utsman mengatakan kepadanya bahwa anda sekarang sedang menunggu kematian saya, sampai Anda menjadikan diri Anda sendiri sebagai penuntut darah saya.[60] Imam Ali as menyalahkan Muawiyah karena telah membunuh Utsman (secara tidak langsung) dan ketika Muawiyah menuduhnya membunuh Utsman, Imam Ali as menyebutkan kegagalan Muawiyah dalam membantu Utsman dan juga mengingatkan adanya pembelaan Imam as terhadap Utsman selama pengepungan.[61] Imam Ali) "Pihak mana yang telah mempersiapkan peristiwa pembunuhan Utsman; Ali adalah pihak yang telah membantu Utsman untuk tetap pada posisinya dan memperingatkannya untuk menghentikan segala kesalahannya, atau Muawiyah yang diminta bantuan Utsman dan dia menunda membantunya sampai tentara kematian menimpanya."[62] Beberapa sahabat lainnya juga berbicara kepada Muawiyah dan menganggapnya sebagai salah satu pelaku pembunuhan Utsman, bahwa dia gagal mendukungnya, bahkan dia menunggu terbunuhnya Utsman.[63]

Aisyah

Menurut Muhammad bin Jarir Thabari, Aisyah berkata tentang Utsman, "Bunuhlah orang tua bodoh itu[Catatan 1] karena dia telah kafir".[64] Ketika pemberontak berada di Madinah, Marwan bin Hakam meminta Aisyah untuk menengahi antara Khalifah dan pemberontak. Aisyah menjadikan perjalanan haji sebagai alasan dan mengatakan bahwa dia senang kalau dirinya memotong Utsman menjadi beberapa bagian dan melemparkannya ke laut.[65] Setelah kematian Utsman, Aisyah mengubah posisinya dan mengklaim bahwa dia menuntut darahnya. Dalam surat Sa’ad bin Abi Waqash kepada Ibn Ash dituliskan bahwa: Dia dibunuh dengan sebuah pedang, dimana Aisha lah yang merencanakan dan Talhah yang menyepurnakannya.[66] Namun, setelah pembunuhan Utsman dan orang-orang yang berjanji setia kepada Ali as, Aisyah kembali ke Mekah, dan memberikan pidato kepada orang-orang, serta menyebutkan bahwa Imam Ali as adalah orang yang bertanggung jawab dalam pembunuhan Utsman.[67] Dengan perubahan sikap Aisyah ini, Ummu Salamah, istri Nabi Saw menegurnya dengan keras bahwa anda telah menghasut orang-orang untuk membunuh Utsman, akan tetapi hari ini anda mengatakan hal ini.[68] Aisyah menjawab: Apa yang saya katakan sekarang lebih baik daripada apa yang saya katakan saat itu.[69]

Beberapa Konsekuensi Peristiwa Pembunuhan Utsman memiliki konsekuensi di kemudian hari, beberapa di antaranya adalah: • Peristiwa ini yang mendasari terjadi perang pada masa kekhalifahan Imam Ali as; Menurut sejarawan, perang Jamal dimulai oleh Aisyah, Thalhah dan Zubair dengan dalih menginginkan darah Utsman.[70] Tentu saja, Imam Ali as dalam sebuah surat kepada mereka berbicara tentang ketiadaan peran dirinya dalam pembunuhan Utsman dan mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak menginginkan untuk menuntut darah Utsman.[71] Imam Ali as juga mengatakan tentang Thalhah dan Zubair bahwa mereka menuntut hak yang mereka tinggalkan dan mereka menggunakan balas dendam untuk darah Utsman sebagai alasan saja, padahal mereka sendiri yang menumpahkan darahnya.[72] • Berkobarnya perselisihan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim: Bani Umayyah menggunakan peristiwa pembunuhan Utsman sebagai sarana untuk mengembalikan supremasi dan kekuasaan mereka di antara orang-orang Arab. Menurut pernyataan Rasul Jafarian, kematian Utsman adalah yang paling bermanfaat bagi Muawiyah.[73] Setelah peristiwa pembunuhan Utsman, dia pergi ke mimbar dan menganggap dirinya sebagai penuntut darah Utsman.[74] Dan potongan jari istri Utsman Nailah beserta baju Utsman menjadi alat untuk memprovokasi rakyat Syam.[75] • Terbentuknya pemikiran Nashibi. Dikatakan bahwa pandangan Nashibi dimulai dengan terjadinya peristiwa pembunuhan Utsman dan diresmikan di zaman pemerintahan Umayyah.[76]

Catatan Kaki

  1. Al-Ghibban, Fitnah Maqtal 'Utsmān bin 'Affān, jld. 1, hlm. 238.
  2. Ibn Hajar, al-Ishābah, jld. 4, hlm. 379.
  3. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 7, hlm. 170.
  4. Ibn Khaldun, Tārīkh Ibn Khaldūn, jld. 2, hlm. 594.
  5. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 7, hlm. 170-171.
  6. Thusi, al-Āmālī, hlm. 713; Dzahabi, Tārīkh al-Islām, jld. 3, hlm. 443; Khalifah, Tārīkh Khalīfah, hlm. 99.
  7. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 7, hlm. 170-171.
  8. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 168.
  9. Dzahabi, Tārīkh al-Islām, jld. 3, hlm. 442-443.
  10. Ibn Khaldun, Tārīkh Ibn Khaldūn, jld. 2, hlm. 599.
  11. Dzahabi, Tārīkh al-Islām, jld. 3, hlm. 442-443.
  12. Ibn Khaldun, Tārīkh Ibn Khaldūn, jld. 2, hlm. 599.
  13. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 169.
  14. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 172.
  15. Ibn Atsir, Asad al-Ghābah, jld. 3, hlm. 490.
  16. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 172.
  17. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 170.
  18. Ibn Abdul Barr, al-Istī'āb, jld. 3, hlm. 1046.
  19. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 173.
  20. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 4, hlm. 386.
  21. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 4, hlm. 386.
  22. Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 174.
  23. Gharib, Khlilāfah 'Utsmān bin 'Affān, hlm. 149.
  24. Ibn A'stam, al-Futūh, jld. 2, hlm. 426.
  25. Ibn at-Thaqthaqi, al-Fakhrī, hlm. 104.
  26. Ibn Sa'd, at-Thabaqāt al-Kubrā, jld. 3, hlm. 22.
  27. Thabari, Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 4, hlm. 412.
  28. Gharib, Khilāfah 'Utsmān bin 'Affān, hlm. 103.
  29. As-Syekh, Asbāb al-Fitnah fī 'Ahd 'Utsmān, hlm. 455.
  30. Ja'fariyan, Tārīkh-e Khulafā, hlm. 144.
  31. Gharib, Khilāfah 'Utsmān bin 'Affān, hlm. 105.
  32. Gharib, Khilāfah 'Utsmān bin 'Affān, hlm. 106.
  33. Ibn Abdul Barr, al-Istī'āb, jld. 1, hlm. 359.
  34. Nahj al-Balāghah, khatbah 3.
  35. As-Syekh, Asbāb al-Fitnah fī 'Ahd 'Utsmān, hlm. 455.
  36. Ya'qubi, Tārīkh al-Yā'qūbī, jld. 2, hlm. 173.
  37. Baladzuri, Ansāab al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 359.
  38. Gharib, Khilāfah 'Utsmān bin 'Affān, hlm. 156.
  39. Baladzuri, Ansāab al-Asyrāf, jld. 5, hlm. 541.
  40. Muqaddasi, al-Bad' wa at-Tārīkh, jld. 5, hlm. 200.
  41. Ibn at-Thaqthaqi, al-Fakhrī, hlm. 102-103.
  42. As-Syekh, Asbāb al-Fitnah fī 'Ahd 'Utsmān, majalah al-Azhar, vol. 22, hlm. 455.
  43. Ibn Katsir, al-Bidāyah wa an-Nihāyah, jld. 7, hlm. 167; Ibn Khaldun, Tārīkh Ibn Khaldūn, jld. 2, hlm. 587.
  44. Lihat Asgari, Abdullah bin Saba' wa Asāthīr Ukhrā.
  45. Taha Husain, al-Fitnah al-Kubrā, jld. 2, hlm. 102.
  46. Ja'fariyan, Tārīkh-e Khulafā, hlm. 156.
  47. Husain, Ali wa Fetne-e Buzurg-e Qatl-e 'Utsman, hlm. 45.
  48. Al-Ghibban, Fitnah Maqtal 'Utsmān bin 'Affān, jld. 1, hlm. 237.
  49. Al-Ghibban, Fitnah Maqtal 'Utsmān bin 'Affān, jld. 1, hlm. 116.
  50. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 5, hlm. 43.
  51. Ibn Jauzi, al-Muntadzam, jld. 5, hlm. 61.
  52. Tsaqafi, al-Ghārāt, jld. 1, hlm. 62.
  53. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shiffīn, hlm. 202.
  54. Nahj al-Balāghah, surat 6.
  55. Lihat Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 173.
  56. Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 31, hlm. 487; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 5, hlm. 568.
  57. Husein, Ali wa Fetne-e Buzurg-e Qatl-e Utsman, majalah Gulestan-e Quran, vol. 10, hlm. 45.
  58. Ibn Qutaibah, al-Imāmah wa as-Siyāsah, jld. 1, hlm. 57.
  59. Ya'qubi, Tārīkh al-Yā'qūbī, jld. 2, hlm. 175.
  60. Ya'qubi, Tārīkh al-Yā'qūbī, jld. 2, hlm. 175.
  61. Nahj al-Balāghah, surat 28.
  62. Nahj al-Balāghah, surat 28.
  63. Lihat Ja'fariyan, Tārīkh-e Khulafā, hlm. 174-175.
  64. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 4, hlm. 459.
  65. Ya'qubi, Tārīkh al-Yā'qūbī, jld. 2, hlm. 175.
  66. Abdul Makshud, al-Imām Alī bin Abī Thālib, jld. 2, hlm. 236.
  67. Abdul Makshud, al-Imām Alī bin Abī Thālib, jld. 2, hlm. 267.
  68. Ibn A'tsam, al-Futūh, jld. 2, hlm. 437.
  69. Thabari, Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk, jld. 4, hlm. 459.
  70. Lihat Ibn Atsir, al-Kāmil, jld. 3, hlm. 205-208.
  71. Nahj al-Balāghah, surat 54.
  72. Nahj al-Balāghah, khutbah 22
  73. Ja'fariyan, Tārīkh-e Khulafā, hlm. 178.
  74. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shiffīn, hlm. 81.
  75. Ibn at-Thaqthaqi, al-Fakhrī, hlm. 104.
  76. Kausari, Barresi-e Risyeha-e Tarikhi-e Nasebigari, Majalah Seraj-e Munir, vol. 16, hlm. 99.

Daftar Pustaka

  • Abdul Makshud, Abdul Fattah. Al-Imām Alī bin Abī Thalib. Beirut: Maktabah al-'Irfan.
  • Al-Ghibban, Muhammad bin Abdullah. Fitnah Maqtal 'Utsmān bin 'Affān. Madinah: Al-Jami'ah al-Islamiyyah, 1419 H.
  • As-Syekh, Abdul Mun'im. Asbāb al-Fitnah fī 'Ahd 'Utsmān. Majalah al-Azhar. Vol: 22, 1370 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya. Ansāb al-Asyrāf. Riset Suhail Zakkar, Riyadh Zarkili. Beirut: Dar al-Fikr, 1417 H.
  • Dainawari, Ahmad bin Dawud. Al-Akhbār ath-Thiwāl. Qom: Mansyurat-e Radhi, 1368 HS/1989 H.
  • Dzahabi, Muhammad bin Ahmad. Tārīkh al-Islām. Riset Umar Abdus Salam Tadammuri. Beirut: Dar al-Kutub al-'Arabi, 1409 H.
  • Gharib, Ma'mun. Khilāfah 'Utsmān bin 'Affān. Kairo: Markaz al-Kitab li an-Nasyr.
  • Husain, Taha. Al-Fitnah al-Kubrā. Kairo: Hindawi, 2012.
  • Husain, Taha. Ali wa Fetne-e Buzurg-e Qatl-e Usman. Penerjemah Reza Radi. Majalah Gulestan-e Quran. Vol: 10, 1379 HS/2000.
  • Ibn Abdul Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Istī'āb fī Ma'rifah al-Ashhāb. Riset Ali Muhammad al-Bajawi. Beirut: Dar al-Jail, 1412 H.
  • Ibn A'stam Kufi, Ahmad bin A'stam. Al-Futūh. Riset Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa', 1411 H.
  • Ibn Atsir, Ali bin Muhammad. Al-Kāmil fī at-Tārīkh. Beirut: Dar Shadir, 1385 H.
  • Ibn Atsir, Ali bin Muhammad. Asad al-Ghābah fī Ma'rifah ash-Shahābah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409.
  • Ibn at-Thaqthaqi, Muhammad bin Ali. Al-Fakhrā. Riset Abdul Qadir Muhammad Mayu. Beirut: Dar al-Qalam al-'Arabi, 1418 H.
  • Ibn Hajar Asqalani, Ahmad bin Ali. Al-Ishābah fī Tamyīz ash-Shahābah. Riset Adil Ahmad Abdul Maujud, Ali Muhammad Mu'awwadh. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Ibn Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Al-Muntadzam. Riset Abdul Qadir Atha, Mushtafa Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1412 H.
  • Ibn Katsir Damisyqi, Isma'il bin Umar. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Ibn Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tārīkh Ibn Khaldūn. Riset Khalil Syahadah. Beirut: Dar al-Fikr, 1408 H.
  • Ibn Qutaibah Dainawari, Abdullah bin Muslim. Al-Imāmah wa as-Siāsah. Riset Ali Syiri. Beirut: Dar al-Adhwa', 1410 H.
  • Ibn Sa'd, Muhammad bin Sa'd. Ath-Thabaqāt al-Kubrā. Riset Muhammad Abdul Qadir Atha. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1410 H.
  • Ja'fariyan, Rasul. Tārīkh-e Khulafā. Qom: Dalil-e Ma. 1380 HS/2001.
  • Kausari, Ahmad. Barresi-e Risyeha-e Tārīkhī-e Nashebigari. Majalah Siraj-e Munir. Vol: 16, 1393 HS/2014.
  • Khalifah bin Khayyat. Tārīkh Khalīfah bin Khayyāth. Riset Fawwaz. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1415 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār. Beirut: Dar Ihya' at-Turats al-'Arabi, 1403 H.
  • Muqaddasi, Muthahhar bin Tahir. Al-Bad' wa at-Tārīkh. Bur Sa'id. Maktabah ats-Tsaqafah ad-Diniyyah.
  • Nashr bin Muzahim. Waq'ah ash-Shiffīn. Penyunting Abdus Salam Muhammad Harun. Qom: Maktabah Ayatullah al-Mar'asyi an-Najafi, 1404 H.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir. Tārīkh al-Umam wa al-Mulūk. Riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar at-Turats, 1387 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Āmālī. Qom: Dar ats-Tsaqafah, 1414 H.
  • Tsaqafi, Ibrahim bin Muhammad. Al-Ghārāt. Penyunting Jalaluddin Muhaddits. Tehran: Anjuman-e Asar-e Melli, 1395 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub. Tārīkh Ya'qūbī. Beirut: Dar Shadir.