Prioritas: b, Kualitas: a

Fathu Mekah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Fathu Makkah (bahasa Arab: فتح مكة) adalah peristiwa penaklukan kota Makkah pada tahun 8 Hijriah/629 oleh kaum muslimin dengan pimpinan Rasulullah saw dalam mereaksi pelanggaran perjanjian Hudaibiyah oleh kelompok Quraisy dan membuahkan beberapa hasil seperti memeluk Islamnya beberapa orang musyrik Semenanjung Arab pada tahun-tahun berikutnya. Para pemimpin Quraisy termasuk Abu Sufyan telah memeluk Islam sebelum masuknya kaum muslimin ke kota Mekah. Rasulullah saw mengeluarkan perintah pengampunan massal dengan seruan Al-Yaum Yaumul Marhamah (hari ini adalah hari rahmat dan kasih sayang).

Sebab Terjadinya Pertempuran

Sebab terjadinya pertempuran tersebut karena orang-orang Quraisy melanggar "Perjanjian Hudaibiyah". Pada tahun 8 Hijriah/629 dan setelah terjadinya tiga pertempuran besar; Badar, Uhud dan Khandaq, akhirnya kaum muslimin dan musyrikin di kawasan Hudaibiyah satu sama lain saling menandatangani perjanjian perdamaian yang isinya adalah disepakatinya perdamaian selama 10 tahun antar kedua belah pihak. [1]

Namun dua tahun berikutnya, Quraisy melanggar perjanjian tersebut. Kabilah Bani Khuza'ah merupakan sekutu kaum muslimin dan kabilah Bani Bakr sebagai sekutu Quraisy. Dalam sebuah pertempuran yang terjadi pada tahun 8 H/629 antara kedua kabilah tersebut, beberapa orang dari Quraisy membunuh beberapa orang dari kabilah Bani Khuza'ah yang menguntungkan Bani Bakr. Ini berarti melanggar perdamaian Hudaibiyah dan meskipun Abu Sufyan sendiri pergi ke Madinah untuk meminta maaf, namun uzurnya tidak diterima dan dalam waktu sekejap, Rasulullah saw dengan pasukan besar, pada masa perdamaian dan penyebaran Islam berkumpul dan bergerak untuk menaklukkan Mekah. [2]

Pengumpulan Pasukan

Rasulullah saw berpesan kepada orang-orang Arab muslim badui bahwa jika seseorang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaknya ada di Madinah pada bulan Ramadhan. Beliau mengirim delegasi ke pelbagai kabilah guna memobilisasi mereka. Pasukan Islam berjumlah 10.000 pasukan dan dari pelbagai kabilah sebagai berikut:

  • Kaum Muhajirin: 700 laki-laki 300 kuda.
  • Anshar: 4000 laki-laki dan 500 kuda.
  • Mazinah: 1000 laki-laki, 100 kuda dan 100 baju besi.
  • Aslam: 400 laki-laki 300 kuda.
  • Juhainah: 800 laki-laki 50 kuda.
  • Bani Ka'ab bin Amr: 500 laki-laki.
  • Bani Salim: 700 laki-laki.
  • Bani Ghifar 400 laki-laki.
  • Dari kabilah lain sekitar 1500 laki-laki. [3]

Dimulainya Gerakan

Rasulullah dengan sejumlah pasukan bergerak menuju Mekah. Salah seorang muslim Muhajirin yang bernama Khatib bin Abi Balta'ah mengirim berita keberangkatan pasukan Islam kepada kaum Quraisy dengan perantara seorang wanita bernama Sarah[4] , namun Nabi saw mengetahui mata-mata tersebut dan memerintahkan Ali (as), Zubair dan Miqdad sebisa mungkin untuk menangkap wanita tersebut. [5]

Mereka menangkap mata-mata tersebut di pertengahan jalan antara Madinah dan Mekah, di sebuah tempat bernama Raudhah Khakh dan menurut sebuah pendapat bahwa ia ditangkap di Khaliqah dan mereka membawa mata-mata tersebut ke hadapan Rasulullah saw [6]

Rasulullah saw sangat berhati-hati jangan sampai Quraisy mengetahui pergerakan pasukan Islam. Dengan demikian penduduk Mekah dan mata-mata mereka sama sekali tidak mengetahui akan keberangkatan pasukan Islam hingga pasukan islam tiba di Marr al-Zhahran yang berjarak beberapa kilo meter dari Mekah. [7]

Tunduknya Para Pemimpin Mekah

Ketika pasukan Islam tiba di Marr al-Zhahran, Rasulullah saw memerintahkan pasukannya supaya menyalakan api di banyak titik. Mereka menyalakan sekitar sepuluh ribu api. Abu Sufyan, Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa' yang datang untuk mencari berita, dengan melihat api dari kejauhan, mereka merasa takut dan beranggapan bahwa kabilah Hawazan hendak melakukan kudeta terhadap mereka dan ketika Abu Sufyan semakin lebih dekat, ia melihat pasukan Islam.

Abbas, paman Rasulullah membawa ketiganya (Abu Sufyan, Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa') ke hadapan Rasululah saw untuk memeluk Islam. Abbas berkata kepada Rasulullah, aku yang mengawal mereka dan mereka hendak bertemu denganmu. Nabi saw menerima kehadiran mereka. Mereka tinggal semalaman di kemah Rasulullah saw. Nabi bertanya kepada mereka tentang beberapa berita dan mengajak mereka untuk memeluk Islam seraya berkata: Katakanlah "La Ilāha Ilallah" dan bersaksilah bahwa aku adalah utusan Allah. yang dua orang (Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa') mengucapkan Syahadatain, namun Abu Sufyan setelah mengatakan "La Ilāha Illallah", ketika hendak memberikan kesaksian akan kerisalahan Nabi saw mengatakan bahwa wahai Muhammad! Hatiku saat ini sangat gelisah karena hal ini, tundalah dulu sampai besok. Dan keesokannya ia bersyahadat atas kenabian Rasulullah saw [8]

Tanggal Masuk ke Mekah

Rasulullah saw pada tanggal 10 Ramadhan dalam sebuah pasukan besar berjumlah sepuluh ribu orang muslim, baik dari Muhajirin, Anshar dan kabilah serta suku-suku sekitar Madinah bergerak menuju Mekah. [9] Sebagian sejarawan dan para penulis sirah mencatat tanggal penaklukan Mekah pada hari 13 Ramadhan, [10] namun mayoritas ulama Syiah dan Ahlusunah menyebutkan penaklukan kota Mekah pada tanggal 20 Ramadhan. [11]

Slogan kaum muslim pada hari penaklukan kota Mekah adalah "Nahnu Ibadullah Haqqan Haqqan", kami benar-benar hamba-hamba sejati Allah. [12]

Pengampunan Massal

Pada hari penaklukan Mekah, seribu pasukan bersenjata bergerak bersama Rasulullah memasuki kota Mekah. Ketika Sa'ad bin 'Ubadah dengan membawa panji Rasulullah saw melewati Abu Sufyan seraya berteriak, wahai Abu Sufyan! Hari ini adalah hari pertumpahan darah dan Allah akan menghinakan dan merendahkan Quraisy. Ketika Rasulullah tiba di hadapan Abu Sufyan, Abu Sufyan berkata, engkau memerintahkan supaya membunuh sanak kerabatmu? Sumpah demi Allah! Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling baik dan paling familier. Rasulullah saw bersabda, hari ini adalah hari rahmat dan kasih sayang. Hari ini adalah hari dimana Allah swt akan memuliakan Quraiys dengan keimanan. [13]

Setelah itu, Rasulullah saw memerintahkan Ali as supaya mengambil panji dari tangan Sa'ad bin Ubadah dan memegangnya.[14]

Setelah penaklukan Mekah, beliau berdiri di depan pintu Kakbah dan mengumumkan pengampunan massal. Beliau berkata kepada para pemuka Quraisy, sekarang apa yang akan kalian katakan? Mereka berkata: kebaikan, engkau adalah saudara dan anak saudara kami, yang sekarang ini sampai pada tampuk kekuasaan. Rasulullah berkata: namun saya mengatakan apa yang telah dikatakan saudaraku Yusuf kepada para saudara-saudaranya, "hari ini kalian tidak salah. Allah yang paling Maha Pengampun telah mengampuni kalian".[15]

Kelompok Thulaqa

Abu Sufyan dan beberapa orang lainnya yang diliputi belas kasih Rasulullah, dikenal dengan Thulaqa (yang berarti dimerdekakan).Gelar ini diambil dari sabda beliau yang berkata, "Kalian pikir apa yang akan ku lakukan dengan kalian? Mereka menjawab, kebaikan. Engkau adalah saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia. Rasulullah bersabda, pergilan kalian, sesungguhnya engkau adalah orang-orang yang dimerdekakan". [16]

Di tempat lain, dituturkan sabda Rasulullah, "al-Thulaqa min Quraisy wa al-Utaqa min Tsaqif, Ba'dhuhum Auliyau Ba'dh fi al-Dunya wa al-Akhirah (Thulaqa dari Quraisy dan Utaqa (orang-orang yang bebas) dari orang-orang yang Tsaqif, sebagian mereka menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya, di dunia dan akhirat)." [17]

Masyarakat memandang gelar ini sebagai kelemahan dan menyebutnya sebagai sebuah aib. [18] Umar menganggap kelompok Thulaqa dan keturunannya tidak layak untuk memegang khilafah dan menyampaikan ini kepada para anggota syura. [19] Imam Ali as dalam sebuah surat juga mengisyaratkan hal ini kepada Muawiyah dan menyebutnya Ibnu Thulaqa. [20]

Orang-orang yang Terkecualikan dari Pengampunan Massal

Rasulullah saw setelah mengeluarkan perintah pengampunan massal, mengecualikan beberapa orang dalam hal ini dan memerintahkan supaya membunuh mereka dimanapun ditemukan, meski berada di bawah kain Kakbah. [21]Tentu, semua orang-orang ini tidak terbunuh dan lebih dari separuhnya mendapatkan surat jaminan.

Dari Kalangan Laki-laki

  • Ikrimah Ibin Abi Jahl: Ia kabur sebelum kaum muslimin tiba, namun istrinya, yang sebelumnya telah memeluk Islam menemui Rasulullah saw dan mengambil jaminan keamanan untuknya. [22]
  • Shafwan bin Umayyah: Kabur ke Jeddah, namun ia menemui Rasulullah setelah Umair bin Wahab al-Jumahi menjamin keamanan untuknya. Ia meminta tempo dua bulan kepada Rasulullah untuk memeluk Islam, Rasulullah saw memberikan waktu empat bulan, akhirnya setelah beberapa waktu ia memeluk Islam. [23]
  • Abdullah bin Abi Sarh: Ia merupakan saudara sesusu Utsman, ia murtad setelah memeluk Islam. Utsman mengambil surat jaminan untuknya. [24]
  • Abdullah ibnu Khathal: Ia membunuh seorang muslim dan murtad. [25]Ia mati terbunuh di tangan kaum muslim setelah penaklukan Mekah. [26]
  • Huwairits bin Naqidz: Ia melantunkan syair menentang Rasulullah saw dan ia juga tidak mempedulikan syarat-syarat pengampunan massal setelah penaklukan Mekah dan keluar dari rumah dan kabur dari rumah dan akhirnya terbunuh di pertengahan jalan. [27]
  • Miqyas bin Shabatah/Dhababah: Ia kabur setelah membunuh salah seorang muslim dan murtad. Numailah bin Abdullah al-Kinani yang membunuhnya. [28]
  • Aslam bin Ziba'ri: Kabur ke Najran, namun setelah beberapa waktu memeluk Islam dan mendapat surat jaminan. [29]
  • Wahsyi bin Harb: Ia adalah pembunuh Hamzah bin Abdul Muththalib paman Rasulullah saw, setelah beberapa waktu menemui Rasulullah dan mendapat surat jaminan.

Dari Kalangan Wanita

  • Hindun binti Utbah: Ibu Muawiyah.
  • Sarah, budak 'Amr bin Abdul Muththalib: Ia menjadi mata-mata bagi kaum musyrikin dengan memata-matai pasukan Islam sebelum mereka berangkat perang. [30] Ia mendapatkan surat jaminan dan meninggal pada masa kekhilafahan Umar. [31]
  • Dua budak Abdullah bin Khatal: Nama-nama mereka adalah Qaribah dan Faratna. [32] Dua budak ini adalah penyanyi dan mencela Rasulullah saw dengan lagu-lagunya, salah satu dari mereka memeluk Islam dan yang satunya pun mati terbunuh.[33]

Kutipan pidato Rasulullah

"Setiap darah, harta dan kebanggaan yang kalian miliki di era jahiliyah, semua itu terlindas kaki dan lenyap. Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyyah dan berbangga-banga dengan nenek moyang. Muslim adalah saudara muslim dan semua muslim saling bersaudara. Kalian semua berasal dari tanah dan paling mulianya kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Jauhnya mereka sama dengan dekatnya mereka. Yang kuat dan yang lemah diantara mereka dalam pertempuran mendapatkan ghanimah (rampasan perang) secara sama. Partisipasi dalam sayap kiri (maisarah) atau kanan (maimanah) pertempuran, tidak menjadi pembeda dalam mengambil kadar ghanimah. Darah muslim mulia dan harus dijaga. Kaum muslim harus bersatu dan kompak di hadapan musuh. Tidak boleh ada satu muslimpun yang terbunuh di hadapan kafir dan tidak boleh ada seorangpun pemilik janji pada masa perjanjian yang terbunuh. [34]

Penghancuran Berhala-berhala

Setelah penaklukan Mekah, Rasulullah saw menghancurkan berhala-berhala yang ada. Dengan saran Rasulullah saw, Ali as menaiki pundak beliau dan merobohkan satu persatu berhala ke tanah. [35] Setelah penghancuran berhala, maka turunlah ayat[36]:قُلْ جاءَ الْحَقُّ وَ زَهَقَ الْباطِلُ إِنَّ الْباطِلَ کانَ زَهُوقاً; Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap".[37]

Peristiwa naiknya Imam Ali as ke pundak Rasulullah banyak diriwayatkan oleh para pemuka Ahlusunah dalam buku-bukunya, seperti: Ahmad bin Hanbal, Abu Ya'la Moshili, Abu Bakar Khatib meriwayatkannya dalam Tarikh Baghdad, Muhammad bin Shabagh Za'farani dalam Al-Fadhā'il, Hafiz Abu Bakar Baihaqi, Qadhi Abu Umar dan Utsman bin Ahmad dalam buku-bukunya, Tsa'labi dalam tafsirnya, Ibnu Mardawaih dalam Al-Manāqib, Ibnu Mundah dalam buku Al-Ma'rifah, Thabari dalam Al-Khashaish, Khatib Kharazmi dalam Al-Arba'in, Abu Ahmad Jurjani dalam Al-Tarikh. [38] Demikian juga Abu Abdillah Ja'al dan Abu al-Qasim Haskani, Abul Hasan Syadzan menulis beberapa buku dalam membuktikan peristiwa tersebut. [39]

Kerugian-kerugian

Pada hari ini tidak ada satu muslim pun yang terbunuh kecuali hanya dua orang, yang bernama Karaz bin Jabir al-Fihri[40] dan Khunais bin Khalid Asy'ari[41] atau Khalid Asy'ari[42], yang tersesat di jalan. Dua orang ini menempuh jalan lain dan di pertengahan jalan bertemu dengan kaum musyrik dan mereka berdua dibunuh. [43]

Dampak dan Pengaruh

Dengan adanya Fathu Mekkah, maka terealisasilah janji Allah yang ingin mengokohkan dan menguatkan kaum muslimin. Mekah dikuasai oleh kaum muslimin, sementara kaum musyrikin mengalami kekalahan untuk selama-lamanya. Dengan Fathu Mekah terbentuklah kekuatan militer terbesar di semenanjung Arab, dimana tidak satu pun dari kabilah atau kekuatan persatuan kabilah mampu untuk menghadapinya. Setelah beberapa waktu, kurang lebih seluruh penduduk Semenanjung Arab memeluk Islam. Penaklukan ini memiliki dampak-dampak besar religi, politik dan sosial untuk Mekah.

Catatan Kaki

  1. Ibnu Atsir, al-Kamil, jld. 2, hlm. 204.
  2. Ibnu Atsir,al-Kamil, jld. 2, hlm. 239-244.
  3. Tarikh Ya'qubi, jld. 2, hlm. 58, cet. Beirut, tahun 1379 H.M.
  4. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 354.
  5. Tarikh Ibnu Khaldun, terjemahan teks, jld. 1, hlm., 441.
  6. Tarikh Ibnu Khaldun, terjemahan teks, jld. 1, hlm., 441.
  7. Tarikh al-Thabari, jld. 3, hlm. 50.
  8. Waqidi, al-Maghazi, jld. 2, hlm. 655.
  9. Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 2, hlm. 458.
  10. Ibnu Katsir,Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jld. 4, hlm. 326.
  11. Thabari,Tarikh al-Thabari, jld. 2, hlm. 343.
  12. Kulaini, Al-Kafi, jld. 5, hlm. 47.
  13. Waqidi, al-Maghazi, jld. 2, hlm. 822.
  14. Al-Irsyad, jld. 1, hlm. 53.
  15. Waqidi, al-Maghazi, jld. 1, hlm. 701.
  16. Himyari, Qurb al-Isnād, hlm. 384; Muqrizi,Imta’ al-Asma, jld. 1, hlm. 391.
  17. Syaikh Thusi,al-Amali, hlm. 268.
  18. Ibnu Hajar Asqalani,Al-Ishabah, jld. 4, hlm. 301.
  19. Ibnu Hajar Asqalani,Al-Ishabah, jld. 4, hlm. 70.
  20. Nashr bin Muzahim, Waq'ah Shiffin, al-Nash, hlm. 29.
  21. Tsaqafi, Al-Gharat, Ja, hlm. 125.
  22. Al-Isti'āb, jld. 3, hlm. 1082.
  23. Al-Maghazi, terjemahan teks, hlm. 653.
  24. Dalāil al-Nubuwwah, jld. 5, hlm. 63.
  25. Ibnu Atsir, Terjemahan al-Kamil, jld. 7, hlm. 295.
  26. Imta' al-Asma, jld. 1, hlm. 399.
  27. Ibnu Atsir, Al-Kamil, terjemahan, jld. 7, hlm. 296.
  28. Futuh al-Buldān, terjemahan, teks, hlm. 60.
  29. Futuh al-Buldān, hlm. 61.
  30. Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 354.
  31. Zendegāni Muhammad saw, terjemahan, jld. 2, hlm. 273.
  32. Ansāb al-Asyrāf, jld. 1, hlm. 357 (Cetakan Zakkar, jld. 1, hlm. 453); Tarikh Ya'qubi, Terjemahan, jld. 1, hlm. 420.
  33. Thabari, Tarikh al-Thabari, Terjemahan, jld. 3, hlm. 1187.
  34. Waqidi, al-Maghazi, jld. 1, hlm. 639-640.
  35. Al-Tharāif, Ibnu Thawus, jld. 1, hlm. 80.
  36. QS. Al-Isra,: 81.
  37. Al-Tharāif, Ibnu Thawus, jld. 1, hlm. 80.
  38. Al-Tharāif, Ibnu Thawus, jld.1, hlm.80
  39. Al-Tharāif, Ibnu Thawus,jld.1, hlm.80
  40. Al-Isti'āb]], jld. 3, hlm. 1310.
  41. Usd al-Ghabah, jld. 1, hlm. 319.
  42. Imta' al-Asma, jld. 1, hlm. 391.
  43. Al-Isti'āb, jld. 3, hlm. 1310.

Daftar Pustaka

  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya bin Jabir (m 279). kitab Jumal min Ansab al-Asyraf. Riset: Suhail Zakar, Riyadh Zarkali. Beirut: Dar al-Fikr, cet. 1, 1417 H.
  • Himyari, Abdullah bin Ja'far. Qurb al-Isnad (cet. Al-Hudaitsah). Qom: Mu'assasah Āl al-Bait, cet. 1, 1413 H.
  • Ibnu Atsir, Abul Hasan Ali bin Muhammad al-Jazari (m 630 M). Usud al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabah. Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H.
  • Ibnu Hajar al-'Askalani, Ahmad bin Ali (m 852). al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah. Riset: Adil Ahmad Abdul Maujud, Ali Muhammad Muawwidz. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1, 1415 H.
  • Ibnu Hisyam. al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Suhail Zakkar, 1412 H.
  • Ibnu Khaldun, Abdur Rahman bin Muhammad (m 808). Diwan al-Mubtada' wa al-Khabar fi Tarikh al-Arab wa al-Barbar wa Man Asharahum min Dzawi al-Sya'ni al-Akbar. Riset: Khalil Syahadah. Beirut: Dar al-Fikr, cet. 2, 1408/1998.
  • Ibnu Khaldun. al-Ibar Tarikh Ibnu Khaldun. Penj. Abdul Muhammad Āyati. Mu'assasah Muthala'at wa Tahqiqat Farhanggi, cet. 1, 1363 S.
  • Kulaini, Muhammad bin Ya'qub bin Ishak (m 329). al-Kafi. Korektor: Ghaffari Ali Akbar dan Akhundi, Muhammad. Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, cet. 4, 1407 H.
  • Muqaddasi, Muthahhar bin Thahir (m 507). al-Bad'u wa al-Tarikh. Bur Sa'id, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, tanpa tahun.
  • Nashr bin Muzahim, Waqiah al-Shiffin. Maktabah Ayatullah Mar'asyi Najafi Qom: cet. 2, 1404 H.
  • Syaikh Mufid. al-Irsyad. Penj. Rasuli Mahallati. Tehran: Islamiyyah, cet. 2, tanpa tahun.
  • Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan. al-Āmāli Thusi. Qom: Dar al-Tsaqafah, cet. 1, 1414 H.
  • Thabari. Tarikh al-Umam wa al-Mulk. Riset: Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim. Beirut: Dar al-Turats, cet. 2, 1387 S.
  • Tsaqafi, Ibrahim bin Muhammad (238 H). al-Gharat. Qom: Dar al-Kitab, cet. 1, 1410 H.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar (m 207). Kitab al-Maghazi. Riset: Marsden Jones. Beirut: Mu'assasah al-A'lami, cet. 3, 1409 H.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub bin Ja'far bin Wahab Wadhih al-Katib al-Abbasi (wafat setelah 292). Tarikh al-Ya'qubi, Beirut: Dar Shadiq, tanpa tahun.