Prioritas: c, Kualitas: b

Shafiyah binti Huyay

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Shafiyah binti Huyay
Istri Nabi Saw
Nama lengkap Shafiyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa'ya bin Tha'laba bin 'Ubaid
Lakab Ummul Mukminin
Afiliasi agama Islam
Lahir Madinah
Tempat tinggal Madinah
Wafat 50 H/670
Tempat dimakamkan Pemakaman Baqi, Madinah
Istri-istri Nabi saw
امهات المؤمنین.png

Nama

Khadijah al-Kubra sa

Saudah

Aisyah

Hafsah

Zainab (binti Khuzaimah)

Ummu Salamah

Zainab (binti Jahsy)

Juwairiyah

Ummu Habibah

Mariyah

Shafiyah

Maimunah

Tanggal Nikah

(27 sebelum Hijrah/595)

(sebelum Hijrah/sebelum 622)

(1, 2, atau 4 H/622, 623, atau 625)

(3 H/624)

(3 H/624)

(4 H/625)

(5 H/626)

(5 H atau 6 H/626 atau 627)

(6 atau 7 H/627 atau 628)

(7 H/628)

(7 H/628)

(7 H/628)

Shafiyah binti Huyay bin Akhtab bin Sa'ya bin Tha'laba bin 'Ubaid (Bahasa Arab: صَفیَّه دختر حُيَيّ بن اخطب بن سعیة بن ثعلبة بن عبید) adalah salah seorang istri Nabi Muhammad Saw. Sebelum masa Islam, ia pernah menikah dua kali. Pada perang Khaibar suaminya terbunuh. Setelah itu Ia masuk Islam, yang kemudian dinikahi oleh Rasulullah Saw. Catatan sejarah menyebutkan ia adalah seorang perempuan yang mengagumkan dan berbudi pekerti luhur. Kecantikannya membuat sebagian dari istri Nabi cemburu padanya.

Pada masa kekhalifahan ketiga, ia memberikan pembelaan dan membantu khalifah Utsman ketika mendapatkan penyerangan dari kelompok demonstran. Ia adalah istri terakhir dari Nabi Saw yang meninggal di Madinah dan dimakamkan di Pemakaman Baqi.

Shafiyah telah meriwayatkan sejumlah hadis dari Nabi Muhammad Saw, dan Imam Sajjad As meriwayatkan pula sejumlah hadis darinya.

Nasab

Shafiyah adalah satu-satunya istri Nabi Muhammad Saw yang berasal dari garis keturunan Yahudi dari Bani Nadhir. Silsilahnya bersambung ke Lawi bin Ya'qub dan Nadhir bin Naham bin Yanhum dari keturunan Nabi Harun As, saudara Nabi Musa As. [1]

Ketika masih kecil, Ia mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang penuh perhatian dari ayahnya dan pamannya Abu Yasir bin Akhtab yang merupakan pemimpin kabilah Bani Nadhir dan terhitung sebagai pembesar Madinah. [2] Ketika Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, ayah dan pamannya termasuk kelompok yang memusuhi Islam dan Nabi Muhammad Saw. Ibunya bernama Barra, adalah putri dari Samu'il [3]dan adik Rifa'a bin Samu'il seorang pembesar Bani Quraidza Yahudi. [4]

Sebelum Periode Islam

Shafiyah lahir di kota Madinah. Ia pertama kali menikah dengan Sallam bin Mishkam al-Quraidzi, tetapi pernikahan tersebut tidak lama dan berakhir dengan perceraian. Untuk kedua kalinya, ia menikah dengan Kinana bin al-Rabi bin Abi al-Huqayq. [5]

Menjadi Tawanan

Setelah perjanjian damai Hudaibiyah tahun ke 7 H, Nabi Muhammad Saw memimpin perang di Khaibar menghadapi kelompok Yahudi yang melanggar perjanjian. Dalam peperangan tersebut, kaum Muslimin meraih kemenangan dan berhasil merebut tanah Khaibar. Suami Shafiyyah Kinana bin al-Rabi tewas dalam pertempuran tersebut. [6] Dengan kemenangan yang diraihnya di Khaibar, kaum Muslimin banyak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), termasuk menaklukkan benteng Qumus, yang merupakan salah satu dari tujuh benteng Khaibar. Dari perang tersebut, anak keturunan Abu al-Huqayq termasuk didalamnya Shafiyah menjadi tawanan perang. [7]

Pernikahan dengan Rasulullah Saw

Nabi Muhammad Saw mengajak dan mendakwahkan Islam kepada para tawanan, Shafiyah diantara yang menerimanya. Dengan masuknya Shafiyah kedalam Islam, iapun dibebaskan dan dinikahi oleh Rasulullah Saw. [8]

Ibnu Hajar (w. 852 H) menyebutkan berdasarkan riwayat Shafiyah berusia 17 tahun ketika menikah dengan Nabi Muhammad Saw. [9] Pernikahan tersebut terjadi dalam perjalanan dari Khaibar ke Madinah. [10] Setiba di Madinah, Nabi Saw menempatkan Shafiyah di rumah Haritsa bin Nu'man. Perempuan-perempuan Anshar mendatangi rumah Haritsa untuk melihat Shafiyah, begitupun Aisyah mendatangi Shafiyah untuk menyambutnya. [11]

Menurut beberapa sumber sejarah menyebutkan, ketika Shafiyah tidak lagi menjadi tawanan, Nabi Muhammad Saw melihat luka memar di wajahnya. Ia bertanya,"Apa ini?". Shafiyah menjawab, "Ya Rasulullah, aku melihat dalam mimpi bulan dari langit Yastrib mendatangiku dan jatuh ke pangkuanku. Mimpi ini aku ceritakan kepada suamiku Kinanah. Iapun berkata kepadaku, "Sukakah engkau menjadi istri seorang raja yang datang dari Yastrib?" Setelah itu dia kemudian menampar keras di wajahku." [12]

Kepribadian

DIsebutkan dalam riwayat, Shafiyah adalah perempuan cantik, berbudi luhur, cerdas, bijaksana dan sabar. [13] Riwayat menyebutkan sewaktu hendak meninggalkan Khaibar, Nabi Saw membantu Shafiyah untuk naik ke atas unta dengan menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki untuk Shafiyah, namun sebagai bentuk kesopanan dan pemuliaan kepada Nabi Saw, Shafiyah menggunakan lututnya diatas paha Nabi untuk naik menunggangi unta. [14]

Ketika sakit Nabi Muhammad Saw semakin parah, Shafiyah mengatakan kepadanya, "Wahai Rasulullah, aku bersumpah demi Allah, aku lebih menyukai sakitmu dipindahkan ke aku agar engkau tetap sehat." [15]

Hubungannya dengan Istri-istri Nabi Saw yang lain

Ada riwayat yang menyebutkan adanya gangguan yang didapat Shafiyah dari istri-istri Nabi Saw yang lain. [16] Diantaranya disebutkan suatu hari Nabi Muhammad Saw mendapati Shafiyah sedang menangis. Nabi Saw kemudian bertanya alasan dibalik tangisnya. Shafiyah berkata, "Dua dari istri anda membuatku tersinggung dengan pembicaraan mereka. Mereka mengatakan, "Kita lebih unggul dari Shafiyah karena kita adalah puteri dari paman-paman Nabi dan kita adalah istri-istri Nabi."

Nabi Muhammad Saw berkata kepada Shafiyah, "Mengapa engkau tidak berkata, ayahmu adalah Harun, pamanmu adalah Musa dan suamimu adalah Muhammad?".[17]

Pasca Wafatnya Nabi Saw

Pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, Umar bin Khattab memberikan untuknya 6.000 dirham setiap tahunnya. [18] [19]Pada tahun 35 H, ketika Khalifah Utsman bin Affan mendapatkan pemboikotan oleh para pemrotes, Shafiyahlah yang mengirimkan makanan dan air ke rumah Khalifah Utsman. [20]

Wafat

Menurut riwayat yang masyhur, Shafiyah wafat di Madinah [21]pada tahun 50 H [22]. Riwayat lain menyebutkan ia wafat pada tahun 36 H [23] dan 52 H. [24] Diriwayatkan, salat jenazahnya diimami oleh Sa'id bin 'Ash [25] dan dimakamkan di Pemakaman Baqi. [26] Sebagian menyebutkan, ia adalah istri Nabi Saw yang terakhir wafat. [27]

Periwayatan

Dalam kitab-kitab hadis, ada 10 hadis yang diriwayatkan Shafiyah dari Rasulullah. [28] [29] Berikut ini diantara nama-nama yang meriwayatkan hadis darinya:


Catatan Kaki

  1. Al-Isti'āb, jld. 4, hlm. 1871; Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 169; al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 8, hlm. 64.
  2. Al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 1, hlm. 518-519.
  3. Istiy'ab, jld. 4, hlm. 1871; Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 169.
  4. Usud al-Ghabah, jld. 2, hlm. 76.
  5. Istiy'ab, jld. 4, hlm. 1871; Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 169.
  6. Al-Isti'āb, jld. 4, hlm. 1871.
  7. Tarikh Islam, jld. 2, hlm. 421.
  8. Al-Isti'āb, jld. 4, hlm. 1872.
  9. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212.
  10. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 444; al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 4, hlm. 196; al-Sirah al-Nabawiyah, jld. 2, hlm. 464; al-Thabaqat al-Kubra, jld. 8, hlm. 99.
  11. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 444; al-Thabaqat al-Kubra, jld. 8, hlm. 100.
  12. Al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 8, hlm. 46, jld. 4, hlm. 196; lih. juga: Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 170, riwayat versi ini menyebut ayah Shafiyah bukan suaminya.
  13. Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 169; Al-Isti'āb, jld. 4, hlm. 1872; al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. 8, hlm. 64.
  14. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 443.
  15. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212; Thabaqat al-Kubra, jld. 2, hlm. 239, jld. 8, hlm. 101.
  16. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212; Thabaqat al-Kubra, jld. 2, hlm. 239, jld. 8, hlm. 101; Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 171.
  17. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 211; Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 170.
  18. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 444.
  19. Dalail al-Nubuwah, jld. 7, hlm. 286.
  20. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212.
  21. A'lam, jld. 3, hlm. 206.
  22. Istiy'ab, jld. 4, hlm. 1872; Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 444; Ya'qubi, jld. 2, hlm. 238.
  23. Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 171; al-Kamil, jld. 2, hlm. 309.
  24. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212.
  25. Ansab al-Asyraf, jld. 1, hlm. 444.
  26. Ya'qubi, jld. 2, hlm. 238.
  27. Al-Anba, hlm. 46.
  28. Al-A'lam, jld. 3, hlm. 206.
  29. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212.
  30. Usud al-Ghabah, jld. 6, hlm. 171.
  31. Ansab al-Asyraf, jld. 5.
  32. Al-Ashabah, jld. 8, hlm. 212.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Abd al-Barr, Yusuf bin Abdullah, al-Isti'āb fi Ma'rifah al-Ashhab, riset: Ali Muhammad al-Bajawi, Beirut, Dar al-Jayil, cet. I, 1412 H/1992.
  • Shalihi Syami, Muhammad bin Yusuf, Sabal al-Huda wa al-Risyad fi Sirah Khair al-'Ibad, riset: Adil Ahmad Abd al-Maujud dan Ali Muhammad al-Ma'udh, Beirut, Dar al-Kutub al-'Alamiyah, cet. I, 1414 H/1993.
  • Ibnu Atsir al-Jazari, Ali bin Muhammad, Usud al-Ghabah fi Ma'rifah al-Shahabh, Beirut, Dar al-Fikr, 1409 H/1989.
  • Zirikli, Khair al-Din, al-A'lam Qamus Tarajim li Asyhar al-Rijal wa al-Nisa min al-'Arab wa al-Musta'arbin wa al-Mustasyriqin, Beirut, Dar al-'Ilm lil 'Alamin, cet. 8, 1989.
  • Ibnu 'Imrani, Muhammad bin Ali, al-Inabai fi Tarikh al-Khulafa, riset: Qasim al-Samarai, al-Kairo, Dar al-Afaq al-'Arabiyah, cet. I, hlm. 1421 H/2001.
  • Ibnu Hisyam al-Humairi, Abd al-Mulk, al-Sirah al-Nabawiyah, riset: Mustafa al-Saq, Ibrahim al-Abyari dan Abd al-Hafidz al-Syalabi, Beirut, Dar al-Ma'rifah, tanpa tahun.
  • Ya'qubi, Ahmad bin Abi Ya'qub, Tarikh al-Ya'qubi, Beirut, Dar Shadr, tanpa tahun.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Kitab Jumal min Ansab al-Asyraf, riset: Sahil Zakar dan Riyadh Zirikli, Beirut, Dar al-Fikr, cet. I, 1417 H/1996.
  • Ibnu Katsir al-Damsyqi, Ismail bin Umar, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut, Dar al-Fikr, 1407 H/1986.
  • Baihaqi, Ahmad bin Husain, Dalail al-Nubuwah wa Ma'rifah Ahwal Shahib al-Syari'ah, riset: Abd al-Mu'thi al-Qal'aji, Beirut, Dar al-Kutub al-'Ilmiah, cet. I, 1405 H/1985.
  • Ibnu Atsir, Ali bin Abi Kiram, al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut, Dar Shadr, Beirut, 1385 H/1965.
  • Ibnu Sa'ad Hasyimi al-Bashri, Muhammad bin Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, riset: Muhammad Abdul Qadir al-'Atha, Beirut, Dar al-Kutub al-'Alamiyah, cet. I, 1410 H/1990.