Haji Perpisahan

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: a, Kualitas: a

Haji Wada' atau Haji Wida (Bahasa Arab:حجة الوداع) atau haji perpisahan adalah haji terpenting yang dilakukan Nabi Muhammad saw di tahun terakhir usianya, yang terjadi pada tahun ke 10 H. Nabi Muhammad saw pada pelaksanaan haji tersebut, menyampaikan kepada kaum Muslimin untuk mempelajari dan mengerjakan manasik haji sesuai dengan petunjuk dan bimbingannya. Nabi saw bersabda, “Pelajarilah manasik haji dariku, karena bisa jadi pada penyelenggaraan haji berikutnya kalian tidak bisa melihatku lagi.”

Selain itu dalam keyakinan umat Muslim Syiah, pada penyelenggaraan haji yang terakhir kalinya ini, Nabi Muhammad saw pun menyampaikan pesan yang sangat penting, yaitu pengangkatan dan penetapan Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai imam sepeninggalnya sesuai dengan perintah Allah swt. Peristiwa pengangkatan tersebut disambut oleh masyarakat Muslim yang berduyun-duyun memberikan baiat kepadanya. Peristiwa ini terjadi di Ghadir Khum sebuah kawasan yang terletak diantara kota Mekah dan Madinah dan merupakan peristiwa yang sangat penting dan sakral dalam keyakinan Syiah.

Nama lain dari Haji Wada' adalah "Hijjatul Balāgh". Penamaan ini disebabkan Ayat Tabligh [1] turun dalam perjalanan Nabi saw kembali dari Mekah menuju Madinah seusai melaksanakan Haji Wada' [2]. Nama lainnya adalah "Hijjatul Islam" [3] karena satu-satunya penyelenggaran haji yang dikerjakan Nabi saw di masa daulah Islam dan sesuai dengan syariat haji sebagaimana ajaran Islam. Nabi Muhammad saw setelah hijrah ke Madinah, telah tiga kali melakukan umrah ke Mekah [4] namun sebagaimana kesaksian para ahli sejarah dan ahli hadis, ia hanya menunaikan haji sebanyak satu kali dan itu pun beberapa bulan sebelum wafatnya. [5]

Awal Perjalanan

Berdasarkan riwayat yang sanadnya sampai pada Muawiyah bin Ammar dari Imam Ja'far Shadiq as [6] Nabi Muhammad saw tinggal di kota Madinah selama 10 tahun dan tidak pernah menunaikan haji, sampai ayat “Dan serulah mereka untuk menunaikan haji” [7] turun, Nabi saw pun mengumumkan pada tahun itu untuk pergi menunaikan ibadah haji. Penduduk Madinah dan perkampungan di sekitarnya ketika mendengarkan seruan itu, mendatangi Nabi saw dan bersama dengannya berangkat ke Mekah untuk menjalankan perintah tersebut. 4 malam terakhir bulan Dzulkaidah 10 H, Nabi saw bersama rombongan kaum muslimin bergerak menuju kota Mekah. [8]

Dalam literatur Ahlusunnah disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw menetap satu malam di Miqat Dzulhulaifah dan setelah itu melanjutkan perjalanan ke kota Mekah. [9]Namun menurut hadis yang dinukil dari Imam Shadiq as, di hari Nabi saw tiba di Miqat tersebut, saat itu juga Nabi saw mengenakan pakaian ihram (muhrim) dan tidak bermalam di tempat tersebut. [10]

Pengajaran Manasik Haji

Di Miqat, Nabi saw mengajarkan kepada kaum muslimin mengenai adab ihram. Diawali dengan mandi wajib dan untuk haji Qiran mereka telah berihram (muhrim). [11] Pakaian ihramnya adalah dua lembar kain tanpa jahitan yang juga dikenakan pada jenazah. [12] setelah itu mereka menunaikan salat Dhuhur di Masjid Syajarah [13] kemudian menandai punuk unta yang bersama mereka dengan niat untuk menjadikannya sebagai hewan kurban. [14]

Dalam perjalanan, di tempat-tempat dimana Nabi saw mendirikan salat, atau di tempat ia beristirahat, kaum muslimin mendirikan masjid di tempat tersebut. [15]Di dekat Mekah, yang dikenal dengan nama "Dzi Thuwa" Nabi Muhammad saw menetap semalam [16] dan kemudian di penghujung hari ke 4 Dzulhijjah ia tiba di kota Mekah. [17]

Pelaksanaan Manasik

Tawaf dan Salat

Hari setelahnya, Nabi Muhammad saw dengan para sahabatnya memasuki Masjidil Haram [18] dan setelahnya menuju Ka'bah dan mengusap Hajar Aswad yang dalam istilahnya "Istilam hajaratul aswad" yaitu mencium atau mengusap Hajar Aswad. Dan setelah itu iapun bertawaf mengelilingi Ka'bah. [19]Disebutkan Nabi melakukan tawaf dengan menunggangi unta [20]dan terakhir, ia kembali mengusap Hajar Aswad untuk yang terakhir kalinya [21] Nabi saw mengecup batu tersebut dan menangis lama. [22]Dan setelah itu Nabi saw berdiri di belakang maqam Nabi Ibrahim as dan mendirikan dua rakaat salat tawaf. [23]

Sa'i

Setelah salat, Nabi meminum air zamzam dan kemudian berdo'a. Setelah itu melangkah menuju bukit Shafa [24][25] dan bersabda, “Karena Allah swt lebih dulu menyebut nama bukit Shafa [26] maka sa'i antara Shafa dan Marwah kita mulai dari dari bukit Shafa.” [27]

Tatkala telah tiba di Shafa, Nabi saw menghadap rukun Yamani Ka'bah dan beberapa lama larut dalam dzikir dan memuji Allah swt.[28] Kemudian setelah itu, ia berjalan menuju Marwah dan beberapa langkah melewati jalur yang dilalui oleh kuda atau unta.[29] Tatkala tiba di Marwah, Nabi saw berhenti dan memanjatkan doa.[30] Nampaknya Nabi saw melewati jalur ini dengan berkendara.[31]

Bergerak dari Mina ke Arafah

Hari ke 8 Dzulhijjah bersamaan dengan terbenamnya matahari, Nabi saw bersama dengan kaum muslimin bergerak menuju Mina dan tiba di tujuan pada malam hari. Kemudian pada pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah setelah terbitnya matahari, ia dan rombongan bergerak menuju Arafah. Setibanya di Arafah, Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin yang bersamanya mendirikan tenda dan di tempat inilah Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbahnya yang bersejarah. Sewaktu berdiam di Arafah Nabi saw menyibukkan diri dengan doa dan dzikir sampai matahari terbenam. [32]

Berdasarkan riwayat dari Imam Shadiq as, hari raya Ghadir jatuh pada hari 18 Dzulhijjah, tepat pada hari Jum'at. [33] Jadi dari riwayat ini, bisa diketahui hari wukuf di Arafah adalah rabu 9 Dzulhijjah. Namun menurut pendapat Jalaluddin Suyuti, sejarahwan dari kalangan Ahlusunnah dengan menukil dari Khalifah kedua menyebutkan, wukuf Arafah pada penyelenggaraan Haji Wada' terjadi pada hari Jumat. [34]

Wukuf di Masy'ar

Sewaktu matahari terbenam, Nabi Muhammad saw dengan mengendarai seekor unta menuju Muzdalifah (Masy'aril Haram) [35] dan meminta kepada kaum muslimin supaya menempuh perjalanan dengan tenang. [36] Setibanya, Nabi Muhammad saw mendirikan salat Maghrib dan Isya secara jamak di tempat yang layak di Masy'aril Haram [37] kemudian beristirahat sejenak. Pada waktu sahur, Nabi kemudian menyibukkan diri dengan ibadah dan berzikir sebagaimana yang sangat dianjurkan selama dalam penyelenggaraan musim haji. [38]

Melontar Jumrah

Dengan terbitnya matahari, Nabi saw bergerak menuju Mina dan langsung menuju ke Jamrah 'Aqabah dan melontar 7 biji kerikil di tempat tersebut. [39]

Menyembelih Hewan Qurban

Penyembelihan hewan dan berkurban sebanyak seratus ekor unta yang dibawa bersama rombongan dari Madinah. [40]Ia menyerahkan 30an ekor unta kepada Imam Ali as untuk dia sembelih dan 60an ekor unta yang Nabi sembelih sendiri. Dua manusia suci tersebut hanya memakan sedikit dari daging kurban tersebut dan sisanya mereka sedekahkan. [41]

Setelah rambutnya dicukur oleh Ma'mur bin Abdullah bin Haritsah sebagaimana yang diperintahkannya sendiri [42] [43] dan melaksanakan semua kewajiban-kewajiban pribadinya, Nabi Muhammad saw menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagian kaum Muslimin mengenai manasik haji. [44] Kemudian iapun menuju Mekah dan melakukan thawaf mengelilih Ka'bah dan mendirikan salat Dhuhur di Masjidil Haram. [45] Setelah itu Nabi kembali ke Mina dan menetap di sana sampai hari ketiga Tasyrik. Di sana ia melontar jumrah dan kemudian setelahnya keluar meninggalkan Mina. [46]

Nabi Muhammad saw setelah pelaksanaan sa'i, ia mengajarkan kepada kaum Muslimin cara mengerjakan haji tamattu'. Sampai waktu itu, pada musim haji hanya dua macam haji yang dikenali, yaitu haji Ifrad dan haji Qiran dan tidak mengenal adanya pelaksanaan umrah selama musim haji berlangsung. Oleh karena itu, ketika Nabi saw menganjurkannya sebagian kaum Muslimin dengan berat hati menerima adanya hukum tersebut. [47]

Keistimewaan Perjalanan Ini

Nabi Muhammad saw sejak memasuki kota Mekah sampai tanggal 8 Dzulhijjah tidak menetap disebuah rumah, melainkan di dalam tenda di luar kota Mekah, yaitu di Abthah (Bathaha). [48]

Pada musim Haji ini, Nabi Muhammad saw menutupi Ka'bah dengan menggunakan kain dari Yaman. [49] Nabi Muhammad saw menyampaikan kepada penduduk Mekah dan peziarah akan pentingnya dan besarnya keutamaan yang dimiliki Mathaf, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan berada di shaf pertama salat berjamaah dari 10 Dzulkaidah sampai berakhir musim haji. [50] Sebagaimana tradisi para pendahulunya, Nabi Muhammad saw pun memberikan pelayanan dan menyediakan makanan bagi jama'ah haji.[51]

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbah singkat di Masjid Khaif di Mina. [52] Imam Ali as menyusul kemudian bersama dengan rombongan asal Yaman, dan menemui Nabi Muhammad saw di kota Mekah.[53]

Dan yang lebih utama, adalah diumumkannya wilayah Amirul Mukminin as di Ghadir Khum sewaktu Nabi Muhammad saw beserta rombongan dalam perjalanan kembali menuju Madinah. Pasca penyampaian tersebut, sejumlah sahabat dan mayoritas kaum Muslimin memberikan baiatnya kepada Imam Ali bin Abi Thalib as.

Dalam Perjalanan Kembali dari Pelaksanaan Haji

Dengan berakhirnya penyelenggaraan haji, Nabi Muhammad saw bergerak dari Mina menuju Mekah sebelum dhuhur hari ke 13 Dzulhijjah dan mendirikan tenda setiba di Abtah. [54]yang telah menunaikan manasik haji untuk segera kembali ke rumah atas daerah asalnya masing-masing.[55]Sementara Nabi Muhammad saw sendiri bergerak meninggalkan Mekah menuju Madinah sebelum terlihat ufuk di waktu sahur malam 14 Dzulhijjah. [56]

Lukisan Ghadir karya Farsyciyan

Penyampaian Masalah Wilayah di Ghadir Khum

Pada hari ke 18 Dzulhijjah, kafilah Nabi saw tiba di kawasan dekat Juhfah, di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum. Di tempat tersebut, sesuai dengan perintah Ilahi [57]Nabi saw mengumumkan pengangkatan Imam Ali as sebagai penggantinya kelak. .[58] Kemudian kafilah melanjutkan perjalanan menuju Madinah dan disebutkan dalam salah satu versi sejarah, mereka tiba pada hari ke 24 Dzulhijjah di Madinah. [59]Hari-hari terakhir bulan Dzulhijjah disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw berada di kota Madinah.[60]

Perjalanan haji terakhir Nabi Muhammad saw ini berlangsung selama 28-30 hari. Ayat Ikmal[61]adalah salah satu ayat yang turun di masa perjalanan ini. [62]

Jumlah Jamaah Haji

Mengenai banyaknya jumlah jama'ah haji dalam safar ini terdapat perbedaaan pendapat. Salah satu pendapat menyebutkan jumlahnya antara 120.000 sampai 150.000 orang, yang mayoritas dari mereka adalah peziarah yang berjalan kaki dari negeri-negeri yang jauh. [63]Namun pendapat lain menyebutkan, bahwa jumlah mereka tidak lebih dari 50.000 orang yang hadir pada pelaksanaan haji tersebut. [64]

Catatan Kaki

  1. QS. Al-Maidah ayat 67.
  2. Ibnu Hisyam, jld. 4, hlm. 235; Mas'udi, hlm. 275-276.
  3. Silahkan lihat kitab Ibnu Sa'ad, jld. 2, hlm. 172; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248.
  4. Silahkan lih. Waqidi, jld. 3, hlm. 1088.
  5. Silahkan lih. Waqidi, jld. 3, hlm. 1088-1089; al-Kulaini, jld 4, hlm. 244.
  6. Silahkan lih. al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245-248.
  7. QS. Al-Hajj ayat 27.
  8. Juga silahkan lih. Ath-Thusi, jld. 5, hlm. 454; Waqadi, jld. 3, hlm. 1089; Qas Ibn Sa'ad, jld 2, hlm. 173.
  9. Silahkan lih. Bukhari, jld. 2, hlm. 147; Abu Dawud, jld. 2, hlm. 375; Baihaqi, jld. 7, hlm. 83.
  10. Silahkan lih. al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248-249.
  11. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245; al-Majlisi, jld. 17, hlm. 111.
  12. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 339.
  13. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248-249.
  14. Waqidi, jld. 3, hlm. 1090; Fairuz Abadi, hlm. 70.
  15. Silahkan lihat: Marjani, hlm. 280-290; Samhudi, jld. 3, hlm. 1001-1020.
  16. Muslim bin Hajaj, jld 1, hlm. 919.
  17. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245.
  18. Waqidi, jld. 3, hlm. 1097; Al-Kulaini, jld 4, hlm. 250.
  19. Kulaini, jld. 4, hlm. 245.
  20. Watsiqi, hlm. 106-110.
  21. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245.
  22. Ibnu Majah, jld. 2, hlm. 982.
  23. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 887; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245, 249-250.
  24. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 250.
  25. Ibnu Syahid Tsani, jld. 3, hlm. 260.
  26. QS. Al-Baqarah ayat 157.
  27. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 888; Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 245.
  28. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 246.
  29. Silahkan lihat: Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 888.
  30. Kulaini, jld. 4, hlm 246.
  31. Silahkan lihat: Waqidi, jld. 3, hlm. 1099; Watsiqi, hlm. 133-135.
  32. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 889-890; juga rujuk ke al-Kulaini, jld. 4, hlm. 246-247; Qadhi Nu'man, jld. 1, hlm. 319; untuk mengenal pentingnya dan muatan dari khutbah ini, bisa merujuk ke Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 889-890; Watsiqi, hlm. 176-191.
  33. Silahkan lihat: Ibnu Babawaih, jld. 2, hlm. 394.
  34. Suyuti, jld 3, hlm. 19.
  35. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 890-891; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 247; al-Baihaqi, jld. 7, hlm. 260.
  36. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 247; Thusi, jld. 5, hlm. 187.
  37. Ath-Thusi, jld. 5, hlm. 188.
  38. Watsiqi, hlm. 211-216.
  39. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 891-892; Qadhi Nu'man, jld. 1, hlm. 322-323; Nuri, jld. 10, hlm. 67.
  40. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248.
  41. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 892; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 247; ath-Thusi, jld. 5, hlm. 227.
  42. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 250.
  43. Ath-Thusi, jld. 5, hlm. 458.
  44. Silahkan lihat: Qadhi Nu'man, jld. 1, hlm. 330.
  45. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 892; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248.
  46. Al-Kulaini, jld. 4, hlm. 248.
  47. Muslim bin Hajaj, jld. 1, hlm. 888-889; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 246.
  48. Waqidi, jld. 3, hlm. 1099; al-Kulaini, jld. 4, hlm. 246.
  49. Waqidi, jld. 3, hlm. 1100; Azraqi, jld. 1, hlm. 253; Mas'udi, hlm. 276; Fasi, jld. 1, hlm. 230.
  50. Muttaqi, jld. 3, juz 5, hlm. 22.
  51. Ibnu Fahd, jld. 1, hlm. 567.
  52. Silahkan lihat Ibnu Majah, jld. 1, hlm. 84-85; Ya'qubi, jld. 2, hlm, 102; Kulaini, jld. 1, hlm. 403-404.
  53. Muslim bin Hajjaj, jld. 1, hlm. 888; Kulaini, jld. 4, hlm. 246.
  54. Waqidi, jld. 3, hlm. 1099-1100; al-Kulaini, jld. 1, hlm. 403-404.
  55. Daruquthani, jld. 1, juz 2, hlm. 300; Hakim Naisyaburi, jld. 1, hlm. 477; Muttaqi, jld. 3, juz 5, hlm. 11.
  56. Ibnu Abi Syaibah, jld. 4, hlm. 496.
  57. QS. Al-Maidah:
  58. Lihat:Ibnu Magazali, hlm. 16-18; Amini, jld. 1, hlm. 508-541.
  59. Watsiqi, hlm. 335.
  60. Lihat Ibnu Hisyam, jld. 4, hlm. 253.
  61. QS. Al-Maidah: 3.
  62. Ayyasyi; Bahrani; Thabathabai; mengenai ayat ini.
  63. Lihat Ibnu Babawaih, jld. 2, hlm. 285; Thusi, jld 5, hlm. 11; Sibt Ibnu Jauzi, hlm. 37; Amini, jld. 1, hlm. 32.
  64. Watsiqi, hlm. 337-342.


Daftar Pusaka

  • Al-Qur'an al-Karim
  • Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf fi al-Ahādits al-Atsār, Beirut, 1414 H.
  • Ibnu Bawabaih, Kitab al-Khishāl, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1404 H.
  • Ibnu Bawabaih, Kitab Man Lā Yahdhuruh al-Faqih, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1414 H.
  • Ibnu Sa'ad, Beirut.
  • Ibnu Syahid Tsani, Muntaqa al-Jimān fi al-Ahādits al-Shihah wa al-Hasān, cet. Ali Akbar Ghaffari, Qom, 1406 H.
  • Ibnu Fahd, Ithāf al-Wara bi Akhbār Umm al-Qura, cet. Fahim Muhammad Syaltut, Mekah, 1983-1984.
  • Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Istanbul, 1401/1981.
  • Ibnu Magazali, Manāqib al-Imam Ali bin Abi Thalib as, cet. Muhammad Baqir Bahbudi, Beirut, 1403/1983.
  • Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, cet. Musthafa Siqa, Ibrahim Abyari dan Abdul Hafidz Syalbi, Kairo, 1355 H/1936 M.
  • Sulaiman bin asy'ab Abu Dawud, Sunan Abu Daud, Istanbul, 1401 H/1981 M.
  • Muhammad Abdullah Rezqi, Akhbar Makah wa Mājā fihā min al-Atsār, cet. Rusydi Shalih Malhas, Beirut, 1403/1983, cet. Offset, Qom, 1411 H.
  • Abdul Husain Amini, al-Ghadir fi al-Kitāb wa al-Sunnah wa al-Adab, Qom, 1416-1422 H/1995-2002 M.
  • Hasyim bin Sulaiman Bahrani, al-Burhān fi Tafsir al-Qur'an, cet. Mahmud bin Ja'far Musawi Zarandi, Tehran, 1334 S, cet. Offset, Qom, tanpa tahun.
  • Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhāri, cet. Muhammad Dzahni Afandi, Istanbul, 1401 H/1981 M.
  • Ahmad bin Husain Baihaqi, al-Sunan al-Kubrā, Beirut, 1424 H/2003 M.
  • Muhammad Abdullah Hakim Naisyaburi, al-Mustadrak 'ala al-Shahihain, Dar al-Ma'rifah, Beirut, tanpa tahun.
  • Ali bin Umar Daruquthni, Sunan al-Dāruquthani, cet. Abdullah Hasyim Yamani Madani, Madinah, 1382 H/1966 M.
  • Sibth Ibnu Jauzi, Tadzkirah al-Khawāsh, Beirut, 1401 H/1981 M.
  • Ali bin Abdullah Samhudi, Wafā al-Wafā bi Akhbār, Dar al-Musthafa, cet. Muhammad Mahyuddin Abdul Hamin, Beirut, 1404/1983.
  • Suyuthi, Thabathabai, Muhammad bin Hasan Thusi, Tahdzhib al-Ahkām, cet. Hasan Musawi Khurasan, Beirut, 1401 H/1981 M.
  • Muhammad bin Mas'ud Ayyasyi, al-Tafsir, Qom, 1421 H.
  • Muhammad bin Ahmad Fasi, Syifā al-Gharām bi Akhbār al-Balad al-Harām, cet. Iman Fawad Sayyid dan Mustafa Muhammad Dzahabi, Mekkah, 1999 M.
  • Muhammad bin Ya'qub Firuz Abadi, Safar al-Sa'ādah, Beirut, 1398 H/1978 M.
  • Nu'man bin Muhammad Qadhi Nu'man, Da'ām al-Islām wa Dzikr al-Halāl wa al-Haram wa al-Qadhāyā wa al-Ahkām, cet. asif bin Ali asghar Faidh, Kairo, 1963/1965, cet. Offset, Qom, tanpa tahun.
  • Muhammad Thahir Kurdi, al-Tārikh al-Qawim li Mekah wa Bait Allah al-Karim, Beirut, 1420 H/2000 M.
  • Kulaini.
  • Ali bin Hisam al-Din Muttaqi, Kanz al-'Ummāl fi Sunan al-Aqwāl wa al-Afwāl, cet. Mahmud Umar Dimyathi, Beirut, 1419/1998.
  • Muhammad Baqir bin Muhammad Taqi Majlisi, Mi'rāt a-'Uqul fi Syarah Akhbār Ali al-Rasul, jld. 17, cet. Muhsin Husaini Amini, Tehran, 1406 H.
  • Abdullah bin Abdul Malik Markhani, Bahjat al-Nufus wa al-asrār fi Tārikh Dār al-Hijrat al-Mukhtār, cet. Muhammad Syauqi Makki, Riyadh, 1425 H.
  • Mas'udi, Tanbih.
  • Muslim bin Hajaj, Shahih Muslim, cet. Muhammad Fawaid Abdul Baqi, Istanbul, 1401 H/1981 M.
  • Husain bin Muhammad Taqi Nuri, Mustadrak al-Wasāil wa Mustanbath al-Masāil, Qom, 1407-1408 H.
  • Husain Watsiqi, Hajjat al-Wadā' Kamā Rawāhā Ahl al-Bait, Qom, 1425 H.
  • Muhammad bin Umar Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, cet. Marisdan Jons, London, 1966 M.
  • Ya'qubi, Tārikh.