Prioritas: c, Kualitas: b
tanpa foto

Perang Bani Qainuqa'

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Perang Bani Qainuqa'
Masa kejadian 15 Syawal 2 H - 1 Dzulkaidah 2 H
Tempat kejadian Madinah
Akibat Kekalahan dipihak Bani Qunaiqa' yang berakibat diusirnya mereka dari Madinah
Alasan Perang Kaum Yahudi di Madinah melanggar perjanjian dan menyulut peperangan melawan Nabi Muhammad saw
Pihak-pihak yang berperang
Kaum Muslimin Yahudi Bani Qunaiqa'
Para Panglima
Nabi Muhammad saw Bani Qunaiqa'


Perang Bani Qainuqa' (bahasa Arab: غزوة بني قينقاع) adalah perang pertama Nabi Muhammad Saw menghadapi kaum Yahudi di Madinah. Perang ini diawali dengan pelanggaran perjanjian yang telah dilakukan salah satu kabilah Yahudi yaitu Bani Qaiunuqa'yang berakhir dengan menyerahnya kelompok Yahudi tersebut pada pasukan Islam.

Mengenal Kabilah Bani Qainuqa'

Bani Qainuqa' adalah salah satu dari kabilah Yahudi yang menetap di Madinah dimasa Nabi Muhammad Saw. Sebagian meragukan akan keyahudian mereka, meski mereka mengaku berasal dari keturunan ‘Aisu, saudara Nabi Ya'qub As.[1]Dengan banyaknya penggunaan nama yang sama serta kemiripan tradisi yang dimiliki Bani Qainuqa' dengan masyarakat Arab pada umumnya[2] membuat akar keyahudian mereka sulit untuk dilacak. Penyebab hijrahnya Bani Qainuqa' ke Madinah juga tidak diketahui secara pasti.

Setelah beberapa lama mendominasi kota Madinah, kabilah-kabilah Yahudi akhirnya menyerahkan kekuasaan mereka ke tangan orang-orang Aarab dan melakukan perjanjian damai. Diantara kabilah Yahudi yang melakukan hal tersebut adalah Bani Qainuqa'yang juga melakukan perjanjian dengan kabilah Aus dan Khazraj.[3] Menurut Jawad Ali, perjanjian dengan dua kabilah tersebut, dilakukan Bani Qainuqa' secara bersamaan.[4] Menurut catatan sejarah, hubungan Bani Qainuqa' dengan kabilah Yahudi lainnya seperti Bani Quraidhah dan Bani Nadhir sangat erat, bahkan mereka sering melakukan koalisi bersama dalam menghadapi musuh di peperangan.[5]

Bani Qainuqa' menetap di bagian selatan kota Madinah. Mereka memiliki benteng dan pasar yang terkenal.[6] Karena itu, pendapat yang menyebutkan bahwa mereka menetap di jantung kota Madinah [7] tidak benar. Kabilah ini berbeda dengan kabilah Yahudi lainnya. Mereka tidak memiliki areal persawahan maupun perkebunan. Pekerjaan utama mereka, adalah pengrajin emas, tukang pandai besi dan pembuat sepatu.[8]

Latar Belakang Terjadinya Perang

Nabi Muhammad Saw setelah hijrah ke Madinah melakukan serangkaian perjanjian dengan kabilah Yahudi dan mengizinkan mereka tetap menetap di Madinah dengan syarat mereka tidak boleh membantu musuh umat Islam. Bani Qainuqa' adalah kabilah pertama yang mengingkari perjanjian tersebut dan mengobarkan peperangan melawan kaum Muslimin.[9]

Riwayat para ahli sejarah mengenai dimulainya perang, dapat disimpulkan menjadi 3 versi:

  • Nabi Muhammad Saw sepulangnya dari perang Badar (pada bulan Ramadhan tahun ke-2 H) melewati pasar Bani Qainuqa' dan meminta mereka untuk mengambil pelajaran dari kekalahan Bani Quraisy. Namun pembesar Yahudi Bani Qainuqa' mengatakan, mereka adalah pasukan perang yang terlatih dan tidak akan mengalami kekalahan seperti nasib Bani Quraisy di perang Badar.
  • Seorang perempuan muslimah dengan maksud hendak membeli susu [10] atau perhiasan[11] menuju ke pasar Bani Qainuqa'. Namun setibanya di pasar Bani Qainuqa', seorang penjual emas mengejek dan menjadikannya bahan tertawaan. Seorang muslim yang melihat kejadian tersebut, karena tersinggung dan membela kehormatan muslimah tersebut, membunuh penjual emas tersebut, yang kemudian juga terbunuh ditangan orang Yahudi. Berita kejadian tersebut sampai ke telinga Nabi Muhammad Saw, yang seketika itu juga ia mengumumkan perang dengan Bani Qainuqa'.
  • Sewaktu ayat 58 surah al-Anfal turun kepada Nabi Muhammad Saw, ia pun mengerahkan pasukan perang menuju ke pemukiman Bani Qainuqa'.

Ibnu Ishak meriwayatkan ketiga versi ini namun ia menulis ayat lain pada versi yang ketiga. [12]Waqidi menukil versi pertama dan kedua secara berurutan namun Ibnu Sa'ad hanya menukilkan versi yang ketiga.

Thabari meriwayatkan versi yang pertama dan ketiga dan menyebutkan setelah Bani Qainuqa' melakukan penolakan atas perkataan Rasulullah Saw, ayat 58 surah al-Anfal itu turun.

Sebagian riwayat lain menyebutkan, pengkhianatan kabilah Yahudi terjadi setelah perang Badar usai, namun tidak mengungkap pemicu terjadinya perang dengan Bani Qainuqa' tersebut. [13]Perkiraan Watt [14]pergerakan melawan Nabi Muhammad Saw dan pembangkangan dari kabilah Yahudi adalah pemicu utama terjadinya perang tersebut.

Waktu Terjadinya Perang

Riwayat yang paling masyhur menyebutkan, perang dimulai pada hari sabtu 15 Syawal tahun ke-2 H dan berakhir pada awal bulan Dzulkaidah di tahun yang sama.[15] Riwayat lain menyebutkan, sewaktu Nabi Muhammad Saw kembali dari peperangan yang dimenangkan kaum Muslimin tersebut, setibanya di Madinah Nabi Saw beserta kaum Muslimin mengadakan perayaan hari raya Idul Qurban (10 Dzulhijjah) dan itu adalah perayaan Idul Qurban dan penyelenggaraan salat Id yang pertama.[16]

Thabari dalam riwayat lain yang dinukilnya dari Ibnu Ishak, menulis bahwa setelah Nabi Muhammad Saw kembali dari perang Badar, kecuali pada hari-hari pertama bulan Syawal, sebagian dari bulan Syawal dan Dzulqa'dah, ia menetap di kota Madinah. [17]Riwayat lain menyebutkan kemungkin terjadinya perang tersebut pada bulan Shafar tahun ke-3 H.[18] Pendapat lain menyebutkan, perang melawan Bani Qunaiqa' bersamaan waktunya ketika pasukan Islam melakukan peperangan melawan Bani Nadhir.[19] Banyaknya versi yang beragam mengenai waktu terjadinya perang ini, membuat sulitnya menentukan waktu yang pasti mengenai terjadinya peristiwa ini.

Akhir dari Peperangan

Usai memenangkan peperangan melawan Bani Qainuqa', kaum Muslimin diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw untuk memboikot kabilah Yahudi tersebut. Pasca 15 hari kemudian, Nabi Saw memerintahkan agar Bani Qainuqa' diasingkan keluar Madinah. Pada awalnya Nabi Muhammad Saw hendak menghukum mati laki-laki dan menjadikan perempuan dan anak-anak Bani Qainuqa' sebagai budak. Namun kemudian hal tersebut tidak dilakukannya, melainkan mengasingkan Bani Qainuqa' ke Syam. Bal'ami menulis [20] Nabi Muhammad Saw menetapkan hukuman pengusiran atas Bani Qainuqa'. Sebagian warga dari kabilah ini dengan menyatakan diri masuk Islam, mereka tetap diizinkan menetap di Madinah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat, dalam proses pemakaman Abdullah bin Ubay tahun ke-9 H, sejumlah orang dari Bani Qunaiqa' juga turut hadir.[21]

Abdullah bin Salam berpendapat lain, ia menyebut riwayat mengenai masuk Islamnya sebagian dari Bani Qunaiqa' pasca perang adalah tidak benar [22], sebab sebelum Nabi Saw berhijrah ke Madinah, sebagian kecil dari mereka telah masuk Islam sebelumnya dan mereka telah sejak awal diizinkan menetap di Madinah.[23]

Pada perang ini, Sa'ad bin Mu'adz melarang ikut campurnya kabilah Yahudi lainnya.[24]Bendera putih Nabi Muhammad Saw berada di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib.[25] Abu Lababah bin al-Mundzir ditunjuk oleh Nabi Muhammad Saw untuk menjadi wakilnya di Madinah.[26] Mudzir bin Qudamah ditugaskan untuk mengikat tahanan dari Bani Qainuqa' yang tertangkap [27] dan Muhammad bin Maslamah ditunjuk sebagai penanggungjawab yang mengumpulkan harta benda Bani Qainuqa' sebagai harta rampasan perang.[28]

Banyak riwayat menyebutkan, jumlah laki-laki dewasa Bani Qainuqa' sebanyak 700 orang namun penulis kitab al-Tanbih wa al-Asyrāf, menyebut orang Yahudi yang ikut dalam peperangan hanya berjumlah 400 orang.[29]

Usai perang, kaum perempuan dan anak-anak Bani Qainuqa' tetap dibiarkan namun harta mereka harus diserahkan kepada kaum Muslimin. Diriwayatkan oleh Waqidi[30]yang dinukilnya dari ayah Rabi' bin Sabrah bahwa Bani Qunaiqa' menyertakan semua hartanya kecuali unta yang akan ditunggangi kaum perempuan dan anak-anak. Oleh Nabi Muhammad Saw mereka diberi tenggang waktu selama tiga hari untuk meninggalkan kota Madinah. ‘Ubadah bin Shamit diperintahkan Nabi Saw untuk menjadi penanggungjawab yang menjamin mereka telah meninggalkan Madinah dalam 3 hari.

Peran Sekutu Bani Qainuqa'

Peran sekutu Bani Qainuqa' dalam perang ini juga patut mendapat perhatian. ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bun Ubay bin Salul adalah dua pembesar kabilah Khazraj. ‘Ubadah adalah seorang muslim yang terpercaya, ia mengecam pelanggaran perjanjian yang dilakukan Bani Qainuqa' dan ketika ia menemui Nabi Muhammad Saw, ia menyampaikan telah membatalkan perjanjian kerjasama dengan Bani Qainuqa' yang sebelumnya disepakati.[31]

Sementara Abdullah bin Ubay, yang dikenal sebagai gembongnya kaum Munafikin, pada peristiwa ini berdiri di dua kaki. Ia mendukung dan mendorong Bani Qainuqa' untuk melakukan pemberontakan dan mengobarkan peperangan melawan Nabi Muhammad Saw, namun disaat yang sama ia menolak untuk mengirim pasukan membantu Bani Qainuqa'. [32]Setelah Nabi Saw memenangkan peperangan dan menjadikan Bani Qainuqa' sebagai tahanan, Abdullah bin Ubay ia meminta kepada Nabi Saw untuk memaafkan Bani Qunaiqa'. Namun Nabi Muhammad Saw tetap menetapkan hukuman atas Bani Qainuqa' dengan mengusir mereka dari Madinah.

Rampasan Perang dari Bani Qainuqa'

Nabi Muhammad Saw mendapatkan rampasan perang dari Bani Qainuqa' dan membagikannya kepada sahabat-sahabatnya setelah sebelumnya mengeluarkan khumusnya. [33] Nabi Muhammad Saw dari harta rampasan perang tersebut mengambil 3 busur panah, 2 baju besi, 3 pedang dan juga 3 tombak. 2 baju besi yang diambilnya kemudian diserahkannya kepada Muhammad bin Maslamah dan Sa'ad bin Mu'adz.[34]

Catatan Kaki

  1. Judaica, pada item Qaynuqa.
  2. Watt, hlm. 192-193.
  3. Thabari, Tārikh al-Rasul wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 1361 H.
  4. Al-Mufashal fi al-Tārikh al-‘Arab qabl al-Islam, jld. 4, hlm. 39.
  5. Hasan Khalid, Mujtama' al-Madinah qabl al-Hijrah wa Ba'dahā, hlm. 39.
  6. Bal'ami, Tārikh Nameh Thabari, jld. 1, hlm. 151.
  7. Judaica, pada item Qaynuqa.
  8. Bal'ami, Tārikh Nameh Thabari, jld. 1, hlm. 151.
  9. Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, jld. 2, hlm. 561.
  10. Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabi, jld. 2, hlm. 632.
  11. Waqidi, Kitab al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 128.
  12. Qs. Ali Imran: 12-13.
  13. Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, jld. 2, hlm. 561; Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 2, hlm. 29.
  14. Watt, hlm. 181.
  15. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 2, hlm. 28-29; Mas'udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, hlm. 206.
  16. Ibnu Syabah Namiri, Tārikh al-Madinah al-Munawarah, jld. 1, hlm. 136-137; Thabari, Tārikh al-Rasul wa al-Muluk, jld. 2, hlm. 1362.
  17. Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, jld. 2, hlm. 1363.
  18. Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, jld. 2, hlm. 139.
  19. Samhudi, Wafā al-Wafā bi Akhbār Dār al-Musthafa, jld. 1, hlm. 278.
  20. Bal'ami, Tārikh Nameh Thabari, jld. 1, hlm. 152.
  21. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 3, hlm. 806.
  22. Dairah al-Ma'ārif Judaica, pada item: Qaynuqa.
  23. Dairah al-Ma'ārif Islam, cet. II pada item: Abdullah bin Salam.
  24. Watt, hlm. 210.
  25. Thabari, Tārikh al-Rasul wa al-Muluk, jld. 3, hlm. 1362.
  26. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 3, hlm. 130.
  27. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 2, hlm. 33.
  28. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 2, hlm. 30.
  29. Mas'udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, hlm. 206.
  30. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 2, hlm. 130.
  31. Ibnu Ishak, Sirah Rasullah, jld. 2, hlm. 563.
  32. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 129.
  33. Thabari, Tārikh al-Rasul wa al-Muluk, jld. 3, 1362; Mas'udi, al-Tanbih wa al-Asyrāf, hlm. 207.
  34. Waqidi, Kitāb al-Maghāzi, jld. 1, hlm. 129.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Atsir, al-Kāmil fi al-Tārikh, Beirut, 13991402/19791982.
  • Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, terj. Rafi' al-Din Ishak Muhammad bin Hamadani, cet. Asghar Mahdawi, Tehran, 1361 S.
  • Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kubra, Beirut, 1405 H/1985.
  • Ibnu Syabah Namiri, Tārikh al-Madinah al-Munawarah, cet. Fahim Muhammad Syaltut, Beirut, 1410 H.
  • Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabi, cet. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Mesir, tanpa tahun.
  • Bal'ami, Muhammad bin Muhammad, Tārikh Nameh Thabari, cet. Muhammad Rausyan, Tehran, 1366 S.
  • Hasan Khalid, Mujtama' al-Madinah Qabl al-Hijrah wa Ba'dahā, Beirut, tanpa tahun.
  • Samhudi, Ali bin Abdullah, Wafā al-Wafā bi Akhbār Dār al-Musthafa, Beirut, 1401 H/1981.
  • Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Rasul wa al-Muluk, cet. Dakhwiah, tanpa kota, 1982-1985.
  • Jawad Ali, al-Mufashshal fi al-Tārikh al-‘Arab Qabl al-Islam, Baghdad, tanpa tahun.
  • Mas'udi, Ali bin Husain, al-Tanbih wa al-Asyrāf, cet. Abdullah Ismail Shawi, Kairo, 1358 H/1937.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar, Kitāb al-Maghāzi, terj, Mahmud Mahdawi Damghani, Tehran, 1369 S.
  • Encyclopaedia Judaica, Jerusalem, 1978-1982.