Prioritas: a, Kualitas: c
tanpa link

Asy-Syarif al-Murtadha

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Asy-Syarif al-Murtadhahttp://en.wikishia.net
مرقد سید مرتضی.jpg
Kuburan yang dinisbatkan kepada Sayid Murtadha di Kazimain
Informasi Pribadi
Nama Lengkap Ali bin Husain bin Musa bin Muhammad bin Musa bin Ibrahim bin Imam Musa al-Kazhim as
Terkenal dengan Sayid Murtadha Syarif Murtadha Alamul Huda
Lakab Abu al-Qasim • Dzul Majdain • Abu al-Tsamanîn • Dzu al-Tsamanîn
Lahir tahun 355 H/966
Tempat tinggal Bagdad
Wafat/Syahadah 436 H/1045
Tempat dimakamkan Kazimain • menurut pendapat yang lain adalah di Karbala
Kerabat termasyhur Syarif ar-Radhi
Informasi ilmiah
Guru-guru Husain bin Ali bin Babawaih (saudara Syaikh ash-Shaduq) • Sahal bin Ahmad Dibaji • Ibn Jundi al-Baghdadi • Ali bin Muhammad Katib • Ahmad bin Muhammad bin Imran Katib
Murid-murid Syaikh ath-ThusiSallar al-DaylamiIbnu Barraj • Muhammad bin Ali Karajaki
Kegiatan Sosial dan Politik

Ali bin Husain bin Musa (bahasa Arab:علی بن حسین بن موسی) (l. 355 H/966 - w. 436 H/1044-45), masyhur dengan Sayid Murtadha (سید المرتضی), Syarif Murtadha (شریف المرتضی), Alamul Huda, seorang fakih dan teolog Imamiah. Dia adalah kakak dari Syarif ar-Radhi, penghimpun Nahjul Balaghah, pendukung Syiah, naqib (pembesar) Bani Abi Thalib di Bagdad, pemimpin haji (Amirul Haj) dan orang-orang tertindas, setelah saudaranya, dimana sebelumnya merupakan jabatan ayah mereka.[1]

Dia adalah seorang fakih, teolog Imamiah dan marja' mereka sepeninggal gurunya, Syaikh al-Mufid. Ia ahli ilmu teolog dan ahli munadhoroh atau berdiskusi di setiap mazhab. Keluasan ilmunya mencakup fikih, ushul, kesusastraan, bahasa, tafsir, tarikh dan terjemahan.[2]

Kelahiran, Nasab dan Wafat

Makam pusara yang dinisbahkan untuk Sayid Murtadha di Kazimain

Ali bin Husain bin Musa bin Muhammad bin Musa bin Ibrahim bin Imam Musa al-Kazhim as lahir tahun 355 H/966, kakaknya Sayid Radhi dan masyhur dengan Sayid Murtadha, Syarif Murtadha dan Alamul Huda dan gelarnya adalah Abu al-Qasim.[3] Gelar lainnya adalah Dzul Majdain, Abu al-Tsamanîn dan Dzu al-Tsamanîn.

Ayah Sayid Murtadha adalah seorang alim dan naqib Talibian.[4] Ibunya adalah Fatimah putri Hasan (atau Husain) bin Ahmad bin Hasan bin Ali bin Umar al-Asyraf bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as (m 385 H/995). [5]

Najasyi mengatakan tentang wafatnya Sayid Murtadha: Sayid Murtadha meninggal tahun 436 H/1045, dan anaknya yang mensalatinya di rumahnya dan di rumah tersebut ia dikuburkan dan saya yang mengemban pemandiannya dan orang-orang yang bersamaku adalah Abu Ya'la Muhammad bin Hasan Ja'fari dan Sallar bin Abdul Aziz.[6]

Ada perbedaan pendapat tentang tempat penguburannya; sebagian mengatakan bahwa setelah itu dia dipindah dari Baghdad ke Karbala dan dikuburkan di dekat dengan pusara suci Imam Husain as, dan kuburnya sangatlah jelas dan masyhur. [7] Penuturan Ibnu Maitsam (m 679 H) juga menegaskan masalah ini, yaitu tempat dikuburkannya Sayid Radhi dan saudaranya, Sayid Murtadha di Karbala. Dia menulis dalam Syarah Nahjul Balaghah-nya: Sayid Radhi bersama saudaranya, Sayid Murtadha dikuburkan di samping datuknya, Imam Husain as.[8]

Demikian juga, Syaikh Abbas al-Qummi menuliskan: Sayid Murtadha meninggal di kota Kazimain dan dikuburkan di rumahnya. Kemudian dipindahkan di samping datuknya, Abu Abdillah al-Husain as dan dikuburkan di samping saudaranya, Sayid Radhi dan ayahnya, Husain di tempat yang masyhur dengan nama Ibrahim Mujab.[9]

Namun, sejumlah lainnya meyakini bahwa kubur Sayid Murtadha dan Sayid Radhi ada di Kazimain dan disamping kubur Imam Musa bin Ja'far as dan terdapat dua dharih, yang disebut sebagai kubur Sayid Radhi dan Sayid Murtadha. Sebagian masyarakat pergi bersiazah dan membaca fatihah kesitu, guna bertabaruk.[10]

Pendidikan

Dia belajar kesusastraan dengan Ibn Nabatah sedari kecil (antara 12 dan 13 tahun) dan dengan demikian, saat ibunya membawanya ke hadapan Syaikh Mufid untuk belajar, umurnya kurang sekitar 15 tahun, dikarenakan saudaranya, Sayid Radhi juga bersamanya dan Sayid Radhi sekitar 4 atau 5 tahun lebih kecil darinya. Dan sangat tidak mungkin dia sibuk belajar fikih, sebelum menguasai ilmu kesusastaraan, yang merupakan pendahuluan fikih.

Karya-karya ilmiah dan adabnya menjadi bukti riil bahwa dia sedari kecil adalah orang yang sangat serius dalam belajar, sampai-sampai di umur 28 tahunnya telah menjadi seorang marja fiqih dan seorang teolog dan setelah itu, Imamiah dan selain Imamiah dari pelbagai kawasan Islam merujuk kepadanya, dengan berperantarakan surat menyurat. [11]

Kedudukan Ilmiah dan Sosial

Sayid Murtadha termasuk cendekiawan terkemuka Syiah Imamiyah, sebagaimana karya-karyanya yang sangat banyak, dia adalah seorang guru yang sangat handal dalam banyak ilmu di masanya, seperti teolog, fikih, ushul, tafsir, filsafat Ilahiyyah, astronomi, jenis-jenis kesusastraan seperti bahasa, nahwu, ma'ani, insya', syi'ir dan semisalnya. Dia lebih banyak memprioritaskan upayanya pada masalah fikih, teolog dan kesusaastraan dan dengan demikian, dia telah berkhidmat terhadap mazhab Syiah Imamiyah dan mengokohkan pendapat pokok dan furu' mereka.

Metodenya dalam Ushuluddin mengikuti dalil rasional, oleh karenanya tidak hanya bertentangan dengan Asyariyyah, bahkan juga dengan Imamiah yang tekstualisme. Dia tidak menerima khabar wahid dalam fikih, dan dalam istinbat (mengeluarkan) hukum juga menggunakan argumentasi ushul lafdziyyah dan aqliyyah (rational principles), dengan demikian dia tidak sepakat dengan para Muhaditsin dan Akhbari. [12]

Sayid Murtadha adalah seorang fakih, teolog Imamiah dan marja mereka setelah wafatnya gurunya, Syaikh Mufid. Buku al-Syafi fi al-Imamah merupakan hujjah terkuat akan kedalamannya dalam ilmu teologi dan dialog dalam setiap mazhab. Dalam fikih dan ushul, buku Rasail wa Kutub Nadirnya dalil akan kemumpuniannya. Dalam kesusastraan, bahasa, tafsir, sejarah dan terjemahan, buku Âmalinya merupakan argumentasi pasti akan keluasan pengetahuannya dalam ilmu-ilmu tersebut.[13]

Muridnya, Syaikh Thusi mengatakan, Dia sangat tunggal dalam keilmuan, kesemuanya mengakui akan keutamaannya, sangat mumpuni dalam ilmu, ilmu-ilmu seperti teolog, fikih, ushul fiqih, sastra, nahwu, sya'ir, ma'ani syi'ir, bahasa dan selainnya. [14]

Najasyi mengatakan, mendapatkan ilmu dari seseorang yang tidak ada setaranya pada orang-orang semasanya dan sangat banyak sekali mendengar hadis, dia seorang teolog, penyair dan sastrawan. Dia memiliki kedudukan agung dalam ilmu, agama dan dunia.[15]

Dia tumpuan Syiah dan Talibian di Baghdad, pemimpin haji dan orang-orang teraniaya, setelah saudaranya, Sayid Radhi, yang tentunya ini adalah kedudukan ayah mereka. Dia memberikan bulanan kepada para muridnya: setiap bulan dia memberik 12 Dinar kepada Syaikh Thusi, setiap bulan memberi 8 Dinar kepada Qadhi Ibn Barraj.

Sekolah

Dia memiliki rumah yang besar dan menjadikannya sebagai sekolah dan mengajar para pelajar fikih, teolog, tafsir, bahasa, syair dan ilmu-ilmu lainnya, seperti astronomi dan kalkulasi di situ, dia juga melakukan dialog-dialog di rumah tersebut. Di rumah ini bukan hanya orang-orang Syiah semata, bahkan para pencari ilmu dari setiap mazhab dan kelompok berkumpul di situ. [16]

Para Guru dan Syaikh

Dia bersama saudaranya, Syarif Radhi mempelajari bahasa dan permulaan mabadi kepada seorang penyair dan sastrawan, Ibnu Nabatah dan mempelajari fikih dan ushul kepada Syaikh Mufid. Sayid Murtadha dalam syair dan adab berguru kepada Abu Ubaidillah Marzbani dan dia dalam buku amāli banyak sekali menukil riwayat darinya.

Guru utamanya adalah Syaikh Mufid. Meski demikian, dia juga menukilkan riwayat dari sebagian guru-guru Syaikh Mufid. Semisalnya dia sangat menukilkan riwayat dari Abu Abdillah Muhammad bin Imran Marzbani Baghdadi (m 378 H/), seperti hadis Khutbah al-Zahra, yang dituturkan dalam buku Al-Syāfi.[17]

Demikian juga, dalam buku ini meriwayatkan dari Abu al-Qasim Ubadillah bin Utsman bin Yahya bin Junaiqa al-Daqqad dan dari Abul Hasan Ali bin Muhammad Katib dan dia juga memiliki guru dan syaikh lainnya, yang mempelajari hadis, fikih, dan ilmu-ilmu lainnya dari mereka, diantaranya adalah: [18]

  • Husain bin Ali bin Babawaih Qummi, saudara Syaikh Shaduq.
  • Sahal bin Ahmad Dibaji.
  • Abul Hasan Ahmad bin Muhammad bin Imran, yang terkenal dengan Ibn Jundi al-Baghdadi.
  • Abul Hasan atau (Abul Husain) Ali bin Muhammad Katib.
  • Ahmad bin Muhammad bin Imran Katib.

Para Murid

Sebagian murid Sayid Murtadha adalah sebagai berikut:[19]

  1. Syaikh at-Thaifah Abu Ja'far Muhammad bin Hasan Thusi.
  2. Abu Ya'la Sallar (Salar) bin Abdul Aziz Dailami.
  3. Abu al-Salah Taqiyuddin bin Najm Halabi.
  4. Qadhi Abu al-Qasim Abdul Aziz bin Barraj.
  5. Abul Fath Muhammad bin Ali Karajiki.
  6. Imaduddin Dzulfiqar Muhammad bin Ma'bad Hasani.
  7. Abu Abdilah Ja'far bin Muhammad al-Duraisti.
  8. Abul Hasan Sulaiman bin Hasan Shahrasyti.
  9. Abul Hasan Muhammad bin Muhammad Bashrawi.
  10. Abu Abdillah bin Taban Tabani.
  11. Syaikh Ahmad bin Hasan Nisaburi.
  12. Abul Husain Hajib.
  13. Najibuddin Abu Muhammad Hasan bin Muhammad Musawi.
  14. Qadhi Izzuddin Abdul Aziz bin Kamil Tarablusi.
  15. Qadhi Abu al-Qasim Ali bin Muhsin Tanukhi.
  16. Mufid al-Tsani, Abu Muhamamd Abdur Rahman bin Ahmad bin Husain.
  17. Faqih Taqi bin Abi Thahir Hadi Naqib Razi.
  18. Muhammad bin Ali Halwani.
  19. Sayid Abu Ya'la Muhammad Hamzah Alawi.
  20. Faqih Abul Faraj Ya'qub bin Ibrahim Baihaqi.

Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Agha Bozorg, Bi Ta, hlm. 120-121.
  2. Al-Muhami Rashid al-Saffar, Tarjumah al-Syarif al-Murtadhā, fi Syarif Murtadhā, 1415 H, hlm. 7-8.
  3. Agha Bozorg, Bi Ta, hlm. 120-121.
  4. Al-Muhami Rashid al-Saffar, Tarjumah al-Syarif al-Murtadha, fi Syarif Murtadha, 1415 H, hlm. 9.
  5. Ibid., hlm. 11-12.
  6. Najasyi, 1365, hlm. 271.
  7. Ja'fari, Sayid Radhi, hlm. 31.
  8. Ibn Maitsam al-Bahrani, Syarh Nahjul Balaghah, jild. 1, hlm. 89.
  9. Qummi, Syaikh Abbas, Waqai' al-Ayyam, hlm. 287.
  10. Ibid.,
  11. Gorji, Abu al-Qasim, Tarikh Fiqh wa Fuqaha, hlm. 148.
  12. Ibid., hlm. 148-149.
  13. Al-Muhami Rashid al-Saffar, Tarjumah al-Syarif al-Murtadha, fi Syarif Murtadha, 1415 H, hlm. 7-8.
  14. Thusi, Al-Fehrest, hlm. 99.
  15. Najasyi, 1365, hlm. 270.
  16. Al-Muhami, Rashid al-Saffar, Tarjumah al-Syarif al-Murtadhā, fi Syarif Murtadhā, 1415 H, hlm. 22.
  17. Agha Buzurg, Bi Ta, hlm. 120-121.
  18. Al-Muhami Rashid al-Saffar, Tarjumah al-Syarif al-Murtadhā, fi Syarif Murtadhā, 1415 H, hlm. 24.
  19. Ibid., hlm. 47-48.

Daftar Pustaka

  • Ibn Maitsam Bahrani, Syarh Nahjul Balaghah, Qom, Markas al-Nasyr Maktab al-A'lam al-Islami, 1362 S.
  • Al-Syarif al-Murtadha, Ali bn Husain Musawi, al-Intishār fi Infiradāt al-Imāmiah, Qom, Daftar Intisyarat Islami, yang berafiliasi dengan Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, 1415 H.
  • Ja'fari, Sayid Muhammad Mahdi, Sayid Radhi, Teheran, Tharhe Nu, 1375 S.
  • Agha Bozorg Tehrani, Thabaqāt A'lām al-Syiah, jild. 2,Qom, Ismailiyan, Bi Ta.
  • Syaikh Thusi, al-Fehrest, Riset. Sayid Muhammad Shadiq Al Bahrul Ulum, Najaf, Al-Maktabah al-Radhawiyyah, Bi Ta.
  • Abu al-Qasim Gorji, Tārikh Fiqh wa Fuqahā, Tehran, Samt, 1385 S.
  • Najasyi, Ahmad bin Ali, Rijāl al-Najasyi, Qom, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1365.