Al-Qur'an

Dari Wiki Shia
Lompat ke: navigasi, cari
Prioritas: aa, Kualitas: c
Sebuah Naskah Al-Quran Pada Abad 4 atau 5, Kaligrafi Kufi di Masjid Desa Nugul, Sanandaj

Al-Qur’an (Bahasa Arab: القرأن) adalah kitab suci kaum Muslimin. Menurut keyakinan mereka, Al-Qur’an turun dari Allah swt yang tersimpan di Lauh Mahfuzd kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat pembawa wahyu, Jibril as, dalam kurun waktu 23 tahun. Nabi Muhammad saw membacakan Al-Qur’an kepada sekelompok sahabatnya kemudian para penulis wahyu mencatatnya di bawah pengawasan langsung sang Nabi saw. Di kalangan para sahabat Nabi banyak yang hafal Al-Qur’an dan meriwayatkannya secara mutawatir. Sejak masa Nabi saw Al-Qur’an telah tertulis namun belum tersusun secara rapi. Di masa khalifah Utsman dan di bawah pengawasannya selama beberapa tahun yang berakhir sekitar tahun 28 H, Al-Qur’an tersusun rapi dalam 114 surah mulai dari surah al-Fatihah sampai surah al-Nas. Menurut keyakinan umat Islam teks Al-Qur’an itu suci, periwayatannya mutawatir, sumbernya qath’i (meyakinkan) dan sangat disunnahkan untuk membacanya. [1]

Kandungan asli Al-Qur’an

  1. Penyebutan peristiwa-peristiwa sejarah (peperangan dan hijrah Rasulullah saw dan sebagainya).
  2. Kisah para nabi dan hikayat lainnya.
  3. Pemikiran tauhid serta seruan kepada iman dan Islam.
  4. Larangan syirik dan munafik.
  5. Pemahaman tentang hari kiamat (penjelasan tentang alam akhirat dan kehidupan setelah kematian).
  6. Pemahaman tentang malaikat (mencakup tentang syaitan dan jin).
  7. Hukum fikih.
  8. Akhlak (mencakup tentang nasihat dan bimbingan serta seruan kepada amar ma’ruf nahi munkar).
  9. Penunjukan pada tanda-tanda ilahi serta keajaiban-keajaiban alam semesta dan manusia (serupa dengan burhan nazm [argumentasi keteraturan] atau Itqanu Son’ [pengenalan dalil-dalil penciptaan]).
  10. Penyebutan pada syari’at dan kitab-kitab langit terdahulu.
  11. Kisah tentang penciptaan manusia, antropologi dan psikologi. [2]

Definisi Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang penuh dengan mukjizat Ilahi. Al-Qur’an merupakan kitab berbahasa Arab yang turun dari Allah swt yang tersimpan di Lauh Mahfuzd kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat pembawa wahyu, Jibril as. Baik itu turunnya sekali secara global maupun bertahap selama 23 tahun secara terperinci. Nabi saw membacakan Al-Qur’an kepada sekelompok sahabatnya kemudian para penulis wahyu mencatatnya di bawah pengawasan langsung sang Nabi.

Di kalangan para sahabat Nabi banyak sekali yang hafal Al-Qur’an dan meriwayatkannya secara mutawatir. Sejak masa Nabi saw Al-Qur’an telah tertulis namun belum tersusun secara rapi. Di masa Ustman dan di bawah pengawasannya selama beberapa tahun yang berahir sekitar tahun 28 hijriah, Al-Qur’an tersusun rapi dalam 114 surat mulai dari Surat al-Fatihah sampai Surat al-Nas. Menurut keyakinan kaum muslimin teks Al-Qur’an itu suci, periwayatannya mutawatir, sumbernya qath’i (meyakinkan) dan sangat disunahkan untuk membacanya. [3]

Al-Qur’an di sisi kaum Muslimin diimani sebagai mukjizat Ilahi dan sanad kenabian. Ia adalah kitab yang terjaga dari kesalahan dan segala bentuk perubahan (tahrif), dan meyakini hal ini wajib bagi seluruh kaum Muslimin, apapun mazhabnya. Al-Qur’an tertuang dalam bahasa Arab yang sangat fasih, yang keindahannya membuat takjub para penyair Arab begitupun selainnya, bahkan dalam sejarah bahasa Arab tidak ada yang bisa menyaingi kandungannya.

Dalam kurun waktu 23 tahun, yaitu selama Nabi Muhammad saw bertugas menyampaikan pesan Ilahi dan menyeru kepada Islam, Allah swt mewahyukan Al-Qur’an kepadanya secara bertahap. Setiap Nabi saw menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya, kaum Musliminpun menghafalnya dan oleh para penulis wahyu yang telah ditunjuk oleh Nabi saw, menuliskannya dengan khat Khufi, yaitu bentuk tulisan yang belum memiliki titik dan tanda baca (harakat), kemudian disalin ke dalam beberapa salinan dengan menggunakan alat dan bahan seadanya. [4]

Kata Qur’an

Qur’an adalah alam syakhshi (nama yang disandang suatu benda dan sebagainya) untuk kitab Ilahi dengan sifat-sifat tertentu. Berkenaan dengan etimologi, lafazh dan arti kata Qur’an di kalangan ulama Islam terdapat pendapat yang beragam.

Syafi’i berpendapat, Qur’an bukan mushtaq (yang diambil kata lain) juga bukan mahmuz (kata yang memiliki huruf hamzah), melainkan sebuah ‘alam (nama) dengan bentuk irtijali (sebuah kata yang diambil dari kata lain tanpa ada hubungannya dengan kata pertama) untuk kalam Ilahi.

Farra’ berpendapat, Qur’an adalah mushtaq dari kata qarain (jamaknya qarinah=hubungan).

Asy’ari dan para pengikutnya berpendapat, Qur’an adalah mushtaq dari (qarana al-syai’ bi al-syai’=penggabungan dan penambahan sesuatu atas sesuatu) karena surah-surah dan ayat-ayat ditambahkan atas yang satu dengan yang lainnya. [5]

Nama dan Sifat-sifat Al-Qur’an

Para ilmuwan Al-Qur’an terdahulu bukan saja tidak membedakan antara nama dan sifat Al-Qur’an, bahkan kadang mereka menamainya dengan lebih dari sembilan puluh nama. Zarkasyi dan Suyuthi dalam kitab al-Itqan menyebutkan lima puluh lima nama Al-Qur’an. [6]

Di antara nama-nama tersebut yang paling masyhur adalah “Furqan”, [7]Dzikr”, [8]Tanzil”, [9]al-Kitab”, [10]Kalamullah”. [11]Al-Qur’an juga disebut dengan sifat lain, seperti “Al-Qur’an al-Majid”, [12]Al-Qur’an al-‘Adzim”, [13]Al-Qur’an al-Hakim”, [14]Al-Qur’an al-Karim”, [15]Al-Qur’an al-Mubin[16][17]

Ukuran Al-Qur’an

Dibanding dengan kitab-kitab Samawi lainnya, Al-Qur’an termasuk berukuran sedang. Bisa dikatakan ukuran Al-Qur’an sama dengan kitab Perjanjian Baru (empat Injil dan risalah yang berhubungan dengannya) atau buku kumpulan syair Hafiz. Menurut statistik paling rinci, jumlah kata dalam Al-Qur’an ada 77807 kata. [18]

Al-Qur’an memiliki 114 surah dan keseluruhan ada 30 juz. Setiap juz memiliki 4 (atau 2) hizb. Tiap 5 ayat disebut khums (خ) dan tiap 10 ayat disebut ‘usyr (ع), [19]proses ini disebut ta’syir. [20]

Secara rinci, isi Al-Qur’an juga dibagi ke dalam pembagian “ruku’āt” (ruku’-ruku’). Arti ruku’ adalah kumpulan ayat Al-Qur’an yang memiliki kesatuan tema dan kandungan. Ruku’ dimulai dari awal tema dan diakhiri dengan perubahan tema lain pada suatu kalimat. Ruku’ dalam Al-Qur’an mirip dengan ruku’ pada salat kita sehari-hari. Dalam salat, pada raka’at pertama dan ke dua, setelah membaca surah Al-Fatihah kita membaca surah lainnya. Bahkan menurut sebagian pendapat cukup dengan hanya membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Kemudian setelah membaca Al-Fatihah dan surah, kita melakukan ruku’. Karena itu tiap bagian disebut ruku’. Menurut pendapat masyhur, jumlah ruku’ Al-Qur’an ada 540. [21]

Kandungan Al-Qur’an

Makna dan kandungan Al-Qur’an sangat bermacam-macam dan saling berhubungan. Al-Qur’an mengandung banyak sekali pelajaran, di antaranya: tauhid dan seruan untuk memikirkan Tuhan dan mengimani-Nya. Larangan syirik, munafik dan murtad. Seruan mengutuk setan dan penyembah berhala. Kisah-kisah para nabi, mulai Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad saw. Tentang kehidupan masyarakat Arab di masa Nabi saw dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka sampaikan kepada beliau, mulai tentang bulan hingga masalah-masalah seperti haid, nasihat kehidupan, hidup di dunia dan hiasannya beserta contoh-contohnya seperti harta, anak, kebun dll. Tentang wahyu dan proses turunnya beserta takwilnya. Tentang hukum fikih, seperti pembagian warisan dan penentuan bagian tiap ahli waris, hukum cambuk bagi pezina, hukum potong tangan bagi pencuri dan lain-lain. Tentang halal dan haram. Tentang hukum akhlak seperti memberi makan orang miskin, menuntun orang buta, memberikan hak-hak kedua orang tua dan kewajiban menghormati mereka. Tentang larangan berbuat mungkar seperti membunuh anak karena takut miskin dan memakan harta riba. Tentang seruan berakhlak mulia seperti jujur dan ikhlas, sampai tentang malaikat dan ratusan tema lainnya. [22]

Kandungan asli Al-Qur’an:

  1. Penyebutan peristiwa-peristiwa bersejarah (peperangan dan hijrah Rasulullah saw dsb)
  2. Kisah-kisah para Nabi dan hikayat lainnya
  3. Pemikiran tauhid serta seruan kepada iman dan Islam
  4. Larangan syirik dan munafik
  5. Pemahaman tentang hari kiamat (penjelasan tentang alam akhirat dan kehidupan setelah kematian)
  6. Pemahaman tentang malaikat (mencakup tentang setan dan jin)
  7. Hukum fikih
  8. Hukum ahlak (mencakup tentang nasihat dan bimbingan serta seruan kepada amar ma’ruf nahi munkar)
  9. Penunjukan pada tanda-tanda ilahi serta keajaiban-keajaiban alam semesta dan manusia (serupa dengan Burhan Nazm [argumentasi keteraturan] atau Itqanu Shun’ [pengenalan dalil-dalil penciptaan])
  10. Penyebutan syari’at dan kitab-kitab suci terdahulu
  11. Kisah penciptaan manusia, antropologi dan psikologi [23]

Ayat dan surah

Ayat (آية = ayatun)

Ayat adalah bagian kecil Al-Qur’an. Pada sebagian besar ayat, setiap ayat itu adalah satu kalimat. Tapi kadang ada ayat yang terdiri dari beberapa kalimat hingga satu paragraf, seperti ayat Kursi atau ayat Nur. Bahkan ada ayat yang terdiri dari beberapa paragraf, seperti ayat Dain/Tadayun/Mudayanah yang merupakan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an. Dalam Qur’an khat Utsman Thaha (Mushaf Madinah), Ayat tersebut persis satu halaman dan berjumlah 15 baris. Ada pula ayat yang hanya berupa satu kata, seperti ayat “mud-haammataan” (al-Rahman: 64). Bahkan ada ayat yang lebih sedikit dari itu, yaitu yang berupa huruf-huruf muqatha’ah atau fawatih al-surah (hutuf-huruf pada permulaan surah), misal طه (tha-ha), یس (ya-sin), الم (alif lam mim). Untuk mengetahui batasan suatu ayat adalah dengan cara tauqifi (mengikuti apa yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya). Karena ada contoh-contoh ayat yang bentuknya mirip namun memiliki perbedaan batasan. Seperti pada beberapa huruf fawatih al-surah, misal المص (alif lam mim shad) terhitung sebagai satu ayat, sedangkan المر (alif lam ra) yang bentuknya mirip dengan yang sebelumnya namun tidak terhitung sebagai satu ayat. Atau حمعسق (ha mim a’in sin qaf), (حم dan عسق ) di sini adalah dua ayat, sedangkan کهیعص (kaf ha ya a’in shad) yang notabene mirip dengan sebelumnya namun dihitung satu ayat.

Kata ayat (آية, jamak آيات), yang bermakna kalimat yang terangkai dalam Al-Qur’an, juga disebutkan di dalam Al-Qur’an. [24]

Surah Al-Baqarah adalah surat Al-Qur’an yang memiliki ayat terbanyak (286 ayat). Sedangkan surah Al-Kautsar adalah surat yang memiliki ayat paling sedikit (3 ayat).

Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an. Menurut pendapat ter-otentik yang berdasarkan riwayat yang dikutip oleh Abu Abdurahman bin Habib Sulama dari Amirul Mukminin Ala As, juga disebutkan Imam Syathibi dalam kitab Nazdimah al-Zduhr, jumlah keseluruhan ayat Al-Qur’an adalah 6236 ayat. [25]

Surah (سورة = suratun)

Satuan bagian terbesar Al-Qur’an adalah surah. Surah secara leksikal berarti penggalan dan secara tekhnikal adalah sekelompok ayat Al-Qur’an yang memiliki permulaan dan akhiran. Dikatakan, istilah surah itu diambil dari kata "سور المدینة" (suwar al-madinah, dinding kota). Kata surah yang bermakna demikian terdapat di dalam Al-Qur’an. [26]

Bentuk jamak kata surah, yaitu سُوَر (suwar), juga disebutkan di dalam Al-Qur’an. [27]

Secara keseluruhan Al-Qur’an memiliki 114 surah yang tersusun rapi sesuai urutan panjang pendeknya. Surah terpanjang adalah surah al-Baqarah (286 ayat atau sebanding dengan 48 halaman Qur’an khat Utsman Thaha). Sedangkan surah terpendek adalah surah al-Kaustar (3 ayat). [28]

Urutan surah Al-Qur’an dimulai dari surah al-Fatihah dan diakhiri surah Al-Nas. Terdapat perbedaan pendapat tentang urutan surah Al-Qur’an, yaitu apakah penentuan urutan tersebut itu tauqifi ataukah ijtihadi (hasil ijtihad sahabat Nabi). Sebagian kalangan berpendapat bahwa, urutan surah Al-Qur’an adalah tauqifi, yaitu berdasarkan perintah Allah swt dengan bimbingan Nabi saw. Pendapat lain mengatakan bahwa, urutan surah adalah ijtihadi yang dilakukan oleh para penyusun Mushaf Utsmani. Alasannya adalah karena Rasulullah saw hanya menulis dan mengumpulkan Al-Qur’an, belum menyusunnya secara rapi seperti sekarang. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa urutan surah Al-Qur’an adalah hasil kombinasi antara tauqifi dan ijtihadi, pendapat inilah yang lebih bisa diterima. Nama-nama 114 surah Al-Qur’an tercantum dalam kebanyakan kitab sejarah Al-Qur’an (diantaranya kitab Tarikh Qur’an karangan Mahmud Ramyar), dalam buku Farhang Amari Kalamāt Quran Karim karangan Dr Mahmud Ruhani, dan juga di bagian akhir setiap Al-Qur’an cetakan baru. [29]

Huruf Muqattha’ah/Fawatih al-Suwar ( حروف مقطعة= hurufun muqattha’atun)

Huruf muqattha’ah adalah huruf-huruf yang saling terpisah antara satu dengan yang lainnya, sedangkan Fawatih al-suwar adalah huruf-huruf yang terdapat pada permulaan surah-surah. Sebagian huruf muqattha’ah ada yang berupa ayat dan ada juga yang hanya berupa huruf-huruf, dan semua itu adalah rahasia Al-Qur’an. Maksud rahasia di sini adalah, sejak zaman turunnya wahyu hingga sekarang, makna dan maksud huruf-huruf tersebut belum diketahui secara jelas. Huruf muqattha’ah (baik yang berupa satu huruf atu lebih) ada 29 buah dan terdapat pada permulaan 29 surah Al-Qur’an yang seluruhnya adalah surah Makiyyah, kecuali surah al-Baqarah dan Ali Imran. [30]

Wahyu dan proses turunnya Al-Qur’an

No. Nama Surah Bahasa Arab Arti Nama Ayat Tempat Turun Urutan Pewahyuan
1 Surah Al-Fatihah الفاتحة Pembukaan 7 Mekkah 5
2 Surah Al-Baqarah البقرة Sapi Betina 286 Madinah 87
3 Surah Ali Imran آل عمران Keluarga Imran 200 Madinah 89
4 Surah Al-Nisa النّساء Wanita 176 Madinah 92
5 Surah Al-Maidah المآئدة Jamuan (hidangan makanan) 120 Madinah 112
6 Surah Al-An'am الانعام Binatang Ternak 165 Mekkah 55
7 Surah Al-A'raf الأعراف Tempat yang tertinggi 206 Mekkah 39
8 Surah Al-Anfal الأنفال Harta rampasan perang 75 Madinah 88
9 Surah Al-Taubah التوبة‎‎ Pengampunan 129 Madinah 113
10 Surah Yunus ينوس Nabi Yunus 109 Mekkah 51
11 Surah Hud هود Nabi Hud 123 Mekkah 52
12 Surah Yusuf يسوف Nabi Yusuf 111 Mekkah 53
13 Surah Al-Ra'd الرّعد Guruh (petir) 43 Madinah 96
14 Surah Ibrahim إبراهيم Nabi Ibrahim 52 Mekkah 72
15 Surah Al-Hijr الحجر Al Hijr (nama gunung) 99 Mekkah 54
16 Surah Al-Nahl النّحل Lebah 128 Mekkah 70
17 Surah Al-Isra' الإسرا Memperjalankan di waktu malam 111 Mekkah 50
18 Surah Al-Kahf الكهف Penghuni-penghuni gua 110 Mekkah 69
19 Surah Maryam مريم Maryam (Maria) 98 Mekkah 44
20 Surah Thaha طه Ta Ha 135 Mekkah 45
21 Surah Al-Anbiya الأنبياء Nabi-Nabi 112 Mekkah 73
22 Surah Al-Hajj الحجّ Haji 78 Madinah 103
23 Surah Al-Mukminun المؤمنون Orang-orang mukmin 118 Mekkah 74
24 Surah Al-Nur النّور Cahaya 64 Madinah 102
25 Surah Al-Furqan الفرقان Pembeda 77 Mekkah 42
26 Surah Al-Syu'ara الشّعراء Penyair 227 Mekkah 47
27 Surah Al-Naml النّمل Semut 93 Mekkah 48
28 Surah Al-Qashash القصص Cerita 88 Mekkah 49
29 Surah Al-Ankabut العنكبوت Laba-laba 69 Mekkah 85
30 Surah Al-Rum الرّوم Bangsa Romawi 60 Mekkah 84
31 Surah Lukman لقمان Keluarga Lukman 34 Mekkah 57
32 Surah Al-Sajdah السّجدة Sajdah 30 Mekkah 75
33 Surah Al-Ahzab الْأحزاب Golongan-Golongan yang bersekutu 73 Madinah 90
34 Surah Saba’ سبا Kaum Saba' 54 Mekkah 58
35 Surah Fathir فاطر Pencipta 45 Mekkah 43
36 Surah Yasin يس Yaasiin 83 Mekkah 41
37 Surah Al-Shaffat الصّافات Barisan-barisan 182 Mekkah 56
38 Surah Shad ص Shaad 88 Mekkah 38
39 Surah Al-Zumar الزّمر Rombongan-rombongan 75 Mekkah 59
40 Surah Ghafir غافر Sang Pengampun dosa 85 Mekkah 60
41 Surah Fusshilat فصّلت Yang dijelaskan 54 Mekkah 61
42 Surah Al-Syura الشّورى Musyawarah 53 Mekkah 62
43 Surah Al-Zukhruf الزّخرف Perhiasan 89 Mekkah 63
44 Surah Al-Dukhan الدّخان Kabut 59 Mekkah 64
45 Surah Al-Jatsiyah الجاثية Yang bertekuk lutut 37 Mekkah 65
46 Surah Al-Ahqaf الَأحقاف Bukit-bukit pasir 35 Mekkah 66
47 Surah Muhammad محمّد Muhammad 38 Madinah 95
48 Surah Al-Fath الفتح Kemenangan 29 Madinah 111
49 Surah Al-Hujurat الحجرات Kamar-kamar 18 Madinah 106
50 Surah Qaf ق Qaaf 45 Mekkah 34
51 Surah Al-Dzariyat الذّاريات Angin yang menerbangkan 60 Mekkah 67
52 Surah Al-Thur الطّور Bukit 49 Mekkah 76
53 Surah Al-Najm النّجْم Bintang 62 Mekkah 23
54 Surah Al-Qamar القمر Bulan 55 Mekkah 37
55 Surah Al-Rahman الرّحْمن Yang Maha Pemurah 78 Madinah 97
56 Surah Al-Waqi’ah الواقعه Hari Kiamat 96 Mekkah 46
57 Surah Al-Hadid الحديد Besi 29 Madinah 94
58 Surah Al-Mujadilah المجادلة Wanita yang mengajukan gugatan 22 Madinah 105
59 Surah Al-Hasyr الحشْر Pengusiran 24 Madinah 101
60 Surah Al-Mumtahanah الممتحنة Wanita yang diuji 13 Madinah 91
61 Surah Al-Shaff الصّفّ Satu barisan 14 Madinah 109
62 Surah Al-Jumu’ah الجمعة Hari Jum’at 11 Madinah 110
63 Surah Al-Munafiqun المنافقون Orang-orang yang munafik 11 Madinah 104
64 Surah Al-Taghabun التّغابن Hari dinampakkan kesalahan-kesalahan 18 Madinah 108
65 Surah Al-Thalaq الطّلاق Talak 12 Madinah 99
66 Surah Al-Tahrim التّحريم Mengharamkan 12 Madinah 107
67 Surah Al-Mulk الملك Kerajaan 30 Mekkah 77
68 Surah Al-Qalam القلم Pena 52 Mekkah 2
69 Surah Al-Haqqah الحآقّة Hari kiamat 52 Mekkah 78
70 Surah Al-Ma’arij المعارج Tempat naik 44 Mekkah 79
71 Surah Nuh نوح Nuh 28 Mekkah 71
72 Surah Al-Jin الجنّ Jin 28 Mekkah 40
73 Surah Al-Muzammil المزمّل Orang yang berselimut 20 Mekkah 3
74 Surah Al-Muddatsir المدشّر Orang yang berkemul 56 Mekkah 4
75 Surah Al-Qiyamah القيمة Hari Kiamat 40 Mekkah 31
76 Surah Al-Insan الْاٍنسان Manusia 31 Madinah 98
77 Surah Al-Mursalat المرسلات Malaikat-Malaikat Yang Diutus 50 Mekkah 33
78 Surah Al-Naba النّبا Berita besar 40 Mekkah 80
79 Surah Al-Nazi'at النّازعات Malaikat-Malaikat Yang Mencabut 46 Mekkah 81
80 Surah 'Abasa عبس Ia Bermuka masam 42 Mekkah 24
81 Surah Al-Takwir التّكوير Menggulung 29 Mekkah 7
82 Surah Al-Infithar الانفطار Terbelah 19 Mekkah 82
83 Surah Al-Muthaffifin المطفّفين Orang-orang yang curang 36 Mekkah 86
84 Surah Al-Insyiqaq الانشقاق Terbelah 25 Mekkah 83
85 Surah Al-Buruj البروج Gugusan bintang 22 Mekkah 27
86 Surah Al-Thariq الطّارق Yang datang di malam hari 17 Mekkah 36
87 Surah Al-A’la الْأعلى Yang paling tinggi 19 Mekkah 8
88 Surah Al-Ghasyiyah الغاشية Hari Pembalasan 26 Mekkah 68
89 Surah Al-Fajr الفجر Fajar 30 Mekkah 10
90 Surah Al-Balad البلد Negeri 20 Mekkah 35
91 Surah Al-Syams الشّمس Matahari 15 Mekkah 26
92 Surah Al-Lail الّيل Malam 21 Mekkah 9
93 Surah Al-Dhuha الضحى‎‎ Waktu matahari sepenggalahan naik (Dhuha) 11 Mekkah 11
94 Surah Al-Insyirah الانشراح‎‎ Melapangkan 8 Mekkah 12
95 Surah Al-Tin التِّينِ Buah Tin 8 Mekkah 28
96 Surah Al-'Alaq العَلَق Segumpal Darah 19 Mekkah 1
97 Surah Al-Qadr الْقَدْرِ Kemuliaan 5 Mekkah 25
98 Surah Al-Bayyinah الْبَيِّنَةُ Pembuktian 8 Madinah 100
99 Surah Al-Zalzalah الزلزلة‎‎ Kegoncangan 8 Madinah 93
100 Surah Al-'Adiyat العاديات‎‎ Berlari kencang 11 Mekkah 14
101 Surah Al-Qari'ah القارعة‎‎ Peristiwa Menggetarkan 11 Mekkah 30
102 Surah Al-Takatsur التكاثر‎‎ Bermegah-megahan 8 Mekkah 16
103 Surah Al-'ashr العصر Masa/Waktu 3 Mekkah 13
104 Surah Al-Humazah الهُمَزة‎‎ Pengumpat 9 Mekkah 32
105 Surah Al-Fil الْفِيلِ Gajah 5 Mekkah 19
106 Surah Quraisy قُرَيْشٍ Suku Quraisy 4 Mekkah 29
107 Surah Al-Ma'un الْمَاعُونَ Barang-barang yang berguna 7 Mekkah 17
108 Surah Al-Kautsar الكوثر Nikmat yang berlimpah 3 Mekkah 15
109 Surah Al-Kafirun الْكَافِرُونَ Orang-orang kafir 6 Mekkah 18
110 Surah Al-Nashr النصر‎‎ Pertolongan 3 Madinah 114
111 Surah Al-Masad المسد‎‎ Gejolak Api/ Sabut 5 Mekkah 6
112 Surah Al-Ikhlash الإخلاص‎‎ Ikhlas 4 Mekkah 22
113 Surah Al-Falaq الْفَلَقِ Waktu Subuh 5 Mekkah 20
114 Surah Al-Nas النَّاسِ Manusia 6 Mekkah 21

Wahyu (وحي = wahyun)

Al-Qur’an diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril as. Wahyu adalah sebuah fenomena nyata dan konkret. Wahyu bisa diibaratkan sebagai pesan Tuhan untuk para nabi-Nya, dan Al-Qur’an adalah wahyu Allah untuk penutup para Nabi, Muhammad saw. [31]

Allamah Thabathabai menulis, yang bisa dipahami dari Al-Qur’an adalah, kitab suci ini (Al-Qur’an) turun berupa wahyu kepada Nabi saw. Wahyu adalah bentuk percakapan ilahi (non-materi) yang tidak bisa dipahami melalui indera dan pikiran. Dengan kehendak Allah, wahyu hanya bisa dipahami melalui sebuah pemahaman dan perasaan khusus yang didapati oleh orang-orang tertentu. Melalui wahyu orang tersebut memperoleh perintah dan petunjuk gaib. Tanggung jawab demikian disebut nubuwat (kenabian). [32]

Menurut Allamah Thabathabai, umat Islam meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalam ilahi yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw melalui salah satu malaikat terdekat-Nya. Nama malaikat tersebut adalah Jibril/Ruh Amin as. Malaikat Jibril as menyampaikan pesan Allah swt kepada Nabi saw secara berangsur selama 23 tahun. Melalui wahyu, Nabi saw ditugaskan untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan kandungannya kepada manusia juga menyeru mereka untuk menjalankan apa-apa yang dijelaskan Al-Qur’an. [33]

Menurut Ramiyar, meski dari segi pejelasan terdapat banyak perbedaan pendapat, namun secara historis kebenaran wahyu yang diterima para nabi itu telah sampai pada tahap mutawatir. Para sahabat hingga para musuh nabi mengakuinya hal itu. [34]

Nuzul (Turunnya Al-Qur’an)

Nuzulul Qur’an adalah turunnya wahyu secara bertahab dari sumber wahyu (Allah swt) kepada penerima wahyu (Rasulullah saw) selama 23 tahun. Awal turunnya wahyu dimulai sejak lailatul Qadr (salah satu malam ganjil dari sepuluh malam terahir bulan Ramadhan pada tahun pertama kenabian) hingga beberapa saat mejelang wafat Rasulullah saw. Turunnya wahyu dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan “انزال” (inzal) dan “تنزیل” (tanzil). Surah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw adalah surah al-‘Alaq (iqra’). Sebagian berpendapat, semula surah tersebut hanya 5 ayat pertama yang diturunkan. Sebagian muhakkik berpendapat bahwa surat pertama kali yang turun secara utuh adalah fatihatul kitab (surah al-Fatihah). [35]

Surah yang terahir turun adalah surah al-Nashr. Sebagian ahli Al-Qur’an berpendapat bahwa Al-Qur’an pernah turun secara utuh pada lailatul qadr dari Lauh Mahfuzd ke Baitul ‘Izzah/baitul ma’mur yang ada di langit ke-tujuh dengan bentuk “جملة واحدة” (satu kalimat/secara sekaligus). Kemudian selama 23 tahun Al-Qur’an turun dengan bertahap secara rinci. [36]

Mulla Muhsin Faiz Kasyani mengatakan, maksud dua bentuk turunnya Al-Qur’an yaitu, pertama, turunnya makna Al-Qur’an kepada Nabi saw, kedua, selama 23 tahun secara berangsur malaikat Jibril as turun membawa wahyu dan membacakannya kepada Nabi saw sehingga Al-Qur’an yang telah ada di dalam diri Nabi saw terungkapkan melalui lisan beliau. [37]

Pengumpulan dan Penghimpunan Al-Qur’an

Maksud pengumpulan dan penghimpunan Al-Qur’an adalah proses pengumpulan wahyu yang turun secara berangsur selama 23 tahun, dimana tiap kali turun hanya 3 atau 5 ayat, akhirnya menjadi sebuah kitab seperti sekarang ini. [38] Proses pengumpulan Al-Qur’an sampai menjadi kitab dilakukan dalam beberapa masa, di antaranya:

Masa Nabi Muhammad saw

Pada zaman turunnya Al-Qur’an, yaitu di masa hidupnya Nabi saw, Al-Qur’an sudah tertulis namun masih dalam bentuk lembaran-lembaran dan belum tersusun. Dengan peralatan seadanya ayat-ayat Al-Qur’an ditulis di atas benda-benda seperti kulit binatang, tulang domba dan onta, dahan kurma, batu, kain sutra dan kertas. Yang sangat penting di masa itu adalah banyak sahabat Nabi yang mengahafal Al-Qur’an. Semua surah Al-Qur’an telah lengkap dan masing-masing mempunyai nama, namun hingga ahir hidup Nabi saw Al-Qur’an masih belum tersusun rapi berbentuk satu kitab. Faktor utama yang menyebabkan Nabi saw saat itu belum membukukan Al-Qur’an adalah dua hal:

Wahyu masih turun. Setiap kali ada ayat baru yang turun Nabi saw memerintahkan para penulis wahyu untuk menempatkannya di surah dan di sela-sela ayat tertentu.

Masih adanya kemungkinan naskh (pembatalan) sebagian hukum syari’at atau cara baca Al-Qur’an. [39]Oleh karenanya, sebelum seluruh wahyu selesai diturunkan maka Al-Qur’an tidak bisa dibukukan. Sebagian kalangan berpendapat, maksud pengumpulan Al-Qur’an di masa nabi adalah penghafalan Al-Qur’an. [40]Pendapat lain mengatakan, pengumpulan di masa itu adalah penulisan. [41] Selama turunnya wahyu, Nabi saw senantiasa memantau seluruh proses penulisan Al-Qur’an. Beliau mengajar dan menganjurkan para sahabatnya untuk menulis, membaca dan mengahafal Al-Qur’an. Di masa hidup Nabi saw ada 34 orang yang hafal seluruh Al-Qur’an. [42]

Jumlah penulis wahyu –diantaranya juga sekaligus sebagai hafiz Al-Qur’an- di zaman Nabi saw lebih dari 50 orang. [43]

Kesimpulannya, saat Nabi saw wafat (tahun 11 H) seluruh Al-Qur’an telah berhasil dikumpulkan dan ditulis. [44]

Mushaf Imam Ali as

Menurut Nabi saw, Imam Ali as adalah orang yang paling memahami Al-Qur’an. Setelah wafatnya Nabi saw, Imam Ali as mengumpulkan dan menyusun Al-Quran di rumahnya menjadi satu mushaf dengan berdasarkan urutan turunnya ayat. Tidak lebih enam bulan setelah wafat Rasulullah saw, Imam Ali as membawa mushaf tersebut menggunakan onta ke masyarakat namun penguasa pada waktu itu menolaknya. [45]

Masa Abu Bakar

Peristiwa Yamamah (pertempuran antara Khalifah Abu Bakar melawan Musailamah al-Kazzab yang mengaku nabi) mengakibatkan guncangan besar bagi tubuh Islam yang saat itu masih baru. Pada peristiwa tersebut banyak hafiz Al-Qur’an yang terbunuh, disebutkan sampai 70 hafiz. Atas saran Umar bin Khatab, Abu Bakar yang saat itu sebagai khalifah segera mengambil langkah guna mengumpulkan dan menghimpun Al-Qur’an supaya keberadaannya tetap terjaga. Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit -yang saat itu sebagai penulis wahyu termuda sekaligus hafiz dan memiliki mushaf husus- untuk melakukan tugas tersebut. [46]

Zaid pun mengumpulkan seluruh tulisan ayat Al-Qur’an yang tersebar. Meskipun ada puluhan hafiz dan salinan namun dia hanya menerima ayat-ayat yang disertai dua bukti, yaitu bukti tulisan dan hafalan. Al-Qur’an yang dihimpun Zaid masih berupa lembaran-lembaran, belum menjadi sebuah kitab. Setelah Al-Qur’an terkumpul kaum Muslimin menyimpannya di sebuah peti dan memerintahkan seseorang untuk menjaganya. Proses pengumpulan tersebut memakan waktu selama 16 bulan atau maksimal sampai meninggalnya Abu Bakar pada tahun 13 H. Abu Bakar menitipkan Al-Qur’an tersebut kepada Umar. Kemudin Umar menitipkannya kepada putrinya yang bernama Hafshah –istri Nabi saw-.[47]

Masa Utsman

Utsman bin Affan menjadi khalifah pada tahun 24 H. Karena wilayah Islam mengalami perluasan, sebagian Al-Qur’an dikirim ke wilayah-wilayah tersebut. Pada masa kekhalifahan Utsman timbul problema dan perselisihan bacaan Al-Qur’an. Hal demikian sangat berbahaya, karena itu ia segera meneruskan tugas pengumpulan Al-Qur’an yang sempat tertunda guna menyelamatkan Al-Qur’an dan umat Islam. Utsman membentuk sebuah tim yang dimotori oleh Zaid bin Zabit, Sa’id bin ‘ash, Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Harits. Bersama 12 orang dari suku Qurays dan kaum Anshar (termasuk Imam Ali as yang bertugas memantau pekerjaan mereka) [48]mereka ditugaskan untuk menyalin transkripsi Al-Qur’an.

Pertama-tama mereka mengumpulkan Al-Qur’an yang ditulis di zaman Nabi saw kemudian meminta dari Hafshah salinan yang pernah ditulis Zaid di masa Abu Bakar. Setiap kali tiga orang yang membantu Zaid mendapati ada perbedaan tulisan, mereka harus menyesuaikannya dengan aksen Qurays. Berbekal lembaran-lembaran peninggalan Nabi saw dan salinan-salinan yang telah ada, di antaranya milik Zaid dan yang disimpan Hafshah, juga didukung hafalan para hafiz dan kesaksian para saksi, ahirnya selama kurang lebih lima tahun (24 – sebelum 30 H) mereka berhasil menyelesaikan tugas. Al-Qur’an yang terkumpul tersebut dinamakan “Mushaf Imam” yang berarti mushaf resmi dan teladan. Ahirnya Mushaf Imam dikenal dengan sebutan Mushaf Utsmani. Mushaf tersebut disalin menjadi 5 atau 6 salinan. 2 mushaf disimpan di Mekah dan Madinah, sedangkan lainnya dikirim ke pusat-pusat Islam, yaitu Basrah, Kufah, Syam dan Bahrain. Setiap mushaf yang dikirim disertai seorang hafiz Al-Qur’an yang bertugas sebagai pengajar dan pembimbing bacaan yang benar.

Setelah al-Quran tersusun menjadi Mushaf, Utsman memerintahkan kaum Muslimin untuk merebus dengan air dan cuka hingga pudar semua catatan ayat Al-Qur’an yang tertulis pada tulang, kulit, batu, kain sutra dan semisalnya. Sebagian peneliti mengatakan, mereka membakar barang-barang tersebut untuk menghilangkan akar perselisihan dan mempermudah terwujudnya “Tauhid Nash” (kesatuan nas), yaitu nas Mushaf Imam/Mushaf Utsmani. [49]

Dahulu Mushaf Utsmani ditulis menggunakan khat Kufi kuno yang tidak memiliki titik dan harakat. Setelah satu/dua abad kemudian, penulisan Al-Qur’an baru disertai titik dan harakat. [50]

Bacaan Al-Qur’an dan Para Qari’ Besar

Ada beberapa perbedaan bacaan Al-Qur’an. Pada masa Nabi saw, bahkan di hadapan beliau pun, kadang terjadi perselisihan pengucapan bacaan ayat Al-Qur’an. Kadang Nabi saw membenarkan salah satunya, kadang dua-duanya. Contoh dari hal tersebut adalah adanya hadits sab’ah ahruf (tujuh jenis qira’at/bacaan Al-Qur’an yang diakui). Selama tidak merusak dan merubah maksud dan makna Al-Qur’an Nabi saw tidak mempermasalahkannya. Hal itu bertujuan untuk mempermudah pengucapan bacaan Al-Qur’an.

Sebab-sebab Timbulnya Perbedaan Bacaan Al-Qur’an

  1. Perbedaan aksen bahasa. Seperti yang diucapkan Bani Tamim, ketika mengucapkan “حتی حین” (hatta hina) mereka ucapkan “عتّی عین” (‘atta ‘in).
  2. Belum adanya kaidah i’rab (perubahan bacaaan di setiap akhir kata) di huruf Arab dan Mushaf Imam. Hal itu berlanjut hingga masa Abu Aswad al-Du’aly. Dengan bimbingan Imam Ali as, ia memberikan i’rab pada Al-Qur’an, namun selama dua atau tiga abad setelahnya hal itu baru bisa disempurnakan.
  3. Tidak adanya titik dan harakat/baris pada huruf. Untuk memudahkan baca Al-Qur’an, Hajjaj bin Yusuf memberikan harakat di dalam bacaan Al-Qur’an. Penyempurnaan hal itu juga berlanjut sampai ahir abad ketiga.
  4. Ijtihad pribadi para sahabat, qari’ dan para ilmuwan Qur’an pada nahwu, arti dan tafsir Al-Qur’an.
  5. Jauh dari tempat munculnya Islam, yaitu Mekah dan Madinah.
  6. Tidak adanya tanda baca, tanda waqaf (berhenti) dan tanda permulaan dan lainnya sebagaimana yang dibahas dalam ilmu tajwid sekarang ini.

Sejak akhir-akhir abad ke-2 dan awal-awal abad ke-3 H, penyusunan tentang bacaan Al-Qur’an mulai bangkit. Para ahli memilah-milah bacaan yang paling benar dari sekian jenis bacaan kemudian mencatatnya. Pertama kali yang mengerjakannnya adalah Harun bin Musa (201-291 H) dan Abu Ubaid Qasim bin Salam (157-224 H). Abu Ubaid Qasim bin Salam mendata 25 qari’ terpercaya dan mencatat bacaan mereka. Satu abad kemudian, pada tahun 322 H salah seorang ahli Al-Qur’an terkemuka bernama Abu Bakar bin Mujahid (245-326 H), menyaring sekian banyak qari’ menjadi tujuh qari’ (qurra’ sab’ah). Sejak itu, tujuh qari’ tersebut dikenal sebagai rujukan utama dalam bacaan Al-Qur’an/imam qira’at.

Setelah beberapa lama kemudian, selain para qari’ tersebut ada tiga qari’ besar lainnya sehingga menjadi qurra’ ‘asyrah (10 qari’). Di samping qurra’ ‘asyrah, dalam sejarah juga dikenal ada 14 qari’ dan 20 qari’. Namun qurra’ ‘asyrah adalah sepuluh qari’ yang sanad bacaan mereka secara berurutan melalui jalur tabiut tabiin, tabiin, sahabat –baik penulis wahyu maupun hafiz- sampai pada Rasulullah saw. [51]

Imam-imam Qira’at Sab’ah dan Qira’at ‘asyara

Banyak pihak yang mengutip tentang tujuh imam qira’at sab’ah. Di samping para qari’ tersebut juga ada para perawi yang meriwayatkan bacaan mereka.

Nama-nama imam qira’at sab’ah dan empat belas perawinya

  • Abdullah bin ‘Amir al-Damsyiqi (w. 118 H)
  1. Perawi pertama: Hisyam bin Ammar
  2. Perawi kedua: Ibnu Dzakwan
  • Abdullah bin Katsir Makki ( (45-120 H)
  1. Perawi pertama: Al-Bazi (250 H))
  2. Perawi kedua: Muhammad Qunbul
  • ‘Ashim bin Abi al-Nujud (w. 128 H)
  1. Perawi: Hafs bin Sulaiman (w. 180 H)
  2. Perawi kedua: Syu’bah bin Iyash ((w. 194 H)
  • Zabban bin al-‘Ala Abu ‘Amr al-Bashri (w. 154 H)
  1. Perawi pertama: Hafs bin ‘Amr al-Dauri: (w. 246 H)
  2. Perawi kedua: Abu Syu’aib Shalih bin Ziyad al-Susi (w. 261 H)
  • Hamzah bin Habib al-Kufi (w. 156-80 H)
  1. Perawi pertama: Khallad bin Khalid al-Kufi, Abu Isa al-Syaibani (w. 142-220 H)
  2. Perawi kedua: Khalaf bin Hisyam (w. 150-220 H)
  • Nafi’ bin Abdurrahman Madani (w. 169-70 H)
  1. Perawi pertama: Warash Utsman bin Sa’id al-Mishri (w. 110-197 H
  2. Perawi kedua: Qalun Isa bin Mina (w. 120-220 H)
  • Kisai, Ali bin Hamzah (w. 189 H)
  1. Perawi pertama: Laits bin Khalid (w. 240 H)
  2. Perawi kedua: Hafash bin ‘Umar al-Duri (perawi Zabban bin al-‘Ala)

Tiga Imam Lainnya

  • Khalaf bin Hisyam (w. 150-229 H)
  1. Perawi pertama: Ishaq (Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim al-Bagdadi – w. 286 H))
  2. Perawi kedua: Idris, Abu Hasan Abdul Karim
  • Ya’qub bin Ishaq (w. 117-205 H)
  1. Perawi pertama: Ruwais, Muhammad bin al-Mutawakkil (w. 234 H)
  2. Perawi kedua: Ruh, Abu Hasan Ruh bin Abdul Mukmin al-Hudzali (w. 234 H)
  • Abu Ja’far Yazid bin al-Qa’qa’ (w. 130 H)
  1. Perawi pertama: Isa, Abu al-Harits Isa bin Wardan al-Madani (w. 160 H)
  2. Perawi kedua: Ibnu jammaz, Sulaiman bin Muslim

Berkenaan dengan kehujjahan tujuh dan sepuluh qira’at masih menjadi pembahasan para ilmuwan Qur’an dan ahli ushul Syi’ah. [52]

Makkiyah dan Madaniyyah (و مدنية مكية)

Tiga kaidah yang digunakan para ahli Qur’an baik Ahlusunnah maupun Syi’ah dalam membedakan antara surah dan ayat Makkiyah dan Madaniyyah adalah sebagai berikut:

  1. Kaidah makaniyah (berdasarkan tempat), yaitu ayat dan surah yang turun di Mekah atau yang menyangkut Mekah disebut Makkiyah. Sedangkan ayat dan surah yang turun di Madinah atau yang menyangkut Madinah disebut Madaniyyah.
  2. Kaidah orang yang dituju, yaitu ayat atau surah yang ditujukan kepada warga Mekah disebut Makkiyah (pada umumnya menggunakan kalimat یا ایها الناس atau یا بنی آدم). Sedangkan ayat dan surah yang ditujukan kepada warga Madinah disebut Madaniyyah (pda umumnya menggunakan kalimat یا ایها الذین آمنوا ).
  3. Kaidah zamaniyah (berdasarkan waktu), yaitu ayat atau surah yang turun sebelum hijrah Nabi saw disebut Makkiyah. Sedangkan ayat dan surah yang turun setelah hijrah Nabi saw disebut Madaniyyah, baik itu turunnya di Mekah maupun di Madinah atau dalam perjalanan dan peperangan. Para ahli Qur’an menilai kaidah ini sebagai kaidah yang lebih tepat dibanding lainnya. [53]

Nasakh, Nasikh dan Mansukh (‎نسخ، ناسخ و منسوخ)

Nasakh secara leksikal bermakna “membatalkan atau menghilangkan” dan secara tekhnikal Ulumul Qur’an, nasakh berarti mengangkat atau mengganti hukum syar’i yang lama dengan hukum syar’i yang baru. [54]atau mengganti hukum syar’i menggunakan dalil syar’i. [55]atau berakhirnya (cara) ibadah umat Islam dengan ketentuan yang bersumber dari suatu ayat atau hukum syar’i. [56] Tentang Nasakh, Al-Qur’an menyatakan:

  • “Setiap Kami menghapus suatu ayat (baca: hukum) atau melupakan (manusia) kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya”. [57]
  • “Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya, padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja.’ Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui”. [58]
  • “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh)”. [59]

Menurut ahli Qur’an Ahlusunnah maupun Syi’ah, nasakh bisa terjadi dalam Al-Qur’an dan hadits. [60]

asbabun Nuzul (اسباب النزول)

Ayat Al-Qur’an mempunyai dua macam. Pertama, ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi saw atas kehendak Allah swt tanpa sebab khusus. Sebagian besar ayat Al-Qur’an termasuk jenis yang pertama. Kedua, ayat-ayat yang turun karena suatu kejadian atau untuk menjawab pertanyaan. asbabun nuzul adalah kejadian atau pertanyaan yang ada di masa Nabi saw yang kemudian menjadi sebab turunnya ayat tertentu. Banyak sekali ayat seperti “یسئلونك” (mereka bertanya kepadamu) atau “یستفتونك” (mereka meminta fatwa darimu) yang ditujukan kepada Nabi saw untuk menanyakan seputar hukum atau hikmah ilahi. [61]

Muhkam dan Mutasyabih (محکم و متشابه)

Muhkam berarti kuat. Sedangkan maksud ayat atau kalimat muhkamah adalah ayat atau kalimat yang maknanya jelas dan tidak mengandung banyak makna. Menurut Raghib Isfahani, ayat Muhkamah adalah ayat yang lafaz dan maknanya tidak menimbulkan keraguan. Mutasyabih berarti mempunyai kesamaan. Menurut Raghib Isfahani, ayat atau kalimat mutasyabihah adalah yang bentuk zahirnya tidak menjelaskan kandungannya.

Menurut Syaikh Thusi, Muhkam adalah yang bisa dipahami tanpa menggunakan konteks dan dalil lain. Bahkan karena sudah jelas, hanya dengan melihat zahirnya saja maka kita bisa memahaminya. Mutasyabih adalah yang tidak tidak bisa dipahami maksudnya hanya dengan melihat zahirnya, diperlukan konteks luar untuk memahaminya. [62]

Definisi lainnya, mutasyabih adalah lafaz yang memiliki bermacam-macam makna sehingga bisa menimbulkan keraguan. Karena itu, lafaz mutasyabih butuh pada penjelasan. Penjelasan sendiri bisa bersifat benar atau salah. Contoh ayat mutasyabih adalah ayat Khalq (ayat penciptaan manusia dan langit, takdir, sifat dan perbuatan Allah swt). [63] Kebanyakan ayat Al-Qur’an bersifat muhkam, hanya sebagian kecil yang bersifat mutasyabih (sekitar 200 ayat). [64]

Sebagian mutakallim menyangkal adanya ayat mutasyabihah di dalam Al-Qur’an. Dalil mereka adalah ayat Al-Qur’an, seperti:

هذا بَيانٌ لِلنَّاسِ

"(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia".[65]

كِتابٌ أُحْكِمَتْ آياتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكيمٍ خَبيرٍ

"(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu"[66]

Sebagian mutakallim lainnya berpendapat kebalikannya, mereka meyakini bahwa seluruh ayat Al-Qur’an itu bersifat mutasyabihah, dalil mereka juga ayat Al-Qur’an, seperti:

اللَّـهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِیثِ کتَابًا مُّتَشَابِهًا

"Allah telah menurunkan firman yang paling baik, (yaitu) sebuah kitab (Al-Qur’an) yang serupa (mutu dan kandungan ayat-ayatnya)".[67]

Kelompok Akhbariyyun kurang lebih juga berpendapat bahwa, seluruh ayat Al-Qur’an itu mutasyabihah. Untuk bisa memahami Al-Qur’an itu hanya dengan perantara hadits para makshum as.[65] Sedangkan Al-Qur’an sendiri dengan jelas menyatakan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat, hal itu diterangkan di dalam surah Ali ‘Imran ayat 7:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِوَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

"Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamât, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihât. Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihât untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, "Kami beriman kepada (semua isi) al-Kitab itu, semuanya itu berasal dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal".

Galery Foto

Catatan Kaki

  1. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1630-1631.
  2. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1632.
  3. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1630-1631.
  4. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  5. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  6. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  7. Qs. Al-Furqaan ayat 1.
  8. Qs. al-Anbiyah: 50.
  9. Qs. asy-Syuaraa: 192.
  10. Qs. Al-Baqarah: 2, Al-Hijr: 1.
  11. Qs. At-Taubah: 6, Al-Fath: 15.
  12. Qs. Qaaf: 2, al-Buruuj: 21.
  13. Qs. Al-Hijr: 78.
  14. Qs. Yasin: 2.
  15. Qs. Al-Waqiah: 77.
  16. Qs. Al-Hijr: 1.
  17. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  18. Farhang Amāri Kalimāt Qur’an Karim, Dr. Mahmud Ruhani, jld. 1/23, dinukil Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  19. Tārikh Qur’an, Ramiyar, 543, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  20. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631.
  21. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1631-1632.
  22. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1632.
  23. Qs. Al-Baqarah: 106, 202, An-Nahl: 101, Ali Imran: 7, Yusuf: 1, An-Nur: 1.
  24. Tārikh Qur’an, Ramiyar, 570, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1632.
  25. Diantaranya Qs. Al-Baqarah: 23, At-Taubah: 64, 86, An-Nur: 1.
  26. Qs. Hud: 13.
  27. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1632.
  28. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1632-1633.
  29. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1633.
  30. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1633.
  31. Qur’an dar Islam, hlm. 76.
  32. Qur’an dar Islam hlm. 64.
  33. Tārikh Qur’an, hlm. 133.
  34. Al-Tamhid, jld. 1/93-98.
  35. Bihār al-Anwār, jld. 18. hlm. 253-254.
  36. Muqaddimah 9 dari Tafsir Shāfi, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1634.
  37. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1634.
  38. Terj. Itqān, jld. 1, hlm. 200.
  39. Tārikh Qur’an, Ramyar, hlm. 211.
  40. Tārikh Qur’an, Ramyar, hlm. 213.
  41. Tārikh Qur’an, Ramyar, hlm. 255.
  42. Tārikh Qur’an, Ramyar, hlm. 280.
  43. Tārikh Qur’an, Ramyar, hlm. 281.
  44. Thabathabai, Qur’an dar Islam, hlm. 113; Suyuthi, al-Itqān, jld. 1, hlm. 161.
  45. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1634.
  46. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1635.
  47. Tārikh Qur’an. Ramyar, hlm. 423 dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1635.
  48. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1635.
  49. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1636.
  50. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1636-1337.
  51. Terj. al-Itqān, jld. 1, hlm. 46-47; Manāhil al-‘Irfān, jld. 1, hlm. 186-187; Tārikh Qur’an, Ramyat, hlm. 601-603, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  52. Al-Tamhid, jld. 2, hlm. 270, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  53. Manāhil al-‘Irfān, jld. 2, hlm. 72; dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  54. Tafsir Baidhāwi, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  55. Qs. Al-Baqarah: 106.
  56. Qs. An-Nahl: 101.
  57. Qs. Ar-Ra’d: 39.
  58. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  59. Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637.
  60. At-Tibyan, Dzil Tafsir ayat 7 Surah Ali-Imran, dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1637-1638.
  61. Al-Tamhid, jld. 3, hlm. 7; dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1638.
  62. Al-Tamhid, jld. 3, hlm. 14; dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1638.
  63. Al-Tamhid, jld. 3, hlm. 15; dinukil oleh Khuramsyahi, Dāneshnameh Qur’an wa Qur’an Pesyuhi, jld. 2, hlm. 1638.
  64. Qs. Fushshilat: 26.
  65. Qs. Ali 'Imran:138
  66. Q.S. Hud: 1
  67. Q.S. Al-Zumar: 23

saw