tanpa prioritas, kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Ahmad

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Ahmad (bahasa Arab: أحمد) adalah nama paling menonjol diantara nama-nama Nabi Islam saw yang disebutkan juga di dalam Alquran. Kata "Ahmad" digunakan sekali di dalam Alquran untuk menamai Nabi Islam saw, yaitu ketika Nabi Isa as memberi kabar gembira akan datangnya seorang nabi pada periode-periode berikutnya.

Leksikologi

Dilihat dari tata bahasa Arab, dengan bersandar pada kesimpulan yang umum bahwa kata "Ahmad" merupakan bentuk Af'al Tafdhil derivasi dari akar kata "Hamd", maka konsep sifat Tafdhil (pengutamaan,pengunggulan) dari kata "Mahmud" yang berarti "lebih terpuji/paling terpuji" atau kata "Hamid" yang berarti "lebih pemuji/paling pemuji" adalah muncul darinya. Dilihat dari sisi kaidah pembuatan Af'al Tafdhil dalam ilmu Sharaf, terkhusus menurut pandangan mazhab Basrah, maka kemungkinan kedua lebih kuat daripada kemungkinan pertama. Akan tetapi bagi ulama yang menjauh dari kaidah sharaf, yang menyoroti masalah ini, maka kemungkinan pertama lebih bisa diterima. [1]Sebagian ulama terdahulu yang tidak berdasar pada kaidah tatabahasa melainkan bersandar pada teks-teks riwayat seperti hadis nabi yang mengatakan, "Pada hari kiamat dibukakan/dilebarkan pujian-pujian untuk Nabi saw, dimana pujian tersebut tidak pernah dibukakan kepada seseorang sebelumnya, dan beliau dengan pujian-pujian itu memuji Tuhannya" mengedapankan pahaman 'paling pemuji' atas 'paling terpuji'. [2]

Ahmad di dalam Alquran, Riwayat dan Sastra Arab

Kata "Ahmad" dimuat sekali di dalam Alquran untuk menamakan Nabi Islam saw [3], yaitu ketika Nabi Isa as memberikan kabar gembira akan datangannya seorang nabi pada periode-periode setelahnya.

Perlu dicatat bahwa tulisan-tulisan di atas batu-batu yang ditemukan di gunung Shafa yang terletak di bagian utara jazirah Arabia terlihat pula nama-nama yang mirip dengan Ahmad, yang menurut para peneliti merupakan bentuk singkatan dari nama-nama yang dikombinasi dengan nama Allah.

Ibnu Qayim al-Jauzi menyatakan bahwa semua nama-nama Nabi saw bukanlah 'alam-'alam[Note 1] murni sekedar hanya untuk mengenal orang yang dinamai, akan tetapi merupakan bentuk-bentuk sifat dan nama-nama derivatif yang melazimkan pujian dan kesempurnaan kepada orang yang dinamai. [4]Meskipun contoh gamblang dari pandangan semacan ini tidak ditemukan pada tulisan-tulisan klasik, namun secara praktis terdapat juga pandangan serupa di kalangan kaum muslimin pada masa-masa terdahulu.

Terkait ke-'alaman nama Ahmad mesti dikatakan bahwa setiap kali penulis mencoba menulis nama lain selain nama Muhammad untuk Nabi Islam saw, nama Ahmad senantiasa disebutkan terlebih dahulu. Teks riwayat yang paling terkenal mengenai hal ini adalah hadis Jubair bin Muth'im yang dikutip dari Nabi saw yang berbicara tentang lima nama dari nama-nama Nabi saw, yang mana nama Muhammad dan Ahmad lebih banyak disebutkan. Penelitian terhadap sanad-sanad riwayat menunjukkan bahwa periwayatan hadis ini lebih dikenal melalui jalan Zuhri dari Muhammad bin Jubair dari Jubair bin Muth'im. [5] Namun, ada kandungan mirip dengan kandungan di atas dengan perbedaan tipis, telah diriwayatkan melalui jalan Jakfar bin Abi Wahsyiah dan Atabah bin Muslim dari Nafi', putra lain dari Jubair bin Muth'im, dari ayahnya.[6]

Hadis di atas juga diriwayatkan dengan silsilah sanad A'masy dan Mas'udi dari Amr bin Murrah dari Abu Ubaidah dari Abu Musa Asy'ari dari Nabi saw [7] dan dengan silsilah sanad Hammad bin Salamah dari Ashim dari Zar bin Hubaisy dari Hudzaifah, atau silsilah sanad Abu Bakar bin Ayasy dari Ashim dari Abu Wail dari Hudzaifah dari Nabi saw.[8] Berdasarkan pada sanad-sanad di atas dapat disimpulkan bahwa konten hadis tersebut telah dibicarakan oleh beberapa sahabat semenjak paruh pertama abad ke-1 H, namun pada generasi-generasi awal abad ke-2 H, penukilan hadis tersebut yang tadinya dari person ke person lain menjadi lebih meluas dan melebar.

Berdasar pada apa yang telah disebutkan di atas tampaknya harus diterima bahwa asumsi adanya nama untuk Nabi saw lebih dari satu nama terkhusus nama Ahmad, sudah ada sejak pertengahan abad ke-1 H. Hal ini tidak jauh dari harapan dan dapat dicerna secara utuh ketika melihat makna lahiriah kalimat Alquran: إسمه أحمد; namanya Ahmad.

Beredarnya Nama Ahmad di Kalangan Arab Sebelum Islam

Di antara sebagian ulama abad-abad pertengahan Islam ada keyakinan bahwa tak satu pun sebelum Nabi Islam saw diberi nama Ahmad. Hal ini menunjukkan adanya hikmah Allah supaya seseorang tidak keliru dengan Ahmad yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa as sebagai berita gembira.[9] Namun, ada beberapa contoh penyebaran nama Ahmad ini di kalangan Arab sebelum Islam. Contoh-contoh ini -yang periwayatannya dilihat dari sisi keabsahan dan ketelitian pencatatanya harus dikategorikan kepada beberapa tingkat- antara lain adalah: Abu Amr Ahmad bin Hafsh bin Mughirah Makhzumi, Ahmad bin Ghajyan, Ahmad bin Tsumamah Thai, Ahmad bin Dauman dan Ahmad bin Zaid [10], demikian juga terdapat suku-suku dengan nama Banu Ahmad di kalangan kabilah-kabilah Hamedan, Thai' dan selainnya [11] dan kunyah berkenaan dengan Abu Ahmad Abd bin Jahsy. [12]

Dengan adanya latar belakang ini dan penggunaan Ahmad sebagai nama Nabi saw, sampai akhir dekade abad ke-1 H, nama Ahmad tidak menyebar sebagaimana menyebarnya nama-nama serumpunnya, yaitu Muhammad, Mahmud dan Hamid. [13]

Pemberian Nama dengan Nama Ahmad dalam Sejarah Islam

Contoh penamaan dengan Ahmad pada paruh pertama abad ke-1 H yang dilaporkan oleh Waqidi sangat diragukan. Berdasarkan riwayat ini, anak keempat dari Jakfar bin Abi Thalib dari Asma binti Umais bernama Ahmad. [14] sementara sebagian besar sumber hanya mengisyartakan kepada 3 anak dari anak mereka berdua dengan nama Abdullah, Aun dan Muhammad. [15] Jumlah anak yang lahir dari pernikahan ini mencapai 8 orang tapi diantara mereka tidak ada yang bernama Ahmad.

Dalam kelahiran-kelahiran Islam, Ahmad bin Amr bin Tamim, ayah Khalil sastrawan tersohor mazhab Basrah (L 170 H/786 M), adalah orang pertama yang bernama Ahmad. Mengingat bahwa Khalil meninggal pada usia 74 tahun [16] dan kelahirannya atas dasar ini sekitar tahur 96 H/715 M, maka penamaan ayahnya dapat diprediksikan terjadi pada kuartal ketiga abad ke-1 H. Seorang bernama Ahmad ibnu Hamuwaih yang dianggap sebagai sahabat Imam Ali bin Husain as[17], jika percaya pada laporan itu, juga harus dijadikan contoh lain selain Ahmad ayah Khalil. Dan tak lama setelahnya bisa diangkat pula seseorang bernama Ahmad bin Muhammad Hadrami yang dianggap sebagai salah satu sahabat Imam Baqir as (L. 114 H/732 M). [18]

Penekanan pada sosok ayah Khalil sebagai orang pertama pada era Islam yang diberi nama Ahmad, terlihat dalam sumber-sumber klasik Islam, [19] dan dalam kasus ini terkadang terlihat pula klaim kesepakan pendapat. [20] Catatan-catatan ini menegaskan satu poin historis bahwa pada zaman-zaman kuno sekalipun, para penulis Islam tidak menemukan bukti bahwa pada paruh pertama abad ke-1 H orang-orang yang terlahir muslim diberi nama Ahmad.

Dengan mempertimbangkan keterlambatan menyebarnya penamaan dengan Ahmad di kalangan muslimin dan beberapa argumen lain, sejumlah peneliti kontemporer berasumsi bahwa kata "Ahmad" di dalam Alquran seharusnya tidak dianggap sebagai 'Alam tetapi harus dianggap sebagai sifat. Penyimpulan ke-'alaman dari kata ini bermula ketika Nabi saw disamakan dengan Farqalith (Parakletos) yang dijanjikan dalam Injil. [21]

Penggunaan kata Ahmad untuk Nabi saw di dalam Alquran sekalipun hanya sekedar sifat, demikian juga sejarah nama ini di kalangan orang Arab, bisa dijadikan motivasi yang memadai untuk penamaan dengan Ahmad di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, jika sejarah sejenak menunjukkan penamaan dengan Ahmad di kalangan Arab -persis pada masa perpindahan ajaran kuno ke Islam-, maka sebabnya mesti dicari pada asumsi-asumsi awal Islam. Tanpa melihat laporan khusus, adalah mungkin untuk mengatakan bahwa kaum muslimin pada awal Islam sebagaimana telah menghindar dari menggunakan kunyah Abul Qasim, kunyah Nabi saw [22] atau sekurang-kurangnya dari menggabungkan nama Muhammad dan kunyah Abul Qasim, [23] mereka juga menghindar dari menamai anak-anak mereka dengan Ahmad. Pemusnahan penghindaran ini dan penyebaran nama Ahmad bahkan dimunculkannya kesunnahan nama ini [24] tidak lebih aneh dari pada penghindaran dari penggabungan antara nama dan kunyah Muhammad dengan Abul Qasim pada masa sahabat yang kadang-kadang dihancurkan.[25]

Berkenaan dengan ke-'alaman nama Ahmad untuk Nabi saw harus dipelajari dari beberapa riwayat yang berbicara soal penamaan Nabi saw oleh salah satu pembesar keluarga Nabi. Berdasarkan sebuah riwayat dari Imam Baqir as dijelaskan bahwa pada masa kehamilan, Aminah ibunda Nabi saw mendapat seruan agar supaya anaknya diberi nama Ahmad.[26] Begitu juga dalam riwayat Syiah dimuat bahwa nama Ahmad diberikan oleh Abu Thalib, paman Nabi saw, kepada beliau pada hari kesembilan dari kelahirannya. Abu Thalib memberi nama Ahmad kepada beliau karena penduduk langit dan bumi memujinya.[27]

Alhasil, dari pembandingan antara dua nama Ahmad dan Muhammad dilihat dari sisi zaman, sebagian penulis sejarah meyakini bahwa penamaan Nabi saw dengan Ahmad lebih dahulu daripada penamaannya dengan Muhammad, dan dengan mengaitkan nama Ahmad dengan masalah pemberian kabar gembira, mereka mengembalikan penamaan Nabi saw dengan Ahmad kepada masa Masih as.[28] Namun kelompok lain meyakini bahwa penamaan beliau dengan Ahmad dilihat dari sisi zaman adalah terbatas diantara penamaannya dengan Muhammad di Taurat dan penamaannya dengan Muhammad pada masa kehidupannya.[29]

Dengan mngabaikan pandangan historis dan kembali kepada masalah relatifitas ke-'alaman nama-nama Nabi saw di sisi muslimin serta tidak dilupakannya makna sifat dalam nama-nama ini, maka perlu diketahui bahwa terkadang riwayat-riwayat Islam ketika membandingkan dua nama Ahmad dan Muhammad menekankan makna pengutamaan (tafdhil) dari kata Ahmad. Berdasarkan satu riwayat dari Nabi saw, beliau dinamai Muhammad karena di bumi dipuji, dan dinamai Ahmad karena dilangit lebih dipuji.[30]

Bentuk lain dari makna pengutamaan (tafdhil) yang terkandung dalam nama Ahmad disinggung dalam sebuah hadis dari Nabi saw yang diriwayatkan Ali as dan Ubai bin Ka'ab, dimana pada no.5 disebutkan tentang kelebih utamaan Nabi dibanding nabi-nabi sebelumnya karena bernama Ahmad.[31] Ada riwayat-riwayat lain yang serupa telah dinukil melalui jalan Ibnu Abbas, Jabir dan Abu Hurairah, yang di dalamnya telah diganti penamaan dengan Ahmad dengan kalimat lain.[32] Terkadang nama Ahmad dan Muhammad hanya dipandang sebagai nama-nama asli Nabi saw. Sebagai contoh klasik adalah riwayat Ali as yang menjelaskan bahwa diantara para nabi ada 5 orang yang dipanggil dengan dua nama dan yang terakhir dari mereka adalah Nabi Islam saw yang mempunyai dua nama Muhammad dan Ahmad.[33]

Ahmad dalam Syair

Selain riwayat, harus disinggung pula teks-teks syair peninggalan para penyair dekade-dekade awal abad ke-1 H seperti Hassan bin Tsabit,[34] Ibnu Ziba'ri[35], Imru'ul Qais al-Kindi[36]dan Ka'ab bin Malik.[37] Di dalam teks-teks tersebut Nabi saw diberi nama Ahmad.[38]

Pemberian Kabar Gembira dengan Ahmad di dalam Kitab-kitab Suci dan Riwayat

Tema mengenai pemberian kabar gembira dengan Ahmad selain dinaskan dalam Alquran melalui lisan Nabi Isa as, kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran para nabi terdahulu juga menyinggungnya. Demikian pula masalah ini disoroti dalam banyak riwayat.

Di dalam Alquran

Satu-satunya contoh penggunaan Ahmad di dalam Alquran dikaitkan dengan masalah pemberian kabar gembira, yaitu ketika Nabi Isa Masih as memberikan kabar gembira akan datangannya seorang nabi: "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad ".[39]

Di dalam Riwayat

Kabar gembira tegas yang dibawa Alquran melalui lisan Nabi Isa as ini, sejak awal Islam, telah mendorong kaum muslimin untuk mencari sebuah indikasi dari Ahmad di dalam tulisan-tulisan Penjanjian Baru. Hal ini terkadang sampai pada batas dimana mereka berbicara singkat tentang penyebutan nama Ahmad untuk Nabi Islam di dalam Injil.

Contoh terpenting adalah sejumlah hadis yang dinukil dari lisan Nabi saw melalui jalan sahabat seperti Ibnu Abbas dan Jabir. Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, nama Nabi saw di dalam Alquran adalah "Muhammad", di Injil "Ahmad" dan di Taurat "Ahbad".[40]

Terkadang ada upaya pula untuk menunjukkan ibarat yang mengandung 'pemberian kabar gembira dengan Ahmad' dengan kalimat yang sama persis (tentu dengan bahasa Arab). Sebagai contoh, pada riwayat panjang terkait kisah mubahalah, ibarat dan ungkapan yang mengandung 'pemberian kabar gembira' dinukil oleh ulama kristen Najran dari Miftah (dalam sebagian versi, Misbah) Injil keempat (mungkin maksudnya adalah matan keempat Perjanjian Baru, Injil Yohanes).[41] Ada kemungkinan bahwa riwayat-riwayat ini memiliki ikatan dengan 'pemberian kabar gembiran dengan Farqalith (Parakletos)' di dalam Injil Yohanes. Apapun adanya, nas-nas yang dinukil di atas tidak selaras dengan nas-nas pemberian kabar gembira dengan Farqalith.

Demikian juga berdasarkan pada sebuah riwayat dari Muhammad bin Saad bin Mani' al-Hasyimi, pada abad ke-1 H ada seseorang yang baru masuk Islam bernama Sahal Murisi, budak yang dibebaskan oleh Utsaimah, yang dia sendiri seorang pembaca Injil, ia mengatakan bahwa di sisi pamannya menemukan satu mushaf (kitab suci) yang di dalamnya berbicara tentang Nabi Islam dan menyifatinya demikian: "Dia adalah dari keturunan Ismail dan namanya Ahmad".[42] Pemberian kabar gembira dalam riwayat ini bisa dikomparasikan dengan pemahaman Islami dari Kitab Kejadian (20:17) tentang 'pemebrian kabar gembira dengan Maadmaad', yaitu dengan penjelasan bahwa di konteks pembicaraan mengenai Ismail adalah putra Ibrahim yang disebutkan di dasar Ibrani Alkitab 1(Kitab Kejadian: 20:17) digunakan kata susunan "Ma'damad". Kata ini di dalam terjemahan Penjanjian Lama yang beredar diterjemahkan dengan "sangat banyak" atau padanannya dalam bahasa-bahasa lain.[43]

Sebagian ulama muslim meyakini bahwa "Ma'damaad" mengisyaratkan kepada Muhammad. Pada beberapa kitab-kitab langit terdahulu, kata "Madmad" yang terkadang ditulis dengan Mudmud, Midmid (dalam semua tempat ditulis dengan huruf د (Dāl) dan ذ (Dzāl)) dianggap sebagai nama-nama Nabi saw.[44] Boleh jadi ibarat yang dimaksud oleh Sahal Murisi adalah ibarat Kitab Kejadian ini bukan Injil, yaitu dengan menerjemahkan "Ma'damad" dengan Ahmad.

Di dalam Taurat

Pemberian kabar gembira yang terkenal di sisi muslimin abad ke-1 H tidak relevan dengan teks Perjanjian Lama yang dinukil di Taurat. Secara umum ibarat Arabnya dimulai dengan: «عبدی المختارلیس بفظ و لاغلیظ»; Hambaku yang terpilih tidaklah kasar dan keras. Hamba yang terpilih ini, yang menjadi kabar gembira, di sebagian riwayat dinamakan Ahmad.[45]

Di dalam Zabur Daud dan Kitab Yesaya

Dalam sebuah riwayat dari Wahab bin Muntabih dijelaskan bahwa pemberian kabar gembira dengan Nabi saw di dalam Zabur Nabi Daud[46] dan riwayat-riwayat lain dalam kitab Yesaya.[47]menggunakan kata Ahmad.

Di dalam Kitab Habakuk (Nabi Habakuk)

Harus dikenang pula 'pemberian kabar gembira dengan Ahmad' yang dinisbatkan kepada nabi Habakuk. Dalam sebuah matan yang diriwayatkan Naufali dari Imam Ridha as pada abad ke-3/9 H, sesuai penukilan Habauk dimuat demikian: "Allah membawa keterangan(tibyan) dari gunung Faran dan langit-langit dipenuhi dengan pujian Ahmad dan umatnya..."[48] Di dalam kitab Habakuk (3:3) dimuat: "Tuhan datang dari Taimun dan Kudus dari gunung Faran, keagungannya menyelimuti langit-langit, sementara bumi dipenuhi dengan pujiannya". Kata "keagungannya" dalam bahasa Ibraninya adalah "Huwu". Terkumpulnya riwayat-riwayat tentang pemberian kabar gembira dengan Ahmad pada tulisan-tulisan dan ajaran-ajaran Ahli kitab di dalam Thabaqat Ibnu Saad [49] menunjukkan pemerhatian khusus dan menyeluruh ulama muslim abad ke-2 dan boleh jadi abad ke-1 H untuk mencari sebuat indikasi atas pemeberian kabar gembira dengan Ahmad pada sumber-sumber agama orang-orang terdahulu.

Di dalam Injil Yohanes

Kabar gembira yang ada di dalam Injil Yohanes yang menyinggung tentang diutusnya "Farqalith" (Parakletos) pada satu era setelah Isa Masih terkadang dihubungkan dengan masalah pemberian kabar gembira dengan Ahmad. Kata "Farqalith" atau "Barqalith" diarabkan dari kata Yunani Paracletus yang artinya pendukung, wakil, penyafaat dan penyelamat, yang dalam kamus greja berarti penghibur.[50]

Pada beberapa abad, ulama Islam terkadang mengisyaratkan poin ini bahwa Parakletos pada nyatanya adalah bacaan yang dipelesetkan dari kata Pariklutos di Yunani, meskipun kalimat-kalimat mereka dari pemahaman ini kurang memiliki kepasihan bahasa.[51] Pariklutos dalam bahasa bermakna agung, terkenal dan mulia dan pada periode sebelum masehi sering kali digunakan. Dilihat dari sisi makna lesksikalnya, kata tersebut dapat dijadikan satu ungkapan dari nama nabi Islam Muhammad atau Ahmad.

Mawardi menegaskan bahwa Farqalith diambil dari satu akar kata yang bermakna Ahmad.[52] Terdapat beberapa pandangan klasik yang menafsikan "Fariq Litha" atau "Barqalith" dengan orang yang memisahkan kebenaran dari kebatilan.[53] Ibnu Qayyim menegaskan bahwa sebagian orang menyakini kesinkronan Farqalith dengan Ahmad yang disebutkan di dalam Alquran.[54]

Catatan Kaki

  1. Ibnu Qayim, Zād al-Ma'ād, jld.1, hlm.69 dst
  2. Qadhi Ayadh, al-Syifa', jld.1, hlm.312-313; Suhaili, al-Raudh al-Unf, jld.2, hlm.153; Mulla Ali Qari, Jam'u al-Syamāil, jld.2, hlm.181-182
  3. QS. Al-Shaf:6
  4. Ibnu Qayyim, Zād al-Ma'ād, jld.1, hlm.66
  5. Bukhari, Shahih, jlf.3, hlm.201; Muslim bin Hajjaj, Shahih, hlm.1828; Tirmidzi, Sunan, jld.5, hlm.135
  6. Ibnu Sa'ad, al-Thabaqāt al-Kabir, jld.1, hlm.65; Hakim Nisyaburi, Mustadrak al-Shahihain, jld.2, hlm.604; Baihaqi, Dalāil al-Nubuwah, jld.1, hlm.155
  7. Muslim, Shahih, hlm.1828-1829; Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld.4, hlm.395, 404, 407; Baihaqi, Dalāil al-Nubuwah, jld.1, hlm.156-157
  8. Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld.5, hlm.405; Tirmidzi, al-Samāil, hlm.211-212; Ibnu Saad, al-Thabaqāt al-Kubra, jld.1, hlm.65
  9. Qadhi Ayadh, al-Syifa, jld.1, hlm.313
  10. Hanya pada riwayat Abu Hasyim Makhzumi, lihat: Ibnu Atsir, Ali, Usd al-Ghabah, jld.1, hlm.22 dan 53; Ibnu Hajar, al-Ishabah, jld.4, hlm.139, Zarqani, Syarh al-Mawāhib al-Ladunniah, jld.3, hlm.158
  11. Zarqani, Syarh al-Mawāhib al-Ladunniah, jld.3, hlm.158
  12. Ibnu Sa'ad, Kitab al-Thabaqāt al-Kabir, jld.3, hlm.62; Ibnu Atsir, Ali, Usd al-Ghabah, jld.5, hlm.133; Montgomery Watt, hlm. 111 dst
  13. Untuk penyebaran nama ini dan perbandingannya, lihat Montgomery Watt, hlm.115-117
  14. Ibnu Hajar, al-Ishabah, jld.1, hlm.97
  15. Ibnu Saad, Kitab Thabaqāt al-Kabir, jld.4, hlm.22-23; Ibnu Atsir, Ali, Usd al-Ghabah, jld.5, hlm.395; Ibnu Anbah, Umdah al-Thalib, hlm.36
  16. Ibnu Nadim, al-Fihrist, hlm.48; Nawawi, Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, jld.1, hlm.178
  17. Thusi, Rijal, hlm.84
  18. Barqi, Rijal, hlm.10; Montgomery Watt, hlm.111
  19. Ibnu Nadim, al-Fihrist, hlm.48
  20. Ibnu Hajar, al-Ishabah, jld.1, hlm.97
  21. Montgomery Watt, hlm.113
  22. Bukhari, Shahih, jld.2, hlm.14; Muslim bin Hajaj,Shahih, hlm.1684-1682
  23. Abu Daud Sajistani, Sunan, jld.4, hlm.292; Tirmidzi, Sunan, jld.5, hlm.136-137; Kulaini, al-Kafi, jld.6, hlm.21
  24. Khulaini, al-Kafi, jld.6, hlm.19; Zarqani, Syarh al-Mawāhib al-Ladunniah, jld.5, hlm.301
  25. Ibnu Hajar, al-Ishabah, jld.3, hlm.509
  26. Ibnu Sa'ad, Kitab Thabaqāt al-Kabir, jld.1, hlm.61 dan 64; bandingkan dengan: Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, jld.1, hlm.145, yang mengganti Ahmad dengan Muhammad
  27. Kulaini, al-Kafi, jld.6, hlm.34
  28. Suhaili, al-Raudh al-Unf, jld.1, hlm.153
  29. Ibnu Qayyim, Jala' al-Afhām, hlm.98 dst
  30. Qummi, Tafsir, jld.2, hlm.365; Kulaini, al-Kafi, jld.6, hlm.34; Ibnu Babawaih, 'Ilal al-Syarāyi, jld.1, hlm.127-128 dan Ma'āni al-Akhbār, hlm. 51-52; al-Ikhtishash, dinisbatkan kepada Syaikh Mufid, hlm.34
  31. Ahmad bin Hanbal, Musnad, jld.1, hlm.98 dan jld.1, hlm.158; Suyuthi, al-Durr al-Mantsur, jld.6, jlm.214; Bukhari, Shahih, jld.1, hlm.70
  32. Muslim bin Hajjaj, Shahih, hlm.370-372; Ibnu Babawaih, al-Khishal, jld.1, hlm.292
  33. Ibnu Babawaih, Uyun Akhbār al-Ridha, jld.1, hlm.192; Baihaqi, Dalāil al-Nubuwah, jld.1, hlm.159, dinukil dari Khalil bin Ahmad
  34. Hassan bin Tsabit, Diwān Hassan, jld.1, hlm.270
  35. Ibnu Thaifur, Kitab Baghdad, hlm.53
  36. Ibnu Habib, al-Muhabbar, hlm.186
  37. Ibnu Habib, al-Muhabbar, hlm.272
  38. Konten ini juga dimuat dalam sebagian bait-bait syair yang dinisbatkan kepada Abdul Muththalib dan Abu Thalib, lihat: Suhaili, al-Raudh al-Unf, jld.2, hlm.157; Diwān Abi Thalib, riwayat Abu Haffan Mahzami, hlm. 12, 13, 19
  39. QS. Al-Shaf: 61
  40. Ibnu Babawaih, Ma'āni al-Akhbār, hlm.51; Suyuthi, al-Khashāish al-Kubra, jld.1, hlm.133
  41. Al-Ikhtishash, dinisbatkan kepada Syaikh Mufid, hlm.112-113; Ibnu Thawus, Saad al-Sa'ud, hlm. 91 dst, riwayat Abdurrazzaq; Ibnu Thawus, Iqbal al-A'mal, hlm.509, riwayat Abu al-Mufadhdhal san Ibnu Asynas
  42. Ibnu Saad, Kitab Thabaqāt al-Kabir, jld.1, hlm.64 dan 89
  43. Ibnu Qayyim, Jala' al-Afhām, hlm.99 dst; Ibnu Katsir, al-Fushul fi Sirah al-Rasul, hlm.113-114
  44. Ibnu Syahrasyub, Manāqib Al Abi Thalib, jld.1, hlm.152; Thabrisi, I'lam al-Wara, hlm.8; Ibnu Qayyim, Jala' al-Afhām, hlm.99 dst; Kaziruni, Nihayah al-Mas'ul, hlm.140; Ibnu Katsir, al-Fushul fi Sirah al-Rasul, hlm.113-114; Suyuthi, al-Khashāish al-Kubra, jld.1, hlm.133
  45. Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld.1, hlm.79-80; Ibnu Syubbah, Tarikh al-Madinah, jld.2, hlm.634-635. Untuk pemberian kabar gembira lain dengan Ahmad pada ucapan Musa as, silakan lihat: Suhaili, al-Raudh al-Unf, jld.2, hlm.153; Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld.1, hlm.7; Suyuthi, al-Khashāish al-Kubra, jld.1, hlm.133
  46. Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, jld.1, jlm.503
  47. Abu Hatim Razi, A'lam al-Nubuwah, hlm.197
  48. Ibnu Babawaih, 'Uyun Akhbar al-Ridha, jld.1, hlm.134; Rawandi, al-Kharāij wa al-Jarāih, jld.1, hlm.75; bandingkan dengan: Ibnu Ribn, al-Din wa al-Daulah, hlm.169; Abu Hatim Razi A'lam al-Nubuwah, hlm.197; Karajaki , Kanz al-Fawāid, hlm.91, dimana pada referensi-referensi terkahir yanh dinukil dari Danial terdapat nama Muhammad
  49. Ibnu Saad, Thabaqāt al-Kubra, jld.1, hlm.103-107
  50. Untuk sejarah penafsiran ini pada terjemahan-terjemahan Arab, silakan lihat: Ibnu Qayyim Jauziyah, Hidayah al-Hayara, hlm.84
  51. Montgomery Watt, hlm.113-114
  52. Mawardi, A'lam al-Nubuwah, hlm.212
  53. Qadhi Ayadh, al-Syifa, jld.1, hlm.321; Ibnu Atsir Mubarak, al-Nihayah, jld.3, hlm.439; Ibnu Qayyim Jauziyah, Hidayah al-Hayara, hlm.84
  54. Ibnu Qayyim, Hidayah al-Hayara, hlm.89-90; Fakhruddin Razi, al-Tafsir al-Kabir, jld.119, hlm.131-134
  1. 'Alam adalah isim yang menunjukkan makna untuk kata benda yang menunjuk kepada nama seseorang dan nama tempat