Prioritas: b, Kualitas: a

Perang Khandaq

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Perang Khandaq
Masa kejadian 10 Syawal tahun 5 Hijriah
Tempat kejadian Madinah
Akibat Kemenangan Muslimin
Alasan Perang Konspirasi Bani Nadhir
Pihak-pihak yang berperang
3 ribu pasukan Islam 10 ribu pasukan kafir Quraisy
Para Panglima
Dari kaum Muslimin Nabi Muhammad saw Dari kaum musyrikin Abu Sufyan
Para Korban
6 orang dari kaum muslimin Syahid 8 orang dari kaum musyrikin tewas


Perang Khandaq atau perang Ahzab (bahasa Arab:غزوة الخندق) termasuk diantara perang-perang Nabi saw yang terjadi pada tahun 5 Hijriah. Perang ini terjadi akibat konspirasi kabilah Bani Nadhir dimana kaum Quraisy dengan seluruh sekutunya bekerja sama dalam rangka menghancurkan Islam. Berdasarkan saran Salman, kaum muslimin menggali parit di sekitar kota Madinah untuk berhadap-hadapan dengan kaum musyrikin. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin dan kaum musyrikin berhasil dipukul mundur. Dalam perang ini, Imam Ali as berhasil membunuh jawara Quraisy Amr bin Abdiwud.

Nama Lain Perang Khandaq

Perang ini juga dikenal dengan perang Ahzab[1] , sebab kaum Quraisy bersama seluruh sekutunya dari kabilah-kabilah Arab yang kafir dan kaum yahudi bekerja sama dan bersatu dalam rangka menghancurkan Islam[2] .

Sejarah Terjadinya Perang Khandaq

Mayoritas sejarawan mencatat bahwa perang ini terjadi pada tahun kelima hijriah[3] . Dalam sebagian sumber disebutkan bahwa perang ini terjadi di bulan Syawal[4] sementara yang lainnya menyebutkan di bulan Dzulhijjah[5] . Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi saw pada hari Sabtu tanggal sepuluh Syawal berangkat ke perang ini dan berakhir pada hari Sabtu tanggal satu bulan Dzulhijjah[6].

Sebab Terjadinya Perang Khandaq

Ketika Nabi Muhammad saw mengeluarkan bani Nadhir dari kota mereka disebabkan pengkhianatan yang dilakukannya, mereka berangkat ke Khaibar dan memprovokasi kaum Yahudi untuk berperang dengan Nabi saw dan ini merupakan sebab asli dari terjadinya perang Khandaq. Setelah itu, kaum Yahudi dari bani Nadzir dan bani Wail seperti Huyai bin Akhthab Nadzari, Salam bin Abi al-Huqaiq Nahzari, Kananah bin Rabi’ bin Abi al-Huqaiq Nadhari, Haudzah bin Qais Waili dan Abu Ammar Waili[7] , berangkat ke kota Mekah dalam rangka mengajak Abu Sufyan dan kaum Quraisy untuk berperang dengan Nabi Muhammad saw. Abu Sufyan menerima usulan mereka untuk bersekutu dan bekerja sama dalam memusuhi dan memerangi Rasulullah saw, dimana kaum Yahudi dan kaum Quraisy pun bersatu[8] . Kemudian, orang-orang Yahudi tersebut berangkat ke kabilah Gathafan yang dipimpin oleh Uyainah bin Hishn Fazari dan dengan menjanjikan satu tahun kurma Khaibar, agar mereka mau ikut bersama memerangi Nabi saw[9]. Kemudian mereka pergi ke bani Sulaim bin Manshur dan meminta kerja samanya untuk ikut dalam peperangan ini[10].

Jumlah Kaum Muslimin dan Musyrikin

Jumlah kaum musyrikin dari seluruh kabilah (Ahzab) dalam peperangan ini mencapai 10.000 pasukan[11] dimana 4000 dari mereka dengan menunggangi 3000 kuda dan 1500 unta berasal dari kaum Quraisy dan para sekutunya[12] . Menurut sebagian sumber, jumlah mereka (kaum Quraisy, Ghathfan, Sulaim, Asad, Asyja’, Quraizhah, Nadzir dan kelompok-kelompok Yahudi lainnya) mencapai 24.000 orang[13] sementara jumlah kaum muslimin disebutkan hanya mencapai 3000 orang[14] .

Usulan Menggali Parit (Khandaq)

Ketika sekutu Rasulullah saw dari kabilah Khaza’ah memberikan kabar tentang keberangkatan kaum musyrikin, ia mengajak masyarakat untuk bermusyawarah tentang apakah harus tinggal di dalam kota ataukah harus keluar kota. Salman Al-Farisi berkata; kami di Iran jika merasakan adanya bahaya dari pasukan berkuda musuh, selalu menggali parit di sekitar kami. Sementara masyarakat Madinah dengan melihat pengalaman kekalahan dalam perang Uhud disebabkan oleh orang-orang yang menentang perintah Nabi saw, mereka mengusulkan untuk tinggal di Madinah dan menerima usulan Salman untuk menggali parit. Tradisi menggali parit zaman dahulu tidak begitu terbiasa di kalangan kaum Arab, sehingga membuat kaget kaum muslimin dan juga kaum musyrikin[15] .

Menggali Parit

Nabi saw memberikan perintah kepada masyarakat untuk menggali parit sampai ke belakang bukit Sal’a[16] dan penggalian dimulai dari Mudzad (benteng bagian barat masjid Fath) sampai akhir Dzubab dan bukit Ratij (di samping bukit Bani Ubaid di sebelah barat Buthhan) [17] . Dan setiap orang ditugaskan untuk menggali sepanjang 40 hasta[18] dan penggalian setiap bagian dari lokasi diserahkan kepada setiap kabilah[19] . Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa telah disepakati bahwa kaum Muhajirin menggali parit dari kawasan Ratij sampai Dzubab sementara kaum Anshar dimulai dari Dzubab sampai ke bukit Bani Ubaid[20] . Dalam rangka memberikan semangat bagi kaum muslimin dalam menggali parit, Rasulullah saw pun ikut serta dalam penggalian parit[21] . Untuk parit ini dibuatkan juga pintu-pintu dan dari setiap kabilah ditugas orang-orang untuk menjaga pintu tersebut[22] .

Dalam menggali parit, kaum muslimin banyak menggunakan alat-alat seperti linggis, martil dan cangkul yang mereka pinjam dari kaum yahudi bani Quraizhah yang merupakan sekutu Rasulullah saw pada zaman itu[23] . Allah swt menurunkan ayat-ayat tentang kaum muslimin yang tidak meninggalkan Nabi saw tanpa izinnya dan juga mengenai kaum munafik yang menunjukan kemalasan dalam kerjanya serta pulang ke keluarga mereka tanpa izin dari Nabi saw[24] .

Sewaktu penggalian parit, kaum muslimin menemukan sebuah bongkahan batu yang sangat besar yang kemudian Nabi saw melakukan tiga pukulan kepada batu tersebut sebagai pertanda akan terjadinya penaklukan yang akan dialami oleh kaum muslimin di masa yang akan datang di Syam, Yaman dan Iran[25] . Masa penggalian parit pun berlangsung dalam 6 hari dimana anak-anak kecil dan para pemuda juga turut ikut serta dalam penggalian parit tersebut[26].

Posisi Kaum Muslimin dan Kaum Musyrikin

Kelompok yang terdiri dari tiga pasukan yang dikomandani oleh Abu Sufyan bin Harb sampai ke kota Madinah. Kaum Quraisy beserta dengan kabilah-kabilah lainnya yang berangkat bersamaan serta kabilah-kabilah sekutu seperti kabilah Kinanah dan Tihamah mengambil posisi di daerah Raumah yang merupakan kawasan antara Jurf dan Zu’abah. Sedangkan kabilah Quthfan dan kabilah-kabilah lainnya berposisi di dekat bukit Uhud. Rasulullah saw juga dengan kaum muslimin menggambil posisi di bawah bukit Sal’a sementara para wanita dan anak kecil tetap tinggal di dalam benteng-benteng[27].

Pengkhianatan Bani Quraizhah

Puncak kesulitan dan tekanan dirasakan kaum muslimin ketika sampai kabar kepada mereka bahwa bani Quraizhah yang sebelumnya berjanji bahwa ketika terjadi peperangan mereka akan memilih posisi tengah; tidak memihak kepada Nabi saw dan tidak juga memihak kepada lawan, mereka akhirnya mengingkari janjinya dan berpihak kepada kaum musyrikin. Ka’ab bin Asad Qurazhi yang merupakan pemimpin bani Quraizhah, walaupun di awal-awal tidak memiliki kecenderungan untuk mengingkari perjanjian, akan tetapi dengan propokasi yang dilakukan oleh Huyai bin Akhthab[28] , dia pun melakukan pengkhinatan ini. Untuk memperoleh keyakinan mengenai berita ini, Nabi saw pun mengutus dua orang pemimpin kabilah Aus dan Khazraj yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah ke bani Quraizhah dan meminta kepada mereka berdua, jika pengkhianatan mereka benar adanya, untuk menyampaikan berita tersebut kepadanya secara rahasia agar supaya tidak membuat lemah semangat kaum muslimin. Akan tetapi bani Quraizhah menyambut kedua utusan tersebut dengan kata-kata kasar dan menusuk hati. Kedua utusan pun akhirnya pulang, dan dengan menyebut nama dua kabilah 'Adhal dan Qareh mengabarkan pengkhianatan Bani Quraizhah kepada Nabi saw. Maksud dari penyebutan dua kabilah ini adalah dalam rangka mengingatkan pengkhianatan mereka kepada Khubaib bin ‘Adi dan pengikutnya di Raji’[29].

Kondisi Sulit Kaum Muslimin

kaum muslimin yang dari arah belakang tidak merasakan aman bagi keluarganya karena ada bani Quraizhah, dan dari arah depan berhadapan dengan pasukan musyrikin dengan jumlah yang banyak yang setiap saat bisa melompati parit,[30] benar-benar sangat panik. Alquran telah menggambarkan kepanikan dan ketidakyakinan kaum muslimin atas janji Allah saw[31] Rasa takut ini begitu besar mereka rasakan sehingga salah seorang dari kaum munafik yaitu Muattab bin Qusyair berkata; Muhammad telah menjanjikan untuk menguasai kerajaan-kerajaan dan kaisar-kaisar, sementara saat ini tidak seorang pun yang berani keluar untuk memenuhi kebutuhannya[32].

Kaum muslimin bergiliran untuk menjaga parit siang dan malam dalam kondisi dingin dan lapar yang sangat[33] . Telah dinukilkan bahwa terjadi beberapa mukjizat dari Rasulullah saw dalam mengenyangkan kaum muslimin[34] .

Sebagian kaum muslimin seperti banu Haritsah, dengan mengutus Aus bin Qaizhi dengan alasan bahwa rumah mereka tidak dijaga dan tidak aman dari serangan dan jarahan pihak musuh, mereka meminta izin kepada Rasulullah saw untuk kembali[35] . Dikabarkan juga tentang serangan Khalid bin Walid, Amru bin Ash, Abu Sufyan, pembidikan panah-panah dan pertempuran sengit serta terlukanya sejumlah besar pasukan dari kedua pihak seperti Saad bin Ma’adz Akhbari.[36].

Pengingkaran perjanjian yang dilakukan oleh bani Quraizhah, cuaca yang sangat dingin, rasa haus dan lapar memberikan tekanan yang memuncak bagi kaum muslimin[37] . Dalam beberapa ayatnya, Alquran telah mengisyaratkan akan kondisi seperti ini[38].

Bahaya dari Pihak Bani Quraizhah

Ketika kemungkinan serangan malam hari bani Quraizhah ke pusat kota Madinah semakin kuat, Nabi saw mengutus dua kelompok dari sahabat (terdiri dari 500 orang) untuk menjaga rumah-rumah kaum muslimin dan mereka mereka mengumandangkan takbir sampai subuh, sebab ketakutan mereka dari serangan bani Quraizhah terhadap para wanita dan anak-anak lebih besar dari pada serangan kaum Quraisy terhadap mereka[39] Suatu malam, dua kelompok dari kaum muslimin saling beradu dan tanpa disadari mereka saling memanah. Setelah itu mereka selalu mengumandangkan yel-yel “Ha Mim,; La Yunsharun”, agar tidak terjadi lagi kejadian seperti itu[40].

Pertarungan Imam Ali as dengan Amru bin Abdiwud

Dalam peperangan ini, Amru bin Abdiwud terkenal sebagai orang yang sangat pemberani dan diyakini kekuatannya sama dengan seribu penunggang kuda. Dibarengi oleh beberapa orang dia mengelilingi parit dan Imam Ali as juga dengan beberapa orang dari kaum muslimin menghalangi jalan mereka. Amru bin Abdiwud yang mengalami luka dalam sebuah peperangan, dia tidak ikut serta dalam perang Uhud, pada kesempatan ini ia siap untuk melakukan peperangan untuk mengganti ketidakhadirannya di perang Uhud. Imam Ali as bangkit untuk berperang dengannya, akan tetapi Nabi saw menyuruhnya untuk tetap tinggal, sehingga ada diantara yang lain yang bangkit untuk berperang dengannya. Akan tetapi kaum muslimin terdiam karena ketakutan dari Amru dan tidak ada seorang pun yang siap maju untuk berperang dengannya. Karena kondisi seperti ini semakin berlarut dan dengan sombongnya Amru bin Abdiwud menantang untuk berperang. Akhirnya Nabi saw menyuruh Imam Ali untuk bersiap berperang dengannya. Nabi saw mengambil serbannya dan memasangkannya ke kepala Imam Ali as. Ia juga memberikan pedangnya dan melepasnya maju. Imam Ali as pun maju dan meminta kepada Amru bin Abdiwud untuk menerima Islam atau menghentikan peperangan. Amru bin Abdiwud menolak kedua permintaan tersebut. Sehingga terjadi duel dahsyat antara keduanya, dimana Imam Ali as menangkis pukulan pedang Amru dengan tamengnya dan kemudian membunuhnya dengan satu pukulan, sehingga mengakibatkan orang-orang yang bersamanya pun kabur. Dengan kemenangan ini, Imam Ali as pun melantunkan takbir dan dalam duel lainnya Imam Ali as membunuh Naufal bin Abdillah yang berhasil melewati parit, kemudian beliau pun kembali kepada Rasulullah saw[41].

Riwayat Nabi saw tentang Keutamaan Ali As

Keberhasilan Imam Ali as dalam membunuh Amru bin Abdiwud sangat mempengaruhi kemenangan kaum muslimin dan kekalahan orang-orang kafir dalam perang ini.[42] Dalam hal ini Nabi saw bersabda: "Pukulan Ali dalam perang Khandaq lebih utama dari ibadahnya tsaqalain (jin dan manusia)". Dalam riwayat lain Nabi saw bersabda: "Peperangan Ali dengan Amru bin Abdiwud lebih utama dari ibadah seluruh umatku sampai hari kiamat".[43] Dan ketika terjadi duel antara Imam Ali as dengan Amru bin Abdiwud, beliau bersabda: "Seluruh Islam (atau iman) berhadapan dengan seluruh kekufuran (atau kemusyrikan)".[44].

Kemenangan kaum Muslimin

Selain pertempuran efektif Imam Ali as dengan Amru bin Abdiwud yang membuat kekalahan dan tercerai berainya kelompok-kelompok musyrikin[45] , para sejarawan juga menyebutkan tiga faktor lain yang membantu kemenangan kaum muslimin dalam perang Khandaq:

  1. Peran penting seseorang yang bernama Nuaim bin Mas’ud Asyja’i dari kabilah Ghathfan yang secara sembunyi-sembunyi masuk Islam dimana tidak seorangpun dari kaum musyrikin yang mengetahui akan keislamannya. Nuaim datang menemui Nabi saw dan beliau berkata akepadanya gar menciptakan kelemahan dan perselisihan diantara kaum musyrikin. Dia meminta izin kepada Nabi saw untuk berkata apa saja yang diinginkannya untuk menciptakan perpecahan diantara kaum musyrikin. Nabi saw memberikan izin kepadanya dan bersabda bahwa peperangan adalah makar. Lalu Nuaim bin Mas’ud pun pergi ke bani Quraizhah yang dari sebelumnya sudah memiliki hubungan dengan mereka. Dengan mengisyaratkan perbedaan posisi mereka dengan kaum musyrikin (dimana ketika memang diharuskan, tanpa rasa takut dari kondisi rumah dan keluarga mereka, mereka bisa kembali dan membiarkan mereka sendiri) ia memberikan nasehat kepada bani Quraizhah, untuk mendapatkan keyakinan akan kebersamaan Quraisy dan Ghathfan dalam peperangan dengan Rasulullah saw, agar meminta mereka untuk melakukan penyandraan. Kemudian, ia juga pergi ke Quraisy dan Ghathfan untuk menyampaikan bahwa bani Quraizhah menyesal dan menyimpang dari apa telah disepakati dimana bani Quraizhah berencana untuk mengambil para sandra dari Quraisy dan Ghathfan dan akan menyerahkannya kepada Rasulullah saw serta akan berdamai dengannya. Ia juga mengusulkan kepada mereka untuk tidak memberikan para sandranya kepada bani Quraizhah. Pada akhirnya, perpecahan diantara mereka semakin meningkat[46] .
  2. Menurut Waqidi[47] ; ketika pasukan musyrikin sampai di Madinah, tidak sedikitpun dari tanaman perkebunan yang tersisa dan masyarakat Madinah sudah membuang tanamannya sebulan sebelum ini. Sehingga rumput yang tersisa di atas tanah tidak cukup untuk kuda-kuda Quraisy dan tiga ratus kuda kaum Ghathfan serta unta-unta yang mereka bawapun menjadi kelaparan dan hampir mati. Selain itu, tanah kota Madinah menjadi tandus disebabkan tidak turunnya hujan.
  3. Ibnu Sa’ad[48] mengisyaratkan kepada peran doa Nabi saw dan pengabulannya serta bantuan-bantuan gaib. Di hari Senin, Selasa dan Rabu, Nabi saw berdoa di masjid Ahzab: "ya Allah! Berilah kekalahan kepada ahzab (para sekutu musyrikin!". Dimana pada hari Rabu antara salat zhuhur dan asar, doa Nabi saw terkabul. Di malam yang dingin di musim dingin, angin menghembus sangat kencang sehingga tidak tersisa bagi mereka kemah, api dan tempat memasak.[49] .Alquran juga telah menyebutkan bantuan Ilahi ini[50].

Dampak dari Kekalahan Musyrikin

Kekalahan dan pulangnya ahzab dari perang Khandaq, memberikan pukulan telak bagi kaum musyrikin, yang mana mereka bukan hanya tidak mampu mengatur dan mempersiapkan pasukan kembali, bahkan hal ini semakin menguatkan pemerintahan Islam kota Madinah. Oleh karenanya, setelah Amru bin Abdiwud tewas di tangan Imam Ali as, atau setelah kekalahan pasukan musyrikin dua atau tiga hari setelah Amru bin Abdiwud tewas, Rasulullah saw bersabda: "Setelah ini kita akan berperang dengan mereka dan mereka tidak akan datang untuk memerangi kita". Dan memang demikian sampai akhirnya Allah swt membuka kota Mekah melalui tangan Nabi saw[51].

Statistik

Pengepungan kaum muslimin oleh kaum musyrikin berlangsung selama lima belas hari[52] . Selama itu dimana berlalu dengan pengepungan dan pemanahan, tidak terjadi peperangan.[53] Nabi saw memilih Ibnu Maktum untuk menggantikan posisinya di Madinah[54] .

Dalam perang Khandaq, 6 orang dari kaum muslimin syahid dan 8 orang dari kaum musyrikin tewas[55] . Ayat 214 surah Al-Baqarah, ayat 51-55 surah An-Nisa dan ayat 9-25 surah Al-Ahzab telah turun berkenaan dengan perang Khandaq[56].

Bangunan-bangunan Masjid di Tempat Peperangan

Di gunung Dzubab (terkenal dengan gunung al-Rayah) sekitar 1400 meter tenggara Masjid Nabawi dan sekitar 150 meter utara gunung Sal'a, tempat dimana Nabi saw memantau penggalian parit dan kemahnya ditancapkan serta ia mendirikan salat, dibagun sebuah masjid yang kini masjid tersebut telah mengalami perbaikan dan rekonstrusi ulang. Masjid ini terkenal dengan masjid Al-Rayah[57] .

Begitu juga di atas bukit Sal’a sekitar 700 meter dari masjid Nabawi, di sebuah tempat yang di sana dibangun kemah dan tempat salat Nabi saw serta dari sana ia mengawasi kondisi dan Allah swt memberikan hadiah kemenangan kepada Nabi saw atas kaum musyrikin, dibangun masjid yang terkenal dengan masjid Fath atau masjid Ahzab atau masjid A’la. Masjid ini dan beberapa masjid lainnya dibangun di kaki bukit Sal’a yang disebut dengan masajid Fath dan masajid Sab’ah (tujuh masjid). Pada tahun 1426 H, dibangun sebuah masjid besar di atas bukit Sal’a dengan nama masjid Khandaq dan sebagian dari masjid sab’ah berada di dalamnya[58] .

Masjid Fathimah Azzahra merupakan salah satu dari tujuh masjid yang sudah lama pintunya ditutup bagi para pengunjung, dan sangat disayangkan beberapa tahun terakhir pintu masjid ini ditutup dengan semen[59].

Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Ibnu Sa’ad, jld. 1, hlm. 65.
  2. Shalihi Syami, jld. 5, hlm. 415.
  3. Lihat:Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 224; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 564.
  4. Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 224; Thabari, Tārikh, jld. 2, hlm. 564.
  5. Waqidi, jld. 2, hlm. 440: 8 sampai 23 Dzulhijjah; Baladzuri, jld. 1, hlm. 409.
  6. Ibnu Habib, hlm. 113.
  7. Waqidi: Abu Amir Rahib.
  8. Waqidi, jld. 2, hlm. 441-442; Baladzuri, jld. 1, hlm. 409; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 565.
  9. Waqidi, jld. 2, hlm. 442-443; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 66.
  10. Baladzuri, jld. 1, hlm. 409.
  11. Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 230; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 66.
  12. Waqidi, jld. 2, hlm. 443.
  13. Mas’udi, hlm. 250.
  14. Waqidi, jld. 2, hlm. 453; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 66; Thabari, Tarikh, jld. 1, hlm. 570; Mas’udi, hlm. 250; Ya’qubi, jld. 2, hlm. 50, dimana menyebutkan jumlah mereka adalah tujuh ratus orang.
  15. Waqidi, jld. 2, hlm. 445; Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 235; Baladzuri, jld. 1, hlm. 409-410.
  16. Baladzuri, jld. 1, hlm. 410.
  17. Waqidi, ibid.
  18. Thabari, Tarikh, jld.2, hlm. 568.
  19. Ya’qubi, ibid.
  20. Waqidi, jld. 2, hlm. 446; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 66.
  21. Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 226; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 66, 71.
  22. Ya’qubi, ibid.
  23. Waqidi, jld. 2, hlm. Hlm. 445-446.
  24. QS. Nur: 62-63; Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 226-227; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 566-567.
  25. Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 230; Thabari, Tārikh, jld. 2, hlm. 568-569; Abu Na’im Isfahani, hlm. 432; Qis Waqidi, jld. , hlm. 449-450.
  26. Waqidi, jld. 2, hlm. 453-454; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 67.
  27. Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 66; Ibnu Atsir, jld. 2, hlm. 180.
  28. Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 67; Biladzari, jld. 1, hlm. 410.
  29. Waqidi, jld. 2, hlm. 458-459; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 571-572.
  30. Waqidi, jld. 2, hlm. 464-474.
  31. QS.Al-Ahzab: 10-12; Thabari, Tarikh, 1420, jld. 10, hlm. 264-270.
  32. Ya’qubi, jld. 2,hlm. 51; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 572; Qis Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 233, dikatakan menurut sebagian pendapat, Mu’attab bin Qusyair merupakan ahli Badar dan bukan orang munafiq.
  33. Waqidi, jld. 2, hlm. 465. 467.
  34. Abu Na’im Isfahani, hlm. 433.
  35. QS.Al-Ahzab: 13; Waqidi, jld. 2, hlm. 463; Ibnu Habib, hlm. 469; Thabari, Jaami’, tentang surah Al-Ahzab: 13.
  36. Waqidi, jld. 2, hlm. 264-266; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 67; Biladzari, jld. 1, hlm. 414.
  37. Ibnu Hisyam, jld. 2, hlm. 243.
  38. Al-Baqarah: 214; Waqidi, jld. 2, hlm. 495.
  39. Waqidi, jld. 2, hlm.460, 467; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm.67.
  40. Waqidi, jld. 2, hlm. 474.
  41. Lihat: Waqidi, jld. 2, hlm. 470-471; Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 236-237; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 573-574; Mufid, jld. 1, hlm. 98-109; Thabarsi, jld. 1, hlm. 379-382.
  42. Nuruddin Halabi, jld. 2, hlm. 428.
  43. Hakim Nishaburi, jld. 3, hlm. 32; Adhududdin Iji, hlm. 412.
  44. Karajuki, jld. 1, hlm. 297; Thabari, jld. 1, hlm. 381; Ibnu Abi al-Hadid, jld. 13, hlm. 261; jld. 19, hlm. 61; Ibnu Thawus, jld. 2, hlm. 267.
  45. Mufid, jld. 1, hlm. 105; Ibnu Abi Al-Hadid, jld. 5, hlm. 7.
  46. Waqidi, jld. 2, hlm. 480-482; Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 241-242; Thabari, Tarikh, hlm. 578-579.
  47. Waqidi, jld. 2, hlm. 444.
  48. Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 73-74.
  49. Ibnu Hisyam, jld. 3, hlm. 242-243; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 678-679; Abu Na’im Isfahani, hlm. 435-436.
  50. QS. Al-Ahzab: 9.
  51. Mufid, jld. 1, hlm. 105-106, Ibnu Atsir, jld. 2, hlm. 184; Ibnu Abi al-Hadid, jld. 19, hlm. 62; Amili, jld. 11, hlm. 239, 241-242.
  52. Waqidi, jld. 2, hlm. 440; Baladzuri, jld. 1, hlm. 412; Ibnu Sa’ad, jld. 2, hlm. 73 (23 malam); Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 572 dua puluh sekian malam hampir satu bulan; Ibnu Habib, hlm. 113 (20-21 hari).
  53. Thabari, ibid.
  54. Waqidi, jld. 2, hlm. 441.
  55. Waqidi, jld. 2, hlm. 495-496; Ya’qubi, jld. 2, hlm. 51.
  56. Waqidi, jld. 2, hlm. 494-495; Thabari, Tarikh, jld. 2, hlm. 565.
  57. Shalihi Syami, jld. 3, hlm. 277; Muhammad Ilyas Abdul Ghani, hlm. 94.
  58. Lihat:Waqidi, jld. 2, hlm. 454, 466, 488; Samhudi, jld. 3, hlm. 830-838; Muhammad Ilyas Abdul Ghani, hlm. 98-100; Ja’fariyan, hlm. 236-244.
  59. Sar Newesht Gham Anggiz Masjid Hazrat-e Zahra sa dar Madineh.

Daftar Pustaka

  • Alquran
  • Nuruddin Halabi. As-Sirah al-Halabiyah. Beirut: cet. Abdullah Muhammad Khalili, 1422 H/2002.
  • Abu Na’im Isfahani, Ahmad bin Abdullah. Dalāil al-Nubuwah. Cet. Sayyid Syarafuddin Ahmad, 1397 H/1977.
  • Adhudaddin Iji. Al-Mawāqif fi ilm al-Kalam. Beirut: Alam al-kutub, tanpa tahun.
  • Ali bin Abdullah Samhudi. Wafa al-Wafa Bi Akhbāri Dar al-Mustafa. Beirut: cet. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, 1404 H/1984.
  • Baladzuri.Ansāb al-Asyrāf. cet. Mahmud Firdaus. Damaskus: 1977.
  • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. I’lām al-Wara Bi A’lām al-Huda. Qom: 1417 H.
  • Tafsir Thabari dinamakan Jāmi’ al-Bayān fi Ta’wil Alquran. Beirut: 1999.
  • Ibnu Abi al-Hadid. Syarh Nahjul Balaghah. Kairo: cet. Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, 1385-1387 H/1965-1967. Beirut: Cet. Offset, tanpa tahun.
  • Ibnu Habib. Al-Muhabbar. Beirut: 1361 H.
  • Ibnu Hisyam. As-Sirah an-Nabawiyah. Kairo: cet. Ibrahim al-Abyari, Mustafa Saqa Abdul Hafidz Syalbi, 1355 H/1936. Beirut: cet. Offset, tanpa tahun.
  • Mas’udi. Tanbih.
  • Hakim Naisyaburi, Muhammad bin Abdullah.Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain dan diikuti dengan al-Talkhish li al-Hafidz al-Dzahabi. Beirut: Dar al-Ma’rifah, tanpa tahun.
  • Karajuki, Muhammad bin Ali.Kanz al-Fawāid. Beirut: cet. Abdullah Ni’mah. 1405 H/1985.
  • Waqidi, Muhammad bin Umar. al-Maghāzi. London: cet. Marsedn Jhons, 1966.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Irsyād fi Ma’rifati Hujajillah ‘Alal ‘Ibād. Qom: 1413 H.
  • Shalihi Syami, Muhammad bin Yusuf. Subul al-Hudā wa ar-Rasyād fi Sirati Khair al-'Ibād. Beirut: cet. Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali bin Muhammad Ma’udh, 1414 H/1993.
  • Abdul Ghani, Muhammad Ilyas. Tārikh al-Madinah al-Munawarah. Madinah: 1424 H.
  • Thabari. Tarikh. Beirut.
  • Ya’qubi. Tarikh.