Prioritas: c, Kualitas: a

Mariyah al-Qibthiyah

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Mariyah al-Qibthiyah
Istri Nabi saw
Nama lengkap Mariyah binti Syam'un
Lakab Ummul Mukminin
Terkenal dengan Mariyah Qibthiyah
Afiliasi agama Islam
Tempat tinggal Mesir, Madinah
Wafat 16 H/637
Tempat dimakamkan Baqi', Madinah
Dikenal sebagai Istri Nabi saw
Istri-istri Nabi saw
امهات المؤمنین.png

Nama

Khadijah al-Kubra sa

Saudah

Aisyah

Hafsah

Zainab (binti Khuzaimah)

Ummu Salamah

Zainab (binti Jahsy)

Juwairiyah

Ummu Habibah

Mariyah

Shafiyah

Maimunah

Tanggal Nikah

(27 sebelum Hijrah/595)

(sebelum Hijrah/sebelum 622)

(1, 2, atau 4 H/622, 623, atau 625)

(3 H/624)

(3 H/624)

(4 H/625)

(5 H/626)

(5 H atau 6 H/626 atau 627)

(6 atau 7 H/627 atau 628)

(7 H/628)

(7 H/628)

(7 H/628)

Mariyah putri Syam'un (wafat: 16 H/637) (bahasa Arab: مارية بنت شمعون) yang terkenal dengan Mariyah al-Qibthiyah adalah salah satu istri Nabi saw yang melahirkan Ibrahim. Muqawqis, penguasa Mesir dan Iskandariyah (Aleksandria) ketika menjawab surat Nabi Saw mengirim dia kepada beliau bersama hadiah-hadiah yang lain. Di antara istri-istri Nabi saw, selain Khadijah al-Kubra sa, Mariyah adalah satu-satunya wanita yang memiliki anak dari Nabi saw.

Sebelum Menikah Dengan Nabi saw

Mariyah putri Syam'un lahir di desa Hifna di salah satu kawasan Anshana di Mesir. Pada tahun ke-7 H/628, Rasulullah saw mengutus Hatib bin Abi Balta'ah membawa surat ke Muqawqis raja Mesir dan Iskandariyah dan menyerunya masuk Islam.[1] Muqawqis dalam menjawab ajakan Nabi saw mengutus Mariyah, anak perempuan dari raja-raja Mesir, bersama saudarinya, Sirin[2] atau Syirin[3] dan limpahan hadiah yang lain kepada Rasulullah saw. Bersama hadiah-hadiah ini Muqawqis juga menulis surat untuk Nabi saw yang mana pada salah satu penggalannya ditulis: "Saya telah menyambut baik utusanmu dan saya mengirim dua budak perempuan untukmu dari bumi agung Qibth yang memiliki kedudukan tinggi".[4] Diriwayatkan bahwa Hatib bin Abi Balta'ah dipertengahan jalan mengenalkan Islam kepada mereka berdua dan mereka menjadi muslim.[5]

Menikah dengan Nabi saw

Setelah masuk Madinah, Rasulullah saw memilih Mariyah dan menghadiahkan Sirin kepada Hassan bin Tsabit.[6] Rumah pertama Ummul Mukminin Mariyah adalah rumah Haritsah bin Nu'man. Satu tahu ia tinggal di rumah ini.

Kelayakan-kelayakan Mariyah dan perhatian Nabi Saw kepadanya, membangkitkan kecemburuan sebagian istri-istri beliau terkhusus Aisyah dan Hafsah.

Mariyah adalah perempuan suci[7], agamis, dan termasuk wanita-wanita salehah, dermawan, layak dan menarik hati Nabi saw[8]. Sejarawan dan pengamat sejarah memuji keagamaannya.[9] Dalam menunjukkan kecintaan kepadanya, Nabi saw berkata: "Disaat kamu menguasai Mesir, berlaku baiklah terhadap mereka, sebab aku calon menantu mereka".[10]

Turunnya Beberapa Ayat dari Surah al-Tahrim

Suatu hari di hari khususnya, Hafsah menemui Rasulullah saw dan minta izin pergi untuk satu pekerjan disisi ayahnya. Beliau mengiyakannya. Setelah Hafsah pergi, beliau memanggil Mariyah. Saat Hafsah kembali ke rumah, pintu dalam keadaan tertutup dan ia duduk di luar pintu. Ketika melihat Nabi saw bersama Mariyah ia langsung marah dan berlaku kasar kepada beliau. Rasulullah saw untuk merelakan dia mengharamkan Mariyah kepada dirinya dan meminta dari Hafsah supaya menyembunyikan masalah ini, akan tetapi dia langsung memberitahu Aisyah[11] dan berkata: "Ada kabar gembira untukmu, Nabi Saw mengharamkan budak perempuannya atas dirinya dan Allah swt membuat kami leluasa darinya".[12]

Di waktu inilah turun ayat-ayat awal surah Al-Tahrim. Ayat-ayat ini selain mengandung celaan terhadap Hafsah dan Aisyah juga berbicara kepada Nabi saw:

"Wahai Nabi! Mengapa enkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang"''[13]

Perintah Allah swt untuk membatalkan pengharaman Mariyah membuktikan bahwa hubungan emosional sendiri antara Nabi saw dan Mariyah adalah hal yang sudah diinginkan. Pada akhirnya, Mariyah tetap tinggal bersama Rasulullah saw, tapi perhatian beliau kepadanya menimbulkan kemarahan sebagian istri-istri beliau. Kondisi ini bertambah parah dengan menyebarnya kabar kehamilan Mariyah. Oleh sebab ini, Nabi saw mengeluarkan Mariyah dari Madinah dan ditempatkan di kawasan atas Madinah di perkebunan kecil kurma bernama Aliyah yang didapat beliau di perang Bani Nadhir (sekarang terkenal dengan Masyrabah Ummu Ibrahim), dan beliau pergi menemuinya di sana. [14]

Kini, tempat ini berubah menjadi pekuburan tak terawat. Makam Najmah, ibu Imam Ridha as, dan sejumlah anak keturunan para Imam as(Imamzadegan) serta pecinta Ahlulbait as dikuburkan di sana. Karena orang-orang Iran terkadang datang menziarahi tempat ini, pada tahun-tahun terakhir dibuatkan tembok-tembok tinggi disekitarnya dan mereka tidak diperkenankan masuk dan melihatnya.[15]

Kelahiran Ibrahim

Dikatakan bahwa Mariyah adalah satu-satunya wanita selain Khadijah yang mempunyai anak dari Nabi Saw.[16]

Selang beberapa waktu setelah Mariyah menetap di rumah barunya, lahir Ibrahim putra Rasul Saw pada bulan Dzulhijjah tahun 8 H/629 dan Jibril turun serta mengucapkan salam kepada beliau dengan sebutan 'wahai Aba Ibrahim'.[17] Diceritakan bahwa Rasulullah gembira setelah kelahiran Ibrahim dan menunjukkannya kepada Aisyah sembari berkata: "Lihat bayi ini, betapa miripnya denganku". [18]

Ibrahim meninggal dunia pada tanggal 18 Rajab tahun 10 H/631 pada umur yang ke-18 bulan dan dikuburkan di Baqi'. Hati Nabi saw sangat sedih dan berkata: "Kegundahan ini membuat air mata mengalir dan hati sedih, dan aku tidak akan berkata apa pun yang membuat Tuhan murka".

Peristiwa Penuduhan

Peristiwa Ifk (tuduhan palsu) adalah suatu kejadian di awal sejarah Islam yang mana sebagian ayat-ayat surah Al-Nur (ayat 11-26) memberikan isyarat kepadanya.

Sebagian riwayat yang dinukil terkait sebab turunnya ayat-ayat ini menegaskan bahwa obyek ayat-ayat tersebut adalah Aisyah, dan menurut sebagian riwayat yang lain orang yang dituduh adalah Mariyah Qibthiyah.

Meninggal

Mariyah meninggal dunia lima tahun pasca meninggalnya Nabi Saw, pada bulan Muharram tahun 16 H/637 dan dikuburkan di Baqi'. [19]

Catatan Kaki

  1. al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 107.
  2. Tarikh Thabari
  3. Ansāb al-Asyraf
  4. Tabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 200
  5. Ansāb al-Asyraf, jld. 1, hlm. 449
  6. Tarikh Thabari, jld. 11, hlm. 617
  7. Tarikh Thabari, jld. 3, hlm. 22
  8. al-Bidayah wa al-Nihāyah, jld. 7, hlm. 74
  9. al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 107
  10. Mu'jam al-Buldān, jld. 5, hlm. 138
  11. al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 8, hlm. 182
  12. al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 8, hlm. 151
  13. Q.S. al-Tahrim: 1
  14. al-Thabaqāt al-Kubra, jld. 1, hlm. 107
  15. http://www.hawzah.net/fa/Magazine/View/3992/6527/75474
  16. al-Isti'āb, jld. 1, hlm. 50
  17. Ansāb al-Asyraf, jld. 1, hlm. 450
  18. Ansāb al-Asyraf, jld. 1, hlm. 450
  19. Tarikh Thabari, jld. 11, hlm. 618

Daftar Pustaka

  • Ibnu Said, Muhammad Said, Thabaqāt al-Kubra, riset: Muhammad Abdul Qadir Atha', Bairut, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, cetakan 1, 1990 M.
  • Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Bairut, Dar al-Fikr, 1407 H.
  • Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyraf, riset: Suhail Zikar dan Riyadh Zirikili, Bairut, Dar al-Fikr, cetakan 1, 1996 M.
  • Hamawi, Yaqut, Mu'jam al-Buldān, Bairut, Dar Shadir, cetakan 2, 1995 M.
  • Thabari, Muhammad bin Jabir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, riset: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim, Bairut, Dar al-Turats, cetakan 2, 1378 H.