Prioritas: c, Kualitas: c
tanpa link
tanpa Kategori
tanpa navbox
tanpa alih
tanpa referensi

Hilf al-Fudhul

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Hilf al-Fudhul adalah nama perjanjian antara sebagian suku Quraisy pada masa jahiliyyah sebelum Islam untuk melindungi orang-orang yang terzalimi di Mekah. Suku-suku yang ikut dalam perjanjian ini adalah Bani Hasyim, Bani Muthalib anak Abd Manaf, Bani Zuhrah bin Kalab, Bani Taim bin Murrah, Bani Asad bin Abd Uzza bin Qusha. Ketika Islam telah muncul, perjanjian ini diingat sebagai perjanjian yang baik.

Sebab Penamaan

Sebab penamaan Hilf al-Fudhul karena perjanjian Hilf al-Fudhul disepakati setelah perjanjian Hilf al-Muthibin dan perjanjian Hilf al-Ahlaf dan selain dua perjanjian itu maka perjanjian ini disebut dengan Hilf al-Fudhul. [1] Dikatakan pula bahwa sebab penamaan ini adalah karena keutamaan dan kelebihbaikan perjanjian ini dari pada perjanjian-perjanjian yang lain yang tidak ada hingga sejarah Arab pada waktu itu dan juga karena keutamaan dan kehormatan orang-orang yang menyepakati perjanjian itu sehingga disebut Hilf al-Fudhul. [2] Penamaan ini dinisbatkan kepada Zubair bin Abdul Muthalib seorang yang berasal dari Bani Hasyim. [3] Dikatakan bahwa perjanjian ini dituliskan untuk mereka dan menyenandungkan puisi tentangnya. [4] Sebagian yang lainnya mengatakan bahwa kaum Arab atau Quraisy secara khusus menamakan perjanjian ini dengan perjanjian Hilf al-Fudhul. [5] Terdapat pula pendapat lain yang mengatakan bahwa sebab penamaan Hilf al-Fudhul, dimana pendapat ini tidak bergitu bisa diterima, diantaranya:

  • Dalam perjanjian ini, hadir tiga nama Fadhl (bentuk jamaknya menjadi Fudhul) [6]
  • Orang-orang yang ikut dalam perjanjian Hilf al-Fudhul membuang barang-barang yang tidak diperlukan
  • Mereka bertanggung jawab atas hal-hal yang tidak diperlukan
  • Mereka melakukan hal-hal yang tidak diwajibkan bagi mereka
  • Pertama kali, ada seorang laki-laki yang berasal dari Jurhum dengan nama yang diambil dari kata fadhl melakukan perjanjian antara yang satu dengan yang lainnya dengan tujuan saling melindungi dari orang-orang yang terzalimi dan mengambil haknya dan perjanjian ini karena mengikuti perjanjian Jarhami, disebut dengan Hilf al-Fudhul. [7]

Waktu

Dikatakan bahwa Hilf al-Fudhul terjadi pada tahun ke-20 setelah [[tahun gajah] ketika suku Quraisy pulang dari perang Fijar. Perang Fijar terjadi pada bulan Syawal dan Hilf al-Fudhul pada bulan Dzulhijjah. [8] Meskipun demikian, sebagian riwayat menuliskan bahwa perjanjian ini ditanda tangani pada tahun ke- 5 sebelum bi’tsah [9]

atau pada tahun ketika Nabi masih kecil. [10]

Sebab Terbentuknya Perjanjian

Sebab terjadinya perjanjian ini adalah reaksi dalam menghadapi kezaliman sebagian suku Quraisy terhadap orang-orang Mekah yang tidak memiliki penolong. [11] Pada suatu hari, seorang laki-laki dari Zabid Yaman datang ke Mekah dengan membawa barang dagannya. Ash bin Wail Sahmi (Ayah Amr bin Ash]] membeli barang jualannya. Namun ia tidak segera membayar barang yang telah ia beli. Seorang laki-laki dari Yaman itu berlindung kepada suku Quraisy dan meminta mereka untuk menolong sehingga haknya akan terlindungi, namun tidak ada seorang pun yang menolongnya. Oleh itu, guna mengambil haknya dan menjelaskan pemrotesannya, ia pergi ke gunung Abu Qubais di dekat Masjidil Haram. Ia berdiri di sana dan membaca syair dengan suara keras yang berisi tentang pemrotesan atas peristiwa yang menimpanya. [12]

Zubair bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw dan termasuk pembesar dari suku Quraisy, adalah orang pertama kali yang membicarakan tentang Hilf al-Fudhul dan mengundang suku-suku bangsa Arab untuk serta dalam perjanjian itu. [13] Kemudian, sebagian suku-suku Quraisy datang ke Dar al-Nadwah yang merupakan tempat penyelesaian masalah dan diadakan akad-akad dalam berbagai hal dan mereka sepakat untuk menolong orang-orang yang terzalimi dari kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang yang zalim. [14]

Kemudian, atas usaha Zubair bin Abdul Muthalib, mereka berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an Taimi, salah seorang pembesar Quraisy. Mereka meletakkan tangan mereka di air Zamzam (menurut sebuah nukilan mereka menenggelamkan dalam lumpur) [15] kemudian mereka berjanji antara yang satu dengan yang lainnya bahwa apabila ada orang-orang yang menzalimi baik dari penduduk Mekah atau orang luar Mekah, maka mereka akan menolongnya sehingga haknya bisa diambil dari orang-orang yang menzaliminya. [16] Orang-orang yang zalim akan tercegah untuk melakukan perbuatan kezaliman dan akan tercegah dari segala bentuk kemungkaran [17] dan akan membantu orang-orang yang membutuhkan dalam hal dana dan penghidupan. [18]

Karena pentingnya perjanjian ini, maka pada masa sebelum Islam, perjanjian ini dijadikan sebagai permulaan sejarah. [19] Demikian juga sebagian berkeyakinan bahwa perjanjian Hilf al-Fudhul adalah perjanjian yang paling dihormati di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. [20]

Kabilah-kabilah Penanda Tangan Perjanjian Khiful Fudhul

Kabilah-kabilah Quraisy yang dinayatakan ikut serta dalam perjanjian ini adalah Bani Hasyim, Bani Muthalib anak-anak Abdul Manaf, Bani Zuhrah bin Kalab, Bani Taim bin Murrah, Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qusha [21] dari Bani Harits bin Fihr [22] namun sejarawan tidak bersepakat dalam kehadiran mereka. [23] Yang pasti Fadhl dan Sabqat dalam Hilf al-Fudhul termasuk Bani Hasyim. [24]

Bani Abd Syamsy dan Bani Naufal yang merupakan bagian dari Bani Abdul Manaf keluar dari perjanjian ini [25] karena perjanjian ini dibentuk untuk menentang Bani Umayyah dan sekutu mereka, Ash bin Wail. [26]

Sebagian sejarawan mencatat bahwa kelompok yang ikut serta dalam perjanjian Hilf al-Fudhul adalah kabilah-kabilah yang menandatangani Khilful Muthayyibin. [27]

Hilf al-Fudhul Setelah Islam

Karena Hilf al-Fudhul untuk memberi perlindungan kepada orang-orang yang terzalimi, maka Islam membenarkan hal ini. [28] Diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw bahwa setelah bi’tsah Nabi Muhammad saw bersabda:

Aku bersama dengan para pamanku di rumah Abdullah bin Jad’an, aku menyaksikan perjanjian (Hilf al-Fudhul) yang apabila semua rambut unta diberikan kepadaku, maka aku tidak suka berkhianat kepadanya dan apabila sekarang aku diajak untuk melakukan perjanjian seperti itu, maka aku akan menerimanya. [29]

Khalifah ke-2 kehadiran kabilah di Hilf al-Fudhul sebagai salah satu kriteria bahwa suatu kabilah berhak untuk mendapatkan bagian dari baitul mal. [30]

Dalam salah satu perjalanan Muawiyah ke Madinah, Abdullah bin Zubair berkata kepada Muawiyah bahwa Imam Hasan as ikut dalam perjanjian Hilf al-Fudhul, dan apabila suatu hari Imam Hasan as meminta Abdullah bin Zubair untuk melawan Muawiyah, ia akan membantunya. namun Muawiyah tidak menerima pengakuan Abdullah bin Zubair bahwa Imam Hasan as hadir dalam perjanjian Hilf al-Fudhul. [31]

Setelah syahadah Imam Hasan as juga ketika Imam Husain as berdasarkan wasiat saudaranya ingin mengubur jenazah Imam Hasan as di samping kuburan Nabi Muhammad saw, maka Imam Husain as bertawasul kepada Hilf al-Fudhul dan sebagian kabilah sudah menyiapkan diri mereka untuk menolong Imam Husain as namun karena hal ini ditentang oleh kaum Umawi, akhirnya Imam Husain as mengurungkan niatnya. [32]

Demikian juga ketika Walid bin Utbah bin Abu Sufyan, Amir Umawi Madinah pada masa pemerintahannya (57-60 dan 61-62) terkait dengan harta dan tanah menzalimi Imam Husain as, maka Imam mengancamnya bahwa apabila tidak memberikan haknya, maka akan menghunus pedangnya, dan akan mengundang masyarakat untuk melaksanakan Hilf al-Fudhul. Setelah itu, orang-orang menyatakan kesiapannya dalam mendukung Imam Husain as, oleh itu, Walid terpaksa memberikan hak kepada Imam Husain as. [33] Menurut tulisan Jawad Ali [34] bisa jadi, maksud Imam adalah masyarakat akan diajak untuk membuat kesepakatan seperti perjanjian Hilf al-Fudhul. Oleh itu, tidak dapat diambil kesimpulan bahwa Hilf al-Fudhul masih berlaku hingga waktu itu.

Hisyam bin Muhammad bin Saib Kalbi (w. 204) menulis kitab berjudul Hilf al-Fudhul. [35]

Catatan Kaki

  1. Silahkan lihat: Ibnu Habib, ‘‘Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 53-54; Ya’qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 18.
  2. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130, jld. 15, hlm. 203.
  3. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 15, hlm. 203.
  4. Silahkan lihat: Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 187, 189; Mas’udi, Tanbiyah, hlm. 210.
  5. Silahkan lihat: Ibnu Habib, ‘‘Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 54, 279; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 2, hlm. 26.
  6. Silahkan lihat: Tārikh, jld. 2, hlm. 18.
  7. Baladzuri, al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 24.
  8. Silahkan lihat: Ibnu Sa’ad, Thabaqāt, jld. 1, hlm. 128; Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 174, 186-187; Ya’qubi, Tārikh, jld. 2, hlm. 18.
  9. Silahkan lihat: Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 53.
  10. Silahkan lihat: Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130, dan jld. 15, hlm. 203.
  11. Ya’qubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 17.
  12. Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 52-53; Baladzuri, Ansab al-Asyraf, jld. 2, hlm. 23; Mas’udi, Muruj al-Dzahab, jld. 3, hlm. 9; Ya’qubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 17.
  13. Ibnu Sa’ad, jld. 1, hlm. 128; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130.
  14. Mas’udi, Muruj, jld. 3, hlm. 9.
  15. Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 187; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 23-24; Ibn Abi al-Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130, jld. 15, hlm. 203.
  16. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 1, hlm. 141; Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 53.
  17. Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130.
  18. Ibnu Sa’ad, Thabaqat, jld. 1, hlm. 129; Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 187; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 15, hlm. 203.
  19. Mas’udi, Tanbiyah, hlm. 209.
  20. Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 52, 186; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 15, hlm. 203.
  21. Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 2, hlm. 141; Kitab al-Mukhabbir, hlm. 167; Ibid, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 53; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 23; Ya’qubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 18.
  22. Silahkan lihat: Ibnu Habib, Kitāb al-Munammiq fi Akhbār Quraisy, hlm. 189; Ya’qubi, Tarikh, jld. 2, hlm. 18.
  23. Ibnu Habib, Kitāb al-Muhabbir, hlm. 167.
  24. Ibnu Sa’ad, Thabaqat, jld. 1, hlm. 129.
  25. Silahkan lihat: Ibnu Hisaym, al-Sirah al-Nabawiyyah, jld. 1, hlm. 143; Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Damisy, jld. 52, hlm. 186.
  26. Amili, al-Sahih min Sirah al-Nabi, jld. 1, hlm. 99.
  27. Silahkan lihat: Ya’qubi, jld. 2, hlm. 17-18; Mas’udi, Tanbiyah, hlm. 210-211; Habban, Sahih bin Habban, jld. 10, hlm. 217.
  28. Silahkan lihat: Mas’udi, Tanbiyah, hlm. 210; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahj al-Balāghah, jld. 14, hlm. 130; Qurtbubi, al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān, jld. 6, hlm. 33.
  29. Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabawiyyah, jld. 1, hlm. 141-142; Ibnu Sa’ad, Thabaqāt, jld. 1, hlm. 129; Ibnu Habib, Kitab al-Munmmiq fi Akhbar Quraisy, hlm. 53, Baladzuri, jld. 2, hlm. 24, 26 dan 27.
  30. Silahkan lihat: Syafi’i, al-Umm, jld. 4, hlm. 166; Ibnu Hanbal, Kitab al-Ilal wa Ma’rifah al-Rijal, jld. 3, hlm. 423; Muthi’i, al-Takmilah al-Tsaniyah, jld. 19, hlm. 381.
  31. Akhbār al-Daulah al-Abasiyyah, hlm. 58-59.
  32. Ibnu Asakir, Terjemah Imam Hasan, hlm. 222.
  33. Ibnu Hisyam, Sirah al-Nabawiyyah, jld. 1, hlm. 142; Baladzuri, Ansāb al-Asyrāf, jld. 2, hlm. 26; Qurthubi, al-Jami li Ahkam al-Qur’an, jld. 10, hlm. 169.
  34. Al-Mufashal fi Tārikh al-Arāb, jld. 4, hlm. 89.
  35. Ibnu Nadim, Fehrest, hlm. 108; Ibnu Khallakan, Wafiyāt al-A’yān, jld. 6, hlm. 82.