tanpa navbox

Shalawat

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari

Shalawat, (Bahasa Arab: صلوات) sebuah zikir khusus dalam bahasa Arab yang berisikan sanjungan untuk Rasulullah saw yang diucapkan oleh

Doa, Munajat dan Ziarah
مسجد جامع خرمشهر.jpg

kaum muslimin saat tasyahud salat dan juga saat mendengar atau disebutkannya nama Rasulullah, Muhammad saw. Selain surah Al-Ahzab ayat 56 (ayat shalawat), juga banyak sekali hadis yang menegaskan akan kemustahaban bershalawat.

Dalam keyakinan kaum muslimin, shalawat selain penghormatan kepada Rasulullah saw, juga memiliki pahala ukhrawi dan dampak-dampak positif duniawi. Shalawat memiliki kedudukan khusus dalam budaya umum kaum muslim di sejumlah negara dan kaum muslim membaca shalawat dalam pelbagai momen seperti mengungkapkan kegembiraan dalam sejumlah perayaan atau memulai pekerjaan, dalam rangka mengambil keberkahan.

Bentuk tersohor shalawat di kalangan komunitas Syi'ah adalah kalimat "Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad."

Makna Bahasa dan Istilah

Shalawat jamak shalat dari kata Sha La Wa, yang barartikan doa, pujian, penghormatan, dan rahmat. Shalawât jamak shalȃt berartikan juga salat dan dikarenakan salat memuat sejumlah doa, maka disebut juga dengan shalat dan dengan demikian, shalawat dalam bahasa Arab berartikan jamak dan maksudnya adalah salat, doa, atau sejumlah sanjungan. [1] Dalam bahasa Persia, maksud dari kalimat shalawat, bukanlah jama’ salat, namun yang dimaksud dari kalimat tersebut adalah makna terminologi, yakni sanjungan khusus untuk baginda Rasulullah saw. Dalam terminologi agama, shalawat adalah nama suatu aktivitas ibadah, sanjungan khusus untuk Rasulullah saw, dimana komunitas Syi’ah melakukannya dengan Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad.

Makna Shalawat Allah dan Para Malaikat

Menurut para filolog Arab, apabila kalimat Arab “salat” digunakan untuk penghormatan dan salam, maka tergantung pada siapa yang menggunakan dan kepada siapa ia gunakan, dari aspek spiritual memiliki perbedaan; semisalnya:

  • Shalawat Rasul untuk kaum mukminin berartikan doa untuk kebaikan, keberkahan, dan keselamatan mereka.
  • Shalawat para malaikat untuk seseorang berartikan memintakan ampunan dan rahmat untuknya.
  • Shalawat kaum mukminin kepada Rasulullah saw berartikan sanjungan dan mengingat baik beliau. [2]
  • Shalawat Allah atas Rasulullah saw berartikan turunnya rahmat untuk beliau.
  • Shalawat para malaikat untuk Rasulullah saw berartikan memintakan rahmat untuk beliau. [3]

Ungkapan dan Bentuk-bentuk Shalawat

Ungkapan tersohor di kalangan Syi’ah untuk bershalawat adalah "Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad". Pelbagai mazhab Islam, tidak terjadi perselisihan pendapat tentang bagian utama kalimat shalawat, "Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad"; yang menjadi perbedaan adalah pada kalimat selanjutnya. Komunitas Syi’ah berbeda dengan Ahlusunnah, mayoritas mereka setelah kalimat ini, menambahkan kalimat "Wa Âli Muhammad" dan mereka bersandar pada sejumlah riwayat yang ada dalam literatur Syi’ah dan Ahlusunnah, dimana menurut riwayat tersebut, shalawat yang sempurna adalah shalawat yang diiringi dengan kalimat yang sudah dikemukakan tadi. Diantaranya, dalam sebuah riwayat, ketika seseorang bertanya kepada Nabi saw bagaimakah bershalawat? Nabi menjawab, "Allahumma Shalli ‘ala Muhamamd wa Âli Muhammad kama Shallaita ‘ala Âli Ibrahim innaka Hamîdun Majîd, Allahumma Barik ‘ala Muhammad wa ‘ala Âli Muhammad kama Barakta ‘ala Ibrahim Innaka Hamîdun Majîd". [4] “Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah, Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”.

Sebagian riwayat menegaskan, shalawat tidaklah sempurna dengan tanpa disertai kalimat “Wa Âli Muhammad”. [5] Dalam sebagian riwayat Ahlulbait as yang berbicara tentang tata cara bershalawat juga ditegaskan bahwa saat bershalawat kepada Rasulullah saw diharuskan juga untuk mengirimkan shalawat kepada Âl (keluarga) Nabi. Seperti dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as, dituturkan shalawat sebagai berikut, صَلَوَاتُ اللَّهِ وَ صَلَوَاتُ مَلَائِکتِهِ وَ أَنْبِیائِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِیعِ خَلْقِهِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ السَّلَامُ عَلَیهِ وَ عَلَیهِمْ وَ رَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَکاتُه "Shalawatullah wa Shalawatu Malaikatihi wa Anbiyaihi wa Rusulihi wa Jami’i Khalqihi ‘ala Muhmamad wa Âli Muhamamad wa as-Salamu ‘alaihi wa ‘alaihim wa Rahmatullahi wa Barakatuh". [6] Dalam sebuah riwayat disebutkan, shalawat atas Muhamamd saw memiliki seratus kebaikan dan shalawat atasnya dan keluarganya memiliki seribu kebaikan. [7] Sebagian orang Syi’ah, khususnya di Iran setelah menyebutkan kata shalawat, mereka juga menambahkan kalimat “Wa ‘Ajjil Farajahum” (dan percepatkanlah kemunculan seseorang yang menguntungkan mereka), yang berlandaskan pada riwayat-riwayat yang dinukil dari Ahlulbait as. [8]

Tata Cara Shalawat Ahlusunnah

Dari dulu sampai sekarang Ahlusunnah telah mempraktekkan empat jenis shalawat dan shalawat dalam salat berbeda dengan shalawat yang ditulis dan diucapkan oleh mereka. [9]

Shalawat yang dibaca dalam tasyahud salat juga memuat kalimat "Âli Muhammad": "Allahumma Shalli 'ala Muhamamd wa Âli Muhammad", dimana huruf jar "'Ala" juga disebutkan pada kalimat Âli. Shalawat yang dibaca oleh Ahlusunnah dalam salat-salat mereka berdasarkan sebuah riwayat yang dinukil dari Ka’ab bin Ajrah, salah seorang sahabat Rasulullah saw yang dinukilkan dalam dua buku, Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Para penganut mazhab Hambali juga mengucapkan tasyahud sebagaimana yang ada dalam hadis[10], namun tiga mazhab Ahlusunnah lainnya dan mazhab Zaidiyah juga menambahkan kalimat “Ibrahim” sebelum kalimat “Âli Ibrahim”. [11]

Shalawat yang mereka gunakan dalam tulisan dan ucapan-ucapan mereka tidak ada kalimat “Âli Muhammad”, dan setelah nama Rasulullah saw, mereka mengatakan Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Shalawat ketiga di kalangan Ahlusunnah khususnya para penganut mazhab Hanafi, sudah tradisi mereka membaca shalawat dengan perlahan-lahan dan shalawat yang diminta para khatib dan para penceramah kepada masyarakat dari shalawat ini adalah kalimat Azwaj (para istri) dan Ashhab (para sahabat) Rasulullah juga disertakan dan biasanya mereka membaca sebagai berikut, اللهم صل و سلم علی سیدنا محمد و علی آله و ازواجه و صحبه کما صلیت علی ابراهیم و آل ابراهیم انک حمید مجید "Allahumma shalli wa Sallim ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala Âlihi wa Azwajihi wa Shahbihi kama shallaita ‘ala Ibraahiim wa ‘ala Âli Ibrahiim innaka Hamîdum Majîd", Ya Allah berilah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, istri-istri dan para sahabatnya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia.

Dalam sebagian tempat setelah kalimat Âli Muhammad, juga ditambahkan Ashhȃbi Muhammad dan mengatakan, اللهم صل علی محمد و آل محمد و اصحاب محمد “Ya Allah berilah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarganya, dan para sahabatnya”. [12] Ahlusunnah tidak terbiasa mengirimkan shalawat saat mendengar nama Rasulullah saw, kecuali setelah mereka mendengar ayat shalawat atau meminta mereka agar mengirimkan sanjungan mulia. [13]

Urgensi dan Keutamaan Shalawat

Menurut sebagian riwayat, para nabi sebelum Rasulullah saw juga menggunakan zikir shalawat. Dinukilkan, shalawat efektif dalam meninggikan derajat spiritual Nabi Ibrahim as. [14] Dinukilkan dari Rasulullah saw bahwa “Barang siapa yang membaca shalawat untukku, para malaikat akan mengirimkan shalawat untuknya, baik sedikit maupun banyak; seukuran yang ia kirimkan”. [15] Menurut sebagian riwayat, seperti riwayat dari Imam Ridha as, shalawat efektif dalam menghapus dosa-dosa. [16]

Shalawat dalam Al-Quran

Al-Quran selain menegaskan bahwa Allah dan para malaikat juga bershalawat kepada Rasulullah saw, juga memerintahkan kaum mukimin agar mengikuti mereka dalam hal ini: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِکتَهُ یصَلُّونَ عَلَی النَّبِی یا أَیهَا الَّذِینَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَیهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِیمًا “Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. [QS. Al-Ahzab: 56]

Shalawat dalam Salat

Shalawat termasuk zikir-zikir wajib dalam salat dan kaum muslim berkewajiban setiap hari dalam tasyahud salat harian mengucapkan zikir shalawat itu sendiri dan mengirimkan shalawat untuk Rasulullah saw dan keluarganya dengan zikir khusus tersebut. Menurut riwayat muktabar, meninggalkan shalawat secara sengaja untuk Rasulullah saw menyebabkan batalnya salat. [17]

Shalawat dalam Hadis

Dalam literatur hadis, sudah dituturkan banyak ganjaran dan dampak spiritual dan materi positif untuk shalawat. Dalam sebagian literatur penting riwayat, telah dipaparkan bab-bab khusus shalawat dan tata cara serta bagaimana dan urgensinya. Sebagian sumber riwayat yang lain berbicara tentang urgensi shalawat, sesuai dengan topik pembahasannya. Dalam buku riwayat muktabar Syi’ah, al-Kafi dipaparkan tentang urgensi dan keutamaan shalawat sebagai berikut: “Barangsiapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuknya seratus kali. Dan barang siapa bershalawat untukku seratus kali, niscaya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuknya seribu kali”. [18]

Syaikh Hur Amili, dalam "Wasail al-Syi'ah" dan Mustadraknya telah membeberkan sejumlah bab dengan topik-topik seperti tata cara bershalawat[19] , mengeraskan shalawat[20], dan bagiannya. Allamah Majlisi dalam Bihar al-Anwar, yang merupakan ensiklopedia terbesar hadis Syi’ah telah mengumpulkan 67 hadis dalam sebuah bab dengan topik Fadhilah (keutamaan) shalawat atas Nabi dan keluarganya. [21]

Dalam jilid pertama Kanzul Ummal dinukilkan 119 hadis dalam bab keenam dari sekumpulan hadis-hadis Ahlusunnah, yang berisikan shalawat, urgensi, dan fadhilahnya.

Sebagian dampak shalawat dalam riwayat adalah sebagai berkut:

  1. Kafarah dosa-dosa [catatan 1]
  2. Amal terberat dalam timbangan amal [catatan 2]
  3. Pembuka pintu-pintu langit dan penghilang dosa-dosa [catatan 3]
  4. Kedekatan dan kecintaan Allah [catatan 4]
  5. Shalawat dengan suara keras menghilangkan kemunafikan [catatan 5]
  6. Istighfar malaikat untuk penulis zikir shalawat [catatan 6][22]
  7. Faktor terijabahkan doa setelah shalawat [catatan 7]
  8. Penyelamat dari api neraka [catatan 8]
  9. Shalawat dengan ikhlas, faktor terkabulkannya hajat-hajat di dunia dan akhirat [catatan 9]
  10. Mendatangkan shalawat Allah dan malaikat untuk manusia [catatan 10]
  11. Menjauhkan manusia-manusia bersifat setan [catatan 11]
  12. Amal terbaik pada hari Jum’at [catatan 12]
  13. Bertemu Imam Zaman ajf [catatan 13]
  14. Setiap shalawat dibukakan pintu ampunan bagi manusia [catatan 14]
  15. Doa terbaik di rumah Allah [catatan 15]
  16. Pembersih amal [catatan 16]
  17. Penerang kubur, shirat dan surga [catatan 17]
  18. Orang paling terdekat dengan Nabi pada hari kiamat [catatan 18]
  19. Ganjaran shalawat tidak dapat dihitung oleh para malaikat [catatan 19]
  20. Penerang dan pembuka hati [catatan 20]
  21. Salah satu amal terbaik [catatan 21]
  22. Shalawat sepadan tasbih, tahlil, dan takbir [catatan 22]
  23. Shalawat yang disampaikan untuk Sayidah Az-Zahra sa menyebabkan pengampunan dosa-dosa dan dikumpulkan bersama Rasul di surga [catatan 23]

Dampak Meremehkan Shalawat

Seseorang yang tidak mengirimkan shalawat saat mendengar nama Nabi saw maka ia disebut kikir [catatan 24], lalim [catatan 25]dan rugi pada hari kiamat. [catatan 26].

Jika sebelum berdoa tidak membaca shalawat, maka doa tersebut terhijab dari naik ke langit dan terijabahkan jika diawali dengannya [catatan 27].

Shalawat Mandul/Buntung

Dinukilkan banyak riwayat dari Rasulullah saw bahwasanya dia bersabda, “Sempurnakanlah shalawat atasku disertai dengan shalawat atas keluargaku, shalawat yang tanpa disertai dengan shalawat atas keluargaku adalah mandul dan tidak sempurna”. Dalam sebagian riwayat, orang yang meninggalkan shalawat atas keluarga Rasulullah saw jauh dari surga dan disebut orang yang zalim terhadap haknya [catatan 28].[23] [24] - [25]

Tempat-tempat Shalawat

Shalawat sangat dianjurkan dalam banyak tempat. Menurut riwayat, membaca shalawat di setiap majelis adalah mustahab dan hal yang terpuji. [26] Sebagian yang lain, tempat terpenting bershalawat adalah sebagai berikut:

  • Saat menyebut Allah: Mustahab hukumnya ketika menyebut Allah, juga bershalawat atas Muhammad saw dan keluarganya. [27]
  • Seusai salat: Menurut riwayat muktabar, shalawat merupakan zikir terpenting setelah salat atau "ta’qibat" salat, sampai-sampai dalam "ta’qibat" umum yang dapat dibaca setelah semua salat, lebih dari tiga doa dinukil yang mencakup zikir shalawat. Dalam "ta’qib" khusus salat Shubuh juga dianjurkan untuk mengucapkan shalawat sebanyak seratus kali. Dalam "ta’qib" salat Maghrib juga dianjurkan untuk membaca ayat shalawat. [28] Di sejumlah masjid-masjid Syi'ah di Iran, seusai salat, pertama-tama dibacakan ayat shalawat dan setelah itu para jamaah salat mengucapkan shalawat sebanyak tiga kali.
  • Setelah ceramah: Menurut sebagian riwayat, mengucapkan shalawat di penghujung ceramah adalah hal yang mustahab dan sangat efektif. [29]
  • Di penghujung doa: Sangat dianjurkan untuk mengucapkan shalawat di akhir penggalan doa dan dalam riwayat, perbuatan ini sangat berpengaruh dalam terijabahkannya doa. [30]
  • Sebelum menyebut para nabi-nabi Allah: Dalam sebagian riwayat dikemukakan bahwa mustahab saat menyebut nama nabi-nabi Allah, sebelum membaca shalawat atas mereka, hendaknya mengirimkan shalawat atas Muhammad saw dan keluarganya. [31]
  • Untuk mengingat sesuatu yang terlupakan: Menurut sebagian riwayat untuk mengingat hal-hal yang terlupakan, shalawat adalah zikir yang efektif, dengan syarat shalawat tersebut adalah sempurna dan menyertakan juga Âli Muhammad saw. [32]

Khatam Shalawat

Khatam shalawat berartikan mengirim bilangan khusus shalawat. Semisalnya 100 shalawat atau 14000 shalawat (setiap seribu shalawat untuk setiap para maksum). Bilangan ini tidak memiliki akar Qurani maupun hadis. Dan mayoritas adalah hasil wejangan para ulama agama atau pelbagai budaya masyarakat. [33] Saat ini dalam sebagian komunitas Syi’ah diselenggarakan pertemuan-pertemuan dengan nama Khatam Shalawat, dan tujuan pertemuan-pertemuan ini adalah untuk sampai pada hajat khusus. [34] Dalam buku Atsâr wa Barakat Shalawat, mengkhususkan satu bagian khusus secara lengkap tentang beragam metode khatam shalawat. [35] Tidak ada satupun metode-metode ini yang disandarkan pada teks-teks hadis.

Catatan Kaki

  1. Majma’ al-Bahrain, jld. 1, hlm. 266.
  2. Kitab al-‘Ain, jld. 7, hlm. 153.
  3. Majma’ al-Bahrain, jld. 1, hlm. 266.
  4. Al-Dur al-Mantsur, jld. 5, hlm. 214.
  5. Syaikh Amuli, jld. 7, hlm. 199.
  6. Ibid., hlm. 195.
  7. Ibid.,
  8. Ibid., 1409, jld. 5, hlm. 96.
  9. Situs hauzah.
  10. Al-Mughni, Abdullah bin Qudamah, jld. 1, hlm. 579.
  11. Al-Bahr al-Raiq Syarh Kanzul Hadaiq, Zainuddin Ibn Najib al-Hanafi al-Mishri, jld. 1, hlm. 573; Dar al-Nasyr, Dar al-Ma’rifah, Beirut, cet. 2, Bi Ta, dan al-Syarh al-Kabir, Abu al-Barakat, jld. 1, hlm. 251, Dar al-Nasyr, Dar al-Fikr, Beirut, riset. Muhammad ‘Illish, Bi Ta, dan Badai’ al-Shana’i, Abu Bakar al-Kasani, jld. 1, hlm. 211, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1982, cet. 2.
  12. Situs hauzah.
  13. Ibid.,
  14. Syaikh Amuli, jld. 7, hlm. 194.
  15. Ibid.,
  16. Ibid.,
  17. Syaikh Shaduq, jld. 2, hlm. 183.
  18. Syaikh Kulaini, jld. 2, hlm. 493.
  19. Syaikh Amili, jld. 7, hlm. 196.
  20. Ibid., hlm. 193.
  21. Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 47-73.
  22. Dinukilkan bahwa seorang laki-laki di Bashrah menulis hadis. Dan dikarenakan sampai pada nama beliau saw, ia dengan sengaja tidak menuliskan shalawat, tidak lama kemudian tangannya terkena penyakit, dan secara keseluruhan tangan tersebut lepas. (Syarh Shalawat, karya Ahmad bin Muhammad Huseini Ardakani, hlm. 61).
  23. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang bershalawat untukku dan tidak bershalawat untuk keluargaku, maka ia tidak akan mencium aroma surga, dimana aromanya tersebut tercium dari jarak lima ratus tahun. [Amâli Syaikh Shaduq, hlm. 267 dan 462; Amâli Syaikh Thusi, hlm. 424; Raudhah al-Waidhîn, hlm. 323; Nabdzah al-Baghi, hlm. 387; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 203; al-Fhushul al-Muhimmah, jld. 3, hlm. 333; Bihar al-Anwar, jld. 8, hlm. 186, dan jld. 91, hlm. 56; Nur al-Barahin, jld. 1, hlm. 201; Ghayât al-Marâm, jld. 1, hlm. 251; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 478; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 367].
  24. Dari Abu Abdillah as: ayahku mendengar seseorang bergelantung di Ka’bah seraya berkata, Allahumma Shalli Ala Muhammad, kemudian ayahku berkata kepadanya, wahai Abdullah! Janganlah engkau kurangi, janganlah engkau menzalimi hak kami, katakanlah, Allahumma shalli Ala Muhammad wa Ali Muhamamad wa Ahlibaitihi. [Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 495; Uddat al-Da’i, hlm. 841; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 202; Nur al-Barahîn, jld. 1, hlm. 201; Riyadh al-Salikîn, jld. 2, hlm. 120; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 488].
  25. Syaikh Amuli, jld. 7, hlm. 201.
  26. Syaikh Amili, jld. 7, hlm. 201.
  27. Ibid.,
  28. Syaikh Amuli, 1409, jld. 5, hlm. 96; Mafatih al-Jinân, bab pertama, fadhl pertama.
  29. Syaikh Amili, jld. 7, hlm. 199.
  30. Ibid.,
  31. Ibid.,
  32. Ibid.,
  33. Rahi sodeh baroye bar owarde shudane Hawaij (cara sederhana untuk terkabulkannya hajat.)
  34. Khatam shalawat keh migirand cist?
  35. Anwa’ khatamhaye shalawat (jenis-jenis khatam shalawat).

Catatan-catatan

  1. Imam Ridha as berkata, “Barang siapa yang tidak mampu untuk mengkafarah dosa-dosanya, maka hendaknya ia memperbanyak bershalawat atas Muhammad saw dan keluarganya, karena sesungguhnya shalawat menghancurkan dosa-dosa”. Dan beliau juga berkata, “Shalawat atas Muhammad dan keluarganya, di keharibaan Allah swt setara dengan tasbih, tahlil, dan takbir”. (Bihar al-Anwar, jld. 25, hlm. 229, bab 7, hadis 20; ‘Uyun Akhbar al-Ridha as, jld. 1, hlm. 236, hadis 1.)
  2. Abu Abdillah atau Abu Ja’far as berkata, “Amal terberat yang diletakkan dalam mizan pada hari kiamat adalah bershalawat atas Muhammad dan (atas) keluarganya”. (Qurb al-Asnad, hlm. 15; Wasail al-Syi’ah, jld, 7, hlm. 197; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 49; Riyadh al-Salikîn, jld. 1, hlm. 426; Jami Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 62; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 367; Mizan al-Hikmah, jld. 2, hlm. 1662.)
  3. Suatu hari Rasulullah saw berkata kepada Imam Ali as, “Maukah engkau aku beri kabar gembira? Demi ayah dan ibuku jadi tebusanmu, engkau selalu pemberi kabar baik. Beliau berkata, Jibril sekarang ini membawakan berita kepadaku untukmu. Imam menjawab, kabar apakah itu? Beliau menjawab, ia mengabarkan, ketika salah seorang dari umatku mengirimkan shalawat untukku dan menyambung shawalat tersebut dengan shalawat atas keluargaku, maka pintu-pintu langit terbuka untuknya dan para malaikat mengirimkan tujupuluh shalawat untuknya, dan jika ia seorang pendosa, maka dosa-dosanya akan gugur seperti daun-daun pepohonan dan Allah berkata kepadanya, Labbaika ya ‘Abdi wa Sa’daika dan Dia berkata kepada para malaikat, kalian kirimkanlah shalawat untuk hamba-Ku, Aku telah mengirimkan shalawat untuknya. Namun jika ia bershalawat atasku dan tidak menyambung shalawat tersebut dengan Ahlulbaitku, maka antara ia dan langit terdapat tujupuluh hijab, dan Allah berkata, La Labbaika wa La Sa’daika. Wahai malaikat-Ku! Janganlah kalian angkat doanya, kecuali ia mengirimkan shalawat atas keluarga Nabi. Seseorang seperti ini tidak berhak mendapatkan rahmat Allah sampai ia mengirimkan shalawat atas Ahlulbaitnya”. (Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 56, bab 29, hadis. 30; al-Amâli, Syaikh Shaduq, hlm. 580.)
  4. Junjungan kami, Ali bin Muhammad as berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan nabi Ibrahim sebagai Khalil (kekasih) dikarenakan banyak bershalawat atas Muhammad dan Ahlulbaitnya (salamullah alaihim)”. (‘Ilal al-Syara’i, jld. 1, hlm. 34; al-Mukhtashar, hlm. 139, Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 194; Bihar al-Anwar, jld. 12, hlm. 4, jld. 91, hlm. 54; Nur al-Tsaqalain, jld. 1, hlm. 555; Kanzul Daqaiq, jld. 2, hlm. 635; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 474.)
  5. Rasulullah saw bersabda, “Keraskanlah suara kalian ketika bershalawat atasku, karena sesungguhnya shalawat menghilangkan kemunafikan”. (Ushul al-Kafi, jld. 2, hlm. 493; Tsawab al-A’mal, hlm. 159; Makarim al-Akhlak, hlm. 312; al-Muktashar, hlm. 76; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 192 dan 200; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 59; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 464.)
  6. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa bershalawat atasku dalam tulisan, selama namaku masih tetap tertulis disitu, maka para malaikat akan terus memintakan ampunan untuknya”. (Jami’ al-Akhbar, hlm. 61; Munyat al-Munir, hlm. 347; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 71; Manazil al-Akhirah, hlm. 203; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 369; Mizan al-Hikmah, jld. 2, hlm. 1662.)
  7. Imam Shadiq as berkata, “Apabila kalian berdoa, maka mulailah dengan bershalawat atas Nabi saw; karena sesungguhnya shalawat atas Nabi saw dan keluarganya diterima dan tidak ada pada Allah untuk menerima sebagian doa dan menolak sebagian lainnya”. (Amâli Syaikh Thusi, hlm. 172; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 96; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 533; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 239.)
  8. Junjungan kami Imam Shadiq as berkata kepada Shabah bin Sayabih, “Maukah kamu saya ajari sesuatu yang mana Allah dengannya menjaga wajahmu dari panas api neraka? Ia berkata, saya berkata, iaya, imam berkata, katakanlah setelah fajar, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad seratus kali, Allah (dengan keberkahan zikir ini) akan menjaga wajahmu dari panas api neraka”. (Tsawab al-A’mal, hlm. 155; Jami’ al-Akhbar, hlm. 159; al-Muhtashar, hlm. 76; Wasail al-Syi’ah, jld. 6, hlm. 479; Bihar al-Anwar, jld. 83, hlm. 135, jld. 91, hlm. 58 dan 65; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 337.)
  9. Imam Shadiq as berkata, “Barang siapa yang bershalawat atas Nabi dan keluarganya sekali dengan niat dan ikhlas dari lubuk hatinya, maka Allah akan memenuhi seratus hajat untuknya; tigapuluh diantaranya di dunia dan 70 di akhirat”. (Al-Da’awat, hlm. 89; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 70; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 331.)
  10. Dari Imam Shadiq as dari Nabi saw: “Barang siapa yang bershalawat atasku, maka Allah dan para malaikat-Nya akan bershalawat untuknya dan barang siapa yang menghendaki sedikit dan barang siapa yang menghendaki banyak, maka bershalawatlah”. (Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 492; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 194; Riyadh al-Salikîn, jld. 1, hlm. 452; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 465.)
  11. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya setan ada dua: setan dari jin dan diusir dengan La Haula Wa la Quwwata Illa Billahi al-Aliyyi al-Adzîm, dan setan manusia dan diusir dijauhkan dengan bershalawat atas Nabi dan keluarganya”. (Bihar al-Anwar, jld. 92, hlm. 136; Mustadrak al-Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 342; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 464.)
  12. Dari junjungan kami Imam Shadiq as: “Tidak ada amal yang lebih baik dan lebih utama pada hari Jum’at selain bershalawat atas Muhammad dan keluarganya”. (Raudah al-Waidhîn, hlm. 392; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 381; Bihar al-Anwar, jld. 56, hlm. 27, jld. 86, hlm. 268, jld. 91, hlm. 50; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 6, hlm. 188; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 2, hlm. 89, jld. 4, hlm. 445; jld. 6, hlm. 367.)
  13. Dari Imam Shadiq as: “Barang siapa yang berkata setelah salat Dhuhur dan shalat Fajar pada hari Jumat dan selainnya, Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad wa Ajjil Farajahum, ia tidak akan mati kecuali menjumpai al-Qaim al-Mahdi af”. (Mishbah al-Mutahajjid, hlm. 369; Jamal al-Usbu’, hlm. 261; Hasyiah al-Mishbah (Kafa’mi), hlm. 65; Bihar al-Anwar, jld. 83, hlm. 77; jld. 86, hlm. 363, jld. 87, hlm. 65; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 96, jld. 6, hlm. 366; Mikyal al-Makarim, jld. 1, hlm. 344, jld. 2, hlm. 11; Manazil al-Akhirah, hlm. 205; Jami Ahadis al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 134, jld. 5, hlm. 377; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 366.)
  14. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa bershalawat untukku sekali, maka Allah akan membukakan untuknya pintu kesehatan dan keselamatan (agama dan dunia)”. (Jami’ al-Akhbar, hlm. 153; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 63; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 333; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 474; Mizan al-Hikmah, jld. 3, hlm. 202.)
  15. Abdus Salam bin Nu’aim berkata kepada junjungan kami Imam Shadiq as, “Sesungguhnya aku memasuki Ka’bah dan tidak terlintas dibenakku suatu doa kecuali bershalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Beliau berkata, ketahuilah tidak ada seorangpun yang melakukan amal lebih baik dan lebih utama dari amalmu”. (Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 494; Tsawab al-A’mal, hlm. 155; Uddat al-Da’i, hlm. 150; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 193; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 57, jld. 96, hlm. 369; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 474.)
  16. Dari Nabi saw: “Shalawat kalian atasku menyebabkan terijabahkannya doa, keridhaan, dan kesenangan Allah swt serta pensuci amal-amal kalian”. (Jami al-Akhbar, hlm. 165; Jamal al-Usbu’, hlm. 159; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 68; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 224, 225, dan 329; Jami Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 338, dan 366.)
  17. Rasulullah saw bersabda, “Perbanyaklah bershalawat atasku, karena sesungguhnya shalawat atasku adalah cahaya di dalam kubur, dan cahaya di atas shirat, dan cahaya di surga”. (Al-Da’awat, hlm. 216; Bihar al-Anwar, jld. 79, hlm. 64, jld. 91, hlm. 70; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 332; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 469.)
  18. Rasululah saw bersabda, “Paling dekatnya kalian denganku pada hari kiamat adalah paling banyaknya kalian bershalawat atasku (di dunia)”. (Jami’ al-Akhbar, hlm. 154; Makarim al-Akhlak, hlm. 312; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 63; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 334.)
  19. Pada malam Mi’raj setelah Nabi melihat malaikat menghitung jumlah tetesan hujan, malaikat berkata kepada beliau saw, “Wahai Rasulullah! Ada hitungan dan jumlah yang tidak mampu aku hitung dengan segenap kemampuanku. Beliau berkata, hitungan apakah itu?! Setiap kali sekelompok dari umatmu berkumpul di sebuah tempat dan setelah mendengar namamu, lantas mereka bershalawat untukmu, maka aku tidak mampu untuk menghitung ganjaran mereka”. (Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 5, hlm. 356; Manazil al-Akhirah, hlm. 205; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 468.)
  20. Dari junjungan kami Al-Hasan bin Ali as: “Sesungguhnya hati seseorang didalam wadah dan bejana dan diatasnya terdapat tirai dan penutup, setiap kali seseorang bershalawat atas Muhammad dan keluarga Muhamamd dengan shalawat seutuhnya dan sempurna – shalawat sempurna yakni disamping bershawalat kepada Rasulullah dan Âl (keluarga) beliau, juga bershalawat atas keluarga mulia beliau as – maka tirai tersebut akan tersingkap dan hatinya akan terang dan seseorang akan mengingat apa yang telah dilupakannya. Namun jika ia tidak bershalawat atau bershalawat tidak sempurna, maka penutup tersebut akan tetap berada diatas hatinya dan hatinya akan gelap dan tidak dapat mengingat-ingat apa-apa yang telah dilupakan”. (Al-Imamah wa al-Tabshirah, hlm. 107; al-Ghaibah (Nu’mani), hlm. 67; Kamaluddin, hlm. 314, ‘Ilal al-Syara’i, jld. 1, hlm. 97; ‘Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 68; Dalail al-Imamah, hlm. 175; I’lam al-Wara, jld. 2, hlm. 192; al-Ihtijaj, jld. 1, hlm. 397; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 199; Bihar al-Anwar, jld. 36, hlm. 419, jld. 58, hlm. 37; jld. 91, hlm. 51; Nur al-Tsaqalain, jld. 1, hlm. 828; Ilzam al-Nashib, jld. 1, hlm. 192; Jami’ al-Ahadis, jld. 15, hlm. 490.)
  21. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda, “Semalam saya melihat pamanku Hamzah bin Abdul Muththalib dan saudaraku, Ja’far bin Abi Thalib dan di antara tangan keduanya terdapat nampan dari buah pohon sidir. Selang satu jam setelah mereka makan, buah tersebut berubah menjadi anggur. Setelah mereka makan sedikit, anggur tersebut berubah menjadi kurma baru. Setelah ia makan sedikit, kemudian saya mendekati mereka dan saya berkata, demi ayahku menjadi tebusan kalian, amalan apakah yang paling utama yang telah kalian lakukan? Mereka berdua berkata, ayah dan ibu kami jadi tebusanmu, kami mendapati amal terbaik adalah bershalawat atasmu, memberi air minum kepada orang lain, dan mencintai Ali bin Abi Thalib as”. (Da’awat, hlm. 90; al-‘Aqd al-Nadhid, hlm. 92; Kasyf al-Yaqin, hlm. 231; Kasyf al-Ghimmah, jld. 1, hlm. 94; Madinah al-Ma’ajiz, jld. 3, hlm. 35; Ghayât al-Marâm, jld. 6, hlm. 54; Bihar al-Anwar, jld. 39, hlm. 274, jld. 22, hlm. 284, jld. 71, hlm. 369, jld. 91, hlm. 70; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 25, jld. 5, hlm. 331; Jami’ Ahadis, jld. 8, hlm. 514, jld. 15, hlm. 471.)
  22. Dari Abul Hasan al-Ridha as: “Bershalawat atas Muhamamd dan keluarganya disisi Allah setara tasbih (zikir Subhanallah), Tahlil (zikir La Ilaha Illallah), dan Takbir (zikir Allahu Akbar)”. (Amâli Shaduq, hlm. 132; ‘Uyun Akhbar al-Ridha, jld. 2, hlm. 265; Raudhah al-Waidhîn, jld. 2, hlm. 322, Jami’ Akbar, hlm. 156; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 194; Bihar al-Anwar, jld. 91, hlm. 74; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 463.)
  23. Dari junjungan kami Fatimah Az-Zahra as berkata, “Rasulullah saw berkata kepadaku, wahai Fatimah! Barang siapa yang bershalawat kepadamu maka Allah akan mengampuninya dan menyertakannya denganku di setiap tempat di surga dimanapun saya berada”. (Kasyf al-Ghimmah, jld. 2, hlm. 100; Bihar al-Anwar, jld. 43, hlm. 55, jld. 97, hlm. 194; al-Khashais al-Fatimiyyah, jld. 2, hlm. 467’ al-Lum’ah al-Baidha’, hlm. 291; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 10, hlm. 211; al-Anwar al-Bahiyyah, hlm. 67; Bait al-Ahzan, hlm. 35; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 12, hlm. 266; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 370’ Mizan al-Hikmah, jld. 2, hlm. 1197.)
  24. Dari al-Husein bin Ali as dari datuknya Rasulullah saw: “Orang yang benar-benar kikir adalah orang ketika namaku disebut disisinya, ia tidak bershalawat kepadaku”. (Ma’ani al-Akhbar, hlm. 246; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 204; Bihar al-Anwar, jld. 70, hlm. 306, jld. 91, hlm. 55; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 484; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 1, hlm. 289 dan 367; Mizan al-Hikmah, jld. 1, hlm. 2344.)
  25. Rasulullah saw bersabda, “Paling kejinya seseorang adalah ketika namaku disebut disisinya, ia tidak bershalawat kepadaku”. (Majmu’ah Warram, jld. 2, hlm. 235; Uddat al-Da’i, hlm. 35; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 151-207; Bihar al-Anwar, jld. 81, hlm. 257, jld. 91, hlm. 71; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 361.)
  26. Dari Imam Shadiq as berkata, “Apabila disebut nama Nabi saw, maka perbanyaklah membaca shalawat untuknya, karena barang siapa yang bershalawat sekali untuk Nabi saw, maka Allah akan bershalawat untuknya seribu kali dalam seribu barisan malaikat, dan tidak ada satupun dari apa yang diciptakan oleh Allah kecuali bershalawat kepada seorang hamba dikarenakan shalawat Allah dan shalawat para malaikat-Nya, maka barang siapa yang tidak tertarik dengan ini, maka ia adalah orang yang bodoh lagi congkak, Allah telah berlepas diri darinya dan juga rasul-Nya dan Ahlulbaitnya”. (Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 492; Tsawab al-A’mal, hlm. 154; Jamal al-Usbu’, hlm. 156; Makarim al-Akhlak, hlm. 312; Jami al-Akhbar, hlm. 158; Masyariq Anwar al-Yaqin, hlm. 279; Ta’wil al-Ayat, jld. 2, hlm. 461; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 193; Ghayât al-Marâm, jld. 3, hlm. 256; Bihar al-Anwar, jld. 17, hlm. 30; jld. 91, hlm. 57; Riyadh al-Salikîn, jld. 1, hlm. 452; Mustadrak Wasail al-Syi’ah, jld. 6, hlm. 398; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 468.)
  27. Dari Nabi dan Amiril Mukmin dan as-Shadiq as: “Setiap doa yang dipanjatkan kepada Allah swt terhijabi (tidak naik) ke langit sampai ia bershalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad”. (Ushul Kafi, jld. 2, hlm. 493; Tsawab al-A’mal, hlm. 155; al-Muqni’, hlm. 297; Raudhah al-Waidzin, hlm. 329; Jami’ al-Akhbar, hlm. 158; al-Arba’în, hlm. 482; Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 92; Ghayât al-Marâm, jld. 3, hlm. 255; Bihar al-Anwar, jld. 90, hlm. 311, jld. 91, hlm. 58 dan 65; Jami’ Ahadis al-Syi’ah, jld. 15, hlm. 237.)
  28. Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang "batra’" (tidak sempurna). Mereka berkata, dan apa itu shalat "batra’" wahai Rasulullah? Rasulullah saw berkata, janganlah kalian mengatakan, Allahumma Shalli ‘ala Muhammad dan kalian berhenti, namun katakanlah, Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad”. (Al-Shirat al-Mustaqîm, jld. 1, hlm. 191; al-Arbaîn, hlm. 482; Mustadrak Safinah al-Bihar, jld. 6, hlm. 369; rujuklah shalawat mabturah, Wasail al-Syi’ah, jld. 7, hlm. 207; Bihar al-Anwar, jld. 5, hlm. 209; jld. 90, hlm. 14; Jami’ Ahadis, jld. 15, hlm. 488; Ahlusunnah juga menukilkan hadis-hadis dengan makna ini, rujuklah ke, al-Shawaiq al-Muhriqah, hlm. 232 dan dalam buku al-Ghadir, jld. 2, hlm. 303; Syarh Ihqaq al-Haq, jld. 9, hlm. 524-643, jld. 3, hlm. 252-274.)

Daftar pustaka

  • Amuli, Syaikh Hur, Mustadrak Wasail al-Syi’ah, Muassasah Al al-Bait as, Qom, 1409 H.
  • Farahidi, Khalil bin Ahmad, Kitab al-‘Ain, Intisyarat Hijrat, cet. 2, Qom, 1410 H.
  • Kulaini, al-Kafi, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyyah Tehran, 1365 S.
  • Syaikh Shaduq, Man La Yahdhuruhul Faqih, Intisyarat Jami’ah Mudarrisin Qom, 1413 H.
  • Thuraihi, Fakhruddin bin Muhammad, Majma’ al-Bahrain, riset, Ahmad Huseini Asykuri, Nasyr Murtadhawi, Tehran, 1375 S.