Prioritas: aa, Kualitas: c
tanpa infobox

Masjid Nabawi

Dari WikiShia
Lompat ke: navigasi, cari
Kubah hijau Masjid Nabawi di Kota Suci Madinah

Masjid Nabawi (Masjid al-Nabi),(bahasa Arab:مسجد النبی) masjid Rasulullah saw di kota Madinah, yang mana pusara Nabi juga ada di situ. Masjid ini adalah masjid tersuci kedua Islam setelah Masjidil Haram dan Nabi saw membangunnya pada tahun pertama Hijriah/623. Rumah Rasulullah saw dan rumah Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa juga berada di samping masjid tersebut dan menjadi bagian dari masjid seiring dengan perluasannya. Masjid Nabawi termasuk tempat ziarah terpenting umat muslim dan memiliki kedudukan khusus bagi kalangan Syiah.

Nama-nama Masjid

Rasulullah saw mendirikan salat Jamaah di Masjid Nabawi dan memperluas aktivitas-aktivitas politik dan sosialnya di masjid ini dan karenanya, lambat laun masjid tersebut dinamakan dengan Masjid al-Nabi (Masjid Nabawi). Selain itu, rumah Nabi juga bersambung dengan masjid tersebut. Dalam sebuah riwayat, Nabi sendiri mengungkapkan Masjid Nabawi dengan ungkapan-ungkapan seperti Masjidi (masjidku). [1] Masjid ini juga disebut dengan Jami' al-Madinah, Masjid al-Rasul, Masjid Rasulullah, Masjid Nabawi dan masjid Madinah. Masjid ini terletak di pusat kota Madinah negara Arab Saudi[2]

مسجد النبی (مدینه).jpg

Letak Geografi

Masjid Nabawi terletak pada koordinat 24°28 LU dan 39°36 BT (24°28'8"N dan 39°36'39"E). Masjid ini merupakan pusat kota Madinah, di propinsi Madinah, Arab Saudi dan dengan ketinggian 597 meter dari atas permukaan laut. [3]

Posisi dan Urgensitas Masjid

Posisi Mazhabi dan Spiritual

  • Masjid Nabawi - setelah Masjidil Haram - termasuk masjid tersuci umat muslim dan memiliki hukum-hukum fikih tersendiri.
  • Adanya sebagian tempat-tempat di masjid tersebut dan juga di sekitarnya, semakin menambah urgensitas masjid. Di antaranya adalah rumah Rasulullah saw di masjid tersebut dan juga adanya Baqi', yang menjadi tempat pemakaman para sahabat era awal Islam.[4]
  • Umat muslim sesudah atau sebelum menunaikan kewajiban haji, mayoritas mereka menziarahi masjid tersebut dan menganggap ziarah masjid ini berpengaruh dalam kesempurnaan spiritual perjalanan haji.[5]

Posisi Masjid Nabawi di sisi Syiah

Sejak dahulu kala, Masjid Nabawi memiliki kedudukan istimewa di sisi komunitas Syiah. Hal tersebut juga diisyaratkan dalam sebagian catatan perjalanan haji. Menurut komunitas Syiah, sebagian urgesitas masjid tersebut adalah sebagai berikut:

  • Menurut riwayat, kemungkinan salah satu tempat dikuburkannya Sayidah Fatimah sa adalah di dalam Masjid Nabawi yang letaknya antara Pusara Nabi saw dengan Mimbar Nabi saw.[6]
  • Masjid ini memiliki kedudukan khusus di sisi kaum Syiah dengan bertolak pada perisitwa-peristiwa sejarah yang terjadi karena berkaitan dengan Ahlulbait as
  • Keberadaan pemakaman Baqi' di samping masjid dan pusara empat imam Syiah di pemakaman tersebut.[7]

Posisi Politik dan Sosial

Masjid Nabawi di samping tempat ibadah kaum muslimin era awal Islam, juga menjadi tempat pertemuan dan jamaah serta memiliki peran penting dalam kohesi dan persatuan kaum muslimin. Keputusan-keputusan penting politik dilakukan di masjid ini dan Rasulullah saw menggunakan masjidnya laksana sebuah markas untuk mengatur pemerintahan dan penyelenggaraan pertemuan-pertemuan politik, militer dan sosial. [8]

Tempat-tempat dan Benda-benda Terkenal Masjid Nabawi

Rumah/ Makam Rasulullah saw

Bilik/rumah Rasulullah saw terletak di sebelah timur Masjid Nabawi, yang sekaligus menjadi tempat penguburannya dan menjadi bagian dari masjid seiring dengan perluasan-perluasan berikutnya. Perombakan dan perenovasian bilik telah diturukan secara mendetail dalam referensi sejarah Madinah. [9]

Pusara Sayidah Fatimah sa

Mayoritas Ahlusunah berpendapat tempat dikuburkannya Sayidah Fatimah sa adalah Baqi'[10], namun menurut beberapa riwayat Syiah, tempat kuburan Sayidah Fatimah adalah rumahnya sendiri, yang sekarang ini termasuk bagian dari Masjid Nabawi. Semisalnya, dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as dikatakan, "Fatimah sa dikuburkan di rumahnya, yang berikutnya Umar bin Abdul Aziz menjadikannya sebagai masjid". [11] Ulama Syiah juga, meski tidak menyatakan secara yakin, memprediksikan kemungkinan tempat dikuburkan Sayidah Fatimah sekarang ini adalah sebuah tempat di Masjid Nabawi. [12]

Pintu-pintu Masjid

Pintu-pintu masjid Nabawi termasuk salah satu pembahasan yang diulas secara terperinci dalam pustaka terkenal dalam pengenalan tentang Madinah. Sejak abad pertama hijriah sampai era modern, jumlah pintu-pintu masjid senantiasa mengalami perombakan. Awalnya Masjid Nabawi memiliki tiga pintu:

  • Sebelum perubahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Mekah, terdapat sebuah pintu di bagian selatan, yang kemudian ditutup pasca perubahan Kiblat dan sebagai gantinya, dibuka sebuah pintu lain di bagian utara masjid. [13]
  • Pintu yang masyhur dengan Bab al-Rahmah, Bab Atikah dan Bab Nabi di sebelah Barat masjid. Pintu ini menghadap rumah seorang wanita dari Muhajirin dan karena itulah dinamai dengan nama tersebut. Pintu ini juga disebut dengan Bab al-Suq. Sebab penamaan Bab Nabi, karena Rasulullah saw memasuki masjid lewat pintu tersebut. Sebab penamaan Bab al-Rahmah, karena sebuah peristiwa dimana salah seseorang memasuki pintu masjid tersebut dan meminta kepada Rasulullah supaya mendoakan agar diturunkan hujan, dan hujan pun turun lebat pasca doanya. [14]
  • Pintu arah timur masjid, yang masyhur dengan Bab Utsman dan Bab Jibril. Pintu ini menghadap rumah Utsman bin Affan. Mereka mengatakan Jibril turun menemui Rasulullah di tempat tersebut saat perang Bani Quraidhah. [15]
  • Pintu-pintu masjid pun ditambah seiring dengan pelbagai perluasan dan pelebaran dalam sepanjang sejarah, dan terkadang sebagian pintu yang lain pun ditutup. Sekarang ini, Masjid Nabawi kurang lebih memiliki 86 pintu. [16]

Pilar

Sejak dahulu, pilar-pilar masjid Nabawi termasuk salah satu topik pustaka dalam pengenalan tentang Madinah. Dalam referensi Arab, pilar-pilar tersebut disebut dengan Usthuwanah dan Asāthīn. Sebagian pilar-pilar tersebut terkenal karena beberapa dalih, diantaranya adalah:

Usthuwanah Hannanah

Mereka mengatakan, Rasulullah saw bersandar pada pilar tersebut saat melakukan khotbah Jumat dan karena mereka membuat mimbar masjid, maka Nabipun meninggalkan tiang tersebut. Menurut sebagian riwayat, pilar ini menangis ketika Nabi wafat dan inilah yang menyebabkan popularitasnya. Pilar ini terbuat dari pelepah kurma dan merekapun menguburkannya. [17] Sekarang ini dibuatkan pilar lain, sebagai gantinya. [18]

Usthuwanah At-Taubah

Pilar Taubat atau pilar Abu Lubabah termasuk pilar kedua dari arah kamar atau pusara mulia dan pilar keempat dari arah mimbar. Sebab popularitas pilar ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada Abu Lubabah, Rifa'ah bin al-Mundzir. Karena pengkhianatannya terhadap Rasulullah saw dalam peristiwa Bani Quraidhah, akhirnya ia mengikat dirinya di tiang Masjid Nabawi sampai akhirnya turunlah surah Al-Anfal ayat 28, dan menerima taubatnya. [19]

Usthuwanah Al-Muhris/Al-Haris

Nama lain pilar ini adalah pilar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. [20] Terkait sebab penamaan pilar tersebut dikatakan bahwa di awal kehadiranan Rasulullah saw di Madinah, karena dikhawatirkan ada yang hendak mencederai Nabi, Imam Ali as duduk di samping pilar tersebut, menjaga dan melindungi Rasulullah, hingga akhirnya turunlah ayat 67 dari surah Al-Maidah dan Rasulullah saw melarang Ali akan hal tersebut. Dikatakan pula bahwa Imam Ali mendirikan salat di samping pilar tersebut. [21]

Mimbar Rasulullah

  • Awalnya, Rasulullah saw bersandar pada pohon kurma saat berpidato di masjid Madinah. Kemudian dibuatkan sebuah mimbar untuknya pada tahun ketujuh atau kedelapan hijriah. [22]
  • Mimbar ini memiliki dua tangga dan sebuah tempat untuk duduk[23] dan telah dituturkan fadhilahnya dalam sebuah riwayat dari Rasulullah dalam referensi yang ada. [24]

Mimbar tersebut masih ada di dalam masjid setelah Nabi wafat dan para khalifah juga para penguasa Madinah pada masa-masa berikutnya hanya sedikit merubahnya, seperti Muawiyah bin Abi Sufyan, dengan menambahkan empat tangga lainnya. Pada masa Abbasiah dengan melihat kekunoan mimbar, maka mereka menggantinya dan menaruh mimbar lain di tempat tersebut. Sebuah mimbar yang ada sekarang ini di Masjid Nabawi, yang dibuat dengan perintah Sultan Murad Utsmani pada tahun 998 H. Mimbar ini memiliki 12 tangga dan dianggap sebagai salah satu karya sejarah dan seni. [25]

Mihrab

Ada beberapa mihrab di masjid Nabawi, yang paling populer adalah sebagai berikut. Dituturkan bahwa dua mihrab lain ada di arah Kiblat, salah satunya adalah mihrab Utsmani yang dinisbahkan kepada para raja-raja Utsmani, yang sekarang ini para imam masjid berdiri di situ dan mengimami salat dan yang lain adalah mihrab Sulaimani (yang dibuat pada tahun 860 H), dengan nama Sultan Sulaiman Utsmani, yang sekarang ini juga ada di dalam masjid tersebut. [26]

Mihrab Rasulullah

Di dalam Masjid Nabawi ada sebuah tempat yang dibangun untuk sebuah mihrab; namun di dalam masjid, Rasulullah saw tidak memiliki sebuah mihrab dan mihrab ini dibuat bertahun-tahun setelahnya dan dikatakan mihrab tersebut dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz, di sebuah tempat yang dipakai salat oleh Rasulullah dan kemuliaan serta kesucian mihrab tersebut karena alasan tersebut. [27]

Mihrab Tahajjud

Mihrab Tahajjud, yang sekarang ini sudah tidak ada, adalah sebuah tempat di samping sebuah pilar, dengan nama tersebut. Rasulullah saw berdiri di samping pilar tersebut untuk melaksanakan salat malam atau tahajjud dan pada abad-abad berikutnya, maka dibangunlah sebuah mihrab di situ guna mengenang dan menghormati Nabi saw, yang populer dengan mihrab Tahajjud dan dibongkar pada masa Āl Saud. [28]

Mihrab Sayyidah Fatimah Sa

Mihrab ini terletak di selatan mihrab tahajjud, di dalam kamar atau rumah Sayidah Fatimah Sa, yang menjadi bagian dari masjid dan kerangkanya dapat terlihat dari balik jendela masjid sekarang ini. Mihrab tersebut telah dikemukakan dalam beberapa riwayat, seperti: Imam Hasan al-Mujtaba as berkata: Aku melihat ibundaku Fatimah pada malam jumat di mihrabnya, yang terus berdiri sampai subuh dan menyebut nama-nama laki-laki mukmin dan mukminah dan mendoakan untuk mereka. Aku berkata: Wahai Ibu! Kenapa engkau tidak mendoakan untuk dirimu? Ia menjawab: Anakku! Pertama tetangga kemudian keluarga. [29]

Sejarah Singkat

Periode Nabawi

  • Secara historis, Masjid Nabawi adalah masjid kedua dalam Islam yang dibangun setelah masjid Quba. [30]
  • Ketika Rasulullah saw memasuki kota Yatsrib, banyak sekali masyarakat yang menghendaki Nabi untuk menjadi tamu mereka. Rasulullah saw melepaskan untanya dan memutuskan dimanapun unta ini berhenti, disitulah ia akan bertempat tinggal. Unta berlutut di tempat masjid sekarang ini dan mereka membangun masjid dan rumah beliau di tempat tersebut. Sebelum dibangun rumah dan masjid, beliau tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari, rumah paling terdekat dengan tempat tersebut. [31]
  • Rasulullah saw dan kaum muslimin kesemuanya saling berpartisipasi dalam pembangunan masjid. [32]
  • Dinukilkan bahwa bangunan pertama masjid terbuat dari tembok-tembok dari bata dan tanah dan langit-langit dari pohon korma, yang berdiri di atas pilar-pilar dari bata dan tanah dan luasnya kurang lebih sekitar 1.050 m². Masjid ini mengalami perluasan pada tahun dan abad-abad berikutnya. [33]
  • Dengan dibangunnya masjid, banyak sekali kaum muslimin membangun rumah di sekitarnya, dan karena itulah Masjid Nabawi menjadi pusat dalam perluasan kota Madinah.
  • Sebagian masjid beratapkan tangkai dan pelepah pohon kurma dan saat hujan tirun air masuk ke dalam masjid dan masjid berlantaikan tanah. [34]
  • Bangunan awal masjid memiliki tiga pintu, yaitu satu pintu di tembok selatan, sebuah pintu di tembok utara dan sebuah pintu di tembok barat. [35]
  • Perubahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Mekah pada tahun kedua Hijriah menyebabkan perombakan-perombakan pada masjid dan bagian beratap masjid dipindah ke arah selatan masjid dan suffah, yang sebelumnya ada di bagian selatan masjid dipindah di bagian utara masjid. [36] Dengan perubahan ini, pintu tembok selatan yang sekarang ini menghadap Kiblat ditutup. [37]
  • Pada tahun ketujuh Hijriah, penyebaran Islam dan peningkatan jumlah kaum muslimin mengharuskan perluasan kawasan masjid dan kawasannya mencapai 2475 m² dan bentuk masjid menjadi persegi empat. [38]
  • Sekarang ini terdapat pagar besi keemasan di selatan masjid, arah Kiblat dan dari timur sampai barat masjid yang menunjukkan batas selatan masjid masa Rasulullah dan dipasang pilar-pilar oleh raja Abdul Majid Utsmani di ujung serambi pertama masjid, yang menaungi halaman pertama adalah batas utara Masjid Nabawi. Pilar-pilar tersebut terletak di depan Bab An-Nisa’. [39]
  • Batasan timur masjid era awal Islam di sebelah pusara Rasulullah, tiang kelima di sebelah kiri mimbar dan dengan kadar empat jengkal, di dalam sebuah tempat yang dibentangi terali logam dan tempat pusara Rasulullah. Sejatinya, bagian kecil dari tanah masjid utama di sebelah timur, terletak di dalam batas tempat makam beliau. [40]
  • Bersamaan dengan pembangunan masjid, di dinding timur masjid dibangun dua rumah atau kamar untuk tempat tinggal Rasulullah saw dan istri beliau, Saudah dan Aisyah. Untuk berikutnya, para sahabat Rasulullah dan juga setiap orang yang mampu membuat kamar-kamar di samping masjid. Rumah-rumah tersebut memiliki pintu menembus masjid dan mereka masuk lewat pintu tersebut pada waktu salat. Pada tahun kedua diperintahkan supaya pintu-pintu tersebut ditutup, kecuali pintu rumah Ali as dan Fatimah Sa. [41] Peristiwa ini terkenal dengan nama Sadd al-Abwab (penutupan pintu).

Periode Khalifah Kedua dan Ketiga

  • Dengan perluasan yang dihasilkan lewat beberapa penaklukan, populasi umat muslim terus bertambah dan kota Madinah sebagai pusat pemerintahan telah memikat banyak masyarakat. Khalifah kedua (pemerintahan: 13-23 H) pada tahun 17 H, menggabungkan rumah-rumah di sekitar masjid dan memperluas masjid, di arah Kiblat kurang lebih 5 meter, di arah barat 10 meter dan arah utara 15 meter dan membuat pintu-pintu baru untuk masjid. [42]
  • Khalifah kedua pada tahun 19 H menambahkan 496 meter luas masjid dan luasnya mencapai 4.071 m². Penambahan ini atas permintaan masyarakat, yang terpaksa melaksanakan salat Jumat di luar masjid. Sebaliknya, sejumlah masyarakat protes karena rumah-rumah mereka dihancurkan akibat perluasan masjid; sebagaimana dalam perluasan sebelumnya juga banyak sekali para pemilik rumah menentang perluasan. Sebab lain penentangan mereka adalah mereka beranggapan bahwa Utsman akan mengeluarkan masjid dari kondisi sederhananya. Utsman merubah kondisi umum masjid dan menggunakan batu ukiran dan memperbaiki atap dengan kayu jati. Di samping itu, dibangun kamar atau ruang kecil untuk berdirnya imam di bagian depan masjid; yakni tempat berdirinya imam. Tujuannya adalah supaya tidak disalahgunakan sebagaimana Umar bin Khattab, namun melaksanakan salat di sebuah tempat yang terjaga. [43]
  • Dalam perluasan pada masa khalifah kedua dan ketiga, luas masjid hanya sedikit ke arah selatan dan kebanyakan di arah utara dan barat masjid. Di bagian timur, terdapat kamar-kamar Rasulullah saw dan karena inilah tidak dilakukan perluasan di bagian tersebut. [44]

Periode Bani Umayyah

  • Masjid Nabawi banyak mengalami perombakan dan perluasan fundamental pada tahun 88 H, yang berlangsung selama tiga tahun sampai tahun 91. Pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik dan ketika Umar bin Abdul Aziz memegang pemerintahan Madinah, maka kurang lebih ia banyak melakukan perluasan masjid dan bangunannya. Perluasan atas perintah Walid ini juga mencakup bagian timur masjid, yang mana kamar-kamar Rasulullah saw terletak di situ. Atas perintahnya, supaya sekeliling pusara Rasulullah dipagari dan dari arah situ juga ditambah masjid. Masyarakat Madinah histeris saat mendengar berita penghancuran bangunan sekitar Masjid. Rumah Sayidah Fatimah Sa ketika itu dipegang oleh Fatimah Sughra, putri Imam Hasan as dan istri Hasan bin Hasan bin Ali. Menurut sebagian riwayat, tujuan utama perluasan masjid yang dilakukan oleh Walid, khususnya di arah timur adalah mengambil rumah dari tangan Hasan bin hasan dan menjauhkannya dari masjid dan sejatinya atas tendensi politik. Fatimah Sughra melakukan penentangan, namun Walid menguasainya dengan paksa dan karena itulah bertahun-tahun melarang masyarakat untuk melaksanakan salat di tempat tersebut dan menganggapnya ghasab (mengambil tanpa izin).[45]
  • Perluasan pada tahun 88 Hijriah dilakukan dimulai dari arah timur, barat dan utara. Di arah utara ditambah 100 m, di bagian barat laut ke arah Timur ditambah 67/5 m dan arah barat daya ke timur ditambah 83/75 m dan dengan demikian, luas masjid mencapai lebih dari 6.400 m².[46]
  • Sebagian menulis luas masjid setelah perluasan Walid mencapai 7.500 m². [47]
  • Dengan bertolak bahwa Walid sangat menyukai pembangunan dengan bangunan-bangunan yang indah, maka selain memerintahkan pembangunan untuk memperkokoh masjid, ia juga banyak melakukan keindahan-keindahannya. Untuk pembangunan masjid, ia meminta bantuan kepada kaisar Romawi dan kaisar pun selain membantu banyak keuangan, yang terdiri dari 100.000 mitsqal emas, juga mengirim seratus pekerja handal untuk Walid. Dengan bantuan orang-orang ini, akhirnya Walid dapat membangun masjid dengan bentuk yang menawan. [48]

Periode Abbasiah

  • Mahdi Abbasi, putra al-Manshur, melakukan renovasi dan perluasan di masjid tersebut dari tahun 161 atau 162 H. Ia menambah luas masjid mencapai 2.450 m, ia memperbanyak pilar-pilar masjid dan menambah jumlah pintu-pintunya.
  • Pada waktu itu, masjid memiliki 20 pintu; empat di utara, delapan pintu di bagian barat dan delapan pintu di bagian timur. Dalam renovasi ini banyak sekali rumah-rumah yang ada di sekitar masjid, dimana setiap darinya populer dengan nama sahabat yang menghuninya, dihancurkan dan digabungkan dengan masjid; diantaranya adalah rumah Abdullah bin Mas’ud, Syarahbil bin Hasanah dan al-Miswar bin Makhramah.[49]
  • Pada tahun 654 H, tiga tahun sebelum runtuhnya dinasti Abbasiah, masjid Nabawi terbakar dan mengalami banyak kerusakan. Khalifah Abbasiah tidak mampu merenovasinya; karena runtuh ditangan Mongol; namun pengusa Mesir mengirim para arsitek untuk merenovasi kembali. Setalah itu, Muhammad bin Qalawun salah seorang dari para penguasa, menambahkan atap di bagian barat dan timur masjid dan pada tahun 705 dan 706, juga membangun serambi-serambi lain untuk masjid. Dengan perbaikan-perbaikan lainnya yang dilakukan, masjidpun dapat kembali seperti semula.[50]
  • Pada tahun 886 H. masjid terbakar akibat petir, yang akhirnya para penguasa Mesir melakukan perenovasian kembali dan membangun penginapan, sekolah dan dapur. Luas masjid dalam perbaikan tersebut mencapai 9.010 m².[51]

Periode Utsmani

  • Raja Sulaiman Utsmani pada tahun 938 sangat berupaya dalam merenovasi masjid Nabawi; namun tindakan mendasar dimulai pada tahun 1265 H, oleh raja Abul Hamid 1 (m 1277 H) dan di sepanjang 13 tahun, masjid direnovasi dengan kokoh dan juga sangat menawan. Bangunan yang dibangun dalam renovasi tersebut merupakan bangunan terkuat dan terkokoh yang ada pada masjid. [52]

Periode Āl Saud

  • Pada tahun 1373 H, Abul Aziz Āl Saud melakukan renovasi dan perluasan besar-besaran dan luas masjid keseluruhannya mencapai 16.327 m². Perluasan ini dilakukan di bagian utara, barat dan timur. Disamping penambahan 6.025 m pada masjid, juga menghancurkan kurang lebih 16.931 m rumah-rumah yang ada di sekitarnya sebagai lapangan dan jalan-jalan sekitar masjid.[53]
  • Tahap terakir perluasan masjid dimulai oleh raja Fahd bin Abdul Aziz tahun 1405 H/1984 M. Rekonstruksi secara remsi dimulai sejak bulan Muharram tahun 1406 H. Pembangunan rampung pada tahun 1410 dan setelah itu dilakukan penyempurnaan arsitektur masjid. Yang mana sebelum perluasan ini, luas masjid mencapai 16.327 m dan dalam perluasan baru mencapai 82.000 m², yang dapat menampung 137.000 jamaah. Disamping perluasan lantai masjid, juga dipersiapkan loteng untuk salat, sampai mampu menampung 90.000 jamaah sehingga mereka dapat melaksanakan salat di tempat tersebut dan dengan demikian, jumlah kapasitas jamaah di masjid di lantai bawah dan atas mencapai 257.000 jamaah. Di samping tangga-tangga batu, juga dibangun beberapa eskalator, sehingga memudahkan mereka untuk naik ke atas loteng masjid.[54]
  • Dalam perluasan raja Fahd, tanah-tanah bebas di sekitar masjid mencapai 235.000 m² dan di situ dibangun pelbagai tempat untuk wudhu dan juga banyak dipasang lampu-lampu sorot di tiang-tiang batu untuk pencahayaan. Di samping itu, di dua aula masjid sebelumnya, juga dipasang payung otomastis, yang dapat terbuka dan tertutup untuk menutupi matahari. Disamping menara-menara sebelumnya, juga ditambah enam menara dalam perluasan baru, yang ketinggiannya mencapai 104 m. Dengan demikian, masjid yang sekarang ini memiliki sepuluh menara.[55]

Referensi Tertulis tentang Masjid Nabawi

Terkait pentingnya Masjid Nabawi, sejak dahulu kaum muslimin banyak menulis karya-karya dalam memperkenalkan masjid ini dan juga keutamaan dan peristiwa-peristiwanya. Karya-karya tentang Masjid Nabawi dapat diklasifikasi menjadi dua bagian: karya yang memperkenalkan masjid secara independen dan karya yang di samping mengulas topik-topik lainnya, seperti kota Madinah juga mengkhususkan pembahasan-pembahasan terkait Masjid Nabawi. Demikian juga terdapat banyak sekali informasi-informasi tentang sejarah Masjid Nabawi secara terpisah-pisah dalam referensi riwayat. Akhbar al-Madinah karya Muhammad bin Hasan al-Makhzumi, yang masyhur dengan Ibnu Zabalah (meninggal sekitar 200 H), nampaknya adalah buku pertama yang dalam sebagian pembahasan memperkenalkan Masjid Nabawi. Ibnu Zabalah dalam buku tersebut, menukilkan informasi-informasi dari tanggal dan pembuatan masjid. Demikian juga ia menulis luas masjid dan penjabaran tentang kondisi bangunan dan rumah-rumah yang ada di sekelilingnya.

Catatan Kaki

  1. Semisalnya, rujuklah: Kulaini, al-Kafi, jld. 4, hlm. 556.
  2. Hafidz, Fushul min Tarikh al-Madinah al-Munawwarah, 1417 H, hal.63
  3. Fushul min Tarikh al-Madinah al-Munawwaroh, hlm. 63.
  4. Silakan merujuk ke : Jakfariyan, Asar Islami Makkah va Madinah, 1387 HS, hlm.239
  5. Silakan merujuk ke: Amini, Al-Ghadir, 1416 H, Jld.5, hlm.165-169
  6. Shaduq, Man La Yahduhuruhul Faqih, 1413 H, Jilid 2, hlm.572
  7. Silakan merujuk ke : Jakfariyan, Asar Islami Makkah va Madinah, 1387 HS, hlm.239
  8. Silakan merujuk ke : Purhusain, Qanunmandi dar Hukumat-e Nabawi, hlm.153
  9. Semisalnya rujuklah, http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4134&categoryid=202.
  10. Situs Haramain al-Syarifain.
  11. Ibnu Syabbah, jild. 1, hlm. 107.
  12. Semisalnya,rujuklah : Shaduq, jld. 2, hlm. 572.
  13. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4138&categoryid=202.
  14. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4138&categoryid=202.
  15. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4138&categoryid=202.
  16. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4138&categoryid=202.
  17. Ibnu Zabalah, Akhbar al-Madinah, hlm. 86-87.
  18. Baihaqi, hlm. 194, 195; http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4137&categoryid=202.
  19. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4137&categoryid=202.
  20. Samhudi, Wafa' al-Wafa', jild. 2, hlm. 45.
  21. Ibid., hlm. 44.
  22. Thabari, jild. 3, hlm. 1156; Maqrizi, jild. 10, hlm. 95, 96.
  23. Ibnu Sa'ad, jild. 1, hlm. 235.
  24. Baihaqi, hlm. 197.
  25. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4136&categoryid=202.
  26. http://www.alharamain.gov.sa/index.cfm?do=cms.conarticle&contentid=4135&categoryid=202.
  27. Al-Samhudi, jild. 1, hlm. 282.
  28. Najafi, hlm. 100; Syaikhi, hlm. 339.
  29. Majlisi, jld. 86, hlm. 313.
  30. Ja’farian, hlm. 201.
  31. Ibid., hlm. 202.
  32. Ibnu Zabalah, Akhbar al-Madinah, hlm. 74.
  33. Ja’farian, hlm. 203.
  34. Ibid., hlm. 204.
  35. Najafi, Madinah Shenasi, hlm. 33.
  36. Ja’farian, hlm. 202-204.
  37. Najafi, Madinah Shenasi, hlm. 33.
  38. Najafi, Madinah Shenasi, hlm. 35; Ja’farian, hlm. 204.
  39. Ja’farian, hlm. 204.
  40. Ibid., hlm. 204 dan 205.
  41. Al-Samhudi, Wafa’ al-Wafa’, jild. 2, hlm. 63-67; Ja’farian, hlm. 205.
  42. Al-Samhudi, Wafa’ al-Wafa’, jild. 2, hlm. 67-68; Ja’farian, hlm. 205 dan 206.
  43. Ja’farian, hlm. 206.
  44. Ibid.,
  45. Ibid., hlm. 207.
  46. Ibid.,
  47. Ibid., hlm. 208.
  48. Ibid.,
  49. Ibid., hlm. 209.
  50. Ibid., hlm. 210.
  51. Ibid.,
  52. Ibid.,
  53. Ibid., hlm. 211.
  54. Ibid., hlm. 211-213.
  55. Ibid., hlm. 213 dan 214.

Daftar Pustaka

  • Al-Samhudi, Nuruddin 'Ali, Riset. Khalid Abdul Ghani Mahfudz, Wafa' al-Wafa' bi Akhbar Dar al-Mustafa, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2006 M.
  • Baihaqi, Dalail al-Nubuwwah, terj. Mahmud Mahdawi Damghani, Tehran, Intisyarate Ilmi wa Farhanggi, cet. 1, 1361 S.
  • Guruhi az Newisandegan (sekelompok para penulis), Daneshnameh Haj wa Haramain Syarifain, pengantar buku Akhbar al-Madinah Ibnu Zabalah.
  • Ibnu Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra, terj. Mahmud Mahdawi Damghani, Tehran, Farhang wa Andisheh, Bi Ta.
  • Ibnu Zabalah, Muhammad bin Hasan, Akhbar al-Madinah, Editor. Salah Abd al-Aziz Zain Salamah, Markas Buhuts wa Dirāsat al-Madinah al-Munawwaroh, 2003 M.
  • Ibnuu Syabbah, Tarikh al-Madinah.
  • Ja'farian, Rasul, Atsār Islami Makkah wa Madinah, Nasyr Masy'ar, Tehran, cet. 8, 1386 S.
  • Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar al-Anwar, Tehran, Intisyarat Islamiyyah, Bi Ta.
  • Najafi, Muhammad Baqir, Madinah Shenasi, Syarekat Qalam, Tehran, 1364 S.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali bin Babawaih, Man La Yahdhuruhul Faqih, Daftar Intisyarat Isalmi, yang berafiliasi dengan Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cet. 2, Qom, 1413 H.
  • Syaikhi, Hamid Reza, Farhang A'lam Jughrafiya'i, Masy'ar, cet. 1, Tehran, 1383 S.
  • Thabari, Muhammad bin Jurair, Tarikh al-Thabari, terj. Abul Gasem Payandeh, Tehran, Asathir, 1375 S.