Lompat ke isi

Konsep:Daftar Kalimat Pendek Nahjul Balaghah

Dari wikishia

Templat:Tentang 2

Nahjul Balaghah

Daftar Kalimat Pendek Nahjul Balaghah (bahasa Arab: Templat:Arab) adalah kumpulan ucapan Amirul Mukminin (as) dalam Nahjul Balaghah yang dikumpulkan oleh Sayid Radhi (359 H-406 H), seorang ulama dan sastrawan Syiah. Daftar kalimat pendek yang berada di bagian ketiga Nahjul Balaghah ini memuat 480 kalimat pendek (hikmah).[1] Pada bagian ini terdapat pilihan ucapan penuh hikmah Amirul Mukminin (as), nasihat, serta jawaban atas pertanyaan dan perkataan singkat beliau.[2] Sayid Radhi di tengah-tengah kalimat pendek Nahjul Balaghah menyisipkan satu bab berjudul "Fashl fi Gharaib Kalamihi" (Bab tentang ucapan-ucapannya yang asing/sulit) yang menurutnya memerlukan penafsiran untuk memahaminya.[3] Bab ini memuat 9 hadis yang hadis pertamanya adalah tentang kemunculan Imam Zaman (ajf).[4]

Kalimat-kalimat

  1. Saat terjadi fitnah, jadilah seperti anak unta (usia dua tahun) yang belum memiliki punggung (kuat) untuk ditunggangi dan tidak memiliki susu untuk diperah; hiduplah sedemikian rupa sehingga orang tidak menaruh ketamakan padamu.
  2. Barang siapa menjadikan ketamakan sebagai semboyannya, ia telah merendahkan dirinya; barang siapa membuka rahasia kesulitannya kepada setiap orang, ia telah menghinakan dirinya; dan barang siapa membiarkan lisannya berkuasa atas dirinya, ia telah menjatuhkan harganya.
  3. Kikir adalah aib, pengecut adalah kekurangan, kefakiran membungkam lisan orang cerdas dalam berargumentasi, dan orang miskin adalah orang asing di negerinya sendiri.
  4. Lemah adalah bencana, kesabaran adalah keberanian, zuhud (tidak menginginkan dunia) adalah kekayaan, ketakwaan adalah perisai pelindung, dan ridha adalah pendamping yang paling baik.
  5. Ilmu adalah warisan yang mulia, adab adalah perhiasan yang baru (bagi jiwa dan raga), dan pemikiran adalah cermin yang jernih.
  6. Dada orang berakal adalah peti rahasianya, wajah yang berseri adalah jaring kasih sayang, dan kesabaran adalah kuburan bagi aib-aib. [Atau beliau bersabda:] Berdamai adalah penutup aib-aib, dan barang siapa yang puas dengan dirinya sendiri, maka akan banyak orang yang murka kepadanya.
  7. Sedekah adalah obat yang menyembuhkan, dan perbuatan hamba di dunia ini akan tampak di hadapan mata mereka di akhirat nanti (apa pun yang mereka lakukan di dunia ini, akan mereka lihat di akhirat).
  8. Kagumilah manusia ini: ia melihat dengan lemak, berbicara dengan daging, mendengar dengan tulang, dan bernapas melalui lubang. Templat:Poin
  9. Jika dunia menghadap kepada seseorang, ia meminjamkan kebaikan orang lain kepadanya, dan jika dunia membelakanginya, ia merampas kebaikan dirinya sendiri.
  10. Bergaullah dengan orang-orang sedemikian rupa sehingga jika kalian mati mereka menangisi kalian, dan jika kalian hidup mereka merindukan (berkasih sayang dengan) kalian.
  11. Jika engkau mampu mengalahkan musuhmu, jadikanlah pengampunan (memaafkannya) sebagai bentuk syukur atas kemampuanmu menguasainya.
  12. Manusia yang paling lemah adalah yang tidak mampu mendapatkan teman, dan yang lebih lemah darinya adalah yang telah mendapatkan teman lalu menyia-nyiakannya.
  13. Apabila tanda-tanda nikmat telah sampai kepada kalian, janganlah kalian memutus kelanjutannya dengan sedikit bersyukur (kufur nikmat).
  14. Barang siapa disia-siakan oleh kerabat dekatnya, maka orang jauh akan menolongnya.
  15. Tidak setiap orang yang terpedaya bisa dicela.
  16. Segala urusan begitu tunduk pada takdir, hingga terkadang kematian justru terletak pada upaya (tadbir) manusia.
  17. [Beliau ditanya tentang sabda Rasulullah (saw): "Ubahlah uban dengan pewarna (semir) dan jangan menyerupai orang Yahudi", beliau menjawab:] Beliau (saw) bersabda demikian ketika penganut agama (Islam) masih sedikit. Namun sekarang ketika wilayah Islam telah meluas dan seruannya telah sampai ke mana-mana, maka setiap orang bebas melakukan apa yang ia inginkan.
  18. [Tentang orang-orang yang menjauhkan diri dari berperang di sisi beliau, beliau bersabda:] Mereka telah menghinakan kebenaran (al-haq) dan tidak menolong kebatilan.
  19. Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang memiliki muruah (kehormatan), karena tidak ada seorang pun dari mereka yang tergelincir kecuali tangan Allah akan mengangkatnya.
  20. Ketakutan disertai dengan keputusasaan, rasa malu (yang tidak pada tempatnya) disertai dengan kerugian, dan kesempatan berlalu seperti awan. Maka pergunakanlah kesempatan-kesempatan yang baik.
  21. Kita memiliki hak; jika diberikan, kita ambil, dan jika tidak, kita akan menaiki bagian belakang unta (sebagai penumpang biasa) dan berjalan meskipun perjalanan malam itu berlangsung lama. [Sayid Radhi: Ini adalah ucapan yang sangat halus dan fasih, maknanya adalah jika hak kami tidak diberikan, kami akan dihinakan sebagaimana penumpang yang duduk di bagian belakang unta, seperti budak, tawanan, dan sejenisnya.][5]
  22. Barang siapa yang amalnya tidak memajukannya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya.
  23. Termasuk penebus dosa-dosa besar adalah menolong orang yang berteriak minta tolong dan memberikan kenyamanan kepada orang yang bersedih.
  24. Wahai anak Adam! Jika engkau melihat Tuhanmu memberikan nikmat-Nya kepadamu berturut-turut sementara engkau bermaksiat kepada-Nya, maka waspadalah kepada-Nya.
  25. Tidak ada seorang pun yang menyembunyikan sesuatu di dalam hati, kecuali hal itu akan tampak melalui ucapan yang tidak disengaja dan terlihat di raut wajahnya.
  26. Berdamailah dengan rasa sakitmu selama ia masih bisa bersamanya (jangan terlalu mengeluh).
  27. Zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan zuhud.
  28. Jika engkau membelakangi kehidupan dan kematian menghadap kepadamu, maka alangkah cepatnya pertemuan itu terjadi.
  29. Waspadalah! Waspadalah! Karena sesungguhnya Allah telah menutupi (aib) hamba sedemikian rupa seolah-olah Dia telah mengampuninya.
  30. [Beliau ditanya tentang iman, beliau menjawab:] Iman berdiri di atas empat pilar: kesabaran, keyakinan, keadilan, dan Jihad. Kesabaran memiliki empat cabang: kerinduan, ketakutan, zuhud, dan pengharapan (intizhar). Maka siapa yang merindukan Surga, ia akan melupakan syahwat; siapa yang takut akan Neraka, ia akan menjauhi apa yang diharamkan; siapa yang zuhud terhadap dunia, musibah akan terasa ringan baginya; dan siapa yang menantikan kematian, ia akan bersegera dalam amal kebaikan. Keyakinan memiliki empat cabang: pandangan yang cerdas, pemahaman terhadap hikmah, mengambil pelajaran dari peristiwa, dan mengikuti jejak orang-orang terdahulu. Maka siapa yang melihat dengan cerdas, hikmah akan tampak baginya; siapa yang hikmah tampak baginya, ia akan mengambil pelajaran; dan siapa yang mengambil pelajaran, ia seolah-olah hidup bersama orang-orang terdahulu. Keadilan memiliki empat cabang: pemahaman yang mendalam, ilmu yang menukik pada hakikat, keputusan hukum yang baik, dan keteguhan dalam kesabaran. Maka siapa yang paham, ia telah mencapai kedalaman ilmu; siapa yang mencapai kedalaman ilmu, ia akan terpuaskan dari sumber syariat; dan siapa yang sabar (hilm), ia tidak akan melampaui batas dan hidup terpuji di tengah masyarakat. Jihad memiliki empat cabang: memerintahkan kebaikan (Amar Makruf), mencegah kemungkaran (Nahi Munkar), keteguhan dalam medan perang, dan membenci orang Fasik. Maka siapa yang memerintahkan kebaikan, ia telah menguatkan punggung orang-orang mukmin; siapa yang mencegah kemungkaran, ia telah menghinakan hidung orang-orang Munafik; siapa yang teguh dalam perang, ia telah menunaikan hak yang wajib atasnya; dan siapa yang membenci orang fasik dan marah karena Allah, maka Allah akan marah demi dia dan membuatnya ridha pada hari kiamat. Kekafiran berdiri di atas empat pilar: mendalami sesuatu secara berlebihan (ta'ammuq), pertengkaran, penyimpangan, dan perpecahan (syaqaq). Maka siapa yang mendalami berlebihan, ia tidak akan kembali kepada kebenaran; siapa yang banyak bertengkar karena kebodohan, ia akan buta dari melihat kebenaran; siapa yang menyimpang, ia akan melihat kebaikan sebagai keburukan dan keburukan sebagai kebaikan serta mabuk dalam kesesatan; dan siapa yang memecah belah, jalan-jalan akan menjadi sulit baginya, urusannya menjadi keras, dan jalan keluarnya sempit. Keraguan memiliki empat cabang: perdebatan, ketakutan, kebimbangan, dan menyerah pada peristiwa zaman. Maka siapa yang menjadikan perdebatan sebagai kebiasaan, ia tidak akan keluar dari kegelapan syubhat; siapa yang takut pada segala yang dihadapinya, ia akan selalu mundur ke belakang; siapa yang bimbang, setan akan menginjak-injaknya; dan siapa yang menyerah pada kehancuran dunia dan akhirat, ia akan binasa di kedua dunia.
  31. Pelaku kebaikan lebih baik daripada perbuatan baik itu sendiri, dan pelaku kejahatan lebih buruk daripada perbuatan jahat itu sendiri.
  32. Jadilah dermawan tapi jangan boros, jadilah pengukur (hemat) tapi jangan kikir.
  33. Kekayaan yang paling mulia adalah meninggalkan angan-angan.
  34. Barang siapa berbicara kepada orang-orang tentang apa yang tidak mereka sukai tanpa rasa segan, maka mereka akan mengatakan tentangnya apa yang tidak mereka ketahui.
  35. Barang siapa memanjangkan angan-angan, ia telah memburukkan amalnya.
  36. [Ketika para petani Anbar melihat Imam saat pergi ke Syam, mereka turun dari kendaraan dan berlari di hadapannya. Beliau bertanya:] Apa yang kalian lakukan ini? [Mereka menjawab: Ini adalah kebiasaan kami untuk menghormati para pemimpin kami. Beliau bersabda:] Demi Allah, para pemimpin kalian tidak mendapat manfaat dari ini, dan kalian menyusahkan diri kalian sendiri di dunia dan mencelakakan diri kalian di akhirat. Alangkah ruginya penderitaan yang diikuti oleh hukuman, dan alangkah beruntungnya kenyamanan yang disertai keamanan dari neraka.
  37. [Kepada putranya Hasan (as), beliau bersabda:] Wahai anakku, hafalkanlah empat hal dariku dan empat hal lainnya, yang jika engkau mengamalkannya, engkau tidak akan celaka: Kekayaan yang paling berharga adalah akal, kemiskinan yang paling besar adalah kebodohan, kesepian yang paling menakutkan adalah ujub (bangga diri), dan kemuliaan (hasab) yang paling tinggi adalah akhlak yang baik. Wahai anakku, hindarilah berteman dengan orang bodoh, karena ia ingin memberimu manfaat tapi malah mencelakakanmu; hindarilah berteman dengan orang kikir, karena ia akan menahan darimu apa yang sangat engkau butuhkan; hindarilah berteman dengan orang jahat, karena ia akan menjualmu dengan harga murah; dan hindarilah berteman dengan pembohong, karena ia seperti fatamorgana: mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
  38. Jika amalan sunnah merugikan amalan Wajib, maka ia tidak akan mendekatkan (hamba kepada Allah).
  39. Lisan orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lisannya.[6]
  40. [Makna ini diriwayatkan dengan lafaz lain dari beliau:] Hati orang bodoh ada di mulutnya, dan lisan orang berakal ada di hatinya [maknanya sama].
  41. [Kepada salah satu sahabatnya yang mengeluh sakit, beliau bersabda:] Allah menjadikan apa yang engkau keluhkan sebagai penggugur dosa-dosamu, karena dalam penyakit tidak ada pahala, tetapi ia menggugurkan dosa-dosa dan merontokkannya seperti rontoknya daun pohon. Pahala ada pada ucapan lisan dan perbuatan anggota badan, dan Allah Yang Maha Suci karena niat yang benar dan hati yang bersih akan memasukkan hamba yang Dia kehendaki ke dalam Surga.[7]
  42. [Ketika beliau menyebut nama Khabbab, beliau bersabda:] Semoga Allah merahmati Khabbab bin Arat. Ia masuk Islam dengan suka rela, berhijrah karena ketaatan, merasa cukup dengan kebutuhan secukupnya (qanaah), ridha kepada Allah, dan hidup sebagai seorang mujahid.
  43. Beruntunglah orang yang mengingat hari kebangkitan (Ma'ad), beramal untuk hisab, merasa cukup dengan kebutuhan secukupnya, dan ridha kepada Allah.
  44. Jika aku memukul hidung orang mukmin dengan pedangku ini agar ia membenciku, ia tidak akan membenciku; dan jika aku tuangkan seluruh dunia kepada orang Munafik agar ia mencintaiku, ia tidak akan mencintaiku. Hal itu karena telah ditetapkan (Qadha) dan terucap melalui lisan Nabi yang Ummi (saw) bahwa beliau bersabda: "Wahai Ali, orang mukmin tidak akan membencimu dan orang munafik tidak akan mencintaimu."
  45. Dosa yang membuatmu sedih (menyesal) lebih baik di sisi Allah daripada kebaikan yang membuatmu bangga.
  46. Nilai seseorang adalah sebesar tekadnya, kejujurannya sebesar kepribadiannya (muruah), keberaniannya sebesar penolakannya terhadap kehinaan, dan kesuciannya sebesar rasa cemburunya (ghirah).
  47. Kemenangan diraih dengan keteguhan (pikir), keteguhan diraih dengan mengolah pendapat, dan mengolah pendapat dengan menjaga rahasia.
  48. Takutlah pada serangan orang mulia jika ia lapar, dan orang hina jika ia kenyang.
  49. Hati manusia itu liar, barang siapa yang menjinakkannya, ia akan menghadap kepadanya.
  50. Aibmu tersembunyi selama nasib baikmu bersinar.
  51. Orang yang paling layak memaafkan adalah orang yang paling mampu memberikan hukuman.
  52. Kedermawanan adalah memberi sebelum diminta; adapun yang diberikan setelah diminta, itu karena rasa malu atau takut dicela.
  53. Tidak ada kekayaan seperti akal, tidak ada kemiskinan seperti kebodohan, tidak ada warisan seperti adab, dan tidak ada pendukung seperti musyawarah.
  54. Kesabaran ada dua macam: sabar atas apa yang tidak engkau sukai dan sabar menahan diri dari apa yang engkau sukai.
  55. Kekayaan di negeri asing seperti berada di tanah air, dan kemiskinan di tanah air seperti berada di pengasingan.
  56. Qanaah adalah harta yang tidak akan habis.
  57. Harta adalah bahan bakar syahwat.
  58. Orang yang menakutimu (agar engkau selamat) seperti orang yang memberimu kabar gembira.
  59. Lisan adalah binatang buas; jika dilepaskan, ia akan menggigit.
  60. Wanita adalah kalajengking yang sengatannya manis.
  61. Jika engkau diberi penghormatan, balaslah dengan yang lebih baik; dan jika engkau diberi kebaikan, balaslah dengan yang lebih banyak. Namun keutamaan tetap milik orang yang memulai.
  62. Pemberi syafaat adalah sayap bagi peminta. Templat:Poin
  63. Penduduk dunia seperti pengendara yang sedang tidur sementara mereka sedang dijalankan.
  64. Kehilangan teman adalah keterasingan.
  65. Tidak terpenuhinya kebutuhan lebih mudah daripada memintanya kepada orang yang tidak layak.
  66. Jangan malu memberi sedikit, karena tidak memberi sama sekali lebih sedikit dari itu.
  67. Menjaga diri (iffah) adalah perhiasan kemiskinan, dan syukur adalah perhiasan kekayaan.
  68. Jika apa yang engkau inginkan tidak terjadi, maka janganlah pedulikan keadaanmu saat ini (terimalah apa yang ada).
  69. Engkau tidak akan melihat orang bodoh kecuali ia melampaui batas (ifrata) atau kurang dalam bertindak (tafrit).
  70. Jika akal sempurna, ucapan akan berkurang.
  71. Waktu mengikis tubuh, memperbaharui harapan, mendekatkan kematian, dan menjauhkan cita-cita. Siapa yang berhasil meraihnya (dunia) akan lelah, dan siapa yang kehilangannya akan menderita.
  72. Barang siapa menjadikan dirinya pemimpin bagi orang lain, hendaklah ia memulai dengan mendidik dirinya sendiri sebelum mendidik orang lain, dan hendaklah ia mendidik dengan perilaku sebelum mendidik dengan lisan. Orang yang mendidik dan mengajar dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada orang yang mengajar dan mendidik orang lain.
  73. Setiap napas yang dihembuskan manusia adalah satu langkah menuju kematiannya.
  74. Segala sesuatu yang bisa dihitung akan berakhir, dan segala sesuatu yang dinantikan akan datang.
  75. Jika urusan-urusan menjadi serupa, maka akhir dapat diketahui dengan mengiaskannya pada permulaannya.
  76. [Dalam riwayat Dhirar bin Dhamrah, ketika ia menemui Muawiyah dan Muawiyah bertanya tentang Amirul Mukminin (as), ia berkata: Aku bersaksi bahwa aku melihatnya ketika malam telah menurunkan tirainya, beliau berdiri di Mihrabnya, memegang janggutnya, menggeliat seperti orang yang dipatuk ular, dan menangis seperti orang yang berduka, seraya berkata:] Wahai dunia! Wahai dunia! Menauhlah dariku! Apakah engkau menghadangku? Atau apakah engkau merindukanku? Jangan sampai engkau menempati hatiku. Tidak akan pernah! Tipulah orang selain aku! Aku tidak butuh padamu. Aku telah menTalakmu tiga kali yang tidak ada rujuk lagi di dalamnya. Hidupmu pendek, nilaimu rendah, dan harapanmu hina. Ah, bekal yang sedikit, perjalanan yang panjang, tempat tujuan yang jauh, dan tempat masuk yang sulit.
  77. [Termasuk ucapan beliau, ketika seseorang bertanya: "Apakah perjalanan kita ke Syam terjadi karena Qadha dan Qadar Allah?" Setelah penjelasan panjang, ini adalah ringkasannya:] Celaka engkau! Mungkin engkau menduga qadha yang lazim (memaksa) dan takdir yang pasti. Jika demikian, maka pahala dan hukuman akan batal, dan janji serta ancaman akan sia-sia. Allah Yang Maha Suci memerintahkan hamba-hamba-Nya dengan memberikan pilihan, dan melarang mereka sebagai peringatan. Apa yang Dia bebankan itu mudah, tidak sulit, dan Dia memberi pahala banyak untuk amal yang sedikit. Dia tidak didurhakai karena Dia kalah, dan tidak ditaati karena Dia memaksa. Dia tidak mengutus para nabi dengan main-main, tidak menurunkan Kitab kepada hamba-hamba-Nya dengan sia-sia, dan tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan batil. "Itu adalah dugaan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu karena neraka." (Ayat 27 Surah Shad)
  78. Ambillah hikmah di mana pun ia berada! Karena hikmah terkadang berada di dada orang Munafik, lalu ia bergerak-gerak di dadanya hingga keluar dan menetap bersama kawan-kawannya di dada orang mukmin.
  79. Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin. Ambillah hikmah meskipun dari orang munafik.
  80. Nilai seseorang adalah apa yang ia kuasai dengan baik.[8]
  81. Aku wasiatkan kepada kalian lima hal, yang jika kalian memacu unta untuk mendapatkannya, itu sangat pantas: Janganlah salah seorang dari kalian berharap kecuali kepada Tuhannya, janganlah takut kecuali kepada dosanya, janganlah malu jika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya untuk mengatakan "aku tidak tahu", janganlah malu untuk belajar sesuatu yang tidak diketahuinya, dan bersabarlah, karena kesabaran bagi iman ibarat kepala bagi tubuh; tidak ada gunanya tubuh tanpa kepala, dan tidak ada gunanya iman tanpa kesabaran.
  82. [Kepada seseorang yang memujinya secara berlebihan, sementara hatinya tidak demikian, beliau bersabda:] Aku berada di bawah apa yang engkau ucapkan dan di atas apa yang ada di dalam hatimu.
  83. Sisa-sisa pedang (orang yang selamat dari perang) lebih tahan lama dan lebih banyak keturunannya. Templat:Poin
  84. Barang siapa yang meninggalkan ucapan "aku tidak tahu", maka ia akan menemui tempat kehancurannya.
  85. Aku lebih menyukai pendapat orang tua daripada semangat pemuda. [Dalam riwayat lain:] daripada kehadiran pemuda (di medan perang).
  86. Aku heran terhadap orang yang berputus asa padahal ia mampu memohon ampunan.
  87. [[[Imam Muhammad al-Baqir (as)|Abu Ja'far Muhammad bin Ali al-Baqir]] meriwayatkan dari beliau (as) bahwa beliau bersabda:] Ada dua hal di bumi yang menjadi pengaman dari azab Allah; satu telah diangkat, maka peganglah yang satunya lagi dengan erat. Adapun pengaman yang telah diangkat adalah Rasulullah (saw). Dan pengaman yang masih tersisa adalah memohon ampunan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (Ayat 33 Surah Al-Anfal)
  88. Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia; barang siapa memperbaiki urusan akhiratnya, Allah akan membereskan urusan dunianya; dan barang siapa yang menjadi penasihat bagi dirinya sendiri, maka Allah akan menjadi pelindung baginya.
  89. Fakih yang sempurna adalah orang yang tidak membuat orang lain putus asa dari rahmat Allah, tidak membuat mereka merasa aman dari azab-Nya secara tiba-tiba, dan tidak membiarkan mereka berbuat maksiat kepada Allah.
  90. Hati ini bisa bosan sebagaimana tubuh bisa bosan, maka carilah hikmah-hikmah yang indah untuknya.
  91. Ilmu yang paling rendah adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah yang terwujud dalam anggota badan (hati dan perbuatan).
  92. Janganlah salah seorang dari kalian berkata: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah (ujian)!", karena tidak ada seorang pun kecuali ia berada dalam fitnah. Tetapi siapa yang ingin berlindung, berlindunglah dari fitnah yang menyesatkan, karena Allah SWT berfirman: "Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (ujian)." Maknanya adalah Allah menguji mereka dengan harta dan anak-anak untuk menampakkan siapa yang benci terhadap rezeki-Nya dan siapa yang ridha dengannya; meskipun Allah lebih mengetahui tentang mereka daripada diri mereka sendiri, tetapi untuk mewujudkan perbuatan yang berhak mendapatkan pahala atau siksa. Karena sebagian orang menyukai anak laki-laki dan membenci anak perempuan, dan sebagian menyukai bertambahnya harta dan membenci berkurangnya.
  93. [Beliau ditanya tentang kebaikan, beliau bersabda:] Kebaikan bukanlah banyaknya harta dan anakmu, tetapi kebaikan adalah banyaknya ilmumu, besarnya kesabaranmu, dan engkau membanggakan diri di hadapan orang-orang dengan ibadah kepada Tuhanmu. Jika engkau berbuat baik, engkau memuji Allah, dan jika engkau berbuat dosa, engkau memohon ampun kepada-Nya. Tidak ada kebaikan di dunia kecuali bagi dua orang: orang yang berbuat dosa lalu memperbaikinya dengan Taubat, dan orang yang bersegera dalam amal kebaikan.
  94. Amal yang disertai Takwa tidaklah sedikit; bagaimana bisa sedikit sesuatu yang diterima?
  95. Manusia yang paling dekat dengan para nabi adalah yang paling mengetahui apa yang mereka bawa. [Kemudian beliau membaca ayat:] "Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) beserta orang-orang yang beriman." [Lalu beliau bersabda:] Teman Muhammad (saw) adalah orang yang menaati Allah meskipun nasabnya jauh dari beliau, dan musuh Muhammad (saw) adalah orang yang mendurhakai Allah meskipun nasabnya dekat dengan beliau.
  96. [Beliau mendengar seorang Khawarij sedang salat malam dan membaca Al-Qur'an, beliau bersabda:] Tidur dalam keyakinan lebih baik daripada salat dalam keraguan.
  97. [Beliau bersabda:] Jika kalian mendengar sebuah hadis, pahamilah dengan pemahaman untuk diamalkan (riayah), bukan sekadar pemahaman untuk diriwayatkan (riwayah), karena perawi ilmu itu banyak, tetapi yang mengamalkannya sedikit.
  98. [Beliau mendengar seseorang berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un", beliau bersabda:] Ucapan kita "Inna lillah" (sesungguhnya kami milik Allah) adalah pengakuan kita akan kehambaan, dan ucapan kita "wa inna ilaihi raji'un" (dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya) adalah pengakuan akan kehancuran (kematian) kita.
  99. [Sekelompok orang memujinya di hadapannya, beliau berdoa:] Ya Allah, Engkau lebih mengenalku daripada diriku sendiri, dan aku lebih mengenal diriku daripada mereka. Ya Allah, jadikanlah kami lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah kami atas apa yang tidak mereka ketahui.
  100. Terpenuhinya kebutuhan tidak akan sempurna kecuali dengan tiga hal: menganggapnya kecil agar menjadi besar, menyembunyikannya agar menjadi tampak, dan menyegerakannya agar menjadi nikmat.
  101. Akan datang suatu masa kepada manusia di mana tidak ada yang dimuliakan kecuali pemfitnah, tidak ada yang dianggap cerdas kecuali orang fasik, dan tidak ada yang dianggap lemah kecuali orang yang adil. Pada masa itu, mereka menganggap sedekah sebagai kerugian, silaturahmi sebagai beban, dan ibadah sebagai sarana untuk menyombongkan diri kepada orang lain. Pada saat itu, pemerintahan dilakukan dengan musyawarah wanita, kekuasaan berada di tangan anak-anak, dan pengaturan urusan di tangan para kasim.
  102. [Orang-orang melihat beliau mengenakan pakaian usang yang ditambal. Ketika ditanya alasannya, beliau bersabda:] Ini membuat hati khusyuk, nafsu menjadi hina, dan orang-orang mukmin meneladaninya. Sesungguhnya dunia dan akhirat adalah dua musuh yang berbeda dan dua jalan yang berlawanan. Siapa yang mencintai dunia dan menjadikannya sebagai walinya, ia akan membenci akhirat dan memusuhinya. Keduanya seperti timur dan barat; setiap kali seseorang mendekat ke salah satunya, ia akan menjauh dari yang lain. Keduanya bagaikan dua istri (madu).
  103. [Diriwayatkan dari Nauf al-Bakali bahwa pada suatu malam aku melihat Amirul Mukminin (as) bangkit dari tempat tidurnya, memandang bintang-bintang, dan bersabda: Wahai Nauf, apakah engkau tidur atau terjaga? Aku menjawab: Aku terjaga. Beliau bersabda:] Wahai Nauf! Beruntunglah orang-orang yang zuhud di dunia dan merindukan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan bumi sebagai hamparan, tanahnya sebagai kasur, dan airnya sebagai parfum. Mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai semboyan dan Doa sebagai selimut. Mereka memotong keterikatan duniawi seperti metode al-Masih (Isa as). Wahai Nauf! Dawud (as) bangkit pada jam seperti ini di malam hari dan berkata: "Ini adalah saat di mana tidak ada seorang hamba pun yang berdoa kecuali doanya dikabulkan, kecuali orang yang memungut pajak (secara zalim), atau mata-mata penguasa, atau polisi penguasa, atau pemain kecapi, atau pemain gendang."
  104. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian sia-siakan; menetapkan batasan-batasan, maka janganlah kalian melampauinya; melarang kalian dari beberapa hal, maka janganlah kalian melanggarnya; dan mendiamkan beberapa hal bukan karena lupa, maka janganlah kalian membebani diri dengannya.
  105. Tidaklah orang-orang meninggalkan sesuatu dari urusan agama mereka demi memperbaiki dunia mereka, kecuali Allah akan membukakan bagi mereka sesuatu yang lebih berbahaya darinya.
  106. Berapa banyak orang berilmu yang dibinasakan oleh kebodohannya, sementara ilmunya bersamanya namun tidak memberinya manfaat.
  107. Pada pembuluh darah hati manusia terdapat sepotong daging yang merupakan organ paling menakjubkan, yaitu hati. Karena hati memiliki bahan-bahan dari hikmah dan lawan-lawannya. Jika harapan muncul di dalamnya, ketamakan akan menghinakannya; jika ketamakan menyerangnya, keserakahan akan membinasakannya; jika keputusasaan menguasainya, kesedihan akan membunuhnya; jika kemarahan menguasainya, ia akan mengamuk parah; jika ia diliputi kebahagiaan, ia akan lupa diri; jika ketakutan datang tiba-tiba, kehati-hatian akan menyibukkannya; jika keamanan meluas, kelalaian akan merenggutnya; jika harta baru didapat, kekayaan akan membuatnya melampaui batas; jika musibah menimpanya, ketidaksabaran akan mempermalukannya; jika kemiskinan menimpanya, ia akan sibuk dengan kesusahan; jika kelaparan melemahkannya, kelemahan akan membuatnya duduk; dan jika ia terlalu kenyang, kekenyangan akan menyiksanya. Maka setiap kekurangan membahayakannya, dan setiap kelebihan merusaknya.
  108. Kami adalah sandaran tengah (namruqah wustha). Orang yang tertinggal harus menyusul kami, dan orang yang melampaui batas harus kembali kepada kami.
  109. Tidak ada yang dapat menegakkan perintah Allah kecuali orang yang tidak berbasa-basi (dalam kebenaran), tidak bersikap lemah, dan tidak mengikuti ketamakan.
  110. [Setelah Sahl bin Hunaif al-Anshari meninggal di Kufah sekembalinya dari Shiffin, dan Imam sangat mencintainya, beliau bersabda:] Jika sebuah gunung mencintaiku, niscaya ia akan runtuh. [Catatan Sayid Radhi: Maknanya adalah ujian akan menjadi berat baginya dan musibah akan datang dengan cepat kepadanya. Dan hal ini tidak terjadi kecuali pada orang-orang yang saleh dan pilihan. Ini seperti sabda beliau:]
  111. Barang siapa mencintai kami Ahlulbait, hendaklah ia mempersiapkan pakaian kemiskinan (bala dan ujian).
  112. Tidak ada kekayaan yang lebih bermanfaat daripada akal, tidak ada kesendirian yang lebih menakutkan daripada ujub, tidak ada akal seperti tadbir (perencanaan), tidak ada kemuliaan seperti ketakwaan, tidak ada teman seperti akhlak yang baik, tidak ada warisan seperti adab, tidak ada pemimpin seperti taufik, tidak ada perdagangan seperti amal saleh, tidak ada keuntungan seperti pahala, tidak ada wara' seperti berhenti pada hal yang syubhat, tidak ada zuhud seperti menjauhi yang haram, tidak ada ilmu seperti tafakur, tidak ada ibadah seperti menunaikan kewajiban, tidak ada iman seperti rasa malu dan sabar, tidak ada hasab seperti tawadhu, tidak ada kemuliaan seperti ilmu, tidak ada izzah (kehormatan) seperti hilm (penyantun), dan tidak ada dukungan yang lebih kuat daripada musyawarah.
  113. Jika kebaikan mendominasi zaman dan penduduknya, lalu seseorang berburuk sangka kepada orang lain yang tidak tampak keburukannya, maka ia telah berbuat zalim. Namun jika kejahatan mendominasi zaman dan penduduknya, lalu seseorang berbaik sangka kepada orang lain, maka ia telah menipu dirinya sendiri.
  114. [Beliau ditanya: "Bagaimana keadaanmu wahai Amirul Mukminin?" Beliau menjawab:] Bagaimana keadaan orang yang fana dalam keabadiannya, sakit dalam kesehatannya, dan didatangi kematian dari arah keamanannya.
  115. Betapa banyak orang yang tertipu dengan nikmat yang diberikan kepadanya, terpedaya dengan aibnya yang ditutupi, dan terfitnah dengan pujian yang diucapkan tentangnya. Dan Allah tidak menguji siapa pun dengan ujian seperti pemberian tenggang waktu (imla').
  116. Dua orang binasa karenaku: Pecinta yang berlebihan dan pembenci yang menaruh dendam.
  117. Kehilangan kesempatan adalah kesedihan yang mencekik.
  118. Dunia itu seperti ular; sentuhannya lembut, namun racunnya mematikan. Orang bodoh yang terpedaya akan condong kepadanya, sedangkan orang cerdas yang bijak akan menghindarinya.
  119. [Beliau ditanya tentang Quraisy, beliau bersabda:] Adapun Bani Makhzum, mereka adalah bunga harum Quraisy; kami suka berbicara dengan laki-laki mereka dan menikahi wanita mereka. Adapun Bani Abdu Syams, mereka lebih jauh pandangannya dan lebih kuat dalam melindungi harta dan anak. Namun kami lebih dermawan dengan apa yang ada di tangan kami, dan lebih berani mengorbankan nyawa saat kematian. Mereka lebih banyak jumlahnya, lebih licik, dan lebih buruk; sedangkan kami lebih fasih lisannya, lebih tulus nasihatnya, dan lebih indah wajahnya.
  120. Alangkah berbedanya dua amal: amal yang kenikmatannya hilang namun dosanya tetap ada, dan amal yang kesulitannya hilang namun pahalanya tetap ada.
  121. [Beliau mengikuti sebuah jenazah dan mendengar seseorang tertawa, lalu beliau bersabda:] Seakan-akan kematian di dunia ini hanya ditetapkan untuk selain kita, seakan-akan kebenaran di dalamnya hanya diwajibkan atas selain kita, dan seakan-akan orang-orang mati yang kita lihat adalah musafir yang akan segera kembali kepada kita. Kita memasukkan mereka ke dalam kubur dan memakan warisan mereka, seolah-olah kita akan kekal setelah mereka. Kemudian kita melupakan setiap nasihat, dan menjadi sasaran setiap bencana.
  122. Beruntunglah orang yang rendah hati (di hadapan Allah), yang usahanya halal, batinnya bersih, akhlaknya baik, memberikan kelebihan hartanya, menahan kelebihan ucapannya, keburukannya tidak menimpa orang lain, Sunnah mencukupinya, dan tidak menisbatkan dirinya pada Bidah.[9]
  123. Cemburu bagi wanita adalah kekufuran, sedangkan bagi pria adalah iman.
  124. Aku akan mendefinisikan Islam dengan definisi yang belum pernah dibuat oleh siapa pun sebelumku: Islam adalah penyerahan diri, penyerahan diri adalah keyakinan, keyakinan adalah pembenaran, pembenaran adalah pengakuan, pengakuan adalah pelaksanaan, dan pelaksanaan adalah amal.
  125. Aku heran terhadap orang bakhil; ia menyegerakan kemiskinan yang ia lari darinya, dan kehilangan kekayaan yang ia cari. Maka ia hidup di dunia seperti orang miskin, namun di akhirat dihisab seperti orang kaya. Aku heran terhadap orang sombong; kemarin ia adalah setetes mani dan besok menjadi bangkai. Aku heran terhadap orang yang meragukan Allah padahal ia melihat ciptaan-Nya. Aku heran terhadap orang yang melupakan kematian padahal ia melihat orang-orang mati. Aku heran terhadap orang yang mengingkari kebangkitan kembali (akhirat) padahal ia melihat kehidupan pertama. Dan aku heran terhadap orang yang memakmurkan tempat yang fana dan meninggalkan tempat yang kekal.
  126. Barang siapa yang kurang dalam beramal, ia akan diuji dengan kesedihan. Dan barang siapa yang tidak memberikan sebagian harta dan jiwanya untuk Allah, maka Allah tidak membutuhkan dirinya.
  127. Waspadalah terhadap dingin di awal musimnya dan sambutlah di akhirnya, karena dingin memperlakukan tubuh seperti memperlakukan pohon: di awal ia membakar (merusak) dan di akhir ia menumbuhkan daun.
  128. Kebesaran Sang Pencipta dalam jiwamu, mengecilkan makhluk dalam pandanganmu.
  129. [Ketika kembali dari Shiffin dan melihat pekuburan di luar Kufah, beliau bersabda:] Wahai penghuni rumah-rumah yang menakutkan, tempat-tempat yang kosong, dan kuburan-kuburan yang gelap! Wahai ahli tanah (debu)! Wahai ahli keterasingan! Wahai ahli kesendirian! Wahai ahli kesepian! Kalian telah mendahului kami, dan kami akan menyusul serta bergabung dengan kalian. Adapun rumah-rumah, telah ditempati orang lain; adapun istri-istri, telah dinikahi orang lain; adapun harta, telah dibagi-bagi. Ini adalah kabar yang ada pada kami, lalu apa kabar yang ada pada kalian? [Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya dan bersabda:] Jika mereka diizinkan berbicara, niscaya mereka akan mengabarkan kepada kalian bahwa sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.
  130. [Beliau mendengar seseorang mencela dunia, lalu beliau bersabda:] Wahai pencela dunia yang terpedaya oleh tipu dayanya, tertipu oleh kebatilannya, namun mencelanya! Apakah engkau tertipu oleh dunia lalu mencelanya? Apakah engkau yang mendakwa dunia berdosa atasmu, atau dunia yang mendakwamu berdosa? Kapan dunia membingungkanmu, dan bagaimana ia menipumu? Apakah dengan tempat jatuhnya (kematian) ayah-ayahmu yang telah hancur? Atau dengan tempat tidurnya ibu-ibumu yang telah berada di dalam tanah? Berapa banyak orang sakit yang engkau rawat dengan tanganmu? Dan berapa banyak orang sakit yang engkau biarkan di tempat tidur, engkau menginginkan kesembuhannya dan meminta tolong kepada dokter untuknya. Namun di pagi hari, obatmu tidak menyembuhkannya, dan tangisanmu tidak berguna baginya. Ketakutanmu tidak memberinya manfaat, dan apa yang engkau inginkan tidak sampai kepadanya, dan dengan kekuatanmu engkau tidak bisa menjauhkan kematian darinya. Dunia telah memberikan contoh untukmu melalui kematiannya, dan gambaran tentang tempat kehancuranmu sendiri. Sesungguhnya dunia adalah rumah kejujuran bagi orang yang membenarkannya, rumah keselamatan bagi orang yang memahaminya, rumah kekayaan bagi orang yang mengambil bekal darinya, dan rumah nasihat bagi orang yang mengambil pelajaran darinya. Ia adalah tempat sujud para kekasih Allah, tempat salat para malaikat-Nya, tempat turunnya Wahyu Allah, dan tempat perdagangan para wali-Nya. Di dalamnya mereka memperoleh rahmat Allah dan mendapatkan surga sebagai keuntungan. Siapa yang mencela dunia padahal ia telah mengumumkan perpisahannya, dan berteriak bahwa ia tidak kekal, dan mengumumkan kematian dirinya dan penduduknya. Dengan cobaannya ia memberikan contoh cobaan (akhirat), dan dengan kegembiraannya ia membuat mereka merindukan kegembiraan (surga). Ia berlalu di sore hari dengan keselamatan dan kembali di pagi hari dengan musibah yang menyakitkan, untuk memberi semangat, menakut-nakuti, dan memperingatkan. Maka ada orang yang mencelanya di pagi hari karena penyesalan, dan ada orang yang memujinya di hari kiamat. Dunia mengingatkan mereka, lalu mereka ingat; ia berbicara kepada mereka, lalu mereka membenarkannya; dan ia menasihati mereka, lalu mereka mengambil pelajaran.
  131. Allah memiliki malaikat yang setiap hari berseru: "Melahirkanlah untuk kematian, kumpulkanlah untuk kehancuran, dan bangunlah untuk keruntuhan."
  132. Dunia adalah rumah untuk dilalui, bukan tempat untuk menetap. Orang-orang di dalamnya ada dua golongan: orang yang menjual dirinya lalu membinasakannya, dan orang yang membeli dirinya lalu membebaskannya.
  133. Seorang teman tidak benar-benar menjadi teman sampai ia menjaga saudaranya dalam tiga keadaan: saat ia tertimpa musibah, saat ia tidak ada (ghaib), dan setelah ia meninggal.
  134. Barang siapa dikaruniai empat hal, ia tidak akan terhalang dari empat hal: siapa yang diberi karunia Doa, tidak akan terhalang dari pengabulan; siapa yang diberi karunia Taubat, tidak akan terhalang dari penerimaan; siapa yang diberi karunia Istighfar, tidak akan terhalang dari ampunan; dan siapa yang diberi karunia syukur, tidak akan terhalang dari tambahan. Dan bukti dari kalimat ini ada dalam Kitabullah: Tentang doa Dia berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." Tentang istighfar Dia berfirman: "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tentang syukur Dia berfirman: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." Dan tentang taubat Dia berfirman: "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
  135. Salat adalah sarana pendekatan diri bagi setiap orang yang bertakwa, Haji adalah Jihad bagi setiap orang yang lemah, segala sesuatu ada zakatnya dan Zakat badan adalah Puasa, dan jihad seorang wanita adalah berbuat baik kepada suaminya.
  136. Pancinglah rezeki dengan bersedekah.
  137. Barang siapa yakin akan ganti (dari Allah), ia akan dermawan dalam memberi.
  138. Pertolongan (Allah) turun sesuai dengan kadar kebutuhan (biaya hidup).
  139. Barang siapa yang hidup sederhana (hemat), ia tidak akan jatuh miskin.
  140. Sedikitnya tanggungan keluarga adalah salah satu dari dua kemudahan (kekayaan).
  141. Kasih sayang (berteman dengan baik) adalah setengah dari akal.
  142. Kesedihan adalah separuh dari penuaan.
  143. Kesabaran turun sesuai dengan kadar musibah, dan barang siapa yang memukul pahanya saat tertimpa musibah, maka pahalanya akan hilang.
  144. Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus, dan berapa banyak orang yang salat malam tidak mendapatkan apa-apa selain begadang dan lelah. Alangkah baiknya tidurnya orang-orang cerdas (yang yakin) dan berbuka puasanya mereka.
  145. Bentengilah iman kalian dengan Sedekah, lindungi harta kalian dengan zakat, dan tolaklah gelombang bencana dengan doa.
  146. [[[Kumail bin Ziyad]] berkata: Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) memegang tanganku dan membawaku ke padang pasir. Ketika sampai di gurun, beliau menarik napas panjang dan bersabda:] Wahai Kumail! Hati ini adalah wadah, dan yang terbaik adalah yang paling mampu menampung (ilmu dan kebaikan). Maka hafalkanlah apa yang aku katakan kepadamu: Manusia ada tiga golongan: Ulama Rabbani (yang mengenal Allah), penuntut ilmu yang berada di jalan keselamatan, dan rakyat jelata (orang awam) yang mengikuti setiap seruan dan bergoyang mengikuti arah angin. Mereka tidak diterangi oleh cahaya ilmu dan tidak berlindung pada tiang yang kokoh. Wahai Kumail! Ilmu lebih baik daripada harta; ilmu menjagamu sedangkan engkau menjaga harta. Harta berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilmu bertambah jika diajarkan (disebarkan), dan apa yang dihasilkan oleh harta akan hilang dengan hilangnya harta. Wahai Kumail bin Ziyad! Mencintai ilmu adalah agama yang dengannya seseorang beragama. Dengannya seseorang memperoleh ketaatan (kepada Tuhan) dalam hidupnya dan nama baik setelah kematiannya. Ilmu adalah hakim (yang memerintah), sedangkan harta adalah yang diperintah (dihukum). Wahai Kumail! Para penimbun harta telah mati padahal mereka masih hidup, sedangkan para ulama akan tetap hidup sepanjang masa. Jasad mereka telah tiada, namun bayangan (ajaran) mereka ada di dalam hati. Ketahuilah bahwa di sini [beliau menunjuk ke dadanya] terdapat ilmu yang berlimpah, andai aku menemukan orang-orang yang mampu memikulnya. Ya, aku menemukan orang yang cerdas namun tidak dapat dipercaya; ia menggunakan alat agama untuk dunia, menggunakan nikmat Allah untuk mengungguli hamba-hamba-Nya, dan menggunakan hujah ilmu untuk melawan para wali Allah. Atau (aku menemukan) orang yang tunduk kepada ahli kebenaran namun tidak memiliki wawasan (bashirah) dalam menghidupkannya; keraguan muncul di hatinya pada syubhat pertama yang datang. Ketahuilah, tidak yang ini dan tidak yang itu (yang layak memikul ilmu ini). Atau orang yang sangat menginginkan kenikmatan, mudah dikendalikan oleh syahwat, atau orang yang rakus mengumpulkan dan menumpuk harta. Keduanya sama sekali bukan penjaga agama; mereka lebih mirip dengan ternak yang digembalakan. Demikianlah ilmu akan mati dengan matinya para pembawanya. Ya, bumi tidak akan pernah kosong dari orang yang menegakkan hujah Allah, baik ia tampak dan dikenal, atau takut dan tersembunyi, agar hujah-hujah Allah dan bukti-bukti-Nya tidak batil. Berapa jumlah mereka dan di mana mereka? Demi Allah, jumlah mereka sedikit, namun kedudukan mereka di sisi Allah sangat agung. Melalui mereka Allah menjaga hujah-hujah dan bukti-bukti-Nya, hingga mereka menyerahkannya kepada orang-orang yang serupa dengan mereka dan menanamnya di hati orang-orang yang sepadan dengan mereka. Ilmu telah membawa mereka pada hakikat keyakinan, dan mereka merasakan kemudahan pada apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang hidup mewah. Mereka merasa nyaman dengan apa yang ditakuti oleh orang-orang bodoh. Mereka hidup di dunia dengan jasad yang rohnya bergantung pada tempat tertinggi. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di bumi-Nya dan penyeru kepada agama-Nya. Ah, alangkah rindunya aku melihat mereka! Wahai Kumail, jika engkau mau, kembalilah.
  147. Seseorang tersembunyi di bawah lidahnya.
  148. Orang yang tidak mengetahui nilainya sendiri akan membinasakan dirinya.
  149. [Kepada seseorang yang memintanya nasihat, beliau bersabda:] Janganlah engkau termasuk orang yang mengharapkan akhirat tanpa amal, dan menunda tobat dengan angan-angan panjang. Ia berbicara tentang dunia seperti ucapan orang-orang Zuhud, namun dalam perbuatan ia mengejar dunia seperti pencari dunia. Jika dunia memberinya, ia tidak kenyang; jika dunia menahannya, ia tidak puas. Ia tidak mampu mensyukuri apa yang diberikan, dan menginginkan tambahan dari apa yang tersisa. Ia melarang orang lain berbuat jahat, namun ia sendiri tidak berhenti; ia memerintahkan apa yang tidak ia kerjakan. Ia mencintai orang saleh, namun tidak beramal seperti mereka; ia membenci orang berdosa, padahal ia salah satu dari mereka. Ia membenci kematian karena banyaknya dosanya, namun ia tetap melakukan apa yang membuatnya takut mati. Jika sakit, ia menyesal; jika sehat, ia merasa aman dan bermain-main. Jika sembuh, ia bangga diri; jika tertimpa musibah, ia putus asa. Jika diuji dengan bala, ia berdoa dengan merendahkan diri; jika mendapat kemudahan, ia berpaling dengan sombong. Dalam hal yang meragukan, ia dikalahkan oleh hawa nafsunya; dalam hal yang ia yakini, ia lemah dalam mengendalikan diri. Ia takut pada dosa kecil orang lain yang lebih kecil dari dosanya, dan mengharapkan pahala untuk dirinya lebih dari amalnya. Jika kaya, ia menjadi sombong dan terpedaya; jika miskin, ia putus asa dan lemah. Jika beramal, ia kurang sungguh-sungguh; jika meminta, ia berlebihan. Jika syahwat menguasainya, ia mendahulukan dosa dan menunda tobat; jika musibah menimpanya, ia keluar dari syariat dan agama. Ia menggambarkan pelajaran (ibrah) namun tidak mengambil pelajaran; ia berlebihan dalam memberi nasihat namun tidak menerima nasihat. Ia banyak bicara sedikit beramal. Ia berlomba-lomba dalam hal yang fana dan meremehkan yang kekal. Ia menganggap keuntungan sebagai kerugian dan kerugian sebagai keuntungan. Ia takut mati namun menyia-nyiakan kesempatan. Ia menganggap dosa orang lain besar, namun meremehkan dosanya yang lebih besar; ia menganggap ketaatannya banyak, namun meremehkan ketaatan orang lain yang serupa. Ia mencela orang lain dan berbasa-basi dengan dirinya sendiri (Riya). Ia lebih suka bersenang-senang dengan orang kaya daripada berzikir dengan orang miskin. Ia menghukumi orang lain demi kepentingannya, namun tidak menghukumi dirinya demi kepentingan orang lain; ia menunjuki orang lain namun menyesatkan dirinya sendiri. Maka ia ditaati namun ia bermaksiat; ia menuntut haknya secara penuh namun tidak menunaikan hak orang lain. Ia takut kepada makhluk bukan karena Allah, dan tidak takut kepada Allah dalam memperlakukan makhluk.
  150. Setiap orang memiliki akhir, entah itu manis atau pahit.
  151. Setiap orang yang beruntung akan mengalami kemalangan, dan apa yang telah berlalu seolah-olah tidak pernah ada.
  152. Orang yang sabar tidak akan kehilangan kemenangan, meskipun waktu yang lama berlalu.
  153. Barang siapa rela dengan perbuatan suatu kaum, maka ia seperti orang yang ikut serta dalam perbuatan mereka. Dan setiap orang yang masuk dalam kebatilan, menanggung dua dosa: dosa berbuat dan dosa rela (ridha).
  154. Peganglah janji orang-orang yang engkau harapkan kesetiaannya.
  155. Taatilah orang-orang yang kalian tidak punya alasan untuk tidak mengenal mereka (Imam yang hak).[10]
  156. Kalian telah diperlihatkan jika kalian mau melihat, diberi petunjuk jika kalian mau mengambil petunjuk, dan diperdengarkan jika kalian mau mendengar.
  157. Celalah saudaramu dengan berbuat baik kepadanya, dan tolaklah kejahatannya dengan memberinya hadiah.
  158. Barang siapa menempatkan dirinya di tempat-tempat yang menimbulkan prasangka buruk, janganlah ia mencela orang yang berprasangka buruk kepadanya.
  159. Barang siapa memegang kekuasaan, ia akan bertindak sewenang-wenang (istibdad).
  160. Barang siapa yang bersikeras dengan pendapatnya sendiri akan binasa, dan barang siapa bermusyawarah dengan orang lain, ia berserikat dalam akal mereka.
  161. Barang siapa menyembunyikan rahasianya, maka pilihan ada di tangannya.
  162. Kemiskinan adalah kematian terbesar.
  163. Barang siapa menunaikan hak orang yang tidak menunaikan haknya, maka ia telah menyembahnya (menghinakan dirinya).
  164. Tidak boleh menaati makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta (Khaliq). Templat:Poin
  165. Seseorang tidak dicela karena terlambat mengambil haknya, tetapi ia dicela jika mengambil apa yang bukan haknya.
  166. Ujub (bangga diri) adalah penghalang untuk mendapatkan tambahan (kebaikan).
  167. Kematian itu dekat dan persahabatan (dunia) itu singkat.
  168. Bagi orang yang memiliki dua mata yang melihat, pagi hari sudah terang benderang.
  169. Meninggalkan dosa lebih mudah daripada meminta tobat.
  170. Berapa banyak satu kali makan yang menghalangi kenikmatan makan berkali-kali.
  171. Manusia memusuhi apa yang tidak mereka ketahui.
  172. Barang siapa menyambut berbagai pendapat, ia akan mengetahui tempat-tempat kesalahan.
  173. Barang siapa marah karena Allah, ia akan mengalahkan kebatilan betapapun kuatnya.
  174. Jika engkau takut pada suatu hal, maka masuklah ke dalamnya, karena ketakutanmu terhadapnya lebih besar daripada (kesulitan) yang sebenarnya.
  175. Kelapangan dada dan kesabaran adalah alat kepemimpinan.
  176. Sakitilah orang jahat dengan memberi balasan (kebaikan) kepada orang baik.
  177. Cabutlah kejahatan dari dada orang lain dengan mencabutnya dari dadamu sendiri.
  178. Keras kepala akan merusak perencanaan.
  179. Tamak adalah perbudakan abadi.
  180. Kelalaian (dalam beramal) akan melahirkan penyesalan, dan kehati-hatian akan melahirkan keselamatan.
  181. Diam tidaklah pantas jika harus berbicara, dan berbicara tidaklah pantas jika tidak tahu.
  182. Tidak ada dua seruan yang bertentangan kecuali salah satunya sesat.
  183. Sejak kebenaran diperlihatkan kepadaku, aku tidak pernah meragukannya.
  184. Aku tidak pernah berbohong dan tidak pernah dibohongi, aku tidak pernah sesat dan tidak pernah disesatkan.
  185. Barang siapa yang memulai kezaliman, besok ia akan menggigit tangannya (menyesal).
  186. Kepergian (kematian) itu dekat.
  187. Barang siapa melawan kebenaran, ia akan dikalahkan olehnya.
  188. Barang siapa yang tidak diselamatkan oleh kesabaran, ia akan dibinasakan oleh ketidaksabaran.
  189. Sungguh aneh, kekhalifahan bisa didapat hanya dengan persahabatan! [Dan sebuah syair diriwayatkan dari beliau tentang hal ini:] Jika engkau mengambil urusan mereka dengan syura (musyawarah), alangkah anehnya syura di mana para pemilih tidak hadir. Dan jika engkau berhujah kepada lawan dengan kekerabatan, maka selainmu lebih dekat kepada Nabi dan lebih berhak.
  190. Manusia di dunia ini adalah sasaran panah kematian; nasibnya adalah jarahan musibah. Setiap tegukan air bisa tersedak, dan setiap suapan makanan bisa tersangkut di tenggorokan. Seorang hamba tidak akan mendapatkan nikmat kecuali dengan hilangnya nikmat lain, dan tidak akan menyambut satu hari dari umurnya kecuali dengan berlalunya satu hari dari ajalnya. Maka kita adalah penolong kematian dan jiwa kita adalah sasaran kematian, lalu bagaimana kita bisa berharap kekal? Siang dan malam tidak meninggikan bangunan kecuali mereka segera meruntuhkannya dan memisahkan apa yang telah mereka kumpulkan.
  191. Wahai anak Adam! Apa pun yang engkau kumpulkan melebihi kebutuhan harianmu, engkau hanyalah penjaga gudang bagi orang lain.
  192. Hati memiliki keinginan, perhatian, dan penolakan; maka datangilah hati saat ia berkeinginan dan siap, karena hati jika dipaksa akan buta.
  193. Kapan aku harus meredakan kemarahanku? Apakah saat aku tidak mampu membalas dendam, lalu dikatakan kepadaku: "Lebih baik sabar"? Atau saat aku mampu, lalu dikatakan kepadaku: "Lebih baik memaafkan"?
  194. [Beliau melewati kotoran di tempat pembuangan sampah dan bersabda:] Ini adalah apa yang orang-orang bakhil kikirkan. [Dalam riwayat lain:] Ini adalah apa yang kemarin kalian perebutkan.
  195. Apa yang hilang dari hartamu namun memberimu pelajaran, maka itu tidak hilang darimu.
  196. Hati ini bisa bosan sebagaimana tubuh bisa bosan, maka carilah kalimat-kalimat hikmah yang baru untuknya.
  197. [Ketika mendengar ucapan Khawarij "La hukma illa lillah" (Tidak ada hukum selain milik Allah), beliau bersabda:] Kalimat yang benar namun dimaksudkan untuk kebatilan.
  198. [Dalam menggambarkan orang-orang awam/hina, beliau bersabda:] Mereka adalah orang-orang yang jika berkumpul mereka menang (merusak), dan jika berpisah mereka tidak dikenal. [Dikatakan Imam bersabda:] Mereka adalah orang-orang yang jika berkumpul mereka merugikan, dan jika berpisah mereka memberi manfaat. [Orang-orang bertanya: Kami tahu kerugian perkumpulan mereka, apa manfaat perpisahan mereka? Beliau menjawab:] Para pekerja kembali ke pekerjaan mereka dan orang-orang mendapat manfaat dari mereka: tukang bangunan kembali membangun, penenun kembali ke alat tenunnya, dan pembuat roti kembali ke tempat pembuat rotinya.
  199. [Seorang penjahat dibawa ke hadapan beliau bersama sekumpulan orang awam, beliau bersabda:] Celakalah wajah-wajah yang tidak terlihat kecuali saat terjadi keburukan.
  200. Bersama setiap manusia ada dua malaikat yang menjaganya, dan jika takdir (kematian) datang, mereka membiarkannya. Sesungguhnya ajal adalah perisai yang kokoh.
  201. [Talhah dan Zubair berkata kepadanya: Kami akan membaiatmu dengan syarat engkau menyertakan kami dalam kekhalifahan. Beliau bersabda:] Tidak, tetapi kalian berdua adalah mitra dalam kekuatan dan bantuan, serta dua penolong saat kelemahan dan kesulitan.
  202. Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah yang jika kalian berbicara Dia mendengar, dan jika kalian menyembunyikan (dalam hati) Dia mengetahui. Dan bersegeralah menuju kematian yang jika kalian lari darinya, ia akan menyusul kalian, jika kalian menetap, ia akan menangkap kalian, dan jika kalian lupa, ia akan mengingat kalian.
  203. Jangan sampai orang yang tidak bersyukur atas kebaikanmu membuatmu enggan berbuat baik, karena mungkin orang yang tidak mendapat manfaat darinya akan bersyukur kepadamu, dan engkau mungkin mendapatkan rasa syukur dari orang yang bersyukur lebih banyak daripada yang disia-siakan oleh orang yang kufur nikmat. "Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
  204. Setiap wadah akan menyempit dengan apa yang diletakkan di dalamnya, kecuali wadah ilmu yang justru semakin luas.
  205. Balasan pertama bagi orang yang sabar atas kesabarannya adalah bahwa orang-orang akan menjadi penolongnya melawan orang bodoh.
  206. Jika engkau bukan orang yang sabar (halim), maka berpura-puralah sabar, karena jarang sekali seseorang menyerupakan dirinya dengan suatu kaum kecuali ia akan menjadi bagian dari mereka.
  207. Barang siapa menghisab dirinya sendiri, ia akan beruntung; dan barang siapa melupakannya, ia akan merugi. Barang siapa takut, ia akan aman; barang siapa mengambil pelajaran, ia akan melihat (kebenaran); barang siapa melihat, ia akan paham; dan barang siapa paham, ia akan berilmu.
  208. Dunia akan kembali kepada kami setelah bersikap liar, seperti unta betina yang jahat kembali menyusui anaknya. Kemudian beliau membaca ayat: "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)."
  209. Bertakwalah kepada Allah, seperti takwanya orang yang bijak, yang telah menyingsingkan lengan baju dan mempersiapkan diri, berusaha di saat kesempatan ada, bersegera dalam ketaatan karena takut, dan memandang ke tempat kembalinya dan akhir dari perjalanan yang akan ia tuju.
  210. Kemuliaan (muruah) adalah penjaga kehormatan, kesabaran adalah penutup mulut orang bodoh, maaf adalah zakat kemenangan, melupakan pengkhianatan orang lain adalah balasan bagimu, musyawarah adalah mata petunjuk, dan orang yang merasa cukup dengan pendapatnya sendiri akan menempatkan dirinya dalam bahaya. Kesabaran adalah penolak bencana zaman, dan ketidaksabaran adalah penolong zaman untuk menghancurkan manusia. Kekayaan yang paling mulia adalah meninggalkan angan-angan. Berapa banyak akal yang menjadi tawanan hawa nafsu. Mengambil pengalaman adalah taufik, dan menjalin persahabatan mendatangkan kasih sayang. Jangan pernah mempercayai orang yang mudah bosan.
  211. Ujub (bangga diri) seseorang adalah salah satu pendengki akalnya.
  212. Engkau harus bersabar menghadapi gangguan dan rasa sakit, jika tidak, engkau tidak akan pernah ridha.
  213. Barang siapa yang pohon (akhlaknya) lembut, maka ranting dan buahnya akan banyak (dicintai orang).
  214. Perdebatan akan menghancurkan tadbir (perencanaan).
  215. Barang siapa mencapai kekuasaan, ia akan merasa lebih unggul dari orang lain (istibdad).
  216. Dalam perubahan zaman, hakikat manusia akan terungkap.
  217. Rasa dengki seorang teman adalah tanda ketidaktulusan persahabatannya.
  218. Tempat jatuhnya akal seringkali ditemukan di mana kilatan ketamakan bersinar.
  219. Bukanlah keadilan menghukumi berdasarkan prasangka.
  220. Perbuatan zalim terhadap hamba Allah adalah bekal terburuk untuk akhirat.
  221. Termasuk kemuliaan orang yang agung adalah mengabaikan apa yang ia ketahui (dari aib orang lain).
  222. Barang siapa yang mengenakan pakaian rasa malu, orang lain tidak akan melihat aibnya.
  223. Dengan banyak diam, kewibawaan akan tampak; dengan berbuat adil, teman akan bertambah banyak; dengan memberi, kemuliaan akan terwujud; dengan tawadhu, nikmat akan sempurna; dengan menanggung beban, kepemimpinan akan diraih; dengan bersikap adil, musuh akan dikalahkan; dan dengan bersabar menghadapi orang bodoh, penolong akan bertambah banyak.
  224. Sungguh mengherankan para pendengki yang lalai akan kesehatan orang-orang.
  225. Orang yang tamak terikat dalam belenggu kehinaan.
  226. [Beliau ditanya tentang iman, beliau bersabda:] Iman adalah pengenalan dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan.
  227. Barang siapa yang sedih karena dunia, sesungguhnya ia marah terhadap qadha Allah. Barang siapa yang mengeluh karena musibah yang menimpanya, sesungguhnya ia mengeluh terhadap Tuhannya. Barang siapa mendatangi orang kaya dan merendahkan diri karena kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya. Barang siapa membaca Al-Qur'an lalu mati dan masuk neraka, ia termasuk orang yang menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan. Barang siapa hatinya terpaut pada cinta dunia, hatinya akan terikat pada tiga hal: kesedihan yang tidak pernah hilang, ketamakan yang tidak pernah meninggalkannya, dan angan-angan yang tidak akan pernah tercapai.
  228. Qanaah cukup sebagai kekayaan, dan akhlak yang baik adalah nikmat yang tersedia. [Beliau ditanya tentang makna "Falanuhiyiannahu hayatan thayyibah" (Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik), beliau menjawab:] Itu adalah qanaah.
  229. Berserikatlah dengan orang yang didatangi rezeki, karena ia lebih layak untuk kaya dan lebih pantas mendapat keberuntungan.
  230. [Tentang firman Allah "Innallaha ya'muru bil 'adli wal ihsan" (Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan), beliau bersabda:] Keadilan adalah kesetaraan/pemenuhan hak dan ihsan adalah berbuat baik (memberi lebih).
  231. Barang siapa memberi dengan tangan pendek, ia akan diberi dengan tangan panjang.[11]
  232. [Kepada putranya Hasan (as), beliau bersabda:] Janganlah engkau menantang seseorang untuk bertarung, tetapi jika engkau ditantang, maka terimalah; karena orang yang menantang adalah orang yang zalim (melampaui batas), dan orang yang zalim pasti kalah.
  233. Akhlak wanita yang terbaik adalah akhlak pria yang terburuk: sombong, penakut, dan kikir. Jika wanita sombong, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya; jika ia kikir, ia akan menjaga hartanya dan harta suaminya; dan jika ia penakut, ia akan waspada terhadap segala sesuatu yang menimpanya.
  234. [Beliau diminta untuk menyifati orang berakal, beliau bersabda:] Orang berakal adalah orang yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. [Lalu beliau diminta menyifati orang bodoh, beliau bersabda:] Aku telah menyifatinya (dengan kebalikan dari definisi sebelumnya).
  235. Demi Allah, dunia kalian ini di mataku lebih hina daripada tulang babi di tangan orang yang terkena kusta.
  236. Sekelompok orang menyembah Allah karena mengharap pahala, itu adalah ibadah pedagang. Sekelompok orang menyembah-Nya karena takut, itu adalah ibadah budak. Dan sekelompok orang menyembah-Nya karena syukur, itu adalah ibadah orang-orang merdeka.
  237. Wanita itu seluruhnya adalah keburukan (sumber masalah), dan yang lebih buruk darinya adalah bahwa dia tidak bisa dihindari (dibutuhkan).
  238. Barang siapa menyerahkan kendalinya kepada kemalasan, ia akan menyia-nyiakan hak-hak; dan barang siapa menuruti pemfitnah, ia akan kehilangan teman.
  239. Batu yang diperoleh secara ghasab (ilegal) di dalam rumah adalah jaminan bagi kehancurannya.
  240. Hari pembalasan bagi orang zalim lebih berat daripada hari kezaliman bagi orang yang dizalimi.
  241. Bertakwalah kepada Allah meskipun sedikit, dan buatlah tirai antara dirimu dan Allah meskipun tipis.
  242. Jika jawaban-jawaban itu serupa dan membingungkan, maka jawaban yang benar akan tersembunyi.
  243. Allah memiliki hak dalam setiap nikmat; barang siapa menunaikannya, Allah akan menambah nikmat itu, dan barang siapa melalaikannya, ia menempatkan dirinya dalam bahaya hilangnya nikmat.
  244. Jika kemampuan bertambah, keinginan berkurang.
  245. Waspadalah terhadap larinya nikmat, karena tidak semua yang lari akan kembali.
  246. Kedermawanan lebih mendekatkan daripada kekerabatan.
  247. Barang siapa berprasangka baik kepadamu, maka benarkanlah prasangkanya (dengan perbuatan baik).
  248. Sebaik-baik perbuatan adalah yang engkau memaksakan dirimu untuk melakukannya (melawan hawa nafsu).
  249. Aku mengenal Allah melalui batalnya tekad yang kuat dan terurainya ikatan (rencana).
  250. Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat.
  251. Allah mewajibkan Iman untuk membersihkan dari Syirik, Salat untuk menyucikan dari kesombongan, Zakat sebagai sebab turunnya rezeki, Puasa untuk menguji keikhlasan makhluk, Haji untuk mendekatkan orang-orang beragama, Jihad untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin, Amar Makruf untuk kemaslahatan umum, Nahi Munkar untuk mencegah orang-orang bodoh, menyambung tali kekerabatan untuk memperbanyak jumlah, Qishash untuk mencegah pertumpahan darah, penegakan Had untuk mengagungkan hal-hal yang haram, meninggalkan minuman keras untuk menjaga akal, menjauhi pencurian untuk menjaga kesucian diri, meninggalkan Zina untuk menjaga keturunan, meninggalkan homoseksualitas untuk memperbanyak umat, persaksian untuk menuntut hak-hak yang diingkari, meninggalkan kebohongan untuk menghormati kebenaran, salam untuk memberikan rasa aman dari ketakutan, Imamah untuk menjaga keteraturan umat, dan ketaatan untuk mengagungkan Imam (di mata masyarakat).
  252. Sumpahlah orang zalim (jika perlu diSumpah) dengan cara: Bahwa ia berlepas diri dari daya dan kekuatan Allah; karena jika ia bersumpah bohong dengan cara ini, ia akan segera dihukum. Tetapi jika ia bersumpah "Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia", hukumannya tidak akan disegerakan karena ia telah mengesakan Allah.
  253. Wahai anak Adam! Jadilah pelaksana wasiat bagi hartamu sendiri, dan lakukanlah padanya apa yang engkau ingin orang lain lakukan setelah kematianmu.
  254. Marah (tempramental) adalah sejenis gila, karena pemiliknya akan menyesal; jika ia tidak menyesal, maka kegilaannya telah menetap.
  255. Jika dengki sedikit, tubuh akan sehat dan tanpa kesedihan.
  256. Wahai Kumail! Perintahkan keluargamu untuk pergi mencari kemuliaan di siang hari dan memenuhi kebutuhan orang yang tidur di malam hari. Demi Zat yang pendengaran-Nya meliputi segala suara, tidak ada seorang pun yang menggembirakan hati (orang lain) kecuali Allah akan menciptakan لطف (kelembutan/karunia) dari kegembiraan itu baginya. Jika musibah menimpanya, kelembutan itu akan mengalir kepadanya seperti air yang mengalir, hingga mengusir musibah itu darinya sebagaimana unta asing diusir (dari tempat penggembalaan).
  257. Jika kalian miskin, berniagalah dengan Allah melalui sedekah.
  258. Setia kepada orang yang berkhianat adalah pengkhianatan kepada Allah, dan berkhianat kepada orang yang berkhianat adalah kesetiaan di sisi Allah.
  259. Berapa banyak orang yang tertipu karena kebaikan yang diberikan kepadanya, berapa banyak yang terpedaya karena dosanya ditutupi, dan berapa banyak yang tertipu karena ucapan baik yang diucapkan tentangnya. Dan Allah tidak menguji siapa pun seperti Dia memberi tangguh (kesempatan) dalam hidup.
  260. [Ketika mendengar berita bahwa pasukan Muawiyah menjarah Anbar, beliau berjalan kaki hingga sampai di Nukhailah. Orang-orang menyusulnya di Nukhailah dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, kami akan mengurus mereka untukmu." Imam bersabda:] Kalian tidak mampu mengurus urusan kalian sendiri, bagaimana kalian bisa mengurus urusan orang lain untukku? Sebelumku rakyat mengeluh tentang kezaliman penguasa, namun hari ini aku mengeluh tentang kezaliman rakyatku. Seolah-olah aku yang dipimpin dan mereka pemimpinnya, aku yang dihukum dan mereka hakimnya. [Ketika Imam mengucapkan ini dalam pidato panjang yang sebagiannya terdapat dalam khotbah Nahjul Balaghah, dua orang dari sahabatnya datang dan salah satunya berkata: "Aku tidak memiliki kekuasaan kecuali atas diriku dan saudaraku, perintahkanlah kami wahai Amirul Mukminin maka kami akan melaksanakannya." Imam bersabda:] Di mana kalian dan di mana apa yang aku inginkan?
  261. [Dikatakan bahwa Harits bin Hut datang kepada beliau dan berkata: "Apakah engkau mengira aku menganggap Ashab al-Jamal sesat?" Beliau bersabda:] Wahai Harits, engkau melihat ke bawah kaki (jangka pendek) dan tidak melihat secara mendalam, maka engkau bingung. Engkau tidak mengenal kebenaran sehingga engkau tahu siapa ahli kebenaran, dan tidak mengenal kebatilan sehingga engkau tahu siapa pengikutnya. [Harits berkata: "Aku akan menyingkir bersama Sa'ad bin Malik dan Abdullah bin Umar." Beliau bersabda:] Sa'ad dan Abdullah bin Umar tidak menolong kebenaran dan tidak pula menghinakan kebatilan.
  262. Teman raja seperti orang yang menunggang singa; orang lain iri dengan kedudukannya, padahal ia sendiri lebih tahu tentang posisinya (bahayanya).
  263. Berbuat baiklah kepada keluarga orang lain, agar mereka berbuat baik kepada keluargamu.
  264. Ucapan orang bijak jika benar adalah obat, dan jika salah adalah penyakit.
  265. [Seseorang memintanya untuk mendefinisikan iman, beliau bersabda:] Datanglah besok kepadaku, agar aku menjawabmu di hadapan orang banyak, supaya jika engkau lupa ucapanku, orang lain akan menghafalnya; karena ucapan itu seperti buruan yang lari, mungkin ditangkap oleh seseorang dan lepas dari yang lain.[12]
  266. Wahai anak Adam! Janganlah engkau tambahkan kesedihan hari yang belum datang pada hari yang sudah ada, karena jika hari esok termasuk dalam umurmu, Allah akan mendatangkan rezekimu di dalamnya.
  267. Cintailah temanmu sekadarnya, barangkali suatu hari ia menjadi musuhmu; dan bencilah musuhmu sekadarnya, barangkali suatu hari ia menjadi temanmu.
  268. Manusia di dunia dalam hal dunia ada dua macam: Orang yang bekerja untuk dunia dan dunia melalaikannya dari akhiratnya; ia khawatir keluarganya jatuh miskin, namun merasa aman dari kemiskinan untuk dirinya sendiri di akhirat. Maka ia menghabiskan umurnya demi keuntungan orang lain. Dan orang yang bekerja di dunia untuk setelah dunia, maka bagian dunianya datang kepadanya tanpa ia (bersusah payah) bekerja untuknya; ia memperoleh kedua bagian dan memiliki kedua dunia. Orang seperti ini terhormat di sisi Allah dan apa pun yang ia minta dari Allah tidak akan ditolak.
  269. [Diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dibicarakan tentang perhiasan Kakbah dan banyaknya harta di dalamnya. Sekelompok orang berkata: "Jika engkau menjualnya dan menggunakan uangnya untuk mempersiapkan pasukan muslimin, pahalanya lebih besar. Apa perlunya Kakbah dengan perhiasan?" Umar berniat melakukan hal itu dan bertanya kepada Amirul Mukminin. Beliau bersabda:] Al-Qur'an turun kepada Nabi (saw) dan harta terbagi menjadi empat: Harta kaum muslimin yang dibagikan kepada ahli waris sesuai bagiannya. Harta rampasan perang yang dibagikan kepada yang berhak. Khumus yang diletakkan pada tempatnya. Dan Sedekah yang Allah tetapkan penggunaannya. Pada hari itu Kakbah memiliki perhiasan dan Allah membiarkannya dalam keadaannya. Dia tidak membiarkannya karena lupa dan tempatnya tidak tersembunyi bagi Allah. Maka biarkanlah ia di tempat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. [Umar berkata: "Jika bukan karenamu, kami akan binasa", dan membiarkan perhiasan itu apa adanya.]
  270. [Diriwayatkan bahwa dua orang dibawa kepadanya karena mencuri harta Allah (Baitul Mal): salah satunya adalah budak dari Baitul Mal kaum muslimin, dan yang lainnya adalah milik rakyat. Beliau bersabda:] Adapun yang ini adalah dari harta Allah dan tidak ada hukuman potong tangan baginya, karena harta Allah memakan sebagian harta Allah. Adapun yang lain, hukuman had berlaku atasnya, lalu beliau memotong tangannya.
  271. Jika kedua kakiku kokoh di tempat yang licin ini[13] aku akan mengubah banyak hal.[14]
  272. Ketahuilah dengan yakin bahwa Allah tidak menetapkan bagi hamba-Nya lebih dari apa yang telah tertulis dalam Dzikir Hakim (Lauh Mahfuzh), meskipun hamba itu sangat cerdik, sangat gigih mencari, dan kuat dalam tipu daya. Dan Allah tidak menghalangi hamba yang lemah dan kurang siasat untuk mendapatkan apa yang telah ditetapkan baginya. Barang siapa mengetahui hal ini dan beramal sesuai dengannya, ia akan menjadi orang yang paling tenang dan paling beruntung. Dan barang siapa meninggalkannya dan meragukannya, ia akan menjadi orang yang paling sibuk hatinya dan paling merugi. Berapa banyak orang yang diberi nikmat namun tertipu (istidraj) dan akhirnya binasa, dan berapa banyak orang yang diuji agar Allah memberinya nikmat. Maka wahai pencari keuntungan, perbanyaklah syukur dan kurangi ketergesa-gesaan, dan jangan berharap lebih dari rezekimu!
  273. Janganlah menganggap ilmu kalian sebagai kebodohan, dan keyakinan kalian sebagai keraguan. Jika kalian telah mengetahui, maka beramallah; dan jika kalian telah yakin, maka melangkahlah.
  274. Ketamakan adalah pendorong menuju kehancuran yang tidak menyelamatkan, dan penjamin yang tidak memenuhi jaminannya. Berapa banyak peminum yang tersedak sebelum kenyang minum. Nilai sesuatu yang diperebutkan, semakin besar nilainya, semakin besar pula musibah kehilangannya. Angan-angan membutakan mata hati, dan keberuntungan datang kepada orang yang tidak mengejarnya.
  275. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tampilan luarku yang tampak baik di mata orang, sementara batinku buruk dalam apa yang aku sembunyikan dari-Mu. Aku menghiasi diriku di hadapan manusia dengan Riya dan sum'ah, padahal Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Aku menampakkan kebaikan lahiriahku kepada manusia dan membawa keburukan amalku kepada-Mu, untuk mendekatkan diriku kepada hamba-hamba-Mu dan menjauh dari keridhaan-Mu.
  276. Tidak! Demi Allah yang kepada kekuasaan-Nya aku berserah diri. Malam yang gelap telah berlalu yang akan diikuti oleh siang yang terang; kejadiannya tidak seperti itu.
  277. Sedikit yang engkau bisa bertahan dengannya lebih baik daripada banyak yang membuatmu bosan.
  278. Jika amalan sunnah merugikan amalan wajib, tinggalkanlah amalan sunnah itu.
  279. Barang siapa mengingat jauhnya perjalanan, ia akan bersiap-siap.
  280. Berpikir tidak sama dengan melihat dengan mata, karena mata terkadang menipu pemiliknya, namun akal tidak akan mengkhianati orang yang meminta nasihat darinya.
  281. Antara kalian dan nasihat terdapat tirai kelalaian.
  282. Orang bodoh di antara kalian berlebihan dalam apa yang tidak semestinya, dan orang alim di antara kalian menunda apa yang seharusnya dilakukan sekarang.
  283. Ilmu telah menutup jalan alasan bagi orang-orang yang mencari alasan.
  284. Semua orang diminta untuk bersegera (menuju kematian) dan semua orang meminta penangguhan. Semua orang telah ditetapkan waktunya, namun mereka menunda-nunda dan berhenti beramal.
  285. Orang-orang tidak mengatakan "selamat" untuk sesuatu, kecuali zaman telah menyimpan hari buruk untuk hari itu.
  286. [Beliau ditanya tentang takdir, beliau bersabda:] Jalan yang gelap, janganlah kalian tempuh; lautan yang dalam, janganlah kalian masuk ke dalamnya; dan rahasia Allah, janganlah kalian memaksakan diri untuk membukanya.
  287. Jika Allah hendak menghinakan seorang hamba, Dia menghalanginya dari ilmu.
  288. Di masa lalu aku memiliki seorang saudara di jalan Allah. Kecilnya dunia di matanya membuatnya besar di mataku. Perut tidak menguasainya, sehingga ia tidak menginginkan apa yang tidak ia temukan dan tidak berlebihan menggunakan apa yang ia temukan. Sebagian besar waktunya ia diam, namun jika berbicara ia membungkam pembicara lain dan memuaskan dahaga penanya. Ia rendah hati dan tampak lemah, namun saat bertindak ia seperti singa hutan dan ular gurun. Ia tidak mengemukakan hujah kecuali di hadapan hakim, dan tidak mencela orang yang memiliki uzur sampai ia mendengar uzurnya. Ia tidak mengeluh sakit kecuali setelah sembuh. Ia melakukan apa yang ia katakan dan tidak mengatakan apa yang tidak ia lakukan. Jika ia diajak berdebat, ia memilih diam — dan jika ia dikalahkan dalam pembicaraan, ia tidak dikalahkan dalam diam. Ia lebih bersemangat untuk mendengar daripada berbicara. Jika dihadapkan pada dua hal, ia melihat mana yang lebih dekat dengan hawa nafsu lalu menyelisihinya. Hendaklah kalian memiliki sifat-sifat ini dan berlomba-lombalah untuk mendapatkannya. Jika kalian tidak mampu, ketahuilah bahwa mengambil sedikit lebih baik daripada meninggalkan semuanya.
  289. Seandainya Allah tidak mengancam atas kemaksiatan kepada-Nya, niscaya wajib untuk tidak mendurhakai-Nya sebagai bentuk syukur atas nikmat-nikmat-Nya.
  290. [Beliau bertakziah kepada Asy'ats bin Qais atas kematian putranya:] Wahai Asy'ats! Jika engkau bersedih atas putramu, engkau pantas karena hubungan darah dengannya. Namun jika engkau bersabar, setiap musibah ada pahalanya di sisi Allah. Wahai Asy'ats! Jika engkau bersabar, takdir Allah berlaku atasmu dan engkau mendapat pahala; dan jika engkau berkeluh kesah, takdir Allah tetap berlaku atasmu dan engkau berdosa. Putramu menyenangkanmu padahal ia adalah ujian dan cobaan bagimu, dan ia menyedihkanmu padahal itu adalah pahala dan ampunan bagimu.
  291. [Di makam Rasulullah (saw) saat pemakaman beliau, beliau bersabda:] Kesabaran itu indah kecuali dalam kehilanganmu, dan berkeluh kesah itu buruk kecuali atas kematianmu. Musibahmu sangat besar, dan musibah sebelum dan sesudahnya menjadi kecil (dibandingkan musibahmu).
  292. Janganlah berteman dengan orang bodoh, karena ia akan menghiasi perbuatannya di matamu dan ingin agar engkau menjadi seperti dirinya.
  293. [Seseorang bertanya tentang jarak antara timur dan barat, beliau menjawab:] Sejauh perjalanan matahari dalam satu hari.
  294. Temanmu ada tiga dan musuhmu ada tiga. Temanmu adalah: temanmu, teman dari temanmu, dan musuh dari musuhmu. Musuhmu adalah: musuhmu, musuh dari temanmu, dan teman dari musuhmu.
  295. [Beliau melihat seseorang yang berusaha mencelakai musuhnya namun membahayakan dirinya sendiri, beliau bersabda:] Engkau seperti orang yang menusukkan tombak ke dirinya sendiri untuk membunuh orang yang membonceng di belakangnya.
  296. Nasihat itu banyak, namun yang mengambil pelajaran sedikit.
  297. Barang siapa yang berlebihan dalam permusuhan, ia berdosa; barang siapa yang meremehkannya, ia akan dizalimi; dan barang siapa yang suka bertengkar, ia tidak akan bisa bertakwa kepada Allah.
  298. Dosa yang setelahnya aku diberi kesempatan untuk salat dua rakaat tidak membuatku sedih.
  299. [Beliau ditanya: "Bagaimana Allah menghisab manusia padahal jumlah mereka sangat banyak?" Beliau menjawab:] Sebagaimana Dia memberi rezeki kepada mereka padahal jumlah mereka sangat banyak. [Mereka bertanya: "Bagaimana Dia menghisab mereka padahal mereka tidak melihat-Nya?" Beliau menjawab:] Sebagaimana Dia memberi rezeki kepada mereka padahal mereka tidak melihat-Nya.
  300. Utusanmu adalah penerjemah akalmu, dan suratmu adalah hal yang paling fasih berbicara tentangmu.
  301. Orang yang tertimpa musibah berat tidak lebih membutuhkan Doa daripada orang yang selamat yang tidak aman dari musibah.
  302. Manusia adalah anak-anak dunia, dan anak tidak dicela karena mencintai ibunya.
  303. Pengemis adalah utusan Allah; barang siapa menghalanginya (tidak memberinya), ia telah menghalangi Allah; dan barang siapa memberinya, ia telah bersyukur dan menghormati Allah.
  304. Orang yang memiliki ghirah (kecemburuan/harga diri) tidak akan pernah berzina.
  305. Cukuplah ajal sebagai penjaga.
  306. Orang yang kehilangan anak bisa tidur, namun orang yang kehilangan harta tidak bisa memejamkan mata.
  307. Persahabatan para ayah adalah sebab kekerabatan di antara anak-anak, dan kekerabatan lebih membutuhkan kasih sayang daripada kasih sayang membutuhkan kekerabatan.
  308. Waspadalah terhadap firasat orang mukmin, karena Allah telah meletakkan kebenaran di lidah mereka.
  309. Iman seorang hamba tidak akan benar kecuali kepercayaannya kepada apa yang ada di tangan Allah lebih besar daripada kepercayaannya kepada apa yang ada di tangannya sendiri.
  310. [Beliau mengutus Anas bin Malik kepada Talhah dan Zubair di Basrah untuk mengingatkan mereka akan sebuah hadis yang ia dengar dari Rasulullah (saw). Anas enggan menyampaikan pesan itu dan ketika kembali ia berkata: "Aku lupa." Imam bersabda:] Jika engkau berbohong, semoga Allah menimpakan kepadamu penyakit kusta yang putih berkilau yang tidak dapat ditutupi oleh serban. [Setelah itu, wajah Anas terkena penyakit kusta dan tidak ada yang melihatnya kecuali ia mengenakan cadar.]
  311. Hati memiliki masa menghadap (bersemangat) dan masa berpaling (malas). Jika hati sedang menghadap, maka bebankanlah amal-amal sunnah; dan jika ia berpaling, cukupkanlah dengan kewajiban.
  312. Dalam Al-Qur'an terdapat berita tentang orang-orang sebelum kalian, berita tentang apa yang akan terjadi setelah kalian, dan hukum mengenai urusan di antara kalian.
  313. Kembalikanlah batu ke tempat asalnya, karena kejahatan tidak dapat ditolak kecuali dengan kejahatan.
  314. [Kepada juru tulisnya, Ubaidullah bin Abi Rafi', beliau bersabda:] Berilah serat pada tintamu, panjangkan ujung penamu, renggangkan jarak antar baris, dan rapatkan jarak antar huruf, karena hal itu lebih indah bagi tulisan.
  315. Aku adalah pemimpin orang-orang mukmin, dan harta adalah pemimpin orang-orang jahat. [Maknanya adalah orang mukmin mengikutiku, dan orang jahat mengikuti harta sebagaimana lebah mengikuti ratunya].
  316. [Seorang Yahudi berkata kepadanya: "Belum lagi kalian menguburkan Nabi kalian, kalian telah berselisih tentangnya." Imam menjawab:] Kami berselisih tentang apa yang datang darinya (warisan kepemimpinannya), bukan tentang dirinya. Tetapi kalian, kaki kalian belum kering dari basahnya laut (setelah diselamatkan Musa), kalian telah berkata kepada Nabi kalian: "Buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan." Dan dia (Musa) berkata: "Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh."
  317. [Seseorang bertanya: "Bagaimana engkau bisa mengalahkan lawan-lawanmu?" Beliau menjawab:] Aku tidak bertemu seseorang kecuali ia membantuku melawan dirinya sendiri. [Artinya, ketakutanku masuk ke dalam hatinya.]
  318. [Kepada putranya Muhammad bin Hanafiyah, beliau bersabda:] Wahai anakku, aku khawatir kemiskinan menimpamu. Maka berlindunglah kepada Allah darinya, karena kemiskinan mengurangi agama, membingungkan akal, dan menimbulkan permusuhan.
  319. [Kepada seseorang yang bertanya masalah yang sulit, beliau bersabda:] Bertanyalah untuk mengetahui, bukan untuk menyusahkan (mencari-cari kesalahan), karena orang bodoh yang mau belajar itu seperti orang alim, dan orang alim yang menyimpang dari jalan Insaf itu seperti orang bodoh yang suka membantah.
  320. [Kepada Abdullah bin Abbas tentang pendapat yang diberikannya namun tidak disetujui Imam, beliau bersabda:] Bagimu adalah memberiku pendapat, dan jika aku tidak menerimanya, engkau harus menaatiku.
  321. [Dikatakan bahwa ketika kembali dari Shiffin ke Kufah, beliau melewati perkampungan Syibamiyyin[15] dan mendengar suara tangisan wanita atas korban Shiffin. Harb bin Syurahbil asy-Syibami, salah satu tokoh kaumnya, datang menghadap beliau. Imam bersabda:] Seperti yang aku dengar, wanita-wanita kalian telah menguasai kalian, mengapa kalian tidak melarang mereka dari meratap? [Harb berjalan kaki menyertai Imam yang berkendaraan, beliau bersabda kepadanya:] Kembalilah, karena berjalannya orang sepertimu bersama orang sepertiku adalah fitnah bagi wali (pemimpin) dan kehinaan bagi orang mukmin.
  322. [Ketika melewati mayat-mayat Khawarij pada hari Nahrawan, beliau bersabda:] Celakalah kalian! Orang yang menipu kalian telah mencelakakan kalian. [Mereka bertanya: Wahai Amirul Mukminin! Siapa yang menipu mereka? Beliau menjawab:] Setan yang menyesatkan dan hawa nafsu yang memerintahkan keburukan. Ia menipu mereka dengan angan-angan, membuka jalan kemaksiatan bagi mereka, menjanjikan kemenangan, dan akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam api neraka.
  323. Waspadalah terhadap maksiat kepada Allah dalam kesendirian, karena Dia yang melihat adalah Dia yang menghakimi.
  324. [Ketika berita terbunuhnya Muhammad bin Abu Bakar sampai kepadanya, beliau bersabda:] Kesedihan kami atasnya sebesar kegembiraan mereka (musuh), hanya saja musuh berkurang dari mereka dan teman hilang dari sisi kami.
  325. Umur di mana anak Adam tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah (untuk mengikuti hawa nafsu) adalah enam puluh tahun.
  326. Orang yang dikalahkan oleh dosa tidak akan melihat kemenangan, dan orang yang dikuasai keburukan akan kalah.
  327. Allah Yang Maha Suci telah mewajibkan rezeki orang-orang miskin dalam harta orang-orang kaya. Maka tidak ada orang miskin yang kelaparan kecuali karena orang kaya telah menikmati haknya. Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang kaya atas hal ini.
  328. Tidak membutuhkan alasan (uzur) lebih mulia daripada menyampaikan alasan dengan jujur.
  329. Hak minimal Allah atas kalian adalah tidak menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya.
  330. Allah Yang Maha Suci menjadikan ketaatan sebagai keuntungan (ghanimah) bagi orang-orang cerdas ketika orang-orang lemah melalaikannya.
  331. Kekuasaan para penguasa adalah penjaga Allah di bumi-Nya.
  332. [Dalam menyifati orang mukmin, beliau bersabda:] Kegembiraan orang mukmin tampak di wajahnya, dan kesedihannya di dalam hatinya. Dadanya paling lapang dan nafsunya paling hina. Ia membenci ketinggian (sombong) dan tidak suka memperdengarkan kebaikannya (riya). Kesedihannya panjang, himmahnya tinggi. Ia banyak diam, waktunya terisi, bersyukur, sabar, tenggelam dalam pikiran, tidak mengungkapkan kebutuhannya kepada orang lain, berakhlak tenang, dan lembut. Hatinya lebih keras dari batu karang (dalam agama) namun ia lebih rendah hati daripada budak.
  333. Jika hamba melihat ajal dan akhirnya, ia akan memusuhi angan-angan dan tipu dayanya.
  334. Setiap orang memiliki dua sekutu dalam hartanya: ahli waris dan musibah (kejadian tak terduga).
  335. Orang yang diminta sesuatu darinya bebas selama belum berjanji.
  336. Orang yang menyeru (ke jalan Allah) namun tidak mengamalkannya, bagaikan pemanah yang memanah tanpa tali busur.
  337. Ilmu ada dua macam: ilmu yang tertanam dalam tabiat (fithri) dan ilmu yang didengar (dipelajari). Ilmu yang didengar tidak akan bermanfaat jika tidak ada ilmu fithri.
  338. Pendapat yang benar menyertai kekuasaan; ia datang bersamanya dan pergi bersamanya.
  339. Menjaga kehormatan (iffah) adalah perhiasan kemiskinan, dan syukur adalah perhiasan kekayaan.
  340. Hari keadilan bagi orang zalim lebih berat daripada hari kezaliman bagi orang yang dizalimi.
  341. Kekayaan terbesar adalah tidak mengharapkan apa yang ada di tangan orang lain.
  342. "Ucapan-ucapan tersimpan di sisi Penjaga", "rahasia-rahasia tampak", dan "setiap jiwa terikat dengan apa yang dikerjakannya". Dan manusia yang kurang akal dan sakit, kecuali yang dijaga oleh Allah. Penanya mereka menyakiti orang lain, dan penjawab mereka membebani diri dalam berbicara. Orang yang memiliki pendapat terbaik di antara mereka bisa dipalingkan oleh keridhaan atau kemarahan, dan orang yang paling teguh di antara mereka bisa disakiti oleh pandangan sekilas atau diubah oleh satu kata.
  343. Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, karena betapa banyak orang yang berharap namun tidak mencapai harapannya, pembangun yang tidak menempati bangunannya, dan pengumpul harta yang segera akan meninggalkan apa yang dikumpulkannya; mungkin ia mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, atau menahan hak yang seharusnya diberikan, memperolehnya dari yang haram dan dosanya tetap di lehernya. Ia kembali dengan beban dosa yang berat, dan datang kepada Tuhannya dengan penyesalan dan kerugian. "Merugi di dunia dan akhirat, itulah kerugian yang nyata."
  344. Tidak mampu berbuat dosa adalah salah satu bentuk meninggalkan dosa.
  345. Harga dirimu beku (tak tertumpah) sampai engkau memintanya menetes (dengan meminta-minta), maka perhatikanlah di hadapan siapa engkau meneteskannya.
  346. Memuji lebih dari yang berhak adalah penjilatan, dan kurang dari yang semestinya adalah ketidakmampuan atau kedengkian.
  347. Dosa yang paling berat adalah dosa yang dianggap ringan oleh pelakunya.
  348. Barang siapa melihat aib dirinya sendiri, ia tidak akan melihat aib orang lain; barang siapa ridha dengan rezeki Allah, ia tidak akan bersedih atas apa yang luput darinya; barang siapa menghunus pedang kezaliman, ia akan terbunuh dengannya; barang siapa membebani dirinya dalam urusan yang bukan urusannya, ia akan binasa; barang siapa menceburkan diri ke dalam ombak tanpa perhitungan, ia akan tenggelam; barang siapa masuk ke tempat-tempat yang buruk, ia akan tertuduh; barang siapa banyak bicara, banyak salahnya; barang siapa banyak salahnya, sedikit malunya; barang siapa sedikit malunya, sedikit wara'nya; barang siapa sedikit wara'nya, hatinya mati; dan barang siapa hatinya mati, ia masuk neraka. Barang siapa melihat keburukan orang lain dan mengingkarinya namun meridhainya untuk dirinya sendiri, ia adalah orang bodoh yang nyata. Qanaah adalah harta yang tidak habis. Barang siapa banyak mengingat mati, ia akan puas dengan sedikit dari dunia. Barang siapa tahu bahwa ucapannya adalah bagian dari amalnya, ia hanya akan berbicara tentang apa yang bermanfaat baginya.
  349. Orang zalim memiliki tiga tanda: ia menzalimi orang di atasnya dengan kemaksiatan, menzalimi orang di bawahnya dengan dominasi dan penindasan, dan membantu kaum zalim serta mendukung mereka.
  350. Ketika kesulitan memuncak, kemudahan akan datang; dan ketika cincin-cincin bala (cobaan) menyempit, kelapangan akan tiba.
  351. [Kepada salah satu sahabatnya, beliau bersabda:] Janganlah terlalu memikirkan istri dan anakmu, karena jika mereka adalah kekasih Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan kekasih-Nya; dan jika mereka adalah musuh Allah, mengapa engkau bersedih memikirkan musuh Allah?
  352. Aib terbesar adalah engkau menganggap buruk sesuatu yang juga ada pada dirimu.
  353. [Seseorang di hadapan Imam (as) mengucapkan selamat kepada orang lain atas kelahiran putranya dengan berkata: "Selamat atas penunggang kuda yang dianugerahkan kepadamu." Imam bersabda:] Jangan berkata demikian, katakanlah: "Syukurilah Sang Pemberi, semoga diberkahi apa yang diberikan kepadamu, semoga ia mencapai kedewasaannya, dan engkau dikaruniai kebaikannya."
  354. [Salah satu pekerjanya membangun istana yang megah, Imam bersabda:] Uang perak telah mengangkat kepalanya dan menampakkan dirinya; bangunan ini menunjukkan kekayaanmu.
  355. [Seseorang bertanya: "Jika pintu rumah seseorang ditutup, dari mana rezekinya akan datang?" Beliau menjawab:] Dari mana kematiannya akan datang kepadanya.
  356. [Beliau bertakziah kepada sekelompok orang atas kematian salah satu dari mereka:] Peristiwa ini tidak dimulai dengan kalian, dan tidak akan berakhir pada kalian. Teman kalian ini sedang melakukan perjalanan, anggaplah ia sedang dalam salah satu perjalanannya. Jika ia kembali kepada kalian, alangkah baiknya; jika tidak, kalian yang akan menyusulnya.
  357. Wahai manusia! Hendaklah Allah melihat kalian takut pada saat mendapat nikmat, sebagaimana kalian takut akan hukuman. Barang siapa diberi kelapangan harta namun tidak melihat kelapangan itu sebagai jebakan tersembunyi (istidraj), maka ia merasa aman dari hal yang menakutkan. Dan barang siapa yang disempitkan rezekinya namun tidak menganggapnya sebagai ujian, maka ia telah menyia-nyiakan pahala yang diharapkan.
  358. Wahai tawanan ketamakan! Berhentilah, karena orang yang mengejar dunia akan diliputi ketakutan saat bencana zaman menggigit. Wahai manusia! Uruslah sendiri urusan perbaikan diri kalian, dan palingkanlah nafsu kalian dari kebiasaan-kebiasaan yang digemarinya!
  359. Janganlah berprasangka buruk terhadap ucapan yang keluar dari mulut seseorang, selama engkau masih bisa menemukan kemungkinan makna yang baik.
  360. Jika engkau memiliki hajat kepada Allah SWT, mulailah dengan bershalawat kepada Rasulullah (saw), kemudian mintalah hajatmu; karena Allah terlalu Maha Mulia untuk dimintai dua hajat lalu mengabulkan salah satunya dan menolak yang lain.
  361. Barang siapa yang tidak ingin kehormatannya jatuh, hendaklah ia menghindari perdebatan.
  362. Termasuk kebodohan adalah terburu-buru sebelum memiliki kemampuan, dan menunda-nunda setelah memiliki kesempatan.
  363. Jangan tanya apa yang belum terjadi, karena apa yang sudah terjadi cukup untuk menyibukkanmu.
  364. Pikiran adalah cermin yang jernih, nasihat harian adalah pemberi peringatan yang bersih dari tipuan, dan cukuplah bagimu dalam mendidik nafsu dengan menjauhi apa yang tidak engkau sukai dari orang lain.
  365. Ilmu harus disertai dengan amal; barang siapa berilmu, ia harus beramal. Ilmu memanggil amal; jika amal menjawab, ia akan tetap ada, jika tidak, ilmu akan pergi meninggalkannya.
  366. Wahai manusia, kekayaan dunia bagaikan rumput kering yang membawa wabah, maka jauhilah tempat penggembalaan ini. Meninggalkannya lebih nikmat daripada menetap dengan tenang di dalamnya, dan mengambil rezeki sekadar kebutuhan harian lebih suci daripada menumpuk kekayaannya. Siapa yang mengambil banyak darinya, ia dihukum dengan kemiskinan; dan siapa yang merasa cukup darinya, ia akan mendapat ketenangan. Siapa yang terpesona oleh perhiasan dunia, kebutaan akan menimpanya. Dan siapa yang membiarkan dirinya terpikat oleh dunia, dunia akan memenuhi batinnya dengan kesedihan; kesedihan-kesedihan akan menari di dalam hatinya, satu menyibukkannya dan yang lain membuatnya cemas, hingga tenggorokannya tercekik dan ia mati di suatu sudut. Urat nadinya terputus (ajal tiba), mematikannya mudah bagi Allah, dan menguburkannya menjadi beban bagi saudara-saudaranya. Sesungguhnya orang beriman melihat dunia dengan pandangan pelajaran (ibrah), dan memakan darinya sekadar kebutuhan darurat. Ia mendengar pembicaraan dunia dengan telinga kebencian dan permusuhan. Jika dikatakan ia menjadi kaya, tidak lama kemudian dikatakan ia jatuh miskin; dan jika mereka bergembira atas keberadaannya, mereka akan bersedih karena umurnya telah habis. Inilah keadaan manusia, padahal belum datang kepada mereka hari di mana mereka akan putus asa di dalamnya (Kiamat).
  367. Allah SWT menetapkan pahala dalam ketaatan dan hukuman dalam kemaksiatan, untuk menyelamatkan hamba-hamba-Nya dari azab-Nya dan menggiring mereka ke surga-Nya.
  368. Akan datang suatu masa kepada manusia di mana Al-Qur'an hanya tinggal tulisan dan Islam hanya tinggal nama. Pada masa itu, bangunan masjid mereka megah namun kosong dari petunjuk. Penghuni dan pembangun masjid-masjid itu adalah seburuk-buruk penduduk bumi; fitnah muncul dari mereka dan kesalahan kembali kepada mereka. Barang siapa yang menjauh dari fitnah, mereka akan mengembalikannya ke dalamnya; dan barang siapa yang tertinggal, mereka akan mendorongnya ke sana. Allah Ta'ala berfirman: "Demi diri-Ku, Aku bersumpah akan mengirimkan kepada mereka fitnah di mana orang yang sabar (bijak) akan menjadi bingung di dalamnya." Dan Dia telah melakukannya. Kita memohon kepada Allah agar mengampuni ketergelinciran kelalaian.
  369. [Diriwayatkan bahwa Imam (as) jarang naik mimbar tanpa mengatakan sebelum khotbah:] Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, karena tidak ada manusia yang diciptakan sia-sia lalu ia bermain-main, dan tidak pula dibiarkan begitu saja lalu ia menyibukkan diri dengan kesia-siaan. Dunia yang tampak indah di matanya tidak akan bisa menggantikan akhirat yang ia anggap buruk. Dan orang yang terpedaya yang mencapai tujuan tertinggi di dunia tidak sama dengan orang yang mendapatkan bagian terkecil di akhirat.
  370. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari Islam, tidak ada kemuliaan yang lebih mulia dari ketakwaan, tidak ada benteng yang lebih baik dari wara' (menjaga diri), tidak ada penolong yang lebih sukses dari tobat, dan tidak ada harta yang lebih kaya dari qanaah. Tidak ada harta yang dapat menghilangkan kemiskinan seperti merasa cukup dengan rezeki harian. Barang siapa merasa cukup dengan rezeki harian, ia telah mempersiapkan kenyamanannya dan menempati tempat yang mudah. Cinta dunia adalah kunci kesulitan dan kendaraan menuju masalah. Ketamakan, kesombongan, dan dengki adalah pendorong untuk terjerumus ke dalam dosa-dosa, dan keburukan (syarr) adalah pengumpul segala aib.
  371. [Kepada Jabir bin Abdullah Anshari, beliau bersabda:] Wahai Jabir! Agama[16] dan dunia tegak dengan empat hal: Orang alim yang mengamalkan ilmunya, orang bodoh yang tidak enggan belajar, orang kaya yang tidak kikir dengan pemberiannya, dan orang miskin yang tidak menjual akhiratnya demi dunianya. Jika orang alim menyia-nyiakan ilmunya, orang bodoh akan enggan belajar; dan jika orang kaya kikir dengan hartanya, orang miskin akan menjual akhiratnya demi dunia. Wahai Jabir! Barang siapa yang nikmat Allah banyak padanya, maka kebutuhan orang-orang kepadanya juga banyak. Maka siapa yang menggunakan nikmat itu untuk Allah, Allah akan mengekalkan nikmat itu baginya. Dan siapa yang tidak menggunakannya sesuai kewajiban, Allah akan mengambil nikmat itu dan memusnahkannya.
  372. [[[Ibnu Jarir al-Thabari]] meriwayatkan dalam tarikhnya dari Abdurrahman bin Abi Laila, seorang Fakih, yang termasuk orang-orang yang keluar bersama Ibnu Asy'ats untuk memerangi Hajjaj. Abdurrahman dalam pidatonya untuk membangkitkan semangat jihad berkata: Pada hari kami bertemu dengan penduduk Syam, aku mendengar Ali (as) bersabda:] Wahai orang-orang beriman! Barang siapa melihat kezaliman dilakukan atau kemungkaran diserukan, lalu ia mengingkarinya dengan hatinya, maka ia selamat dan bebas dari dosa. Barang siapa mengingkarinya dengan lisannya, ia mendapat pahala dan lebih baik dari yang mengingkari dengan hati. Dan barang siapa mengingkarinya dengan pedang agar kalimat Allah tinggi dan ucapan orang zalim rendah, maka dialah yang telah menemukan jalan petunjuk dan berdiri di atasnya, serta cahaya keyakinan bersinar di hatinya.
  373. [Dalam ucapan lain tentang hal ini, beliau bersabda:] Di antara manusia ada yang mengingkari kemungkaran dengan tangan, lisan, dan hatinya; orang seperti ini telah menyempurnakan sifat-sifat baik. Ada yang mengingkari dengan lisan dan hatinya namun tidak menggunakan tangannya; orang seperti ini telah memegang dua sifat baik dan menyia-nyiakan satu. Ada yang mengingkari kemungkaran dengan hatinya namun tidak dengan tangan dan lisannya; orang seperti ini telah menyia-nyiakan dua sifat yang lebih mulia dan hanya memegang satu. Dan ada yang tidak mengingkari kemungkaran baik dengan tangan, lisan, maupun hatinya; orang seperti ini adalah mayat di antara orang hidup. Semua amal kebaikan dan jihad di jalan Allah dibandingkan dengan amar makruf dan nahi munkar, ibarat tiupan napas di lautan luas yang berombak. Sesungguhnya amar makruf dan nahi munkar tidak mendekatkan ajal dan tidak mengurangi rezeki. Dan yang paling utama dari semua ini adalah kata-kata keadilan (kebenaran) di hadapan penguasa yang zalim.
  374. [[[Abu Juhaifah]] berkata: Aku mendengar Amirul Mukminin (as) bersabda:] Tingkatan jihad pertama yang kalian tinggalkan adalah jihad dengan tangan kalian, kemudian jihad dengan lisan kalian, lalu jihad dengan hati kalian. Barang siapa yang hatinya tidak memuji kebaikan dan tidak membenci keburukan, maka tabiatnya akan terbalik; yang rendah menjadi tinggi dan yang tinggi menjadi rendah (keburukannya tampak dan kebaikannya hilang).
  375. Kebenaran itu berat namun menyehatkan (mari'), dan kebatilan itu ringan namun membawa penyakit (wabi').
  376. Jangan merasa aman dari azab Allah bagi orang terbaik umat ini, karena Allah SWT berfirman: "Maka tidak ada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." Dan jangan berputus asa dari rahmat Allah bagi orang terburuk umat ini, karena Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."
  377. Kekikiran mengumpulkan segala keburukan dan merupakan tali kekang yang menarik menuju setiap kejahatan.
  378. Rezeki itu ada dua macam: rezeki yang engkau cari, dan rezeki yang mencarimu, yang jika engkau tidak mendatanginya, ia akan datang kepadamu. Maka janganlah bebankan kesedihan tahunmu pada kesedihan harimu, karena rezeki setiap hari cukup untukmu. Jika tahun itu termasuk dalam umurmu, Allah Yang Maha Agung akan memberikan bagianmu di setiap hari yang baru. Dan jika tahun itu bukan bagian dari umurmu, maka untuk apa engkau bersedih atas apa yang bukan milikmu? Tidak ada pencari yang mendahuluimu dalam mendapatkan rezekimu, dan tidak ada yang dapat mengalahkanmu dalam menguasainya, dan apa yang telah ditakdirkan untukmu tidak akan tertunda.
  379. Berapa banyak orang yang menyambut pagi namun tidak sampai sore, dan berapa banyak orang yang di awal malam orang-orang iri padanya, namun di akhir malam mereka menangisinya.
  380. Ucapan berada dalam kendalimu selama engkau belum mengucapkannya; namun jika engkau telah mengucapkannya, engkau berada dalam kendalinya. Maka jagalah lisanmu sebagaimana engkau menjaga emas dan perakmu. Karena berapa banyak ucapan yang menghilangkan nikmat dan mendatangkan bencana.
  381. Jangan katakan apa yang tidak engkau ketahui, bahkan jangan katakan semua yang engkau ketahui; karena Allah mewajibkan atas anggota tubuhmu kewajiban-kewajiban yang akan Dia jadikan hujah atasmu pada hari kiamat.
  382. Takutlah jika Allah melihatmu dalam kemaksiatan kepada-Nya dan tidak menemukanmu dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga engkau termasuk orang yang merugi. Maka jika engkau kuat, gunakan kekuatanmu untuk menaati Allah; dan jika engkau lemah, gunakan kelemahanmu untuk (tidak) bermaksiat kepada-Nya.
  383. Adalah kebodohan jika merasa tenang dengan dunia padahal melihat ketidakstabilannya, dan meremehkan amal baik padahal yakin akan pahalanya, dan mempercayai setiap orang sebelum mengujinya adalah perbuatan orang lemah.
  384. Cukuplah sebagai bukti hinanya dunia di sisi Allah bahwa Dia tidak didurhakai kecuali di dunia, dan tidak diperoleh apa yang ada di sisi-Nya (pahala) kecuali dengan meninggalkan dunia.
  385. Barang siapa mencari sesuatu, ia akan mendapatkan (seluruhnya) atau sebagiannya.
  386. Kebaikan yang diikuti oleh neraka bukanlah kebaikan, dan keburukan yang diikuti oleh surga bukanlah keburukan. Setiap kenikmatan selain surga adalah kecil, dan setiap bencana selain neraka adalah keselamatan (afiat).
  387. Ketahuilah bahwa termasuk bencana adalah kemiskinan; dan yang lebih berat dari kemiskinan adalah penyakit tubuh; dan yang lebih berat dari penyakit tubuh adalah penyakit hati. Ketahuilah bahwa termasuk nikmat adalah kelapangan harta; dan yang lebih baik dari kelapangan harta adalah kesehatan tubuh; dan yang lebih baik dari kesehatan tubuh adalah ketakwaan hati.
  388. Barang siapa yang perbuatannya tidak memajukannya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya. [Dalam riwayat lain:] Barang siapa yang kehilangan kemuliaan dirinya, maka kemuliaan nenek moyangnya tidak akan memberinya manfaat.
  389. Seorang mukmin memiliki tiga waktu: waktu di mana ia bermunajat kepada Tuhannya, waktu di mana ia mengurus kehidupannya, dan waktu di mana ia menikmati hal-hal yang halal dan baik. Orang berakal tidak pantas menyibukkan diri kecuali untuk tiga hal: memperbaiki kehidupan (ma'asy), mempersiapkan hari kemudian (ma'ad), atau menikmati kelezatan yang tidak haram.
  390. Janganlah mengejar dunia, karena Allah akan memperlihatkan keburukannya kepadamu; dan janganlah lalai, karena engkau tidak akan dilupakan.
  391. Berbicaralah agar kalian dikenal, karena seseorang tersembunyi di bawah lidahnya.
  392. Ambillah apa yang datang dari dunia kepadamu, dan berpalinglah dari apa yang membelakangimu; jika engkau tidak mampu melakukan itu, maka setidaknya berlakulah wajar dalam mencarinya.
  393. Berapa banyak ucapan yang lebih efektif daripada serangan.
  394. Segala sesuatu yang cukup bagimu, itulah kekayaan.
  395. Mati tanpa kehinaan, dan hidup dengan yang sedikit tanpa meminta-minta kepada si fulan dan si fulan. Orang yang tidak mendapatkan bagiannya dengan mudah, tidak akan mendapatkannya dengan usaha keras. Zaman ada dua hari: hari untukmu dan hari melawanmu. Pada hari yang untukmu, janganlah sombong; dan pada hari yang melawanmu, bersabarlah.
  396. Kesturi (misk) adalah wewangian yang terbaik; membawanya ringan dan baunya harum.
  397. Tinggalkanlah sifat manja, lepaskanlah kesombongan, dan ingatlah kuburmu.
  398. Anak memiliki hak atas ayah, dan ayah memiliki hak atas anak. Hak ayah atas anak adalah anak menaatinya dalam segala hal kecuali dalam bermaksiat kepada Allah SWT. Dan hak anak atas ayah adalah ayah memberinya nama yang baik, mendidiknya dengan baik, dan mengajarkannya Al-Qur'an.
  399. Pandangan mata (jahat) adalah benar, jampi-jampi adalah benar, sihir adalah benar, dan fal (pertanda baik) adalah benar, sedangkan thiyarah (pertanda buruk) tidak benar. Penyakit tidak menular (dengan sendirinya), bau harum menyembuhkan penyakit, madu adalah obat, berkuda dan memandang hijaunya tanaman adalah penyembuh penyakit.
  400. Bergaul dengan orang-orang adalah jaminan keamanan dari gangguan mereka.
  401. [Kepada seseorang yang berbicara di atas kemampuannya, beliau bersabda:] Engkau terbang sebelum bulumu tumbuh, dan berteriak (seperti unta dewasa) saat masih muda.
  402. Barang siapa yang mencari berbagai macam cara (trik), maka cara-cara itu tidak akan menyelamatkannya.
  403. [Beliau ditanya tentang makna "La haula wa la quwwata illa billah", beliau bersabda:] Kita tidak memiliki kuasa atas apa pun selain Allah, dan kita tidak memiliki apa pun kecuali yang Dia berikan kepada kita. Maka ketika Dia memberi kita kepemilikan atas sesuatu yang Dia lebih berhak atasnya daripada kita, Dia membebankan tugas kepada kita; dan ketika Dia mengambilnya dari kita, Dia mengangkat tugas itu dari kita.
  404. [Kepada Ammar bin Yasir, ketika mendengar percakapannya dengan Mughirah bin Syu'bah, beliau bersabda:] Wahai Ammar, biarkan dia! Karena dia tidak mengambil dari agama kecuali sekadar untuk mendekatkan dirinya kepada dunia, dan dia sengaja menjerumuskan dirinya ke dalam syubhat agar menjadikannya alasan untuk kesalahan-kesalahannya.
  405. Alangkah indahnya kerendahan hati orang kaya terhadap orang miskin karena mengharap apa yang ada di sisi Allah, dan yang lebih indah dari itu adalah kebanggaan (iffah) orang miskin terhadap orang kaya karena percaya kepada Allah.
  406. Allah tidak menitipkan akal kepada seseorang kecuali suatu hari Dia akan menyelamatkannya dengannya.
  407. Barang siapa bergulat dengan kebenaran, ia akan kalah.
  408. Apa yang dilihat mata akan menetap di hati.
  409. Ketakwaan adalah kepala dari segala akhlak.
  410. Jangan bicara kasar kepada orang yang mengajarimu bicara, dan jangan menempuh jalan kefasihan (untuk mendebat) orang yang membuat bicaramu menjadi baik.
  411. Cukuplah sebagai pendidikan bagi dirimu: engkau menghindari apa yang engkau benci dari orang lain.
  412. Dalam menghadapi musibah, bersabarlah seperti orang-orang merdeka, atau engkau akan melupakan seperti orang-orang bodoh (hewan).
  413. [Dalam riwayat lain kepada Asy'ats bin Qais saat bertakziah, beliau bersabda:] Bersabarlah seperti orang-orang mulia, atau engkau akan melupakan seperti hewan.
  414. [Dalam menyifati dunia, beliau bersabda:] Ia menipu, merugikan, dan berlalu. Allah tidak meridhainya sebagai pahala bagi para wali-Nya, dan tidak pula sebagai hukuman bagi musuh-musuh-Nya. Penduduk dunia seperti kafilah; saat mereka menurunkan beban, pemimpin kafilah berseru agar mereka berkemas dan berangkat.
  415. [Kepada putranya Hasan (as), beliau bersabda:] Wahai anakku, jangan tinggalkan apa pun dari dunia (harta)! Karena engkau akan meninggalkannya untuk salah satu dari dua orang: Entah orang yang menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah, sehingga ia berbahagia dengan apa yang membuatmu sengsara; atau orang yang menggunakannya dalam kemaksiatan kepada Allah, sehingga ia sengsara dengan apa yang engkau kumpulkan untuknya, dan engkau membantunya dalam kemaksiatan itu. Tidak ada satu pun dari keduanya yang pantas untuk engkau dahulukan daripada dirimu. [Ucapan ini diriwayatkan dengan cara lain:] Amma ba'du, apa yang ada di tanganmu dari dunia pernah dimiliki orang sebelummu dan akan beralih kepada orang setelahmu. Engkau hanyalah pengumpul untuk salah satu dari dua orang: Orang yang menggunakan harta kumpalanmu dalam ketaatan kepada Allah, sehingga ia berbahagia dengan apa yang membuatmu sengsara; atau orang yang menggunakannya dalam kemaksiatan kepada Allah, sehingga engkau sengsara dengan apa yang engkau kumpulkan untuknya. Tidak ada satu pun dari keduanya yang pantas untuk engkau dahulukan daripada dirimu dan engkau memikul beban untuknya. Maka berharaplah ampunan Allah bagi yang telah pergi, dan rezeki Allah bagi yang masih ada.
  416. [Kepada seseorang yang mengucapkan "Astaghfirullah" di hadapannya, beliau bersabda:] Ibumu kehilanganmu! Tahukah engkau apa itu istighfar? Istighfar adalah derajat orang-orang yang berkedudukan tinggi (Illiyyin), dan ia memiliki enam makna (syarat): Pertama, menyesali apa yang telah lalu. Kedua, bertekad untuk tidak mengulanginya selamanya. Ketiga, menunaikan hak-hak makhluk hingga engkau menemui Allah dalam keadaan suci tanpa beban dosa. Keempat, menunaikan setiap kewajiban yang telah engkau sia-siakan. Kelima, meluruhkan daging yang tumbuh dari harta haram dengan kesedihan hingga kulit menempel pada tulang dan tumbuh daging baru di antara keduanya. Keenam, merasakan sakitnya ketaatan pada tubuh sebagaimana engkau merasakan manisnya kemaksiatan. Barulah saat itu engkau boleh mengucapkan "Astaghfirullah".
  417. Kesabaran (hilm) adalah -seperti- kabilah -dan kerabat yang mengumpulkan orang-orang untuk menolong manusia-.
  418. Kasihan anak Adam! Ajalnya tersembunyi, penyakitnya tertutup, amalnya dicatat. Nyamuk menyakitinya, tersedak air membunuhnya, dan keringat membuatnya bau.
  419. [Diriwayatkan bahwa suatu hari beliau duduk di antara para sahabatnya. Seorang wanita cantik lewat dan orang-orang yang hadir memandanginya. Beliau bersabda:] Sesungguhnya mata laki-laki ini penuh nafsu dan pandangan ini memicu gejolak. Maka jika salah seorang dari kalian melihat wanita yang menarik hatinya, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena istrinya juga wanita seperti dia. [Seorang Khawarij berkata: "Semoga Allah membunuh orang kafir ini, alangkah pandainya dia dalam fikih." Orang-orang bangkit untuk membunuhnya, namun Imam bersabda:] Tenanglah, balasannya hanyalah caci maki dengan caci maki atau memaafkan dosa.
  420. Cukuplah akal bagimu jika ia menunjukkan jalan kesesatanmu dari jalan keselamatanmu.
  421. Lakukanlah kebaikan dan jangan meremehkan sedikit pun darinya, karena yang kecil darinya itu besar dan yang sedikit itu banyak. Janganlah salah seorang dari kalian berkata: "Orang lain lebih pantas melakukan kebaikan ini daripada aku." Demi Allah, hal itu bisa terjadi; sesungguhnya kebaikan dan keburukan memiliki pengikutnya masing-masing. Jika kalian meninggalkannya, pengikutnya akan melakukannya.
  422. Barang siapa memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya; barang siapa memperbaiki urusan agamanya, Allah akan memperbaiki urusan dunianya; dan barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.
  423. Kesabaran (hilm) adalah tirai penutup, dan akal adalah pedang yang tajam. Maka tutupilah kekurangan akhlakmu dengan kesabaranmu, dan bunuhlah hawa nafsu-mu dengan akalmu.
  424. Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang Dia khususkan dengan nikmat-nikmat untuk kemanfaatan hamba-hamba lain. Dia membiarkan nikmat-nikmat itu di tangan mereka selama mereka memberikannya; namun jika mereka menahannya, Dia mengambilnya dari mereka dan memindahkannya kepada orang lain.
  425. Tidak pantas bagi seorang hamba untuk percaya pada dua hal: kesehatan dan kekayaan. Karena saat engkau melihatnya sehat tiba-tiba ia sakit, dan saat engkau melihatnya kaya tiba-tiba ia miskin.
  426. Barang siapa menyampaikan hajat kepada orang mukmin, seolah-olah ia menyampaikan hajatnya kepada Allah; dan barang siapa menyampaikannya kepada orang kafir, seolah-olah ia mengeluh tentang Allah.
  427. [Pada salah satu hari raya, beliau bersabda:] Hari raya ini adalah bagi orang yang puasanya diterima oleh Allah dan salatnya disyukuri. Dan setiap hari di mana Allah tidak didurhakai adalah hari raya.
  428. Penyesalan terbesar pada hari kiamat adalah penyesalan seseorang yang memperoleh harta bukan di jalan ketaatan kepada Allah, lalu seseorang mewarisinya dan menginfakkannya di jalan ketaatan kepada Allah SWT. Orang itu masuk surga karena infak tersebut, sedangkan orang pertama (pengumpul harta) masuk neraka karenanya.
  429. Orang yang paling merugi dalam perniagaan dan paling gagal dalam usahanya adalah orang yang menghabiskan tubuhnya dalam mencari harta namun takdir tidak membantunya sesuai keinginannya; ia keluar dari dunia dengan penyesalan dan menghadap akhirat dengan beban (dosa) harta itu.
  430. Rezeki ada dua: yang mencari dan yang dicari. Barang siapa mencari dunia, kematian akan mengejarnya hingga mengeluarkannya dari dunia; dan barang siapa mencari akhirat, dunia akan mengejarnya hingga memberikan rezekinya secara sempurna.
  431. Para wali Allah adalah mereka yang melihat batin dunia ketika orang-orang melihat lahiriahnya, dan sibuk dengan masa depan dunia (akhirat) ketika orang-orang sibuk dengan masa kininya. Maka mereka mematikan dari dunia apa yang mereka takutkan akan mematikan mereka, dan meninggalkan apa yang mereka tahu akan segera meninggalkan mereka. Mereka menganggap remeh orang lain yang memperbanyak dunia, dan menganggap perolehan duniawi sebagai kerugian. Mereka memusuhi apa yang orang-orang berdamai dengannya, dan berdamai dengan apa yang orang-orang musuhi. Melalui mereka Kitab Allah diketahui, dan melaluinya mereka mengetahui. Melalui mereka Kitab tegak, dan melaluinya mereka tegak. Mereka tidak melihat harapan yang lebih besar dari apa yang mereka harapkan, dan tidak ada ketakutan yang lebih besar dari apa yang mereka takutkan.
  432. Ingatlah bahwa kenikmatan akan berakhir, dan akibat buruknya akan tetap ada.
  433. Ujilah (sesuatu/seseorang) niscaya engkau akan membencinya. [Sebagian meriwayatkan kalimat ini dari Rasulullah (saw). Yang menguatkan bahwa ini ucapan Amirul Mukminin (as) adalah riwayat Tsa'lab dari Ibnu A'rabi bahwa Ma'mun berkata: Jika Ali (as) tidak mengatakan "Ikhtabir taqli" (Ujilah niscaya engkau benci), aku akan mengatakan "Aqlih takhtabir" (Musuhilah/Jauhilah niscaya engkau akan tahu/menguji).]
  434. Allah tidak membuka pintu syukur bagi seorang hamba lalu menutup pintu tambahan nikmat baginya; tidak membuka pintu doa lalu menutup pintu pengabulan; dan tidak membuka pintu tobat lalu menutup pintu ampunan.
  435. Orang yang paling pantas mendapatkan kemuliaan adalah orang yang melaluinya orang-orang mulia dikenal.
  436. [Beliau ditanya mana yang lebih utama, keadilan atau kedermawanan, beliau bersabda:] Keadilan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, sedangkan kedermawanan mengeluarkannya dari tempatnya. Keadilan adalah pengatur umum (untuk semua), sedangkan kedermawanan adalah pengatur khusus (untuk sebagian). Maka keadilan lebih mulia dan lebih utama.
  437. Manusia memusuhi apa yang tidak mereka ketahui.
  438. Seluruh zuhud terangkum dalam dua kalimat dari Al-Qur'an: Allah SWT berfirman "Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." Barang siapa yang tidak berduka atas masa lalu dan tidak terlalu gembira dengan masa depan, ia telah memegang zuhud dari kedua sisinya.
  439. Tidur seringkali membatalkan keputusan-keputusan di siang hari.
  440. Kekuasaan adalah medan perlombaan bagi para lelaki.
  441. Tidak ada kota yang lebih baik bagimu dari kota lain. Kota terbaik adalah kota yang memberimu penghidupan (yang baik).
  442. [Ketika berita kematian Ashtar sampai kepadanya, beliau bersabda:] Malik! Siapakah Malik! Demi Allah, jika ia gunung, ia adalah gunung yang menyendiri (agung); dan jika ia batu, ia adalah batu yang keras yang tidak ada kaki kuda yang bisa mencapai puncaknya dan tidak ada burung yang bisa terbang di atasnya.
  443. Sedikit yang berkelanjutan lebih baik daripada banyak yang membosankan.
  444. Jika kalian melihat sifat yang menakjubkan pada seseorang, tunggulah sifat-sifat yang serupa darinya. (Karena tabiatnya akan mendorongnya untuk melakukan hal serupa).
  445. [Kepada Ghalib bin Sha'sha'ah ayah al-Farazdaq dalam percakapan di antara mereka, beliau bertanya:] Apa yang terjadi dengan untamu yang banyak? [Ia menjawab: Wahai Amirul Mukminin, pembayaran hak-hak (kedermawanan) telah menghabiskannya.] [Beliau bersabda:] Itu adalah jalan terbaik baginya.
  446. Barang siapa berdagang tanpa mengetahui fikih, ia akan terjerumus ke dalam Riba.
  447. Barang siapa menganggap besar musibah kecil, Allah akan mengujinya dengan musibah besar.
  448. Barang siapa yang memuliakan dirinya, syahwatnya akan menjadi hina di matanya.
  449. Tidak ada orang yang bercanda kecuali ia membuang sebagian dari akalnya.
  450. Menjauhnya engkau dari orang yang menginginkanmu adalah kekurangan dalam bagianmu, dan ketertarikanmu pada orang yang tidak menginginkanmu adalah penghinaan terhadap jiwamu.
  451. Kekayaan dan kemiskinan akan tampak jelas setelah disodorkan kepada Tuhan (di kiamat).
  452. Zubair selalu menganggap dirinya bagian dari kami (Ahlulbait) sampai putranya yang membawa sial, Abdullah, tumbuh dewasa.
  453. Apa urusan anak Adam dengan kesombongan? Awalnya adalah nuthfah dan akhirnya adalah bangkai. Ia tidak bisa memberi rezeki kepada dirinya sendiri dan tidak bisa menolak kematiannya!
  454. [Beliau ditanya siapa penyair terbaik, beliau bersabda:] Para penyair tidak berlomba di satu medan sehingga diketahui garis akhirnya. Namun jika harus menilai, maka si Raja Sesat itulah orangnya (maksudnya Imru' al-Qais).
  455. Adakah orang merdeka yang membuang sisa makanan (dunia) ini bagi orang yang pantas untuknya? Jiwa kalian tidak memiliki harga selain surga, maka janganlah menjualnya kecuali dengan surga.
  456. Dua orang yang rakus tidak akan pernah kenyang: penuntut ilmu dan penuntut harta.
  457. Iman adalah engkau lebih memilih kejujuran yang merugikanmu daripada kebohongan yang menguntungkanmu; ucapanmu tidak melebihi perbuatanmu; dan ketika engkau membicarakan orang lain, engkau takut kepada Allah.
  458. Takdir mengalahkan tadbir (perencanaan) hingga terkadang bencana justru terletak pada perencanaan.
  459. Kesabaran dan ketenangan adalah saudara kembar, dan keduanya lahir dari himmah (tekad) yang tinggi.
  460. Menggunjing orang di belakangnya adalah senjata orang lemah.
  461. Berapa banyak orang yang terpedaya karena dipuji.
  462. Dunia diciptakan untuk selainnya, bukan untuk dirinya sendiri (sebagai sarana menuju akhirat).
  463. Bani Umayyah memiliki tenggang waktu di mana mereka berlari (berkuasa), meskipun mereka berselisih di antara mereka sendiri. Kemudian hyena akan menyerang mereka dan mengalahkan mereka.
  464. [Dalam memuji Anshar, beliau bersabda:] Demi Allah, mereka telah memelihara Islam sebagaimana unta menyusui anaknya yang telah disapih, dengan kekayaan, tangan-tangan yang dermawan, dan lisan yang tajam.
  465. Mata adalah tali pengikat dubur (kiasan: tidur membatalkan wudhu karena kendali tubuh hilang).
  466. [Dalam sebuah ucapan beliau bersabda:] Dan seorang wali (pemimpin) berkuasa atas mereka, ia menegakkan urusan dan istiqamah hingga agama menjadi tegak.
  467. Akan datang kepada manusia masa yang sangat sulit. Orang kaya akan menggenggam erat apa yang ada di tangannya, padahal ia tidak diperintahkan demikian. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu." Orang-orang jahat pada masa itu akan dimuliakan dan orang-orang baik dihinakan. Mereka melakukan jual beli dengan orang-orang yang terdesak (mudhtharr);[17] padahal Rasulullah melarang jual beli dengan orang yang terdesak (karena darurat).
  468. Dua orang binasa karenaku: Pecinta yang berlebihan dan pembohong yang mengada-ada tentang apa yang tidak ada padaku. [Ini seperti sabda beliau: Dua orang binasa karenaku: Pecinta yang berlebihan dan pembenci yang mengada-ada.]
  469. [Beliau ditanya tentang Tauhid dan Adl, beliau bersabda:] Tauhid adalah engkau tidak membayangkan-Nya (dengan waham), dan Adl adalah engkau tidak menuduh-Nya (dengan apa yang tidak pantas).
  470. Tidak baik diam di tempat yang harus bicara, sebagaimana tidak baik bicara di tempat yang tidak diketahui.
  471. [Dalam doa minta hujan beliau berkata:] Ya Allah, siramilah kami dengan awan yang tunduk dan patuh, bukan awan yang liar dan ganas.
  472. [Dikatakan kepada beliau: Wahai Amirul Mukminin, alangkah baiknya jika engkau mewarnai (menyemir) rambutmu? Beliau bersabda:] Mewarnai rambut adalah perhiasan, sedangkan kami sedang dalam keadaan berkabung [yang dimaksud adalah berkabung atas wafatnya Rasulullah (saw)].
  473. Pahala seorang mujahid yang syahid di jalan Allah tidak lebih besar daripada orang yang mampu berbuat dosa namun menjaga diri (iffah). Orang yang menjaga diri itu hampir menjadi salah satu malaikat.
  474. Qanaah adalah harta yang tidak akan habis.[18]
  475. [Ketika beliau mengangkat Ziyad bin Abih menggantikan Abdullah bin Abbas sebagai gubernur Fars dan wilayah sekitarnya, dalam pembicaraan panjang beliau melarangnya mengambil pajak sebelum waktunya, beliau bersabda:] Bertindaklah dengan adil dan jauhilah kekerasan dan kezaliman, karena kekerasan memicu rakyat untuk lari (mengungsi) dan kezaliman mengundang pedang (pemberontakan).
  476. Dosa yang paling berat adalah dosa yang dianggap ringan oleh pelakunya.
  477. Allah tidak mewajibkan orang bodoh untuk belajar sebelum Dia mewajibkan orang alim untuk mengajar.
  478. Seburuk-buruk teman adalah yang membebanimu (membuatmu repot).[19]
  479. Jika seorang mukmin membuat saudaranya marah, berarti ia telah memisahkan diri darinya.

Kalimat yang Membutuhkan Penafsiran

Ini adalah bab di mana kami membawa pilihan dari ucapan beliau yang tampak asing (gharib) dan memerlukan penafsiran:[20]

  1. Ketika hal itu terjadi, Ya'sub (pemimpin lebah) agama akan bangkit bersama pengikutnya, lalu mereka berkumpul di sekelilingnya seperti awan musim gugur. [Ya'sub adalah pemimpin besar yang memegang urusan rakyat, dan qaza' adalah potongan awan yang tidak mengandung hujan.]
  2. Ini adalah khatib yang "syahsyah". [Artinya fasih dalam berkhotbah dan mampu melanjutkannya. Setiap orang yang mampu melanjutkan pembicaraan atau menempuh perjalanan disebut syahsyah. Syahsyah selain dalam konteks ini berarti orang yang kikir.]
  3. Permusuhan memiliki "quhmah". [Quhmah berarti tempat-tempat kebinasaan, karena permusuhan sering membinasakan orang yang masuk ke dalamnya. Dari makna ini muncul istilah "quhmah al-a'rab", yaitu ketika kekeringan melanda mereka dan membinasakan harta mereka. Itu adalah kebinasaan mereka pada tahun itu. Ada juga makna lain, yaitu kekeringan gurun memaksa mereka masuk ke kota-kota.]
  4. Jika wanita telah mencapai "nushsh al-hiqaq", maka kerabat dari pihak ayah lebih berhak atas mereka. [Nushsh adalah puncak dari segala sesuatu dan mencapai batas akhirnya, seperti: nushsh dalam berjalan, yaitu puncak kecepatan hewan tunggangan. Dan engkau berkata "nashashtu al-rajula 'an al-amr" ketika engkau menanyainya sampai batas akhir untuk mengetahui apa yang ada padanya. Maka "nushsh al-hiqaq" adalah mencapai usia baligh, karena itu adalah akhir masa kanak-kanak, dan masa di mana seseorang berpindah dari kecil menjadi besar. Ini adalah kiasan yang paling fasih dan asing tentang tahap ini. Juga ketika wanita mencapai tahap ini, kerabat dari pihak ayah lebih dekat daripada kerabat dari pihak ibu jika mereka adalah mahram seperti saudara dan paman, untuk menikahkan mereka jika mereka mau. "Hiqaq" adalah pertengkaran ibu dengan kerabat ayah mengenai anak perempuan, yaitu perdebatan dan permusuhan di mana masing-masing mengatakan "aku lebih berhak atasnya daripada kamu". Dikatakan ini berasal dari makna "haqaqtuhu hiqaqan" seperti "jadaltuhu jidalan". Dan dikatakan: "Nushsh al-hiqaq" adalah sampainya akal pada kesempurnaan yaitu baligh, karena maksud Imam menggunakan kata ini adalah waktu di mana hak-hak dan hukum-hukum menjadi wajib. Orang yang meriwayatkannya "nushsh al-haqaiq" bermaksud jamak dari hakikat. Makna ini disebutkan oleh Abu Ubaid. Namun pendapat saya adalah di sini yang dimaksud dengan "nushsh al-hiqaq" adalah balighnya wanita sehingga ia boleh menikah dan dapat mengatur hak-haknya sendiri. Ini adalah penyerupaan dengan "hiqaq" pada unta, yaitu jamak dari "hiqqah" dan "hiqq", yaitu unta yang telah genap tiga tahun dan masuk tahun keempat. Pada saat ini ia telah mencapai batas yang layak untuk ditunggangi dan berjalan. "Haqaiq" juga jamak dari "hiqqah". Maka kedua riwayat kembali pada satu makna, dan makna ini lebih mirip dengan metode orang Arab daripada makna yang disebutkan sebelumnya.]
  5. Iman muncul di dalam hati seperti titik (lhumzhah). Semakin bertambah iman, semakin jelas titik itu. [Lhumzhah seperti titik hitam atau titik putih, dari makna ini muncul istilah "faras almazh" jika ada putih di bibir kuda.]
  6. Jika seseorang memiliki piutang "zhunun" (ia tidak tahu apakah akan dibayar atau tidak), maka setelah menerimanya ia harus membayar zakat masa lalunya. [Zhunun adalah harta piutang yang pemberi pinjaman tidak tahu apakah ia akan mengambilnya dari peminjam atau tidak. Seolah-olah ia hanya menduganya, terkadang berharap menerima dan terkadang putus asa. Ini adalah ucapan yang paling fasih. Demikian pula segala sesuatu yang engkau cari dan engkau tidak tahu apakah akan mencapainya atau tidak disebut "zhunun". Dari makna ini adalah ucapan A'sya: Sumur yang diduga ada airnya di padang pasir, dan jauh dari curahan hujan deras, tidak seperti sungai yang jika penuh dapat menggerakkan perahu dan perenang mahir dari satu sisi ke sisi lain. Jadd adalah sumur biasa dan zhunun adalah sumur yang tidak diketahui apakah ada airnya atau tidak.]
  7. [Dalam hadis beliau, ketika melepas pasukan yang dikirim berperang, beliau bersabda:] Tahanlah diri kalian dari wanita sebisa mungkin. [Maknanya adalah jangan mengingat wanita, jangan menyibukkan hati dengan mereka, dan jangan mendekati mereka karena hal itu melemahkan semangat juang, memutus ikatan tekad, menahan dari mengejar musuh, dan memalingkan wajah dari masuk ke medan perang. Segala sesuatu yang menahan dari sesuatu disebut i'dzab. Dan 'adzib serta 'adzub adalah orang yang menahan diri dari makan dan minum.]
  8. Seperti penjudi yang menang (falij) yang menunggu kemenangan dengan undian pertamanya. [Yasirun adalah orang-orang yang melempar anak panah Judi atas unta yang disembelih, dan falij adalah pemenang. Dikatakan "qad falaja 'alaihim" (ia telah menang atas mereka) dan "falajahum" (ia mengalahkan mereka). Penyair Rajaz berkata: "Ketika aku melihat seorang pemenang yang mengalahkan."]
  9. Ketika perang memanas, kami berlindung kepada Rasulullah (saw) sehingga tidak ada seorang pun dari kami yang lebih dekat kepada musuh daripada beliau. [Maknanya adalah ketika ketakutan terhadap musuh sangat besar dan perang berkecamuk, kaum muslimin berlindung kepada Rasulullah dan meminta beliau untuk memulai perang sendiri. Pada saat ini, dengan berkah Nabi, Allah menurunkan kemenangan kepada mereka dan ketakutan mereka hilang dengan adanya Rasul]. [Dan ucapan beliau "idza ihmarra al-ba'su" (ketika kekerasan memerah): adalah kiasan dari sengitnya perang. Ada beberapa pendapat tentang makna kalimat ini, yang terbaik adalah: Imam menyerupakan panasnya perang dengan panasnya api yang mengumpulkan panas dan warna merah pada pengaruh dan warnanya. Yang menguatkan makna ini adalah sabda Rasulullah (saw) ketika melihat perang Hunain, yaitu perang Hawazin, beliau bersabda: "Hamiya al-wathis" (Tungku telah memanas). Wathis adalah tempat menyalakan api. Rasulullah (saw) menyerupakan panasnya perang orang-orang dengan panasnya api dan sengitnya pembakarannya.]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 469–559.
  2. Sayid Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 469.
  3. Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hlm. 515.
  4. Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, 1414 H, hadis 258–266, hlm. 517–520.
  5. Catatan Penerjemah: Dalam menafsirkan ucapan ini ada dua pendapat: Salah satunya seperti yang dikatakan Radhi, dan yang lain seperti yang ditulis oleh Ibnu Manzhur, Azhari, dan Ibnu Atsir, yang dipilih oleh penerjemah, yaitu: Jika seseorang mengambil hak kami, kami tidak akan menyerah, dan jika ia duduk di punggung unta, kami akan duduk di bagian belakang unta itu dan mengikutinya sampai kami mengambil hak kami, meskipun memakan waktu yang lama. Nahj al-Balaghah, Terjemahan Syahidi, hlm. 537, catatan kaki no. 5.
  6. Catatan Sayid Radhi: Ini adalah makna yang menakjubkan dan mulia. Maksud Imam (as) adalah: Orang berakal tidak melepaskan lisannya sampai ia bermusyawarah dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya; sedangkan orang bodoh, apa yang terucap di lisannya dan perkataan yang ia katakan, mendahului pemikiran dan perenungan. Jadi seolah-olah lisan orang berakal mengikuti hatinya dan hati orang bodoh mengikuti lisannya.
  7. Catatan Sayid Radhi: Saya katakan, Imam (as) benar bahwa dalam penyakit tidak ada pahala, karena penyakit termasuk hal-hal yang memiliki ganti (iwadh) — bukan pahala (ajr) — karena hak mendapatkan ganti adalah imbalan atas bencana dan musibah yang datang dari Allah kepada hamba, seperti rasa sakit dan penyakit dan sejenisnya, sedangkan pahala dan ganjaran adalah imbalan atas perbuatan yang dilakukan hamba. Ada perbedaan antara ganti dan pahala, dan Imam menjelaskan hal itu sebagaimana dituntut oleh ilmunya yang mendalam dan pandangannya yang tajam.
  8. Catatan Sayid Radhi: Ini adalah kalimat yang tak ternilai harganya, tidak ada hikmah yang setara dengannya, dan tidak ada ucapan yang dapat menandinginya.
  9. Catatan Sayid Radhi: Saya katakan, sebagian orang menisbatkan kalimat ini dan sebelumnya kepada Rasulullah (saw).
  10. Catatan penerjemah (Syahidi): Imam yang hak, seperti beliau sendiri.
  11. Catatan Sayid Radhi: Maknanya adalah apa yang disumbangkan seseorang dari hartanya di jalan kebaikan, meskipun sedikit, Allah akan memberikan balasan yang besar dan banyak. "Dua tangan" di sini adalah dua nikmat; Imam membedakan antara nikmat hamba dan nikmat Tuhan. Nikmat hamba disebut tangan pendek dan nikmat Tuhan disebut tangan panjang, karena nikmat Tuhan selalu lebih banyak dan lebih besar dari nikmat makhluk, sebab nikmat Tuhan adalah asal dari segala nikmat dan setiap nikmat kembali kepada nikmat Tuhan dan berasal dari sana.
  12. Catatan Sayid Radhi: Jawaban Imam telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu ucapan beliau bahwa iman berdiri di atas empat pilar.
  13. Catatan penerjemah: Fitnah-fitnah yang muncul ini mereda. Nahj al-Balaghah, Terjemahan Syahidi, hlm. 545, catatan kaki no. 138.
  14. Catatan penerjemah: Aku akan menghapus Bidah dari agama. Nahj al-Balaghah, Terjemahan Syahidi, hlm. 545, catatan kaki no. 139.
  15. Catatan Syahidi: Syibamiyyin adalah salah satu kabilah dari Hamdan.
  16. "Agama" ada dalam teks Arab tetapi tidak ada dalam terjemahan.
  17. Catatan penerjemah: Yang menerima transaksi karena terpaksa. Hlm. 550, catatan kaki no. 222.
  18. Catatan Sayid Radhi: Sebagian meriwayatkan ucapan ini dari Rasulullah (saw).
  19. Catatan Sayid Radhi: Karena membebani (takalluf) menimbulkan kesulitan. Dan keburukan ini disebabkan oleh teman yang membebani tersebut. Maka ia adalah seburuk-buruk teman.
  20. Bagian ini dalam Nahj al-Balaghah terletak antara kalimat 260 dan 261, namun di sini diletakkan di akhir agar tidak mengacaukan penomoran.

Catatan

Templat:Catatan

Daftar Pustaka

  • Nahj al-Balaghah. Terjemahan Sayid Ja'far Syahidi. Teheran: Ilmi va Farhangi, 1377 HS.
  • Syarif al-Radhi, Muhammad bin Husain. Nahj al-Balaghah (Li al-Shubhi Shalih). Qom: Nasyr-e Hejrat, cetakan pertama, 1414 H.