Lompat ke isi

Konsep:Ma Minna Illa Maqtulun Syahid

Dari wikishia
Ma Minna Illa Maqtulun Syahid
Nama lainMa Minna Illa Masmumun aw Maqtul, Ma Minna Illa Maqtul, Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum, Ma min Nabiyyin wala Washiyyin illa Syahid
TemaPembuktian kesyahidan seluruh Para Imam as atau Ahlulbait as
Diriwayatkan dariNabi saw dan Imam Ridha as
Validitas hadisHadis Sahih
Sumber SyiahUyun Akhbar al-Ridha, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, Al-Amali, Kifayah al-Atsar dan Basha'ir al-Darajat

Mā minnā illā maqtūlun syahīd, yang berarti "Tidak ada seorang pun dari kami kecuali ia terbunuh dan syahid", adalah sebuah riwayat yang dianggap sebagai dalil atas kesyahidan seluruh para Imam as atau Ahlulbait as. Riwayat ini juga digunakan untuk membuktikan kesyahidan para Imam as yang tidak memiliki alasan sejarah yang kuat mengenai kesyahidan mereka. Kandungan riwayat ini dinukil dalam lima bentuk yang berbeda dan lima jalur yang berbeda dari Nabi saw dan Imam Ridha as.

Para peneliti menganggap sumber riwayat tertua yang menukil hadis "Ma minna illa maqtulun syahid" adalah beberapa karya Syekh Shaduq. Di antara lima riwayat berbeda dengan lima sanad berbeda yang melaporkan teks riwayat ini dengan redaksi yang berbeda-beda, hanya riwayat yang dinukil dari Imam Ridha as dalam Man La Yahdhuruhu al-Faqih dan Al-Amali yang dianggap sebagai hadis sahih. Riwayat yang dinukil dalam kitab Basha'ir al-Darajat karya Saffar Qomi dianggap sebagai hadis hasan, dan riwayat lainnya dianggap sebagai hadis dhaif.

Ulama seperti Syekh Mufid dan Thabrasi telah melemahkan pendalilan riwayat "Ma minna illa maqtulun syahid" terhadap kesyahidan seluruh Imam as. Beberapa orang menganggap upaya untuk membuktikan teori kesyahidan seluruh Maksumin as dengan bersandar pada riwayat ini bersumber dari kerancuan antara sebuah pembahasan kalam dengan sebuah pembahasan sejarah. Menurut pandangan mereka, jika kesyahidan para Imam as dianggap sebagai masalah sejarah, maka meskipun keabsahan riwayat ini terbukti, hal itu tetap tidak bisa menghukumi kesyahidan mereka semua; karena masalah sejarah memerlukan bukti-bukti sejarah dan bukti-bukti teologis dalam hal ini tidak memberikan jalan keluar.

Kedudukan dan Karakteristik

"Mā minnā illā maqtūlun syahīd" (Tidak ada seorang pun dari kami kecuali ia terbunuh dan syahid), adalah kandungan dari beberapa hadis yang berdasarkan itu kesyahidan seluruh para Imam as atau Ahlulbait as[1], bahkan mereka yang tidak memiliki bukti sejarah yang kuat atas kesyahidannya, telah diputuskan.[2] Syekh Shaduq dengan bersandar pada riwayat ini dan riwayat-riwayat serupa dengannya, menyimpulkan kesyahidan seluruh Maksumin as dan menganggapnya sebagai bagian dari akidah Syiah, serta menganggap orang yang tidak meyakininya sebagai kafir dan keluar dari Islam.[3]

Beberapa penulis manakib para Imam as, seperti Thabrasi[4], Ibnu Syahr Asyub[5] dan Irbili[6] menegaskan bahwa banyak ulama Syiah meyakini kesyahidan seluruh Imam as berdasarkan riwayat ini.[7] Allamah Majlisi mengkhususkan satu bab dari hadis-hadis Bihar al-Anwar untuk topik ini bahwa Ahlulbait as tidak akan wafat kecuali dengan syahadat[8] dan di akhir bab tersebut ia menegaskan bahwa meskipun riwayat-riwayat ini banyak jumlahnya, namun tidak dapat ditolak.[9] Juga riwayat-riwayat ini menjadi sandaran teori kesyahidan Imam Mahdi as setelah masa kemunculan.[10] Qazwini, peneliti kehidupan Ahlulbait as, menegaskan bahwa meskipun kita tidak memiliki bukti apa pun atas pembunuhan atau peracunan Imam Mahdi as, namun berdasarkan riwayat-riwayat ini beliau tidak akan wafat dengan kematian alami.[11] Meskipun demikian, penyandaran pada riwayat-riwayat ini telah diragukan oleh beberapa ulama dan penulis.[12]

Teks Hadis-hadis

Kandungan riwayat ini dinukil dalam lima bentuk yang berbeda dan lima jalur yang berbeda dari Nabi saw dan Imam Ridha as.[13] Imam Hasan as dan Imam Shadiq as dalam tiga jalur telah menukil riwayat ini dari Nabi saw.[14]

Lima bentuk riwayat ini dilaporkan sebagai berikut:[15]

  • "Mā minnā illā maqtūlun syahīd";[16]
  • "Mā minnā illā maqtūl";[17]
  • "Mā minnā illā masmūmun aw maqtūl";[18]
  • "Mā minnā illā maqtūlun aw masmūm";[19]
  • "Mā min nabiyyin walā wasyiyyin illā syahīd".[20]

Menurut pandangan para peneliti, riwayat yang dinukil Saffar Qomi dari Imam Shadiq as, meskipun secara tekstual memiliki perbedaan lebih banyak dengan riwayat lainnya, namun secara makna hampir sekeluarga dengan riwayat-riwayat lainnya.[21]

Sumber

Para peneliti menganggap sumber riwayat tertua yang menukil hadis "Ma minna illa maqtulun syahid" adalah beberapa karya Syekh Shaduq.[22] Shaduq mencantumkan riwayat ini dalam kitab-kitabnya: Uyun Akhbar al-Ridha,[23] Man La Yahdhuruhu al-Faqih[24] dan Al-Amali.[25] Setelah Syekh Shaduq, muridnya, Ali bin Muhammad al-Khazzaz, menukil dua riwayat dengan kandungan yang sama melalui sanad yang berbeda[26] dalam kitabnya, Kifayah al-Atsar.[27][28] Sumber kitab-kitab riwayat dan tafsir lainnya seperti Bihar al-Anwar,[29] Wasa'il al-Syiah,[30] Tafsir al-Shafi[31] dan Tafsir Nur al-Tsaqalayn,[32] di mana riwayat ini muncul dengan berbagai bentuk di dalamnya, dianggap adalah dari kitab-kitab Shaduq dan muridnya Khazzaz.[33]

Validasi

Beberapa peneliti, setelah melakukan analisis rijal terhadap sanad-sanad riwayat "Ma minna illa maqtulun syahid", sampai pada kesimpulan bahwa dari lima riwayat yang berbeda, yang melaporkan teks riwayat dengan berbagai redaksi melalui lima sanad berbeda, hanya riwayat yang dinukil dari Imam Ridha as dalam kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih dan Al-Amali karya Syekh Shaduq melalui jalur Ibrahim bin Hashim dan ia dari Abashalt al-Harawi, yang berstatus sahih.[34] Mereka menganggap riwayat yang dinukil dari Imam Shadiq as melalui jalur Abu Bashir dalam kitab Basha'ir al-Darajat karya Saffar Qomi sebagai riwayat hasan.[35] Jalur-jalur penukilan lainnya dari riwayat ini dianggap dhaif.[36]

Peneliti lainnya juga menganggap jarak waktu penulisan riwayat-riwayat ini dengan waktu pengeluarannya sebagai alasan berkurangnya kredibilitas riwayat-riwayat tersebut.[37] Sebagaimana adanya beberapa poin seperti Sahwun Nabi (kekhilafan Nabi saw) dalam penukilan riwayat-riwayat ini yang tidak selaras dengan landasan Syiah juga dianggap sebagai faktor yang melemahkan kredibilitas riwayat-riwayat tersebut.[38]

Kandungan

Dari pandangan banyak ulama Syiah, riwayat "Ma minna illa maqtulun syahid", dan riwayat-riwayat yang serupa dengannya, menunjukkan pada kesyahidan seluruh Imam as[39] atau seluruh Ahlulbait as.[40][41] Dari pandangan Ali al-Kurani al-Amili, peneliti asal Lebanon, riwayat ini berkedudukan sebagai sebuah kaidah yang membuktikan kesyahidan seluruh Imam as.[42] Qazwini, penulis banyak buku mengenai kehidupan para Imam Syiah, menganggap klaim kesyahidan atau peracunan seluruh Imam as telah terbukti baik secara hadis maupun sejarah, dan keraguan terhadapnya dianggap sama dengan meragukan hakikat yang telah tetap.[43]

Beberapa keberatan telah diajukan terhadap pendalilan riwayat ini atas kesyahidan seluruh Imam as atau Ahlulbait as;[44] di antaranya, Syekh Mufid, berbeda dengan pendapat Syekh Shaduq, tidak mempercayai keumuman riwayat-riwayat ini dan meyakini bahwa kesyahidan beberapa Imam as belum terbukti dan tidak ada jalan pula untuk membuktikannya.[45] Selain itu, Thabrasi menganggap riwayat ini dan riwayat-riwayat serupa tidak memberikan kepastian (yaqin) untuk membuktikan kesyahidan seluruh Imam as.[46]

Allamah Majlisi, berbeda dengan Syekh Mufid dan Thabrasi, meyakini bahwa riwayat ini dan riwayat serupa di samping riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kesyahidan masing-masing dari para Imam as jika tidak bisa memberikan faedah keyakinan, setidaknya akan memberikan faedah dugaan yang kuat (zhann-e qawi).[47] Ia berpendapat kemungkinan yang dimaksud Syekh Mufid adalah penolakan terhadap kemutawatiran hadis-hadis ini, bukan penolakan terhadap dasar adanya riwayat-riwayat semacam itu.[48] Selain itu, Sayid Jafar Murtadha al-Amili berpendapat kemungkinan Syekh Mufid menafikan kabar-kabar ini dikarenakan faktor Takiah.[49] Khodamorad Salimiyan, peneliti Mahdaviyat, berpendapat kemungkinan riwayat Imam Ridha as tersebut mengacu pada para Imam as sebelum beliau dan tidak mencakup para Imam as setelah beliau.[50]

Kerancuan antara Kalam dan Sejarah dalam Memahami Riwayat

Beberapa peneliti menganggap upaya sebagian ulama Syiah untuk membuktikan teori kesyahidan seluruh Maksumin as melalui riwayat "Ma minna illa maqtulun syahid", dan riwayat-riwayat yang serupa, bersumber dari kerancuan antara sebuah pembahasan kalam dengan sebuah pembahasan sejarah.[51] Menurut pandangan mereka, jika masalah kesyahidan seluruh Imam as dianggap sebagai masalah kalam, maka dalam kondisi ini seseorang dapat bersandar pada riwayat teologis seperti riwayat "Ma minna illa maqtulun syahid", dan sesuai dengan pendapat Allamah Majlisi, atas dasar riwayat ini setidaknya diperoleh dugaan yang kuat mengenai kesyahidan seluruh Imam as.[52] Namun jika masalah ini dianggap sebagai masalah sejarah, maka dalam hal ini meskipun keabsahan riwayat ini terbukti, tetap tidak bisa menghukumi kesyahidan seluruh Maksumin as; karena masalah sejarah memerlukan bukti-bukti sejarah dan bukti-guna teologis dalam hal ini tidak dapat memberikan jalan keluar.[53]

Catatan Kaki

  1. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 33, hlm. 182.
  2. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 203; Muhsini, Shirath al-Haq, 1428 H, jld. 3, hlm. 307.
  3. Shaduq, Al-I'tiqadat, 1413 H, hlm. 99.
  4. Thabrasi, I'lam al-Wara, Dar al-Kutub al-Islamiyah, hlm. 367.
  5. Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib (as), 1431 H, jld. 5, hlm. 165.
  6. Irbili, Kasyaf al-Ghummah, 1381 H, jld. 2, hlm. 430.
  7. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 33, hlm. 184.
  8. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 207.
  9. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 216.
  10. Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat", hlm. 52.
  11. Qazwini, Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ila al-Zhuhur, 1427 H, hlm. 638-639.
  12. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 214; Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat".
  13. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 207.
  14. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 207.
  15. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 206-207.
  16. Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 585; Fattal Nisaburi, Raudhat al-Wa'izhin, 1375 HS, jld. 1, hlm. 233.
  17. Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha 'alaihis-salam, Penerbit Jahan, jld. 2, hlm. 203.
  18. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 227.
  19. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 162.
  20. Saffar, Basha'ir al-Darajat, 1414 H, hlm. 503.
  21. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 206.
  22. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 204.
  23. Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha 'alaihis-salam, Penerbit Jahan, jld. 2, hlm. 203.
  24. Shaduq, Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 1413 H, jld. 2, hlm. 585.
  25. Shaduq, Al-Amali, 1376 HS, hlm. 63.
  26. Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat", hlm. 54
  27. Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 162; Khazzaz Razi, Kifayah al-Atsar, 1401 H, hlm. 227.
  28. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 204.
  29. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 99, hlm. 32.
  30. Hurr al-Amili, Wasa'il al-Syiah, 1409 H, jld. 14, hlm. 568.
  31. Faidh Kasyani, Al-Tafsir al-Shafi, 1415 H, jld. 1, hlm. 513.
  32. Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalayn, 1415 H, jld. 1, hlm. 565.
  33. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 204-205.
  34. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 207-209; Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 33, hlm. 183.
  35. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 211-213.
  36. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 208-211; Salimiyan, Farhangnameh-ye Mahdaviyat, 1388 HS, hlm. 331.
  37. Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat", hlm. 55.
  38. Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat", hlm. 56-59.
  39. Muhsini, Shirath al-Haq, 1428 H, jld. 3, hlm. 307.
  40. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 33, hlm. 182.
  41. Thabrasi, I'lam al-Wara, Dar al-Kutub al-Islamiyah, hlm. 367; Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Ali Abi Thalib (as), 1431 H, jld. 5, hlm. 165; Irbili, Kasyaf al-Ghummah, 1381 H, jld. 2, hlm. 430.
  42. Kurani, Jawahir al-Tarikh, 1425 H, jld. 3, hlm. 218.
  43. Qazwini, Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ila al-Zhuhur, 1427 H, hlm. 638.
  44. Salimiyan, Farhangnameh-ye Mahdaviyat, 1388 HS, hlm. 331.
  45. Mufid, Tash-hih I'tiqadat al-Imamiyah, 1414 H, hlm. 131-132.
  46. Thabrasi, Taj al-Mawalid, 1422 H, hlm. 106.
  47. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 216.
  48. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1403 H, jld. 27, hlm. 216.
  49. Amili, Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham, 1426 H, jld. 33, hlm. 187-191.
  50. Salimiyan, "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat", hlm. 59.
  51. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 224.
  52. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 224.
  53. Amini dan Ashkani Aqbolagh, "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd", hlm. 224.

Daftar Pustaka

  • Ibnu Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manaqib Ali Abi Thalib (as). Riset: Ali Asyraf. Qom, Al-Maktabah al-Haidariyah, 1431 H.
  • Irbili, Ali bin Isa. Kasyaf al-Ghummah fi Ma'rifah al-Aimmah. Riset: Sayid Hashem Rasouli Mahallati. Tabriz, Bani Hashemi, 1381 H.
  • Amini, Norouz dan Shamad Ashkani Aqbolagh. "Ravayat-e Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dar Tarazu-ye Naqd" (Riwayat Ma Minna Illa Maqtulun aw Masmum dalam Timbangan Kritik). Jurnal Ilmiah Ulum-e Hadis, nomor 94, musim dingin 1398 HS.
  • Hurr al-Amili, Muhammad bin Hasan. Tafshil Wasa'il al-Syiah ila Tahshil Masail al-Syari'ah. Riset: Muassasah Al al-Bait (as). Qom, Muassasah Al al-Bait (as), 1409 H.
  • Khazzaz Razi, Ali bin Muhammad. Kifayah al-Atsar fi al-Nash 'ala al-Aimmah al-Itsna Asyar. Riset: Abdul Lathif Hosseini Kouhkamari. Penerbit Bidar, 1401 H.
  • Salimiyan, Khodamorad. "Tahlil-e Nazariyeh-ye Syahadat-e Imam Mahdi (as) az Negah-e Ravayat" (Analisis Teori Kesyahidan Imam Mahdi (as) dari Sudut Pandang Riwayat). Jurnal Entizar-e Mou'ud, nomor 43, musim dingin 1392 HS.
  • Salimiyan, Khodamorad. Farhangnameh-ye Mahdaviyat. Tehran, Bonyad-e Farhangi-ye Hazrat-e Mahdi Mou'ud (as), 1388 HS.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-I'tiqadat. Qom, Al-Mu'tamar al-Alami li-Alfiyah al-Syaikh al-Mufid, 1413 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Amali. Tehran, Ketabchi, 1376 HS.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha 'alaihis-salam. Riset: Mehdi Lajevardi. Tehran, Penerbit Jahan, tanpa tahun.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Kitab Man La Yahdhuruhu al-Faqih. Riset: Ali Akbar Ghaffari. Qom, Daftar Entesharat-e Eslami, 1413 H.
  • Saffar, Muhammad bin Hasan. Basha'ir al-Darajat fi Fadha'il Alu Muhammad shallallahu 'alaihim. Riset: Mohsen bin Abbas-ali Kouce-baghi. Qom, Maktabah Ayatullah al-Mar'ashi al-Najafi, 1404 H.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. I'lam al-Wara bi-A'lam al-Huda. Riset: Hasan Kharsan. Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, tanpa tahun.
  • Thabrasi, Fadhl bin Hasan. Taj al-Mawalid fi Mawalid al-Aimmah wa Wafayatihim. Beirut, Dar al-Qari', 1422 H.
  • Amili, Jafar Murtadha. Al-Shahih min Sirah al-Nabi al-A'zham (saw). Qom, Muassasah Elmi Farhangi Dar al-Hadits, 1426 H.
  • Arusi Huwaizi, Abd-e Ali bin Juma'ah. Tafsir Nur al-Tsaqalayn. Riset: Sayid Hashem Rasouli Mahallati. Qom, Penerbit Isma'iliyan, 1415 H.
  • Fattal Nisaburi, Muhammad bin Ahmad. Raudhat al-Wa'izhin wa Bashirah al-Muta'izh-zhin. Qom, Mansyurat-e Radhi, 1375 HS.
  • Faidh Kasyani, Muhammad bin Syah Murtadha. Al-Tafsir al-Shafi. Riset: Hossein A'lami. Tehran, Maktabah al-Sadr, 1415 H.
  • Qazwini, Sayid Muhammad Kazim. Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ila al-Zhuhur. Qom, Naji al-Jaza'iri, 1427 H.
  • Kurani al-Amili, Ali. Jawahir al-Tarikh. Beirut, Dar al-Huda, 1425 H.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jami'ah li-Durar Akhbar al-Aimmah al-Ath-har. Beirut, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1403 H.
  • Muhsini, Muhammad Ashif. Shirath al-Haq fi al-Ma'arif al-Islamiyah wa al-Ushul al-I'tiqadiyah. Qom, Penerbit Dzawil Qurba, 1428 H.