Dialog Ilmiah Imam Ridha as Dengan Imran Shabi

Prioritas: c, Kualitas: b
Dari wikishia

Dialog Ilmiah Imam Ridha as dengan Imran al-Shabi (bahasa Arab: مناظرة الإمام الرضا عليه السلام مع عمران الصابي ) adalah suatu dialog atau perdebatan teologis tentang eksistensi Tuhan dan sifat-sifatnya. Perdebatan ini dinukil dalam sebuah hadis yang menyebutkan bahwa Imam Ridha as melakukan dialog atau berdebat dengan para ulama atau teolog besar Kristen, Yahudi, Zoroastrian dan Shabian atas permintaan Khalifah Makmun Abbasi. Dalam dialog ini, Imran mengajukan banyak pertanyaan tentang Tuhan dan Imam Ridha as menjawabnya.

Menurut perawi hadis ini, Imran Shabi merasa puas dengan jawaban-jawaban Imam Ridha as, dia mengucapkan syahadatain dan memeluk Islam. Hadis ini terdapat dalam kitab Tauhid dan Uyun Akhbar al-Ridha as yang ditulis oleh Syekh Shaduq (305-381 H).

Latar Belakang Terjadinya Dialog

Dialog atau dialog Imam Ridha as dengan Imran Shabi dinukil dalam sebuah hadis yang menyatakan bahwa beliau berdebat atau berdialog dengan para ulama dari berbagai agama. [1] Hasan bin Muhammad Naufali perawi hadis ini, menjelaskan latar belakang terjadinya dialog atau perdebatan tersebut sebagai berikut: Ketika Imam Ridha as pergi dari Madinah ke Marw untuk mengunjungi Makmun khalifah Abbasiyah. Makmun mengumpulkan para ulama dan teolog dari berbagai agama, termasuk Jatsliq (Pembesar Kristen), Ra’s al-Jalut (Pembesar Yahudi), para pembesar Shabian dan Harbez (pembesar Zoroaster) dan meminta mereka untuk melakukan dialog dengan Imam Ridha as. [2]

Kemudian dia berkata kepada Imam Ridha as agar turut berpartisipasi dalam dialog tersebut apabila berkenan. Imam Ridha as pun menerima tawaran itu dan keesokan harinya beliau pergi menemui Makmun. [3] Dalam dialog ini, Imam Ridha as setelah berdebat dengan Jatsaliq, Ra’s al-Jalut dan Harbez dan mengalahkan mereka [4], beliau menghadap kepada para hadirin dan berkata, "Jika ada yang menentang Islam, maka ajukan pertanyaan-pertanyaannya", ketika itu Imran Shabi berkata bahwa dia telah banyak membahas dan mendiskusikan tentang keesaan Tuhan (wahdaniyah) dengan banyak teolog di Kufah, Bashrah, Syam serta Jazirah dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat membuktikannya. Dia meminta Imam Ridha as untuk berdialog dengannya dan Imam Ridha as pun menerimanya. [5]

Pertanyaan-pertanyaan Imran Shabi

Dalam perdebatan Imam Ridha as dengan Imran Shabi, Imran mengajukan banyak pertanyaan kepada Imam Ridha as terkait Tuhan, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Apakah sesuatu yang pertama kali ada(maujud) dalam eksistensi? [6]
  • Apakah sesuatu yang ada itu, ada dengan sendirinya dan diketahui(ma’lum) ole dirinya sendiri? [7]
  • Bagaimankah penciptaan Tuhan? dan apakah makna serta jenis-jenis penciptaan? [8]
  • Apakah dengan adanya penciptaan, terjadi perubahan pada Tuhan? [9]
  • Melalui apakah kita mampu menyadari(memahami) keberadaan Tuhan? [10]
  • Apakah Tuhan itu? [11]
  • Apakah Tuhan ada di dalam makhluk atau makhluk ada di dalam Tuhan? [12]
  • Apakah keesaan(wahdaniyah) Tuhan diketahui dengan mengetahui Zat-Nya atau dengan mengetahui sifat-sifat-Nya? [13]
  • Di dalam apakah Tuhan berada? Apakah ada sesuatu yang meliputinya? Dan apakah Dia berubah(berpindah) dari satu tempat ke tempat yang lain? [14]

Hasil Dialog

Menurut Hasan bin Muhammad Naufali, yang menukilkan dialog ini, setelah Imam Ridha as menjawab semua pertanyaan Imran Shabi, dia pun puas dan yakin dan mengatakan bahwa Tuhan adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Ridha as. Kemudian dia mengucapkan Syahadatain dan menjadi seorang Muslim. Dia juga mengatakan bahwa Imam Ridha as mengundang Imran ke rumahnya untuk makan malam, menghadiahkan pakaian, kendaraan dan 10.000 dirham kepadanya. [15] Berdasarkan riwayat ini, hingga beberapa lama setelah dialog ini, banyak di antara para teolog yang mendatangi Imran Shabi untuk berdialog dengannya. Dalam dialog tersebut, ia mengalahkan mereka semua. Setelah itu, Makmun memberinya 10.000 dirham dan Imam Ridha as mengangkatnya menjadi pengelola sedekah (Shadaqat) di Balkh. [16]

Sumber Hadis

Teks dialog pertama kali dibawakan oleh Syekh Shaduq (305-381 H) dalam kitab Tauhid [17] dan Uyun Akhbar al-Ridha[18]. Ahmad bin Ali Thabarsi (hidup di abad ke-6 H) meriwayatkan ringkasannya dalam kitab al-Ihtijaj.[19] Allamah Majlisi juga menukilkan hadis tersebut dalam Bihar al-Anwar yang dinukil dari dua buku Syekh Shaduq.[20]

Validitas Sanad Hadis

Para ulama Rijal berbeda pendapat tentang silsilah para perawi hadis ini. sebagian menyebut mereka semua dapat dipercaya (Tsiqah) dan sebagian lainnya menganggap hanya sebagian diantaranya tidak dapat percaya.[21] Selain itu, sanad hadis tergolong mursal; Artinya, sebagian orang dari silsilah perawinya tidak disebutkan. Oleh karena itu, hadis tersebut dianggap lemah dari sisi sanad.[22] Meskipun demikian, Sebagian berkeyakinan bahwa hadis ini adalah hadis lemah yang dapat diterima; Artinya, meski ada kelemahan dalam sanad, namun berdasarkan itu dapat diamalkan; Karena seorang ulama yang muktabar (handal) seperti syekh Shaduq telah meriwayatkannya, sedangkan dia hanya meriwayatkan riwayat-riwayat yang dia yakini bersumber dari para Maksum.[23]

Lihat Juga

Catatan Kaki

  1. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 417-441: Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378, jld. 1 hlm. 154-175
  2. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 417-418: Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378, jld. 1 hlm.154-155
  3. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 420-430: Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378, jld. 1 hlm. 156-168
  4. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 417-441: Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378, jld. 1 hlm. 154-175
  5. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 4301: Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378, jld. 1 hlm.168
  6. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 169
  7. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 169
  8. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 170
  9. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 169
  10. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 171
  11. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 171
  12. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 173
  13. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 172
  14. Syekh Shaduq, Uyun Akbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1 hlm. 176
  15. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 Qhlm. 441: Syekh shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1, hlm. 178
  16. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 441: Syekh shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, 1378 H, jld. 1, hlm. 178
  17. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 417-441
  18. Syekh Shaduq, Uyun Akhbar al-Ridha, 1378 H, jld 1 hlm. 154-175
  19. Tabrisi, Al-Ihtijaj, 1403 H, jld. 2, hlm. 415-425
  20. Majlisi, Bihar al-Anwar, 1493 H, jld. 10, hlm. 299-318
  21. Syekh Shaduq, Tauhid, 1398 H, hlm. 417-441
  22. Khusraviyan, Barresi va Tahlil Sanade Munazerate Imam Ridha as. dari Irak va Khurasan, hlm.112-113, 116-125
  23. Khusraviyan, Barresi va Tahlil Sanade Munazerate Imam Ridha as. dari Irak va Khurasan, hlm. 126

Daftar Pustaka

  • Khusraviyan Qullehzu, Ja'far. Barresi-e va Tahlil Sanad-e Munadzerat-e Imam Ridha as dar Irak va Khurasan. Penelitian Quran dan Hadis, no 1, 1397 S
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihar al-Anwar al-Jamiah Lidirari Akhbar al-Aimmah al-Athar, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 2, 1403 H
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Tauhid. Riset dan Editor: Hasyim Husaini. Qom: Kantor Penerbit Islami, berafiliasi dengan Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiah Qom, cet. 1, 1398 H.
  • Syekh Shaduq, Muhammad bin Ali. Uyun Akhbar al-Ridha. Riset dan Editor: Mahdi Lajurdi. Teheran, Masyhad: Nasyre Jahan, cet. 1, 1378 S.
  • Tabrisi, Ahmad bin Ali. Al-Ihtijaj ala Ahli al-Lujaj. Riset dan Editor: Muhammad Baqir. Khurasan, Masyhad: Nasyre Murteza, cet. 1, 1403 H.