Hadis Badh'ah

Dari wikishia

Hadis Badh'ah (bahasa Arab: حديث البَضْعَة) adalah salah satu dari banyak hadis Nabi yang pernah beliau sampaikan tentang Sayidah Fatimah sa di mana Nabi saw di situ memperkenalkan Fatimah sebagai "belahan dari raganya dan siapa saja yang membahagiakannya sama dengan membahagiakannya dan siapa saja yang menyakitinya maka itu sama saja seperti menyakiti dirinya". Hadis ini telah dikutip dalam sumber-sumber Syiah dan Sunni. Hadits Bad'ah dapat digunakan sebagai sandaran untuk pembahasan dalam membuktikan kajian seperti kemaksuman Sayidah Fatimah sa, kebenarannya dalam kisah peristiwa tanah Fadak dan kewajiban untuk memperingati hari-hari besar Ahlulbait as.

Menurut beberapa laporan dari sebagian sumber referensi Ahlusunah, hadis ini telah keluar dari Nabi saw berkenaan dengan kisah Imam Ali as yang melamar putri Abu Jahal. Namun menurut pandangan ulama Syiah, laporan-laporan itu adalah hal yang dibuat-buat dan para perawinya dituduh sebagai pemalsu hadis dan memiliki permusuhan dengan Ahlulbait as.

Teks dan Kedudukan

Di dalam hadits Badh'ah yang diriwayatkan dari Nabi saw berkenaan dengan putrinya Sayidah Fatimah sa telah dimuat: "Fatimah adalah bagian dari ragaku, siapa saja yang menyakitinya, dia telah menyakitiku dan siapa saja yang membuatnya bahagia ia telah membuatku bahagia" [1] Kandungan hadits ini telah dinukil dalam berbagai sumber Syiah dan Sunni [2] Imam Ali as, [3] Ibnu Abbas, [4] Abu Dzar Ghifari [5] dan Sayidah Zahra sa sendiri, [6] adalah termasuk dari para perawi hadis ini.

Jalaluddin Suyuti, seorang mufassir Sunni, telah meyakini hal itu sebagai suatu kesepakatan antara Syiah dan Sunni [7] dan Fakhrurrazi seorang mufassir Sunni juga telah menggunakannya dalam menafsirkan sebagian dari ayat-ayat Alquran. [8]

Badh’ah 'atau Bidh’ah berarti potongan atau bagian dari tubuh. [9] Oleh karenanya, ketika dikatakan bahwa "si anu bagian dariku" karena kedekatan seseorang yang begitu banyak dengan si pembicara, seakan-akan orang itu adalah bagian dari tubuhnya. [10] Ungkapan "بَضْعَةٌ مِنِّی " juga dipakai dalam ucapan-ucapan Nabi Islam saw mengenai Imam Ali as [11]dan Imam Ridha as [12].

Penggunaan Hadis dalam Hukum Fikih dan Teologis

Hadis Badh’ah telah digunakan untuk membuktikan sebagian dari pembahasan-pembahasan teologis:

  • Kemaksuman Sayidah Zahra sa: Para teolog telah bersadar pada hadis ini untuk membuktikan kemaksuman Sayidah Zahra sa. [13] menurut penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, salah seorang ulama Syiah (lahir: 1930) dalam riwayat badh’ah, kerelaan dan ketidakrelaan Fatimah sa dianggap sebagai tolak ukur kerelaan dan ketidakrelaan Allah dan rasulNya. Dikarenakan Allah swt tidak akan pernah rela kecuali dengan amal-amal saleh dan tidak akan pernah meridai perbuatan dosa dan pelanggaran akan perintah-perintahnya, jika Sayidah Zahra sa pernah melakukan dosa, maka dalam hal ini beliau akan meridai hal-hal yang Allah tidak meridainya; padahal dalam hadis badh’ah, keridaan Allah swt telah terikat dengan keridaan Fatimah sa. [14]
  • Keunggulan Sayidah Fatimah sa atas para wanita seluruh alam: Syihabuddin al-Alusi, seorang mufassir Ahlusunah (wafat: 1270 H), dalam menafsirkan ayat: وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ [15] hadis ini telah ia gunakan sebagai dalil dan sandaran atas keunggulan Sayidah Fatimah atas para wanita seluruh wanita yang salah satu diantaranya adalah Sayidah Maryam. [16]
  • Membuktikan kebenaran Sayidah Fatimah pada peristiwa Fadak [17] setelah wafatnya Nabi saw, Sayidah Zahra sa di atas tempat tidurnya telah berhujjah kepada syaikhain dengan bersandar pada riwayat ini. [18]

Begitu juga untuk menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Ahlulbait as [19] tidak diterimanya kesaksian anak terhadap ayahnya dan begitu juga sebaliknya [20] keharaman menikah dengan ibu dan saudara perempuan [21] kelaziman memuliakan kedua orang tua [22] dan diperbolehkannya berziarah kubur oleh para wanita [23] telah bersandar dengan riwayat ini.

Penggunaan Hadis Badh’ah atas Ali as

Menurut sebagian keterangan mengatakan bahwa hadis badh’ah dikeluarkan berkaitan dengan peristiwa pelamaran Imam Ali as kepada putri Abu Jahal; berdasarkan penukilan Ibnu Hambal (wafat: 241 H) dari Abdullah bin Zubair, ketika pembicaraan diketengahkan tentang pernikahan Ali as dengan putri Abu Jahal dan berita itu sampai kepada Nabi saw, kemudian Nabi bersabda: اِنّما فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّی یُوذینی ما آذَاها [24] peristiwa ini dimuat dalam berbagai sumber pustaka hadis dengan berbagai ungkapan. [25] Sayid Murtadha, seorang teolog Syiah (355-436 H) keterangan dan laporan seperti ini diyakini sebagai hadis buatan. [26] berdasarkan pada sebuah riwayat dari Imam Shadiq as juga menyatakan bahwa hal ini adalah termasuk dari hadis buatan. [27] Abu Hurairah adalah salah seorang perawi hadis ini telah dituduh sebagai pembuat hadis palsu [28] begitu pula halnya dengan Husein Karabisi dan Miswar bin Mahramah Zuhari diantara para perawi hadis ini yang dalam ilmu rijal telah dianggap lemah periwayatan hadisnya dan tidak dapat dipercaya, dengan demikian riwayat-riwayat hadis mereka tidak dapat diterima. [29]

Menurut penuturan Sayid Murtadha, Karabisi termasuk dari kalangan Nashibi dan memiliki permusuhan dengan Ahlulbait. [30] Menurutnya, jika peritiwa ini benar adanya, mengapa musuh-musuh Imam Ali as dari kalangan Bani Umayyah dan para pendukungnya tidak menggunakannya sebagai bukti untuk menghancurkannya dan mencapai tujuannya. [31]

Ja’far Murtadha al-Amili [wafat: 1441] salah satu peneliti sejarah Islam, selain meyakini kontradeksi riwayat-riwayat yang berkaitan dengan pelamaran Imam Ali as dengan putri Abu Jahal, dalam menolak peristiwa ini dia telah mendirikan tiga belas dalil. [32]


Pranala Terkait

Catatan Kaki

  1. Syekh Shaduq, al-Amali, hlm. 165.
  2. Untuk percontohan lihat: Syekh Shaduq, al-I’tiqadat, hlm. 105; Syekh Mufid, al-Amali, hlm.260; Syekh Thusi, al-Amali, hlm.24; Ibnu Maghazili, Manaqib Ali bin Abi Thalib, hlm.289; Ibnu Jabrail, al-Raudhah fi Fadhail Amiril Mukminin, hlm.167; Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld.4, hlm. 210 dan 219 .
  3. Syekh Shaduq, al-Khishal, hlm. 573; Fatal Nisyaburi, Raudhah al-Wa’izhin, hlm.149.
  4. Syekh Shaduq, al-Amali, hlm. 175 dan 575.
  5. Khazaz Qummi, kifayat al-Atsar, hlm. 37.
  6. Khazaz Qummi, kifayat al-Atsar, hlm. 64; Majlisi, Bihar al-Anwar, jld.36, hlm.308.
  7. Suyuthi, al-Tsugur al-Basimah, hlm. 67.
  8. Lihat: Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jld.9, hlm. 160, di bawah ayat189 Q.S. al-A’raf, jld.27, hlm.200, di bawah ayat 15, surah al-Zukhruf, jld.3, hlm.126, dan di bawah ayat 19 surah al-Ma’arij.
  9. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, jld.8, hlm. 12; Ibnu Atsir, al-Nihayah, jld.1, hlm.133.
  10. Raghib Isfahanai, al-Mufradat, hlm. 129.
  11. Bahrani, al-Burhan, jld.1, hlm. 261.
  12. Syekh Shaduq, Man La yahdhuruhu al-Faqih, jld.2, hlm. 583 dan 588; Fatal Nisyaburi, Raudhah al-Wa’izhin, hlm.233.
  13. Untuk percontohan lihat: Sayyid Murtadha, al-Syafi fi al-Imamah, jld.4, hlm. 95; Ibnu Abi al-Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jld.16, hlm.273; Iji, al-Mawaqif, jld.3, hlm.597.
  14. Subhani, Pajohesyi dar Syenokh va Esmate Emam, hlm. 27.
  15. Q.S. Ali Imran, ayat 42.
  16. Alusi, Ruh al-Ma’ani, jld.3, hlm. 155.
  17. Ibnu Abi al-Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jld.16, hlm.278; Iji, al-Mawaqif, jld.3, hlm.597 dan 607.
  18. Khazaz Qummi, kifayat al-Atsar, hlm. 65.
  19. Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jld.27, hlm. 166.
  20. Ibnu Arabi, Ahkam al-Qur’an, jld.1, hlm. 638; lihat: Ibnu Qudamah,al-Ma’ani, jld.12, hlm.66.
  21. Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jld.1, hlm. 26.
  22. Fakhrurrazi, Tafsir al-Kabir, jld.2, hlm. 185.
  23. Syahid Awal, Dzikra al-Syi’ah, jld.2, hlm. 63.
  24. Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad, jld.4, hlm. 5.
  25. Untuk percontohan lihat: Nisyaburi, Shahih Muslim, jld.7, hlm.141; Bukhari, Shahih al-Bukhari, jld.6, hlm. 158; Ibnu Majah, Sunan Ibnu majah, jld.1, hlm.644; Sajestani, Sunan Abi Daud, jld.1, hlm.460; Nu’man Maghribi, Syarah al-Akhbar, jld.3, hlm.61; Ibnu Batriq, Umdatu Uyun Sahhah al-Akhbar, hlm.385.
  26. Sayyid Murtadha, Tanzih al-Anbiya, hlm. 167.
  27. Syekh Shaduq, al-Amali, hlm.165.
  28. Ibnu Syadzan, al-Idhah, hlm. 541; Tustari, Qamus al-Rijal, jld.9, hlm.111.
  29. Fadhli, Ushul al-Hadits, hlm. 139.
  30. Sayyid Murtadha, Tanzih al-Anbiya, hlm.167-168.
  31. Sayyid Murtadha, Tanzih al-Anbiya, hlm. 169.
  32. Ja’far Murtadha, al-Shahih min Sirati al-Imam Ali, jld.3, hlm.61-74.

Daftar Pustaka

  • Bahrani, Hasyim. Al-Burhān fī Tafsīr Al-Qur'ān. Qom: Muassasah Al-Bi'tsah, tanpa tahun.
  • Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahīh Al-Bukhārī. Beirut: Dar Al-Fikr, 1401 H.
  • Fadhli, Abdul Hadi. Ushūl Al-Hadīts. Beirut: Muassasah Ummul Qura li At-Tahqiq wa An-Nasyr, 1421 H.
  • Fakhrurrazi, Muhammad bin Umar. At-Tafsīr Al-Kabīr. Tehran: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Fattal Neysyaburi, Muhammad. Raudhah Al-Wā'idzhīn. Qom: Mansyurat-e Ar-Radhi, tanpa tahun.
  • Ibn Abi Al-Hadid, Abdul Hamid. Syarh Nahj Al-Balāghah. Riset Muhammad Abul Fadhl Ibrahim. Tanpa tempat: Dar Ihya' Al-Kutub Al-'Arabiyyah, tanpa tahun.
  • Ibn Arabi, Muhammad. Ahkām Al-Qurān. Beirut: Dar Al-Fikr, tanpa tahun.
  • Ibn Atsir, Majduddin. An-Nihāyah fī Gharīb Al-Hadīts wa Al-Atsar. Riset Mahmud Muhammad Thanahi. Qom: Esmailiyan, 1364 HS/1405 H.
  • Ibn Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Ibn Mandzhur, Muhamad bin Mukarram. Lisān Al-'Arab. Beirut: Dar Shadir, tanpa tahun.
  • Ibn Maghazali, Ali. Manāqib Alī bin Abī Thālib. Tanpa tempat: Entesyarat-e Sibth An-Nabi, 1426 H.
  • Ibn Majah, Muhammad. Sunan Ibn Mājah. Riset Muhammad Fuad. Tanpa tahun dan tempat.
  • Ibn Qudamah, Abdullah bin Ahmad. Al-Mughnī. Beirut: Dar Al-Kitab Al-Arabi, tanpa tahun.
  • Ibn Sajestani, Salman. Sunan Abī Dāwud. Beirut: Dar Al-Fikr, 1410 H.
  • Ibn Syadzan, Fadhl. Al-Īdhāh. Riset Jalaluddin Husaini. Tehran: Muassese-e Entesyarat, 1351 HS/1392 H.
  • Ibn Syahid, Umar. Fadhā'il Sayyidah An-Nisā' . Riset Abu Ishaq. Kairo: Maktabah At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah, 1411 H.
  • Ibn Syahr Asyub, Muhammad bin Ali. Manāqib Ali Abī Thālib. Qom: Allame, 1379 H.
  • Ibn Thariq, Yahya. 'Umdah 'Uyūn Shahāh Al-Akhbār fī Manāqib Imām Al-Abrār. Qom: An-Nasyr Al-Islami, 1407 H.
  • Iji, Abdurrahman bin Ahmad. Al-Mawāqif. Riset Abdurrahman Umairah. Beirut: Dar Al-Jalil, 1417 H.
  • Khazzaz Qummi, Ali. Kifāyah Al-Atsar fī An-Nash Al-A'immah Al-Itsnai 'Asyr. Riset Abdullatif Husaini. Qom: Bidar, 1401 H.
  • Maghribi, Nu'man bin Muhammad Syarh Al-Akhbār fī Fadhā'il Al-A'immah Al-Athār. Riset Muhammad Husaini Jalali. Qom: Muassasah An-Nasyr Al-Islami, tanpa tahun.
  • Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār Al-Anwār. Beirut: Muassasah Al-Wafa', 1403 H.
  • Mufid, Muhammad bin Muhammad. Al-Āmālī. Beirut: Dar Al-Mufid, 1414 H.
  • Murtadha Amili, Ja'far. Ash-Shahīh min Sīrah Al-Imām 'Alī. Qom: Wala' Al-Murtadha, 1430 H.
  • Neisyaburi, Muslim bin Hajjaj. Shahīh Muslim. Beirut: Dar Al-Fikr, tanpa tahun.
  • Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad. Mufradāt Alfādz Al-Qurān. Riset Shafwan Adnan Dawudi. Tanpa tempat: Thali'ah An-Nur, 1426 H.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. Asy-Syafī fī Al-Imāmah. Tehran: Muassese-e Ash-Shadiq, 1410 H.
  • Sayyid Murtadha, Ali bin Husain. Tanzīh Al-Anbiyā' . Qom: Asy-Syarif Ar-Radhi, 1350 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Āmālī. Qom: Muassasah Al-Bi'tsah, 1417 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-I'tiqādāt. Riset Isham Abdussayyid. Beirut: Dar Al-Mufid, 1414 H.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Al-Khisāl. Riset Ali AKbar Ghaffari. Tanpa tempat: Jami'ah Al-Mudarrisin fi Hauzah Al-Ilmiyyah, tanpa tahun.
  • Shaduq, Muhammad bin Ali. Man Lā Yahdhuruhū Al-Faqīh. Riset Ali AKbar Ghaffari. Qom: Jame'e-e Mudarrisin. 1404 H.
  • Subhani, Ja'far. Pazuhesyi dar Syenakht wa Esmat-e Emam. Masyhad: Bunyad-e Pazuhesyha-e Eslami, 1389 HS/1431 H.
  • Suyuthi, Jalaluddin. Ats-Tsughūr Al-Bāsimah fī Manāqib As-Sayyidah Fāthimah. Jam'iyyah Al-Āl wa Al-Ashhab, 1431 H.
  • Syahid Awal, Muhammad bin Makki. Dzikrā Asy-Syī'ah fī Ahkām Asy-Syarī'ah. Riset Muassasah Alu Al-Bait. Qom: Muassasah Alu Al-Bait, 1419 H.
  • Tasturi, Muhammad Taqi. Qāmūs Ar-Rijāl. Riset Muassasah An-Nasyr Al-Islami. Qom: An-Nasyr Al-Islami, 1428 H.
  • Thusi, Muhammad bin Hasan. Al-Āmālī. Qom: Dar Ats-Tsaqafah, 1414 H.